Anda di halaman 1dari 15

PENGEMASAN

Pengemasan : kegiatan akhir dari proses produksi untuk


melindungi produk dari kerusakan.
Faktor penyebab kerusakan produk:
1. Faktor intern produk:
- perubahan fisik : bentuk, warna, tingkat keutuhan
- perubahan kimia : interaksi antara berbagai komponen
penyusun bahan yg tdp dlm produk
- proses metabolisme produk : respirasi, kegiatan enzym
2. Faktor extern :
- mekanik : benturan, gesekan, goyangan
- fisik : prbh suhu, RH, tekanan udara, sinar mt.hari
- chemis : O2 , H2O, N2 , CO2
- biologis : jamur bakteri, micro-organisme
- kontaminan : debu , asap, gas lain2
Tujuan pengemasan :
Menjaga stabilitas kwalitas produk ditinjau dari segi cita
rasa, aroma, warna maupun nilai gizi
Fungsi kemasan:
1. Menjaga produk pangan agar tetap bersih, terlindung dari
kotoran dan kontaminasi
2. Menjaga produk pangan dari kerusakan fisik, perubahan
kadar air dan pengaruh sinar
3. Memudahkan dalam membuka dan menutup,
memudahkan dalam penanganan, pengangkutan dan
distribusi
4. menyeragamkan produk pangan dalam ukuran tertentu,
bentuk dan bobot yang sesuai dg standard yang ada
5. Menampakan identifikasi, informasi, daya tarik dan
tampilan yang jelas dari bahan pangan yang dikemas shg
dapat membantu promosi atau penjualan
6. Memberikan informasi melalui sistem labelling, bagaimn
cara penggunaan produk, tanggal kadaluarsa dll
( Rafi Paramawati 2000 )
Kriteria teknologi pengemasan:
1. Mencakup aspek perlindungan pangan ( mutu, nutrisi,
cita rasa, kontaminasi dan penyebab kerusakan pangan )
2. Mencakup aspek pemasaran ( mempertahankan mutu,
memperbaiki tampilan, identifikasi produk informasi
komposisi dan tujuan promosi )
1

Susunan pengemas

1. Pengemas bagian luar ( pengemas scundair )


Fungsi : melindungi produk selama penggudangan dan
pengangkutan dr pabrik s/d tempat pemasaran (konsumen)
Macam:
1. Peti-peti atau krat ( crates) dari kayu atau plywood
2. Kotak-kotak baja
3. Drum dari fibre board
4. Peti-peti dari fiber board ( bergelombang )
5. Kantung dari tekstil ( yute, katun, linen) dan plastik
6. Kotak dari kertas
7. Karung ( bales )
2. Pengemas dalam ( pengemas primair )
Fungsi : melindungi produk pada pemasaran ( konsumen),
macamnya:
1. Kaleng-kaleng logam dan wadah yg bagian tutupnya
diperkuat dg logam.
2. Botol-botol dan stoples gelas
3. Wadah-wadah plastik dg bermacam-macam bentuk yg
kaku atau agak kaku
4. Tabung-tabung yg tahan rusak kalau jatuh, baik terbuat
dari logam maupun plastik
5. Kotak kertas tebal dan karton yg kaku dan dpt dilipat
6. Wadah dari paper-pulp dg bermacam-macam bentuk
7. Pengemas fleksibel: kertas, paper-board, fibre board,
plastik tipis, foils, laminats pembungkus, kantung,
amplop, sanchet dll

Bahan pengemas
1. Pengemas alami :
- tulang dan kulit binatang ( sudah dipergunakan lagi )
- tanah liat
- buluh bambu
- daun-daun
Kelemahan: tak dpt melindung produk dari pengaruh luar
Keunggulanya:
- murah, mudah didapat,
- mudah di dekomposisi
2

2. Pengemas buatan:

1. Kertas
Bahan baku : pulp ( bubur kayu )
Kegunaan : pengemasan produk kering atau pengemas
scundair dalam bentuk dos atau boks karton
Kelemahan:
- mudah robek dan terbakar
- tak dapat untuk pengemasan produk cair
- tidak tahan panas/dipanaskan
Keunggulannya : mudah di dekomposisi/ di daur ulang
2. Kaca
Kegunaan: - untuk produk cair, semi basah dan powder,
biasanya dibentuk botol/tabung
Keunggulanya:
1. Transparan ( produk nampak dari luar )
2. Dpt melindungi produk dr pengaruh lingkungan
3. Inert ( tidak mudah bereaksi dg produk)
4. Dpt dipakai bbrp kali ( multitrip ) & di daur ulang
Kelemahannya:
1. Termasuk bahan memiliki bobot
2. Mudah pecah
3. mahal
3. Kaleng
Dibuat dari : alumunium, tembaga, besi, dll
Keunggulanya sama dengan kaca + tak mudah pecah
Kelemahannya: sama dengan kaca,
+ tidak transparant + dpt mengkotaminasi produk
4. Plastik
Paling banyak digunakan.
Keunggulannya:
1. Memiliki fleksibilitas tinggi (mudah dibentuk )
1. Transparan ( tembus pandang )
2. Liat dan tidak mudah pecah
3. Tahan benturan, memudahkan penanganan & transprts
4. Inert tidak bereaksi dengan produk
Kelemahannya:
1.
Tidak tahan panas
2.
Ada bbrp kemasan yg dpt mengkontaminasi
produk: polietilen, polipropilen, polivinilchloride) bila
dibakar.
3. Tak dapat dihancurkan secara cepat secara alami.
4.
Plastik dibuat dari polimer sintetis dari bahan
baku minyak bumi (terbatas persediannya)
3

5. Lapisan (laminate) dari campuran bahan tsb diatas.


Kriterian bahan pengemas:
1. Harus memiliki sifat penyerap/pengantar panas atau
listrik yang rendah (low konduktor )
2.Mampu menangkal keluar masuknya uap air/udara
(low aerasitor )
3.Mampu memantulkan sinar yang datang dari luar (high
reflektor )
4.Mampu menahan beban mekanik (benturan, gesekan,
getaran, goyangan dll )

Bahan pengemas berbentuk kaleng


1. Bahan: tinplate
Struktur tinplate :
Bahan
Perbandingan
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Baja ( terdapat ditengah )
10.000
Bahan pelapis :
- campuran timah & besi,
5
- timah
50
- selapis oksida
0,1
- lapisan tipis minyak
0,2
Ketebalan tinplate 0,2 mm s/d 0,9 mm
Untuk pengemasan bahan pangan struktur tersebut dilapisi
lapisan pernis a.l:
1. Lapisan epoxy normal, membuat permukaan kaleng
kelihatan bening : dipergunakan utk produk yg berpigmen
dan mudah berkarat.Contoh: bit yg diasamkan, buahbuahan dlm kaleng.
2. Lapisan epoxy yg dimodifikasi dengan lapisan aluminium,
dipergunakan utk pengalengan selai, daging, ikan kaleng
3. Lapisan fenolik, dipergunakan untuk pengalengan daging
domba giling, daging sapi
4.
Lapisan oleoresin: lapisan yg tahan terhadap asam
5.
Lapisan yang tahan terhadap belerang, dipergunakan utk
berbagai produk olahan sup, sayuran, dan beberapa daging
6. Lapisan vinyl dan vinyl yg dimodivikasi dipergunakan
untuk minuman bir, dan minuman ber CO2 lainya.
Faktor penyebab pengkaratan tinplate:
1. Sifat dari bahan pangan, terutama pH
2. Adanya zat pemicu terjadinya karat, misalnya nitrat,
belerang, zat warna anthocyanin
3.
Banyaknya sisa oxygen dalam bahan pangan,
khususnya bagian atas kaleng ( headspace ) terutama
berkaitan dg : blanching, filling, dan exhausting.
4. Campuran struktur tinplate dan macam lapisan pernis.
5. Fluktuasi suhu, cara dan lama penyimpanan.
4
2. Aluminium

Sebagai bahan pembuat kaleng, aluminium mempunyai sifatsifat yang menarik yaitu:
1) Ringan
2) Tahan terhadap karat yg disebabkan oleh keadaan udara
3) Tidak ternoda oleh sulfida yang dihasilkan beberapa
bahan pangan selama pemanasan.
4) Tidak beracun
5) Mudah dibentuk untuk dibuat sebagai wadah/pengemas.
Namun beberapa kelemahan al yaitu:
1) Sulit disolder (patri)
2) Tidak sekuat timah walaupun pada ketebalan yg sama
3) Biasanya mempunyai ketahanan yg lebih pendek thd bhn
pangan basah dibandingkan dg kaleng timplate.
4) Dapat memucatkan beberapa produk.
5) Tidak dapat dibuat menjadi kaleng semudah timplate.
6) Merupakan pengantar panas/listrik yang baik.
Dimensi standar wadah berbentuk kaleng:
No
1
2
3
4
5
6
7

Volume produk

Ukuran kaleng

120 - 125
165 -170
200
370 x 375
410 - 425
800
300

52 x 72,5
52 x 97,5
66 x 74
66 x 129
74 x 112,5
99 x 118,5
154 x 180,5

( ml )

( mm)

Sumber : K.A. Buckle 1978

3.Plastik
Beberapa macam plastik dan sifat-sifat utama dr plastik tipis
fleksibel yg digunakan untuk pengemasan bahan pangan:
1) Cellulosa acetat
Sifat : sangat kaku, sangat mengkilap, stabil
Bahan ini penahan gas dan air yg tinggi
Dipergunakan utk pengemas: lemak dan minyak, cairan
yang ber-asam tinggi maupun cairan yang berbasa tinggi,
pelapis bhn didlm kotak-kotak karena bahan tidak menyerap
debu & uap air (pengemas secundair)
5
2) Polyethylene

Merupakan jenis plastik yang banyak digunakan untuk


pengemasan produk yang berupa padatan, & cairan.
Ada tiga jenis:
1. LDPE (Low density p e), densitas = 0,909,- 0,925,
mudah leleh (pd suhu 100 105 oC), sulit ditembus
air, mudah ditembus gas, dpt direkatkan dg panas.
2. MDPE(medium density p e): densitas 0,926,- 0,939
lebih kuat, lebih kaku, agak sulit ditembus gas.
3. HDPE ( higt density p e ), densitas 0,94 0,965,
produk paling kuat diantara p e, sulit ditembus air,
uap air, maupun gas, melunak pada 100 125 oC,
tahan terhadap bahan kimia ( asam/basa kuat)
3) Polypropylene
Densitas 0,90 0,91 kekakuan baik, kuat, transparan pada
bentuk film, tahan thd panas, sulit ditembus uap air, mudah
ditembus gas, lebih ringan dp polyethylene, meleleh pada
suhu 1620C, sulit direkatkan dg panas, ketahanan yg baik
terhadap lemak, stabil terhadap suhu tinggi dan cukup
mengkilap.
4) Stiren ( Polimer stiren/PS )
Polimer murni memiliki sifat mudah pecah, shg pada proses
pembuatannya perlu ditambah karet. Campuran polimer
murni dg karet memiliki sifat: mudah ditembus air maupun
gas, thermoforming, tahan terhadap asam dan basa kuat.
Produk lain dr bahan stiren: Expandable polystiren (EPS).
Mengandung bahan pengembang shg mudah dibentuk
menjadi sheet maupun dicetak dalam bentuk lain
5) Polyamides (atau nilon)
Tahan terhadap minyak/lemak, tahan terhadap air, asam dan
basa, Konfigurasi nilon bermacammacam al: Nilon 6
mudah dibentuk, tahan thd gesekan, Nilon 11 dan 12 adalah
tahan terhadap oksigen dan uap air, Nilon 66 tahan thd suhu
akan mencair pada suhu tinggi.
6) Polyester
Ada dua produk Polyester yi:
1. PET( Polyetelene tetraptalat)
Jernih, transparan, thermoplastic, kuat, kaku, mudah
dibentuk, sulit ditembus uap air dan gas, Mempunyai
kekuatan cukup baik thd tegangan, tahan sobek, tahan
thdp: minyak/lemak, pelarut organik, asam & basa kuat.
2. PC ()
Meleleh pada suhu 140-1500C, kaku tetapi mudah pecah,
mudah ditembus uap air maupun gas. Tahan thd minyak/
lemak .
6

7)Polyvinyl chlorida.
Plastik tipis bersifat fleksibel yg diperoleh dg penambahan
bahan-bahan plastik.Vinyl co-polymer film dipergunakan

sebagai pengemas untuk berbagai produk bersifat mengerut


dan sebagai pelapis bhn pengemas lain (pengms scundair)
8) Polyvinylidene chlrorida
Digunakan sebagai co-polymer dengan vinyl chlorida, tahan
thp penetrasi gas dan uap air, tembus cahaya dan tahan thp
benturan /gaya mekanis.
9) Rubber hydrochlorida (plio film )
Sifat: dapat direnggangkan, tak bersifat racun, tahan thd
minyak/lemak, tidak berubah oleh pengaruh asam/basa kuat,
tidak mudah terbakar, tahan thd penetrasi gas yang berbau.
Bahan pengemas ini tidak tahan lama untuk pengemas,
karena bila disimpan pada waktu yang lama mudah rapuh,
dan berubah warna.
10)Polyvinyl acetat
Terutama digunakan sebagai pelapis kertas, dan sebagai copolymer
11)Aluminium foil
Digunakan secara luas untuk pengemas produk pangan yang
rentan thd cahaya, uap air, dan gas.
Untuk bahan pengemasan yang reskan thd udara, perlu di
perhatikan kemampuan plastik thd daya tembus gas.
Daya tembus PRODUK PLASTIK thd beberapa gas
Jenis plastik
Polyethelene ( LD )
Polyethelene ( HD )
Polystyrene
Polyamide ( nilon 6 )
Polypropelene
Polyvinyl chloride
Polyester

Polyvinylidene cnlorida

Rubber hydrochloride
Polyvinyl acetat
Ethylcellulose
Cellulose acetat

Daya tembus

( Cm /Cm2.mm.det.CmHg) x 1010

N2
19
2,7
2,9
O,1
0,4
0,055
0,0094
0,08
84
2,8

O2
55
10,6
11,0
0,38
23,0
1,2
0,22
0,053
0,3
0,5
265
7,8

CO2
352
35
88
1,6
92
10
1,53
0,29
1,7
200
67

H2O
800
130
12000
7000
680
1560
1300
14
240
100.000
130.000
75.000

Sumber : KA Buckle 1978

Kemasan teknologi aseptik

( produk Tetra park )


Yi cara pengemasan produk makanan/minuman yg dilakukan
dengan penggunaan temperatur tinggi (UHT = ultra high

temperature) dalam tempo yg sangat singkat (hitungan detik)


pada bahan2 pengemas yang stiril.
Bahan bahan baku Kemasan tetra park:
1. kertas : berfungsi utk kekuatan & kstabilan bahan pengemas
2. polietilen : lapisan perekat yg berfungsi untuk melindungi
produk dari kelembaban
3. aluminium : berfungsi untuk melindungi produk dari sinar
mthr dan pengaruh negatif dari oksigen.
Komposisi kemasan tetra park tdr 6 lapisan:
Polietilen
Polietilen
Alluminium
Polietilen
Kertas
Polietilen

Keunggulan bahan pengemas tetra park:


1. Melindungi : sinar mthr, micro-organisme, dan udara
2. Memiliki usia simpan lama ( dilapisi polietilen yg inert )
3. Aman ( tidak mengkontaminasi produk )
4. Praktis, ringan, mudah cara pemakaiannya
5. Terbuat dari bahan baku kertas (tidak berbahaya )
6. Produk kemasan tak perlu disimpan dalam tempat khusus
( kulkas ) karena di design dari bahan yang stiril
7. Dapat didaur ulang.
Contoh penggunaanya:
- dapat di pergunakan sebagai pengemas produk cair,
misalnya: susu, sari buah, minuman teh, kopi, cokklat,
berbagai pasta, minyak goreng dll
- makanan kecil
- bahan kosmetik
- bahan obat.
Kelemahannya:
- tak dapat didaur ulang
- tidak natural degradable
- tidak biodegradable
8

Pengemasan masa depan


Harapan: Pengemasan yang dapat dihancurkan secara alami,
memiliki sifat: fleksible, kuat, transparan, tidak berbau,
tidak meng-kontaminasi bahan yang dikemas, tidak

beracun, tahan pemanasan, biodegradable, bahan baku


dari sumber alam yg renewable, ekonomis.
Bahan baku : bio-polimer dari produk pertanian yang tersusun
dari komponen lemak, protein, kbhidrat, atau gabungan
dari ketiga komponen tsb, yang memiliki fase transisi
gelas (glass transition phase)
Fase transisi gelas (glass transition phase): Yi bahan dapat
dicetak atau dibentuk menjadi lembaran film, seperti
lembaran plastik kemasan.
Jenis biopolimer:
1. Campuran biopolimer dg polimer sintetis, yi campuran
antara granula pati (5-20 %)+polimer dg tambahan bahan
yg pro-oksidan dan auto-oksidan.
Sifat: biodegradabilitas rendah dan biofragmentasi terbatas
2. Polimer mikrobiologi ( polyester)
Dihasilkan dari fermentasi mikroba genus Alkaligenus al:
- polihidroksi butirat ( phb )
- polihidroksi valerat (phv )
- asam polilaktat ( pa )
- asam poliglikolat
Sifat: dapat ter-degradasi oleh: bakteri, jamur dan alga
2. Polimer pertanian ( tak dicampur dg bahan sintetis )
Dihasilkan dari produk pertanian murni, al :
- cellulose ( bagian dari diding sel tanaman )
- cellophan
- celluloseasetat
- chitin ( tdpt pada kulit crustaceae )
- pullutan (hasil fermentasi pati oleh Pullularia pullutans)
Sifat: thermoplastik, shg mudah dibentuk mjd film kemasan
Keunggulan:
1. bahan renewable
2. biodegradable
Polimer pertanian yang berpotensi sbg bahan pengemas :
pati gandum, pati jagung, casein, zein, soyprotein.
9
4. Edible film ( pengemas yang dapat dimakan )
Dibuat dari:
1. sellulosa dan turunannya
2. Ektracsi rumput laut ( keraginan, alginat, agar-agar )

3. exudate gum
Sifat: dapat berfungsi sebagai plastik pengemas
Keunggulanya :
1. dapat membatasi perpindahan uap air, aroma, lemak
2. dapat memperbaiki sifat2 organoleptik produk
3. dapat berfungsi sbg suplemen gizi ( vit & mineral )
4. antimikrobia dan antioksidan
5. arif lingkungan.

Metode pembuatan kemasan plastik biodegradable


1. Metode Yamada et.Al (1995)
Bahan dasar zein
Zein + etanol 80 % + pemlastis, dipanaskan pada suhu
60 700C, selama 15 menit. Campuran kmd dicetak pada
auto casting machine, selanjutnya dibiarkan selama 3 6 jam,
pd suhu 35oC, RH 50 %. Film kmd dikeringkan 12 18 jam

pada suhu 300C dan RH 50 %. Akhirnya perlakuan


conditioning pada suhu dan RH ambien.
2. Metode Frinault et.Al ( 1997)
Bahan dasar casein
Casein + aceton (atau dapat etanol ) + air + plasticiser
dicetak dg mesin ekstruder, kmd hasil film dikeringkan dg
suhu ruangan.
3. Metode Isobe ( 1990 )
Bahan dasar zein
Zein + aceton 70 % + pemlastik ( lipida atau gleserin )
Dipanaskan pada suhu 500C selama 10 menit, selanjutnya
dilakukan pencetakan dengan menuangkan campuran pada
plat polyethylene yg licin. Dibiarkan selam 5 jam pada
suhu 30 450C. Film yg ter- bentuk dilepas dr permukaan
cetakan, dan dikeringkan dan disimpan pada suhu ruangan
selama 24 jam.
10

Karateristik kemasan biodegradable


1. Karateristik mekanik: kemampuan film kemasan untuk
melawan beban mekanik, meliputi:
- kuat tarik ( tensile strength ): gaya tarik max yg dpt ditahan
oleh film. Sangat dipengaruhi oleh bhn pemlastik

- kuat tusuk ( puncturer strength ): tusukan max yang dapat


ditahan oleh produk kemasan. Semakin kaku semakin >
- persen pemanjangan ( elongation to break ): Perubahan
panjang max sebelum film kemasan terputus.
- elastisitas ( young modulus ): tingkat kelenturan bahan
pengemas ( kebalikan % pemamjangan )
1. Permeabilitas : kemampuan melewatkan partikel gas dan
uap air pada suatu luasan bahan pada kondisi tertentu
( tekanan, RH, dan suhu tertentu )
Permeabilitas film kemasan dipergunakan sebagai penera
daya simpan produk yang dikemas.
Faktor yang berpengaruh thd permeabilitas:
1. sifat-sifat kimia polimer
2. struktur dasar polimer
3.sifat permeant
Sebagai contoh :
- polimer polisakarida dan protein
memiliki nilai permeabilitas uap air yang tinggi, dan
permeabilitas oksigen rendah, kemasan tersebut sangat baik
untuk penahan gas oksigen, atau untuk pengemas produk
yang masih mengadakan respirasi.
- Lipida ( glaserin )
memiliki permeabilitas uap air rendah, dan permeabilitas
oksigen yang tinggi, shg sangat baik untuk bhn pengemas
produk yang renspon thd uap air (udara luar)
2. Biodegradabilitas: sifat alamiah dari pengemas yang
berhub dg mudah tidaknya hacur, oleh pengaruh alam.
Proses degradasi :
a. fotodegradasi ( cahaya matahari, suhu )
b. degradasi kimiawi ( air, oksigen, gas lain-lain )
c. biodegradasi ( bakteri, jamur, alga, enzym )
d. degradasi mekanik ( angin, abrasi )
Kronologi proses biodegradasi secara umum:
1. Oksidasi molekul, menghasilkan polimer dengan berat
molekul yang lebuh rendah.
2. Serangan mikro-organisme ( bakteri, jamur, alga )
3. Aktivitas enzym
Pelaku biodegradasi:
Bakteri phototrop : Rhodospirillium, Rhodopsedomonas,
Chromatiunm, Thiocytis
Pembentuk endospora: Bacillus, Clotridium
Proses an-aerob: Zoogola, Azotobacter, Rhizobium

11

Labelling

Labelling : infomasi (keterangan) mengenai identitas produk.


Pedoman pelabelan produk pangan:
Peraturan Pem No 69 thn 1999, ttg: Label dan Iklan Pangan
Landasan operasional pelabelan:
SK Deputi Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya
No : Hk 00.06.62.122. tanggal 17 Maret 2003.

Pedoman Umum Pelabelan Produk Pangan tdr 13 Bab:


1. Ketentuan Umum Label Pangan
2. Nama Produk Pangan
3. Daftar Bahan atau Komposisi
4. Keterangan Berat Bersih atau Isi Bersih
5. Tulisan dan Gambar
6. Keterangan ttg Nama dan Al;amat Pabrik
7. Keterangan tanggal Kadaluarsa
8. Keterangan ttg Nomor Pendaftaran
9. Keterangan ttg Kode dan tanggal Produksi
10. Ket ttg Cara Penyajian, Penggunaan dan Penyimpanan
11. Pelabelan Gizi
12. Klaim pada Label Umum : fungsi gizi, kandungan zat gizi,
klaim perbandingan zat gizi, klain kesehatan dan klaim halal
13. Hal-hak yang dilarang Pencantuman pada Label Pangan.

Sertifikasi Pangan meliputi:


Keterangan halal, nama produk, kandungan isi, kwantitas
isi, identifikasi asal produk, informasi gizi , waktu kadaluarsa,
keterangan cara penyajian/ penggunaan.
Ad 1. Sertifikasi halal
Meliputi bahan baku produk, bahan tambahan (food adtv),
dan proses produksinya
Auditor:
1. LP POM memfokuskan audit bahan dan proses
2. Badan POM memfokuskan audit Penerapan CPMB
3. DEPAG memfokuskan audit pertanggungjawaban halal
Hasil audit:
1. Apabila tidak memenuhi syarat CPMB dibahas di Badan
POM untuk ditidak lanjuti
2. Hasil audit mengenai ke-halalan di bahas di LP POM MUI,
bila memenuhi syarat diteruskan ke Komisi Fatwa, untuk
mendapatkan sertifikat halal , dan produk sudah bisa
mencantumkan logo,, Halal pada kemasan.
12

Ad 2. Nama produk
Nama produk pada labelnya mrpk informasi utama dan
sedapat mungkin informasi itu sedetail mungkin, shg
memungkinkan konsumen dpt meng-identifikasi produk
sesuai yang dikehendaki. Contohnya: susu bubuk, gula pasir,
susu UHT (ultra high temp), bakpia pathok, Ayam Goreng
Mbok Berek,Keripik Sokaraja, Wajik Ny.Week

Ad 3. Kandungan isi
Meliputi semua bahan subtansi yang tdpt dalam kemasan,
termasuk zat aditif, disusun berturut-turut dari bahan yg besar
prosentasinya ke bahan yang lebih kecil %.
Namun bahan2 spt: kentang, cuka, dan zat aditif yang
hilang/tak tampak selama proses produksi tak perlu
dimasukan. Bahan aditif yang perlu dicantumkan dalam label
adalah substansi sintetis atau alami yg dpt menambah
penampilan: bau, rasa, maupun aroma.
Misal: frambozen, vanili.
Di Eropa food adtv yg dicantumkan dengan kode, misalnya:
- E 200 = asam sorbat
- E 201 = Na sorbat
- E 300 = asam askorbat
- E 311 = oktil gallat
- E 320 = butilhidroksilanisol ( BHA )
- E 321 = butilhidroksiltoluen ( BHT )
Ad 4.Kuantitas (isi)
Produk pangan/minuman wajib mencantumkan kuantitas
produk, sebab sangat erat kaitannya dengan harga maupun
daya beli, umumnya dalam satuan volume : liter, ml
Satuan bobot : Kg, gram
Ad 5. Identifikasi asal produk
Umumnya dinyatakan dalam kode bergaris (bar kode) yang
tersusun secara vertical, dibawahnya ada angka yang hanya
dapat dibaca dengan teknologi optik, dan dapat diprogram
nilai/harga jual produk,
Jumlah garis 13 yang meng-identifikasikan:
- 2 angka pertama menunjukan negara asal
- 5 angka berikutnya menunjukan pabrik pembuat & distributor
- 5 angka berikutnya merupakan jenis produk
- 1 angka terakhir adalah angka kontrol
13
Ad 6. Waktu kadaluarsa (expired date )
Dinyatakan dlm 3 cara:
1. Tanggal Akhir Konsumsi (TAK)
Dipergunakan khusus untuk produk pangan kemasan yang
mudah rusak, yang memiliki daya simpan 6 8 minggu
Contoh: susu pasteurisasi, yoghurt, krim, dan keju.
Produk ini biasanya disertai cara penyimpan produk sampai
mencapai tanggal akhir mengkonsumsi.

Contoh penulisan:,, Baik dipergunakan sebelum tgl,bln,thn


Tgl kadaluarsa terlampui produk harus ditarik dari pasar.
2. Tanggal Akhir Penggunaan Optimal (TAPO)
Dipergunakan untuk produk pangan kemasan yg memiliki
daya simpan lebih dari 6 minggu.
Contoh penulisan TAPO :
- sebaiknya digunakan ..
- Dikonsumsi sebelum ..........................................
Jika lama TAPO kurang dari 3 bln, yg ditulis tanggal dan bln,
Jika daya simpan 3 18 bulan yang ditulis bulan & tahun.
Jika produk tahan > 18 bulan, yang dicantumkan tahun saja .
3. Tanggal Pembuatan (TP)
Digunakan untuk produk yang memiliki daya simpan lama
Misal: pangan beku, susu bubuk kering, mentega
Contoh cara penulisan produk yang dibuat 24 April 1997
Ditulis : 24.4. 97; 113
- 3 angka pertama menunjukan tgl, bln & thn pembuatan
- Angka ke 6 menunjukan lama waktu tht 1 Januari 1997
sampai produk diproduksi.
Beberapa produk yg boleh tidak mencantumkan tgl kadaluarsa,
tetapi harus mencantumkan tgl pembuatan:
- Sayur dan buah segar
- Minuman beralkohol . 10 %
- Vinegar atau cuka
- Gula (sukrosa)
- Bhn tambahan makanan yg memiliki masa simpan >18 bln
- Roti dan kue yg memiliki masa simpan = 24 jam
Ad 7. Keterangan cara penyajian/ penggunaan
Biasanya dipergunakan untuk produk makanan/minuman
yang memerlukan perlakuan pengolahan lanjut.
Misalnya: produk Mie superior, Indomie, Cofe milk
Bubur bayi, Tiwul instan dll
14
Ad 8 Keterangan ttg pelabelan Gizi
Pelabelan gizi wajib dicantumkan
1. Pangan yg disertai pernyataan bhw pangan mengandung
vitamin, mineral, atau zat gizi lainnya yg ditambahkan.
2. Pangan yang berdasarkan ketentuan UU yang berlaku
dibidang Mutu Dan Gizi Pangan wajib ditambahkan
vitamin, mineral, dan/atau zat gizi lainnya
Zat gizi yang dicantumkan :
1. Zat energi (karbohidrat, lemak, protein)

2. Serat kasar (zat memperlancar transit digestif)


3. Gula sederhana (sakarosa, glukosa, fruktosa)
4. Protein (asam amino)
5. Lemak (tak jenuh, maupun lemak jenuh)
6. Vitamin dan mineral
Ket: khusus untuk zat energi umumnya dinyatakan dalam
bentuk satuan kalori (Kcal atau cal), utk satuan internasonal
biasanya menggunakan satuan kilojoule (kJ)
Contoh : 1 gram protein/karbohidrat menyumbang 4 Kcal,
1 gram lemak menyumbang 9 Kcal )
Hal-hal yg perlu diperhatikan dalam pelabelan gizi :
1.Ukuran takaran saji : yi ukuran sejmlh pangan yg dikonsumsi
setiap kali makan. Contoh : 1 sendok teh
= 5 ml
1 sendok makam = 10ml
1 gelas
= 200 ml
2. Jumlah sajian kemasan
3. Kandungan energi per takaran saji (dlm kal)
4. Kandungan protein persajian (gram)
5. Kandungan karbohidrat persajian (gram)
6. Kandungan emak persatuan saji (gram)
7. Prosentase dari angka kecukupan gizi (AKG)
Contoh :
1. Apabila kandungan vitamin A = 15 40 % dari AKG, ditulis:
Diperkaya vitamin A
2. Apabila < 15 % ditulis : Secara alami kaya akan...................
Pada label biasanya tdpt tanda-tanda yang menyatakan
kualitas tertentu didasarkan asal produk, misal perusahaan air
minum: mencantumkan asal air dari gunung X, Air Cakra
Getuk dari kota M , Brem dari Madiun
Wingko dari Babad , Empek-Empek Palembang dll
15