Anda di halaman 1dari 9

Keratokonjungtivitis Vernalis

Pengertian
Konjungtivitis vernalis dikenal juga sebagai catarh musim semi dan konjungtivitis
musiman atau konjungtivits musim kemarau,yaitu peradangan konjungtiva yang berulang
(musiman). Penyakit ini merupakan penyakit bilateral yang jarang disebabkan oleh alergi,
biasanya berlangsung dalam tahun-tahun prapubertas dan berlangsung 5-10 tahun. Penyakit ini
lebih banyak terjadi pada anak laki-laki dari pada anak perempuan.
Penyakit ini perlu mendapatkan penekanan khusus. Hal ini karena penyakit ini sering
kambuh dan menyerang anak-anak, dengan demikian, memerlukan pengobatan jangka panjang
dengan obat yang aman.
Allergen sulit dilacak, namun pasien konjuntivitis vernalis kadang-kadang menampakan
manifestasi alergi lainnya yang berhubungan dengan sensitivitas tepung sari rumput. Penyakit ini
lebih jarang di daerah beriklim sedang daripada daerah dingin.
Patofisiologi
Perubahan struktur konjungtiva erat kaitannya dengan timbulnya radang interstitial yang
banyak didominasi oleh reaksi hipersensitivitas tipe I. Pada konjungtiva akan dijumpai hiperemi
dan vasodilatasi difus, yang dengan cepat akan diikuti dengan hiperplasi akibat proliferasi
jaringan yang menghasilkan pembentukan jaringan ikat yang tidak terkendali. Kondisi ini akan
diikuti oleh hyalinisasi dan menimbulkan deposit pada konjungtiva sehingga terbentuklah
gambaran cobblestone.
Jaringan ikat yang berlebihan ini akan memberikan warna putih susu kebiruan sehingga
konjungtiva tampak buram dan tidak berkilau. Proliferasi yang spesifik pada konjungtiva tarsal,
oleh von Graefe disebut pavement like granulations. Hipertrofi papil pada konjungtiva tarsal
tidak jarang mengakibatkan ptosis mekanik
Limbus konjungtiva juga memperlihatkan perubahan akibat vasodilatasi dan hipertofi yang
menghasilkan lesi fokal. Pada tingkat yang berat, kekeruhan pada limbus sering menimbulkan
gambaran distrofi dan menimbulkan gangguan dalam kualitas maupun kuantitas stem cells.
Tahap awall konjungtivitis vernalis ini ditandai oleh fase prehipertrofi. Dalam kaitan ini, akan
tampak pembentukan neovaskularisasi dan pembentukan papil yang ditutup oleh satu lapis sel
epitel dengan degenerasi mukoid dalam kripta di antara papil serta pseudomembran milky white.
Pembentukan papil ini berhubungan dengan infiltrasi stroma oleh sel- sel PMN, eosinofil, basofil
dan sel mast.

Tahap berikutnya akan dijumpai sel- sel mononuclear lerta limfosit makrofag. Sel mast dan
eosinofil yang dijumpai dalam jumlah besar dan terletak superficial. Dalam hal ini hampir 80%
sel mast dalam kondisi terdegranulasi. Temuan ini sangat bermakna dalam membuktikan peran
sentral sel mast terhadap konjungtivitis vernalis. Keberadaan eosinofil dan basofil, khususnya
dalam konjungtiva sudah cukup menandai adanya abnormalitas jaringan.
Fase vascular dan selular dini akan segera diikuti dengan deposisi kolagen, hialuronidase,
peningkatan vaskularisasi yang lebih mencolok, serta reduksi sel radang secara keseluruhan.
Deposisi kolagen dan substansi dasar maupun seluler mengakibatkan terbentuknya deposit stone
yang terlihat secara nyata pada pemeriksaan klinis. Hiperplasi jaringan ikat meluas ke atas
membentuk giant papil bertangkai dengan dasar perlekatan yang luas. Horner- Trantas dots yang
terdapat di daerah ini sebagian besar terdiri dari eosinofil, debris selular yang terdeskuamasi,
namun masih ada sel PMN dan limfosit.

Penyebab/etiologi
Konjungtivitis vernal terjadi akibat alergi dan cenderung kambuh pada musim panas.
Etiologi konjungtivitis vernalis sampai saat ini belum diketahui dengan pasti.
Beberapa faktor penyebab diduga adalah alergen serbuk sari, debu, tungau debu
rumah, bulu kucing, makanan, faktor fisik berupa panas sinar matahari atau angin.

Keratokonjungtivitis vernal sering terjadi pada anak-anak, biasanya dimulai sebelum masa
pubertas dan berhenti sebelum usia 20. Reaksi alergi yang terjadi dapat disebabkan oleh
satu atau lebih alergen atau bersama-sama dengan faktorfaktor lain. Pasien
seorang pelajar dimana lingkungan sangat erat berpengaruh sebagai sumber
alergen misalnya saja debu, serbuk sari dan pajanan sinar matahari

Tanda dan gejala

Gatal hebat
Mata merah dan berair
Peka terhadap cahaya (fotofobia)
Kotoran mata yang kental dan lengket. Konjungtiva di bawah kelopak mata membengkak
dan berwarna pink pucat sampai keabuan, sedangkan konjungtiva lainnya tampak berwarna
putih susu. Konjungtiva yang melapisi bola mata tampak menebal dan keabuan. Kadang
terjadi kerusakan pada sebagian kecil kornea yang menyebabkan nyeri dan fotofobia hebat.
Keseluruhan gejala biasanya menghilang pada musim dingin.

Pencegahan/penatalaksanaan
Jangan menggisik mata karena bisa menyebabkan iritasi lebih lanjut. Kompres dingin
bisa mengurangi gejala. Tetes mata antialergi seperti cromoline, lodoxamind, ketorolac dan
levokabastin merupakan pengobatan yang paling aman. Antihistamin oral juga bisa membantu
meringankan gejala. Corticosteroid bisa mengurangi peradangan, tetapi sebaiknya tidak
digunakan lebih dari beberapa minggu karena bisa menyebabkan peningkatan tekanan pada
mata, katarak dan infeksi opportunistik.
Pada umumnya konjungtivitis vernalis dapat sembuh sendiri setelah 2 10 tahun. Tujuan
pengobatan pada konjungtivitis vernalis untuk menghilangkan gejala dan menghindari proses
infeksi. Prinsip pengobatan bersifat konservatif.

Komplikasi
Karena konjungtivitis vernalis merupakan komplikasi dari penyakit konjungtivitis yang
merupakan penyakit radang mata yang apabila tidak segera ditangani/diobati bisa menyebabkan
kerusakan pada mata/gangguan pada mata dan menimbulkan komplikasi lainnya. Berikut
beberapa komplikasi dari konjungtivitis yang tidak tertangani diantaranya:
1. glaucoma
2. katarak
3. ablasi retina
4. komplikasi pada konjungtivitis kataral teronik merupakan segala penyulit dari blefaritis
sepertiekstropin, trikiasis
5. komplikasi pada konjungtivitis purulenta seringnya berupa ulkus kornea
6. komplikasi pada konjungtivitis membranasea dan pseudomembranasea adalah bila sembuh
akan meninggalkan jaringan perut yang tebal di kornea yang dapat mengganggu penglihatan,
lama- kelamaan orang bisa menjadi buta

Diagnosa
1. Gangguan identitas pribadi berhubungan dengan tidak menerima kondisi matanya di tandai
dengan pasien mengatakan tidak nyaman dengan keadaan matanya,pasien mengtakan malu, ada
secret pada mata,kemerahaan pada mata,terjadi peradangan pada mata.
2. Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pengobatan ditandai
dengan pasien mengatakan banyak mengeluarkan air mata,pasien mengatakan banyak
mengeluarkan secret,produksi air mata berlebihan (epifora),terdapat secret pada mata,pasien
terlihat menggaruk matanya,terjadi pembengkakan pada konjungtiva,peningkatan suhu (>37c).
3. Resiko cidera berhubungan dengan penurunan persepsi: penglihatan di tandai dengan pasien
mengatakan kesulitan dalam melihat,pasien mengatakan saat berjalan harus berhati-hati, terjadi
pseudoptosis,pasien terlihat kesulitaan dalam melihat,pasien meraba-raba jika ingin mengambil
benda.,pasien saat beraktivitas harus di jaga.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERWATAN


A. Pengkajian
Data subyektif
- Pasien mengatakan nyeri pada mata.
- Pasien mengatakan nyeri sedang (dengan skala nyeri 4-6 dari 0-10 skala nyeri yang diberikan).
- Pasien mengatakan nyerinya seperti terbakar.
- Pasien mengatakan kesulitan dalam melihat.
- Pasien mengatakan saat berjalan harus berhati-hati.
- Pasien mengatakan kurang jelas melihat.
- Pasien mengatakan penglihatannya kabur.
- Pasien mengatakan banyak mengeluarkan air mata.

- Pasien mengatakan banyak mengeluarkan secret


- Pasien mengatakan tidak nyaman saat tidur karena nyeri.
- Pasien mengatakan serink terbangun saat nyeri timbul.
- Pasien mengatakan tidak nyaman dengan keadaan matanya.
- Pasien mengtakan malu.
- Klien mengatakan tidak mengerti tentang penyakitnya
- Klien mengatakan tidak tahu apa yang harus dilakukan
Data obyektif
- Pasien terlihat gelisah.
- Nadi pasien meningkat ( > 100x / menit )
- Peningkatan tekanan darah ( > 120/80 mmHg )
- Peningkatan respirasi ( > 24x / menit )
- Peningkatan suhu (>37c)
- Terjadi pseudoptosis.
- Pasien terlihat kesulitaan dalam melihat.
- Pasien meraba-raba jika ingin mengambil benda.
- Pasien saat beraktivitas harus di jaga.
- Pasien tampak susah mengenali benda.
- Terjadi pseudoptosis.
- Terjadi Epifora.
- Terdapat sekret
- Produksi air mata berlebihan (epifora).
- Terdapat secret pada mata.
- Pasien terlihat menggaruk matanya.
- Terjadi pembengkakan pada konjungtiva.
- Pasien mengalami kesulitan tidur.
- pasien terlihat gelisah
- Pasien telihat terjaga saat tidur
- Ada secret pada mata.
- Kemerahaan pada mata.

- Terjadi peradangan pada mata.


- Klien sering bertanya-tanya tentang penyakitnya
- Klien terlihat bingung
B. RENCANA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan

Tujuan dan criteria hasil

Intervensi

(NOC)

(NIC)

Tujuan dan criteria hasil

Intervensi

Domain 6
Kelas 1
Kode ndx 00121
Gangguan identitas pribadi
Definisi : ketidakmampuan
mempertahankan persepsi diri
yang utuh dan terintegrasi
Batasan Karakteristik

Sifat personal kontradiktif


Gangguan citra tubuh
Ketidakefektifan koping
Gangguan hubungan
Ketidakefektifan performa

peran
Perasaan yang berfluktuasi
tentang diri sendiri

Factor yang berhubungan :


Harga diri rendah kronik
Diskontinuitas budaya
Gangguan
kepribadian
ganda

Diagnosa keperawatan
Domain 11

(NOC)
(NIC)
Setelah di lakukan tindakan o Control infeksi

Kelas 1

keperawatan selama risiko

Kode ndx 00004

infeksi

tdk

terjadi,dengan

Penyembuhan luka tahap

primer
Penyembuhan luka tahap

sekunder
Pengetahuan

o Pertahanan tubuh primer


yg tidak ada adekuat

control

lingkungan

setelah di gunakan oleh

Risiko infeksi, berhubungan criteria hasil :


dengan :

Bersihkan

klien
Ganti

klien sesuai protocol


Instruksikan klien untuk

mencuci tangan
Cuci tangan sebelum dan

alat

perawatan

sesudah kontak dengan

infeksi
o Deteksi risiko

klien
Gunakan sarungan tangan
saat memegang material

infeksius
Pastikan

perawatan luka yg tepat


Gunakan anti mikroba

sesuai ketentuan
Ajarkan
klien

teknik

dan

keluarga tentang tandatanda

infeksi

melaporkannya

dan
kepada

petugas kesehatan
Monitor tanda dan gejala

infeksi sistemik dan local


Ajarkan
klien
dan
keluarga

tentang

menghindari infeksi
Diagnosa keperawatan
Domain 11
Kelas 2
Kode ndx 00086
Risiko cedera

Tujuan dan criteria hasil

Intervensi

(NOC)

(NIC)

cara

Eksternal

Biologis

(mis,tingkat

imunisasi
komunitas,mikroorganism

e)
Manusia

(mis,

nosokomial,

pola

ketenagaan,
kognitif,

agens

atau
afektif,

factor
dan

psikomotor)

Internal
Profil

abnormal
Disfungsi biokimia
Disfunsi efektorfisik (mis,

darah

yang

integritas kulit tdk utuh,


gangguan mobilitas)

D.

IMPLEMENTASI
Implementasi merupakan proses keempat dari seluruh proses keperawatan,dimana

implementasi merupakan pelaksanaan dari rencana keperawatan yang telah disusun.

E.

EVALUASI

1.

Gangguan persepsi sensori : penglihatan dapat tertangani

2.

Nyeri akut dapat teratasi.

3.

Gangguan body image tidak terjadi

4.

Gangguan pola tidur dapat tertangani.

5.

Kurang pengetahuan dapat teratasi.

6.

Tidak terjadi cedera

7.

Penyebaran infeksi tidak terjadi.