Anda di halaman 1dari 17

TUGAS FARMAKOLOGI TERAPAN

STUDI KASUS PNEUMONIA I

KELOMPOK III
Ayu Arditha

(2015000017)

Ayu Astini

(2015000018)

Ballyna Cassanova

(2015000019)

Bernazal M

(2015000020)

Bonita Wening

(2015000021)

Chelson Fernico

(2015000022)

Chici Agimas

(2015000023)

Cicin Cintarsih

(2015000024)

Desi S. N

(2015000144)

Elisa

(2015000145)

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PANCASILA
JAKARTA
2015

BAB I
PENDAHULUAN

A. PNEUMONIA
1. Definisi
Secara klinis pneumonia didefinisikan sebagai suatu peradangan paru yang di
sebabkan oleh mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit). Pneumonia yang
disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis tidak termasuk. Sedangkan peradangan
paru yang disebabkan oleh nonmikroorganisme (bahan kimia, radiasi, aspirasi bahan
toksik, obat-obatan dan lain-lain) disebut pneumonitis.
2. Etiologi
Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme, yaitu bakteri,
virus, jamur dan protozoa. Nasib partikel infeksi yang terhirup namun masih berada
di jalan napas kecil dan alveoli berbeda sesuai dengan agen infeksi yang masuk.
Streptococcus pneumoniae menyebabkan eksudat inflamasi dalam jumlah besar ikut
membantu bakteri penyerang melalui pori yang ada di dalam alveoli hingga
dihancurkan oleh septum yang memisahkan lobus paru-paru. Sebaliknya influenza
menyebabkan inflamasi epitel pernapasan di dalam trakea dan bronki. Hal ini dapat
menyebabkan

desquamation dan pneumonia hemoragi, atau infeksi bakteri

sekunder, yang menyebabkan paling sering disebabkan oleh Staphylococcus aureus.


CAP berat paling sering terjadi karena Streptococcus pneumoniae, Legionella
pneumophila atau Klebsiella sp. Pneumonia yang lebih ringan dengan onset lebih
lambat (dimana terjadi batuk dan susah bernapas tanpe produksi dahak secara jelas)
dapat disebabkan oleh Mycoplasma pneumonia.
3. Klasifikasi Pneumonia
a. Berdasarkan Klinis dan epideologis :
1) Pneumonia komuniti (community-acquired pneumonia)
2) Pneumonia nosokomial (hospital-acquired pneumonia / masocomial
pneumonia)
3) Pneumonia aspirasi
4) Pneumonia pada penderita Immunocompromised

b. Berdasarkan bakteri penyebab

1) Pneumonia bakterial/tipikal. Dapat terjadi pada semua usia. Beberapa


bekteri mempunyai tendensi menyerang seorang yang peka.
2) Pneumonia atipikal, disebabkan Mycoplasma, Legionella dan Chlamydia
3) Pneumonia virus
4) Pneumonia jamur sering merupakan infeksi sekunder. Predileksi terutama
pada penderita dengan daya tahan lemah (immunocompromised).
c. Berdasarkan predileksi infeksi
1) Pneumonia lobaris. Sering pada pneumonia bakterial, jarang pada bayi dan
orang tua. Pneumonia yang terjadi pada satu lobus atau segmen
kemungkinan sekunder disebabkan oleh onstruksi bronkus misalnya : pada
aspirasi benda asing atau proses keganasan
2) Bronkopneumonia. Ditandai dengan bercak-bercak infiltrat pada lapangan
paru. Dapat disebabkan oleh bakteria maupun virus. Sering pada bayi dan
orang tua. Jarang dihubungkan dengan obstruksi bronkus.
3) Pneumonia interstisial
4. Epidemiologi
Infeksi saluran napas bawah masih tetap merupakan masalah utama dalam kesehatan,
baik di negara yang sedang berkembang maupun yang sudah maju. Dari data
SEAMIC Health Statistic 2001 influenza dan pneumonia merupakan penyebab
kematian nomor 6 di Indonesia, nomor 9 di Singapura, nomor 6 di Thailand dan
nomor 3 di Vietnam. Laporan WHO menyebutkan bahwa penyebab kematian
tertinggi akibat infeksi di dunia adalah infeksi saluran napas akut termasuk
pneumonia dan influenza.
Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga Depkes tahun 2011, penyakit saluran
napas bawah menempati urutan ke-2 sebagai penyebab kematian di Indonesia. Di
SMF Paru RSUP Persahabatan tahun 2011 infeksi juga merupakan penyakit paru
utama, 58 % diantara penderita rawat jalan adalah kasus infeksi dan 11,6 %
diantaranya kasus nontuberkolisis, pada penderita rawat inap 58,8 % kasus infeksi
dan 14,6 % diantaranya kasus nontuberkolosis. Di RSUP H. Adam Malik Medan
53,8 % kasus infeksi dan 28,6 % diantaranya infeksi nontuberkolosis. Di RSUP Dr.
Soetomo Surabaya didapatkan data sekitar 180 pneumonia komuniti dengan angka
kematian antara 20 35 %. Pneumonia komuniti menduduki peringkat keempat dan
sepuluh penyakit yang dirawat per tahun.

5. Terapi

Dengan semakin berkembangnya resistansi obat, pengobatan empiris tradisional


semakin tidak efektif. Oleh sebab itu, pilihan antibiotik sebaiknya didasran kepada
materi terisolasi dan uji sensitivitas. Menurut tinjauan Cochrane tentang penggunaan
antibiotik untuk CAP pada orang dewasa, temuan RCT tidak memadai untuk
mengambil keputusan berdasarkan bukti yang ada. Diperlukan studi lebih lanjut
untuk mengambil keputusan semacam ini. Untuk anak-anak, Conchra menemukan
bahwa amoksisilin atau prokain penisilin menimbulkan efek yang lebih besar
daripada kotrimoksazol untuk pnegobatan CAP. Di tatanan rumah sakit, penisilin dan
gentamisin ditemukan lebih efektif daripada kloramfenikol, dimana amoksisilin oral
memberikan hasil yang sama dengan penisilin suntik. Dalam sebuah review lain
terhadap anak-anak yang menderita pneumonia berat, antibiotik oral ditemukan sama
efektifnya dengan antibiotik suntik, tanpa efek samping berupa risiko infeksi dan
tanpa biaya yang tinggi. Masih menurut sebuah review di Cochrane, azitromisin
ditemukan tidak lebih baik daripada Amoksisilin atau Amoksisilin beserta asam
clavulanat

dalam

pengobatan

infeksi

saluran

pernapasan

bawah.

AMH

mencantumkan Amokisisilin sebagi pengobatan terdepan untuk eksaserbasi akut


bronchitis kronis dan CAP, dimana azitromisin intravena merupakan pengobatan
terdepan jika risiko kematian tinggi. Untuk CAP berat, penggunaan gentamicin
intravena dan ticarcillin beserta asam clavulanat lebih dianjurkan.
Pengobatan antibiotik tidak boleh ditunda jika pneumonia dicurigai ada, karena
kondisi pasien bisa memburuk dengan cepat. Transfer ke rumah sakit harus
dilakukan dengan segera untuk pasien yang mengalami pusing, hipotensi, atau angka
respirasi lebih dari 30 tarikan napas per menit. Untuk meningkatkan kelangsungan
hidup, dosis antibiotik yang pertama harus diberikan dengan injeksi sebelum pasien
pulang; benzilpenisilin adalah pilihan yang tepat.
Suatu sampel sputum dapat diperoleh untuk kultur dan sensitivitas, namun terapi
antibiotic tidak boleh ditunda saat menunggu hasilnya. Amoksisilin masih menjadi
pengobatan empiris pertama pada CAP meskipun penyebaran rantai S. pneumorziae
meningkat disertai penurunan kerentanan terhadap penisilin. Penisilin juga tidak
memiliki khasiat melawan M. pneumonia, C. pneumonia, dan L. pneumophila.
Antibiotik golongan makrolid dapat digunakan pada pasien yang alergi terhadap
penisilin, atau jika penisilin gagal, atau ketika dicurigai adanya M. pneumorziae.
Eritromisin adalah pilihan yang cocok meskipun frekuensi resistansi semakin
meningkat dan rekomendasi ini dapat berubah di masa yang akan datang.

Terapi antibiotika untuk Pneumonia :


Subgrup

Ringan

Berat
Berat dan resiko
P. aeruginosa

Obat pilihan utama


Penisilin G; macrolid;
aminopenisilin;
macrolid;
co-amoxiclav; macrolid;
cephalosporin generasi
ke-2 dan 3
Cephalosporin generasi
ke-3 dan makrolida
Anti-pseudomonal
Cephalosporin +
ciprofloxacin

Alternatif
Lecofloxacin, moxifloxacin

Cephalosporin generasi ke-3 +


(levofloxacin atau moxifloxacin)
Acylureidopenisilin/b-lactamase inhibitor +
ciprofloxacin atau Carbapenem +
ciprofloxacin

B. DISPEPSIA
1. Definisi dispepsia
Rasa nyeri atau tidak nyaman yang terutama dirasakan di daerah perut bagian atas,
sedangkan menurut kriteria Roma III terbaru, dispepsia fungsional didefinisikan
sebagai sindrom yang mencakup satu atau lebih dari gejala-gejala perasaan perut
penuh setelah makan, cepat kenyang, atau rasa terbakar diulu hati, yang berlangsung
sedikitnya dalam 3 bulan terakhir, dengan awal mula gejala sedikitnya timbul 6 bulan
sebelum diagnosis.
Menurut studi berbasiskan populasi pada tahun 2007, ditemukan peningkatan
prevalensi dispepsia fungsional dari 1,9 % pada tahun 1998 menjadi 3,3 % pada
tahun 2003. Istilah dispepsia sendiri mulai gencar dikemukakan sejak akhir tahun
1980-an, yang menggambarkan keluhan atau kumpulan gejala (sindrom) yang terdiri
dari nyeri atau rasa tidak nyaman di epigestrium, mual, muntah, kembung, cepat
kenyang, rasa penuh, sendawa, regurgitasi, dan rasa panas yang menjalar di dada.
Sindrom atau keluhan ini dapat disebabkan atau didasari oleh berbagai penyakit,
tentunya termasuk juga didalamnya penyakit yang mengenai lambung, atau yang
lebih dikenal sebagai penyakit maag.
2. Etiologi
Penyebab dari sindrom dispepsia adalah:
a. Adanya gangguan atau penyakit dalam lumen saluran cerna seperti tukak
gaster/duodenum, gastritis, tumor, infeksi H. pylori
b. Obat-obatan : seperti obat antiinflamasi non steroid (OAINS), aspirin, beberapa
jenis Antibiotik, Digitalis, teofilin, DSB
c. Penyakit pada hepar, pankreas, sistem billier : hepatitis, pankreatitis, kolesistitis
kronik

d. Penyakit sistemik seperti : DM, penyakit tiroid dan penyakit jantung koroner
e. Bersifat fungsional yaitu : dispepsia yang terdapat pada kasus yang tidak didapat
adanya kelainan atau gangguan organik yang

dikenal sebagai dispepsia

fungsional atau didpepsia non ulkus.


3. Klasifikasi
Dispepsia terbagi atas dua subklasifikasi yaitu dispepsia organik dan dispepsia
fungsional.
a. Dispepsia organik baru bisa dipastikan bila penyebabnya sudah jelas.
b. Dispepsia fungsional atau dispepsia non organik merupakan dispepsia yang tidak
ada kelainan organik tetapi merupakan kelainan fungsi dari saluran makanan.
Dispepsia fungsional dibagi menjadi dua kelompok, yakni postprandial distress
syndrome dan epigastric pain syndrome. Postprandial distress syndrome
mewakili kelompok dengan perasaan bengah setelah makan dan perasaan cepat
kenyang, sedangkan epigastric pain syndrome merupakan rasa nyeri yang lebih
konstan dirasakan dan tidak begitu terkait dengan makan seperti halnya
postprandial distress syndrome.
4. Epidemiologi
Sebanyak 15-30% dari populasi umum pernah mengalami dispepsia. Dispepsia
dijumpai pada 30% dari pasien dokter praktik umum dan 60% dari semua pasien di
klinik gastroenterologi. Di negara barat, prevalensi dispepsia sebesar 7-14%. Dari
angka tersebut, yang berobat hanya 10-20%. Di Indonesia, data secara nasional
belum ada. Survei pernah dilakukan di Jakarta dan hasilnya menunjukkan 60% dari
1.650 penduduk yang disurvei mengalami dispepsia. Lain halnya dengan prevalensi
di Amerika Serikat yang besarnya 26% dan Inggris 41%.
Beberapa data penelitian epidemiologis yang berbasis populasi mengenai
dispepsia fungsional menunjukkan keterbatasan logistik untuk menyingkirkan
adanya penyakit struktural pada orang dengan jumlah yang besar. Prevalensi
uninvestigated dispepsia (UD) secara global bervariasi antara 7% - 45%, tergantung
dari definisi yang digunakan dan lokasi geografik, sedangkan prevalensi dispepsia
fungsional bervariasi antara 11% - 29,2%.
Menurut studi berbasiskan populasi pada tahun 2007, ditemukan peningkatan
prevalensi dispepsia fungsional dari 1,9% pada tahun 1988 menjadi 3,3% pada tahun
2003. Dispepsia fungsional, pada tahun 2010, dilaporkan memiliki tingkat prevalensi
tinggi, yakni 5% dari seluruh kunjungan ke sarana layanan kesehatan primer.

Bahkan, sebuah studi tahun 2011 di Denmark mengungkapkan bahwa 1 dari 5 pasien
yang datang dengan dispepsia ternyata telah terinfeksi H. Pylori yang terdeteksi
setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan.
5. Terapi
Penanganan pertama dilakukan dengan melihat alarm symptoms, yaitu anemia,
disfagia, hematemesis melena, berat badan turun, dan ada tanda obstruksi dari
esofagus. Jika tidak ada alarm symptoms, langsung diberi terapi empirik berupa obat.
Eksplorasi diagnostik dilakukan jika ada alarm symptoms, seperti endoskopi. Dari
tindakan tersebut dapat diketahui penyebabnya, organik atau tidak teridentifikasi.
Jika penyebabnya organik maka dilakukan terapi definitif, sedangkan yang tidak
teridentifikasi diklasifikasikan sebagai dispepsia fungsional. Dalam konsensus
penatalaksanaan dispepsia 2003 yang dipresentasikan dr. Untung, jika alarm
symptoms negatif maka diberikan terapi obat selama 2 minggu, antara lain antasid,
H2 reseptor antagonis/Proton Pump Inhibitor, atau prokinetik. Jika gejala sudah tidak
ada maka terapi bisa dihentikan. Kondisi ini bisa berulang dan maksimal 3 kali.
Setelah itu dirujuk ke gastroenterologis atau internist dengan fasilitas endoskopi.
Terkait dispepsia fungsional, penanganan yang pertama yaitu memastikan
kepada pasien bahwa tidak ada kelainan pada saluran cerna bagian bawah.
Selanjutnya pasien dianjurkan untuk bergaya hidup lebih baik, misalnya konsumsi
makanan yang tidak menyebakan dispepsia dan berhenti merokok. Obat-obatan yang
bisa diberikan berupa antasid atau obat penghambat sekresi lambung, yaitu
H2receptor antagonis/PPI yang terdapat dalam Loprezole. Produk Pharmasolindo
ini dalam setiap kapsulnya mengandung Lansoprazole 30 mg, yang diindikasikan
untuk penanganan ulkus duodenum, tumor gastrik, ulkus gastrik, dan refluks
esofagus. Penggunaan dengan antasid tidak dianjurkan, karena dapat mereduksi
bioavailabilitas dari lansoprazole.
Pada pasien muda (usia kurang dari 40 tahun) dengan dispepsia tanpa disertai
alarm symptoms dapat diobati secara empiris dengan penghambat pompa proton atau
proton pump inhibitors (PPI), dengan atau tanpa prokinetik selama 2-3 minggu. PPI
harus diberikan dalam dosis omeprazole atau rabeprazole (20 mg), atau lanzoprazole
(30 mg), atau pantoprazole atau esomeprazole (40 mg) perhari. Endoskopi dianggap
tidak diperlukan karena keganasan dalam kelompok ini relatif rendah. Pilihan lain
adalah dengan melakukan tes non-invasif terhadap H.Pylori (urea nafas atau antigen
tinja) dan mengobatinya sesuai hasil tes.

Prokinetik disarankan digunakan pada dispepsia tipe dismotilitas, antagonis


reseptor dopamin: metoklopramide, domperidon (10 mg TDS) dapat digunakan.
Antidepresan amitriptilin 25 mg menjelang tidur juga dapat membantu. Bila disertai
kecemasan dapat juga diberi lorazepam.

BAB II
STUDI KASUS

A KASUS
Nama Pasien

: Ny. W

Alamat

: Tambun Rengas RT 009/007

Umur/BB

: 32 Tahun / 45 kg

Tgl Masuk RS

: 13 Oktober 2014

a. Anamnesis Pasien

Diagnosa : CAP sp 52, sindrom dispepsia

Keluhan Utama : Sesak nafas sejak 2 minggu sebelum masuk RS, sesak
bertambah bila beraktifitas

Keluhan Lain : Demam kurang lebih 1 minggu naik turun, tidak terlalu tinggi,
mual, batuk selama 1 bulan, dahak kehijauan, nyeri di ulu hati sejak 2 minggu
SMRS.

b. Pemeriksaan Fisik
Data
Klinik

TD
(mmHg)
(120/80)

Respirasi Rate
(x/menit)
(14-20)

Saturasi
O2
(%)

Nadi
(x/menit)
(60-100)

Suhu Tubuh
(0C)

13/10/2014

110/80

30

82

102

36

14/10/2014

110/60

24

92

97

38

15/10/2014

110/70

28

92

88

39,9

16/10/2014

110/70

22

85

110

36,2

(36,6-37.2)

c. Data Klinik
Tangga
l
13/10

S
Sesak nafas sejak 2
minggu sebelum
masuk RS, sesak
bertambah bila
beraktifitas

Kes cm
TD : 110/70
N : 100
RR : 24
S : 36
Sat : 82%

CAP Sp 52
Sindrom dispepsia

IVFDNaCl
0,9% 500 ml /
12 jam
Ceftriaxon inj
1x2 gr
Azitromycin
1x500 mg
Ranitidin 2x50
mg
HP Pro 3x1

14/10

Sesak berkurang,mual Kes cm


TD : 110/70
N : 100
RR : 24
S : 36
Sat : 92%

CAP Sp 52
Sindrom dispepsia
Masalah:
hiponatremia,
hipoalbumin,
peningkatan enzim
transaminase

IVFDNaCl
0,9% 500 ml /
12 jam
Ceftriaxon inj
1x2 gr
Azitromycin
1x500 mg
Ranitidin 2x50
mg
HP Pro 3x1

15/10

Batuk,mual

Kes : cm
TD : 110/70
N : 88
RR : 28
S : 36,9
Sat : 92%

CAP Sp 52
Sindrom dispepsia
Masalah:
hiponatremia,
hipoalbumin,
peningkatan enzim
transaminase

16/10

Demam, batuk
berkurang,

Kes : cm
TD : 110/70
N : 110
RR : 22
S : 39,2
Sat : 85%

CAP Sp 52
Sindrom dispepsia
Masalah: peningkatan
enzim transaminase

IVFDNaCl
0,9% 500 ml /
12 jam
Ceftriaxon inj
1x2 gr
Ranitidin 2x50
mg
HP Pro 3x1
Fluimycil 3x1
C
IVFDNaCl
0,9% 500 ml /
12 jam
Ceftriaxon inj
1x2 gr
Ranitidin 2x50
mg
HP Pro 3x1
Fluimycil 3x1
C

d. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan
Hematologi
Darah rutin
Leukosit
Hitung jenis
Netrofil
Limfosit
Monosit
Eosinofil
Basofil
Eritrosit
Hemoglobin
Hematokrit
MCV
MCH

Nilai Rujukan
5-10
50-70
25-40
2-8
2-4
0-1
4,5-6,5
13,0-18,0
40-52
80-100
26-34
32-36
11,5-14,5
150-440

Satuan
Ribu/mm3
%
%
%
%
%
Juta/uL
g/dL
%
fL
pg
%
%
Ribu/mm3

Tanggal
13/10
11.6
81.6
46
4.2
0.8
0.1
4.6
11.8
37
79.3
25.7
32.3
14.3
379

15/10
9.45
84.8
38
4.8
0.5
0.2
4.1
10.7
33
81
26
32.2
13.33
371

Satuan

Hasil
13/10

e. Pemeriksaan Mikrobiologi
Spesimen: Sputum
Hasil:
BTA Negatif
Leukosit >40%
Epitel <10
f. Pemeriksaan Kimia Klinik
Pemeriksaan Kimia Klinik
Analisa Gas Darah
pH
PCO2
PO2
HCO3
TCO2
Base Excess
Std HCO3
Saturasi O2
Glukosa Darah Sewaktu
Elektrolit
Natrium (Na)
Kalium (K)
Klorida (Cl)
Albumin
Bilirubin Total
Bilirubin Direk
Bilirubin Indirek
AST (SGOT)
ALT (SGPT)

Nilai Rujukan
7,34-7,44
35-45
85-95
22-26
23-27
-2,5-2,5
22-26
96-97
<180

mmHg
mmHg
mmol/L
mmol/L
mmol/L
mmol/L
%
mg/dL

7,425
28,1
91,7
18,0
18,9
-4,8
20,6
97,3
98

135-145
3,5-4,5
98-109
3,4-5
0,1-1,1
0,1-0,4
0,0-0,7
0-37
0-40

mmol/L
mmol/L
mmol/L
g/dL
mg/dL
mg/dL
mg/dL
U/L
U/L

133
4,1
108
3,1
0,7
0,40
0,30
73
43

g. Profil Pengobatan Pasien


Nama Obat

Dosis
Lazim

Regimen
dosis

13

14

Azitromycin

500mg 1x
sehari

1x500 mg

HP Pro
(Ekstrak
Siccum)

3x Sehari

3x1 tab

VVV

V-V

-V-

-V

Ranitidin inj

50mg
2x sehari

2x50 mg

VV

VV

VV

tV

Ceftriaxon inj

1g Sehari
infeksi
yang parah
2-4g sehari

1x2 gr

Fluimycil syr
(Acetylcsteine)

200 mg
3x1

3x1C

15

16
STOP

B ANALISIS KASUS
1

Analisis anamnesa dan data klinik

Ny. W didiagosa CAP (Community Acquired Pneumonia) atau dengan kata lain
Pneumonia Komunitas, dan sindrom dispepsia yang ditandai dengan keluhan sesak nafas
sejak 2 minggu sebelum masuk RS, sesak bertambah bila beraktifitas, demam kurang
lebih 1 minggu naik turun, tidak terlalu tinggi, mual, batuk selama 1 bulan, dahak
kehijauan, nyeri di ulu hati sejak 2 minggu SMRS dan leukosit yang tinggi (46%) pada
hari pertama masuk rumah sakit. Menurut Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di
Indonesia, Pneumonia Komuniti adalah pneumonia yang didapat dimasyarakat.
Pneumonia komuniti ditandai dengan batuk-batuk bertambah, batuk produktif, demam,
leukosit 40%, respirasi rate 20 x/menit, saturasi O2 rendah 90%, pCO 35 mmHg.
Hal ini sesuai dengan anamnesa dan hasil pemeriksaan laboratorium pasien.
2

Tujuan pengobatan
a

IVFDNaCl 0,9% 500 ml / 12 jam


Indikasi: Digunakan untuk menjaga keseimbangan larutan elektrolit karena infus
ini berisi elektrolit Na dan Cl

Ceftriaxon inj 1x2 gr


Indikasi:

Antibiotik golongan sefalosporin generasi 3, digunakan untuk

pengobatan infeksi berat seperti penumonia atau saluran pernapasan bagian


bawah.

Dosis: inj 1 g/hari dalam dosis tunggal. Pada infeksi berat: 2-4 g/hari dosis
tunggal
Kontra indikasi: Alergi terhadap antibiotik golongan sefalosporin, gangguan
ginjal, kehamilan dan menyusui. Kontraindikasi untuk bayi di bawah 6 bulan
ES: Mual; muntah; diare.

HEMA: Eosinophilia; neutropenia; limfositosis;

leukositosis; trombositopenia; penurunan fungsi trombosit; anemia; anemia


aplastik; perdarahan. HEPA: Disfungsi hati, hasil tes fungsi hati yang abnormal
sementara.
c

Azitromycin 1x500 mg
Dosis lazim: 500 mg per hari
Indikasi: infeksi yang disebabkan oleh organisme yang peka, infeksi saluran
nafas atas, infeksi saluran nafas bawah (pneumonia, bronkitis), infeksi kulit dan
jaringan lunak, penyakit hubungan seksual
Kontra indikasi:gangguan fungsi hati
ES: mual, muntah nyeri perut, diare, konstipasi, pankreatitis, hepatitis, pusing
IO: berinteraksi dengan golongan siklosporin, antasida, antagonis kalsium,
antidepresan, antidiabetes, diuretik, teofilin

Ranitidin 2x50 mg
Indikasi : Gejala akut tukak duodenum dan mempercepat penyembuhannya.
Dosis kecil dapat mencegah kambuhnya tukak duodenum. Digunakan untuk
Pengobatan dan perawatan ulkus duodenum.
Dosis: oral: 150 mg 2 kali sehari (pagi dan malam) atau 300 mg sebelum tidur
(tukak lambung dan tukak duodenum) selama 4-8 mnggu. Injeksi i.v: 50 mg
yang diencerkan dalam 20 ml sodium klorida 0,9% (konsentrasi 25 mg/mL)
dapat diulang stiap 6-8 jam.
ES: Diare; mual; sakit perut; muntah; dispepsia; perut kembung; sembelit; mulut
kering; eruktasi; gastroenteritis; perdarahan dubur; melena; anoreksia; mulut
ulserasi; stomatitis; disfagia; gingivitis; nafsu makan meningkat.

HP Pro 3x1
Digunakan untuk pengobatan hepar

BAB III
PEMBAHASAN

Pada pneumonia komuniti yang dialami oleh Ny. W, dokter memberikan terapi antibiotika
azitrhomisin (1 x 500mg) secara peroral dan ceftriaxon (1 x 2g) secara intravena untuk
mengatasi kondisi tingginya nilai leukosit 46%. Pemilihan azithromisin dan ceftizoxime
sebagai antibiotika karena diduga lebih kuat melawan bakteri Gram negatif dibandingkan
Gram Positif. Azitromisin merupakan

antibiotika golongan makrolida yang mekanisme

kerjanya dengan menghambat sintesis protein sedangkan Ceftizoxime merupakan antibiotik


golongan sefalosforin generasi ketiga dengan mekanisme kerjanya adalah menghambat
sintesis dinding sel bakteri. Pemberian kedua obat ini lebih efektif terhadap bakteri

S.

Pneumoniae dan azitromisin yang efektif terhadap bakteri atipikal. Pasien Ny. W menderita
infeksi yang disebabkan oleh bakteri S. Pneumoniae.
Pasien juga mengeluh merasakan nyeri pada ulu hati (sindrom dispepsia). Pada kondisi
ini pasien diberi ranitidin injeksi. Ranitidin bekerja dengan cara memblok reseptor histamin
H2 dalam sel-sel parietal lambung sehingga menghambat sekresi asam lambung dimana asam
lambung berlebih dapat menimbulkan rasa tidak nyaman diperut sehingga menimbulkan nyeri
pada ulu hati. Dosis ranitidin yang dipakai yaitu 2x50 mg (1 ampul mengandung 25mg/mL x
2 mL) sehari. Dosis lazim ranitidin adalah 3-4 kali 50 mg sehingga dosis ranitidin yang
diberikan sebaiknya ditingkatkan.
Pada hari ke-4 dan ke-5 pasien juga diberikan obat fluimycil yang merupakan obat
golongan mukolitk karena pasien mengalami keluhan batuk. Fluimycil bekerja dengan cara
mengencerkan sekret saluran nafas dengan jalan memecah benang-benang mukoprotein dan
mukopolisakarida dari sputum. Selain itu fluimycil juga tidak memiliki efek samping tukak
lambung. Pada Ny. W pemberian Fluimicyl melebihi dosis lazimnya sehingga disarankan
untuk menurunkan dosisnya mengikuti dosis lazimnya yakni 200 mg 3 kali sehari. Dari hasil
pemerikaan fisik ditemukan adanya SGOT dan SGPT yang melebihi batas dikarenaka efek
samping dari pengguaan obat azitromicin sehingga untuk mengembalikan fungsi hati
diberikan HP pro.

BAB IV
KESIMPULAN

Hasil analisa kasus pasien Ny.W berdasarkan data pasien, SOAP pengobatan pasien, dan
studi literatur terkait, menghasilkan kesimpulan sebagai berikut:
1. Pasien Ny.W didiagnosa mengalami Pneumonia komuniti (Community Acquired
Pneumonia) yang disebabkan oleh bakteri S. Pneumoniae sehingga memerlukan terapi
dengan antibiotika yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri S. Pneumoniae, yaitu
dengan Azitromisin dan Ceftriaxone .
2. Pasien Ny.W juga memiliki nyeri pada ulu hati (sindrom dispepsia) sehingga diberikan
ranitidin injeksi dengan dosis 2x50 mg (1 ampul mengandung 25mg/mL x 2 mL) sehari.
Dosis yang diberikan terlalu rendah dari dosis lazim 50 mg tiap 6-8 jam sehingga perlu
dilakukan peningkatan dosis ranitidin menjadi 3 kali sehari.
3. Pasien Ny.W juga mengalami keluhan batuk sehingga diberikan Fluimycil

untuk

mengencerkan sekret saluran nafas dan tidak memiliki efek samping tukak lambung.
4. Penggunaan obat azitromicin dapat meningkatkan bilirubin total sehingga untuk
menurunkan kadar bilirubin total diberikan HP pro.

DAFTAR PUSTAKA

1. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2003. Pneumonia Komuniti : Pedoman Diagnosis


dan Penatalaksanaan di Indonesia.
2. Syamsudin dan Keban Sesilian Andriani. 2013. Buku Ajar Farmakoterapi Gangguan
Saluran Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.
3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2008. Informatorium Obat Nasional
Indonesia. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
4. Diambil dari: www. jurnalmedika.com. Diakses tanggal 25 September 2015.
5. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Interpretasi Klinik. 2011. Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

PERTANYAAN DAN JAWABAN DISKUSI (KELOMPOK 3 Pneumonia)


1. Mengapa antibiotik yang digunakan menggunakan obat kombinasi, sedangkan
azitromisin memiliki efek samping terhadap hati?
Penggunaan kombinasi diperlukan untuk menghindari risiko resistensi antibiotik yang
lebih besar. Umumnya pengobatan menggunakan antibiotik mengikuti standar yang telah
ditetapkan oleh rumah sakit berdasarkan empiris pada awal pengobatan.