Anda di halaman 1dari 7

A. Biografi HENDRA GUNAWAN (Indonesia, 1918-1983).

Hendra Gunawan, artis, penyair, pematung


dan pejuang gerilya, lahir di Bandung,
ibukota Jawa Barat, pada tahun 1918.
Selama masa mudanya ia bergabung dengan tentara
pelajar dan merupakan anggota aktif dari Poetera
(Pusat Tenaga Rakyat) dan organisasi yang
dipimpin oleh Sukarno dan lain-lain. Ia juga aktif
dalam Persagi (Asosiasi Pelukis Indonesia,
sebuah

organisasi

yang

didirikan

oleh

S.

Soedjojono dan Agus Djaya pada tahun 1938.


Hendra Gunawan Dilahirkan pada tanggal 11 Juni
1918 di kota Bandung, Jawa Barat dan Wafat di Denpasar Bali pada tanggal 17
bulan Juli tahun 1983. Hendra Gunawan lebih dikenal sebagai seorang pelukis,
namun dia juga merupakan seniman penyair, pematung dan juga pejuang gerilya.
Selama masa mudanya ia bergabung dengan tentara pelajar dan merupakan
anggota aktif dari Poetera (Pusat Tenaga Rakyat) dan organisasi yang dipimpin
oleh Sukarno dan lain-lain. Ia juga aktif dalam Persagi (Asosiasi Pelukis
Indonesia, sebuah organisasi yang didirikan oleh S. Soedjojono dan Agus Djaya
pada tahun 1938.
Gunawan berkomitmen dalam pandangan politiknya, dan mengabdikan
hidupnya untuk memerangi kemiskinan, ketidakadilan dan kolonialisme. Dia
dipenjara di Kebon Waru atas keterlibatannya di Institut Budaya Populer (Lekra),
sebuah organisasi budaya yang berafiliasi dengan komunis sekarang sudah tidak
berfungsi Partai Indonesia (PKI). Gunawan penahanan dimulai pada tahun 1960
dan ia tidak dirilis sampai tahun 1978. Selama waktu ini, karya seninya itu jarang
terlihat atau menulis tentang.
Salah satu peninggalan waktu artis di penjara adalah sekelompok sketsa
kiri ke Nuraini istri keduanya. Dibuat dengan pensil atau tinta pada potonganpotongan kecil kertas, gambar-gambar catatan negara Gunawan pikiran selama ia

menghabiskan waktu di penjara Kebon Waru. Menurut Jakarta Post, gambar


meliputi:
"... yang sibuk kegiatan nelayan di pantai, ikan, kerbau, perempuan (mengarang,
mengenakan sarung, telanjang, menari dengan wajah bertopeng), pria dan wanita
dalam hubungan cinta yang intim, pria bertopeng, gerilyawan dan bentuk-bentuk
abstrak lebih mengeksplorasi perasaan terdalam nya. "
Banyak karya Gunawan telah hilang, namun museum, dan kolektor swasta
berada dan katalog lebih dari 120 lukisan dan sketsa, bersama dengan sebelas
patung
B. Perjalanan Karier
Dalam kehidupan Hendra Gunawan cukup beruntung karena dia sempat
masuk sekolah dan belajar melukis pada Wahdi, seorang pelukis pemandangan.
Dari Wahdi, ia banyak menggali pengetahuan tentang melukis. Kegiatannya
bukan hanya melukis semata, tetapi pada waktu senggang ia menceburkan diri
pada grup sandiwara Sunda sebagai pelukis dekor. Dari pengalaman itulah, ia
mengasah kemampuannya.Pertemuannya dengan Affandi merupakan fase dan
sumber inspirasi jalan hidupnya untuk menjadi seorang pelukis. Dengan didasari
niat yang tulus dan besar, ia memberanikan diri melangkah maju. Bermodalkan
pensil, kertas, kanvas dan cat ia mulai berkarya. Komunitas dari pergaulannya ikut
mendukung dan terus mendorongnya untuk berkembang. Keberaniannya terlihat
ketika ia membentuk Sanggar Pusaka Sunda pada tahun 1940-an bersama pelukis
Bandung dan pernah beberapa kali mengadakan pameran bersama.Revolusipun
pecah, Hendra ikut berjuang. Baginya antara melukis dan berjuang sama
pentingnya. Pengalamannya di front perjuangan banyak memberi inspirasi
baginya. Dari sinilah lahir karya-karya lukisan Hendra yang revolusioner. Lukisan
Pengantin Revolusi, disebut-sebut sebagai karya empu dengan ukuran kanvas
yang besar, tematik yang menarik dan warna yang menggugah semangat juang.
Nuansa kerakyatan menjadi fokus dalam pemaparan lukisannya.

C. Akhir Hayat
Selain aktif dalam kegiatan melukis, Hendra Gunawan juga aktif dalam
kegiatan seni rupa yang lain seperti seni patung. Salah satu karya Seni Patung
Hendra Gunawan yang masih bisa dijumpai saat ini jika kita berkunjung ke kota
Yogyakarta. Di halaman gedung kantor DPRD Yogyakarta, berdiri sebuah patung
batu Jendral Sudirman yang merupakan hasil pahatan dari Hendra Gunawan.
Pelukis yang merupakan sahabat dekat penyair terkenal Indonesia Chairil
Anwar ini lebih memilih Bali sebagai tempatnya menghabiskan waktu usai
menjalani masa penahanan. Karena, Bali merupakan tempat para seniman besar
yang sudah banyak dikenal sepereti Umbu Landu Paranggi, seorang penyair asal
Sumba yang juga berdiam di Bali. Umbu sangat menghormati Hendra Gunawan,
sebab selain kemampuannya di bidang seni rupa, Hendra Gunawan ternyata juga
mempunyai kemampuan dibidang sastra, terbukti dengan karya-karya puisi yang
telah diciptakannya.
Karya terakhir Hendra Gunawan adalah lukisan tentang tenggelamnya kapal
Tampomas. Namun, di tangan Hendra Gunawan, kisah tentang kapal itu
digambarkannya dengan potret diri yang diserbu oleh ribuan ikan. Namun, hingga
akhir hayatnya lukisan tersebut tidak sempat diselesaikannya sebab Hendra
Gunawan yang usianya mulai merambat senja harus meninggalkan dunia sebelum
lukisan itu berhasil diselesaikan.
Hendra Gunawan kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir pada
tanggal 17 Juli 1983 di Rumah Sakit Umum Sanglah, Denpasar, Bali. Pemakaman
Muslimin Gang Kuburan di Jalan A. Yani, Purwakarta menjadi tempat
peristirahatan salah satu pelukis maestro Indonesia ini.
D. Karya Lukisan Hendra Gunawan
Hendra Gunawan memiliki komitmen dalam pandangan politiknya,
mengabdikan hidupnya untuk memerangi kemiskinan, ketidak adilan dan
kolonialisme. Dia dipenjara di Kebon Waru atas keterlibatannya di Institut Budaya
Populer (Lekra), sebuah organisasi budaya yang berafiliasi dengan komunis

sekarang sudah tidak berfungsi, Partai Indonesia (PKI). Penahanan Hendra


Gunawan selama 13 Tahun dimulai pada tahun 1965 hingga tahun 1978. Selama
di dalam penjara beliau tetap aktif berkarya membuat lukisan bertema tentang
kehidupan masyarakat pedesaan pada jamanya, seperti: Panen Padi, berjualan
buah, kehidupan nelayan, suasana panggung tari-tarian, dll. Hampir disemua
Lukisanya berlatar belakang alam.
Karakter Lukisan beliau sangat berani dengan ekspresi goresan cat tebal,
dan ekspresi warna kontras apa adanya, karya Lukisanya banyak dikoleksi oleh
para kolektor dalam negeri. Perjalanan Aliran Lukisan karya Hendra Gunawan
pada awalnya adalah realism yang melukiskan tema-tema tentang perjuangan
sebelum kemerdekaan, namun setelah era kemerdekaan, karya-karya lukisan ber
metamorfosa kedalam aliran lukisan ekspresionism, tema-tema lukisanya tentang
sisa sisa kehidupan masyarakat pedesaan

"Mencari kutu rambut" by Hendra Gunawan, Medium: oil on canvas, Size: 84cm
x 65cm, Year: 1953

"Buffalo Cowboy" by Hendra Gunawan, Auction by Sotheby's Hongkong

"Flower Vendor" by Hendra Gunawan, Auction by Sotheby's Hongkong

"Landscape" by Hendra Gunawan, Auction by Sotheby's Hongkong

"Nude by the River" by Hendra Gunawan, Auction by Sotheby's Hongkong

"Snake Dancer" by Hendra Gunawan, Auction by Sotheby's Hongkong

"Pohon besar di tepi pantai" by Hendra Gunawan, Medium: oil on canvas, Size:
146cm x 90cm, Year: 1974