Anda di halaman 1dari 12

MODUL V RANGKAIAN AC

Rosana Dewi Amelinda (13213060)


Asisten : Bagus Hanindhinto (13211007)
Tanggal Percobaan: 6/11/2014
EL2101-Praktikum Rangkaian Elektrik

Laboratorium Dasar Teknik Elektro - Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB
Abstrak
Abstrak Pada praktikum modul V Rangkaian AC ini
pertama dilakukan perngukuran masing-masing tegangan
pada rangkaian seri RC dan RL. Lalu dilakukan
peritungan konstanta waktu dan pengamatan input dan
output gelombang pada rangkaian differensiator dan
integerator. Serta yang terakhir dilakukan pengamatan
pengaruh frekuensi pada rangkaian differensiator &
integrator serta pembuatan bode plotnya.

Memahami konsep impedansi dalam arti


fisik.

b.

Memahami hubungna antara impedansi


resistansi dna reaktansi pada rangkaian
seri RC dan RL.

c.

Memahami hubungan tegangan dan arus


pada rangkaian seri RC fan RL.

d. Mengukur pada fasa tegangan dan arus


pada rangkaians seri RC dan RL

Kata kunci: Kapasitor, Induktor, Rensponse


Frekuensi.
1.

a.

e.

PENDAHULUAN

Hambatan listrik merupakan karakteristik suatu


bahan pengantar listrik / konduktor, yang dapat
digunakan untuk mengatur besarnya arus listrik
yang melewati suatu rangkaian. Pada rangkaian
AC terdapat 3 jenis hambatan, yaitu hamabran
yang bersifar resistif (R), induktif (XL), kapasitif
(XC). Ini dikarenakan bentuk arus AC yang
sinusoidal, sehingga nilainya selalu berubah
terhadap waktu, ada nilai tegangan maksimum,
namun yang terukur dalam keseharian adalah
nilai tegangan efekif. Hal itu mengakibatkan
perbedaan fasa antara arus dan tegangan ketika
arus AC melewati kapasitor dan inductor sehigga
mengakibatkan sifat hambatan yang kapasitif dan
induktif. Kapasitor dan inductor sangat jarang
digunakan sendirian pada rangkaian, biasanya
tahanan tersebut dirangkai secara seri atau
parallel dengan resistor.
Pada rangkaian tahanan seri R-L maupun R-C
akan didapatkan nilai tahanan total yang biasa
disebut Impedansi (Z). Impedansi dapat
ditemukan pada antenna, speaker, amplifier, dan
lain-lain. [1]
Pada rangkaian RC maupun Rl terdapat
perbedaan yang sangat mencolok. Yaitu untuk
RC, tegangan pada kapasitor akan tertinggal
sebesar 90 0 dari arusnya. Sedangkan untuk RL,
tegangan pada inductor akan mendahului 90 0
dari arusnya. Hal tersebut akan dibuktikan dalam
praktikum kali ini.

2.

Memahami
response
terhadap
frekuensi pada rangkaian seri RC dan RL.

STUDI PUSTAKA

Dalam arus bolak-balik, untuk bentukgelombang


sinus, impedansi adalah perbandingan phasor
tegangan dan phasor arus.
Dari hubungan tegangan dan arus seperti v = R i;

vL

dv
di
, iC
dt
dt

maka akan terlihat bahwa untuk sinyal tegangan


sinusoidal (sinus atau kosinus):
pada R ; tegangan sefasa dengan arusnya
pada L ; tegangan mendahului 90o terhadap
arusnya
pada C ; tegangan ketinggian 90o dari arusnya
Bila perbandingan tegangan dan arus pada R
disebut resistansi, dan perbandingan tegangan
dan arus pada L dan C disebut reaktansi, maka
akan terlihat bahwa resistansi tidak akan
sebanding dengan reaktansi.
Hal ini

dinyatakan dengan adanya suatu

1 yang
operator j yang besarnya =
o
menunjukan perputaran 90
searah atau
berlawanan arah dengan jarum jam terhadap
besaran semula.
Rangkaian RC
Perhatikan rangkaian pada Error! Reference
source not found..

Malalui praktikum modul V ini diharapakan


praktikan dapat :
Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Gambar 1 Rangkaian RC sederhana

Dengan

disebut frekuensi cut off.

Kondisi terakhir ini adalah syarat frekuensi dan


nilai-nilai kapasitansi dan resistansi untuk
memperoleh fungsi diferensiasi yang baik.
High-Pass Filter

VI V R V C , bila diambil

Dari persamaan

V O V R , maka dapat dituliskan


Menurut hukum Kirchoff II (KVL), dapat di tulis :

1
vi R i i.dt
C
vi vR vC
Tegangan resistor vR sefasa dengan I sedangkan
tegangan kapasitor vC ketinggalan 90o dari arus.
Arus total mendahului antara 0o s.d. 90o. Sudut
ketertingalan vi () ditentukan oleh perbandingan
reaktansi dan resistansinya. Beda fasa antara vC
dan i, atau vi dan i dapat dilihat dengan
membandingkan beda fasa antara vC dan vR, atau
antara vi dan vR.
Diferensiator
Dari persamaan di atas, bila output diambil pada
resistor vO = vR, untuk vC >> vR akan diperoleh vi
vC sehingga

vi

1
dvt
i dt atau i C

C
dt

dvt
.
dt

Rangkaian dengan persyaratan


sebagai rangkaian differensiator.

ini

dikenal

Dalam bentuk phasornya, persyaratan di atas


dapat dituliskan sebagai berikut :

vC vR atau V C V R
1
I R I
jC
CR 1 .
sehingga diperoleh
1
Bila O
RC

atau

Untuk

akan diperoleh

VO
1
VI

Untuk

akan diperoleh

VO
0
VI

Untuk

1 atau O .
O

akan

diperoleh

vo
1

vi
2

vo
1

dapat diturunkan bahwa daya


vi
2

di R adalah

High

Pass

Vo2 Vt / 2
PR

R
R

Vt 2 1
Pmax . Pmax
2R 2
adalah daya pada R saat o . Rangkaian
merupakan
sederhana.

Integrator
Dari
persamaan

vi R i

1
i dt
C

Filter

(HPF)

yang

vi vR vC

atau

bila tegangan

output

vC ) dan vR vC ,
v
sehingga vi R i atau i i .
R

diambil pada kapasitor ( vo


maka

1
fO
, maka
2RC

persamaan di atas dapat dituliskan

Ada nilai utama yang diperoleh dari fungsi di


atas:

Dari,

Dengan demikian diperoleh hubungan output (vO


= vR) dengan input (vi) sebagai berikut :

vo RC

VO
R
1
1

VI R 1
1
1 j O
jC
jCR

Pada

vi vR

output

diperoleh

1
1 v
1
vo vC i dt i dt
vi dt .
C
C R
RC
Fungsi rangkaian ini dikenal sebagai rangkaian
integrator.

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Syarat terpenuhinya fungsi rangkaian integrator


RC yang baik adalah vR vC . Dalam bentuk

Gambar 2 Rangkaian RL sederhana

phasornya, hubungan di atas dapat dituliskan


sebagai berikut :

V R V C atau R I

Sehingga

Bila

1
RC

1
I
jC

1
atau CR 11
C
fO

atau

Menurut hukum Kirchoff II (KVL)

1
, maka
2RC

persamaan di atas dapat dituliskan

1 atau O .
O

Low-Pass Filter
Dari persamaan

V O V C

V I V R V R

, bila diambil

maka dapat dituliskan :

sehingga

Vi Ri L

Untuk sinyal berbentuk sinusoidal, VR sefasa


dengan I dan vi mendahului terhadap I (dengan
sudut atara 0o dan 90o). Sama seperti pada
rangkaian RC, sudut ditentukan oleh
perbandingan reaktansi dan resistansinya. Beda
fasa antara VL dan I, atau antara vi dan I dapat
dilihat dengan membandingakan beda fasa V L
dan VR, atau vi dan VR.

2.1

Ada nilai utama yang diperoleh dari fungsi di


atas:
Untuk
o akan diperoleh

Untuk

JUDUL SUB-BAB

Sub-bab pada percobaan ini, yaitu :

VO
0
VI
Untuk

di
dt

Dengan cara yang sama seperti pada rangkaian


RC, dapat diturunkan persyaratannya yang harus
dipenuhi agar rangkaian RL berfungsi sebagai
differensiator, integrator, High Pass Filter,
ataupun Low Pass Filter.

1
VO
1
1
jC

1 jCR 1 j
VI R 1
jC
O

vi vR vL

a.

Rangakaian RC

b.

Rangkaian RL

c.

Rangkaian Defferensiator

d. Rangkaian Integerator

akan diperoleh

akan

e.

VO
1
VI

diperoleh

vo
1

vi
2

3.

Pengaruh frekuensi diamati pada domain


frekuensi

METODOLOGI

Pada percobaan modul 5 ini, alat dan bahan yang


digunakan yaitu :
a.

Kit Rangkaian RC dan RL

(1 buah)

Dengan ketiga keadaan di atas, rangkaian


menunjukkan fungsi Low Pass Filter (LPF)
sederhana.

b.

Generator sinyal

(1 buah)

c.

Osiloskop

(1 buah)

Rangkaian RL

e.

Analisa pada rangkaian RL seperti pada Error!


Reference source not found. dapat dilakukan
dengan cara yang sama seperti pada rangkaian
RC.

Resistor : 1 k, 10 k, 100 k, 1 M
(masing-masing 1 buah)

f.

Kapasitor : 0.1 F, 0.01 F, 0.001 F


(masing-masing 1 buah)

g.

Induktor : 2.5 mH

d. Multimeter

(1 buah)

(1 buah)

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Memulai percobaan

Dibuat rangkaian dengan hargaharga besaran seperti pada


Gambar 4

Sebelum memulai percobaan, diisi dan ditanda


tangani lembar penggunaan meja yang tertempel
pada masing-masing meja praktikum. Dicatat jua
nomor meja Kit Praktikum yang digunakan dalam BCL.

Dihitung VR dan VL dengan harga


besaran yang telah diketahui.

Dikumpulkan tugas pendahuluan pada asisten yang


bertugas.

Diamati nilai Vi dengan osiloskop


dan dicatat pada Buku Catatan
Laboratorium.

Percobaan 1 : Rangkaian RC
Dibuat rangkaian dengan harga-harga
besaran seperti pada Gambar 3.
Dihitung VR dan VC dengan harga
besaran yang telah diketahui.

Dicari beda fasa antara Vi dan VR


dan VL dengan bantuan osiloskop.

Dicatat hasil perhitungan,


pengukuran dan pengamatan ke
dalam bentuk tabel dalam BCL.

Diukur VR dan VC dengan multimeter.


Dicek apakah Vi = VR + VC.

Gambar 4 Rangkaian RL untuk pengukuran phasor

Dimati Vi, VR dan VC dengan osiloskop.

Dicari beda fasa antara Vi dan VR, juga


antara VC dan VR dengan bantuan
osiloskop.

Dicatat hasil perhitungan, pengukuran


dan pengamatan ke dalam bentuk tabel
dalam Buku Catatan Laboratorium
(BCL).

Vi

Percobaan 3 : Rangkaian Defferensiator

Gambar 3 Rangkaian RC untuk pengukuran phasor

Vi

Percobaan 2 : Rangkaian RL

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Dibuat rangkaian seperti pada Gambar 6.

Dibuat rangkaian seperti pada Gambar 5.

Diatur input dengan bentuk gelombang segi


empat sebesar 4 Vpp pada frekuensi 500Hz
dengan bantuan osiloskop

Diatur input dengan bentuk gelombang segi


empat sebesar 4 V peak to peak (Vpp) pada
frekuensi 500 Hz dengan bantuan osiloskop.

Dihitung konstanta waktu RC dengan


harga-harga C dan R yang tersedia.
Digambar bentuk gelombang output (ideal)
dengan input bentuk gelombang segi empat.

Dihitung konstanta waktu RC dengan hargaharga C dan R yang tersedia

Digambar bentuk gelombang output (ideal)


dengan input bentuk gelombang segi empat
Diukur bentuk gelombang output yang
terjadi dengan osiloskop.
Diamati dan diukur bentuk gelombang output
yang terjadi dengan osiloskop
Dicatat hasil perhitungan dan pengukuran
serta gambarlah hasil pengamatan dalam
bentuk tabel dalam BCL.
Gambar 5 Rangkaian percobaan fungsi differensial
dengan RC

Dicatat hasil perhitungan dan pengukuran


serta gambarlah hasil pengamatan dalam
bentuk tabel dalam BCL.

Diulangi langkah diatas untuk gelombang


segitiga
Gambar 6 Rangkaian percobaan fungsi integral dengan
RC

Percobaan 4 : Rangkaian Integerator

Input

Output

Percobaan 5 : Pengaruh frekuensi diamati pada


domain frekuensi

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

DIbuat rangkaian RC seperti pada percobaan


rangkaian diferensiator, dengan harga R = 10
K dan C = 8,2nF.

Diukur Vo (tegangan keluaran) /Vi


(tegangan masukan) dengan bantuan
osiloskop (input di kanal-1 dan output di
kanal-2) untuk 5 titik pengukuran yaitu:

Dihitung konstanta waktu = RC.

1 titik frekuensi cut off (petunjuk: ubah


frekuensi input dimana frekuensi ini di
sekitar frekuensi cut off hasil perhintungan
sehingga diperoleh Vo/Vi = 1/2 atau =
0,7. Kemudian catat frekuensi ini sebagai
fo).

Diatur input dengan bentuk gelombang segi


empat sebesar 4 Vpp pada frekuensi 50 Hz
dengan bantuan osiloskop.

Diukur dan digambar bentuk gelombang


output untuk harga-harga frekuensi 50 Hz, 500
Hz , 5 KHz, dan 50 KHz dan dicatat hasilnya
dalam bentuk tabel dalam BCL.

Kemudian dibuat rangkaian RC seperti pada


percobaan rangkaian integrator, dengan harga
R = 10 K, dan C = 8,2nF. Diukur dan
digambar bentuk gelombang output untuk
harga-harga frekuensi 50 Hz, 500 Hz , 5 KHz,
dan 50 KHz serta diamati pengaruh frekuensi
pada domain frekuensi.

Dibuat rangkaian RC seperti pada percobaan


rangkaian diferensiator dengan harga R = 10
K dan C = 8,2nF.

Dihitung konstanta waktu ( = RC) serta


frekuensi cut-off (fo) = 1/(2).

Diatur bentuk masukan sinusoidal.

2 titik untuk zona datar (LPF) atau zona


naik (HPF). (petunjuk: pilih titik frekuensi
1/100 fo dan 1/10 fo)

2 titik untuk zona turun (LPF) atau zona


datar (HPF). (petunjuk: pilih titik frekuensi
10 fo dan 100 fo)

Dihitung Vo/Vi yang terjadi dalam dB.

Dicatat hasilnya dalam tabel dalam BCL.


Plot 5 titik pengukuran tersebut dengan
skala logaritmik. Hasil plot 5 titik
pengukuran adalah seperti grafik pada
Gambar 7.

Diukur beda fasa dengan menggunakan


metode Lissajous lalu diplot hasil tersebut
ke dalam grafik frekuensi-fasa seperti
contoh pada Gambar 8

Kemudian dilakukan langkah yang sama


untuk rangkaian RC (Rangkaian Integrator)
dengan harga R = 10 K, dan C = 8,2nF.

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Gambar 7 Contoh Bode plot untuk magnitude

I = = 0.17665 x 10-4 27.95870 mA


VR = 1.7665 x 10-4 27.95870 V
VC = 0.93767 62.040 V
Table 2 Perbandingan nilai Vr dan Vc hasil perhitungan
dengan hasil pengukuran di lab

LPF
HPF

Besar

Perhitungan

Pengukuran

VR

1.7665 V

1.777 V

VC

0.93767 V

0.913 V

Gambar 9 Vi, Vc, dan Vr pada osiloskop

Gambar 8 Contoh Bode plot untuk fasa

Gambar 10
Gelombang
Vi - VR

Mengakhiri Percobaan
Sebelum keluar dari ruang praktikum, dirapikan meja
praktikum. Dibareskan kabel, dimatikan osiloskop,
power supply DC, dan dicabut catu daya dari jala-jala
ke kit praktikum. Dipastikan juga multimeter analog
dan multimeter digital ditinggalkan dalam keadaan
mati (selektor menunjuk ke pilihan off).

DIperiksa lagi lembar penggunaan meja.

Dipastikan asisten telah menandatangani catatan


percobaan kali ini pada BCL.
Gambar 11 Gelombang Vc - VR

4.

HASIL DAN ANALISIS

Percobaan 1 : Rangkaian RC
Komponen yang digunakan yaitu :
Table 1 Nilai komponen percobaan 2

Komponen

Nilai

Vi

2 Vrms

10 k

0.1 F

300 Hz

Nilai Vi sama dengan Vr + Vc yaitu dengan


menggunakan perhitungan dalam penjumlahan
phasor, didapatkan :
= 2 + 2

Melalui perhitungan didapatkan


Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

00 dan antara arus dengan Vc sebesar 900 dengan


arus mendahului tegangan kapasitor.

= 1.76652 + 0.937672
= 1.9999
Nilai Vi diatas sama / mendekati nilai V input
yang digunakan diukur yaitu 2 V.
Untuk beda fasa yang didapatkan melalui hasil
perhitungan yaitu
Vi dan Vr = 27.950
Vc dan Vr = 27.950 (-62.040) = 89.990
Sedangakan melalui percobaan dihitung beda
fasa dengan menggunakan metode lissajous :
Gambar 12 Lissajous Vi - VR

Percobaan 2 : Rangkaian RL
Komponen yang digunakan yaitu
Table 3 Nilai komponen percobaan 2

Komponen

Nilai

Vi

2 Vrms

1 k

2.5 mH

60 Hz

Melalui perhitungan didapatkan


I = 1.4558 43.2890 mA
VR = 1.4558 43.2890 V
VL = 1.3714 46.710 V
Table 4 Vr dan Vl hasil perhitungan dan pengukuran
Gambar 13 Lissajous Vc - VR

Perhitungan

Pengukuran

VR

1.4558 V

1.44 V

VL

1.3714 V

2.08 V

Nilai Vi yang diamati pada osiloskop yaitu 2.03 V.


Beda fasa yang
perhitungan yaitu

Dari gambar diatas, beda fasa yaitu :

didapatkan

melalui

hasil

Vi dan Vr = 43.2890

Vi dan Vr : 22.115 0

VL dan Vr = 46.710 (-43.2890) = 89.9990

Vr dan Vc : 90 0
Nilai beda fasa yang didapatkan diatas sesuai
(mendekati) nilai beda fasa yang dapatkan
melalui perhitungan.
Dari percobaan 1 ini telah dibandingkan dan
diketahui bahwa nilai tegangan yang diukur
sama dengan nilai tegangan yang dihitung
dengan menggunakan rumus impedansi. Hal ini
membuktikan
bahwa
adanya
impedansi
kapasitor pada rangkaian R-C. Setelah itu
dilakukan penjumlahan nilai Vr dan Vc yang
diukur (dengan penjumlahan phasor) dan
didapatkan bahwa nilai hasil penjumlahan
tersebut sama dengan nilai Vinput yang
digunakan. Yang terakhir yaitu diamati
perbedaan fasa antara Vi dan Vr serta Vc dan Vr.
Didapatkan hasil bahwa hasil perhitungan beda
fasa tesebut mendekati hasil pengukuran beda
fasa yang dilakukan. Selain itu pada pengukuran
awal diketahui bahwa adanya beda fasa antara
arus dengan Vr terdapat perbedaan fasa sebesar

Sedangakan melalui percobaan dihitung beda


fasa dengan menggunakan metode lissajous :
Gambar 14 Lissajous VL - VR

Gambar 15 Lissajous Vi - Vr

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Dari gambar diatas, beda fasa yaitu :

Vi dan Vr : 00
Vr dan VL : 350
Pada percobaan 2 ini dilakukan perhitungan nilai
Vr dan Vl. Setelah dibandingkan ternyata nilai ini
sedikit berbeda dengan nilai yang didapatkan
dari hasil pengukuran. Hal ini kemungkinan
disebabkan beberapa factor diataranya kepasitor
yang tidak dihubung singkatkan terlebih dahulu
atau kesalahan pembacaan nilai tegangan oleh
praktikan. Namun secara garis besar dapat
disimpulkan bahwa adanya nilai impedansi
Induktor pada rangkaian RL yang digunakan.
Lalu berdasarkan perhitungan diketahui bahwa
untuk beda fasa antara arus dengan inductor
yaitu 90 0 dengan tegangan inductor mendahului
arusnya. Salain itu antara tegangan resistor
dengan inductor seharusnya memiliki beda fasa
mendekati 90 0 sesuai dengan perhitungan yang
dilakukan. Namun pada percobaan yang
dilakukan menujukan bahwa keduanya sefasa
(beda fasa 0 0).

Percobaan 3 : Rangkaian Defferensiator


Nilai komponen yang digunakan :
Komponen

Nilai

Vi

4 Vpp

500 Hz

*Ket : garis berwarna merah adalah input dan


garis berwarna biru adalah output. Input dan
output masing-masing 2 V/div dan 500 s/div.

Malalui perhitungan didapatkan nilai konstanta


waktu untuk berbagai kombinasi nilai R dan C
sebagai berikut :
Table 5 Konstanta waktu untuk berbagai kombinasi nilai
R dan C

Dari ata diatas, gelombang input-output yang


paling ideal adalah saat kombinasi D yaitu saat
nilai konstanta waktu yang paling kecil sehingga
menghasilkan
bentuk
gelombang
yang
mendekati bentuk kotak karena untuk input
gelombang kotak apabila didefferensialkan akan
menghasilkan bentuk output gelombang panjang
diawal dan bernilai 0 hingga ujungnya.

R (k)

C (nF)

(s)

Untuk kombinasi D menghasilkan nilai konstanta


waktu yang terkecil serta telah memenuhi syarat
rangkaian differensiator yaitu nilai Vc >> Vr.

100

1 x 10-4

Percobaan 4 : Rangkaian Integerator

10

100

1 x 10-3

Input sinyal Kotak

100

100

1 x 10-2

8.2

8.2 x 10-6

Gambar input dan output sinyal adalah sebagai


berikut :
Gambar sinyal

R (k)

C (nF)

F (Hz)

100

500

10

100

500

8.2

500

Gambar input dan output sinyal yaitu :


Gamba sinyal
Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

seperti 10 Hz, bentuk gelombang segitiga dapat


teramati. Sedangkan untuk input sinyal segitiga,
seharusnya menghasilkan bentuk gelombang
sinusoidal. Namun bentuk pada percobaan yang
dilakukan tidak didapatkan bentuk sinusoidal.
Kamungkinan hal ini disebabkan masalah
besarnya nilai frekuensi (seperti pada input sinyal
kotak). Untuk memperoleh bentuk gelombang
yang paling ideal kita harus menggunakan
kombinasi nilai Rdan C yang terbesar sehingga Vr
>> Vc (sesuai syarat integrator). Berdasarkan
syarat tersebut, digunakan kombinasi nilai R =
100 k nilai C = 100 nF. Saat digunakan simulator,
bentuk sinusoidal yang diinginkan dapat terlihat :

*Ket : garis berwarna merah adalah input dan


garis berwarna biru adalah output. Input dan
output masing-masing 2 V/div dan 500 s/div

Gambar 16 output untuk nilai R = 100 k dan C = 100 nF

Input sinyal segitiga


R (k)

C (nF)

F (Hz)

100

500

10

100

500

8.2

500

Percobaan 5 : Pengaruh frekuensi diamati pada


domain frekuensi

Gambar input dan output sinyalnya :


Gamba sinyal
A

Komponen

Nilai

Vi

4 Vpp

10 k

8.2 nF

8.2 x 10-5 s

Differensiator
Frekuensi
(Hz)

Gambar

50
*Ket : garis berwarna merah adalah input dan
garis berwarna biru adalah output. Input dan
output masing-masing 2 V/div dan 500 s/div
Untuk gelombang output yang dihasilkan pada
rangkaian integrator dengan input sinyal kotak
seharusnya menghasilkan bentuk gelombang
segitiga. Namun karena frekuensi yang
digunakan terlalu besar, menyebabkan bentuk
gelombang segitiga belum bisa teramati, tetapi
saat dicoba untuk nilai frekuensi yag lebih kecil

500

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

1
0

5k

50 k

*Ket : garis berwarna biru adalah input dan garis


berwarna merah adalah output. Input dan output
masing-masing 2 V/div dan 500 s/div

0.01 f0

0.488

-6.23

0.1 f0

0.1

- 20

0.488

-6.23

f0

0.7

- 3.098

0.497

-6.07

10 f0

0.895

-0.9635

0.488

-6.23

100 f0

0.488

-6.23

*data untuk rangkaian integrator didapatkan dari


praktikan Revie Marthensa (13213118)
Gambar 17 Bode plot untuk Differensiator

Magnitude
Integrator

Frekuensi
(Hz)

-10

Gambar

0.01 f0

0.1 f0

f0

10 f0

100 f0

10 f0

100 f0

-20
-30

50

HPF

Phasa
500

60
40
20
0
0.01 f0

5k

0.1 f0

f0
HPF

Gambar 18 Bode plor untuk Integrator

50 k

Magnitude
-5.9
-6

0.01 f0

0.1 f0

f0

10 f0

100 f0

10 f0

100 f0

-6.1

Dari kedua table gambar diatas dapat dilihat


bahwa semakin besar frekuensi menyebabkan
bentuk sinyal output menjadi mendekati bentuk
sinyal kotak (untuk differensiator) dan mendekati
bentuk sinyal sinusoidal (untuk integrator).
Selanjutnya, dilakukan perhitungan untuk
mencari niali frekuensi cut-off. Didapatkan yaitu
frekuensi cut-off sebesar :
= 1941.8984 Hz

-6.3
LPF

Phasa
30
20
10

Differensiator

Integrator

Vo/Vi

Vo/Vi

dB

-6.2

dB

0
0.01 f0

0.1 f0

f0
LPF

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

11

Berdasarkan hasil bode plot diatas diketahui


bahwa rangkaian differensiator menghasilkan
bode plot berbentuk high pass filter sedangkan
rangkaian integrator menghasilkan bode plot
berbentuk seperti low pass filter.
Selain itu untuk rangkaian differensiator (ketika
HPF) , saat frekuensi cukup besar menghasilkan
Vo/Vi 1 atau Vo Vi. Untuk rangkaian
integrator seharusnya nilai tegangan terbesar
yaitu ketika frekuensinya paling kecil, dalam
percobaan ini yaitu faat fo = 0.01 fo. Namun data
yang didapatkan tidak menunjukan hal tersebut.
Kemungkinan
factor
penyebabnya
yaitu
kapasitor yagn tidak dihubung singkatkan
terlebih dahulu atau terjadi kesalahan pembacaan
oleh praktikan.

5.

KESIMPULAN

Dari percobaan didapatkan kesimpulan :

Nilai hambatan pada kapasitor dan


induktor dapat direpresentasikan oleh
nilai impedansinya.

Tegangan pada kapasitor dan induktor


memiliki beda fasa 90 0 dari arusnya.

Tengangan pada resistor dan tegangan


kapasitor memiliki beda fasa sebesar 90 0.
Hal tersebut juga berlaku pada induktor.

Semakin besar frekuensi untuk input


sinyal
kotak
pada
rangkaian
differensiator akan menghasilkan output
sinyal yang mendekati bentuk sinyal
kotak. Sedangkan pada rangkaian
integrator, output sinyal yang dihasilkan
akan mendekati bentuk sinyal sinusoidal.

DAFTAR PUSTAKA
Mervin T Hutabarat, Praktikum Rangkaian
Elektrik, Laboratorium Dasar Teknik Elektro
ITB,Bandung, 2014.
Data percobaan 5 nilai Vo/Vi dari rangkaian
integrator didapatkan dari praktikan Revie
Marthensa (13213118) yang melakukan
praktikum Shift Kamis , 6 November 2014 di
Laboratorium-2 Labtek VIII Lt 3.
[1]. https://www.scribd.com/doc/65456020/
Percobaan-Rangkaian-Seri-Hambatan-R-L,
9 November 2014 , 12:26

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

12