Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Malaria merupakan penyakit yang terdapat di daerah Tropis. Penyakit ini sangat dipengaruhi
oleh kondisi-kondisi lingkungan yang memungkinkan nyamuk untuk berkembang biak dan
berpotensi melakukan kontak dengan manusia dan menularkan parasit malaria. Contoh faktorfaktor lingkungan itu antara lain hujan, suhu, kelembaban, arah dan kecepatan angin, ketinggian.
Salah satu faktor lingkungan yang juga mempengaruhi peningkatan kasus malaria
adalah penggundulan hutan, terutama hutan-hutan bakau di pinggir pantai. Akibat rusaknya
lingkungan ini, nyamuk yang umumnya hanya tinggal di hutan, dapat berpindah di pemukiman
manusia, kerusakan hutan bakau dapat menghilangkan musuh-musuh alami nyamuk sehingga
kepadatan nyamuk menjadi tidak terkontrol.

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. KONSEP DASAR PENYAKIT MALARIA
1. Pengertian
Malaria adalah penyakit infeksi dengan demam berkala, yang disebabkan oleh Parasit
Plasmodium dan ditularkan oleh sejenis nyamuk Anopeles (Tjay & Raharja, 2000).
Malaria adalah suatu penyakit infeksi yang menginvasi sistem hematologi melalui vektor
nyamuk yang terinfeksi protozoa plasmodium. (Arif Muttaqin, dkk, 2011)
Malaria adalah infeksi parasit pada sel darah merah yang disebabkan oleh suatu protozoa
spesies plasmodium yang ditularkan kepada manusia melalui air liur nyamuk (Corwin, 2000, hal
125).
2. Etiologi
Malaria paling sering di sebabkan oleh gigitan nyamuk spesiesAnopheles betina
yang terinfeksi dengan spesies dari protozoa genus plasmodium. Terdapat lima spesies
paling umum yang memberikan pengaruh ceddera terhadap manusia (fernandez, 2009),
yaitu sebagai berikut.
a.
Plasmodium Falcifarum
b.
Plasmodium Vivax
c.
Plasmodium Ovale
d.
Plasmodium Malariae
e.
Plasmodium Knowlesi
Plasmodium Knowlesi, baru-baru ini di identifikasi di Asia tenggara sebagai
patogen bermakna secara klinis pada manusia (Cox-Singh, 2008) (Arif Muttaqin, dkk,
2011).
3. Jenis-Jenis Malaria
Sesuai dengan penyebabnya, malaria di bedakan berdasarkan jenis
plasmodiumnya. (Arif Muttaqin, dkk, 2011)
JENIS MALARIA
Jenis
Malaria
Tropika

Penyebab
Plasmodium
Falcifarum

Klinis
Malaria tropika adalah jenis malaria yang paling berat, di
tandai dengan panas yang iriguler, anemia, splenomogali,
parasitemia, dan sering terjadi komplikasi. Masa inkubasi
9-14 hari. Malaria ini menyerang semua bentuk eritrosit.
Plasmodium Falcifarum menyerang sel darah merah
seumur hidup. Infeksi plasmodium falcifarum sering sekali
menyebabkan sel darah merah yang mengandung parasit
menghasilkan banyak tonjolan untuk melekat pada lapisan

Malaria
Kwartana

Plasmodium
malariae

Malaria
Ovale

Plasmodium
Ovale

Malaria
Tersiana

Plasmodium
Vivax

endotel dinding kapiler dengan akibat obstruksi trombosis


dan iskemik lokal. Infeksi ini sering kali lebih berat dan
infeksi lainnya dengan angka komplikasi tinggi (Murphy,
1996)
Plasmodium malariae mempunyai tropozoit yang serupa
dengan plasmodium vivak, lebih kecil dan sitoplasmanya
lebih kompak/lebih biru. tropozoit matur mempunyai
granula coklat tua sampia hitam dan terkadang mengumpul
sampai terbentuk pita. Skizon plasmodium malariae
mempunyai 8-10 merozoit yang tersusun seperti kelopak
bunga/rosate. Bentuk gametosit sangat mirip dengan
plasmodium vivax tetapi lebih kecil. (Cunha, 2008)
Ciri-ciri demam tiga hari sekali setelah puncak 48 jam.
Gejala lain adalah nyeri pada kepala dan punggung, mual,
pembesaran limpa, dan melaise umum. Komplikasi jarang
terjadi, namun dapat terjadi seperti sindrome nefrotik dan
komplikasi terhadap ginjal lainnya. Pada pemeriksaan akan
di temukan edema, asites, proteinuria, hipoproteinemia,
tanpa uremia dan hipertensi (Dorsey, 2000)
Malaria tersiana (plasmodium Ovale) bentuknya mirip
plasmodium malariae, skizonnya hanya mempunyai 8
merozoid dengan masa pigmen hitam di tengah.
Karakteristik yang dapat di pakai untuk identifikasi adalah
bentuk eritrosit yang terinfeksi plasmodium ovale dimana
biasanya oval atau ireguler dan fibriated. Malaria ovale
merupakan bentuk yang paling ringan dari semua bentuk
malaria yang di sebabkan oleh plasmodium ovale. Masa
inkubasi 11-16 hari, walaupun priode laten sampai 4 tahun.
Serangan proksismal 3-4 hari dan jarang terjadi lebih dari
10 kali walaupun tanpa terapi dan terjadi pada amalam hari
( Busch, 2003)
Malaria tersiana (plasmodium vivax) biasanya menginfeksi
eritrosit muda yang diameternya lebih besar dari eritrosit
noramal, bentuknya mirip dengan plasmodium falcifarum,
namun seiring dengan maturasi, tropozoid vivax berubah
menjadi amoeboid. Terjadi atas 12-24 merozoid ovale dan
pigment kuning tengguli. Gametosit berbentuk aval hampir
memenuhi seluruh eritrosit, kromatinin eksternis, pigmen
kuning. Gejala malaria jenis ini secara periodik 48 jam
dengan gejala klasik trias malaria dan mengakibatkan
demam berkala 4 hari sekali dengan puncak demam 72 jam

(karmona, 2009).
4. Proses Kehidupan Plasmodium
Sebagaimana makhluk hidup lainnya, plasmodium juga melakukan proses
kehidupan yang meliputi:
a.

Metabolisme (pertukaran zat).

Untuk proses hidupnya, plasmodium mengambil oksigen dan zat makanan


dari haemoglobin sel darah merah. Dari proses metabolisme meninggalkan sisa berupa
pigmen yang terdapat dalam sitoplasma. Keberadaan pigmen ini bisa dijadikan salah satu
indikator dalam identifikasi.
b.

Pertumbuhan.

Yang dimaksud dengan pertumbuhan ini adalah perubahan morfologi yang


meliputi perubahan bentuk, ukuran, warna, dan sifat dari bagian-bagian sel. Perubahan ini
mengakibatkan sifat morfologi dari suatu stadium parasit pada berbagai spesies, menjadi
bervariasi.Setiap proses membutuhkan waktu, sehingga morfologi stadium parasit yang ada
pada sediaan darah dipengaruhi waktu dilakukan pengambilan darah. Ini berkaitan dengan
jam siklus perkembangan stadium parasit. Akibatnya tidak ada gambar morfologi parasit
yang sama pada lapang pandang atau sediaan darah yang berbeda.
c.

Pergerakan.

Plasmodium bergerak dengan cara menyebarkan sitoplasmanya yang


berbentuk kaki-kaki palsu (pseudopodia). Pada Plasmodium vivax, penyebaran sitoplasma ini
lebih jelas terlihat yang berupa kepingan-kepingan sitoplasma. Bentuk penyebaran ini
dikenal sebagai bentuk sitoplasma amuboit (tanpa bentuk).
d.

Berkembang biak.

Berkembang biak artinya berubah dari satu atau sepasang sel menjadi
beberapa sel baru.
5. Karakteristik Nyamuk
Menurut Harijanto (2000) malaria pada manusia hanya dapat ditularkan oleh nyamuk betina
Anopheles. Lebih dari 400 spesies Anopheles di dunia, hanya sekitar 67 yang terbukti
mengandung sporozoit dan dapat menularkan malaria. Di Indonesia telah ditemukan 24 spesies
Anopheles yang menjadi vektor malaria.

Sarang nyamuk Anopheles bervariasi, ada yang di air tawar, air payau dan ada pula yang
bersarang pada genangan air pada cabang-cabang pohon yang besar (Slamet, 2002, hal 103).
Karakteristik nyamuk Anopeles adalah sebagai berikut :
a.

Hidup di daerah tropic dan sub tropic, ditemukan hidup di dataran rendah

b.

Menggigit antara waktu senja (malam hari) dan subuh hari

c.
Biasanya tinggal di dalam rumah, di luar rumah, dan senang mengigit manusia
(menghisap darah)
d.

Jarak terbangnya tidak lebih dari 2-3 km

e.

Pada saat menggigit bagian belakangnya mengarah ke atas dengan sudut 48 derajat

f.

Daur hidupnya memerlukan waktu 1 minggu .

g.

Lebih senang hidup di daerah rawa.

6. Manifestasi Klinis Berdasarkan Jenis Malaria :


a.

Plasmodium vivax ( malaria tertiana )

1)

Meriang

2)
Panas dingin menggigil/ demam ( 8 sampai 12 jam, dapat terjadi dua hari sekali setelah
gejala pertama terjadi dapat terjadi selama 2 minggu setelah infeksi)
3)

Keringat dingin

4)

Kejang-kejang

5)

Perasaan lemas, tidak nafsu makan, sakit pada tulang dan sendi.

b.

Plasmodium falcifarum ( malaria tropika )

1)

Meriang

2)
Panas dingin menggigil/ demam ( lebih dari 12 jam, dapat terjadi dua hari sekali setelah
gejala pertama terjadi dapat terjadi selama 2 miggu setelah infeksi)
3)

Keringat dingin

4)

Kejang-kejang

5)

Perasaan lemas, tidak nafsu makan, sakit pada tulang dan sendi.

c.

Plasmodium malariae ( malaria kuartana )

1)

Meriang

2)
Panas dingin menggigil/ demam ( gejala pertama tidak terjadi antara 18 sampai 40 hari
setelah infeksi terjadi. Gejala tersebut kemudian akan terulang kembali setiap 3 hari )
3)

Keringat dingin

4)

Kejang-kejang

5)

Perasaan lemas, tidak nafsu makan, sakit pada tulang dan sendi

d.

Plasmodium ovale ( jarang ditemukan ).

Dimana manifestasi klinisnya mirip malaria tertiana :


1)

Meriang

2)
Panas dingin menggigil/ demam ( 8 sampai 12 jam, dapat terjadi dua hari sekali setelah
gejala pertama terjadi dapat terjadi selama 2 minggu setelah infeksi)
3)

Keringat dingin

4)

Kejang-kejang

5)

Perasaan lemas, tidak nafsu makan, sakit pada tulang dan sendi.
7. Manifestasi klinis
Tanda dan gejala yang di temukan pada klien dngan malaria secara umum menurut
Mansjoer (1999) antara lain sebagai berikut :
a. Demam
Demam periodik yang berkaitan dengan saat pecahnya skizon matang (sporolasi).
Pada Malaria Tertiana (P.Vivax dan P. Ovale), pematangan skizon tiap 48 jam maka
periodisitas demamnya setiap hari ke-3, sedangkan Malaria Kuartana (P. Malariae)
pematangannya tiap 72 jam dan periodisitas demamnya tiap 4 hari. Tiap serangan di
tandai dengan beberapa serangan demam periodik. Gejala umum (gejala klasik) yaitu
terjadinya Trias Malaria (malaria proxysm) secara berurutan :
1) Periode dingin.
Mulai menggigil, kulit kering dan dingin, penderita sering membungkus diri
dengan selimut atau sarung dan pada saat menggigil sering seluruh badan bergetar dan
gigi-gigi saling terantuk, pucat sampai sianosis seperti orang kedinginan. Periode ini
berlangsung 15 menit sampai 1 jam diikuti dengan meningkatnya temperatur.
2) Periode panas.

Muka merah, kulit panas dan kering, nadi cepat dan panas tetap tinggi sampai 40
C atau lebih, respirasi meningkat, nyeri kepala, nyeri retroorbital, muntah-muntah, dapat
terjadi syok (tekanan darah turun), kesadaran delirium sampai terjadi kejang (anak).
Periode ini lebih lama dari fase dingin, dapat sampai 2 jam atau lebih, diikuti dengan
keadaan berkeringat.
3) Periode berkeringat.
Penderita berkeringat mulai dari temporal, diikuti seluruh tubuh, sampai basah,
temperatur turun, penderita merasa capai dan sering tertidur. Bila penderita bangun akan
merasa sehat dan dapat melakukan pekerjaan biasa.
b. Splenomegali
Splenomegali adalah pembesaran limpa yang merupakan gejala khas Malaria
Kronik. Limpa mengalami kongesti, menghitam dan menjadi keras karena timbunan
pigmen eritrosit parasit dan jaringan ikat bertambah (Corwin , 2000, hal. 571).
Pembesaran limpa terjadi pada beberapa infeksi ketika membesar sekitar 3 kali lipat. Lien
dapat teraba di bawah arkus costa kiri, lekukan pada batas anterior. Pada batasan
anteriornya merupakan gambaran pada palpasi yang membedakan jika lien membesar
lebih lanjut. Lien akan terdorong ke bawah ke kanan, mendekat umbilicus dan fossa
iliaca dekstra.
c. Anemia
Derajat anemia tergantung pada spesies penyebab, yang paling berat adalah
anemia karena Falcifarum. Anemia di sebabkan oleh penghancuran eritrosit yang
berlebihan Eritrosit normal tidak dapat hidup lama (reduced survival time). Gangguan
pembentukan eritrosit karena depresi eritropoesis dalam sumsum tulang. (Mansjoer. dkk,
Hal. 411)
d. Ikterus
Ikterus adalah diskolorasi kuning pada kulit dan skIera mata akibat kelebihan
bilirubin dalam darah. Bilirubin adalah produk penguraian sel darah merah. Terdapat tiga
jenis ikterus antara lain :
1) Ikterus hemolitik
Disebabkan oleh lisisnya (penguraian) sel darah merah yang berlebihan. Ikterus
ini dapat terjadi pada destruksi sel darah merah yang berlebihan dan hati dapat
mengkonjugasikan semua bilirubin yang di hasilkan
2) Ikterus hepatoseluler
Penurunan penyerapan dan konjugasi bilirubin oleh hati terjadi pada disfungsi
hepatosit dan di sebut dengan hepatoseluler.
3) Ikterus Obstruktif
Sumbatan terhadap aliran darah ke empedu keluar hati atau melalui duktus biliaris
di sebut dengan ikterus obstuktif (Corwin, 2000, hal. 571).

8. Faktor Host Yang Mempengaruhi Terjadinya Penyakit Malaria


a.

Umur

Anak-anak lebih rentan terhadap infeksi parasit malaria, terutama pada anak dengan gizi
buruk (Rampengan T.H., 2000). Infeksi akan berlangsung lebih hebat pada usia muda atau
sangat muda karena belum matangnya system imun pada usia muda sedangkan pada usia tua
disebabkan oleh penurunan daya tahan tubuh misalnya oleh karena penyakit penyerta seperti
Diabetes Melitus (Weir D.M., 1987). Perbedaan angka kesakitan malaria pada berbagai
golongan umur selain dipengaruhi oleh faktor kekebalan juga dipengaruhi oleh faktor lain
seperti pekerjaan , pendidikan dan migrasi penduduk (Departemen Kesehatan RI,2000).
b.

Jenis kelamin

Perbedaan angka kesakitan malaria pada anak laki-laki dan perempuan dipengaruhi oleh
faktor pekerjaan, migrasi penduduk dan lain-lain (Departemen Kesehatan., RI 1991).
c.

Riwayat malaria sebelumnya

Orang yang pernah terinfeksi malaria sebelumnya biasanya akan terbentuk imunitas
sehingga akan lebih tahan terhadap infeksi malaria. Contohnya penduduk asli daerah endemik
akan lebih tahan dibandingkan dengan transmigran yang dating dari daerah non endemis
(Dachlan Y.P., 1986 : Smith, 1995 : Maitland, 1997)
d.

Ras

Beberapa ras manusia atau kelompok penduduk mempunyai kekebalan alamiah terhadap
malaria, misalnya siekle cell anemia merupakan kelainan yang timbul karena penggantian
asam amino glutamat pada posisi 57 rantai hemoglobin. Bentuk heterozigot dapat mencegah
timbulnya malaria berat, tetapi tidak melindungi dari infeksi. Mekanisme perlindungannya
belum jelas, diduga karena eritrosit Hb S (sickle cell train0 yang terinfeksi parasit lebih
mudah rusak di system retikuloendothelial, dan/atau karena penghambatan pertumbuhan
parasit akibat tekanan O2 intraeritrosit rendah serta perubahan kadar kalium intra sel yang
akan mengganggu pertumbuhan parasit atau karena adanya akulasi bentuk heme tertentu yang
toksik bagi parasit (Nugroho A., 2000). Selain itu penderita ovalositosis (kelainan morfologi
eritrosit berbentuk oval) di Indonesia banyak terdapat di Indonesia bagian timur dan sedikit di
Indonesia bagian barat. Prevalensi ovalosis mulai dari 0,25 % (suku Jawa) sampai 23,7 %
suku Roti (Setyaningrum, 1999).
e.

Kebiasaan

Kebiasaan sangat berpengaruh terhadap penyebaran malaria. Misalnya kebiasaan tidak


menggunakan kelambu saaat tidur dan senang berada diluar rumah pada malam hari. Seperti

pada penelitian di Mimiki Timur, Irian Jaya ditemukan bahwa kebiasaan penduduk
menggunakan kelambu masih rendah (Suhardja, 1997)
f.

Status gizi

Status gizi ternyata berinteraksi secara sinergis dengan daya tahan tubuh. Makin baik
status gizi seseorang, makin tidak mudah orang tersebut terkena penyakit . Dan sebaliknya
makin rendah status gizi seseorang makin mudah orang tersebut terkena penyakit
(Nursanyoto, 1992).
Pada banyak penyakit menular terutama yang dibarengi dengan dengan demam, terjadi
banyak kehilangan nitrogen tubuh. Nitorgen tubuh diperoleh dari perombakan protein tubuh.
Agar seseorang pulih pada keadaan kesehatan yang normal, diperlukan peningkatan dalam
protein makanan. Penting diperhatikan pula bahwa fungsi dari dari semua pertahanan tubuh
membutuhkan kapasitas sel-sel tubuh untuk membentuk protein baru. Inilah sebabnya maka
setiap defesiensi atau ketidak seimbangan zat makanan yang mempengaruhi setiap system
protein dapat pula menyebabkan gangguan fungsi beberapa mekanisme pertahanan tubuih
sehingga pada umumnya melemahkan resistensi host. Malnutrisi selalu menyebabkan
peningkatan insiden penyakit-penyakit infeksi dan terhadap penyakit yang sudah ada dapat
meningkatkan keparahannya (Maria, 1992).
g.

Sosial ekonomi
Faktor sosial ekonomi sangat berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk
mencukupi kebutuhan dasarnya seperti : sandang, pangan dan papan. Semakin tinggi
sosisla ekonomi seseorang semakin mudah pula seseorang mencukupi segala kebutuhan
hidupnya termasuk di dalamnya kebutuhan akan pelayanan kesehatan, makanan yang
bergizi serta tempat tinggal yang layak dan lain-lain . Menurut Biro Pusat Statistik,
semakain tinggi status social ekonomi seseorang maka pengeluaran cenderung bergeser
dari bahan makanan ke bahan non makanan. Jadi faktor social ekonomi seperti
kemiskinan, harga barang yang tinggi, pendapatan keluarga rendah, dan produksi
makanan rendah merupakan resiko untuk terjangkitnya malaria (Wirjatmadi B., 1985).

h.

Immunitas

Immunitas ini merupakan suatu pertahanan tubuh. Masyarakat yang tinggal di daerah
endemis malaria biasanya mempunyai imunitas yang alami sehingga mempunyai pertahanan
alam terhadap infeksi malaria.

9. Komplikasi
Komplikasi yang lazim terjadi pada malaria terutama yang disebabkan sebagai berikut.

a.

Koma (malaria serebral).

Koma pada malaria meliputi kondisi penurunan kesadaran, perubahan status mental, dan
kejang. Kondisi koma malaria merupakan kondisi paling umum yang menyebabkan kematian
pada pasien dengan penyakit malaria. Jika tidak diobati, komplikasi ini sangat mematikan.
Gejala malaria serebral mirip dengan ensefalopati toksik.
b.

Kejang (sekunder baik untuk hipoglikemia atau serebral malaria).

c.

Gagal ginjal akut.

Sebanyak 30% dari orang dewasa yang terinfeksi denganPlasmodium


falciparum menderita gagal ginjal akut (Hanson, 2009).
d.

Hipoglikemia.

e.

Hemoglobinuria (blackwater fever).

Kondisi hemoglobinuria ditandai dengan urine sangat gelap yang merupakan manifestasi
dari hemolisis, hemoglobinemia yang berlanjut pada hemoglobinuria dan hemozoinuria.
f.

ARDS, edema paru nonkardiogenik.

Kondisi ini paling sering terjadi pada wanita hamil dan menyebabkan kematian pada 80%
pasien (Perez-Jorge, 2009).
g.

Anemia (Hb 5 gr/dL atau kurang)

h.

Pendarahan (koagulopati).
10. Pemeriksaan diagnostik

a.

Pemeriksaan mikroskopis malaria

Diagnosis malaria sebagai mana penyakit pada umumnya didasarkan pada manifestasi
klinis (termasuk anamnesis), uji imunoserologis dan ditemukannya parasit (plasmodium) di
dalam penderita. Uji imunoserologis yang dirancang dengan bermacam-macam target dianjurkan
sebagai pelengkap pemeriksaan mikroskopis dalam menunjang diagnosis malaria atau ditujukan
untuk survey epidemiologi di mana pemeriksaan mikrokopis tidak dapat dilakukan.
Diagnosis definitif demam malaria ditegakan dengan ditemukanya parasit plasmodium
dalam darah penderita. Pemeriksaan mikrokropis satu kali yang memberi hasil negatif tidak
menyingkirkan diagnosis deman malaria. Untuk itu diperlukan pemeriksaan serial dengan
interval antara pemeriksaan satu hari.

Pemeriksaan mikroskropis membutuhkan syarat-syarat tertentu agar mempunyai nilai


diagnostik yang tinggi (sensitivitas dan spesifisitas mencapai 100%).
1)
Waktu pengambilan sampel harus tepat yaitu pada akhir periode demam memasuki periode
berkeringat. Pada periode ini jumlah trophozoite dalam sirkulasi dalam mencapai maksimal dan
cukup matur sehingga memudahkan identifikasi spesies parasit.
2)
Volume yang diambil sebagai sampel cukup, yaitu darah kapiler (finger prick) dengan
volume 3,0-4,0 mikro liter untuk sediaan tebal dan 1,0-1,5 mikro liter untuk sedian tipis.
3)

Kualitas perparat harus baik untuk menjamin identifikasi spesies plasmodium yang tepat.

4)

Identifikasi spesies plasmodium

5)
Identifikasi morfologi sangat penting untuk menentukan spesies plasmodium dan
selanjutnya digunakan sebagai dasar pemilihan obat.
b.

QBC (Semi Quantitative Buffy Coat)

Prinsip dasar: tes floresensi yaitu adanya protein pada plasmodium yang dapat
mengikat acridine orange akan mengidentifikasi eritrosit terinfeksi plasmodium. QBC
merupakan teknik pemeriksaan dengan menggunakan tabung kapiler dengan diameter tertentu
yang dilapisi acridine orange tetapi cara ini tidak dapat membedakan spesies plasmodium dan
kurang tepat sebagai instrumen hitung parasit.
c.

Pemeriksaan imunoserologis

Pemeriksaan imunoserologis didesain baik untuk mendeteksi antibodi spesifik terhadap


paraasit plasmodium maupun antigen spesifik plasmodium atau eritrosit yang terinfeksi
plasmodium teknik ini terus dikembangkan terutama menggunakan teknik radioimmunoassay
dan enzim immunoassay.
d.

Pemeriksan Biomolekuler

Pemeriksaan biomolekuler digunakan untuk mendeteksi DNA spesifik parasit/


plasmodium dalam darah penderita malaria.tes ini menggunakan DNA lengkap yaitu dengan
melisiskan eritrosit penderita malaria untuk mendapatkan ekstrak DNA.
11. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan khusus pada kasus- kasus malaria dapat diberikan tergantung dari jenis
plasmodium, menurut Tjay & Rahardja (2002) antara lain sebagai berikut :
a.

Malaria Tertiana/ Kuartana

Biasanya di tanggulangi dengan kloroquin namun jika resisten perlu di tambahkan


mefloquin single dose 500 mg p.c (atau kinin 3 dd 600 mg selama 4-7 hari). Terapi ini disusul
dengan pemberian primaquin 15 mg /hari selama 14 hari)
b.

Malaria Ovale

Berikan kinin dan doksisklin (hari pertama 200 mg, lalu 1 dd 100 mg selama 6
hari). Atau mefloquin (2 dosis dari masing-masing 15 dan 10 mg/ kg dengan interval 4-6 jam).
Pirimethamin-sulfadoksin (dosis tunggal dari 3 tablet ) yang biasanya di kombinasikan dengan
kinin (3 dd 600 mg selama 3 hari).
c.

Malaria Falcifarum
Kombinasi sulfadoksin 1000 mg dan pirimetamin 25 mg per tablet dalam dosis
tunggal sebanyak 2-3 tablet. Kina 3 x 650 mg selama 7 hari. Antibiotik seperti tetrasiklin
4 x 250 mg/ hari selama 7-10 hari dan aminosiklin 2 x 100 mg/ hari selama 7 hari.

12. Pencegahan
Pencegahan malaria secara umum meliputi:
a. Edukasi
Materi utama edukasi adalah mengajarkan tentang cara penularan malaria, resiko terkena
malaria, dan yang terpenting pengenalan tentang gejala dan tanda malaria serta
pengetahuan tentang upaya untuk menghilangkan tempat perindukan nyamuk.
b. Upaya yang paling efektif mencegah malaria adalah menghindari gigitan nyamuk
anopheles. Upaya tersebut berupa proteksi pribadi, modifikasi perilaku dan modifikasi
lingkungan.
c. Proteksi pribadi menggunakan insektisida dan rellepant, gunakan gaun lengan panjang,
dan celana panjang.
d. Modifikasi perilaku berupa mengurangi aktivitas di luar rumah mulai senja sampai subuh
disaat nyamuk anopheles umumnya menggigit atau usahakan tinggal di dalam rumah
mulai sore. Sebaiknya ruangan menggunakan AC, seandainya AC tidak tersedia dapt
menggunakan kipas angin untuk mengusir nyamuk yang beterbangan. Jendela dan pintu
rumah ditutupimulai sore hari dan tidur dalam kelambu.
e. Modifikasi lingkungan ditujukan mengurangi habitat pembiakan nyamuk, berupa
perbaikan drainase sehingga mengurangi genangan air, menghilangkan pembiakan
nyamuk seperti kaleng, bak mandi, ban bekas, menghilangkan alang-alang atau semak
belukar, perbaikan tepian sungai untuk memperlancar tepian air, dan lain-lain.
Pengelolaan lingkungan tersebut disertai modifikasi perilkau manusia efektif mengurangi
resiko terkena malaria sampai 80-88%.
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN PADA MALARIA
1.

Pengkajian

a)

Anamnesa

Keluhan utama pada pasien malaria bervariasi sesuai dengan siklus yang terjadi di dalam
tubuh pasien. Pada pengkajian, perawat mungkin mendapatkan keluhan utama demam. Serangan
klasik demam tiba-tiba dimulai dengan periode menggigil yang berlangsung selama sekitar 1-2
jam dan diikuti dengan demam tinggi. Setelah itu akan terjadi penurunan suhu tubuh secara
berlebihan disertai diaforesis dan suhu tubuh pasien turun menjadi normal atau di bawah normal.
Menurut Dorsey (2000) terdapat trias klasik malaria yang terbagi dalam 3 periode. (Arif
Muttaqin, dkk, 2011)
Trias Klasik Malaria (Malaria Proxysm)
Fase
Klinis
Fase dingin
Pada fase ini pasien terlihat menggigil dan kedinginan, pasien sering
membungkus diri dengan selimut dan pada saat menggigil disertai
badan bergetar, pucat sampai sianosis. Fase ini berlangsung 15 menit
sampai 1 jam diikuti dengan meningkatnya temperatur
Fase hipertermi Perubahan integumen dengan muka menjadi merah, kulit ppanas dan
kering. Perubahan TTV dengan nadi cepat dan panas tetap tinggi
sampai 40C atau lebih, respirasi meningkat. Perubahan sistemik
dengan adanya nyeri kepala, mual-muntah, gejala syok (takanan darah
menurun), penurunan tingkat kesadaran menjadi delirium dan kejang.
Fase ini lebih lama dari fase dingin, dapat sampai 2 jamatau lebih, di
ikuti dengan keadaan berkeringat.
Fase diaforesis
Pasien berkeringat mulai dari kening, di ikuti seluruh tubuh, sampai
basah sampai seluruh tubuh, temperatur turun, pasien kemudian
keletihan dan kemudian tertidur. Bila pasien bangun akan merasa sehat
dan dapat melakukan aktivitas rutin seperti biasa.
(Dimodifikasi dari Dorsey G, Gandhi M, Oyugi JH, Rosenthai PJ., 2000)
Keluhan klinis sistemik secara umum yang mengikuti, meliputi batuk, cepat letih,
malaise, nyeri otot (mialgia), nyeri sendi (artralgia), dan peningkatan produksi keringat (setiap
48 atau 72 jam, tergantung pada spesies). Keluhan sistemik lainnya bisa didapatkan adanya
anoreksia dan letargi, mual dan muntah, sakit kepala, serta ikterus mungkin didapatkan pada
beberapa kasus.
Pada riwayat kesehatan, pengkajian awal yang penting bagi perawat untuk ditanyakan
adalah apakah pasien pernah pergi atau diam di tempat endemik malaria. Kebanyakan pasien
tinggal di atau baru saja bepergian ke daerah endemik, namun beberapa kasus dilaporkan setiap
tahun di mana pasien tidak memiliki riwayat perjalanan tersebut (misalnya kendaraan daran atau
air yang pernah singgah atau melewati daerah endemik).

Pengkajian lainnya adalah untuk menentukan status kekebalan pasien, seperti umur,
alergi, kondisi-kondisi medis lainnya, obat lain, dan status kehamilan.
Pengkajian psikososial terutama ditujukan dalam penurunan kecemasan dan pemenuhan
informasi.
b) Pemeriksaan Fisik
Secara umum pasien terlihat sangat sakit, terdapat perubahan status kesadaran yang
semakin menurun sesuai dengan tingkat keaktifan kuman dalam tubuh. TTV biasanya
mengalami perubahan seperti takikardia, hipertermi, peningkatan frekuensi napas, dan penurunan
tekanan darah.
Bl
: Fungsi pernapasan biasanya tidak ada masalah, tetapi pada malaria falcifarum
dengan komplikasi akan didapatkan adanya perubahan takipnu dengan penurunan
kedalaman pernapasan, serta napas pendek pada istirahat dan aktivitas.
B2 : Pada fase demam akan didapatkan takikardia, tekanan darah menurun, kulit hangat, dan
diuresis (diaforesis) karena vasodilatasi. Pucat dan lembap berhubungan dengan adanya anemia,
hipovolemia, dan penurunan aliran darah. Pada pasien malaria dengan komplikasi berat sering
didapatkan adanyatanda-tanda syok hipovolemik dan tanda DIC.
B3 : Sistem neuromotorik biasanya tidak ada masalah. Pada beberapa kasus pasien
terkihat gelisah dan ketakutan. Pada kondisi yang lebih berat akan didapatkan adanya perubahan
tingkat kesadaran dengan manifestasi disorientasi, delirium, bahkan koma. Pada beberapa kasus
pasien dengan adanya perubahan elektrolit sering didapatkan adanya kejang.
B4 : Sistem perkemihan biasanya tidak masalah, tetapi pada saat fase demam didapatkan
adanya penurunan produksi urine, sedangkan pada fase lanjut didapatka adanya poliuri sekunder
dari perubahan glukosa darah.
B5 : Pada inspeksi didapatkan gangguan pencernaan, seperti mual dan muntah, diare
atau konstipasi. Pada auskultasi didapatkan penurunan bising usus. Pada perkusi
didapatkan adanya timfani abdomen. Pada palpasi abdomen sangat sering didapatkan acaura
splenomegali.
B6 : Pada pengkajian integumen didapatkan adanya tanda-tanda anemia dan
ikterus. Pada pemeriksaan muskuloskeletal didapatkan adanya keletihan dan kelemahan
fisik umum,malaise, dan penurunan kekuatan otot.

d) Penatalaksanaan Medis

Intervensi medis disesuaikan dengan kondisi klinis pada pasien malaria. Tujuan
pemberian terapi, meliputi hal-hal sebagai berikut.
1) Intervensi darurat.

Rehidrasi dengan pemberian IVFD.

Tranfusi RBC (red blood cells)

Mengatasi hiponatremi dan hipokalemi.

Monitor dan mengobati hipoglikemia.

Monitor kasus malaria dengan penurunan daya tahan tubuh (pada anak-anak, kehamilan,
imunodefisiensi).

Perawatan di ruang intensif (koagulopati atau kegagalan organ akhir, malaria serebral,
penurunan kesadaran, kejang berulang, koma).
2) Terapi malaria.

Malaria Tersiana/Kuartana.

Biasanya ditanggulangi dengan kloroquin, namun jika pasien resisten perlu ditambahkan
mefloquin dosis tunggal 500 mg p.c (atau kinin 3 dd 600 mg selama 4-7 hari). Terapi ini disusul
dengan pemberian primaquin 15 mg/hari selama 14 hari).

Malaria Ovale. .

Berikan kinin dan doksisklin (hari pertama 200 mg, lalu 1 dd 100 mg selama 6 hari) atau
mefloquin (2 dosis dari masing-masing 15 dan 10 mg/kg dengan interval 4-6 jam).
Pirimethamin-sulfadoksin (dosis tunggal dari 3 tablet) yang biasanya dikombinasikan dengan
kinin (3 dd 600 mg selama 3 hari).

Malaria falcifarum.

Kombinasi sulfadoksin 1000 mg dan pirimetamin 25 mg per tablet dalam dosis tunggal sebanyak
2-3 tablet. Kina 3 x 650 mg selama 7 hari. Antibiotik seperti tetrasiklin 4 x 250 mg/ hari selama
7-10 hari dan aminosiklin 2 x 100 mg/hari selama 7 hari.

e)

Analisa Data

Symtom
Etiologi
Ds :
Pelepasan produksi

Klien biasanya
metabolik toksik kedalam
mengeluh badannya panas
aliran darah

Orangtua Klien

biasanya mengatakan
Respon inflamasi sistemik
panasnya kurang lebih 2-4

hari dirumah
Hipertermi

Klien biasanya
susah tidur
Do :

Keadan umum :
lemah

Wajah pasien
biasanyakemerahan dan
suhu tubuhnya 39,50C

Nadi : 98 x / menit

Pernapasan : 28
X /menit
Ds :
Anemia hipovolemi

Klien

biasanyamengeluh pusing
Penurunan aliran darah dan
.
penurunan imunitas
Do :

Klien akan terlihat


Penurunan perfusi jaringan
sesak dan pucat

Suhu 39,5-400C
Ds :
Anemia hipovolemi
Klien biasanya mengeluh

nyeri kepala dan mual.


Penurunan aliran darah dan
Do :
penurunan imunitas

Klien akan terlihat

gelisah
Resiko tinggi gangguan

Suhu 39,5-400C
elektrolit

Klien biasanya
terlihat lemas dan
keringat dingin
Ds :
Respon intestinal

Klien biasanya

mengatakan tidak ada


Mual, muntah, anoreksia dan
nafsu buat makan
penurunan motilitas

Masalah
Hipertermi

Penurunan
perfusi jaringan

Resiko tinggi
gangguan
elektrolit

Nutrisi kurang
darikebutuhan
tubuh

Do :

Klien akan terlihat


kurus dan lemas.

Porsi makanan
yang disediakan, biasanya
hanya porsi yang
dihabiskan

Berat badan pasien


biasanya menurun dari
sebelumnya.
Ds :

Klien biasanya
mengeluh badannya panas
Do :

Biasanya leukosit
dalam batas tidak normal

Suhu badan :
39,50C

Nadi : 98 x/menit

Pernapasan : 28
X/menit

Kulit biasanya
tanpak kotor
Ds :

Klien biasanya
mengeluh nyeri pada
seluruh badan

Klien biasanya
mengatakan badanya
terasa lemas
Do :

Klien akan terlihat


gelisah

Tidur kurang dari 6


jam

Sering terjaga
Ds :

Orang tua biasanya


bertanya tanya tentang
penyakit anaknya.

Orang tua akan

intake nutrisi tidak adekuat


konstipasi

Nutrisi kurang darikebutuhan


tubuh

Anemia hipovolemi

Penurunan aliran darah dan


penurunan imunitas

Resiko infeksi

Resiko infeksi

Resiko inflamasi sitemik

Mialgia dan Artralgia

Nyeri

Nyeri

Invasi kuman ke hepatosit

Malaria

Respon psikososial

Cemas

mengatakan khawatir
tentang penyakit anaknya.
Do :

Klien akan terlihat


cemas atau ketakutan

Klien akan tampak


gelisah.

Orang tua biasanya


tampak gelisah.
2.

Cemas

Diagnosa Keperawatan

a)
Hipertermia b/d peningkatan metabolisme, dehidrasi, efek langsung sirkulasi kuman pada
hipotalamus.
b)
Perubahan perfusi jaringan b/d anemia, penurunan komponen seluler yang diperlukan
untuk pengiriman oksigen dan nutrien dalam tubuh.
c)
Aktual/resiko tinggi gangguan elektrolit (hiponatremi, hipokalemi) b/d diuresis osmotik,
diaforesis
d) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake makanan yang tidak adekuat,
anoreksia, mual/muntah.
e)

Resiko tinggi infeksi b/d penurunan sistem kekebalan tubuh

f)

Nyeri dan ketidaknyamanan b/d resfon inflamasi sistemik, mialgia, artralgia, diaforesis.

g)

Kecemasan b/d kondisi sakit, prognosis penyakit malaria falciparum

h)
Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d
kurangnya pemajanan, kesalahan interprestasi informasi, keterbatasan kognitif.
3.

Rencana Keperawatan
Hipertermia b/d peningkatan metabolisme, dehidrasi, efek langsung sirkulasi
kuman pada hipotalamus.
Tujuan : dalam waktu 1 x 24 jam terjadi penurunan suhu tubuh
Kriteria Hasil :
1.
Klien mampu menjelaskan kembali pendidikan kesehatan yang di berikan
2.
Klien mampu termotivasi untuk melaksanakan penjelasan yang telah di
berikan
Intervensi
Rasional
Evaluasi TTV pada setiap
Sebagai pengawasan terhadap adanya

pergantian sif atau setiap ada


keluhan dari klien
Kaji pengetahuan klien dan
keluarga tentang cara menurunkan
suhu tubuh
Lakuakan tirah bafring total

Beri kompres dengan hangat pada


daerah aksila, lipat paha dan
temporal bila terjadi panas
Anjurkan klien untuk memakai
pakaian yang menyerap keringat
seperti katun.

Anjurkan keluarga untuk


melakukan masase pada
ekstermitas.

Kolaborasi dengan dokter dalam


pemberian obat antipiretik.

perubahan keadaan umum klien sehingga dapat


di lakukan penanganan dan perawatan secara
cepat dan tepat
Sebagai data dasar untuk memberikan
intervensi selanjutnya.
Penurunan aktivitas akan menurunkan laju
metabolisme yang tinggi pada fase akut,
dengan demikian akan membantu menurunkan
suhu tubuh
Dapat membentu mengurangi demam,
penggunaan es/alkohol mungkin dapat
menyebabkan kedinginan dan menggigil.
Selain itu, alkohol dapat mengeringkan kulit.
Pengeluaran suhu tubuh seecara evaporasii
berkisar 22% dari pengeluaran suhu tubuh.
Pakaian yang mudah menyerap keringan
sangat efektif meningkatkan efek dari
evaporasi.
Masase di lakukan untuk meningkatkan aliran
darah ke perifer dan terjadi vasodilatasi perifer
yang akan meningkatkan efek evaporasi.
Penggunaan cairan penghangat seperti minyak
kayu putih dapat digunakan untuk
meningkatkan efektivitas intervensi masase.
Antipiretik bertujuan untuk memblok respons
panas sehingga suhu tubuh klien dapat lebih
cepat menurun.

Perubahan perfusi jaringan b/d anemia, penurunan komponen seluler yang diperlukan
untuk pengiriman oksigen dan nutrien dalam tubuh.
Tujuan : dalam waktu 2 x 24 jam terjadi penurunan tingkat kesadaran dan dapat
mempertahankan Cardiac Output secara adekuat guna meningklatkan perfusi jaringan.
Kriteria Hasil :
1.
Klien tidak mengeluh pusing
2.
TTV dalam batas normal, tidak terjadi sesak, mual dan muntahtanda diaforesis dan
pucat/sianosis hilang, akral hangat, kulit segar, produksi urine >30 ml/jam, respon verbal

baik, EKG Normal.


Intervensi
Kaji status mental klien
secara teratur.
Pertahankan tirah baring
bantu dengan aktivitas
perawatan.
Panatau terhadap
kecendrungan tekanan darah,
mencatat perkembangan
hipotensi, dan perubahan
pada tekanan nadi.
Perhatikan kualitas dan
kekuatan dari denyut perifer.

Observasi perubahan sensori


dan tingkat kesadran pasien
yang menunjukkan
penurunan perfusi otak
(gelisah, Confuse/bingung,
apatis, samnolen).
Kurangi aktivitas yang
merangsang timbulnya
respons valsava / aktivitas.
Catat adnya keluhan pusing
Kolaborasi dengan tenaga
kesehatan lain dalam
pemberian transfusi darah
PRC (packed red cells).

Rasional
Mengetahui derajat hipoksia pada otak.
Menurunkan kerja miokard dan konsumsi oksigen,
memaksimalkan efektivitas dari perfusi jaringan.
Hipotensi akan berkembangbersamaan dengan kuman
yang menyerang darah.

Pada awalnya nadi cepat dan kuat karena peningkatan


curah jantung, nadi dapat lemah atau lambat karena
hipotensi yang terus menerus, penurunan curah jantung
dan vasokontriksi perifer.
Bukti aktual terhadap penurunan aliran darah ke jaringan
serebral adalah adanya perubahan respons sensori dan
penurunan tingkat kesadaran pada fase akut. Adanya
kegagalan harus di lakuakan monitoring yang ketat.

Respons valsava akan meningkatkan beban jantung


sehingga akan menurunkan curah jantung ke otak.
Keluhan pusing merupakan manifestasi penurunan
suplai darah ke jaringan otak.
Jalur yang paten penting untuk pemenuhan lisis darah
sebagai intervensi kedaruratan.

Aktual/resiko tinggi gangguan elektrolit (hiponatremi, hipokalemi) b/d diuresis


osmotik, diaforesis
Tujuan : dalam waktu 1 x 24 jam tidak terjadi hiponatremi atau kondisi hiponatremi
dan hipokalemi dapat teratasi.
Kriteria Hasil :
1.
Klien tidak gelisah, klien tidak mengeluh nyeri kepal, mual dan muntah, GCS : 4,
5, 6.
2.
TTV dalam batas normal.
3.
Klien tidak mengalami defisit neurologis.

Intervensi
Kaji faktor penyebab dari
situasi atau keadaan individu
dan faktor-faktor yang dapat
menurunkan osmolalitas
serum.
Monitor temperatur dan
pengaturan suhu lingkungan.

Rasional
Kehilangan natrium yang mengakibatkan defletional
hyponatremia dapat disebabkan oleh mekanisme ginjal
dan nonginjal. Kehilangn garam melalui nonginjal
terjadi pada kehilangan volume cairan seperti pada
muntah, diare, atau diaforesis yang berlebihan.
Panas merupakan refleks dari hipotalamus.
Peningkatan kebutuhan metabolisme dan oksigen akan
menunjang peningkatan TIK/ICP(Intracranial
Pressure).
Bantu pasien untuk
Aktivitas ini dapat meningkatkan tekanan intrkarnial
membatasi muntah dan batuk. dan intraabdominal. Mengeluarkan nafas sewaktu
Anjurkan pasien untuk
bergerak atau mengubah posisi dapat melindungi diri
mengeluarkan napas apbila
dari efek valsava.
bergerak atau berbalik di
tempat tidur.
Perttahankan kepala/leher
Perubahan kepala pada satu sisi dapat menimbulakan
pada posisi yang netral,
penekanan pada vena jugularis dan menghambat aliran
usahakan dengan sedikit
darah otak sehingga dapat meningkatkan tekanan
bantal. Hindari penggunaan
intrakarnial.
bantal yang tinggi pada
kepala.
Bantu pasien jika batuk atau
Aktivitas ini dapat meningkatkan intratoraks atau
muntah.
tekanan dalam toraks dan tekanan pada abdomen
dimana aktivitas ini dapat meningkatkan tekanan TIK.
Observasi tingkat
Perubahan kesadaran menunjukkan peningkatan TIK
kesadaran dengan GCS.
dan berguna menentukan lokasi dan perkembangan
penyakit.
Kolaborasi :
Pemberian oksigen sesuai
Mengurangi hipoksemia, dimana dapat
indikasi
meningkatkan vasodilatasi cerebral dan volume darah
dan menaikkan TIK.

Pemenuhan natrium secara intravena akan


Berikan cairan intrvena
meningkatkan kadar natrium ke sirkulasi otak
jenis NaCL

Diuretik mungkin digunakan pada fase akut untuk


mengalirkan air dari brain cells dan
Berikan obat deuretik
mengurangi edema cerebral dan TIK.
osmotic contohnya :
mannitol, furoscide
Memonitor tanda-tanda vital
Adanya perubahan TTV secara cepat dapat menjadi
tiap 4 jam.
pencetus aritmia pada klien hipokalemi.

Berikan diet sumber kalium

Sumber-sumber kalium termasuk buah dan sari buah,


sayur-sayuran segardan beku,daging segar,dan
makanan olahan. Sementara itu pisang, aprikot, jeruk,
avokad, kacang-kacangan, kismis, kentang merupakan
pengganti garam yang mengandung 50 sampai 60 mEq
kalium.

Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakadekuatan


intake nutrisi sekunder dari nyeri, ketidaknyamanan lambung dan intestinal
Tujuan : dalam waktu 3 x 24 jam klien akan mempertahankan kebutuhan nutrisi yang
adekuat.
Kriteria Hasil :
1.
Membuat pilihan diet untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dalam situasi
individu,menunjukkan peningkatan BB.
Intervensi
Rasional
Kaji pengetahuan klien
Tingkat pengetahuandipengaruhi olehkondisi sosial
tentang intake nutrisi
ekonomi klien. Perawat menggunakan pendekatan
yang sesuai dengan kondisi individu klien. Dengan
mengetahui tingkat pengetahuan tersebut, perawat
dapat lebih terarah dalam memberikan pendidikan
yang sesuai dengan pengetahuan klien secara efesien
dab efedktif.
Kaji riwayat nutrisi termasuk Peran perawat dalam mengawasi masukan kalori atau
makanan yang disukai.
kualitas kekurangan konsumsi makanan.
Observasi dan catat masukan
makanan pasien.
Diskusikan yang disukai
Dapat meningkatkan masukan, meningkatkan rasa
klien dan masukan dalam diet berpartisipasi atau kontrol.
murni.
Observasi dan catat kejadian
gejalaGI dapat menunjukkan efek anemia (hipoksia)
mual atau muntah dan gejala pada organ.
lain yang berhubungan.
Monitor perkembangan berat Penimbangan berat badan dilakuakan sebagai evaluasi
badan.
terhadap intervensi yang di berikan.
Resiko tinggi infeksi b/d penurunan sistem kekebalan tubuh
Tujuan : dalam waktu 3 x 24 jam tidak terjadi infeksi berhubungan dengan penurunan
sistem kekebalan tubuh.
Kriteria Hasil :
1.
Tidak terdapat tanda-tanda infeksi dan peradanganm sistemik

2.
Leukosit dalam batas normal
3.
TTV dalam batas normal.
Intervensi
Rasional
Pantau terhadap
Demam yang di sebabkan oleh endoktoksin pada
kecendrungan peningkatan
hipotalamus dan hipotermia adalah tanda-tanda
suhu tubuh.
penting yang merefleksikan perkembangan status
syok/penurunan perfusi jaringan.
Amati adanya menggigil dan Menggigil sering kali mendahului memuncaknya suhu
diaforesis
pada infeksi umum.
Observasi tanda-tanda
Dapat menunjukkan ketidaktepatan terapi antibiotik
penyimpangan
atau pertumbuhan dari organisme.
kondisi/kegagalan untuk
memperbaiki selama masa
terapi.
Berikan obat anti malaria
Dapat membasmi atau memberikan imunitas
sesuai petunjuk.
sementara untuk infeksi umum.
Pantau pemeriksaan
Identifikasi terhadap penyebab jenis infeksi malaria.
laboratoris.

Nyeri dan ketidaknyamanan b/d respons inflamasi sistemik, mialgia, artralgia,


diaforesis.
Tujuan : dalam waktu 3 x 24 jam terjadi penurunan keluhan nyeri dan
ketidaknyamanan.
Kriteria Hasil :
1.
Secara objektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat diadaptasi
2.
Skal nyeri 0-1 (0-4). Dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau
menurunkan nyeri
3.
Klien tidak gelisah
Intervensi
Rasional
Jelaskan dan bantu klien
Pendekatan menggunakan relaksasi dan
dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan
nonfarmakologi dan
kesepakatan keefektifan dalam mengurangi nyeri.
noninvasif.
Lakukan manajmen nyeri
keperawatan.
Istirahatkan klien pada
Istirahat secara fisikologis akan menurunkan
saat nyeri muncul
kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan metabolisme basal.

Ajarkanteknik relaksasi
pernapasan dalam pada saat
nyeri muncul
Manajmen lingkungan
1. Lingkungan tenang
2. Batasi pengunjung
3. Istirahatkan klien
Tingkatkan pengetahuan
tentang sebab-sebab nyeri
dan menghubungkan berapa
lama nyeri akan berlangsung.

Meningkatkan intake oksigen sehingga akan


menurunkan nyeri sekunder dari iskemia spina.
Lingkungan tenang akan menurunkan stimulus
nyeri eksternal dan batasan pengunjung akan
membantu meningkatkan kondisi oksigen ruangan
yang akan berkurang apabila banyak pengunjung yang
berada di ruangan. Istirahat akan menurunkan
kebutuhan oksigen jaringan perifer.
Pengetahuan mengenai hal yang akan di rasakan
membantu mengurangi nyerinya dan dapat membantu
mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana
terapeutik.

Kecemasan b/d kondisi sakit,prognosis penyakit malaria falcifarum


Tujuan : secara objektif melaporkan rasa cemas berkurang
Kriteria Hasil :
1.
Klien mampu mengungkapkan perasaannya kepada perawat.
2.
Klien dapat mendemonstrasikan keterampilan pemecahan masalahnya koping dan
perubahan koping yang digunakan sesuai situasi yang dihadapi.
3.
Klien dapat mencatat penurunan kecemasan/ketakutan di bawah standar.
4.
Klien dapat rileks dan tidur/istirahat dengan baik.
Intervensi
Rasional
Monitor respon fisik, seperti
Digunakan dalam mengevaluasi derajat/tingkat
kelemahan, perubahan tanda
kesadaran/konsentrasi, khususnya ketika melakukan
vital, dan gerakan yang
komunikasi verbal.
berulang-ulang. Catat
kesesuaian respons verbal dan
nonverbal selama komunikasi.
Anjurkan klien dan keluarga
Kesempatan diberikan pada klien untuk
untuk mengungkapkan dan
mengekspresikan rasa takutdan kekhawatiran tentang
mengekspresikan rasa takutnya. akan merasa malu akibat kurang kontrol terhadap
eliminasi usus. Ketakutan akan rasa malu ini sering
menjadi masalah utama.
Catat redaksi dari klien atau
Anggota keluarga dengan responnya padaa apa yang
keluarga. berikan kesempatan
terjadi dan kecemasannya dapat disampaikan kepada
untuk mendiskusikan
perawat.
perasaannya atau
konsentrasinya dan harapan
masadepan.
Anjurkan aktivitas pengalihan
Meningkatkan distraksi dari pikiran klien dengan
perhatian sesuai kemampuan
kondisi sakit.

individu, seperti nonton TV.


Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognesis dan kebutuhan pengobatan b/d
kurangnya pemajanan, kesalahan interprestasi informasi, keterbatasan kognitif.
Tujuan : Dalam waktu 1 x 24 jam klien mampu melaksanakan apa yang telah di
informasikan.
Kriteria Hasil :
1.
Klien mampu mengulang kembali informasi penting yang di berikan.
2.
Klien terlihat termotivasi terhadap informasi yang di jelaskan.
Intervensi
Rasional
Kaji kemampuan klien untuk
Keberhasilan proses pembelajaran di pengaruhi oleh
mengikuti pembelajaran
kesiapan fisik, emosional dan lingkungan yang
(tingkat kecemasan, kelelahan
kondusif.
umum, pengetahuan klien
sebelumnya dan suasana yang
tepat).
Tinjau proses penyakit dan
Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien
harapan masa depan.
membuat pilihan.
Berikan informasi mengenai
Meningkatkan pemahaman dan kerjasama dalam
terapi obat-obatan, interaksi
penyembuhan serta mengurangi kambuhnya komplikasi
obat, efek samping, dan
ketaatan terhadap program.
Diskusikan kebutuhan untuk
Perlu untuk penyembuhan optimal dan kesejahteraan
pemasukan nutrisional yang
umum.
tepat dan seimbang
Dorong periode istirahat dan
Mencegah pemenatan, penghematan energi dan
aktivitas yang terjadwal
meningkatkan penyembuhan.
Tinjau perlunya kesehatan
Membantu mengontrol pemajanan lingkungan dengan
pribadi dan kebersihan
mengurangi jumlah penyebab penyakit yang ada.
lingkungan
Tekankan pentingnya terapi
Penggunaan terhadap pencegahan terhadapinfeksi.
antibiotik sesuai kebutuhan .
4.

Implementasi

Sesuai dengan intervensi


5.

Evaluasi
Hasil yang di harapkan pada asuhan keperawatan pada anak dengan malaria meliputi :

a)

Penurunan suhu tubuh

b)

Terpenuhinya perfusi jaringan

c)

Tidak terjadi gangguan elektrolit

d)

Terpenuhinya kebutuhan nutrisi

e)

Tidak terjadi infeksi

f)

Tidak mengeluh nyeri dan peningkatan perasaan nyaman

g)

Kecemasan berkurang atau teradaptasi

h)

Terpenuhinya kebutuhan pengetahuan individu.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. A DENGAN GANGGUAN SISTEM
HEMATOLOGI PADA KASUS MALARIA FALCIPARUM
I.
PENGKAJIAN
1. Data Demografi
a. Biodata klien
Nama

: Tn. A

Umur

: 25 Tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Suku / Bangsa

: Sasak/Indonesia

Alamat

: JL. Abi kusmo, Mataram

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: Bertani

Status Perkawinan

: Menikah

No.Rekam Medik

: 0559888

Tanggal Masuk RS

: 17 November 2014

Tanggal Pengkajian

: 17 November 2014

Diagnosa Medis

: Malaria Falciparum

b. Identitas penanggung jawab


Nama

: Ny. T

Umur

: 23 Tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Suku / Bangsa

: Indonesia

Alamat

: JL. Abi kusmo, Mataram

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Hubungan dengan klien

: Istri

2. Riwayat keperawatan
a. Keluhan Utama
Klien mengatakan bahwa ia demam disertai menggigil sejak 1 minggu yang lalu.
b. Riwayat Perjalanan Penyakit
Pada tanggal 17 November 2014 pukul 10.00 wita klien datanag ke IGD RSUP NTB
dengan keluhan demam disertai menggigil sejak 2 minggu yang lalu, lemah, suhunya naik
turun, klien tidak bisa tidur, tidak nafsu makan, mual dan muntah sudah 2x. Klien sempat
minum obat yang dibeli dari warung, karena badannya masih panas pada pukul 10.00 Wita
tanggal 17 November 2014, klien langsung di bawa keluarganya ke RSUP NTB.
c. Riwayat Kesehatan Dahulu
Klien mengatakan sebelumnya tidak pernah di rawat di rumah sakit, Klien mengatakan
apabila mengalami sakit klien hanya membeli obat-obatan yang di jual di warung yang dekat
dengan rumahnya
a. Riwayat Kesehatan Keluarga
Klien mengatakan dalam keluaraganya tidak ada yang memiliki penyakit seperti
klien dan tidak ada penyakit keturunan seperti jantung, diabetes mellitus, dan asthma.
b. Kondisi lingkungan rumah
Klien mengatakan keadaan rumahnya cukup bersih, rumah klien berada dipinggir
jalan. Untuk keperluan minum, memasak keluarga Tn.M menggunakan air sumur atau air ledeng.
3. Kebutuhan Bio-Psiko-Sosial Dan Spiritual
1. Oksigen
Sebelum sakit : Klien mengatakan bahwa klien tidak pernah mengalami gangguan
pada saat bernafas.

2.

3.

4.

5.

6.

7.
8.

9.

Saat sakit : Klien mengatakan bahwa klien tidak pernah mengalami gangguan
pada saat bernafas. Pada saat pengkajian respirasi klien 28x/menit.
Nutrisi
Sebelum sakit : Klien megatakan bahwa klien tidak pernah mengalami gangguan
nafsu makan. Nafsu makan baik 3x sehari dengan porsi cukup dan minum air putih 6-8
gelas/hari kadang minum kopi dan teh.
Saat sakit : Klien mengatakan bahwa klien mengalami gangguan nafsu makan
karena mual dan muntah yang dirasakannya dan hanya menghabiskan 1/4 dari porsi yang
disediakan di RS yaitu bubur dan minum sesuai kebutuhan.
Eliminasi
Sebelum sakit : Klien mengatakan bahwa klien BAB 1-2x sehari dengan bau khas
feses, warna kuning kecoklatan dan konsentrasi padat agak lembek. BAK 6-7x sehari
dengan warna kuning jernih, bau khas urine.
Saat sakit : Klien mengatakan bahwa klien jarang BAB dan BAK.
Gerak dan keseimbangan tubuh
Sebelum sakit : Klien mengatakan bahwa klien mampu bergerak dan menjaga
keseimbangan tubuhnya dengan baik.
Saat sakit : Klien mengatakan bahwa klien kurang mampu
mampu untuk
menjaga keseimbangan tubuhnya karena sakit yang dirasakan dan sempoyongan.
Istirahat dan tidur
Sebelum sakit : Klien mengatakan Lama tidur 7-8 jam per hari, tidur siang kadangkadang dan tidak ada keluhan saat tidur.
.
Saat sakit : Klien mengatakan bahwa klien dapat istirahat dan tidur yang cukup
selama berada di RS.
Berpakaian
Sebelum sakit : Klien mengatakan bahwa klien selalu menggunakan baju dan
celana yang bersih dan rapi.
Saat sakit : Klien mengatakan bahwa klien hanya menggunakan pakaian yang
disediakan oleh pihak RS.
Temperature (suhu tubuh)
Sebelum sakit : Klien mengatakan bahwa suhu tubuh klien dalam batas normal.
Saat sakit : Klien mengatakan suhu tubuhnya terasa panas.
Personal hygiene
Sebelum sakit : Klien mengatakan bahwa klien selalu menjaga kebersihan
tubuhnya dengan mandi 2x sehari menggunakan sabun dan shampo serta menggosok gigi
2x sehari dengan sikat dan pasta gigi.
Saat sakit : Klien mengatakan bahwa klien hanya dilap badannya dengan air
hangat yang disediakan dari RS.
Komunikasi
Sebelum sakit : klien mengatakan selalu berkomunikasi dengan baik terhadap
keluarganya, tetangganya dengan teman-temannya.

Saat sakit : klien mengatakan. selalu menjaga komunikasinya dengan baik


terhadap siapapun
10. Aman dan nyaman.
Sebelum sakit : klien mengatakan bahwa klien selalu merasa aman dan nyaman
ketika berada di rumah.
Saat sakit : klien mengatakan tidak nyaman dengan kondisinya sekarang karena
tidak dapat beraktivitas seperti biasanya dan lingkungan RS yang sedikit ramai membuat
klien juga tidak nyaman.
11. Bekerja
Sebelum sakit : Klien mengatakan kegiatan dalam pekerjaannya adalah bertani,
waktu bekerja pagi sampai siang. Klien mengatakan tidak pernah berolahraga, kegiatan
waktu luang yaitu berkumpul dengan dengan keluarga. Tdak ada keluhan dalam
beraktivitas.
Saat sakit : klien mengatakan bahwa klien untuk sementara waktu tidak bertani
dan digantikan oleh adiknya.
12. Spiritual
Sebelum sakit : klien mengatakan bahwa klien selalu menjalankan ibadah sholat 5
waktu dan ibadah-ibadah lainnya.
Saat sakit : klien mengatakan bahwa klien hanya bisa berbaring ditempat tidur,
sholat dan ibadah lainnya dilakukan dengan berbaring.
13. Belajar
Sebelum sakit : klien mengatakan bahwa klien jarang mengikuti informasi melalui
televisi.
Saat sakit : klien mengatakan bahwa klien hanya bisa berbaring di tempat tidur.
14. Bermain dan rekreasi
Sebelum sakit : klien mengatakan bahwa tidak jarang klien pergi rekreasi dengan
keluarganya.
Saat sakit : klien mengatakan bahwa klien hanya bisa berbaring di tempat tidur
dan hanya bisa bercanda dengan keluarganya.
c. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum : Tampak lemah
- Kesadaran : Compos mentis
- GCS : E4 V5 M6= 15
- Vital sign :
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 86 x / menit
RR : 22 x / menit
Suhu : 38,4 c
2. Pengkajian fisik
1). Sistem penglihatan

Posisi mata simetris, kelopak mata normal, gerakan normal, pergerakan bola mata normal,
konjungtiva merah, kornea normal, sklera normal, pupil isokor, otot-otot mata normal, fungsi
penglihatan baik, tidak ada tanda-tanda radang, tidak menggunakan kaca mata ataupun lensa
kontak.
2). Sistem pendengaran
Daun telinga normal tidak sakit digerakkan, bentuk normal, tidak ada serumen, kondisi
telinga normal tidak ada bengkak, kemerahan, lesi, tidak ada cairan dari dalam telinga, tidak
ada perasaan penuh pada telinga, tidak ada tinitus, fungsi pendengaran normal, tidak ada
menggunakan alat bantu pendengaran.
3). Sistem wicara
Tidak ada gangguan pada sistem wicara, klien mampu mengucapkan kalimat-kalimat secara
baik dengan susunan kalimat yang tepat, intonasi kalimat baik.
4). Sistem pernapasan
Jalan napas bersih tidak ada sumbatan, pernapasan tidak sesak, klien tidak menggunakan
otot-otot bantu pernapasan, frekuensi napas 22 kali per menit, irama teratur, kedalaman
dalam, tidak ada batuk, suara napas normal (vesikuler).
5). Sistem kardiovaskuler
Sirkulasi perifer : Nadi 66 kali per menit, irama teratur, tekanan darah 100/60 mmHg, tidak
ada distensi vena jugularis kiri maupun kanan, temperatur kulit hangat, warna kulit
kemerahan, pengisian kapiler + 2 detik, tidak ada edema.
Sirkulasi jantung : irama teratur, tidak ada kelainan bunyi jantung, tidak ada keluhan seperti
berdebar-debar, dan lain-lain. Tidak ada nyeri dada.
6). Sistem saraf pusat
Sirkulasi serebral : tingkat kesadaran compos mentis, pupil isokor, glasgow coma scale
(gcs).
Respon membuka mata (e): klien dapat membuka mata secara spontan, baik secara reflek
maupun dengan perintah. Nilai = 4.
Respon motorik (m): dapat melakukan gerakan sesuai perintah, reflek motorik baik bila
diberi rangsangan, klien bereaksi terhadap rangsangan. Nilai: 6.
Respon verbal (v): klien dapat mengucapkan kalimat dengan baik dan tepat, intonasi
baik. Nilai= 5.
Jadi skor gcsnya = 15 (e:4, m:6, v: 5), tidak ada terjadi peningkatan tekanan intrakranial
seperti kejang, kelumpuhan, dan lain-lain.
7). Sistem pencernaan
Keadaan mulut: gigi klien cukup bersih, tidak ada kesulitan menelan, saliva normal, ada
mual , nafsu makan kurang (hanyaa menghabiskan 1/3 porsi yang di sediakan), tidak ada
nyeri di daerah perut, tidak ada rasa penuh diperut, klien belum ada BAB, tidak ada diare,
hepar tidak teraba, abdomen baik,
8). Sistem hematologi
Hb: 11.8 gram/dl, Ht: 36 %, leukosit: 4.700 /mm, trombosit: 234.000 /mm. Eritrosit :
4.11 /dl,Tidak ada mengeluh kesakitan, tidak ada perdarahan

9). Sisten endokrin


Nafas tidak berbau aseton, tidak ada gangren, eksoftalmus, tremor maupun pembesaran
kelenjar tiroid.
10). Sistem urogenital
Tidak ada perubahan dalam pola berkemih, BAK 4-5 x/hari dengan terkontrol, rasa sakit
saat BAK tidak ada, tidak teraba distensi.
11). Sistem integumen
Keadaan rambut Tekstur baik, tidak ada ketombe, cukup bersih, Kuku Bersih dan tidak
panjang, tidak ada kelainan bentuk pada kuku, Turgor kulit Elastis, Warna kulit
Kemerahan, Keadaan kulit Baik, tidak terdapat lesi, memar, Kebersihan Kulit klien cukup
bersih.
12). Sistem muskuloskeletal
Tidak ada kesulitan dalam pergerakan, tidak ada fraktur dan tidak tampak adanya kelainan
bentuk tulang dan sendi.
13) Sistem kekebalan tubuh
Suhu : 38,40 C
Berat badan klien setelah sakit: 55 kg
Berat badan sebelum sakit klien tidak tahu
Tidak ada pembesaran getah bening
g. Pemeriksaan penunjang
1). Laboratorium (Tanggal, 17 November 2014)
Tabel: 1.1. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan
Hasil
Nilai normal
Hematologi
Pemeriksaan
a) Hb
12,8 gr%
P:11.5-16.0 gr%
L:13,5-18,0 gr%
b) eritrosit
4.41
4-6 juta / mm3
c) Leukosit
5.800/mm3
4.500-11.000 gr%
3
d) Trombosit
79.000/mm
150.000-400.000 /mm3
e) Hematokrit
38%
37-48 %

2). Laboratorium (Tanggal, 18 November 2014)


Tabel: 1.2. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan
Hasil
Nilai normal
Hematologi
Pemeriksaan

a) Hb
b) eritrosit
c) Leukosit
d) Trombosit
e) Hematokrit
f) Malaria

11,8 gr%

P:11.5-16.0 gr%
L:13,5-18,0 gr%
4.11
4-6 juta / mm3
5.700/mm3
4.500-11.000 gr%
3
68.000/mm
150.000-400.000 /mm3
36%
37-48 %
(+), plasmodium - / negatif
palciparum

g. therapy
Infus KAEN 3B 30 tetes per menit
Drip neurosambe 1 x 1/ampul
Antasid syrup 3x1
Ceftriaxone 1 x 1 gr
Ranitidine 1 x 1/ampul
Ondansetron 2 x 8 mg
Paracetamol 3 x 1 500 mg
Psidii 3 x 2
ANALISA DATA
Nama Klien

: Tn. A

No. Reg.

: 055988

Umur

: 25 tahun

Diagnosa

: Malaria Falciparum

Ruang Rawat
NO
1

: Perawatan laki-laki

DATA
DS: Klien mengatakan badannya
panas disertai menggigil
DO:
- Klien tampak lemah
- Kesadaran : Compos mentis
- GCS : E4 V5 M6= 15
- Vital sign :
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 86 x / menit
RR : 22 x / menit
Suhu : 38,4 c

Alamat

: Jl.abi kusmo

ETIOLOGI
Nyamuk anopheles

Plasmodium vivax

Masuk jaringan tubuh

Viremia

inter leukin

peningkatan hipotalamus

Peningkatan suhu tubuh

MASALAH
Peningkatan
suhu tubuh

DS: klien mengatakan kurang


nafsu makan karena mual dan
muntah yang dirasakannya.

DO:
- klien tampak lemah
- Klien hanya menghabiskan 1/3
dari porsi yang disediakan di RS

II.

Nyamuk Anopheles

Plasmodium vivax

Masuk jaringan tubuh

Viremia

Lambung

Asam lambung
meningkat

Refleks mual dan


muntah

Intake nutrisi menurun

Anoreksia

Perubahan nutrisi

Gangguan
kebutuhan
nutrisi

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan peningkatan hipotalamus yang ditandai


dengan Klien mengatakan badannya panas disertai menggigil, klien tampak lemah,

Kesadaran : Compos mentis, GCS : E4 V5 M6= 15, Vital sign : Tekanan darah : 110/70
mmhg, Nadi : 86 x / menit, RR : 22 x / menit, Suhu : 38,4 c
2. Gangguan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat yang
ditandai dengan klien mengatakan kurang nafsu makan karena mual dan muntah yang
dirasakannya, klien tampak lemah, Klien hanya menghabiskan 1/3 dari porsi yang
disediakan di RS.
III. INTERVENSI
Hari/tangga
l
Senin, 17
November
2014

Senin, 17

No.
Dx
1

Tujuan dan kriteria


hasil
Setelah di lakukan
tindakan
keperwatan 2 x 24
jam peningkatan
suhu tubuh
(hipertermia) dapat
berkurang,
Dengan kriteria
hasil:
1. klien
mengatkan
badannya tidak
panas lagi
2. klien
mengatakan
kepalanya
tidak pusing
lagi
3. klien tidak
menggigil lagi
4. suhu tubuh
dalam batas
normal 3637 0 C
5. badan klien
tidak teraba
hangat lagi

Setelah di lakukan

Intervensi

Rasional

1. Observasi tandatanda vital


terutama suhu
2. Berikan kompres
hangat pada axilla
dan prontal
3. Anjurkan klien
untuk
menggunakan
selimut tebal bila
menggigil
4. Anjurkan klien
untuk banyak
minum air hangat
5. kolaborasi dengan
tim medis dalam
pemberian obat
antipiretik

1. Untuk mengetahui
keadaan umum klien
guna menentukan
tidakan yang tepat
untuk selanjutnya.
2. kompres hangat
dapat membantu
mengurangi suhu
tubuh, karena dapat
membuka pori-pori
dan menghasilkan
penguapan suhu
3. Selimut yang tebal
dapat membantu
penguapan suhu
tubuh karena poripori terbuka
4. Membantu mengatasi
peningkatan suhu
tubuh karena dapat
meningkatkan
metabolisme produk
keringat dan kringat

1. Kaji intake nutrisi

5. Obat anti piretik


adalah obat yang
gunanya menurunkan
suhu tubuh
1. Sebagai informasi

November
2014

tindakan
keperawatan 2 x
24 jam, gangguan
kebutuhan nutrisi
tubuh tidak terjadi
Dengan kriteria
hasil:
1. klien
mengatakan
perutnya tidak
mual-mual lagi
2. klien
mengatakan
tidak ada nyeri
lagi di ulu hati
3. klien tidak
sering
memengangi
perutnya lagi
4. klien mampu
menghabiskan
porsi makanan
yang di
sediakan

2.

3.
4.
5.
6.

klien
Tingkatkan intake
makan melalui :
Kurangi gangguan
dari luar
Jaga privasi klien
Sajikan makanan
dalam kondisi
hangat
Selingi makan
dengan minum
Jaga kebersihan
mulut klien
Berikan makan
sedikit tapi sering
Kolaborasi dengan
ahli gizi

2.

3.
4.

5.
6.

dasar untuk
perencanaan awal
dan validasi data
Cara khusus
tingkatakan nafsu
makan
Memudahkan
makanan masuk
Mulut yang bersih
meningkatkan nafsu
makan
Meningkatkan intake
makanan
Memberikan asupan
diit yang tepat

IV. IMPLEMENTASI
Hari/tangga
l
Senin, 17
November
2014
(10.30)

No.
Dx

Implementasi

Respon hasil

1. Mengobservasi
tanda-tanda vital
terutama suhu
2. Memberikan
kompres hangat
pada axilla dan
prontal
3. Menganjurkan
klien untuk
menggunakan
selimut tebal bila
menggigil

1. TTV klien :
2. TD: 1OO/80 mmHg, N :
84X/menit, RR :
22x/menit, S:37.5 0C
3. Panas badan klien
berangsur-angsur mulai
turun
4. Klen sudah tidak terlalu
menggigil.
5. Klien tampak lebih
banyak minum
disbanding makan karena

paraf

Senin, 17
November
2014
(10.30)

4. menganjurkan klien
untuk banyak
minum air hangat
5. Berkolaborasi
dengan tim medis
dalam pemberian
obat antipiretik
1. Mengkaji intake
nutrisi klien
2. Meningkatkan
intake makan
melalui :
Kurangi
gangguan dari
luar
Jaga privasi
klien
Sajikan
makanan dalam
kondisi hangat
3. Menyelingi makan
dengan minum
4. Menjaga
kebersihan mulut
klien
5. Memberikan
makan sedikit tapi
sering
6. Berkolaborasi
dengan ahli gizi

masih mual.
6. Setelah obat diberikan,
demam dan menggigil
klien berkurang.

1. Klien tampak lemah dan


masih mual.
2. Klien hanya mampu
menghabiskan porsi
makanan yang disediakan
oleh RS.
3. Klien
tampak
lebih
banyak minum dibanding
makan karena masih
mual.
4. Klien dibantu menggosok
gigi oleh istrinya agar
nafsu
makan
klien
bertambah.
5. Klien sedikit demi sedikit
merasa tidak mual lagi
dan mau makan.
6. Ahli gizi menyarankan
agar keluarga ikut
berpartisipasi
menyediakan makanan
kesukaan klien.

V. EVALUASI
Hari/tanggal

Rabu, 19
November
2014 (12.00)

No
.
Dx
1

Evaluasi (catatan perkembangan)

S:
klien mengatakan badannya tidak panas lagi
klien mengatakan tidak pusing lagi
O:
klien tidak mengigil lagi

Paraf

saat di palpasi badan klien tidak panas lagi


suhu tubuh klien 36.9 o C, TD : 110/80 mmHg,
RR : 20x/menit,
N : 84x/menit

A:
masalah dengan diagnose keperawatan
Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan
peningkatan hipotalamus teratasi.
P:
Intervensi dihentikan dan klien pulang.
Rabu, 19
November
2014 (12.00)

S:
klien mengatakan tidak mual lagi
klien mengatakan sudah bisa menghabiskan porsi
makanan yang di sediakan rumah sakit
O:
klien tidak tampak memenganggi perutnya lagi
klien tampak mampu menghabiskan porsi makanan
yang di sediakan
A:
masalah dengan diagnose keperawatan Gangguan
kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake nutrisi
yang tidak adekuat
P:
intervensi dihentkan dank lien pulang.