Anda di halaman 1dari 4

Koro Komoditi Lokal Berpotensi Global

Written by Administrator
Friday, 10 June 2011 00:00

Bagi kebanyakan orang koro dikenal sebagai benguk, memang benar. Benguk dalam bahasa
latinnya
(Mucuna pruriens) merupakan salah satu varietas koro atau
kacang-kacangan lokal yang banyak dibudidayakan
petani .
Beberapa spesies koro benguk yang banyak dikenal adalah benguk ompleh, benguk tahun,
benguk rase dan benguk rawe yang bulunya bila mengenai kulit menjadi gatal-gatal.

Tanaman koro bukan jenis hibrida, benihnya dapat dikelola petani tanpa ada perlakuan khusus.
Bagi masyarakat di wilayah Wonogiri barter benih biasa dilakukan dalam budidaya koro, jenis t
anaman ini cukup adaptif dilahan kering dan tahan terhadap kekurangan air. Koro banyak
ditanam di lahan pekarangan, tegalan dan gunung diantara bebatuan kapur. Ada beragam
varietas dan spesies koro di budidayakan petani, ada jenis tanaman koro yang tumbuhnya
tegak seperti koro pedang / koro begog / koro gleyor (
Cannavalia ensiformis
) dan Gude (
Cajanus cajan. Millspaugh
).
Jenis tanaman koro yang lain kebayakan tumbuhnya menjalar seperti : koro glinding (
Phaseolus lunatus
),
Kecipir (
Psophocarpus tetragonolobus (L) DC
.)
, koro gajih
(
Dolichos lablab
),
Koro legi, koro kerupuk, dll.

1/4

Koro Komoditi Lokal Berpotensi Global


Written by Administrator
Friday, 10 June 2011 00:00

Di wilayah Giritontro,Giriwoyo dan Batuwarno, tanaman koro banyak ditemui di tegalan dan
gunung-gunung. Pada musim penghujan biji koro ditanam di sela-sela pepohonan yang sudah
ada kemudian dibiarkan tumbuh dengan sendirinya.Pada fase pertumbuhan tanaman koro akan
menjalar, bila tidak ada perawatan dengan lanjaran tanaman koro akan mencari tanaman lain
untuk penyangganya. Jenis koro yang ditanam cukup beragam, ada koro benguk, kecipir, koro
glinding, koro legi, koro krupuk juga gude. Koro dapat dipanen secara bertahap, hasil panenan
berupa polong muda, biji muda dan biji tua/kering. Pemasaran koro cukup mudah, biasa dijual
ke warung, diambil pedagang sayuran, pedagang literan atau pengepul desa. Hasil panen koro
cukup menjanjikan, bila dalam budidaya dikelola lebih baik hasilnya bisa meningkatkan
pendapatan petani.

Koro sebagai kacang-kacangan local berkontribusi pada diversifikasi pangan. Mengingat


produksi kedelai nasional belum bisa mencukupi kebutuhan pangan, maka diversifikasi kacang
lokal memberikan alternative bagi masyarakat untuk memilih komoditi local yang nilai gizi dan
cita rasanya tidak kalah dengan kedelai. Sampai saat ini kedelai masih menjadi nomor satu
sebagai bahan pangan dan sumber protein nabati yang dikonsumsi masyarakat. Kedelai
sebagian besar digunakan dalam industri tahu, tempe, kecap, susu kedelai juga aneka
makanan ringan. Gizi yang ada dalam makanan olahan kedelai tidak hanya protein saja tapi
juga mengandung vitamin, mineral dan karbohidrat. Kandungan gizi dari kedele mampu
bersaing dengan bahan pangan hewani. Hasil olahan kedelai menjadi pilihan karena harganya
relative murah dan bisa terjangkau masyarakat. Selain protein dan karbohidrat , kandungan
serat kacang-kacangan cukup tinggi sehingga dapat mencegah penyakit termasuk mencegah
timbulnya kangker.

Menurut Sutrisno Kusworo (dalam makalah Kacang-kacangan, Sumber Serat Yang Kaya

2/4

Koro Komoditi Lokal Berpotensi Global


Written by Administrator
Friday, 10 June 2011 00:00

Gizi), kacang-kacangan memberikan sekitar 135 kkal per 100 gram bagian yang dapat
dimakan. Jika kita mengkonsumsi kacang-kacangan sebanyak 100 gram (1 ons), maka jumlah
itu akan mencukupi sekitar 20 % kebutuhan protein dan 20 persen kebutuhan serat per hari.
Menurut ketentuan pelabelan internasional, jika suatu bahan/produk pangan dapat
menyumbangkan lebih dari 20 % dari kebutuhan suatu zat gizi per hari, maka dapat dinyatakan
sebagai bahan atau produk pangan yang tinggi (high) akan zat gizi tersebut.

Upaya meningkatkan potensi kacang-kacangan local cukup rasional dilakukan mengingat berag
am jenis kacang-kacangan dapat tumbuh di berbagai lahan pertanian, baik di lahan basah
lahan kering juga di dataran tinggi basah dan kering. Jenis koro-koroan banyak ditanam di
lahan kering tegalan dan gunung, tanaman koro cukup toleran terhadap kekurangan air. Untuk
mencapai produktivitas tinggi tanaman koro harus ada perawatan khusus yaitu pemanfaatan
lanjaran untuk penompang pertumbuhannya. Dengan pertumbuhan yang baik secara optimal
dapat mendukung proses fotosintesis dan produksi polong. Di tengah melambungnya harga
kedelai, kacang koro mampu menjadi bahan alternative untuk di buat tempe seperti tempe
benguk, tempe begog, keripik tempe benguk, koro rebus, koro goreng, serta aneka sayuran dari
polong muda.
Dilihat kapasitas produksinya kacang koro cukup tinggi karena bisa dipanen muda sampai tua
sehingga produktifitasnya dapat bersaing dengan kacang kedelai. Untuk produk olahan dari
koro perlu ada pengembangan tehnologi, keragaman bentuk, rasa dan tampilannya, sehingga
bisa menarik selera masyarakat secara umum untuk mengkonsumsinya.

Pengalaman dari ibu Suyati Suwanto pemilik pabrik abon di Salatiga ( http://www.trubus-online.
co.id
) jenis koro pedang
(
Canavalia
ensiformis)
cukup
bagus digunakan sebagai campuran pada pembuatan abon daging sapi. Penggunaan koro
pedang pada abon sapi untuk menekan harga sehingga dapat terjangkau oleh kebanyakan
konsumen. Untuk campuran abon, koro pedang dipilih karena harganya relative murah
(dibanding kacang tanah) , resep yang digunakan untuk
3 kg daging sapi dicampur 15 kg koro pedang. Campuran koro pedang dapat menambah rasa
gurih dan abon menjadi lebih mengembang. Sebelum jadi bahan campuran abon, ada
perlakuan khusus untuk menghilangkan kadar asam sianida (HCN) dari koro pedang yaitu
dengan proses perendaman,pencucian dan perebusan. Untuk perendaman bisa dilakukan

3/4

Koro Komoditi Lokal Berpotensi Global


Written by Administrator
Friday, 10 June 2011 00:00

beberapa hari dengan menggantikan airnya. Setelah perendaman koro pedang langsung
direbus hingga matang, diiris tipis-tipis siap jadi campuran abon.

Budidaya koro cukup mudah dilakukan, hasil panenan bisa memberi tambahan gizi pada
makanan keluarga dan sisa hasil panenan digunakan sebagai kompos untuk menambah unsur
hara tanah. Meskipun tanaman kacang-kacangan punya beberapa kelebihan nilai gizi, menurut
Winda Haliza, dkk (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor)
koro juga mengandung senyawa anti gizi seperti
trypsin inhibitor, asam fitat dan
tannin
. Senyawa anti gizi dapat
dilihat dari warna kulit biji yang lebih gelap.
Trypsin inhibitor
dapat menurunkan ketersediaan protein pada sistem pencernaan, sedangkan
asam fitat
berikatan dengan mineral penting dan protein membentuk senyawa kompleks. Akibatnya
kemampuan menyerap mineral menurun.
Tanin
membentuk senyawa kompleks dengan protein dan karbohidrat.

Bagi masyarakat senyawa anti gizi dipahami dengan rasa pahit yang terkandung dalam koro.
Untuk dikonsumsi koro harus melalui perlakuan dengan proses perendaman dan pencucian
berulang kali, selain itu bisa dilakukan melalui fermentasi koro untuk produk tempe, kecap, dll.

Koro cukup potensial dikembangkan mengingat sumber gizi yang ada dapat bermanfaat bagi
kesehatan tubuh. Ada berbagai zat-zat atau senyawa kimia, anti oksidan dalam koro yang bisa
digunakan dalam industri farmasi. Disamping untuk mendukung kesehatan, secara ekologi
tanaman koro juga berguna dalam konservasi lahan. Sebagai jenis tanaman leguminose
perakarannya dapat mengikat unsur nitrogen dari udara sehingga dapat memperbaiki tingkat
kesuburan tanah. (Sulistiyani - GP)

4/4