Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN KASUS

FRAKTUR TERTUTUP HUMERUS KANAN 1/3


MEDIAL KOMINUTIF DISPLACED

Oleh :

dr. Jacky Junaedi

Pembimbing:

DR. Izaak Zoelkarnain Akbar, dr, Sp.OT (K)


PADA BAGIAN ORTOPEDI DAN TRAUMATOLOGI
RSUD ULIN BANJRAMASIN
1

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN


2015

BAB I
PENDAHULUAN

Fraktur berarti deformasi atau diskontinuitas dari tulang oleh tenaga yang
melebihi kekuatan tulang. Fraktur dapat diklasifikasikan menurut garis fraktur
(transversal, spiral, oblik, segmental, komunitif), lokasi (diafise, metafise, epifise)
dan integritas dari kulit serta jaringan lunak yang mengelilingi (terbuka atau
compound dan tertutup). 1
Fraktur humerus adalah salah satu fraktur yang cukup sering terjadi. Insiden
terjadinya fraktur shaft humerus adalah 1-4% dari semua kejadian fraktur.2 Fraktur
shaft humerus dapat terjadi pada sepertiga proksimal, tengah dan distal humerus.1,3
Fraktur korpus humeri dapat terjadi semua usia. Pada bayi, humerus sering
mengalami fraktur pada waktu persalinan sulit, atau cedera non-accidental.
Fraktur ini dapat menyembuh dengan cepat dengan pembentukan kalus massif dan
tidak perlu perawatan. Pada orang dewasa, fraktur pada humerus tidak umum
terjadi. Terdapat beberapa jenis fraktur, tetapi dapat dirawat dengan cara yang
sama. Jika perawatan dilakukan dengan baik, maka tidak akan menimbulkan
masalah.3
Komplikasi yang sering terjadi pada fraktur korpus humerus adalah cedera
nervus radialis.1-10 Biasanya hanya memar (neuropraksia) yang sembuh sempurna
secara spontan dalam waktu dua sampai empat minggu. Tetapi kadang-kadang
terjadi kerusakan yang permanen.1

BAB II
LAPORAN KASUS
1. Identitas Pasien
Nama

: Tn. R

Umur

: 35 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Jl. A. Yani Km 22 No 32 RT 11

Pekerjaan

: Pekerja Bangunan

RM

: 1156322

Tanggal Pendaftaran

: 3 Juli 2015 jam 15.00

2. Anamnesis
Keluhan Utama

: Nyeri pada lengan kanan atas

Riwayat penyakit sekarang :


Dialami sejak 5 jam sebelum masuk RS karena kecelakaan lalu lintas.
Pasien naik motor di daerah Banjarbaru. Pasien pengendara dengan kecepatan
sedang. Pasien diserempet oleh motor lainnya. Pasien terjatuh dan tangan
terkantuk setang motor. Pasien menggunakan helm dan tidak terlepas. Pasien tidak
ada pingsan, tidak ada muntah, tidak ada perdarahan telinga hidung dan mulut.
Pasien mengaluhkan tangan kanan atasnya sangat sakit dan sulit digerakan.
Tangan pasien juga bengak. Pasien masih bisa menggerakkan jari tanganya bebas.
Tidak ada kesemutan dan mati rasa pada tangan kanannya. Pasien tidak ada luka
di bagian tubuhnya. Pasien kemudian dibawa ke RS Banjarbaru, diberikan IV line,
pasien diberi penahan rasa dan tangan kanan dipasang bidai kayu.Pasien
merupakan pekerja bangunan. Pasien tidak ada riwayat alergi, tidak ada riwayat
sakit berat sebelumnya, pasien terakhir makan 7 jam sebelum masuk rumah sakit.
Riwayat Penyakit Dahulu :

Riwayat Asma

: disangkal

Riwayat DM

: disangkal

Riwayat Penyakit Jantung

: disangkal
4

Riwayat Hipertensi

: disangkal

Riwayat operasi

: disangkal

Riwayat Alergi Obat dan Makanan

: disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga :

Riwayat DM

: disangkal

Riwayat Asma

: disangkal

Riwayat Hipertensi

: disangkal

Riwayat Penyakit Jantung

: disangkal

Riwayat Alergi Obat dan Makanan

: disangkal

Riwayat Pribadi, Sosial dan Ekonomi


Pasien tinggal sendiri, bekerja sebagai pekerja bangunan, pembiayaan rumah sakit
BPJS
3. Pemeriksaan Fisik
a. Status Umum
: Sadar / Gizi cukup
b. Primary Survey:
A : tidak ada gangguan jalan napas
B : RR 20 x/menit
C : TD : 120/80 mmHg, N : 84 x/menit, akral hangat, capp refill < 2
D : GCS 15 (E4M6V5), pupil isokor 3mm/3mm
E : suhu 36,8 C, terdapat deformitas pada lengan atas sebelah kiri. Tidak
ditemukan deformitas dan jejas di tempat lain.
c. VAS
: 6 / 10
d. Secondary Survey:
Keadaan Umum : tampak lemah
Kesadaran/GCS
: Compos Mentis / GCS 15 (E4M6V5)
Vital Sign
: TD : 120/80 mmHg
N
: 84 x/menit
R
: 20 x/menit
T
: 36,8 C
Kepala

Mata
Telinga
Hidung
Mulut dan gigi

: Conjunctiva Anemis -/-, Sklera Ikterik -/: Discharge (-)


: Discharge (-)
: Kering pada bibir (-), pucat (-), sianosis (-)

Leher
5

Thyroid
Limfe
Deviasi trakea
Kaku kuduk

: tidak mengalami pembesaran


: tidak mengalami pembesaran
::-

Thorax
Jantung

Inspeksi

: Ictus cordis tak tampak

Palpasi

: Ictus cordis teraba tak kuat angkat

Perkusi

: Batas kanan ICS V LS dextra


Batas atas ICS II LPS sinistra
Batas pinggang ICS III LPS sinistra
Batas kiri ICS V 2 cm ke medial LMC (S)

Auskultasi

Inspeksi

: Simetris, retraksi otot bantu (-)

Palpasi

: Sterm fremitus kanan = kiri, ketinggalan gerak (-)

Perkusi

: Sonor seluruh lapangan paru kanan dan kiri

Auskultasi

: Suara dasar vesikuler +/+, Suara tambahan (-)

Inspeksi

: Datar

Auskultasi

: Bising usus (+) normal

Perkusi

: Timpani

Palpasi

: Nyeri tekan (-), hepar dan lien tak

: irama reguler, bising (-)

Paru

Abdomen

Genetalia

: Dalam batas normal

Ekstremitas

:
Superior

Warna

Sawo matang

Inferior
Sawo matang

Edema

+/-

-/-

Sianosis

-/-

-/-

Akral dingin

-/-

-/-

<2/<2

<2/<2

Capp refill

teraba

e. Status Lokalis

Lengan kanan atas


Inspeksi

: Deformitas (+), Swelling (+), Luka (-). Hematoma (-)

Palpasi

: Pembengkakan (+), Crepitasi (+), Nyeri tekan (+), hangat (+)

ROM

: Gerakan aktif dan pasif dari sendi pundak dan siku tidak dapat
dievaluasi karena nyeri

NVD

: Sensibilitas Normal, pulsasi dari arteri radialis teraba, ekstensi


jari jempol (+), ekstensi pergelangan tangan (+), abduksi dan
adduksi digiti (+), CRT <2 detik.

4. Laboratorium
a. WBC
b. RBC
c. HBG
d. HCT
e. PLT
f. PT
g. APTT
h. HBsAg
i. GDS
j. SGOT

: 10.830/ul
: 4.300.000/ul
: 13,4 g/dl
: 37,1 %
: 213.000/ul
: 9,7
: 25,9
: Non-reactive
: 126
: 45
7

k.
l.
m.
n.
o.
p.

5.

SGPT
Ureum
Creatinin
Na
K
Cl

: 58
: 21
: 0,9
: 143,2
: 3,7
: 111,4

Radiologi

Kesan : Fraktur os humerus dextra 1/3 tengah kominutif displaced


6. Resume
Seorang laki-laki 35 tahun datang kerumah sakit dengan keluhan utama
nyeri pada lengan kanan atas yang dialami sejak 5 jam sebelum masuk ke RS
Ulin. Pasien merupakan pengendara motor di depan yang diserempet leh motor
lainnya, pasien terjatuh dan tangan terbentur setang motor. Pasien tidak ada
penurunan kesadaran, tidak ada muntah, tidak ada perdarahan dari hidung telinga
dan mulut. Pasien tangan kanan atas nya bengkak dan terasa sangat nyeri. Jari-jari
tangan masih bisa digerakan bebas, tidak ada kesemutan dan masih hangat. Pasien
merupakan pekerja bangunan dan dominan tangan kanan. Dari pemeriksaan fisik,
didapat adanya deformitas, swelling, pembengkakan pada lengan kiri atas,
Crepitasi (+), Nyeri tekan (+), adanya Ektensi jari jempol (+), ekstensi

pergelangan tangan (-), Sensibilitasnya normal, pulsasi dari arteri radialis teraba,
CRT <2 detik.
Dari hasil gambaran radiologis menunjukan adanya fraktur kominutif dari
humerus dextra
7. Diagnosis
Fraktur tertutup humerus kanan 1/3 medial kominutif displaced

8. Terapi
IVFD RL
Analgetik
Pemasangan slab pada upper limb
ORIF
9. Temuan Operasi
Fraktur humerus dextra 1/3 tengah cominutif displaced
Dilakukan ORIF plate screw
10. X ray Pasca operasi (10/7/15)

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI

10

Fraktur humerus adalah diskontinuitas atau hilangnya struktur dari tulang


humerus yang terbagi atas :1
1. Fraktur Collum Humerus
2. Fraktur Batang Humerus
3. Fraktur Suprakondiler Humerus
4. Fraktur Interkondiler Humerus
B. ANATOMI
Humerus atau tulang pangkal lengan ada sepasang dan berbentuk tulang
panjang dan terletak pada brachium. Humerus berartikulasi dengan scapula di
proksimal dan dengan radius ulna di distal. Humerus dapat dibagi menjadi 3
bagian, yaitu proksimal humeri, shaft humeri dan distal humeri.4
Proksimal humeri
Pada proksimal humeri, terdapat caput humeri yang setengah bulat dan
dilapisi oleh tulang rawan. Caput humeri merupakan bagian humerus yang
berartikulasi dengan kavitas glenoidalis yang merupakan bagian scapula. Arah
caput humeri serong mediosuperior dan sedikit posterior. Caput humeri
dipisahkan dengan struktur di bawahnya oleh collum anatomicum. 4
Didapatkan dua tonjolan tulang yang disebut tuberculum majus dan
tuberculum minor. Tuberculum majus mengarah ke lateral dan melanjutkan diri ke
distal sebagai crista tuberculi majoris. Tuberculum minor mengarah ke anterior
dan melanjutkan diri sebagai crista tuberculi minoris. Di antara kedua tuberculum
serta crista tuberculi dibentuk sulcus intertubercularis yang dilapisi tulang rawan
dan dilalui tendon caput longum m. bicipitis. 4
Shaft humeri
Shaft humeri memiliki penampang melintang berbentuk segitiga.
Permukaan shaft humeri dapat dibagi menjadi facies anterior medialis, facies
anterior lateralis dan facies posterior. Pertemuan facies anterior medialis dengan
facies posterior membentuk margo medialis. Margo medialis ke arah distal makin
menonjol dan tajam sebagai crista supracondilaris medialis. Pertemuan facies
anterior lateralis dengan facies posterior membentuk margo lateralis. Margo

11

lateralis ini juga ke arah distal makin menonjol dan tajam sebagai crista
supracondilaris lateralis. 4
Dipertengahan sedikit proksimal facies anterior lateralis didapatkan
tuberositas deltoidea. Di posterior dari tuberositas deltoidea dan di facies posterior
humeri didapatkan sulcus nervi radialis (sulcus spiralis) yang berjalan
superomedial ke inferolateral. Foramen nutricium didapatkan dekat margo
medialis dan merupakan lubang masuk ke canalis nutricium yang mengarah ke
distal. 4
Distal humeri
Distal humeri lebih tipis dan lebar dibandingkan dengan shaft humeri.
Margo medialis yang melanjutkan diri sebagai crista supracondilaris medialis
berakhir sebagai epicondilus medialis. Demikian pula margo lateralis yang
melanjutkan diri sebagai crista supracondilaris lateralis berakhir sebagai
epicondilus lateralis. Epicondilus medialis lebih menonjol dibandingkan
epicondilus lateralis serta di permukaan posterior epicondilus medialis didapatkan
sulcus nervi ulnaris. 4
Diantara kedua epicondilus didapatkan struktur yang dilapisi tulang rawan
untuk artikulasi dengan tulang-tulang antebrachii. Struktur ini mempunyai sumbu
yang sedikit serong terhadap sumbu panjang shaft humeri. Struktur ini disebut
trochlea humeri di medial dan capitulum humeri di lateral. Trochlea humeri
dilapisi oleh tulang rawan yang melingkar dari permukaan anterior sampai
permukaan posterior dan berartikulasi dengan ulna. Di proksimal trochlea baik di
permukaan anterior maupun di permukaan posterior didapatkan lekukan sehingga
tulang menjadi sangat tipis. Dipermukaan anterior disebut fossa coronoidea dan di
permukaan posterior disebut fossa olecrani. 4
Capitulum humeri lebih kecil dibandingkan trochlea humeri, dilapisi
tulang rawan setengah bulatan dan tidak mencapai permukaan posterior.
Capitulum humeri berartikulasi dengan radius. Di permukaan anterior capitulum
humeri didapatkan fossa radialis. 4

12

Otot-otot yang berhubungan dengan pergerakan dari tulang humerus


meliputi mm. biceps brachii, coracobrachialis, brachialis dan triceps brachii.
Selain itu humerus juga sebagai tempat insersi mm. latissimus dorsi, deltoideus,
pectoralis mayor, teres mayor, teres minor, subscapularis dan tendon insersio mm.
supraspinatus dan infraspinatus 4
M. Latissimus Dorsi
Otot ini besar dan berbentuk segitia. Batas posterior trigonum lumbale
dibentuk oleh m. latissimus dorsi. Bersama m. teres mayor, otot ini membentuk
plica axillaris posterior, serta ikut membentuk dinding posterior fossa axillaris.
Otot ini berorigo pada processi spinosi vertebrae thoracales VII sacrales V dan
crista iliaca. Dan berinsersi pada sulcus intertubercularis humeri. Otot ini
berfungsi untuk ekstensi, adduksi dan endorotasi pada artikulasi humeri. 4
M. Deltoideus
Otot yang tebal dan letaknya superficial ini berorigo di tepi anterior dan
permukaan superior sepertiga bagian lateral clavicula, tepi lateral permukaan
superior acromion, serta tepi inferior spina scapulae. Insersi pada tuberositas
deltoidea humeri. Otot ini diinervasi oleh n. axillaris. Otot ini berfungsi untuk
abduksi artikulasi humeri, bagian anterior untuk fleksi dan endorotasi artikulasi
humeri, sedang bagian posterior untuk ekstensi dan eksorotasi artikulasi humeri. 4
M. Supraspinatus
Bagian medial fossa supraspinatus merupakan origo otot ini dan insersinya
di tuberculum majus humeri. Otot ini mendapat inervasi dari n. suprascapularis.
Otot ini berfungsi untuk abduksi artikulasi humeri. Otot ini bersama mm.
infraspinatus, teres minor et subscapularis membentuk rotator cuff, yang berfungsi
mempertahankan caput humeri tetap pada tempatnya dan mencegahnya tertarik
oleh m. deltoideus menuju acromion. 4

13

M. Infraspinatus
Mm. deltoideus et trapezius berada di superficial dari sebagian otot ini.
Origonya di dua pertiga bagian medial fossa infraspinatus dan permukaan inferior
spina scapulae. Tendo insersinya juga menyatu dengan capsul artikulasi humeri
dan berinsersi pada tuberculum majus humeri. Otot ini diinervasi oleh n.
suprascapularis. Otot ini berfungsi untuk eksorotasi artikulasi humeri. Bagian
superior untuk abduksi dan bagian inferior untuk adduksi artikulasi humeri. 4
M. Subscapularis
Otot ini membentuk dinding posterior fossa axillaris. Origonya di fossa
subscapularis. Tendo insersinya berjalan di anterior dan melekat pada capsula
artikulasi humeri serta tuberculum minor humeri. Otot ini diinervasi oleh n.
subscapularis. Otot ini berfungsi untuk endorotasi artikulasi humeri. 4
M. Teres Minor
Otot ini mungkin sulit dipisahkan dengan m. infraspinatus. Otot ini
berorigo pada tepi lateral fossa infraspinata dan tendo insersinya mula-mula
melekat pada capsula articularis humeri, kemudian melekat pada tuberculum
minor humeri. Otot ini diinervasi oleh n. axillaris. Otot ini berfungsi untuk
eksorotasi artikulasi humeri. 4
M. Teres Mayor
Otot ini berorigo di facies dorsalis scapulae dekat angulus inferior.
Berinsersi di labium medial sulcus intertubercularis humeri di inferior dari tempat
insersi m. subscapularis. Inervasi otot ini berasal dari n. subscapularis. Bersama
m. latissimus dorsi, otot ini berfungsi untuk adduksi artikulasi. 4
M. Biceps Brachii
Otot yang berorigo di scapula ini, memiliki dua caput yaitu caput longum
et brevis. Caput brevis berorigo bersama dengan m. coracobrachialis di processus
coracoideus. Sedang caput longum berorigo di tuberositas supraglenoidalis.
Ketika melalui sulcus intertubercularis humeri, tendo origonya di fiksasi oleh
ligamentum transversum humeri. Insersi otot ini pada tuberositas radii. Sebagian
tendo insersinya, sebagai lacertus fibrous, berinsersi di fascia antebrachii dan ulna.

14

Fungsi caput longum m. biceps brachii untuk fleksi artikulasi humeri et cubiti,
sedangkan caput brevisnya untuk supinasi artikulasi radioulnaris. 4
M. Coracobrachialis
Otot ini berorigo di processus coracoideus. Otot ini ditembuw oleh n.
musculocutaneus dan insersi di sepertiga distal medial humeri. Otot ini berfungsi
untuk fleksi dan adduksi artikulasi humeri. 4
M. Brachialis
Otot ini berorigo di dua pertiga distal fascia anteromedial et anterolateral
humeri dan insersi pada capsula artikulasi cubiti, processus coronoideus et
tuberositas ulna. Otot ini berfungsi untuk fleksi artikulasi cubiti. 4
M. Triceps Brachii
Otot ini berada di regio brachii dorsalis. Otot ini memiliki tiga caput dan
tersusun dalam dua lapisan. Caput longum et lateralis menempati lapisan
superficial, sedang caput medial menempati lapisan profundus. Caput longumnya
berorigo pada tuberositas infraglenoidalis. Dalam perjalanannya ke inferior, caput
ini memisahkan hiatus axillaris medialis dari hiatus axillaris lateralis. Origo lateral
et medial dipisahkan oleh sulcus n. radialis humeri. Caput lateral berorigo di
facies posterior humeri di superior dari sulcus ini, sedang caput medial berorigo di
inferiornya. Insersinya di bagian posterior permukaan superior olecranon, fascia
antebrachii dan capsula articularis cubiti. Inervasi otot ini berasal dari n. radialis.
Fungsi dari caput longum m. triceps brachii untuk ekstensi dan adduksi
artikulasi humeri, sedangkan caput lateral et medial untuk ekstensi artikulasi
cubiti. 4
Persarafan yang berjalan pada regio brachii adalah saraf axillaris, medianus dan
ulnaris
N. Axillaris (C5-C6)
Awalnya saraf ini berjalan sejajar dengan n. radialis. Setinggi inferior m.
subscapularis memisahkan diri dari n. radialis dan berada di lateralnya, kemudian
berjalan ke posterior bersama a. circumflexa humeri posterior melewati hiatus
axillaris lateralis. Selanjutnya saraf ini berjalan di inferior dari tepi inferior m.

15

teres minor dan menginervasinya. Ketika mencapai sisi posteromedial collum


chirurgicum humeri, n axillaris member cabang n. cutaneus brachii lateralis untuk
menginervasi kulit di superficial m. deltoideus. Akhirnya melanjutkan diri ke
anterior sekeliling sisi lateral collum chirurgicum humeri untuk menginervasi m.
deltoideus. 4
N. Musculocutaneus (C5-C7)
Merupakan

cabang

fasciculus

lateralis

pleksus

brachialis.

M.

coracobrachialis ditembus oleh saraf ini. N. musculocutaneus menginervasi otototot fleksor regio brachii (mm. biceps brachii et brachialis), kulit sisi lateral regio
antebrachii dan arilkulasi cubiti. Selanjutnya saraf ini muncul di lateral dari m.
biceps brachii sebagai n. cutaneus antebrachii lateralis.4
N. Medianus (C5-T1)
Di sisi anterolateral dari a. axillaris, saraf ini terbentuk dari pertemuan
radiks lateralisnya yang merupakan cabang fasciculus lateralis plexus brachialis
dan radiks medialis, yang merupakan cabang fasciculus medialis plexus
brachialis. Selanjutnya berjalan bersama a. axillaris dan lanjutannya, yaitu a.
brachialis. Saraf ini menyilang di anterior a. brachialis untuk berada di medial dari
arteri ini di dalam fossa cubiti. N. medianus bersama a. brachialis berjalan di
permukaan anterior m. brachialis menuju fossa cubiti. 4
N. Radialis (C5-T1)
Cabang terbesar dari pleksus brachialis ini awalnya berjalan di posterior
dari a. axillaris dan di anterior dari m. subscapularis. Saraf ini menginervasi kulit
di sisi posterior regio brachii, antebrachii et manus, otot-otot ekstensor regio
brachii et antebrachii, artikulasi cubiti dan beberapa artikulasi di regio manus.4
N. Ulnaris (C7-T1)
Saraf ini berjalan ke inferior di posteromedial dari a. brachialis, jadi sejajar
dengan n. medianus. Kira-kira di pertengahan region brachii, n. ulnaris menjauhi
a. brachialis dan n. medianus untuk berjalan ke poter oinferior menembus septum
intermusculare medial bersama a. collateralis ulnaris proksimal menuju sisi
medial m. triceps brachii. Akhirnya berada di sisi posterior epicondylus medialis
humeri. 4

16

Vaskularisasi regio brachii dijelaskan pada bagian berikut:


Arteri brachialis merupakan lanjutan a. axillaris, dimulai dari tepi inferior
m. teres mayor. Arteri ini melanjutkan diri ke fossa cubiti dan di sini berakhir
sebagai dua cabang terminal, yaitu aa. Ulnaris et radialis. Cabang-cabangnya yang
berada di regio ini adalah aa. Profunda brachii, collaterales ulnares proksimal et
distalis. 4
Arteri profunda brachii berjalan ke posterior bersama n. radialis. Di sini
lateral regio brachii arteri ini berakhir sebagai dua cabang terminalnya, yaitu a.
collateralis radialis, yang berjalan ke anterior bersama n. radialis dan a.
collateralis media, yang menuju sisi posterior epicondylus lateralis humeri. 4
Arteri collateralis ulnaris proksimalis berawal dipertengahan regio brachii
dan berjalan bersama n. ulnaris menuju sisi posterior epicondylus medialis
humeri. 4
Arteri collateralis ulnaris distalis awalnya sedikit di superior dari artikulasi
cubiti dan berjalan di posterior dari n. medianus, kemudian cabang-cabangnya
menuju sisi anterior dan posterior epicondylus medialis humeri. 4 Vena brachialis
mengikuti arterinya dan kira-kira di dua pertiga proksimal regio ini v. basilica
berjalan superficial terhadap a. brachialis. 4

Gambar 1. (a) Anterior and (b) Posterior Humerus. (c) Humerus dengan tiga saraf utama yaitu n.
axillaris, n. radialis and n. ulnaris.11

17

Gambar 2. Anterior dan Posterior Humerus. Tempat insersi otot-otot berhubungan dengan
pergerakan humerus.11-12

C. ETIOLOGI
Umumnya fraktur yang terjadi, dapat disebabkan beberapa keadaan berikut:
1.

Cedera dan benturan seperti pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan


puntir mendadak, kontraksi otot ekstrim.

2.

Letih karena otot tidak dapat mengabsorbsi energi seperti berjalan kaki
terlalu jauh.

3.

Kelemahan tulang akibat penyakit kanker atau osteoporosis pada fraktur


patologis.5
Penyebab Fraktur adalah :5
1. Kekerasan langsung; Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada
titik terjadinya kekerasan. Fraktur demikian sering bersifat fraktur terbuka
dengan garis patah melintang atau miring.
2. Kekerasan tidak langsung: Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah
tulang ditempat yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan. Yang patah
biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor
kekerasan.
3. Kekerasan akibat tarikan otot: Patah tulang akibat tarikan otot sangat
jarang terjadi. Kekuatan dapat berupa twisting, bending dan penekanan,
kombinasi dari ketiganya, dan penarikan.
Kebanyakan fraktur shaft humerus terjadi akibat trauma langsung, meskipun

fraktur spiral sepertiga tengah dari shaft kadang-kadang dihasilkan dari aktifitas
otot-otot yang kuat seperti melempar bola. Pada fraktur humerus kontraksi otot,
seperti otot-otot rotator cuff, deltoideus, pectoralis mayor, teres mayor, latissimus

18

dorsi, biceps, korakobrakialis dan triceps akan mempengaruhi posisi fragmen


patahan tulang yang mengakibatkan fraktur mengalami angulasi maupun rotasi.
Di bagian posterior tengah melintas nervus Radialis langsung melingkari
periostum diafisis humerus dari proksimal ke distal sehingga mudah terganggu
akibat patah tulang humerus bagian tengah.9
D. PATOFISIOLOGI
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas
untuk menahan tekanan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar
dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang
mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang. Setelah terjadi
fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan
jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena
kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan
tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang mengalami
nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai denagn
vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. Kejadian
inilah yang merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya.5
Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur penyembuhan tulang:

1. Faktor intrinsik
Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya tahan
untuk timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbsi dari tekanan, elastisitas,
kelelahan (fatigue fracture), dan kepadatan atau kekerasan tulang.
2. Faktor ektrinsik
Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung
terhadap besar, waktu, dan arah tekanan yang dapat menyebabkan fraktur.
Jenis fraktur berdasarkan kekuatan yang mengenainya:
Kompresif: fraktur proksimal dan distal humerus

19

Bending: fraktur transversa shaft humerus


Torsional: fraktur spiral shaft humerus
Torsional dan bending: fraktur oblik, kadang diikuti dengan fragmen
butterfly.7,9
E. KLASIFIKASI
Berikut klasifikasi fraktur diafisis humerus menurut Ortopaedics Trauma
Association (OTA);9,12

Tipe A: fraktur sederhana (simple fracture)


A1: spiral
A2: oblik (>30)
A3: transversa (<30)

Tipe B: fraktur baji (wedge fracture)


B1: spiral wedge
B2: bending wedge
B3: fragmented wedge

Tipe C: fraktur kompleks (complex fracture)


C1: Spiral
C2: Segmental
C3: Ireguler (significant comminution)

20

Gambar 3. Tipe A = fraktur sederhana. A1 = fraktur spiral (.1 pada sepertiga proksimal, .2 pada sepertiga
tengah, dan .3 pada sepertiga distal), A2 = fraktur oblik, A3 = fraktur transversa.

12

Gambar 4. Tipe B = fraktur baji (wedge fracture). B1 = fraktur baji spiral (spiral wedge fracture), B2 =
bending wedge fracture, A3 = fragmented wedge fracture.

12

Gambar 5. Tipe C = complex fracture. C1 = fraktur spiral kompleks, C2 = fraktur segmental kompleks, C3 =
12

fraktur ireguler.

Berdasarkan arah pergeserannya, fraktur humerus dibagi menjadi;


a. Fraktur sepertiga proksimal humerus

21

Fraktur yang mengenai proksimal metafisis sampai insersi m. pectoralis


mayor diklasifikasikan sebagai fraktur leher humerus. Fraktur di atas insersi
pectoralis mayor menyebabkan fragmen proksimal abduksi dan eksorotasi
rotator cuff serta distal fragmen bergeser ke arah medial. Fraktur antara
insersi m. pectoralis mayor dan deltoid umumnya terlihat adduksi pada akhir
distal dari proksimal fragmen dengan pergeseran lateral dan proksimal dari
distal fragmen.2,9,12
b. Fraktur sepertiga tengah dan distal humerus
Jika fraktur terjadi di distal dari insersi deltoid pada sepertiga tengah korpus
humerus, pergeseran ke medial dari fragmen distal dan abduksi dari fragmen
proksimal akan terjadi.2,9,12
Gambar 6.

Lokasi fraktur dan arah pergeseran fragmen. (dari kiri ke kanan) Fraktur diatas
insersi pectoralis mayor, fraktur antara insersi pectoralis mayor dan deltoid, fraktur
di bawah insersi deltoid.12

Secara ringkas dapat penjelasan posisi fragmen fraktur dapat dilihat pada table 2.1
berikut:9
Tabel 7. Tabel posisi fragmen fraktur.9

Lokasi fraktur
Diatas insersi

Fragmen proksimal
Abduksi, eksorotasi oleh

Fragmen distal
Medial, proksimal oleh

pectoralis mayor

rotator cuff

deltoideus dan pectoralis

Antara pectoralis

Medial oleh pectoralis,

mayor
Lateral, proksimal oleh

mayor dan

teres mayor dan

deltoideus

tuberositas

latissimus dorsi

deltoideus
Distal tuberositas

Abduksi oleh deltoideus

22

Medial, proksimal oleh

deltoideus

biceps dan triceps brachii

23

F. GAMBARAN KLINIS
1. Nyeri terus menerus dan bertambah berat. Nyeri berkurang jika fragmen
tulang diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk
bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen
tulang.1-12
2. Deformitas dapat disebabkan oleh pergeseran fragmen pada eksremitas.
Deformitas dapat di ketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas
normal. Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal
otot bergantung pada integritas tulang tempat melengketnya obat.1-12
3. Pemendekan tulang, karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah
tempat fraktur.1-12
4. Krepitasi yaitu pada saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya
derik tulang. Krepitasi yang teraba akibat gesekan antar fragmen satu
dengan lainnya.1-12
5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi akibat trauma
dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini baru terjadi setelah
beberapa jam atau beberapa hari setelah cedera.1-12
6. Pada pemeriksaan harus diperhatikan keutuhan faal nervus radialis dan
arteri brakialis. Saat pemeriksaan apakah ia dapat melakukan dorsofleksi
pergelangan tangan atau ekstensi jari-jari tangan.1-12
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium
Pada fraktur test laboratorium yang perlu diketahui : Hemoglobin,
hematokrit sering rendah akibat perdarahan, laju endap darah (LED)
meningkat bila kerusakan jaringan lunak sangat luas. Pada masa
penyembuhan Ca dan P mengikat di dalam darah.7
Radiologi
Pada rontgen dapat dilihat gambaran fraktur (tempat fraktur, garis
fraktur (transversa, spiral atau kominutif) dan pergeseran lainnya dapat
terbaca jelas). Radiografi humerus AP dan lateral harus dilakukan.
24

Sendi bahu dan siku harus terlihat dalam foto. Radiografi humerus
kontralateral

dapat

membantu

pada

perencanaan

preoperative.

Kemungkinan fraktur patologis harus diingat. CT-scan, bone-scan dan


MRI jarang diindikasikan, kecuali pada kasus dengan kemungkinan
fraktur

patologis.

Venogram/anterogram

menggambarkan

arus

vascularisasi. CT scan untuk mendeteksi struktur fraktur yang lebih


kompleks.9
H. PENATALAKSANAAN
1. Konservatif
Pada umumnya, pengobatan patah tulang shaft humerus dapat
ditangani secara tertutup karena toleransinya yang baik terhadap angulasi,
pemendekan serta rotasi fragmen patah tulang. Angulasi fragmen sampai
300 masih dapat ditoleransi, ditinjau dari segi fungsi dan kosmetik. Hanya
pada patah tulang terbuka dan non-union perlu reposisi terbuka diikuti
dengan fiksasi interna.6,7,9
Dibutuhkan reduksi yang sempurna disamping imobilisasi; beban pada
lengan dengan cast biasanya cukup untuk menarik fragmen ke garis tengah.
Hanging cast dipakai dari bahu hingga pergelangan tangan dengan siku
fleksi 90 dan bagian lengan bawah digantung dengan sling disekitar leher
pasien. Cast (pembalut) dapat diganti setelah 2-3 minggu dengan pembalut
pendek (short cast) dari bahu hingga siku atau functional polypropylene
brace selama 6 minggu.6,7,9

25

Gambar 8. Penatalaksanaan pada fraktur shaft humerus dengan konservatif. 7

Pergelangan tangan dan jari-jari harus dilatih gerak sejak awal.


Latihan pendulum pada bahu dimulai dalam 1 minggu perawatan, tapi
abduksi aktif ditunda hingga fraktur mengalami union. Fraktur spiral
mengalami union sekitar 6 minggu, variasi lainnya sekitar 4-6 minggu.
Sekali mengalami union, hanya sling (gendongan) yang dibutuhkan hingga
fraktur mengalami konsolidasi.7,9
Pengobatan non bedah kadang tidak memuaskan pasien karena pasien
harus dirawat lama. Itulah sebabnya pada patah tulang batang humerus
dilakukan operasi dan pemasangan fiksasi interna yang kokoh. 7,9
Berikut beberapa metode dan alat yang digunakan pada terapi
konservatif:
Hanging cast
Indikasi penggunaan meliputi pergeseran shaft tengah fraktur
humerus dengan pemendekan, terutama fraktur

spiral dan oblik.

Penggunaan pada fraktur transversa dan oblik pendek menunjukkan


kontraindikasi relatif karena berpotensial terjadinya gangguan dan
26

komplikasi pada saat penyembuhan. Pasien harus mengangkat tangan


atau setengah diangkat sepanjang waktu dengan posisi cast tetap untuk
efektivitas. Seringkali diganti dengan fuctional brace 1-2 minggu
pasca trauma. Lebih dari 96% telah dilaporkan mengalami union.9

Coaptation splint
Diberikan untuk efek reduksi pada fraktur tapi coaptation splint
memiliki stabilitas yang lebih besar dan mengalami gangguan lebih
kecil daripada hanging arm cast. Lengan bawah digantung dengan
collar dan cuff. Coaptation splint diindikasikan pada terapi akut
fraktur shaft humerus dengan pemendekan minimal dan untuk jenis
fraktur oblik pendek dan transversa yang dapat bergeser dengan
penggunaan hanging arm cast. Kerugian coaptation splint meliputi
iritasi aksilla, bulkiness dan berpotensial slippage. Splint seringkali
diganti dengan fuctional brace pada 1-2 minggu pasca trauma. 9

Thoracobranchial immobilization (velpeu dressing)


Biasanya digunakan pada pasien lebih tua dan anak-anak yang
tidak dapat ditoleransi dengan metode terapi lain dan lebih nyaman
jadi pilihan. Teknik ini diindikasikan untuk pergeseran fraktur yang
minimal atau fraktur yang tidak bergeser yang tidak membutuhkan
reduksi. Latihan pasif pendulum bahu dapat dilakukan dalam 1-2
minggu pasca trauma. 9

Shoulder spica cast


Teknik ini diindikasikan pada jenis fraktur yang mengharuskan
abduksi dan eksorotasi ektremitas atas. Kerugian teknik ini meliputi
kesulitan aplikasi cast, berat cast dan bulkiness, iritasi kulit,
ketidaknyamanan dan kesusahan memposisikan ektremitas atas. 9

Functional bracing
Memberikan efek kompresi hidrostatik jaringan lunak dan
mempertahankan aligment fraktur ketika melakukan pergerakan pada
sendi yang berdekatan. Brace biasanya dipasang selama 1-2 minggu
pasca trauma setelah pasien diberikan hanging arm cast atau
27

coaptation splint dan bengkak berkurang. Kontraindikasi metode ini


meliputi cedera massif jaringan lunak, pasien yang tidak dapat
dipercaya dan ketidakmampuan untuk mempertahankan asseptabilitas
reduksi. Collar dan cuff dapat digunakan untuk menopang lengan
bawah; aplikasi sling dapat menghasilkan angulasi varus (kearah
midline). 9
2. Tindakan operatif
Pasien kadang-kadang mengeluh hanging cast tidak nyaman,
membosankan dan frustasi. Mereka bisa merasakan fragmen bergerak dan
hal ini kadang-kadang cukup dianggap menyusahkan. Hal penting yang
perlu diingat bahwa tingkat komplikasi setelah internal fiksasi pada humerus
tinggi dan sebagian besar fraktur humerus mengalami union tanpa tindakan
operatif.7,9
Meskipun demikian, ada beberapa indikasi untuk dilakukan tindakan
pembedahan, diantaranya:

Cedera multiple berat


Fraktur terbuka
Fraktur segmental
Fraktur ekstensi intra-artikuler yang bergeser
Fraktur patologis
Siku melayang (floating elbow) pada fraktur lengan bawah

(antebrachii) dan humerus tidak stabil bersamaan


Palsi saraf radialis (radial nerve palsy) setelah manipulasi
Non-union7,9

Fiksasi dapat berhasil dengan;


1. Kompresi plate and screws
2. Interlocking intramedullary nail atau pin semifleksibel
3. External Fixation
Plating menjadikan reduksi dan fiksasi lebih baik dan memiliki
keuntungan tambahan bahwa tidak dapat mengganggu fungsi bahu dan siku.
Biar bagaimanapun, ini membutuhkan diseksi luas dan perlindungan pada
saraf radialis. Plating umumnya diindikasikan pada fraktur humerus dengan

28

kanal medulla yang kecil, fraktur proksimal dan distal shaft humerus,
fraktur humerus dengan ekstensi intraartikuler, fraktur yang memerlukan
eksplorasi untuk evaluasi dan perawatan yang berhubungan dengan lesi
neurovaskuler, serta humerus non-union.7,9
Interlocking intramedullary nail diindikasi pada fraktur segmental
dimana penempatan plate akan memerlukan diseksi jaringan lunak, fraktur
humerus pada tulang osteopenic, serta pada fraktur humrus patologis.
Antegrade nailing terbentuk dari paku pengunci yang kaku (rigid
interlocking nail) yang dimasukkan kedalam rotator cuff dibawah kontrol
(petunjuk) fluoroskopi. Pada cara ini, dibutuhkan diseksi minimal namun
memiliki kerugian, yaitu menyebabkan masalah pada rotator cuff pada
beberapa kasus yang berarti. Jika hal ini terjadi, atau apabila nail keluar dan
fraktur belum mengalami union, penggantian nailing dan bone grafting
mungkin diperlukan; atau dapat diganti dengan external fixator. 7,9
Retrograde nailing dengan multiple flexible rods dapat menghindari
masalah tersebut, tapi penggunaannya lebih sulit, secara luas kurang
aplikatif dan kurang aman dalam mengontrol rotasi dari sisi yang fraktur. 7,9
External fixation mungkin merupakan pilihan terbaik pada fraktur
terbuka dan fraktur segmental energy tinggi. External fixation ini juga
prosedur penyelamatan yang paling berguna setelah intermedullary nailing
gagal. 6 Indikasi umumnya pada fraktur humerus dengan non-union infeksi,
defek atau kehilangan tulang, dengan luka bakar, serta pada luka terbuka
dengan cedera jaringan lunak yang luas. 7,9

29

I. KOMPLIKASI

Komplikasi Awal
Cedera vaskuler
Jika ada tanda-tanda insufisiensi vaskuler pada ekstremitas,
kerusakan arteri brakhialis harus disingkirkan. Angiografi akan
memperlihatkan tingkat cedera. Hal ini merupakan kegawatdaruratan,
yang memerlukan eksplorasi dan perbaikan langsung ataupun cangkok
(grafting) vaskuler. Pada keadan ini internal fixation dianjurkan.7,9
Cedera saraf
Radial nerve palsy (wrist drop dan paralisis otot-otot ekstensor
metacarpophalangeal) dapat terjadi pada fraktur shaft humerus,
terutama fraktur oblik pada sepertiga tengah dan distal tulang humerus.
Pada cedera yang tertutup, saraf ini sangat jarang terpotong, jadi tidak
diperlukan operasi segera.7-9
Pergelangan tangan dan telapak tangan harus secara teratur
digerakkan

dari

pergerakan

pasif

putaran

penuh

hingga

mempertahankan (preserve) pergerakan sendi sampai saraf pulih. Jika


tidak ada tanda-tanda perbaikkan dalam 12 minggu, saraf harus
dieksplorasi. Pada lesi komplit, jahitan saraf kadang tidak memuaskan,
tetapi fungsi dapat kembali dengan baik dengan pemindahan tendon.7-9
Jika fungsi saraf masih ada sebelum manipulasi lalu kemudian
cacat setelah dilakukan manipulasi, hal ini dapat diasumsikan bahwa
saraf sudah mengalami robekan dan dibutuhkan operasi eksplorasi.7,9
Infeksi
Infeksi luka pasca trauma sering menyebabkan osteitis kronik.
Osteitis tidak mencegah fraktur mengalami union, namun union akan
berjalan lambat dan kejadian fraktur berulang meningkat.
Jika ada tanda-tanda infeksi akut dan pembentukan pus, jaringan
lunak disekitar fraktur harus dibuka dan didrainase. Pilihan antibiotik
harus disesuaikan dengan hasil sensitivitas bakteri.

30

External fixation sangat berguna pada kasus ini, namun jika


intramedullary nail sudah terlanjur digunakan dan terfiksasi stabil, nail
tidak perlu dilepas

Komplikasi Lanjut
Delayed Union and Non-Union
Fraktur transversa kadang membutuhkan waktu beberapa bulan
untuk menyambung kembali, terutama jika traksi digunakan berlebihan
(penggunaan hanging cast jangan terlalu berat). Penggunaan teknik
yang sederhana mungkin dapat menyelesaikan masalah, sejauh ada
tanda-tanda

pembentukkan

kalus

(callus)

cukup

baik

dengan

penanganan tanpa operasi, tetapi ingat untuk tetap membiarkan bahu


tetap bergerak. Tingkat non-union dengan pengobatan konservatif pada
fraktur energi rendah kurang dari 3%. Fraktur energi tinggi segmental
dan fraktur terbuka lebih cenderung mengalami baik delayed union dan
non-union.7-9
Intermedullary nailing menyebabkan delayed union, tetapi jika
fiksasi rigid dapat dipertahankan tingkat non-union dapat tetap dibawah
10%.9

Joint stiffness
Joint stiffness sering terjadi. Hal ini dapat dikurangi dengan
aktivitas lebih awal, namun fraktur transversa (dimana abduksi bahu
nyeri disarankan) dapat membatasi pergerakan bahu untuk beberapa
minggu.7
Tambahan, pada anak-anak, fraktur humerus jarang terjadi. Pada
anak-anak di bawah 3 tahun kemungkinan kekerasan pada anak perlu
difikirkan. Fraktur dirawat dengan bandage sederhana pada lengan
hingga ke badan untuk 2-3 minggu. Pada anak yang lebih tua
memerlukan plaster splint pendek.7

31

DAFTAR PUSTAKA
1. Rasjad C.2007. Pengantar Bedah Ortopedi. PT. Yarsef Watampone : Jakarta.
Hal 380-395.
2. King Maurice; 1987; Fracture of the Shaft of the Humerus In: Primary
Surgery Volume Two: Trauma; Oxford University Press; UK; p. 233-235
3. Santoso M.W.A, Alimsardjono H dan Subagjo; 2002; Anatomi Bagian I,
Penerbit Laboratorium Anatomi-Histologi Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga; Surabaya
4. Wim de Jong & Sjamsuhidajat R. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi ke 2
.EGC : Jakarta .
5. Apley, A. Graham. 1995. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley.
Widya Medika: Jakarta.
6. Mansjoer A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid II. Medika Aesculapius
FKUI : Jakarta
7. Kenneth J, dkk. 2002. Fractures Of The Shaft Of The Humerus In Chapter 43:
Orthopedic; In: Handbook of Fracture second edition. Wolters Klunser
Company : New York
8. Bernard Bloch. 1996. Fraktur dan Dislokasi. Yayasan essentica Medica
:Yogyakarta p. 1028-1030
9. Elis Harorld, 2006, Part 3: Upper Limb, The Bones and Joint of the Upper
Limbs; In: Clinical Anatomy Eleventh Edition (e-book); Blackwell
Publishing; Oxford University; p 169-170
10. Holmes E.J and Misra R.R; 2004; Humerus fracture Shaft fracture In: A-Z of
Emergency Radiology (e-book); UK; Cambridge University Press; p 110-111.

32