Anda di halaman 1dari 9

MODUL IV GEJALA TRANSIEN

Rosana Dewi Amelinda (13213060)


Asisten : Juli Dwi Kejora (13211132)
Tanggal Percobaan: 31/10/2014
EL2101-Praktikum Rangkaian Elektrik

Laboratorium Dasar Teknik Elektro - Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB
Abstrak
Abstrak Pada praktikum modul IV Gejala Transien
dilakukan beberapa percobaan yaitu pertama percobaan 1
adalah pengamatan bentuk sinyal pada tegangan masingmasing kapasitor serta perhitungan konstanta waktu untuk
setiap keadaan. Percobaan kedua adalah pengamatan
bentuk sinyal pada tegangan Capasitor dan perhitungan
konstanta waktu untuk masing-masing nilai Resistor dan
Capasitor yang berbeda-beda. Ketiga adalah pengamatan
tegangan steady state dan konstanta waktu untuk nilai
sumber tegangan yang berbeda. Terakhir yaitu pengamatan
bentuk gejala transien yang dihasilkan untuk nilai
Capasitansi yang berbeda-beda. Serta percobaan tambahan
untul mencari nilai Resistor variable yang menunjukan
gejala critically damped.
Kata kunci: Gejala transien, Konstanta waktu,
Kapasitor, Resistor variabel.
1.

Oscillator trasien adalah suatu respon lonjakan


sesaat dari karakteristik arus atau tegangan tanpa
mengubah frekuensi dari kondisi steady state
dengan bentuk gelombang yang memiliki
polaritas bolak-balik. Transien osilasi ini dapat
terjadi karena adanya gangguan atau karena
operasi pensaklaran. Sedangakan Impulsive
transsien adalah suatu respons kondisi lonjakan
sesaat karakteristik arus atau tegangan tanpa
mengubah frekuensi dari kondisi tunak dengan
bentuk gelombang yang memiliki polaritas
searah. Bentuk gelombangnya sesuai dengan
persamaan eksponensial murni.[1]
Sehingga untuk lebih memahami gejala transient
tersebut , melalui praktikum ini diharapakan
mahasiswa dapat :
a.

Mengenali adanya respon natural, respon


paksa, dan respon lengkap dari suatu
rangkaian yang mengandung komponen
penyimpan tenaga.

b.

Memahami dan menghitung konstanta


waktu rangkaian RC dari respon waktu
rangkaian.

c.

Memahami pengaruh tenaga sumber


tegangan bebas pada nilai tegangan
tegangan transien dalam rangkaian RC.

PENDAHULUAN

Gejala peralihan atau transien merupakan


perubahan nilai tegangan atau arus maupun
keduanya baik sesaat dalam jangka waktu
tertentu (dalam orde mikro detik) dari kondisi
tunaknya (steady state). Penyebabnya adalah
dapat dari lingkungan atau factor eksternal
seperti petir, dan data juga akibat perlakuan
terhadap system atau factor internal seperti
pensaklaran.
Transien sudah lama digunakan dalam istilah
tenaga listrik sebagai kejadian yang sebenarnya
tidak diinginkan dan sifatnya sangat cepat,
namun merupakan suatu kejadian yang alami
sehingga tidak dapat dicegah. Kondisi transien
dapat berupa tegangan ataupun arus. Untuk
transien arus lebih dikenal secara khusus
sekarang ini sebagai arus inrush.
Pada rangkaian listrik, transien merupakan suatu
karakteristik respon alami tegangan atau arus
dari system yang terdiri dari komponen resistif
(R), induktif (L), dan kapasitif (C). Ada 3 respon
yang dikenal, yaitu respon alami kurang teredam
(underdamped), teredam kritis (critically damped),
dan sangat teredam (overdamped).

2.

STUDI PUSTAKA

Gejala transien terjadi pada rangakaianrangkaian


yang
mengandung
komponen
penyimpan energi seperti inductor dan/atau
kapasitor. Gejala timbul karena energy yang
diterima atau dilepaskan oleh komponen tersebut
tidak ddapat diubah seketika (arus pada inductor
dan tegangan pada kapasitor).
Gambar 1 Gejala transien pengisian muatan pada
kapasitor

Terdapat dua jenis transien yang dikenal, yaitu


Oscillatory transien dan Impulsive transient.
Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Gambar 3 Rangkaian dasar percobaan gejala transien

Untuk lebih jelasnya, terdapat tahapan :


1.

Titik-titik A, B, C dan Gnd akan


membentuk loop tertutup (ketika S1 on
dan S2 off), sehingga muatan di C1 akan
terisi.
Sampai
pada
akhirnya
tegangannya sama dengan 5V.

2.

Titik-titik C, D, E, dan Gnd membentuk


loop tertutup (ketika S1 off dan S2 on),
maka muatan yang terdapat pada C1
akan mengalir mengisi C2 hingga pada
suatu saat tegangan di C2 sama dengan
tegangan di C1.

Gambar 2 Gejala transien pengosongan muatan pada


kapasitor

Pada percobaan kali ini, mekanisme menyalamatikan saklar-saklar (saklar elektrik) akan
dikendalikan otomatis oleh sebuah rangkaian
controller. Sehingga keseluruhan siklus yang
akan diamati :

Pada rangkaian diatas terdapat dua kapator C 1


dan C2. Kapasitor C1 berfungsi untuk menyimpan
muatan yang pada awalnya didapat dari power
supply, yang lalu akan disimpan dan dibuang ke
C2 (saklar S2 on) ketika sudah tidak lagi
tersambung dengan power supply (saklar S1 off).
Saklar S1 dan S2 menggunakan rangkaian
terintegrasi analog switch 4066 yang memiliki
resistansi kontak (on) sekitar 80.

1.

Mengisi C1

2.

Memindahkan sebagian isi C1 ke C2

3.

Mengosongkan kedua kapasitor dan


kembali ke 1.

Siklus ini dilakukan secara otomatis oleh


controller selama 20 ms agar dapat ditampilkan
pada osiloskop.

2.1

JUDUL SUB-BAB

Sub-bab pada percobaan ini, yaitu :


a.

Plot tegangan-waktu
kapasitor

untuk

kedua

b.

Plot tegangan waktu untuk masingmasing kapasitor untuk nilai R1, R2, C1,
dan C2 yang berbeda-beda.

c.

Pengaruh perubahan sumber tegangan


dengan tegangan steady state dan
konstanta waktu kapasitor

d. Berntuk gejala transien untuk nilai


kapasitor yag berbeda
e.

Mencari nilai R variable yang menujukan


gejala critically damped.

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

3.

METODOLOGI

Pada percobaan modul 4 ini, alat dan bahan yang


digunakan yaitu :
a.

Kit Transien

(1 buah)

b.

Osiloskop

(1 buah)

c.

Sumber daya DC

(1 buah)

Dipastikan kapasitor dalam keadaan


kosong dengan menghubung-singkatkan
kaki tiap kapasitor.

Disiapkan rangkaian seperti pada gambar


3, dengan nilai komponen pada tabel 1.

d. Multimeter

(1 buah)

e.

Kabel 4mm-4mm

(max. 10 buah)

f.

Kabel BNC-4mm

(max. 3 buah)

Pada praktikum ini digunakan tegangan catu + 12


V dan 12 V untuk rangkaian op amp.

DIsiapkan Osiloskop (dicek kalibrasi


terlebih dahulu)

Memulai percobaan
Sebelum memulai percobaan, diisi dan ditanda
tangani lembar penggunaan meja yang tertempel
pada masing-masing meja praktikum. Dicatat jua
nomor meja Kit Praktikum yang digunakan dalam BCL.

Dihubungkan kabel power supply AC


(outlet) dari kit Transien ke jala-jala.

Dihubungkan Vcc dan Ground ke Power


Supply dengan tegangan 5V dc.
Dikumpulkan tugas pendahuluan pada asisten yang
bertugas.
Percobaan 1
Digunakan sinyal "Vcontrol S1" atau VCS1
sebagai siyal sinkronasi.

Digunakan kanal-1 Osiloskop untuk


melihat tegangan yang terjadi di C1 (VC1).
Dan dicatat plot tegangan-waktu dari VC1.

Digunakan kanal-2 Osiloskop untuk


melihat tegangan yang terjadi di C2 (VC2).
Dan dicatat plot tegangan-waktu dari VC2.

Digabugnkan kedua channel dengna fungsi


"DUAL" di osiloskop. Dilakukan plot secara
detail gabungan dari VC1 dan VC2 vs waktu.

Ditulis hasil laporan dalam bentuk tabel


pada BCL.

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Table 1 Nilai komponen RC pada percobaan 1

Komponen

Nilai

R1

2.2 K

R2

4.7 K

C1

220 nF

C2

470 nF

Percobaan 3
Disusun kembali rangakaian seperti percobaan 1.

Diubah tegangan simber tegangan DC dari 5 V menjadi


4 V. Dibaca dan dicatat nilai tegangan keadaan mantap
pada C1 dan C2. Dibaca dan dicatat juga konstanta
waktunya.

Percobaan 2
Dengan nilai komponen lain seperti
percobaan 1, diulangi percobaan
dengan 2 nilai R1 lainnya.

Dengan nilai komponen lain seperti


percobaan 1, diulangi percobaan
dengan 2 nilai R2 lainnya.

Dilakukan sekali lagi untuk sumber tegangan DC


tegangan 2 V. Dibandingkan nilai-nilai tegangan
mantap pada C1 dan C2 yang diperoleh dengan
tegangan dari sumber tegangan yang berbeda-beda
tersebut. Dibandingkan juga konstanta waktunya.
DItulis hasil pengamatan dan analisa dalam laporan.
Percobaan 4
Disusun rangkaian seperti pada gambar 4

Dengan nilai komponen lain seperti


percobaan 1, diulangi percobaan
dengan 2 nilai C1 lainnya.

Dengan nilai komponen lain seperti


percobaan 1, diulangi percobaan
dengan 2 nilai C2 lainnya.

Dianalisa data yang didapatkan dan


dibuat kesimpuland dari percobaan
ini.

Diamati tegangan pada titik E (Petunjuk : diatur


setting osiloskop menjadi 0.2 V/div, waktu 40
s, slope turun, dan external trigger dari VCS4.

Diamati perubahan tegangan untuk nilai C2 yagn


berbeda.

Dianalisa data yang didapat dan dibuat


kesimpulan dari percobaan ini.
Gambar 4 Rangkaian percobaan gejala transien dengan
fungsi orde 2

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Percobaan Tambahan Gejala Transien

Mengakhiri Percobaan
Sebelum keluar dari ruang praktikum, dirapikan meja
praktikum. Dibareskan kabel, dimatikan osiloskop,
power supply DC, dan dicabut catu daya dari jala-jala
ke kit praktikum. Dipastikan juga multimeter analog
dan multimeter digital ditinggalkan dalam keadaan
mati (selektor menunjuk ke pilihan off).

Disusun rangkaian menggunakan KIT Rangkaian RL &


RC sehingga membentuk rangkaian pada gambar 5.

Diukur nilai RL yang ada pada kit percobaan , dan


dicatat pada BCL.

DIperiksa lagi lembar penggunaan meja.

Dipastikan asisten telah menandatangani catatan


percobaan kali ini pada BCL.

Dipasang probe oscillator pada posisi Vc di channerl 1


dan output dari generator fungsi di channel 2
osiloskop.

4.

HASIL DAN ANALISIS

Percobaan 1
Pada percobaan 1 ini digunakan tegangan DC
dari sumber tegangan sebesar 5 V (terukur pada
multimeter 4.98 V). Komponen yang digunakan
yaitu R1 = 2.2 k, R2 = 4.7 k, C1 = 220 nF, dan
C2 = 470 nF. Didapatkan output dari osiloskop
sebagai berikut :

Diubah-ubah tampilan osiloskop, sehingga untuk nilai


Rvar sekitar 50 Ohm, gambar yang terlihat pada kanal
1 adalah seperti pada gamabr 6.

Table 2 Tabel hasil percobaan 1

Chanel 1

Diubah-ubah nilai Rvar menjadi sekitar 100 Ohm,


diamati bentuk gelombang di osiloskop kanal 1 dan
dicatat di BCL.

Vmax 5 V
1 V/div
2.5 ms/div

Diubah-ubah nilai Rvar menjadi sekitar 2K ohm,


diamati bentuk gelombang dan dicatat di BCL.

Chanel 2
Vmax 1.5 V
500 mV/div

Dicari nila Rvar yang membuat kondisi 'critically


damped'. Dicatat nilai dan gambar di BCL.

2.5 ms/div

Gambar 5 Susunan rangkaian gejala transien orde 2

Chanel 1 dan 2

Induktor
Rvar

Frekuensi Generator
RG
50

Vmax 5 V

RL
~50

+
2,5mH

2 V/div
2.5 ms/div
Vc

Gel. Kotak
1Khz
~2Vpp

8,2 nF

Vmax 1.5 V
2 V/div
2.5 ms/div

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Dari hasil percobaan tersebut selanjutnya


dilakukan perhitungan time konstan pada setiap
keadaan.

menyebabkan pembacaan nilai konstanta waktu


yang kurang presisi.
Percobaan 2
Pada percobaan 2 diamati bentuk sinyal yang
muncul pada osiloskop dengan rangkaian sama
seperti pada percobaan 1 namun untuk nilai R1,
R2, C1, dan C2 yang berbeda-beda. Berikut data
yang bentuk gelombang yang berhasil teramati :
Table 3 Hasil percobaan 2

Komponen

*ket : 1 pengisian C1, 2 pengosongan C1, 3


pengisian C2
Didapatkan konstanta waktu sebagai berikut :
1 = 0.67 x Vmax1 = 560 s
2 = 0.67 x Vmax2 = 320 s
3 = 0.67 xVmax3 = 680 s

lab

teori

2 V/div, 2.5 ms/div


R1 = 1 k

1 = 280 s

1 = 220 s

R2 = 4.7 k

2 = 440 s

2 = 149.85 s

C1 = 220 nF

3 = 760 s

3 = 2.209 ms

C2 = 470 nF

Berdasarkan teori
Pada pengisian kapasitor 1 berlaku rumus :
= (1

1 = R1C1
= 2.2 k x 220 nF

CH1 : 2 V/div, CH2 : 2.5 V/div

= 484 s

2.5 ms/div

Pada pengosongan kapasitor 1 berlaku rumus :


= + ( )

2 = R1 (C1 //C2)
= 2.2 k x (220 nF//470 nF)

R1 = 4.7 k

1 = 1.08 ms

1 = 1.034 ms

R2 = 4.7 k

2 = 440 s

2 = 704.3 s

C1 = 220 nF

3 = 840 s

3 = 2.209 ms

C2 = 470 nF

= 329.68 s
Pada pengisian kapasitor 2 berlaku rumus :
= (1

2 = R2C2
= 4.7 k x 470 nF
= 2.209 ms

1 V/div, 2.5 ms/div

Dapat dilihat bahwa nilai 1 dan 2 hasil


percobaan mendekati nilai 1 dan 2 hasil
perhitungan. Namun untuk nilai 3
hasil
percobaan
jauh
berbeda
dengan
hasil
perhitungan. Hal ini kemungkinan disebabkan
oleh beberapa factor yaitu kapasitor yang tidak
dihubung singkatkan terlebih dahulu atau
pengaturan skala yang terlalu besar sehingga

R1 = 2.2 k

1 = 480 s

1 = 484 s

R2 = 2.2 k

2 = 240 s

2 = 329.68 s

C1 = 220 nF

3 = 360 s

3 = 1.034 ms

C2 = 470 nF

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

2 V/div, 2.5 ms/div

2 V/div, 2.5 ms/div


R1 = 2.2 k

1 = 560 s

1 = 484 s

R2 = 10 k

2 = 600 s

2 = 329.68 s

C1 = 220 nF

3 = 1.44 ms

3 = 4.7 ms

C2 = 470 nF

R1 = 2.2 k

1 = 480 s

1 = 484 s

R2 = 4.7 k

2 = 400 s

2 = 396.72 s

C1 = 220 nF

3 = 920 s

3 = 4.7 ms

C2 = 1000 nF
*ket : 1 adalah konstanta waktu pengisian C1, 2
adalah konstanta waktu pengosongan C1, dan 3
adalah konstanta waktu pengisian C2
Perhitungan untuk 1, 2, dan 3 diatas sama
dengan perhitungan untuk 1, 2, dan 3 pada
percobaan 1.

2 V/div, 2.5 ms/div


R1 = 2.2 k

1 = 280 s

1 = 220 s

R2 = 4.7 k

2 = 240 s

2 = 181.4 s

C1 = 100 nF

3 = 560 s

3 = 2.209 ms

C2 = 470 nF

2 V/div, 2.5 ms/div


R1 = 2.2 k

1 = 1.04 ms

1 = 1.034 ms

R2 = 4.7 k

2 = 560 s

2 = 517 s

C1 = 470 nF

3 = 1.08 ms

3 = 2.209 ms

C2 = 470 nF

2 V/div, 2.5 ms/div


R1 = 2.2 k

1 = 520 s

1 = 484 s

R2 = 4.7 k

2 = 240 s

2 = 242 s

C1 = 220 nF

3 = 560 s

3 = 1.034 ms

C2 = 220 nF

Berdasarkan hasil pada table diatas dapat dilihat


bahwa nilai 1 dan 2 (untuk 4 percobaan akhir)
hasil percobaan mendekati nilai 1 dan 2 hasil
perhitungan. Contohnya saat komponen R1 = 2.2
k, R2 = 4.7 k, C1 = 220 nF, dan C2 = 1000 nF, 1
bernilai 480 s dan 1 hasil perhitungan bernilai
484 s serta 2 lab bernilai 400 s dan 2
perhitungan bernilai 396.72 s. Namun hal
tersebut berbeda dengan nilai 2 (4 percobaan
awal) dan 3 hasil percobaan di lab yang jauh
berbeda dari hasil perhitungan. Penyimpangan
ini kemungkinan disebabkan beberapa factor
yaitu pengaturan time/div yang terlalu besar
sehingga menyebabkan kurang presisinya
pembacaan nilai tegangan pada osiloskop. Selain
itu penyebabkan lain dapat berasal dari kapasitor
yang tidak dihubung singkatkan terlebih dahulu
sehingga hasil yang didapatkan kurang presisi.
Dengan data 1 dan 2 (yang sesuai) tersebut
dapat teramati bahwa semakin besar
nilai
resistansi atau capasitansi dalam suatu rangkaian
maka semakin besar pula nilai konstanta waktu
pada tegangan capasitansi tersebut. Hal tersebut
membuktikan kebenaran rumus = , yang
menyatakan bahwa besar nilai resistansi dan
kapasitansi berbanding lurus dengan nilai
konstanta waktunya.
Percobaan 3
Dilakukan percobaan dengan menggunakan
rangkaian seperti pada percobaan 1. Namun yang
berbeda kali ini dilakukan pengubahan pada
sumber tegangan menjadi 4 V dan 2 V.
Didapatkan nilai tegangan steady state dan

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

konstanta waktu pada masing masing kapasitor


sebagai berikut :
Vs

VC1

VC2

4V

1.44 V

1.22 V

400 s

800 s

2V

0.72 V

0.584
V

360 s

720 s

Berdasarkan hasil percobaan yang didapatkan,


diamati bahwa dengan memperkecil sumber
tegangan menjadi setengah kalinya maka akan
memperkecil tegangan steady state kapasitor
menjadi setengah kalinya juga. Hal ini sesuai

dengan
rumus:
= (1 )
yang
menunjukan
bahwa
tegangan
kapasior
berbanding lurus dengan tegangan steady state
nya. Namun diketahui bahwa perubahan pada
sumber tegangan tidak mempengaruhi nilai
konstanta waktu kapasitor. Sedikit perubahan
nilai konstanta waktu yang ditunjukan pada table
kemungkinan disebabkan factor luar seperti skala
yang terlalu besar sehingga menyebabkan
pembacaan nilai yang kurang presisi dan
kapasitor yang belum dihubung singkatkan
terlebih dahulu sebelumnya.

Pada percobaan ini dilakukan pengamatan pada


rangakain RLC dengan mengubah ubah nilai
Rvariabel (Rvar) sehingga didapatkan tampilan
gelombang transien yang berbeda-beda. Nilai RL
yang terukur yaitu sebesar 47 . Hasil bentuk
sinyal pada osiloskop sebagai berikut :
Table 4 Gelombang transien 1 (Rvar 50 )

Table 5 Gelombang transien 2 (Rvar 100 )

Table 6 Gelombang transien 3 (Rvar 2 k )

Percobaan 4
Dilakukan pengamatan gejala transien dengan
fungsi orde 2 dan didapatkan hasil sebagai
berikut :
Gambar 6 Gejala transien untuk berbagai nilai C2

Table 7 Gelombang transien 4 (Rvar 300 )

0.2 V/div, 40 s/div


Dari hasil percobaan diatas diamati bahwa untuk
nilai kapasitansi yang kecil, lonjakan gejala
transien yang dihasilkan adalah tinggi.
Sedangkan untuk nilai kapasitansi yang besar,
lonjakan transien yang dihasilkan adalah landai.
Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa
semakin besat nilai kapasitansi maka lonjakan
(gejala) transien yang hasilkan akan semakin
landai (teredam), dan begitu pula sebaliknya.
Percobaan tambahan gejala transien

Berdasarkan data hasil percobaan diatas dapat


dilihat bahwa nilai Rvar yang membuat kondisi
critically damped adalah saat nilai Rvar sebesar
300 . Hal ini dikarenakan saat Rvar = 300
adalah kondisi dimana gelombang transien yang
dihasilkan paling landai (teredam) dibandingkan
dengan gelombang transien 1 dan 2. Sedangkan
saat Rvar = 2 k, gelombang transien sudah tidak
dapat teramati oleh osilloskop. Hal ini juga sesuai

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

dengan perhitungan yang dilakukan, yaitu untuk


kondisi critically damped didapatkan Rvar senilai
206 .

5.

KESIMPULAN

Dari percobaan didapatkan kesimpulan :

.Gejala transien terjadi pada rangkaian


yang
mengandung
komponen
penyimpan energi seperti Capasitor.

Konstanta
waktu
rangkaian
RC
bergantung pada nilai masing masing
Resistor dan Capasitornya. Dimana
semakin besar nilai resistansi/capasitansi
maka semakin besar pula nilai konstanta
waktunya, Belaku juga sebaliknya.

Sumber tegangan bebas berbanding lurus


dengan nilai tegangan pada kapasitor
namun tidak berpengaruh teradap
besarnya konstanta waktu.

DAFTAR PUSTAKA
Mervin T Hutabarat, Praktikum Rangkaian
Elektrik, Laboratorium Dasar Teknik Elektro
ITB,Bandung, 2014.
Data percobaan tambahan gejala transien
didapatkan dari praktikan Nur Adhianti
(13213011) yang melakukan percobaan pada
shift Jumat pagi di laboratorium-2 Gedung
Labtek VIII lt 3.
[1]. http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/126806
-R0308159-Analisis%20karakteristikLiteratur.pdf, 2 November 2014 , 21:57

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB