Anda di halaman 1dari 56

KARSINOMA KOLON

DAN
ASPEK RADIOLOGIS
Disusun oleh:
Eva Luchinta (406117094)
KEPANITERAAN RADIOLOGI FAKULTAS
KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TARUMANAGARA
Periode: 16 pril-18 Mei 2012

ANATOMI, HISTOLOGI,
DAN FISIOLOGI

ANATOMI USUS BESAR


sus besar dimulai dari ileocaecal junction sampai anus.
sus Besar terdiri dari:

Cecum
Kolon ascendens
Kolos transcendens
Kolon descendent
Kolon sigmoid
Rectum
Canalis analis

ANATOMI
P

anjang usus besar secara


keseluruhan kurang lebih: 1,5m
D

iameter terbesar adalah cecum


(8,5 cm)
D

iameter terkecil adalah sigmoid


(2,5 cm)

ANATOMI
iperdarahi oleh a/v
mesenterica Superior,
a./v. mesenterica inferior
dan cabang-cabangnya.

HISTOLOGI
apisan-lapisan pada usus
besar:

Tunica
Tunica
Tunica
Tunica

serosa
muscularis
submucosa
mucosa

FISIOLOGI
ungsi usus besar:

Menyerap air, vitamin, mineral


Ekskresi mukus
Menyimpan feses
Mendorong feses

KARSINOMA KOLON

DEFINISI

arsinoma kolon adalah tumbuhnya sel


kanker yang ganas di dalam
permukaan usu besar atau rektum.
(
Boyle & Langman, 2000 : 805)

arsinoma kolon adalah pertumbuhan


sel yang bersifat ganas yang tumbuh
pada kolon dan menginvasi jaringan
sekitarnya.
(
Tambayong, 2000: 143)

EPIDEMIOLOGI
K
anker kolorektal didunia mencapai urutan ke-4. WHO mengestimasikan terjadi
945.000 kasus baru setiap tahun dengan 492.000 kematian.
P
erbandingan antara pria dan wanita 19,4 : 15,3 (per 100.000 penduduk)
K
anker kolorektal lebih sering terjadi di negara maju dibandingkan dengan negara
berkembang.
B
erdasarkan survei WHO, di USA, kanker kolorektal merupakan penyebab kematian
ke-2 terbesar akibat kanker. Pada tahun 2002 ditemukan 139.534 orang dewasa yang
didiagnosa menderita kanker kolorektal dan sebanyak 56.603 diantaranya yang
meninggal dunia.

EPIDEMIOLOGI
i AS umumnya rata-rata kanker kolorektal adalah berusia 67 tahun dan lebih
dari 50% kematian terjadi pada mereka yang berusia di atas 55 tahun.
edangkan di Indonesia, seperti yang terdapat pada laporan registrasi kanker
nasional yang dikeluarkan oleh Direktorat Pelayanan Medik Departmen
Kesehatan bekerja sama dengan Perhimpunan Patologi Anatomik Indonesia,
didapatkan angka yang agak berbeda. Hal yang menarik di sini adalah
kecenderungan untuk umur yang lebih muda dibandingkan dengan laporan
dari negara barat. Untuk usia di bawah 40 tahun data dari bagian Patologi
Anatomik FKUI didapatkan angka 35,26%.

ETIOLOGI
aktor lingkungan:
Kandungan dari makronutrien dan mikronutrien berhubungan
dengan kanker kolorektal.
Lemak hewani terutama, dari sumber daging merah,
berpengaruh pada kejadian kanker kolorektal.
Diet lemak tinggi meningkatkan prolifrasi kolonosit dan
pembentukan tumor.

aktor genetik:
Kanker kolorektal terjadi sebagai akibat dari kerusakan genetik
pada lokus yang mengontrol pertumbuhan sel. .
Terdapat 2 mekanisme yang menimbulkan instabilitas genom dan
berujung pada kanker kolorektal yakni;

Instabilitas kromosom (Cromosomal instability/ CIN)


Instabilitas mikrosatelit (microsatellite instability/ MIN).

ETIOLOGI
enyakit yang berhubungan dengan kanker kolorektal
Idiopathic Inflammatory Bowel Disease
Ulseratif Kolitis
Penyakit Crohns

FAKTOR RISIKO
Usia
Adan
ya polip pada kolon, khususnya polip jenis adenomatosa.
Riwa
yat kanker
Kebia
saan merokok
Gaya
Hidup yang memiliki kebiasaan diet tinggi lemak dan sedikit buah,sayuran,ikan.
Sedik
it beraktivitas atau tidak olah raga.
Invek
si Virus. Virus tertentu seperti HPV (Human Papilloma Virus)

FAKTOR RESIKO

JENIS-JENIS
deno Karsinoma
Diferensiasi baik
Diferensiasi sedang
Diferensiasi jelek

eiomiosarkoma

imfoma maligma

PATOFISIOLOGI
F
aktor etiologi dan faktor resiko bertumbuhan sel yang abnormal
tumor/ karsinoma.

K
arsinoma Colon sebagian besar menghasilkan adenomatus polip.
P
enyakit ini menyebar dalam beberapa metode. Tumor mungkin
menyebar dalam tempat tertentu pada lapisan dalam di perut,
mencapai serosa dan mesenterik fat.

PATOFISIOLOGI

emudian tumor mulai melekat pada organ yang ada disekitarnya,


kemudian meluas kedalam lumen pada usus besar atau
menyebar ke limpa atau pada sistem sirkulasi.

istem sirkulasi ini langsung masuk dari tumor utama melewati


pembuluh darah pada usus besar melalui limpa, setelah sel
tumor masuk pada sistem sirkulasi, biasanya sel bergerak
menuju liver.

PATOFISIOLOGI
empat yang kedua adalah tempat yang jauh
kemudian metastase ke paru-paru. Tempat
metastase yang lain termasuk : kelenjar
Adrenalin, ginjal, kulit, tulang, dan otak.

GEJALA KLINIS
Perubaha
n pola buang air besar
perdaraha
n per anus (hematokezia dan konstipasi).
Perdaraha
n invasi lokal kakheksia,
Obstruksi
kolon
Obstruksi parsial ditandai nyeri abdomen.
Obstruksi total akan menyebabkan nausea, muntah, distensi, dan obstipasi.

Anemia
defesiensi besi.
Tenesmus,
hematuria
, infeksi saluran kemih berulang dan obstruksi uretra.
Asites
maligna .

KARSINOMA KOLON KANAN


yeri tumpul
eraba massa pada 1/3 kasus
nemia
ering diare
ifat tumor
Fungating
Besar ulserasi rapuh

KARSINOMA KOLON KIRI


Keluhan yang sering
konstipasi Kadang dapat
juga diare
Keluhan kaliber feses
megecil
Keluhan obstruksi
Sifat tumor

Tumbuh anuler
dan konstrikting
sehingga
menyebabkan
obstruksi

KARSINOMA REKTUM
Berak darah dan lendir
Tenesmus
Sering didiagnosa sebagai
hemorhoid
Sifat tumor
Ulseratif
Vegetatif
Infiltratif
Diagnosa
Colok dubur
Proktoskopi
Sigmodoskopi

STAGING
D
UKES (1932) menciptakan stadium patologi berdasarkan
:
Kedalaman invasi dinding kolon
Adanya metastase kelenjar

S
tadium menurut DUKES populer karena :

Mudah dilakukan
Mudah diingat
Mudah dimengerti
Praktis

STAGING DUKES
ukes A :
Mukosa dan muskularis
mukosa
Kelenjar negatip

ukes C2 :
Kelenjar pangkal
pembuluh darah positip

ukes B :
Seluruh dinding kolon
Kelenjar negatip

ukes C1 :
Seluruh dinding kolon
Kelenjar sekitar kolon
positip

ukes D :
Metastase ke organ
yang berdekatan
Metastase jauh (hepar,
paru)

STAGING

DIAGNOSIS
iagnosis karsinoma kolon ditegakkan melalui:
Anamnesa
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium
Radiologis
Kolonoskopi
Histopatologis.

ANAMNESA
P
erubahan pola defikasi

ematokesia dan berlendir


F

rekuensi

enesmus
K

onsistensi tinja

yeri perut
K

onstipasi

olik
K

aliber

enetap

PEMERIKSAAN FISIK
emeriksaan fisik mungkin tidak banyak menolong
dalam menegakkan diagnosis, tetapi hal dibawah ini
perlu diperhatikan:

Anemia
Massa dirongga abdomen
Tanda obstruksi
Darah dan lendir pada rectal toucher (colok dubur )
Penurunan berat badan

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pem

eriksaan laboratorium
Ra

diologis
End

oskopi dan Virtual Colonoscopy


Hist

opatologis
Wh

ole-body PET Scan Imaging


Pemeriksaan diagnostik yang paling akurat untuk mendeteksi kanker kolorektal rekuren.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
emeriksaan darah lengkap (hemoglobin dan hematokrit)

est guaiac pada feses

est kolon albumin

arcino Embryonic Antigen (CEA)

ENDOSKOPI DAN VIRTUAL


COLONOSCOPY
roktoskopi
Deteksi kelainan 8 10
cm dari anus

ektosigmoidoskopi
Deteksi kelainan 20 25
cm dari anus

olonoskopi
Dapat mencapai seluruh
kolon

anfaat Kolonoskopi

Diagnostik
Biopsi untuk kofirmasi
Ekstirpasi polip
Mengelola perdarahan
Follow up kelainan kolon
Deteksi dini kanker atau
skrening proses lain
Dilatasi anastomose
Mengambil benda asing

ASPEK RADIOLOGIS
Foto polos

abdomen (BNO)
Barium

enema single contrast


Barium

enema double contrast


Ultrasonog

raphy ( USG )
Computeriz

ed Tomography Scanning ( CTScan )


Magnetic

Resonance Imaging ( MRI )


Foto

thoraks apakah ada metastase

GAMBARAN BNO NORMAL

AP

SUPIN
E

LLD

SINGLE CONTRAST

Apple core lesion. Image from a single-contrast barium enema examination sh

APPLE CORE LESION. IMAGE FROM A SINGLE-CONTRAST BARIUM ENEMA


EXAMINATION SHOWS A STRICTURE OF THE SIGMOID COLON WITH SHOULDERED
MARGINS DUE TO AN ANNULAR CARCINOMA.

CODDMAN TRIANGLE

DOUBLE CONTRAS

DOUBLE CONTRAS

USG

USG

CT-SCAN

CT-SCAN

MRI ABDOMEN

COLONOSCOPY

PENYEBARAN
Penyebaran langsung ke organ sekitar tumor
Hematogen :
sistem porta hepar
sistemik
paru
Limfogen:
kelenjar para kolon
kelenjar meso kolon
kelenjar para aorta
Trans peritoneum:
rongga peritoneum disebut abdominal
karsino
matosis
Intra lumen:
Jarang terjadi pada mukosa yang utuh

PENATALAKSANAN
embedahan/ operasi

erapi radiasi

emoterapi

emoprevensi

DETEKSI DINI
Dilakukan dengan skrining pada golongan resiko tinggi
1. Penderita dengan familial adenomatous polip
- skrining dimulai pada usia pubertas
2. Penderita dengan hereditary non poliposis colorectal
cancer (HNPCC)
- skrining dimulai pada usia 21 tahun
3. Penderita dengan penyakit infeksi usus (ulcerative colitis)
- skrining 7-8 tahun setelah diagnosa
4. Ada riwayat keluarga yang menderita kanker atau
kondisi pre maligna yang lain
- skrining dimulai pada usia 30 tahun

DAFTAR PUSTAKA
D
avid Sutton.Textbook of Radiology and Imaging(2-volume set ).Seventh Edition. Elsevier Science : 2003
S
imadibrata K. (editor), Siti Setiadi (editor). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Ed V Interna. Publishin Jakarta : 2009
S
jahrir Rasad. Radiologi diagnostik. Ed II.Balai penerbit FKUI,Jakarta : 2009
w
w
w
.
s
c
r
i
b
d
.
c
o
h
m
t
t
p
:
/

TERIMA KASIH