Anda di halaman 1dari 7

MODUL III RANGKAIAN PENGUAT OPERASIONAL

Rosana Dewi Amelinda (13213060)


Asisten: Dzulfikar Shubhy (13211127)
Tanggal Percobaan: 23/09/2014
EL2101-Praktikum Rangkaian Elektrik

Laboratorium Dasar Teknik Elektro - Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB
Abstrak

filter aktif, instrumentasi, pengubahan analog ke


digital dan sebaliknya. [2]

Abstrak Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan


rangkaian penguat operational amplifier. Percobaan yang Dari praktikum ini diharapakan mahasiswa dapat :
dilakukan antar lain membuat rangkaian penguat nona. Menyusun rangkaian pada breadboard
inverting, rangkaian penguat inverting, rangkaian summer
b. Memahami
penggunaan
operational
(penjumlahan), rangkaian integrator dan rangkaian op-amp
untuk oscillator. Saat percobaan, dilakukan pengukuran Vi
amplifier
dan Vo untuk rangkaian inverting, non-inverting dan
c. Dapat menggunakan rangkaian-rangkaian
rangkaian summer. Selain itu juga diamati perubahan sinyal
standard operational amplifier pada
input dan output yag dihasilkan dari rangkaian integrator
komputasi analog sederhana.
dengan merubah variable tegangan output Vpp.
Kata kunci: Inverting, Non-inverting, Summer, 2.
Integrator.
1.

PENDAHULUAN

Sebagai seorang mahasiswa elektroteknik tentunya


kita sudah tidak asing lagi dengan breadboard dan
operational amplifier (Op-amp). Project board atau
yang sering disebut sebagai breadboard adalah
dasar konstruksi sebuah sirkuit elektronik dan
merupakam prototype dari suatu rangkaian
elektronik. Salah satu kelebihan dari breadboar
yaitu papan ini tidak memerlukan proses
penyolderan (langsung menancapkan konponen di
papan). Oleh karena itu, papan breadboard dapat
digunakan untuk prototype sementara serta
membantu dalam bereksperimen desain sirkuit
elektronika. Berbagai system elektronika dapat di
prototypekan dengan menggunakan breadboard,
mulai dari sirkuit analog dan digital kecil hingga
membuat unit pengolah terpusat (CPU). [1]
Sedangkan Operational amplifier (op-amp) adalah
komponen yang sering digunakan untuk penguat
tegangan. Dengan op-amp kita dapat memperkuat
tegangan output menjadi beberapa kali lipat
tegangan input. Untuk memperoleh tegangan
output yang diinginkan, kita dapat merubah
rangkaian menjadi beberapa jenis rangakaian op
amp (inverting, non-inverting, summer dll). Op
amp banyak dimanfaatkan dalam peralatanperalatan elektronik sebagai penguat, sensor,
mengeraskan suara, buffer sinyal, menguatkan
sinyal, dan mengintegrasikan sinyal. Selain itu op
amp digunakan juga dalam pengaturan tegangan,

STUDI PUSTAKA

Operational Amplifier, sering disingkat dengan


sebutan Op Amp, merupakan komponen yang
penting dan banyak digunkan dalam rangkaian
elektronik berdaya rendah (low power). Istilah
operational merujuk pada kegunaan op amp pada
rangkaian elektronik yang memberikan operasi
aritmatik pada tegangan input (atau arus input)
yang diberikan pada rangkaian.
Op amp digambarkan secara skematik seperti pada
gambar 1. Gambar tersebut menunjukan dua input,
output, dan koneksi catu daya pada op amp. Simbol
- menunjukan inverting input dan +
menunjukan non-inverting input. Koneksi catu
daya pada op amp tidak selalu digambarkan dalam
diagram, namun harus dimasukan pada rangkaian
yang sebenarnya.
Gambar 1 Simbol penguat op amp

IC Op Amp 741

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Gambar 2 Konfigurasi pin IC Op amp 741

Gambar 3 Rangkaian penyangga (voltage follower)

Gambar 4 Rangkaian penguat inverting op amp

IC op amp yang digunakan pada percobaan ini


ditunjukan pada gambar 2. Rangkaian op amp ini
dikemas dalam bentuk dual in-line package (DIP).
DIP memiliki tanda bulatan atau strip pada salah
satu ujungnya untuk menandai arah yang benar
dari rangkaian. Pada bagian atas DIP biasanya
tercetak nomor standard IC. Perhatikan bahwa
penomoran pin dilakukan berlawanan arah jarum
jam, dimulai dari bagian yang dekat dengan tanda Gambar 5 Rangakaian penguat non-Inverting op amp
bulatan/strip.
Pada IC ini terdapat dua pin input, dua pin power
supply, satu pin output, satu pin NC (no
connection), dan dua pin offset null. Pin offset null
memungkinkan kita untuk melakukan sedikit
pengaturan terhadap arus internal di dalam IC
untuk memaksa tegangan output menjadi nol ketika
kedua input bernilai nol. Pada op amp tidak
terdapan pin ground, hal ini dikarenakan op amp
menerima referensi ground dari rangkaian dan
komponen eksternal.
Gambar 6 Penguat selisih
Meskipun pada IC yang digunakan pada
eksperimen ini hanya berisi satu buah op amp,
terdapat banyak tipe IC lain yang memiliki dua
buah atau lebih op amp dalam suatu kemasan DIP.
IC op amp memiliki kelakuan yang sangat mirip
dengan konsep op amp ideal pada analisis
rangkaian. Terdapat batasan-batasan yang perlu
diperhatikan pada percobaan op amp. Pertama,
tegangan maksimum power supply tidak boleh
melebihi rating maksimum, biasanya 18 V, karena 2.1
JUDUL SUB-BAB
akan merusak IC. Kedua, tegangan output dari IC
op amp biasanya satu atau dua volt lebih kecil dari Sub-bab pada percobaan ini, yaitu :
tegangan power supply. Sebagai contoh, tegangan
a. Rangkaian penguat non-inverting
swing output dari suatu op amp dengan tegangan
b. Rangkaian penguat inverting
supply 15 V adalah 13 V. Ketiga, arus output dari
sebagian besar op amp memiliki batas pada 30 mA,
c. Rangkaian summer (penjumlah)
yang berarti bahwa resistansi beban yang
d. Rangkaian integrator
ditambahkan pada output op amp harus cukup
besar sehingga pada tegangan output maksimum,
e. Desain
arus output yang mengalir tidak melebihi batas arus
f. Contoh aplikasi persamaan differensial
maksimum.
dengan rangkaian op amp untuk oscillator
Rangkaian standard op amp :

3.

METODOLOGI

Pada percobaan modul 3 ini, alat dan bahan yang


digunakan yaitu :
a.

Power supply

(2 buah)

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

b.

Generator sinyal

(1 buah)

c.

Osiloskop

(1 buah)

d. Kabel BNCprobe jepit (2 buah)


e.

Kabel BNC-BNC

(1 buah)

f.

Kabel 4 mm- 4 mm

(max 5 buah)

g.

Kabel 4mmjepit buaya (max 5 buah)

h. Multimeter digital

(2 buah)

i.

Breadboard

(1 buah)

j.

Kabel jumper

(I meter)

k.

IC Op amp 741

(7 buah)

l.

Kapasitor 1 nF

(1 buah)

m. Resistor 1 k

(6 buah)

n. Resistor 1.1 k

(2 buah)

o.

Resistor 2.2 k

(7 buah)

p. Resistor 3.3 k

(4 buah)

2.

e.

Disambungkan Vp ke titik C, dicatat


nilai Vin dan Vo

f.

Disambungkan Vp ke titik D, dicatat


nilai Vin dan Vo

g.

Dicatat hasilnya dalam Buku catatan


Laboratorium

Rangkaian penguat inverting


a.

Disusun rangkaian seperti gambar 8


dibawah ini

Gambar 8 Rangkaian percobaan penguat inverting

Pada praktikum ini digunakan tegangan catu +


12 V dan 12 V untuk rangkaian op amp.
Bebrapa percobaan yang dilakukan, yaitu :

b.

Diukur dan dicatat nilai aktual resistor


yang digunakan

1.

c.

Disambungkan Vp ke titik A, dicatat


nilai Vin dan Vo

Rangkaian penguat non-inverting


a.

Disusun rangkaian seperti gambar 7


dibawah ini

d. Disambungkan Vp ke titik B, dicatat


nilai Vin dan Vo

Gambar 7 Rangkaian percobaan penguat non-inverting

3.

e.

Dicatat hasilnya pada Buku Catatan


Laboratorium

f.

Selanjutnya dipasang generator sinyal


sebagai Vin dengan frekuensi 500 Hz.
Diatur keluaran generator sinyal
sehingga menghasilkan output op-amp
(Vout) sebesar 4 Vpp

g.

Dicatat besar tegangan Vin pek to peak.


Dipastikan
setting
osiloskop
menggunakan DC coupling.

Rangkaian summer (penjumlah)


a.

b.

Diukur dan dicatat nilai actual resistor


1 k.

c.

Disambung Vp ke titik A, dicatat nilai


Vin dan Vo

Dimodifikasi rangkaian pada gambar


11 dengan menambahkan input lain
(Vin2) dari generator sinyal, seperti
gambar 9

d. Disambungkan Vp ke titik B, dicatat


nilai Vin dan Vo

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Gambar 9 Rangkaian percobaan penguat summer

hasilnya
dalam
Laboratorium.

Buku

Catatan

d. Dilakukan langkah a (percobaan 4)


dengan mengubah amplitude sebesar
0.1 Vpp dan bandingkan hasilnya.
5.

b.

Diukur dan dicatat nilai actual resistor


yang digunakan.

c.

Dibuka sambungan dari titik C ke


rangkaian. Dipasang generator sinyal
sebagai Vin dengan frekuensi 500 Hz.
Diatur keluaran generator sinyal
sehingga mengkhasilkan output op
amp sebesar 4 Vpp.

6.

4.

Disambungkan Vp ke titik B, dicatat


nilai Vin dan Vo.

f.

Dicatat hasilnya dalam Buku Catatan


Laboratorium.

a.

Digunakan rangkaian
dipersiapkan dirumah.

b.

Ditunkukan pada asisten bahwa


hubungna antara Voutput dan Vinput
pada
rangkaian
adalah
benar.
(digunakan tegangan input va sekitar
0.5 V dan tegangan Vb sekitar 0.1 Vpp.

yang

sudah

Contoh aplikasi persamaan differensial


dengan rangkaian op amp untuk oscillator
a.

Disusun rangkaian pada


gambar 11 dibawah.

rangkaian

Gambar 11 Rangkaian percobaan Oscillator

d. Disambungkan Vp ke titik A. Diamati


dengan menggunakan osiloskop dan
dicatat nilai Vin serta Vo. Dipastikan
setting osiloskop menggunakan DC
coupling.
e.

Desain

Rangkaian integrator
a.

Dibuat susunan rangkaian seperti pada


gambar 10.

Gambar 10 Rangkaian percobaan integrator

b.

Dicatat frekuensi yang dihasilkan di


titik C, dan dicatat hasilnya dalam BCL.

c.

Diubah nilai R1 dan R2 menjadi 6.8 k.


diamati sinyal yang muncul dititik C.
Dicatat frekuensinya di BCL

d. Dikembalikan R1 & R2 ke nilai awal.


Lalu diubah nilai C1 menjadi 470 pF.
Diamati sinyal yang muncul di titik C
dan dicatat frekuensinya dalam BCL
e.

4.

Dikembaikan C1 ke nilai awal dan


diubah R4 menjadi 12 k. Diamati
sinyal yang muncul di titik C dan
dicatat frekuensinya d BCL.

HASIL DAN ANALISIS

b.

Dirangkai Vs dengan sinyal kotak


menggunakan generator sinyal pada Dari percobaan yang dilakukan, didapatkan data
sebagai berikut :
frekuensi i kHz 0.5 Vpp.

c.

Diamati gelombagn output dengan


menggunakan osiloskop. Plot kedua
gelombang input dan output. Dicatat

Rangkaian penguat non-inverting


Nilai actual resistor 1 k = 1 k

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Table 1 Nilai Vin dan Vout hasil perhitungan dan


pengukuran pada rangkaian non-inverting

Perhitungan

Rangkaian penguat inverting

Table 2 Nilai Vin dan Vout hasil perhitungan dan


pengukuran pada rangkaian inverting

Perngukuran

Titik

Penguatan
Vi (V)

Vo(V)

Vi (V)

Vo (V)

Pengukuran
Titik

12

5.99

10.95

1.82

1.991

-9.24

-4.64

-2

-4

-1.974

-3.92

1.98

-6

-12

-5.98

-9.24

1.54

Penguatan
Vi

Vo

5.8

-10.02

-1.73

5.72

-10.02

-1.75

Dari percobaan pengukuran pada rangkaian


inverting didapatkan nilai penguatan sebesar -1.73
dan -1.75. Sedangkan nilai penguatan yang
diharapkan yaitu kurang lebih -2.2 .Hal ini
kemungkinan disebabkan oleh factor IC, toleransi
alat ukur, op am yang tidak ideal atau
ketidaktelitian
praktikan
dalam
melakukan
percobaan. Namun dapat dilihat bahwa nilai
penguatan hasil pengukuran telah mendekati nilai
penguatan hasil perhitungan sehingga hal tersebuat
membuktikan rumus penguatan pada rangkaian
inverting. Dipasang generator sinyal sebagai Vin
dengan frekuensi 500 Hz dan diatur keluarannya
sehingga menghasilkan output op-amp sebesar 4
Vpp. Didapatkan gambar pada osilator sebagai
berikut

Pada percobaan pertama telah dilakukan pengujian


untuk rangkaian non-inverting. Setelah disusun
rangkaian seperti gambar 7, lalu rangkaian
hubungkan ke power supply dan diukur nilai
tegangan input dan tegangan output. Sebelumnya
telah dilakukan perhitungan untuk nilai tegangan
input dan output terlebih dahulu dengan
menggunakan
rumus
pembagi
tegangan.
Didapatkan nilai tegangan terhitung. Lalu dengan
menggunakan
rangkaian yang telah dibuat
kemudian diukur nilai tegangan input dan output
untuk tiap-tiap kondisi. Kondisi pertama yaitu saat
switch dihubungkan ke titik A, didapatkan Vin dan
Vout. Selanjutnya switch dipindah ke titik B lalu
diukur tegangan input dan outputnya. Hal ini juga Gambar 12 tampilan osiloskop pada rangkaian penguat
berlaku untuk mengukur tegangan input dan inverting
output pada titik C dan D. Setelah semua data
tegangan input dan output didapatkan, kemudian
dicarai hubungan antara keduanya. Dengan
menggunakan rumus untuk rangakaian penguat
non-inverting didapatkan hubungan seharusnya Voutput sama dengan kurang lebih 2 kali V-input.
Namun berdasarkan hasil pengukuran nilai
tegangan didapatkan nilai V-output berkisar antara
1.5-2 kali V-input. Hal ini disebabkan oleh beberapa
factor seperti factor IC, factor op amp yang tidak
ideal dan adanya nilai toleransi. Sedangkan untuk
titik B didapatkan nilai V-output yang jauh dari
nilai perhitungan. Hal ini kemungkinan disebabkan
oleh toleransi alat ukur atau kekurangtelitian
praktikan dalam melakukan percobaan. Namun
secara garis besar dapat dikatakan hasil tersebut
membuktikan
kebenaran
rumus
rangkaiaan
penguat non-inverting.

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Gambar 16 Input dan output rangkaian integrator (0.5 Vpp)

Rangkaian summer

Nilai actual resistor masing-masing yaitu 3.233 k,


1.077 k, dan 2.158 k.
Table 3 Nilai Vin dan Vout hasil perhitungan dan
pengukuran pada rangkaian summer (penjumlahan)

Pengukuran
Titik
Vi

Vo

3.227

8.10

2.640

8.08

Gambar pada osiloskop untuk gelombang input


yaitu berupa sinyal kotak sedangkan pada
osiloskop untuk gelombang output yaitu berupa
garis-garis yang menjadi miring dan lebih tinggi
jika dibandingkan dengan sinyal input. Hal ini
karenakan telah terjadi penguatan pada sinyal input
sehingga sinyal outputnya menjadi lebih tinggi
dibandingkan dengan sinyal output. Lalu saat
amplitude tegangan dinaikan menjadi 0.2 Vpp,
penguatan lebih jelas terlihat, yaitu sebagai
berikut :

Gambar 13 Tegangan input dan output titik A

Gambar 17 Input dan output rangkaian integrator (0.2 Vpp)

Gambar 14 Tegangan input dan output titik B

Tegangan output pada op amp rangkaian penguat


summer diperoleh dengan menjumlahkan tegangan
pada titik A dan titik B. Hasil penjumlahan yang
diperoleh sebagai berikut :

Desain
Telah dibuat rangkaian sebagai berikut :

Gambar 18 Rangkaian desain

Gambar 15 tegangan input dan output summer

Rangkaian intergrator

Frekuensi generator sinyal yaitu 1 kHz dengan


tegangan peak to peak sebesar 0.5 Vpp.
key A : sumber tegangan sebesar Va
key B : sumber tegangan sebesar Vb
rangkaian diatas memiliki persamaan :

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Contoh aplikasi persamaan differensial


dengan rangkaian op amp untuk oscillator

Gambar 19 Op amp untuk oscillator

Data praktikum Contoh aplikasi persamaan


differensial dengan rangkaian op amp untuk
oscillator
didapatkan
dari
percobaan
kelompok Revie Marthensa (13213118) yang
melakukan praktikum shift selasa (23
September 2014) diruaang laboratorium-2
[1]. http://www.aisi555.com/2011/07/mengenal
-project-board-atau-bread-board.html,
24
September 2014, 7:45
[2]. http://jendeladenngabei.blogspot.com/2013
/01/operational-amplifier-op-amp.html, 23
September 2014, 16:42

Dari rangkaian diatas didapatkan gambar


gelombang dan nilai frekuensi sebagai berikut :
Gambar 20 Rangkaian op amp untuk oscillator

Didapatkan data yaitu saat kapasitor bernilai 1


nF, nilai frekuensi yang dihasilkan yaitu sebesar
10.2931 kHz. Sedangkan saat kapasitor diubah
nilainya menjadi 470 nF, frekuensi yang
dihasilkan yaitu sebesar 12.4863 kHz. Hal ini
menunjukan bahwa semakin kecil nilai
kapasitor yang digunakan maka semakin besar
frekuensi yang dihasilkan.

5.

KESIMPULAN

Dari percobaan didapatkan kesimpulan :

Telah disusun rangkaian pada breadboard.

Telah dipahami penggunaan operational


amplifier.

Telah
digunakan
rangkaian-rangkaian
standar
operational
amplifier
pada
komputasi analog sederhana.

DAFTAR PUSTAKA
Mervin T Hutabarat, Praktikum Rangkaian
Elektrik, Laboratorium Dasar Teknik Elektro
ITB,Bandung, 2014.
Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB