Anda di halaman 1dari 7

MODUL II RANGKAIAN ARUS SEARAH DAN NILAI STATISTIK RESISTANSI

Rosana Dewi Amelinda (13213060)


Asisten: Grahmada Ruci B
Tanggal Percobaan: 17/09/2014
EL2101-Praktikum Rangkaian Elektrik

Laboratorium Dasar Teknik Elektro - Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB
Abstrak

linier dengan dua kutub (terminal) a dan b, dapat


diganti dengan suatu tegangan VT (V Thavenin) seri
Abstrak Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan
dengan resistor RT (R Thavenin).

rangkaian arus searah dan nilai statistik resistansi. Percobaan


dilakukan dengan menguji beberapa teorema pada rangkaian
arus searah (DC). Dari pengujian didapatkan pembuktian
dari teorema Thavein, teorema Norton, teorema Superposisi,
dan teorema Resiprositas. Selain itu juga dilakukan pencarian
nilai resistansi efektif dan pengamatan nilai statistic resistansi.

Gambar 1 Konsep Teorema Thavenin

Kata kunci: Thavenin, Norton, Superposisi,


Resiprositas, Nilai Efektif, Nilai Statistik.
1.

PENDAHULUAN

Sebagai mahasiswa teknik elektro, tentunya kita


sudah familiar dengan teorema-teorema di bidang
ke-electric-kan. Diantara teorema itu adalah
Teorema
Thavenin
dan
Teorema
Norton
menyatakan bahwa suatu rangkaian linier yang
kompleks dapan di representasikan hanya dengan
sebuah sumber tegangan Thavenin (VT) dan
resistansi Thavenin (RT) (teorema Thavenin) atau
sebuah sumber arus Norton (IN) dan resistansi
Norton (RN) (teorema Norton). Selain kedua
teorema tersebut, terdapat pula teorema superposisi
dan teorema resiprositas. Pada percobaan kali ini,
akan dilakukan pembuktian terhadap keempat
teorema tersebut serta akan dilakukan pencarian
nilai resistansi efektif dan nilai statistic resistansi.

VT = tegangan pada a-b dalam keadaan tanpa


beban (open circuit)
RT = resistansi pada a-b dilihat kearah rangkaian
dengan semua sumber independen diganti dengan
resistansi dalamnya.
Dengan teorema ini dapat dihitung arus beban
dengan cepat bila beban diubah-ubah.
Teorema Norton menyataka suatu rangkaian aktif
(dengan sumber tegangan dan atau sumber
arusdependen maupun independen) yang bersifat
linier dengan dua kutub (terminal) a dan b, dapat
diganti dengan satu sumber arus IN (I Norton)
parallel dengan suatu resistor dengan resistansi RN
(R Norton).
Gambar 2 Konsep Teorema Norton

Dari praktikum diharapakan mahasiswa dapat :


a.

Memahami penggunaan teorema Thavenin


dan teorema Norton pada rangkaian arus
searah.

b.

Memahami Teorema
Teorema Resiprositas.

c.

Dapat merancang
Tegangan.

Superposisi

Rangkaian

dan

Pembagi

IN = arus melalui a-b dalam keadaan short circuit

RN = resisransi pada a-b dilihat kearah rangkaian


dengan semua sumber independen diganti dengan
d. Memahami rangkaian resistor seri dan resistansi dalamnya.
parallel.
Teorema
Superposisi.
Prinsip
superposisi
e. Memahami nilai statistik resistansi
menyebabkan suatu rangkaian rumit yang memiliki
sumber tegangan / arus lebih dari satu dapat
2. STUDI PUSTAKA
dianalisis menjadi rangkaian dengan satu sumber.
Teorema Thavenin menyatakan suatu rangkaian Ketika menentukan arus atau tegangan dari suatu
aktif (dengan sumber tegangan dan atau sumber sumber tertentu, semua tegangan independen
arus dependen maupun independen) yang bersifat digantikan dengan hubung singkat (short circuit)
Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

dan semua arus independen digantikan dengan


e. Teorema Resiprositas
hubung terbuka (open circuit). Tegangan dependen
f. Transfer daya maksimum
tidak mengalami perubahan. Prinsip superposisi ini
g. Rangkaian resistor seri dan parallel
dapat diperluas untuk sumber yang bolak-balik,
namun hanya berlaku pada rangkaian yang linier.
h. Perilaku statistic nilai resistansi
Jadi apabila pada suatu rangkaian terdapat n buah
sumber, maka akibat total, berupa arus atau
3. METODOLOGI
tegangan, pada suatu cabang dapat ditulis :
Pada percobaan modul 2 ini, alat dan bahan yang
digunakan yaitu :
aT = arus atau tegangan pada suatu cabang bila n
a. Kit Teorema Thavenin dan Norton
(1
buah sumber (sumber tegangan dan atau
buah)
sumberarus) bekerja bersama-sama.
b. Kit Multimeter
(1 buah)
a1 = arus atau tegangan pada suatu cabang tersebut
c. Kit Osiloskop dan Generator sinyal
(1
bila hanya sumber S1 yang bekerja , sedangkan
buah)
sumber S2,S3, Sn diganti oleh resistansi dalamnya.
Teorema Resiprositas. Dalam tiap rangkaian pasif
yang bersifat linier, bila suatu sumber tegangan v
dipasang pada cabang k meghasilkan arus I1 = I
pada cabang m, maka bila sumber tegangan V
tersebut dipindahkan ke cabang m, arus yang
mengalir pada cabang k adalah I2 = I.
Gambar 3
Sumber tegangan V dipasang pada cabang m, dan arus
pada cabang k adalah I1 = I

d. Resistor 1K

(100 buah)

e.

Resistor Dekade

(1 set)

f.

Power Supply DC

(2 buah)

g.

Multimeter

(2 buah)

h. Kabel 4 mm 4 mm`

Pada praktikum kali ini


bebrapa percobaan, yaitu :
1.

akan

dilakukan

Teorema Thavenin (Rangkaian 1)


a.

Dalam percobaan ini, teorema Thavenin


depergunakan untuk mencari arus
pada beban R (R1, R2, atau R3) pada
cabang C-D secara tidak langsung
dengan mengukur VT,RT, dan R.
Kemudian
hasilnya
dibandingkan
dengan pengukuran arus melalui beban
secara langsung dengan mili Ammeter.

b.

Digunakan kit Thavenin dan Norton.


Dipasang sumber tegangan DC 20 V
pada A-B. Pada cabang C-D dipasang
mA meter seri dengan beban R1, seperti
pada gambar 5. Dicatat arus yang
melalui R1.
Gambar 5 Pengukuran arus rangkaian

Gambar 4
Sumber tegangan V dipindah ke cabang k, maka arus pada
cabang m adalah I2 = I

2.1

(min 10 buah)

JUDUL SUB-BAB

Sub-bab pada percobaan ini, yaitu :


a.

Teorema Thavenin (Rangkaian 1)

b.

Teorema Thavenin (Rangkaian 2)

c.

Teorema Norton

d. Teorema Superposisi

c.

Dibuka beban & mA meter, sehingga CD terbuka (open circuit). Diukur


tegangan open circuit C-D dengan
Voltmeter Elektronik yang mempunyai
impedansi input tinggi (seperti pada
gambar 6. Dicatat tegangan open circuit

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

ini sebagai nilai Vr. Tegangan sumber


A-B harus tetap = 20 V.

potensiometer yang tersedia pada kit


praktikum dengan nilai RT pada
langkah d (percobaan 1).

Gambar 6 Pengukuran tegangan Thavenin

d. Untuk mengukur RT, yaitu resistansi


yang dilihat pada terminal C-D ke arah
kiri. Dileparkan sumber tegangan dari
A-B dan dihubung singkatkan A-B,
seperti pada gambar 7. Diukur
resistansi pada terminal C-D dengan
Ohmmeter (atau jembatan).

b.

Diukur arus yang mengalir melalui R1


dengan mA-meter.

c.

Diulangi percobaan a dan b (percobaan


2) untuk R=R2, R=R3, dan R=0 (shortcircuit).

d. Ditulis hasil percobaan pada Buku


Catatan Laboratorium
3.

Teorema Norton
a.

Dalam percobaan ini, rangkaian pada


percobaan thavenin 1 diatas diganti
dengan sebuah sumber arus IN parallel
dengan suatu resistansi RN yang
besarnya sama dengan RT.

b.

Mencari besar IN.Dipasang sumber


tegangan searah 20 V
pada A-B.
Diukur arus hubung-singkat pada C-D
(dipasang mA-meter pada C-D).

Gambar 7 Pengukuran resistansi Thavenin /


Norton (RT)

Gambar 9 Pengukuran arus Norton

e.

Diukur resistansi R1.

f.

Dihitung arus yang melelui R1 dengan :

c.
Gambar 8 Pengukuran arus pada rangkaian
pengganti Thavenin

RN=RT dapat diperoleh pada langkah d


(percobaan 1). Diatur sumber arus
sehingga menghasilkan arus sebesar IN
seperti telah diperoleh dari langkah b
(percobaan 3). Dibuat rangkaian seperti
dibawah ini :
Gambar 10 Pengukuran
pengganti Norton

g.

2.

d. Diukur arus melalui mA-meter untuk


R=R1,R2, dan RN2.

Ditulis hasil percobaan dalam bentuk


table pada Buku Catatan Laboratorium.

e.

Diubah resistor RN menggunakan


resistor decade, dilakukan kembali
pengukuran arus seperti pada langkah
d ( percobaan 3).

f.

Ditulis hasil pengamatan dalam Buku


Catatan Laboratorium.

Teorema Thavenin (Rangkaian 2)


a.

rangkaian

Dibandingkan
hasil
perhitungan
tersebut dengan hasil yang diperoleh
dari pengukuran pada langkah a.

h. Diulangi percobaan Thavenin ini


(langkah a sampai e). Untuk harga
R=R2 dan R=R3
i.

arus

Disusun rangkaian seperti pada gambar


4. Sumber tegangan menggunakan
sumber
tegangan
yang
diatur
tegangannya pada nilai VT langkah c
(percobaan
1)
dan
resistor
menggunakan resistor decade atau

4.

Teorema Superposisi

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

a.

Digunakan Kit Multimeter. Rangkaian


berikut untuk R1 = 33 k, R2 = 1.5 k,
R3 = 1.5 k, dan R4 = 2.2 k.
Gambar 11 Pengukuran
teorema superposisi

arus

6.

Transfer daya maksimum


a.

rangkaian

Digunakan Kit Teorema Norton.


Rangkai rangkaian pembagi tegangan
seperti gambar dibawah dengan nilai
resistor RB = resistor variable metrix x10
k, x1 k, x100 serta RA = 3.3 k dari
Kit praktikum.
Gambar 13 Rangkaian percobaan pembagi
tegangan

b.

Dibuat rangkaian seperti gambar diatas


dengan V1 = 12 V, dan V2 = 0 V (V2
short-circuit)

c.

Diukur arus yang melalui R4 (arus I4)


dan beda potensial pada R1. Dicatat
hasilnya
pada
Buku
Catatan
Laboratorium.

d. Diubah rangkaian diatas menjadi V1 =


0 V (V1 short-circuit) & V2 = 6 V.
e.

5.

Diukur arus yang melalui R4 (yaitu


arus I4) dan beda potensial pada R1.
Dicatat hasilnya dalam Buku Catatan
Laboratorium.

f.

Lalu dimodifikasi rangkaian diatas


menjadi V1 = 12 V dan V2 = 6 V.

g.

Diukur arus yang melalui R4 (arus I4)


dan beda potensial pada R1, catat
dalam Buku Catatan Laboratorium.

7.

Dibuat rangkaian berikut dengan R1 =


1.5 k, R2 = 33 k, R3 = 1.5 k, R4 =
220 k, dan R5 = 2.2 k.
Gambar 12 Rangkaian percobaan teorema
resiprositas

b.

c.

Dipasang sumber tegangan V = 12 V


pada a-b. diukur arus yang melalui c-d
dengan memasang mili Ammeter pada
c-d.
Dipindahkan sumber tegangan 12 V
tersebut ke c-d (Vcd = 12 V).

Diamati dan dicatat tegangan, arus, dan


daya yang terjadi pada resistor beban
RB sesuai dengan table 1-1

c.

Digambar grafik daya vs RB pada Buku


Catatan Laboratorium dan diamati
adanya tegangan maksimum

d. Diatur RB hingga diperoleh nilai RB


yang memberi nilai daya maksimum

Teorema Resiprositas
a.

b.

8.

Rangkaian resistor seri dan parallel


a.

Digunakan Kit multimeter. Dirangkai


suatu rangkaian dengan resistorresistor yang tersedia pada kit, yang
menghasilkan resistansi efektif 5.2 k.

b.

Diukur
resistansi
masing-masing
resistor yang digunakan dan resistansi
efektif rangkaian tersebut dengan
menggunakan multimetr digital, dicatat
pada Buku Catatan Laboratorium.

Perilaku statistic nilai resistansi


a.

Diukur ke 100 resistor 1 k dengan


menggunakan
Multimeter
Digital.
Dicatat nilainya dalam table 1-2.

b.

Digabungkan hasil pengukuran resistor


dengan hasil pengukuran kelompok
lain dan dimasukan pada table 1-3.

c.

Dibuat statistic dalam bentuk histogram


nlai resistansi

d. Secara acak ambil 3 buah resistor,


diukur kembali resistansi ke tiga
resistor tersebut.

d. Diukur arus melalui a-b dengan


memasang mili Ammeter pada a-b.
Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

4.

HASIL DAN ANALISIS

d. Teorema Resiprositas

Spesifikasi : multimeter SANWA (DC 1000 V max, Tabel 5 Pengukuran arus dan tegangan Resiprositas
AC 750 V max, DC.AC 600 V max) dan power
supply bertipe GPC-3030
VAB
ICD
IAB
VCD
12
V
2.222
mA
2.222
mA
12 V
Data hasil percobaan sebagai berikut :
a.

Teorema Thavenin

e.

Transfer daya maksimum

Tabel 1 Pengukuran arus rangkaian Thavenin 1


Tabel 6 Pengukuran Transfer Daya Maksimum

Arus terukur
(cara langsung)

Arus terhitung
(dengan
rangkaian
Thavenin)

R1 = 2 k

1.99 mA

2.0187 mA

R2 = 2 k

1.99 mA

2.0175 mA

R3 = 3.3 k

1.41 mA

1.447 mA

Tabel 2 Pangukuran arus rangkaian Thavenin 2

R (k)
R1 = 2
R2 = 3.3
R3= 0

Nilai arus terukur (mA)


1.99
1.41
5 mA
b.

Teorema Norton

Tabel 3 Pengukuran arus rangkaian Norton

Arus terukur

R1 = 2 k
R2 = 2 k
R3 = 3.3 k

1.98 mA
1.98 mA
1.41 mA
c.

RB ()

VB (V)

IB (mA)

PB
(mWatt)

1.

200

0.57

2.84

1.6188

2.

400

1.079

2.68

2.8917

3.

800

1.946

2.41

4.689

4.

1600

3.254

2.02

6.573

5.

3200

4.91

1.51

7.414

6.

6400

6.58

1.00

6.58

7.

12800

7.92

0.59

4.673

8.

512000

9.90

0.01

0.099

Gambar 14 Grafik Daya vs Rb

Arus terukur
(dengan
sumber
tegangan
diganti menjadi
sumber arus)
1.99 mA
1.99 mA
1.42 mA

Teorema Superposisi

Tabel 4 Pengukuran arus dan tegangan rangkaian


Superposisi

V1 (V)
12
0
12

No

Sumber
V2 (V)
0
6
6

I4 (mA)
0.07
1.1
1.2

VR1 (V)
11.6
- 4.13
7.45

f.

Rangkaian resistor seri dan parallel


Dihubungkan resistor 2.2 k, 1.5 k, dan
1.5 k secara seri. Dari hasil perhitungkan
didapatkan resistansi total sebesar 5.2 k
dan hasil pengukuran resistansi efektif
sebesar 5.12 k.

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

g.

Tabel 8 Rekapitulasi data pengukuran resistor

Perilaku statistic resistansi

Tabel 7 Data pengukuran resistor

No

Resistansi ()

Cacah

Jumlah

1.

0 967

2.

968 972

3.

973 977

IIIII I

4.

978 982

IIIII IIIII IIIII IIIII IIIII


IIIII III

33

5.

983 987

IIIII IIIII IIIII IIIII IIIII


IIIII IIIII

35

6.

988 - 992

IIIII IIIII IIIII

15

7.

993 997

IIIII II

8.

998 1002

II

9.

1003 1007

10.

1008 1012

11.

1013 1017

12.

1018 1022

13.

1023 1027

14.

1028 1032

15.

1033 -

No

Resistansi
()

Ju
mla
h di
kel
1

Jum
lah
di
kel
2 [1]

Jum
lah
di
kel
3 [1]

Jum
lah
di
kel
4 [2]

Jum
lah
di
kel
5 [2]

1.

0 967

2.

968 972

11

3.

973 977

48

28

25

18

4.

978 982

33

26

20

55

23

5.

983 987

35

27

33

6.

988 - 992

15

15

17

7.

993 997

8.

998
1002

9.

1003
1007

10.

1008
1012

11.

1013
1017

12.

1018
1022

13.

1023
1027

14.

1028
1032

15.

1033 -

Pada praktikum yang telah dilakukan, didapatkan


hasil seperti pada table-tabel diatas. Namun
dikarenakan kelompok praktikum dikelas saya
hanya 3 kelompok yang dapat menyelesaikan data
pengukuran resistor, sehingga pada rekapitulasi,
data pengukuran resistor kelompok 4 dan 5
diperoleh dari kelompok pada shift praktikum hari
selasa, 16 September 2014 ruang laboratorium-2.

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Pada percobaan teorema Thavenin 1, diatur input


sumber tegangan sebesar 20.01 V dengan resistansi
1 terukur 1.980 k, resistans 2 terukur 1.982 k dan
resistansi 3 terukur 3.285 k. Besar arus I yang
terukur dengan cara langsung (rangkaian gambar 5)
nilainya hampir sama dengan nilai arus terhitung
dengan rumus

dengan VT adalah tegangan open circuit C-D


(gambar 6) yaitu sebesar 6.68 V, RT adalah resistansi
yang diukur pada C-D dengan mematikan sumber
tegangan A-B yaitu sebesar 1.329 k dan Ri adalah
resistansi beban (resistansi 1 / resistansi 2 /
resistansi3). Hal ini membuktikan kebenaran dari
teorema Thavenin.

Pada percobaan rangkaian resistor seri dan parallel


telah diatur resistor 2.2 k dihubungkan seri
dengan dua buah resistor 1.5 k. Dari hasil
perhitungan didapatkan
nilai resistansi efektif
rangkaian yaitu sebesar 5.2 k dan nilai resistansi
efektif yang diukur yaitu sebesar 5.12 k (yaitu
mendekati nilai resistansi efektif dari hasil
perhitungan).
Pada percobaan terakhir yaitu perilaku statistic nilai
resistansi telah diukur besar resistansi 100 buah
resistor dan 3 buah resistor yang diambil secara
acak yaitu R1 = 977 , R2 = 982 dan R3 = 972 .
Probabilitas ke 3 resistor bernilai antara 999-1001
yaitu 0 % karena resistor yang bernilai antara 9991001 pada kelompok 1 hanya ada 2, begitu juga
pada kelompok 2 (tidak ada resistor 999-1001),
kelompok 3 (hanya ada 1 resistor 999-1001) ,
kelompok 4 dan kelompok 5.

Pada percobaan teorema Thavenin 2, diatur sumber


tegangan pada nilai VT yaitu 6.68 V. Potensiometer
diatur pada nilai RT yaitu 1.329 k. Hasil nilai arus 5. KESIMPULAN
terukur dapat dilihat pada table 2.
Kesimpulan yang didapatkan pada praktikum ini,
Pada percobaan teorema Norton, diatur sumber yaitu :
tegangan sebesar 20 V dan dibuat rangkaian seperti
Telah dipahami penggunaan teroma
gambar 9. Didapatkan arus I (IN) sebesar 5 mA. RT =
Thavenin dan teorema Norton pada
RN = 1.329 k. Sumber arus didapatkan dengan
rangkaian arus searah
menggunakan rangkaian disebelah kiri dari kit
Thevenin dan Norton. Rangkaian itu dihubungkan
Telah dipahami teorema Superposisi dan
dengan sumber tegangan 18 V dan potensiometer
teorema Resiprositas
diatur hingga menghasilkan arus 5 mA (sumber
Telah dirancang Rangkaian Pembagi
arus). Kemudian buat rangkaian dengan sumber
Tegangan
arus seperti pada gambar 10. Setelah dilakukan
pengukuran arus pada resistor R1, R2 dan R3,
Telah dipahami rangkaian resistor seri dan
didapatkan hasil sesuai table 3. Hasil tersebut
paralel
membuktikan kebenaran teorema Norton.
Telah dipahami nilai statistik resistansi.
Pada percobaan teorema superposisi, didapatkan
pembuktian dari teorema tersebut. Yaitu tabel 4
DAFTAR PUSTAKA
menunjukan bahwa besar arus / tegangan yang
Mervin T Hutabarat, Praktikum Rangkaian
memiliki dua buah sumber tegangan ternyata nilai
Elektrik, Laboratorium Dasar Teknik Elektro
nya sama dengan penjumlahan dari arus /
ITB,Bandung, 2014.
tegangan
yang
diukur
dengan
hanya
menghidupkan salah satu sumbernya.
[1]. Data didapat dari kelompok 2 dan 3 praktikum
Pada percobaan resisprositas, didapatkan data
seperti pada table 5. Data tersebut membuktikan
kebenaran teorema resiprositas yaitu besar arus CD
saat Vab =12 V sama dengan arus AB saat Vcd = 12
V.
Pada percobaan transfer daya maksimum, dibuat
rangkaian seperti pada gambar 13. Diatur V sumber
= 10 V, Ra = 3.3 k.. Didapatkan hasil seperti
tampak pada table 6 dan grafik pada gambar 14.
Dari grafik yang telah dibuat dapat dilihat bahwa
transfer daya maksimum terjadi saat Rb = 3200 k
yaitu saat Rb mendekati nilai Ra. Jadi dapat
disimpulkan bahwa transfer daya maksimum
terjadi saa Rb sama dengan atau mendekati nilai Ra.

shift Rabu, 17
laboratorium-2.

September

2014

ruang

[2]. Data didapat dari kelompok praktikum shift


Selasa,
16
September
2014
ruang
laboratorium-2 (sumber : Irham Mulkan
Rodiana / 13213039)

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB