Anda di halaman 1dari 3

Paraplegi adalah paralysis parsial atau komplet pada kedua anggota gerak bawah dan seluruh

atau sebagian trunk sebagai akibat cedera medulla spinalis pada thorakal atau lumbal atau
percabangan saraf di sacral (Bromley, 1991).
Cedera medulla spinalis yang disebabkan oleh trauma diantaranya:
(1) trauma langsung baik fraktur maupun dislokasi,
(2) kompresi atau penekanan oleh fragmen tulang.
Patofisiologi
Trauma pada columna vertebra dapat merusakkan vertebra dengan atau tanpa kerusakan
spinal cordnya atau sebaliknya dapat merusak spinal cord tanpa kerusakan tulangnya.
Kerusakan spinal cord ada 2 macam yaitu :
(1) komplit, jika cidera pada spinal cord menyebabkan seluruh kekuatan motoris dan
sensorisnya hilang.
(2) inkomplit, apabila hanya sebagian kekuatan motoris atau sensorisnya hilang.
akan terjadi perubahan struktur dari kurve vertebra.
Jika perpatahan tersebut meleset ke posterior: menekan medulla spinalis terganggu distribusi
persarafan pada tonus-tonus otot di daerah anggota gerak bawah sehingga terjadi kelumpuhan
total pada anggota gerak bawah (paraplegi).
fungsi sensoris dan motoris akan terhenti :termasuk fungsi bladder dan bowel. Daerah
dibawah kerusakan lesi akan hilang semua aktivitas refleknya, keadaan ini disebut spinal
shock.
PROGNOSIS : beberapa jam, hari, minggu, atau bahkan dalam hitungan bulan. Prognosis
akan semakin baik bila masa spinal shock ini berlangsung tidak terlalu lama. Pada masa
spinal shock semua otot akan dalam keadaan flaccid. Setelah masa spinal shock ini berakhir,
otot-otot yang mendapat distribusi saraf dari level kerusakan akan flaccid permanen.
semakin baik apabila terdapat sisa sensasi apapun pada daerah dibawah level kerusakan

Tanda dan gejala klinis


a. Gangguan motorik
b. Gangguan sensorik
c. Gangguan bladder
d. Gangguan fungsi seksual
e. Autonomic desreflexsia
Autonomic desreflexia adalah reflek vaskuler yang terjadi akibat respon stimulus dari
bladder, bowel atau organ dalam lain dibawah level cedera yang tinggi,
(1) keluar banyak keringat pada kepala, leher, dan bahu,
(2) naiknya tekanan darah,
(3) denyut nadi rendah,
(4) pusing atau sakit kepala.
PEMERIKSAAN PENUNJANG

RO

Laboratorium :

: Ditemukan fraktur vertebrae

a)

Darah : Tidak spesifik

b)

Urine : Ada infeksi, sehingga leukosit dan eritrosit meningkat

VII. PENGOBATAN
a. Obat
Jika terjadi contasio / transeksi / kompresi medulla spinalis, maka dapat kita terapi dengan :

Metyl Prednisolon 30 mg/kg BB bolus intravena selama 15 menit, dilanjutkan dengan


5,4 mg/kg BB 45 menit setelah bolus selama 23 jam. Hasil optimal bila pemberian
dilakukan < 8 jam onset.

Tambahkan profilaksis strees ulkus : Antacid / antagonis H2.

Sedangkan apabila terdapat comotio medulla spinalis fraktur atau dislokasi tidak stabil harus
disingkirkan. Jika pemulihan sempurna, pengobatan tidak diperlukan.

Antibiotik pada umumnya untuk menyembuhkan infeksi saluran kemih. Beberapa orang
menggunakan jus buah cranberry dan pengobatan dari tumbuhan lainnya untuk pencegahan.
b. Fisioterapi
Terdiri dari :

Alat bantu

Pada penyakit paraplegia, kita dapat menggunakan alat bantu terapi yang dinamakan Giger
MD. Dimana merupakan suatu terapi dinamis koordinasi yang efisien untuk melatih pasien
dengan lesi CNS.

Pemanasan

Dengan air hangat atau sinar.

Latihan

Disebut dengan Range Of Motion (ROM) untuk mengetahui luas gerak sendi.
c. Operasi
Tindakan operasi diindikasikan pada kasus :

Reduksi terbuka pada dislokasi

Cedera terbuka dengan benda asing atau tulang dalam canalis spinalis

Lesi parsial medulla spinalis dengan hemamielia yang progresif

d. Saran

Perawatan vesica urinaria dan fungsi defekasi

Perawatan kulit untuk menghindari terjadinya ulcus dekubitus

Nutrisi yang adekuat

Control nyeri : analgetik, obat anti inflamasi non steroid, anti konvulsi, codein, dll.

e. Psikoterapi sangat penting, terutama pada pasien yang mengalami sekuel neurologist
berat dan permanen.