Anda di halaman 1dari 6

HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) DENGAN DERAJAT NYERI PADA PENDERITA

OSTEOARTRITIS LUTUT
Handono Kalim*, Sri Andarini**, Faradiana Rasyidi***
ABSTRAK
Osteoartritis (OA) atau disebut juga dengan penyakit sendi degeneratif yaitu suatu
kelainan pada kartilago (tulang rawan sendi) yang ditandai perubahan klinis, histologi dan
radiologis. OA yang terbanyak adalah OA lutut. OA lutut biasanya berhubungan dengan nyeri.
Salah satu faktor pemicu nyeri OA lutut adalah Indeks Massa Tubuh (IMT) yang berlebihan
(obesitas). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Indeks Massa Tubuh
(IMT) dengan derajat nyeri pada penderita OA lutut yang diukur dengan Visual Analog Scale
(VAS) dan Pain Disability Index (PDI). Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional
dengan studi cross sectional. Populasi penelitian adalah warga yang datang ke seminar di
Rumah Sakit Baptis, Batu. Sampel penelitian berjumlah 58 yang diambil secara purposive non
randomized sampling dengan kriteria yang telah ditetapkan. Penelitian ini menggunakan uji
korelasi Spearman. Dari hasil analisis untuk mengukur IMT dengan VAS dan PDI, didapatkan p
value < 0,05 yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara IMT dengan derajat nyeri
pada penderita OA lutut yang diukur dengan VAS dan PDI. Untuk VAS dengan PDI, dari hasil
analisis didapatkan p value < 0,05 juga yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara
VAS dengan PDI. Disarankan perlu adanya penyuluhan gizi kesehatan tentang IMT yang ideal
agar tidak menimbulkan nyeri pada OA lutut.
Kata kunci : Indeks Massa Tubuh (IMT), Osteoartritis (OA) Lutut
ABSTRACT
Osteoarthritis (OA) or called joint degenerative joint disease is abnormality in cartilage
which is marked with clinic, histogic and radiologic changes. The most type of OA is knee OA.
Knee OA is usually related with pain. One of the trigger of pain in knee OA is increased Body
Mass Index (BMI) or obesity. The purpose in this research is to know the relationship between
Body Mass Index (BMI) and pain degree in knee OA patients that measured by Visual Analog
Scale (VAS) dan Pain Disability Index (PDI). This research uses analytic observational with
cross sectional study. The research population are people who come to seminar in Baptis
Hospital, Batu. The research sample amounted to 58 people taken by purposive non
randomized sampling with certain criteria that have been determined. This research uses
Spearman Correlation test. From analysis result to measure BMI with VAS and PDI, p value is
got less than 0,05, it means that there is significant relationship between BMI and pain degree in
knee OA patients that measured by VAS and PDI. For VAS and PDI,from analysis result, p
value is got less than 0,05, it means that there is significant relationship between VAS and PDI.
Suggested that it is necessary to hold the health and nutrition promotion about ideal BMI so that
it can prevent pain emerged in knee OA.
Key words : Body Mass Index (BMI), Knee Osteoarthritis (OA)
* Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Rumah Sakit Syaiful Anwar, Malang
** Laboratorium Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya,Malang
*** Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang

PENDAHULUAN

timbulnya osteoartritis lutut. Obesitas atau

Latar Belakang

berat badan yang berlebih meningkatkan

Osteoartritis (OA) merupakan salah

beban biomekanik pada sendi lutut dan

satu bentuk penyakit muskuloskeletal yang

panggul selama aktivitas.

sering terjadi di seluruh negara di dunia.

Obesitas

mempunyai

Saat ini osteoartritis adalah salah satu tipe

terhadap

artritis yang sering ditemukan di Indonesia.

terjadinya penyempitan joint space pada

Penyakit ini merupakan penyakit sendi

lutut

degeneratif yang banyak menyerang sendi

melalui peningkatan kadar hormon leptin

penyangga tubuh terutama lutut.

dan

Prevalensi

OA

di

Indonesia

sendi

lutut,

pengaruh

menyebabkan

dapat meningkatkan risiko OA lutut

faktor

intermediate

pertumbuhan
yang

dan

faktor

berperan

pada

berdasarkan penelitian yang dilakukan di

patogenesis OA serta berpengaruh juga

poliklinik sub bagian Reumatologi RSUPN

pada peningkatan nyeri pada sendi lutut.

Cipto Mangunkusumo ditemukan 43,82%

Obesitas yang bisa dilihat dari IMT

dari seluruh penderita baru reumatik yang

(Indeks Massa Tubuh) yang tinggi dapat

berobat. Sendi yang paling banyak terkena

memicu nyeri pada OA lutut serta memiliki

secara berturut-turut adalah sendi lutut,

dampak yang lebih besar bagi masyarakat

panggul dan tangan. Di Kabupaten Malang

seperti

dan

daripada IMT normal, untuk itu perlu

Kotamadya

Malang

prevalensi sebesar 10% - 13,5%.

ditemukan
1

terbatasnya

aktivitas

dilakukan observasi tentang

Gejala dan tanda osteoartritis adalah

seseorang

hubungan

berat badan yang diukur dengan IMT

pembengkakan tulang, nyeri, rasa panas

dengan

derajat

nyeri

pada

penderita

lokal, krepitasi dan pembatasan gerakan.

osteoartritis lutut. Oleh karena itu, penulis

Osteoartritis khususnya OA lutut merupakan

mengambil judul Hubungan Indeks Massa

penyakit sendi yang sering menyebabkan

Tubuh (IMT) dengan Derajat Nyeri pada

kecacatan fisik pada berbagai tingkatan

Penderita Osteoartritis Lutut.

yaitu impairment, disabilitas dan handicap

Tujuan

terutama pada usia lanjut yang akhirnya

Tujuan umum penelitian ini adalah

menimbulkan beban sosial ekonomi bagi

untuk mengetahui hubungan IMT dengan

2, 3

masyarakat.

derajat nyeri pada penderita osteoartritis

Faktor risiko osteoartritis antara lain

lutut yang diukur dengan Visual Analog

berat

dengan

Scale (VAS) dan Pain Disability Index (PDI).

aktivitas yang berat, jenis kelamin. Berat

Sedangkan tujuan khusus penelitian ini

badan biasanya dikaitkan dengan pemicu

adalah mengukur Indeks Massa Tubuh

usia,

badan,

pekerjaan

(IMT), mengukur derajat nyeri, mengukur

pembesaran lutut lalu yang kedua yaitu

korelasi derajat nyeri yang diukur dengan

nyeri lutut, pembesaran lutut dan tidak

Visual Analog Scale (VAS) dan Pain

adanya krepitasi.5 Kriteria eksklusi dalam

Disability Index (PDI) dengan Indeks Massa

penelitian ini adalah : kanker, peserta yang

Tubuh (IMT) serta mengukur korelasi antara

menderita sakit saraf karena stroke dan

VAS dengan PDI.

infeksi herpes. Dari 115 responden, yang


memenuhi

METODE PENELITIAN
Penelitian

kriteria

inklusi

adalah

58

responden. Instrumen penelitian ini adalah

ini menggunakan

jenis

kuesioner, timbangan pegas dan meteran.

penelitian analitik observasional dengan


cross sectional study. Variabel bebas pada

HASIL PENELITIAN

penelitian ini adalah IMT pada penderita

Mengenai

karakteristik

berdasarkan

jenis

umum

osteoartritis lutut. Variabel terikat pada

responden,

kelamin,

penelitian ini adalah derajat nyeri pada

responden yang hadir sebagian besar

penderita osteoartritis lutut.

wanita (93%). Berdasarkan usia, responden

Populasi dalam penelitian ini adalah

terbanyak berusia antara 56 65 tahun

warga yang datang ke seminar di Rumah

(36%). Berdasarkan jenis pendidikan, rata-

Sakit Baptis, Batu. Teknik pengambilan

rata responden berpendidikan SMA dan

sampel

sederajat (34%). Untuk jenis pekerjaan,

dalam

penelitian

ini

adalah

purposive non randomized sampling dimana

sebagian besar

ada pertimbangan tertentu yakni kriteria

rumah tangga (57%). Sedangkan untuk

inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi dalam

status

penelitian

responden telah menikah (88%).

ini

adalah

bersedia

untuk

mengikuti penelitian dan menandatangani

responden

pernikahan,

adalah

hampir

ibu

semua

Untuk karakteristik responden yang

informed consent, peserta dengan semua

diukur, terdapat dalam tabel berikut :

kategori

Tabel 5.1 Karakteristik Indeks Massa Tubuh dan


Derajat Nyeri Responden
Karakteristik
Frekuensi
Persentase
(N)
(%)

berat

badan,

peserta

yang

memenuhi kriteria diagnostik osteoartritis


lutut

secara

klinis

menurut

American

College Rheumatology, 2000, mempunyai


riwayat reumatik yaitu osteoartritis (nyeri
sendi lutut), dua kriteria klinis OA lutut lain
menurut Altman yaitu : pertama, nyeri lutut,
krepitasi dengan AROM (Active Range of
Motion),

kaku

pagi

30

menit

dan

Indeks Massa Tubuh


(IMT)
a.
Tidak gemuk/
non obese
(IMT) < 25
b.
Gemuk / obese
(IMT>25)
Derajat Nyeri
a.
Visual Analog
Scale (VAS)
Nyeri ringan

27

46,6

31

53,4

b.
-

(0 4)
27
Nyeri berat
( 5 10 )
31
Pain Disability Index (PDI)
Sedikit terganggu
(0 35)
28
Sangat terganggu
( 36 - 70)
30

46,6

Dari tabel di atas, didapatkan nilai p

53,4

= 0,001. Hal ini berarti p < 0,05, yang berarti


terdapat hubungan yang bermakna antara

48,3

Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Pain

51,7

Disabilty Index (PDI). Terdapat juga nilai

Berdasarkan tabel di atas, sebagian


responden

memiliki

(gemuk/obese)

(53,4%).

IMT

>

Untuk

25
derajat

nyeri, sebagian besar responden memiliki


VAS dengan derajat berat (53,4%) dan skor
PDI dengan kategori sangat terganggu
(51,7%).

koefisien yaitu r = 0,413, yang berarti


terdapat korelasi yang sedang antara IMT
dengan PDI
Tabel 5.4 Hasil Uji Korelasi Spearman tentang
Hubungan Visual Analog Scale (VAS) dengan Pain
Disability Index (PDI)
Correlations
Indikator
Kategori VAS Koefisien korelasi (r)
Signifikansi

Kategori PDI
0,689
0,000

Hasil Analisis penelitian ini sebagai


berikut :

Dari tabel di atas, didapatkan nilai p

Tabel 5.2 Hasil Uji Korelasi Spearman tentang


Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan
Visual Analog Scale (VAS)

= 0,000. Hal ini berarti p < 0,05, yang berarti

Correlations

Visual Analog Scale (VAS) dengan Pain

Indikator
Kategori IMT

Koefisien korelasi (r)


Signifikansi

Kategori VAS
0,376
0,004

Dari hasil analisis menggunakan uji


korelasi Spearman, didapatkan nilai p =
0,004. Hal ini berarti p < 0,05, yang berarti

terdapat hubungan yang bermakna antara

Disabilty Index (PDI). Terdapat juga nilai


koefisien yaitu r = 0,689, yang berarti
terdapat korelasi yang kuat antara VAS
dengan PDI.

terdapat hubungan yang bermakna antara


Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Visual
Analog Scale (VAS). Selain itu didapat nilai
koefisien korelasi yaitu r = 0,376 yang
berarti terdapat korelasi yang sedang antara

PEMBAHASAN
Dari

hasil

uji

analisis

korelasi

Spearman yang mengukur IMT dengan


VAS, diperoleh nilai p = 0,004 yang berarti
bahwa ada hubungan yang bermakna

IMT dengan VAS.

antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan


Tabel 5.3 Hasil Uji Korelasi Spearman tentang
Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Pain
Disability Index (PDI)

Koefisien korelasi (r)


Signifikansi

dengan VAS serta didapat nilai koefisien


korelasi yaitu r = 0,376 yang berarti terdapat

Correlations
Indikator
Kategori IMT

derajat nyeri pada OA lutut yang diukur

Kategori PDI
0,413
0,001

korelasi yang sedang antara IMT dengan


VAS. Sedangkan untuk IMT dan PDI,
diperoleh nilai p = 0,001 yang berarti bahwa

ada

hubungan

yang

bermakna

antara

yang diukur dengan VAS dan PDI sesuai

Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan derajat

dengan

nyeri pada OA lutut yang diukur dengan PDI

mempengaruhi

serta nilai koefisien yaitu r = 0,413, yang

mekanisme

berarti terdapat korelasi yang sedang antara

adipocytokines, faktor metabolik, dan beban

IMT dengan PDI. Selain hubungan IMT

mekanis.

dengan

ini

leptin, resitin dan juga produk sitokin : IL-6

menganalisa hubungan antara VAS dan

& TNF- dapat memicu respon inflamasi

PDI. Dari hasil analisis, terdapat nilai p

dan

value 0,000 dan r = 0,689 yang berarti

metabolik seperti resisten insulin, beban

terdapat hubungan yang bermakna dengan

glukosa meningkat dapat memicu proses

korelasi yang kuat antara VAS dengan PDI.

peradangan juga. Ketiga hal tersebut dapat

Bisa diartikan tingkat disabilitas seseorang

memicu nyeri pada OA lutut.7 Selain itu,

ditentukan oleh derajat keparahan nyeri.

terdapat

Semakin tinggi nilai VAS (derajat keparahan

Gutierrez (2010) yang juga menyebutkan

nyeri), semakin tinggi skor PDI (tingkat

dalam sebuah studi berbasis

disabilitas)nya. Hal ini berarti semakin parah

Inggris, pada individu di atas usia 50 tanpa

nyeri yang dirasakan seseorang, semakin

nyeri lutut, mereka yang obesitas hampir

terganggu

tiga

VAS

dan

aktivitas

PDI,

penelitian

orang

tersebut.

teori

bahwa
nyeri

Untuk

lutut dengan

berupa

produksi

adipocytokines

penelitian

lebih

dapat

OA

peradangan.

kali

obesitas

seperti

Sedangkan

oleh

mungkin

faktor

Sowers

and

populasi

dibandingkan

Pernyataan ini sama dengan hasil penelitian

mereka yang berat badannya normal untuk

oleh

mendaptkan nyeri lutut yang parah dalam

Creamer,

et

al

(2000)

yang

menyatakan bahwa disabilitas pada pasien

periode 3-tahun berikutnya.

OA lutut yang simptomatis mempunyai


korelasi yang kuat dengan keparahan nyeri,
IMT dan kelelahan.

KESIMPULAN

Terdapat hubungan yang bermakna

Selain hasil analisis, hasil observasi

antara IMT dengan derajat nyeri pada

menunjukkan

responden

penderita OA lutut yang diukur dengan VAS

terbanyak adalah responden yang gemuk

dan PDI yang dilihat dari hasil analisis uji

dengan VAS berat dan PDI 36-70 atau nyeri

korelasi Spearman dan hasil observasi.

OA lutut mengganggu aktivitas responden

Selain

sebanyak 22 responden dengan persentase

bermakna antara VAS dengan PDI.

juga

bahwa

71%.
Adanya

hubungan

antara

IMT

dengan derajat nyeri penderita OA lutut

itu,

terdapat

hubungan

yang

SARAN
1. Akademik

2.

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut


mengenai judul yang sama namun dengan
sasaran yang berbeda dan juga survey
yang mendalam terlebih dahulu agar di
penelitian

selanjutnya

mendapatkan

3.

sasaran yang lebih tepat sehingga bisa


menggambarkan lebih jelas apakah benar
terdapat hubungan antara Indeks Massa
Tubuh (IMT) dengan derajat nyeri pada

4.

penderita osteoartritis lutut.


2. Masyarakat
Perlu

adanya

penyuluhan

gizi

kesehatan mengenai Indeks Masaa Tubuh

5.

yang ideal mengingat Indeks Massa Tubuh


yang

berlebihan

dapat

berpengaruh

terhadap kesehatan yakni dapat memicu

6.

timbulnya nyeri pada penderita osteoartritis


lutut.
7.
DAFTAR PUSTAKA
1. Isbagio, H. 2005. Telaah Pengaruh
Jangka Panjang Densitas Massa
Tulang
Total
Yang
Rendah
Terhadap Progresivitas Kerusakan
Matriks Tulang Rawan Sendi Pada
OsteoartritisLutut dalam Ringkasan

disertasi doktor. Balai Penerbit FK


UI.
Fuath, A. 2005. Rehabilitasi Medik
pada Osteoartritis dalam Kertia,
N.(ed) Naskah Lengkap Konggres
Nasional dan Pertemuan Ilmiah
Ikatan Reumatologi Indonesia VI.
Penerbit Medika FK UGM. Hal. 1327.
Peat, G., McCarney, R., Croft, P.
2001. Knee Pain and Osteoartritis in
Older Adults:
A
Review
of
Community Burden and Current Use
of Health Care. Ann Rheum Dis; 60:
91-7.
Cimen, O.B., Incel, N.A., Yapici, Y.,
Erdogan, D.A.C. 2004. Obesity
related Measurements and Joint
Space Width in Patients with Knee
Osteoarthritis.Upsala J Med Sci;109:
159-164.
Hochberg MC, Altman RD, et al.
1995. Guidelines for the medical
management of osteoartritis. Arthritis
and Rheumatism. 38:1541-1546.
Creamer P, Lethbridge-Cejku M,
Hochberg M C. Factors Associated
with Functional Impairment in
Symptomatic Knee Osteoarthritis.
Rheumatology 2000:39:490-496.
Sowers, MaryFran R and Gutierrez,
Carrie A Karnoven. 2010. The
Evolving Role of Obesity in Knee
Osteoartritis.
Department
of
Epidemiology
,
University
of
Michigan School of Public Health,
Ann
Borr,
Michigan,
USA.