Anda di halaman 1dari 1

Pada percobaan kali ini, dilakukan pengujian untuk mengetahui efek salah satu obat

analgetik yaitu novalgin. Dimana dalam percobaan ini dilakukan pengukuran


seberapa kuat novalgin dapat menghambat rasa nyeri yang ditimbulkan oleh efek
asam asetat glacial yang disuntikkan ke tubuh mencit. Novalgin bekerja sebagai
obat analgetik yang akan menghambat produksi prostaglandin. Prostaglandin ini
merupakan mediator inflamasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
novalgin dapat menghambat terjadinya inflamasi sehingga rasa nyeri dapat
berkurang.
Pada percobaan kali ini larutan asam asetat glacial 0,1% digunakan sebagai
perangsang kimia, dimana larutan tersebut diberikan secara intra peritonial. Hewan
coba yang digunakan kali ini adalah empat ekor mencit. Dua ekor diantaranya telah
diberikan novalgin sebagai obat anti inflamasi, sedangkan dua ekor lainnya
diberikan aquades yang nantinya berperan sebagai variabel kontrol.
Asem asetat glacial merupakan asam lemah yang tidak terkonjugasi dalam tubuh.
Asam asetat glacial 0,1% yang diberikan pada hewan coba akan merangsang
keluarnya prostaglandin yang akan menimbulkan rasa nyeri karena terjadinya
kerusakan jaringan. Akibat rasa nyeri ini, hewan coba akan mnggeliatkan kakinya ke
belakang. Hal ini menunjukkan bahwa efek induksi asam asetat glacial 0,1% telah
bekerja. Asam asetat glacial 0,1% ini dimasukkan secara intra peritonial agar
mudah diabsorpsi. Oleh karena itu cepat memberi efek nyeri.
Pada hasil pertama, didapatkan hasil pengamatan yang sesuai dengan dasar teori.
Mencit kontrol memiliki jumlah geliat lebih banyak dibandingkan mencit yang telah
diberi novalgin. Hal ini terjdi karena mencit kontrol tidak memiliki perlindungan
terhadap efek yang ditimbulkan dari pemberian asam asetat glacial 0,1% ,
sedangkan mencit yang diberi novalgin memiliki perlindungan terhadap efek nyeri
yang ditimbulkan asam asetat glacial 0,1% karena peran dari novalgin itu sendiri.
Pada hasil kedua, didapatkan hasil yang tidak sesuai dengan dasar teori. Ada
beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya penyimpangan data saat melakukan
percobaan yaitu : (1) faktor fisiologis mencit, dimana mencit yang telah digunakan
beberapa kali percobaan sehingga mencit mungkin mengalami stress dan
kelelahan, (2) faktor penyuntikan dimana terjadi kesalahan saat menyuntikan
novalgin sehingga terdapat kemungkinan novalgin tidak masuk ke area peritonial
dan dapat menyebabkan kerusakan organ dalam akibat salah masuknya novalgin
tersebut, oleh karena itu novalgin bukannya bekerja sebagai pengurang rasa sakit
melainkan menambah rasa sakit, (3) faktor penyimpangan pengambilan data yang
dapat terjadi karena adanya kesalahan pengamatan oleh praktikan yang tidak
seksama atau bisa juga karena perbedaan deskripsi geliat antara praktikan satu
dengan yang lain.
Kesimpulan: