Anda di halaman 1dari 13

Ulkus Kornea

1.

Definisi
Ulkus kornea adalah hilangnya sebagian permukaan kornea akibatkematian jaringan
kornea. (Arif mansjoer, DKK,).
Ulkus Kornea adalah keadaan patologik kornea yang ditandai oleh adanya infiltrat
supuratif disertai defek kornea bergaung, diskontinuitas jaringan kornea dapat terjadi
dari epitel sampai stroma. Ulkus kornea merupakan hilangnya sebagian permukaan
kornea akibat kematian jaringan kornea. Ulkus kornea yang luas memerlukan
penanganan yang tepat dan cepat uuntuk mencegah perluasan ulkus dan timbulnya
komplikasi seperti desmetokel, perforasi, endoftalmitis.

2.

Etiologi
Penyakit kornea adalah penyakit mata yang serius karena menyebabkan gangguan
tajam penglihatan, bahkan dapat menyebabkan kebutaan. Ulkus kornea merupakan
hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan kornea. Ulkus
biasanya terbentuk akibat infeksi oleh bakteri (misalnya stafilokokus, pseudomonas,
atau pneumokokus), jamur virus (misalnya herpes) atau protozoa akantamuba, selain
itu ulkus kornea disebabkan reaksi toksik, degenerasi, alergi dan penyakit kolagen
vaskuler. Kekurangan vitamin A atau protein, mata kering (karena kelopak mata tidak
menutup secara sempurna dan melembabkan kornea). Faktor resiko terbentuknya
antara lain adalah cedera mata, ada benda asing di mata, dan iritasi akibat lensa
kontak.
Penyebab ulkus kornea antara lain sebagai berikut :
1.
Infeksi bakteri
Bakteri yang sering menyebabkan ulkus kornea adalah Streptokokus alfa hemolitik,
Stafilokokus aureus, Moraxella likuefasiens, Pseudomonas aeroginosa, Nocardia
asteroids, Alcaligenes sp, Streptokokus anaerobic, Streptokokus beta hemolitik,
Enterobakter hafniae, Proteus sp, Stafilokokus epidermidis, infeksi campuran
Erogenes dan Stafilokokus aureus.
2.
Infeksi jamur
Disebabkan oleh Candida, Fusarium, Aspergilus, Cephalosporium, dan spesies
mikosis fungoides.
3.
Infeksi virus
4.
Ulkus kornea oleh virus herpes simplex cukup sering dijumpai. Bentuk khas
dendrit dapat diikuti oleh vesikel-vesikel kecil dilapisan epitel yang bila pecah akan

menimbulkan ulkus. Ulkus dapat juga terjadi pada bentuk disiform bila mengalami
nekrosis di bagian sentral. Infeksi virus lainnya varicella-zoster, variola, vacinia
(jarang).
5.
Defisiensi vitamin A
Ulkus kornea akibat defisiensi vitamin A terjadi karena kekurangan vitamin A dari
makanan atau gangguan absorbsi di saluran cerna dan ganggun pemanfaatan oleh
tubuh.
6.
Lagophtalmus akibat parese N. VII dan N.III
7.
Trauma yang merusak epitel kornea 1,2
8.
Idiopatik
Misalnya: Ulkus Mooren adalah suatu ulkus menahun superfisial yang dimulai dari
tepi kornea, dengan bagian tepinya bergaung dan berjalan progresif tanpa
kecenderungan perforasi
Faktor penyebabnya antara lain:
a.
Kelainan pada bulu mata (trikiasis) dan sistem air mata (insufisiensi air mata,
sumbatan saluran lakrimal), dan sebagainya
b.
Faktor eksternal, yaitu : luka pada kornea (erosio kornea), karena trauma,
penggunaan lensa kontak, luka bakar pada daerah muka
c.
Kelainan-kelainan kornea yang disebabkan oleh : oedema kornea kronik,
exposure-keratitis (pada lagophtalmus, bius umum, koma) ; keratitis karena defisiensi
vitamin A, keratitis neuroparalitik, keratitis superfisialis virus.
d.
Kelainan-kelainan sistemik; malnutrisi, alkoholisme, sindrom Stevens-Jhonson,
sindrom defisiensi imun. bat-obatan yang menurunkan mekaniseme imun, misalnya :
kortikosteroid, IUD, anestetik lokal dan golongan imunosupresif1.
3. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala Ulkus Kornea yang mungkin timbul:
a.
Bintik bulat berwarna putih atau abu-abu pada kornea
b.
Mata berair (epifora)
c.
Mata yang gatal
d.
Nyeri mata
e.
Pembengkakan kelopak mata
f.
Pembuluh darah yang bengkak atau melebar pada bagian putih mata, yang
g.
h.

menyebabkan mata terlihat merah (mata merah)


Penglihatan kabur
Sensitif terhadap cahaya
Gejala klinis pada pasien dengan ulkus kornea sangat bervariasi, tergantung dari
penyebab dari ulkus itu sendiri. Gejala dari ulkus kornea yaitu nyeri yang ekstrirn
oleh karena paparan terhadap nervus, oleh karena kornea memiliki banyak serabut
nyeri, kebanyakan lesi kornea menimbulkan rasa sakit dan fotopobia. Rasa sakit mi
diperhebat oleh gesekan palpebra (terutama palpebra superior) pada kornea dan

menetap sampai sembuh. Karena kornea berfungsi sebagai jendela bagi mata dan
membiaskan berkas cahaya, lesi kornea umumnya agak mengaburkan penglihatan
terutama jika letaknya di pusat. Fotopobia pada penyakit kornea adalah akibat
kontraksi iris beradang yang sakit. Dilatasi pembuluh darah Ms adalah fenomena
refleks yang disebabkan iritasi pada ujung saraf kornea. Fotopobia yang berat pada
kebanyakan penyakit kornea, minimal pada keratitis herpes karena hipestesi terjadi
pada penyakit ini, yang juga merupakan tanda diagnostik berharga. Meskipun
berairmata dan fotopobia umunnya menyertai penyakit kornea, umumnya tidak ada
tahi mata kecuali pada ulkus bakteri purulen.
Tanda penting ulkus kornea yaitu penipisan kornea dengan defek pada epitel yang
nampak pada pewarnaan fluoresen. Biasanya juga terdapat tanda-tanda uveitis anterior
seperti miosis, aqueus flare (protein pada humor aqueus) dan kemerahan pada mata.
Refleks axon berperan terhadap pembentukan uveitis, stimulasi reseptor nyeri pada
kornea menyebabkan pelepasan mediator inflamasi seperti prostaglandin, histamine
dan asetilkolin. Pemeriksaan terhadap bola mata biasanya eritema, dan tanda-tanda
inflamasi pada kelopak mata dan konjungtiva, injeksi siliaris biasanya juga ada.
Eksudat purulen dapat terlihat pada sakus konjungtiva dan pada permukaan ulkus, dan
infiltrasi stroma dapat menunjukkan opasitas kornea berwarna krem. Ulkus biasanya
berbentuk bulat atau oval, dengan batas yang tegas. Pemeriksaan dengan slit lamp
dapat ditemukan tanda-tanda iritis dan hipopion.

4.

Patofisiologi
Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui cahaya, dalam
perjalanan pembentukan bayangan di retina, karena jernih, sebab susunan sel dan
seratnya tertentu dan tidak ada pembuluh darah. Biasan cahaya terutama terjadi di
permukaan anterior dari kornea. Perubahan dalam bentuk dan kejernihan kornea,
segera mengganggu pembentukan bayangan yang baik di retina. Oleh karenanya
kelainan sekecil apapun di kornea, dapat menimbulkan gangguan penglihatan yang
hebat terutama bila letaknya di daerah pupil.
Patologi ulkus kornea tanpa perforasi dibagi dalam 4 Fase :
a.
Fase Infiltrasi Progresif

Karakteristik dari tingkat ini aialah infiltrasi sel sel PMN dan atau limfosit ke dalam
epitel dari sirkulasi perifer. Selanjutnya dapat terjadi nekrosis dari jaringan yang
terlibat bergantung virulensi agen dan pertahanan tubuh host.
b.
Fase Ulserasi Aktif
Ulserasi aktif merupakan hasil dari nekrois dan pengelupasan epitel, membran
Bowman, dan stroma yang terlibat. Selama fase ulserasi aktif terjadi hiperemia yang
mengakibatkan akumulasi eksudat purulen di kornea. Jika organisme penyebab
virulensinya tinggi atau pertahanan tubuh host lemah akan terjadi penetrasi yang lebih
dalam selama fase ulserasi aktif.
c.
Fase Regresi
Regresi ditimbulkan oleh sistem pertahanan natural (antibodi humoral dan pertahanan
seluler) dan terapi yang memperbesar respon host normal. Garis batas yang
merupakan kumpulan leukosit mulai timbul di sekitar ulkus, lekosit ini menetralisir
bahkan memfagosit organisme debris seluler. Proses ini disertai vaskularisasi
superfisial yang yang meningkatkan respon imun humoral dan seluler. Ulkus mulai
menyembuh dan epitel mulai tumbuh dari tepi ulkus.
d.
Fase Sikatrisasi
Pada fase ini penyembuhan berlanjut dengn epitelisasi progresif yang membentuk
sebuah penutup permanen. Di bawah epitel baru terbentuk jaringan fibrosa yang
sebagain berasal dari fibroblas kornea dan sebagian lagi berasal dari sel endotel
pembuluh darah baru. Stroma menebal dan mendorong permukaan epitel ke anterior.
Derajat sikatrik bervariasi, jika ulkus sangat superfisial dan hanya melibatkan epitel
maka akan menyembuh sempurna tanpa bekas. Jika ulkus melibatkan memran
Bowman dan sedikit lamela stroma superficial maka akan terbentuk sikatrik yang
disebut nebula. Apabila ulkus melibatkan hingga lebih dari sepertiga stroma akan
membentuk makuladan leukoma.

5.

Klasifikasi
Berdasarkan lokasi , dikenal ada 2 bentuk ulkus kornea , yaitu :
a. Ulkus Kornea Sentral
1.
Ulkus Kornea Bakterialis
Ulkus Streptokokus : Khas sebagai ulcus yang menjalar dari tepi ke arah tengah
kornea (serpinginous). Ulkus bewarna kuning keabu-abuan berbentuk cakram dengan
tepi ulkus yang menggaung. Ulkus cepat menjalar ke dalam dan menyebabkan

perforasi kornea, karena eksotoksin yang dihasilkan oleh streptokok pneumonia.


Ulkus Stafilokokus : Pada awalnya berupa ulkus yang bewarna putih kekuningan
disertai infiltrat berbatas tegas tepat dibawah defek epitel. Apabila tidak diobati secara

adekuat, akan terjadi abses kornea yang disertai edema stroma dan infiltrasi sel
leukosit. Walaupun terdapat hipopion ulkus seringkali indolen yaitu reaksi radangnya

minimal.
Ulkus Pseudomonas : Lesi pada ulkus ini dimulai dari daerah sentral kornea. ulkus
sentral ini dapat menyebar ke samping dan ke dalam kornea. Penyerbukan ke dalam
dapat mengakibatkan perforasi kornea dalam waktu 48 jam. gambaran berupa ulkus
yang berwarna abu-abu dengan kotoran yang dikeluarkan berwarna kehijauan.
Kadang-kadang bentuk ulkus ini seperti cincin. Dalam bilik mata depan dapat terlihat

hipopion yang banyak.


Ulkus Pneumokokus : Terlihat sebagai bentuk ulkus kornea sentral yang dalam. Tepi
ulkus akan terlihat menyebar ke arah satu jurusan sehingga memberikan gambaran
karakteristik yang disebut Ulkus Serpen. Ulkus terlihat dengan infiltrasi sel yang
penuh dan berwarna kekuning-kuningan. Penyebaran ulkus sangat cepat dan sering
terlihat ulkus yang menggaung dan di daerah ini terdapat banyak kuman. Ulkus ini
selalu di temukan hipopion yang tidak selamanya sebanding dengan beratnya ulkus
yang terlihat.diagnosa lebih pasti bila ditemukan dakriosistitis.
2.
Ulkus Kornea Fungi
Mata dapat tidak memberikan gejala selama beberapa hari sampai beberapa minggu
sesudah trauma yang dapat menimbulkan infeksi jamur ini. Pada permukaan lesi
terlihat bercak putih dengan warna keabu-abuan yang agak kering. Tepi lesi berbatas
tegas irregular dan terlihat penyebaran seperti bulu pada bagian epitel yang baik.
Terlihat suatu daerah tempat asal penyebaran di bagian sentral sehingga terdapat
satelit-satelit

disekitarnya..Tukak kadang-kadang dalam,

seperti tukak

yang

disebabkan bakteri. Pada infeksi kandida bentuk tukak lonjong dengan permukaan
naik. Dapat terjadi neovaskularisasi akibat rangsangan radang. Terdapat injeksi siliar

disertai hipopion.
3.
Ulkus Kornea Virus
Ulkus Kornea Herpes Zoster : Biasanya diawali rasa sakit pada kulit dengan
perasaan lesu. Gejala ini timbul satu 1-3 hari sebelum timbulnya gejala kulit. Pada
mata ditemukan vesikel kulit dan edem palpebra, konjungtiva hiperemis, kornea keruh
akibat terdapatnya infiltrat subepitel dan stroma. Infiltrat dapat berbentuk dendrit yang
bentuknya berbeda dengan dendrit herpes simplex. Dendrit herpes zoster berwarna
abu-abu kotor dengan fluoresin yang lemah. Kornea hipestesi tetapi dengan rasa sakit

keadaan yang berat pada kornea biasanya disertai dengan infeksi sekunder.
Ulkus Kornea Herpes simplex : Infeksi primer yang diberikan oleh virus herpes
simplex dapat terjadi tanpa gejala klinik. Biasanya gejala dini dimulai dengan tanda

injeksi siliar yang kuat disertai terdapatnya suatu dataran sel di permukaan epitel
kornea disusul dengan bentuk dendrit atau bintang infiltrasi. terdapat hipertesi pada
kornea secara lokal kemudian menyeluruh. Terdapat pembesaran kelenjar preaurikel.
Bentuk dendrit herpes simplex kecil, ulceratif, jelas diwarnai dengan fluoresin dengan
benjolan diujungnya.
4.
Ulkus Kornea Acanthamoeba
Awal dirasakan sakit yang tidak sebanding dengan temuan kliniknya, kemerahan dan
fotofobia. Tanda klinik khas adalah ulkus kornea indolen, cincin stroma, dan infiltrat
perineural.
b. Ulkus Kornea Perifer
Ulkus Marginal
Ulkus marginal adalah peradangan kornea bagian perifer dapat berbentuk bulat atau
dapat juga rektangular (segiempat) dapat satu atau banyak dan terdapat daerah kornea
yang sehat dengan limbus. Ulkus marginal dapat ditemukan pada orang tua dan sering
dihubungkan dengan penyakit rematik atau debilitas. Dapat juga terjadi ebrsama-sama
dengan radang konjungtiva yang disebabkan oleh Moraxella, basil Koch Weeks dan
Proteus Vulgaris. Pada beberapa keadaan dapat dihubungkan dengan alergi terhadap
makanan. Secara subyektif; penglihatan pasien dengan ulkus marginal dapat menurun
disertai rasa sakit, lakrimasi dan fotofobia. Secara obyektif : terdapat blefarospasme,
injeksi konjungtiva, infiltrat atau ulkus yang sejajar dengan limbus.
Pengobatan : Pemberian kortikosteroid topikal akan sembuh dalam 3 hingga 4 hari,
tetapi dapat rekurens. Antibiotika diberikan untuk infeksi stafilokok atau kuman
lainnya. Disensitisasi dengan toksoid stafilokkus dapat memberikan penyembuhan

yang efektif
Ulkus Mooren
Merupakan ulkus yang berjalan progresif dari perifer kornea kearah sentral. ulkus
mooren terutama terdapat pada usia lanjut. Penyebabnya sampai sekarang belum
diketahui. Banyak teori yang diajukan dan salah satu adalah teori hipersensitivitas
tuberculosis, virus, alergi dan autoimun. Biasanya menyerang satu mata. Perasaan
sakit sekali. Sering menyerang seluruh permukaan kornea dan kadang meninggalkan
satu pulau yang sehat pada bagian yang sentral. Pengobatan degan steroid, radioterapi.

Flep konjungtiva, rejeksi konjungtiva, keratektomi dan keratoplasti.


Ring Ulcer
Terlihat injeksi perikorneal sekitar limbus. Di kornea terdapat ulkus yang berbentuk
melingkar dipinggir kornea, di dalam limbus, bisa dangkal atau dalam, kadang-kadang
timbul perforasi.Ulkus marginal yang banyak kadang-kadang dapat menjadi satu

menyerupai ring ulcer. Tetapi pada ring ulcer yang sebetulnya tak ada hubungan
dengan konjungtivitis kataral. Perjalanan penyakitnya menahun.
6. Pemeriksaan Penunjang
a. Kartu mata/ snellen telebinokuler (tes ketajaman penglihatan dan sentral penglihatan )
b.
Pengukuran tonografi : mengkaji TIO, normal 15 - 20 mmHg
c.
Pemeriksaan oftalmoskopi
d.
Pemeriksaan Darah lengkap, LED
e.
Pemeriksaan EKG
f.
Tes toleransi glukosa
8.

Penatalaksanaan
Ulkus kornea adalah keadan darurat yang harus segera ditangani oleh spesialis mata
agar tidak terjadi cedera yang lebih parah pada kornea. Pengobatan pada ulkus kornea
tergantung penyebabnya, diberikan obat tetes mata yang mengandung antibiotik, anti
virus, anti jamur, sikloplegik dan mengurangi reaksi peradangan dengann steroid.
Pasien dirawat bila mengancam perforasi, pasien tidak dapat memberi obat sendiri,

1.

tidak terdapat reaksi obat dan perlunya obat sistemik.


Penatalaksanaan ulkus kornea di rumah
Jika memakai lensa kontak, secepatnya untuk melepaskannya
Jangan memegang atau menggosok-gosok mata yang meradang
Mencegah penyebaran infeksi dengan mencuci tangan sesering mungkin dan

mengeringkannya dengan handuk atau kain yang bersih

Berikan analgetik jika nyeri


2.
Penatalaksanaan medis
a. Pengobatan konstitusi
Oleh karena ulkus biasannya timbul pada orang dengan keadaan umum yang kurang dari
normal, maka keadaan umumnya harus diperbaiki dengan makanan yang bergizi,
udara yang baik, lingkungan yang sehat, pemberian roboransia yang mengandung
vitamin A, vitamin B kompleks dan vitamin C. Pada ulkus-ulkus yang disebabkan
kuman yang virulen, yang tidak sembuh dengan pengobatan biasa, dapat diberikan
vaksin tifoid 0,1 cc atau 10 cc susu steril yang disuntikkan intravena dan hasilnya
cukup baik. Dengan penyuntikan ini suhu badan akan naik, tetapi jangan sampai
melebihi 39,5C. Akibat kenaikan suhu tubuh ini diharapkan bertambahnya antibodi
dalam badan dan menjadi lekas sembuh.
b. Pengobatan lokal
Benda asing dan bahan yang merangsang harus segera dihilangkan. Lesi kornea sekecil
apapun harus diperhatikan dan diobati sebaik-baiknya. Konjungtuvitis, dakriosistitis
harus diobati dengan baik. Infeksi lokal pada hidung, telinga, tenggorok, gigi atau
tempat lain harus segera dihilangkan.
Infeksi pada mata harus diberikan :

1.

Sulfas atropine sebagai salap atau larutan, Kebanyakan dipakai sulfas atropine karena

bekerja lama 1-2 minggu.


Efek kerja sulfas atropine :

Sedatif, menghilangkan rasa sakit.

Dekongestif, menurunkan tanda-tanda radang.

Menyebabkan paralysis M. siliaris dan M. konstriktor pupil.

Dengan lumpuhnya M. siliaris mata tidak mempunyai daya akomodsi sehingga mata
dalan keadaan istirahat. Dengan lumpuhnya M. konstriktor pupil, terjadi midriasis
sehinggga sinekia posterior yang telah ada dapat dilepas dan mencegah pembentukan
sinekia posterior yang baru
2. Skopolamin sebagai midriatika.
3. Analgetik.
Untuk menghilangkan rasa sakit, dapat diberikan tetes pantokain, atau tetrakain tetapi
jangan sering-sering.
Paracetamol and ibuprofen dapat menghilangkan rasa sakit dan mengurangi edem.4 Atau
dapat pula diberikan tetes mata pantokain atau tetrakain
4. Antibiotik
Anti biotik yang sesuai dengan kuman penyebabnya atau yang berspektrum luas diberikan
sebagai salap, tetes atau injeksi subkonjungtiva. Pada pengobatan ulkus sebaiknya
tidak diberikan salap mata karena dapat memperlambat penyembuhan dan juga dapat
menimbulkan erosi kornea kembali.
a.
Antibiotik topikal
Terapi inisial (sebelum didapatkan hasil kultur dan tes sensitivitas) hendaknya diberikan
antibiotik spektrum luas. Dianjurkan tetes mata gentamycin (14 mg/ml) atau
tobramycin (14mg/ml) bersama dengan cephazoline (50mg/ml), setiap setengah
hingga satu jam untuk beberapa hari pertama kemudian dikurangi menjadi per dua
jam . Setelah respon yang diinginkan tercapai, tetes mata dapat diganti dengan
Ciprofloxacin (0.3%), Ofloxacin (0.3%), atau Gatifloxacin (0.3%).
b.
Antibiotik sistemik
Biasanya tidak diperlukan. Akan tetapi, cephalosporine dan aminoglycoside atau oral
ciprofloxacin (750 mg dua kali sehari) dapat diberikan pada kasus berat dengan
perforasi atau jika sklera ikut terkena.
5. Anti jamur
Terapi medika mentosa di Indonesia terhambat oleh terbatasnya preparat komersial yang

tersedia berdasarkan jenis keratomitosis yang dihadapi bisa dibagi :


Jenis jamur yang belum diidentifikasi penyebabnya : topikal amphotericin B 1, 2, 5

mg/ml, Thiomerosal 10 mg/ml, Natamycin > 10 mg/ml, golongan Imidazole

Jamur berfilamen : topikal amphotericin B, thiomerosal, Natamicin, Imidazol

Ragi (yeast) : amphotericin B, Natamicin, Imidazol

Actinomyces yang bukan jamur sejati : golongan sulfa, berbagai jenis anti biotik
6. Anti Viral

Untuk herpes zoster pengobatan bersifat simtomatik diberikan streroid lokal untuk
mengurangi gejala, sikloplegik, anti biotik spektrum luas untuk infeksi sekunder
analgetik bila terdapat indikasi.
Untuk herpes simplex diberikan pengobatan IDU, ARA-A, PAA, interferon inducer.
Perban tidak seharusnya dilakukan pada lesi infeksi supuratif karena dapat menghalangi
pengaliran sekret infeksi tersebut dan memberikan media yang baik terhadap
perkembangbiakan kuman penyebabnya. Perban memang diperlukan pada ulkus yang
bersih tanpa sekret guna mengurangi rangsangan.
c. Untuk menghindari penjalaran ulkus dapat dilakukan :
1.
Kauterisasi

Dengan zat kimia : Iodine, larutan murni asam karbolik, larutan murni

trikloralasetat 20.
Dengan panas (heat cauterisasion) : memakai elektrokauter atau termophore.
Dengan instrumen ini dengan ujung alatnya yang mengandung panas disentuhkan

pada pinggir ulkus sampai berwarna keputih-putihan.


2.
Pengerokan epitel yang sakit
Parasentesa dilakukan kalau pengobatan dengan obat-obat tidak menunjukkan perbaikan
dengan maksud mengganti cairan coa yang lama dengan yang baru yang banyak
mengandung antibodi dengan harapan luka cepat sembuh. Penutupan ulkus dengan
flap konjungtiva, dengan melepaskan konjungtiva dari sekitar limbus yang kemudian
ditarik menutupi ulkus dengan tujuan memberi perlindungan dan nutrisi pada ulkus
untuk mempercepat penyembuhan. Kalau sudah sembuh flap konjungtiva ini dapat
dilepaskan kembali.
Bila seseorang dengan ulkus kornea mengalami perforasi spontan berikan sulfas atropine,
antibiotik dan balut yang kuat. Segera berbaring dan jangan melakukan gerakangerakan. Bila perforasinya disertai prolaps iris dan terjadinya baru saja, maka dapat

Bila

dilakukan :
Iridektomi dari iris yang prolaps
Iris reposisi
Kornea dijahit dan ditutup dengan flap konjungtiva
Beri sulfas atripin, antibiotic dan balut yang kuat
terjadi perforasi dengan prolaps iris yang telah berlangsung lama, kita obati seperti
ulkus biasa tetapi prolas irisnya dibiarkan saja, sampai akhirnya sembuh menjadi

leukoma adherens. Antibiotik diberikan juga secara sistemik.


3.
Keratoplasti
Keratoplasti adalah jalan terakhir jika penatalaksanaan diatas tidak berhasil. Indikasi
keratoplasti terjadi jaringan parut yang mengganggu penglihatan, kekeruhan kornea

yang menyebabkan kemunduran tajam penglihatan, serta memenuhi beberapa kriteria

3.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

yaitu :
Kemunduran visus yang cukup menggangu aktivitas penderita
Kelainan kornea yang mengganggu mental penderita.
Kelainan kornea yang tidak disertai ambliopia
Tindakan bedah meliputi
Keratektomi superficial tanpa membuat perlukaan pada membrane Bowman
Tissue adhesive atau graft amnion multilayer
Flap konjungtiva
Patch graft dengan flap konjungtiva
Keratoplasti tembus
Fascia lata graft

9.
Komplikasi
Komplikasi yang paling sering timbul berupa:
a.
Kebutaan parsial atau komplit dalam waktu sangat singkat
b.
Kornea perforasi dapat berlanjut menjadi endoptalmitis dan panopthalmitis
c.
Prolaps iris
d.
Sikatrik kornea
e.
Katarak
f.
Glaukoma sekunder
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1.
Pengkajian
a. Aktifitas istirahat
Gejala : perubahan aktifitas sehubungan dengan gangguan penglihatan
Gangguan istirahat karena nyeri dan ketidaknyamanan.
b. Intregitas ego
Kecemasan tentang status kesehatan dan tindakan pengobatan.
c. Neurosensor
Gejala: gangguan penglihatan, sinar terang menyebabkan silau dengan kehilangan
bertahap tentang penglihatan perifer dan lakrimasi.
Tanda: kornea keruh, iris, dan pupil tidak kelihatan serta peningkatan air mata.
d. Keamanan
Terjadi trauma karena penurunan penglihatan.
e. Nyeri
Gejala;: ketidak nyamanan ringan, mata berair dan merak, myeri berat disertai tekanan
pada sekitar bola mata dan menyebabkan sakit kepala.
f. Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : Riwayat keluarga glukoma, DM, gangguan sustem vaskuler, riwayat stress, alergi,
ketidak seimbangan endokrin, terpajan pada radiasi,polusi, steroid.
g. Rencana pemulangan
Memerlukan bantuan tranportasi, penyediaan makanan, perawatan diri, pemeliharaan
rumah. (Doenges, 2000)
h. Pemeriksaan Fisik
1.
Insfeksi
Amati :

Kelopak

mata

.Apakah

ada

bengkak,

benjolan,ekimosis,ekstropion,

entropion,pseudoptosis dan kelainan kelopak mata lainnya.


Konjungtiva. Apakah warnanya lebih pucat dari warna normalnya merah muda pucat

mengkilat. Apakah ada kerehanan / pus mungkin karena alergi / konjungtivitis


Sclera. Apakahapakah ikterik atau unikterik, adanya bekas trauma
Iris. Apakah ada ke abnormalan seperti iridis, atropi (pada DM, glaucoma,

ishkemi,lansia) dll
Kornea. Apakah ada arkus senilis (cincin abu abu dipinggir luar kornea),edema/

keruh /menebalnya kornea atau adanya ulkus kornea.


Pupil. Apakah besarnya normal (3-5 mm/ isokor), atau amat kecil (pin point), miosis

(< 2 mm), midriasis (>5mm)

Lensa. Apakah warnanya jernih (normal), atau keruh (katarak)


2.
Palpasi
Setelah inspeksi, lakukan palpasi pada mata dan struktur yang berhubungan. Digunakan
untuk menentukan adanya tumor. Nyeri tekan dan keadaan tekanan intraokular (TIO).
Mulai dengan palpasi ringan pada kelopak mata terhadap adanya pembengkakan dan
kelemahan. Untuk memeriksa TIO dengan palpasi, setelah klien duduk dengan enak,
klien diminta melihat ke bawah tanpa menutup matanya. Secara hati hati pemeriksa
menekankan kedua jari telunjuk dari kedua tangan secara bergantian pada kelopak
atas. Cara ini diulangi pada mata yang sehat dan hasilnya dibandingkan. Kemudian
palpasi sakus lakrimalis dengan menekankan jari telunjuk pada kantus medial. Sambil
menekan, observasi pungtum terhadap adanya regurgitasi material purulen yang
abnormal atau airmata berlebihan yang merupakan indikasi hambatan duktus
nasolakrimalis.
2.
1.
2.

Diagnose Keperawatan
Perubahan persepsi sensori: visual b.d kerusakan penglihatan
Nyeri b.d trauma, peningkatan TIO, inflamasi intervensi bedah atau pemberian tetes

3.
4.

mata dilator
Risiko cedera b.d kerusakan penglihatan
Ketakutan atau ansietas b.d kerusakan sensori dan kurangnya pemahaman mengenai

5.
6.

perawatan pasca operatif, pemberian obat


Potensial terhadap kurang perawatan diri b.d dengan kerusakan penglihatan
Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi mengenai perawatan diri dan proses
penyakit.

3.
Intervensi
1.
Perubahan persepsi sensori: visual b.d kerusakan penglihatan
Tujuan: Pasien mampu beradaptasi dengan perubahan
Kriteria hasil :


Pasien menerima dan mengatasi sesuai dengan keterbatasan penglihatan

Menggunakan penglihatan yang ada atau indra lainnya secara adekuat


Intervensi:
a.
Perkenalkan pasien dengan lingkungannya
b.
Beritahu pasien untuk mengoptimalkan alat indera lainnya yang tidak mengalami
c.
d.
e.
2.

gangguan
Kunjungi dengan sering untuk menentukan kebutuhan dan menghilangkan ansietas
Libatkan orang terdekat dalam perawatan dan aktivitas
Kurangi bising dan berikan istirahat yang seimbang
Nyeri yang berhubungan dengan trauma, peningkatan TIO, inflamasi intervensi

bedah atau pemberian tetes mata dilator.


Intervensi :
a.
Berikan obat untuk mengontrol nyeri dan TIO sesuai resep
b.
Berikan kompres dingin sesuai permintaan untuk trauma tumpul
c.
Kurangi tingkat pencahayaan
d.
Dorong penggunaan kaca mata hitam pada cahaya kuat
3.
Risiko terhadap cedera yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan
Intervensi :
a.
Bantu pasien ketika mampu melakukan ambulasi pasca operasi sampai stabil
b.
Orientasikan pasien pada ruangan
c.
Bahas perlunya penggunaan perisai metal atau kaca mata bila diperlukan
d.
Jangan memberikan tekanan pada mata yang terkena trauma
e.
Gunakan prosedur yang memadai ketika memberikan obat mata
4.
Ketakutan atau ansietas berhubungan dengan kerusakan sensori dan kurangnya
pemahaman mengenai perawatan pasca operatif, pemberian obat.
Intervensi :
a.
Kaji derajat dan durasi gangguan visual
b.
Orientasikan pasien pada lingkungan yang baru
c.
Jelaskan rutinitas perioperatif
d.
Dorong untuk menjalankan kebiasaan hidup sehari-hari bila mampu
e.
Dorong partisipasi keluarga atau orang yang berarti dalam perawatan pasien.
5.
Potensial terhadap kurang perawatan diri yang berhubungan dengan kerusakan
penglihatan
Intervensi :
a.
Beri instruksi pada pasien atau orang terdekat mengenai tanda dan gejala,
b.

komplikasi yang harus segera dilaporkan pada dokter


Berikan instruksi lisan dan tertulis untuk pasien dan orang yang berarti mengenai

c.
d.

teknik yang benar dalam memberikan obat


Evaluasi perlunya bantuan setelah pemulangan
Ajari pasien dan keluarga teknik panduan penglihatan

6.

Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi mengenai perawatan diri dan proses

penyakit Tujuan: Pasien memiliki pengetahuan yang cukup mengenai penyakitnya


Kriteria hasil:


Pasien memahami instruksi pengobatan

Pasien memverbalisasikan gejala-gejala untuk dilaporkan


Intervensi:
a.
Beritahu pasien tentang penyakitnya
b. Ajarkan perawatan diri selama sakit
c.
Ajarkan prosedur penetesan obat tetes mata dan penggantian balutan pada pasien
d.

dan keluarga
Diskusikan gejala-gejala terjadinya kenaikan TIO dan gangguan penglihatan

4.
Implementasi
Setelah rencana tindakan keperawatan disusun secara sistemik. Selanjutnya rencana
tindakan tersebut diterapkan dalam bentuk kegiatan yang nyata dan terpadu guna
memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan yang diharapkan.
5.
Evaluasi
Evaluasi adalah perbandingan yang sistemik atau terencana tentang kesehatan pasien
dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara berkesinambungan,
dengan melibatkan pasien, keluarga dan tenaga kesehatan lainnya

Daftar Pustaka
Doenges, Marilynn E. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan
pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih bahasa I Made Kariasa. Ed. 3. Jakarta,
2000
Dwi Ruly.2013. Asuhan Keperawatn Ulkus Kornea.
http://ruliiyyhealthylife.blogspot.com/2013/01/asuhan-keperawatan-ulkuskornea.html.diakses pada tanggal 31 mei 2014 pukul 20.00 WIB.
Shafariyah.2011. Ulkus Kornea.
http://shafamedica.wordpress.com/2011/12/17/ulkus-kornea/. diakses pada tanggal 31 mei
2014 pukul 20.00 WIB.
Nanika.2011. Laporan Pendahuluan Pada Pasien Dengan Gangguan Kornea (Ulkus /
Ulserasi

kornea).http://naa-nanika.blogspot.com/2011/09/laporan-pendahuluan-

asuhan-keperawatan.html. diakses pada tanggal 31 mei 2014 pukul 20.00 WIB.

Anda mungkin juga menyukai