Anda di halaman 1dari 17

PEMIKIRAN NEO KLASIK

AWAL TIMBULNYA PEMIKIRAN NEO KLASIK

TOKOH-TOKOH NEO KLASIK YANG MELAKUKAN


PENELITIA YANG SAMA
Meskipun melakukan
penelitian secara
terpisah, tetapi hasil
peneltian mereka
mengemukakan hal
dan kesimpulan yang
sama yaitu :
Teori nilai lebih
(surplus value) Marx
tidak mampu
menjelaskan secara
tepat mengenai nilai
komoditas

W.
Stanley
Jevons

Leon
Walras

Carl
Menger

Alfred
Marshall

PANGKAL PEMIKIRAN NEO KLASIK


Faedah Marginal dan nilai suatu barang
ditentukan oleh penilaian subyektif dari
pembeli, pembagian pendapatan dilakukan
secara fungsional dan ditentukan berdasarkan
produktivitas marginalnya, dan biaya
mencerminkan kecenderungan pembentukan
harga

PENDEKATAN MARJINAL

Analisis Marjinalpada intinya merupakan pengaplikasian


kalkulus diferensial terhadap tingkah laku konsumen dan
produsen serta penentuan harga-harga di pasar.
Konsep marjinal sering diakui sebagai kontribusi mazhab
Austria, tetapi sebenarnya konsep ini sudah cukup lama
dikembangkan oleh Heindrich Gossen (1810-1858).
Menurut Gossen, faedah tambahan (marginal utility) dari
pengkonsumsian suatu jenis barang akan semakin turun jika
barang tersebut dikonsumsi semakin banyak(Hukum Gossen I).
Hukum Gossen II menyatakan bahwa sumber daya dan dana
yang tersedia selalu terbatas secara relatif untuk memenuhi
berbagai kebutuhan yang relatif tidak terbatas. Dengan adanya
kendala (constrains) ini maka kepuasan maksimum yang bisa
diperoleh terjadi pada saat faedah marjinal (marginal utility)
sama untuk setiap barang yang dikonsumsi tersebut, dengan
syarat semua sumber daya dan dana terpakai habis
seluruhnya.

PEMBAGIAN MAZHAB PEMIKIRAN NEO KLASIK

MAZHAB
AUSTRIA
MAZHAB
LAUSANNE
MAZHAB
CAMBRIDGE

CARL MENGER
FRIEDERICH VON WIESER
EUGEN VON BOHM BAWER
KNUT WICKSELL
LUDWIG EDLER VON MISES
FRIEDRICH AUGUST VON HAYEK

LEON WALRAS
VILFREDO PARETO

ALFRED MARSHAL
ARTHUR CECIL PIGOU

MAZHAB AUSTRIA
Tokoh Utama: Carl Menger (1840-1921)
Pemikiran :
Seperti Gossen mengembangkan teori marginal utility yang
membawa pengaruh yang besar dalam pengembangan teoriteori ekonomi.
Tokoh Utama: Friedrich von Wieser
Pemikiran:
Mengembangkan lebih lanjut teori utilitas marjinal dengan
menambahkan formulasi biaya-biaya oportunitas (opportunity
cost).
Tokoh Utama: Eugen von Bohm Bawerk
Pemikiran:
Pengembangan teori tentang modal (Theory of Capital) dan teori
tentang tingkat suku bunga.

Tokoh Lain: Knut Wicksell (1851-1926)


Pemikiran:
Mengasimilasikan analisis keseimbangan umum Walras dengan
teori kapital dan suku bunga Bom Bawerk menjadi Teori Distribusi,
yang didasarkan pada analisis marjinal versi baru dikembangkan
oleh Jevons, Walras dan Menger
Berpengaruh terhadap pengembangkan teori moneter yang
pertama melihat hubungan langsung antara tingkat suku bunga
dengan harga-harga
Tokoh Lain: Ludwig Edler von Mises (1881-1973)
Pemikiran :
Sistem harga merupakan basis paling efisien dalam mengalokasikan
sumber daya.
Mises mengaplikasikan teori kepuasan marginal untuk
mengembangkan teori baru tentang uang dan memaparkan
kepuasan (utility) dapat diukur secara ordinal tetapi tidak secara
kardinal.
Kritikan terhadap sistem perekonomian komando yaitu sistem
komando tidak akan dapat melembagakan sistem harga tanpa
terlebih dahulu menghancurkan prinsip-prinsip politik.
Teori Paritas Daya Beli (Purchasing Power Parity) &Teori Trade Cycle

Tokoh Lain: (Friedrich August von Hayek)


Pemikiran:
Berjasa dalam mengembangkan teori siklus
perdagangan (theory of trade cycle) dari von Mises
yang diintegrasikannya dengan teori kapital Bohm
Bawerk.

MAZHAB LAUSANNE
Tokoh Utama: Leon Walras (1837-1910)
Pemikiran : Memberikan pemaparan yang lebih
jelas mengenai ketergantungan bagian-bagian
ekonomi melalui model keseimbangan umumnya
(General equilibrium model). Dengan jelas diuraikan
bahwa perubahan satu faktor akan membawa
perubahan pada variabel lain dalam sistem
ekonomi secara menyeluruh.
Segi positif: selain memberikan gambaran yang jelas
tentang teori keseimbangan umum, juga analisanya
lebih tajam karena digambarkan secara sistematis
dalam bentuk matematis

Tokoh lain: Vilfredo Pareto


Pemikiran:
Meneruskan aliran matematisnya Walras dan membantu
Walras dalam menjelaskan kondisi-kondisi yang harus
dipenuhi agar sumber daya dapat dialokasikan sehingga
memberikan hasil yang optimum dalamsuatu model
keseimbangan.
Pengalokasian sejumlah sumber disebut efisien jika
melalui suatu relokasi tidak ada seorang individu-pun
dapat memperoleh kesejahteraan tanpa mengurangi
kesejahteraan orang atau individu lainnya.
Hukum Pareto: suatu pengalokasian sumber-sumber
disebut efisien bila keadaan atau kondisi yang dicapai
secara jelas dan pasti tidak bisa dibuat menjadi lebih
baik lagi

MAZHAB CAMBRIDGE
Tokoh paling utama adalah Alfred Marshall (18421924).
Pemikiran:
Awal pemikiran Alfred Marshal yaitu dari dua
pertentangan antara konsep harga oleh Klasik (sisi
penawaran) dengan konsep harga dari pakar-pakar neo
klasik yaitu Jevons, Menger dan Walras (sisi permintaan),
yang kemudian digabung menjadi suatu konsep dimana
harga terbentuk sebagai integrasi dua kekuatan di pasar
yaitu penawaran dari pihak produsen dan permintaan
dari pihak konsumen. Pertemuan antara permintaan dan
penawaran menentukan harga yang terbentuk di pasar.
Kalau harga terbentuk di pasar lebih besar dari biaya
yang dibutuhkan untuk menghasilkan barang berarti
perusahaan dalam jangka pendek memperoleh
keuntungan.

Tetapi dalam jangka panjang keadaan akan


kembali normal sebab keuntungan yang
dinikmati perusahaan akan menarik
perusahaan
lain untuk masuk ke pasar.
Sehingga makin
banyak perusahaan
yang masuk pasar
maka
semakin
banyak pula produksi/penawaran, kelebihan
penawaran akan memaksa harga turun dan
keadaan kembali ke kondidi semula.
Konsep yang berbeda dengan Klasik yang lain
yaitu dalam pendekatan penelitian. Klasik
menggunakan metode induktif sedangkan
Marshall mengkombinasikan metode induktif
dan metode deduktif.

Tokoh lain: Arthur Cecil Pigou


Pemikiran:
Mengemukakan konsep Real Balance Effect (Effect
Pigou/Dampak Pigou) yaitu suatu stimulasi kesempatan
kerja yang disebabkan oleh meningkatnya nilai riil dari
kekayaan likuid sebagai konsekuensi turunnya hargaharga. Sewaktu nilai kekayaan riil naik maka konsumsi
akan naik, yang berdampak pada peningkatan
pendapatan dan terbukanya kesempatan kerja baru.
Pigou bersama Keynes dan Joan Robonson
memperbaikai konsep Marshall dalam permintaan yaitu
dengan memasukkan faktor lain selain pendapatan yaitu
harga barang tersebut, harga barang lain, selera,
ekspektasi harga dan pendapatan, besarnya pasar, dsb.

REVISI PEMIKIRAN KLASIK DAN NEO KLASIK


Pada tahun 1930an sejumlah pakar ekonomi merevisi pemikiranpemikiran Neo Klasik terutama mengenai teori pembentukan harga
dan keseimbangan pasar.
Revisi berkaitan dengan asumsi-asumsi pasar persaingan sempurna :
1. Terdapat banyak pembeli dan penjual
2. Barang-barang yang dijual di pasar relatif sama dalam jenis,
sifat dan mutu
3. Tiap perusahaan bebas keluar masuk pasar
4. Tidak ada pembeli dan penjual yang mampu mengubah harga
yang ditentukan di pasar
5. Setiap pembeli dan penjual bertindak sebagai penerima harga
(Price taker)
6. Tiap pembeli dan penjual mempunyai informasi lengkap
tentang pasar
7. Tidak ada perbedaan biaya transpor di antara para penjual

Asumsi-asumsi tersebut setelah abad 20 tidak relevan lagi


sehingga timbul pemikiran-pemikiran dari para pakar ekonomi
yaitu:
1. Srafa, pemikiran: asumsi pasar persaingan sempurna neo klasik
sudah tidak bisa diterima karena sekarang sudah banyak
perusahaan-perusahaan besar dan tiap perusahaan mengenal
kalau seandainya mereka mengubah keputusan out put atau
penawaran maka harga-harga bisa berubah.
2. Chamberain, pemikiran: atas dasar pemikiran Srafa, Chamberlain
berpendapat asumsi neo klasik yaitu barang homogen tidak
realistis. Untuk membedakan produknya perusahaan melakukan
diferensiasi produk sehingga masing-masing perusahaan
menjual barang yang khas sehingga dapat mempengaruhi harga
pasar. Mengarah ke pasar Monopolistik (Monopolistic
Competition)
3. Joan Robinson, pemikiran: Fokus pada pasar persaingan tidak
sempurna (Imperfect Competition). Dalam pasar persaingan
tidak sempurna tiap perusahaan memegang posisi monopoli
dalam barang-barang yang dibeli berdasarkan preferensi
konsumen, walau ada barang substitusi dekat yang dihasilkan
perusahaan-perusahaan lain

Implikasi dari revisi terhadap pemikiran Klasik dan Neo


Klasik oleh ketiga ahli ekonomi di atas yaitu:
1. Model pasar persaingan sempurna yang
dikembangkan Klasik hanya merupakan konstruksi
pemikiran tentang keadaan yang ideal. Artinya
hanya dari segi teoritis sedangkan dalam realitas
mempunyai banyak kendala atau keterbatasan
2. Dengan adanya kelemahan kelemahan model pasar
persaingan sempurna menimbulkan pemikiranpemikiran bentuk model pasar yang lain yaitu
pasar Monopoli (Monopolistic Market) dan pasar
persaingan tidak sempurna (Imperfect Market)