Anda di halaman 1dari 24

Upaya Safe Motherhood dan Making

Pregnancy Safer
Rumah Sakit Umum Daerah kabupaten Sidoarjo

Negara berkembang memiliki masalah


kematian dan kesakitan pada ibu hamil dan
bersalin serta bayi baru lahir
WHO memperkirakan 20 juta perempuan
mengalami kesakitan akibat kehamilan,
sekitar 8 juta mengalami komplikasi yang
mengancam jiwa, lebih dari 500.000
meninggal pada tahun 1995.
Pelayanan kesehatan maternal yang bermutu
diperlukan untuk pencegahan

Kerangka Konseptual untuk Menganalisa Determinan


Kematian Ibu

Kerangka Konseptual untuk Menganalisa Determinan


Kematian Ibu

Bedasarkan kerangka konseptual ini, maka intervensi dapat dilakukan


dengan :

Mengurangi kemungkinan perempuan menjadi hamil, dengan upaya KB


Mengurango kemungkinan perempuan hamil mengalami komplikasi dalam
kehamilan, persalinan, atau masa nifas dengan melakukan asuhan antenatal
dan persalinan bersih dan aman
Mengurangi kemungkinan komplikasi persalinan yang berakhir dengan
kematian atau kesakitan melalui pelayanan Obsetri dan Neonatal Esensial
dasar dan komprehensif

4 Pilar safe Motherhood

Piramida Intervensi
Upaya ini dikenal dengan
4 Pilar Upaya Safe
Motherhood.
Intervensi
melalui bidang kesehatan
yang berdampak langsung,
sedangkan
intervensi
terhadap determinan lain
mempunyai
dampak
menengah atau jangka
panjang

Determinan Kematian Ibu dan Bayi di


Indonesia saat ini

Desentralisasi dan implikasi terhadap


pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir

Indonesia sedang menerapkan desentralisasi sesuai UUD no 22 dan No 25


th 1999.

UU no 22 mengatur tentang desentralisasi (perlimpahan wewenang),


dekonsentrasi (pendelegasian wewenang), dan otonom daerah . UU ini
menenkankan pada pertimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan
daerah dengan memberikan otonomi penuh kepada pemerintah
kabupaten/kota.

Penyediaan pelayanaan kesehatan ibu dan bayi


baru lahir di sektor pemerintah

Bidan di desa bertugas di polindes, memberikan


pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir selama
kehamilan, persalinan dan nifas maupun pertolongan
pertama kasus kegawatdaruratan
Puskesmas pembantu sebagai satelit dari puskesmas
yang memiliki beberapa petugas paramedis
Puskesmas memiliki dokter umum dan bidan. Puskesmas
tanpa tempat tidur memberikan PONED dan puskesmas
tanpa tempat tidur hanya memeberikan beberapa
PONED
Rumah sakit kabupaten /kota dan provinsi mempunyai
dokter spesialis dan pelayanan PONEK
Sistem pencatatan dan pelaporan pelayanan kesehatan
ibu dan bayi baru lahir dicatat di puskesmas oleh bidan
desa atau jalur lain melaui kader dan dukun bayi
Penjamin pelayanan kesehatan oleh Quality Assurabce
dan Audit Maternal Perinatal di tingkat kabupaten/kota

Penyediaan pelayanan kesehatan ibu dan bayi


baru lahir oleh masyarakat dan swasta

Posyandu memberi pelayanan antenatal


Dukun bayi melayani pelayanan kehamilan,
persalinan dan nifas
BPS memberikan pertolongan persalinan di
rumah pasien
RS bersalin pelayanan dasar dan pelayanan
kegawatdaruratan

Kesenjangan dalam pelayanaan kesehatan ibu


dan bayi baru lahir

Kebijakan nasional setiap desa harus memiliki


polindes, setiap kecamatan memiliki
puskesmas, dan setiap kabupaten/kota
memiliki RS
Kenyataan hanya 50% desa memiliki polindes,
puskesmas dan RS belum memadai
Kualitas pelayanan kesehatan rendah.
Kelengkapan peralatan dan bahan belum
memadai
Ketersedian dan kualitas ada untuk informasi
ibu dan bayi belum cukup terjangkau

Kesenjangan dalam pemanfaatan pelayanaan


kesehatan ibu dan bayi baru lahir

Pemerataan pelayanan kesehatan tidak


merata berhubungan dengan kemiskinan,
pendidikan wanita, faktor geografi dan
pembangunan sosial
Presentasi ibu hamil mendapat pelayanan
antenatal sekurang-kurangnya :

4x kunjungan antenatal
2x dosis tetanus toksoid dan dosis penuh 90 tablet
besi yang cukup
Kurang memebuhi standard

Kesenjangan dalam pembiayaan pelayanaan


kesehatan pemanfaatan ibu dan bayi baru
JPKM
lahir
Asekes
BPJS
Jamsostek
Dana sehat
Tabulin
JPS-BK

Kesenjangan dalam komitmen politik dan


kebijakan terhadap kesehatan ibu dan bayi
baru lahir
Kebijakan ini : pelayanan antenatal sekurangkurangnya 4x selama kehamilan, 1x pada
trimester 1 dan 1x pada trimester II, dan 2x
dalam trimester III
Kebijakan KB difokuskan pada kehamilan 4T

Kesenjangan dalam kerja sama dan koordinasi


antara pemerintah dan mitra kerja

Departemen lain
Sektor swasta, LSM, dan organisasi profesi
Lembaga donor

Pelajaran dari Upaya Safe Motherhood

Kurang jelasnya prioritas serta intervensi program


yang kurang terarah dan efektif
Kurangnya informasi tentang intervensi yang punya
dampak bermakna dan menurunkan angka kematian
ibu
Strategi motherhood kadang terlalu luas
Beberapa progam di kemudian hari kurang efektif
Tidak diberlakunnya intervensi yang sebenarnya
efektif
Tidak tersedianya panduan teknis aau program
Kurang komitmen politik dalam penentuan kebijakan
Kurang koordinasi dan komitmen antara pemerintah
dan lembaga donor

Penyebab kematian dan kesakitan ibu dan


bayi

Pendarahan postpartum, eklamsi, aborsi tidak


aman, infeksi, partus macet, sebab lain
seperti kehamilan etopik dan mola hidatidosa.
Diperparah dengan kurang gizi, malaria, TB,
penyakit jantung, hepatitis, asma, HIV
Persalinan remaja : anemia, persalinan
preterm
Kematian bayi baru lahir : asfiksia, infeksi,
trauma, prematur, kelainan bawaaan

Upaya Intervensi

Pendarahan postpartum dicegah dengan


mengobati anemi dalam kehamilan, penangan
aktif kala III dan pemberian misoprostol
Infeksi dicegah kewaspadaan standard
Eklamsi dicegah dengan pemberian MgSO4
dan terminasi kehamilan
Persalinan macet dengan PONEK
BBLR dicegah dengan deteksi dini dan
penanganan komplikasi
Infeksi dicegah dengan imunisasi,
kewaspadaan standard, asi eksklusif

Upaya Making Pregnancy Safer

Visi
Misi
Tujuan
Target
Strategi
Justifikasi Strategi
Prinsip dasar pelaksanaan strategi

Target

Target dampak kesehataan

Menurunkan AKI menjadi 125/100.000 kelahiran


hidup
Menurunkan angka kematian neonatal menajdi
15/1000 kelahiran hidup
Menurunkan anemia defisiensi besi pda bumil
menjadi 20%
Menurunkan angka kehamilan tidak diinginkan
dari 17.1% menjadi 11%

Target
Target proses
Meningkatkan cakupan pelayanan antenatal 1x menjadi 95%
termasuk FE1, TT1
Meningkatkan cakupan pelayanan antenatal 4x menjadi 90%
termasuk FE3, TT2/TT ulang
Meningkatkan cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga
trampil menjadi 85%
Meningkatkan cakupan pelayanan komplikasi obsetri dan
neontal yang berkualitas, termasuk pelayanan pasca keguguran
menjadi 80%
Meningkatan pelayanan PONED di sekurang-kurangnya 4
puskesmas dengan tempat tidur di kabupaten/kota
Meningkatkan PONEK selama 24 jam di tiap RS kabupaten/kota
Meningkatkan cakupan pelayanan KB pasca persalinan dan
pasca keguguran sampai 100%
Meningkatkan anggaran program untuk tunjangan kesehatan ibu
dan bayi baru lahir
Memantapkan organisasi seluruh dinas kabupaten/kota

STRATEGI

Justifikasi Strategi

Intervensi klinis yang coas-effective dan


berdasarkan bukti ilmiah
Sistem kesehatan yang berfungsi
Kegiatan masyarakat
Upaya hukum dan kebijakan
Membangun kemitraan yang efektif
Komunikasi dan advokasi
Pemantauan dan evaluasi