Anda di halaman 1dari 14

MODUL I TAHAP OUTPUT PENGUAT DAYA

Rosana Dewi Amelinda (13213060)


Asisten : Alvin Lianto(13212018)
Tanggal Percobaan: 23/9/2015
EL3109-Praktikum Elektronika II

Laboratorium Dasar Teknik Elektro - Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB
Abstrak
Abstrak Pada praktikum Modul I ini dilakukan percobaan
mengenai tahap output penguat daya. Tahap output penguat
daya sendiri pada dasarnya terbagi menjadi 4 kelas penguat
yaitu kelas A, B, AB, dan C. Namun pada percobaan kali
ini hanya akan dilakukan pengamatan pada penguat kelas A,
B, dan AB saja. Perbedaan keempat kelas penguat daya
tersebut terletak pada swing maksimum, distorsi, dan daya
disipasi maksimumnya. Beberapa pengamatan yang
dilakukan diantaranya pengamatan kualitatif linieritas dan
VTC, pengamatan linieritas kuantitatif, serta pengamatan
daya disipasi dan daya pada beban. Ketiga pengamatan
tersebut dilakukan pada masing-masing konfigurasi
rangkaian tahap output penguat. Selain itu, untuk penguat
kelas B juga dilakukan pengamatan tahap output dengan
umpan balik (feedback) penguat operasional. Dari hasil
pengamaran ketiga kelas tahap output tersebut, selanjutnya
dapat disimpulkan kelebihan dan kekurangan pada masingmasing kelas penguat. Sebuah transistor dalam fungsi
penguatannya biasanya menghasilkan panas. Agar panas
dapat dikendalikan, dikenal analogy rangkaian thermal
untuk menghitung besarnya pasan yang dapat dipindahkan
dari transistor ke heatsink dan lingkungan. Oleh sebab itu
pada percobaan keempat akan dilakukan pengamatan
disipasi pada transistor dan rangkaian thermal.
Kata kunci: Tahap output, Daya disipasi, Linieritas
Rangkaian thermal.
1.

PENDAHULUAN

Secara umum, suatu penguat adalah peralatan


yang menggunakan tenaga yang kecil untuk
mengendalikan tenaga yang lebih besar. Ada
beberapa cara untuk melakukan penguatan.
Pertama yaitu penguat satu tingkat, terdir atas satu
unsur penguat dan rangkaian pendukungnya. Lalu
apabila
beberapa
unsur-unsur
semacam
digabungkan maka akan didapatkan penguat
banyak tingkat.

itu disebut penguat audio jika menguatkan sinyal


antara kurang lebih 20 Hz sampai dengan 20 kHz.
Dalam mengukur getaran, variasi suhu atau arus
listrik yangd ditimbulkan oleh badan manusia,
dijumpai sinyal-sinyal frekuensi yang sangat
rendah antara nol sampai beberapa hertz.
Rangakaian penguat umumnya digolongkan dalam
kelas-kelas, yaitu Kelas A, Kelas B, Kelas AB, dan
Kelas C untuk rancangan analog, serta Kelas D dan
E untuk rancangan pengalih (switching). Disamping
itu masih ada kelas E/F untuk penguat daya
pengalih efisiensi tinggi yang bekerja untuk
gelombang segi empat.
Tahap Output bedasarkan Arus Colector

Figure 1 Arus Colector - untuk masing-masing kelas


penguat daya

Efisiensi maksimum pada tahap output kelas A


yaitu 25%, kelas B 78.5%, dan kelas AB sebesar
78.5 %.
Berikut kurva karakteristik Vo-Vi untuk masing
masing kelas penguat daya :
Figure 2 Kelas A

Dalam suatu system reproduksi suara, tahap


pertama adalah penguatan tegangan (atau arus)
sinyal kecil yang dirancang untuk menguatkan
keluaran dari pembaca sinar laser yang merupakan
keluaran DVD-player antara beberapa millivolt
menjadi beberapa volt. Tahap akhir merupakan
penguat sinyal besar atau penguat daya (power
amplifier) dan memberikan daya yang cukup untuk
menggerakan pengeras suara. Pengeras semacam
Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Figure 3 Kelas B

saturasi dan tegangan output sudah mendekati


tegangan catu dayanya.
Rangkaian bias berupa sumber arus untuk tahap
output penguat kelas A dapat direalisasika dengan
berbagai jenis sumber arus, misalnya dengan
cermin arus. Pada percobaan digunakan rangkaian
sumber arus seperti gambar 2
Gambar 2 Rangkaian sumber arus untuk bias tahap output
penguat kelas A

2.

STUDI PUSTAKA

Tahap Output Penguat Kelas A


Tahap output penguat kelas A untuk konfigurasi
Common Emitter tampak seperti gambar dibawah
ini
Gambar 1 Rangkaian tahap output penguat kelas A

Arus bias untuk rangkaian tersebut dapat


diperkirakan dengan memanfaatkan persamaan
berikut
=

Transistor Q1 selalu konduksi pada seluruh selang


sinyal input sinusoid. Sumber arus Ibias menarik
arus dari transistor Q1 dan beban RL . Saat
tegangan input sekitar nol, arus ditarik sumber IBIAS
akan diberikan olhe transistor Q1 sehingga beban
mendapat arus dan tegangan mendekati nol.
Dalam keadaan tanpa input transistor pada tahap
penguat kelas A menghantarkan arus sebesar arus
biasnya.
Saat tegangan input terendah maka arus yang
ditarik sumber akan datang dari beban RL sehingga
beban akan mendapat tegangan terendah negatif
Ibias RL. Saat tegangan input tertinggi maka
transistor Q1 akan memberikan arus lebih dari yang
ditarik sumber arus sehingga beban akan
memberoleh arus dan tegangan tertinggi positif.
Untuk memperoleh ayunan tegangan tertinggi
pada beban maka digunakan arus bias dan beban
yang memenuhi hubungan sebagai berikut
=

(F 1)

Arus yang diberikan oleh transistor Q1 akan


berkisaran dari 0 hingga 2xIBIAS.

( 2 (1 2 ))
1 2 + ( + 1)3 (1 2 )

Pada penguat daya kelas A sumber arus bias akan


selalu mendisipasikan daya mendekati IBIAS. Daya
yang terdisipasi pada transistor tahap output akan
berkisar dari VCC IBIAS saat amplitude tegangan
input nol hingga VCC IBIAS /2 saat amplitude input
maksimum (mendekati VCC).
Sementara untuk menghitunga daya dan efisiensi
digunakan rumus sebagai berikut :

PD PS PL

(F 2)

PS VCC I I

(F 3)

PL VO ( RMS )

(F 4)

RL

PL
100 %
PS

(F 5)

Penguat Kelas B Push-Pull


Penguat kelas B Pushpull mengguankan sepasang
transistor NPN dan PNP (juga nMOS dan pMOS)
yang seimbang dengan konfigurasi common emitor.
Rangkaian dasar untuk tahap output penguat kelas
B push pull tampak seperti pada gambar 3

Distorsi pada penguat kelas A yang paling


menonjol adalah distorsi saturasi. Distorsi ini
ketika sinyal input sangat besar sehingga tegangan
kolektor-emitor transistor mencapai tegangan
Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Gambar 3 Penguat Pushpull kelas B

akibat ketidakseimbangan penguat arus transistor


NPN dan PNP. Penguat operasional pada
rangkaian ini akan menjaga tegangan output sama
dengan tegangan inputnya. Selisih tegangan input
dan output akan membuat penguat operasional
memberikan tegangan lebih tinggi bila tegangan
pada beban ternyata leih rendah dari input dan
begitu pula sebaliknya.
Gambar 4 Rangkaian penguat pushpull kelas B dengan
feedback menggunakan op amp

Pada penguat pushpull kelas B transistor NPN dan


PNP bekerja bergantian. Saat siklus tegangan input
positis maka junction base-emitter transistor Qn akan
mendapat tegangan maju sehingga transistor Qn
konduksi sedangkan junction base-emitter transistor
Qp akan mendapat tegangan mundur sehingga
transistor Qp dalam keadaan cut-off. Sebaliknya
saat siklus tegangan negative junction base-emitter
transistor Qp akan mendapat tegangan maju dan
transistor Qp konduksi dan Qn dalam keadaan cutoff.
Adanya tegangan cut-in pada perilaku unction
menyebabkan proses transisi transistor yang
konduksi dari Qn ke Qp dan sebaliknya akan
melalui saat kedua transistor dalam keadaan cut-off.
Keadaan tersebut menyebabkan sinyal input
terdistorsi.
Pada penguat kelas B, dengan menganggap
tegangan cut-in nol, arus yang diberikan catu daya
dapat mendekati sebagai half wave rectified
sinusoidal wave untuk masing-masing transistor.
Dengan demikian daya rata-rata yang diberikan
catu daya akan mendekati
=

Penguat Kelas AB Push-Pull


Cara lain menekan distorsi cross over pada
penguat B adalah dengan kedua transistor tetap
konduksi saat tegangan input sekitar nilai nol.
Untuk itu transistor diberikan tegangan bias yang
cukup pada junction base-emitter. Pada cara ini
transistor bekerja pada kelas AB.
Cara sederhana untuk memperoleh tegangan bias
yang menjamin transistor dalam keadaan konduksi
saat tegangan input kurang dari tegangan cut-in
adalah dengan menggunakan diode seperti
ditunjukan pada gambar 5.
Gambar 5 Penguat pushpull kelas AB dengan diode untuk
pemberi tegangan bias

(F 6)

Daya yang disampaikan pada beban


=

1 2

(F 7)

Dengan demikian daya terdisipasi pada masingmasing transistor akan bergantung pada amplitude
tegangan output atau tegangan inputnya.
=

1 2
4

(F 8)

Output pada penguat kelas B push pull mengalami


distorsi cross over saat pergatian transistor yang
konduksi akibat adanya tegangan cut-in pada
transistor tersebut. Untuk menghilangkan distorsi
tersebut dapat digunakan rangkaain umpan balik
dengan penguat operasional. Rangkaian penguat
kelas B seperti tampak pada gambar 4. Umpan
balik dengan penguat operasional ini tidak hanya
menekan cross-over tetapi juga menekan distorsi

2.1

JUDUL SUB-BAB

Sub-bab pada percobaan ini, yaitu :

Penguat kelas A

Penguat pushpull kelas B

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

3.

Penguat pushpull kelas AB

METODOLOGI

Pada percobaan 1 ini, alat dan bahan yang


digunakan yaitu :
1.

Kit praktikum penguat daya

2.

Generator sinyal

3.

Osiloskop Digital dengan fungsi FFT

4.

Multimeter

5.

Catu daya Ter-regulasi

6.

Kabel dan asesoris pegukuran

7.

Thermometer Infrared

Diunakan mode dual trace pada osiloskop, yakinkan


bahwa input kopling osiloskop terset pada DC. Amati
secara kualitatif bentuk sinyal output (kanal 2 atau Y)
dan input (kanal 1 atau X), dan gambarkan bentuk
sinyalnya. Bandingkan bentuk sinyal input dan
outputnya.

Digunakan mode xy pada osiloskop, amati kurva


karakteristik alih tegangan (voltage transfer
characteristics, VTC), perbesar amplituda input agar
batas saturasi tegangan dapat teramati. Gambar dan
catat batas saturasinya.

Memulai percobaan
Sebelum memulai percobaan, isi dan tanda
tangani lembar penggunaan meja yang
tertempel pada masing-masing meja praktikum
1.

Diamati juga bentuk gelombang sinyal output yang


melewati batas saturasi di atas pada mode dual
trace. Perhatikan apa yang menentukan batas
saturasinya.

Penguat kelas A

Menyusun rangkaian
Disusun rangkaian tahap penguat kelas A dan sumber
arus biasnya seperti tampak pada gambar 1. Nilainilai komponen dan bersaran tegangan catu daya
yang dipilih adalah R1 = 5,6k , R2 = 1,2k , R3 = 1,2 , RL =
56 W, Q1 = Q2 =BD139, dan VCC = 6V.

Diubah nilai resistansi beban RL menjadi 33 1W dan


amati kembali kurva VTC-nya. Catat juga batas
saturasinya. Bandingkan dengan hasil sebelumnya
dan perhatikan apa yang menentukan batas
saturasinya.
Pengamatan Linieritas Kuantitatif

Diberikan input pada penguat dari sumber sinyal dari


generator sinusoidal 2Vpp 1KHz.
Gambar 6 Rangkaian pengamatan penguat kelas A

Pengamatan Kualitatif Linieritas dan VTC

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Diturunkan amplitudo sinyal input hingga sinyal


output berada di bawah batas tegangan saturasinya
(pada kisaran 9-10 Vpp)

Digunakan fungsi Fast Fourier Transform (FFT) pada


osiloskop untuk mengamati spektrum sinyal output
dengan menekan tombol MATH dan yakinkan bahwa
fungsi MATH dilakukan untuk sumber sinyal dari
kanal 2 (sinyal output). Diatur tampilan display
sehingga dapat diperoleh pengamatan yang lebih
teliti (pada kisaran skala 10dB/div dan posisi 3dB).
Diamati spektrum sinyal output ini untuk amplituda
sinyal pada frekuensi dasar, harmonik kedua dan
harmonik ketiga.

Menyusun rangkaian
Disusun rangkaian seperti pada Gambar3. Komponen
yang digunakan transistor Q1 BD139 dan Q2 BD140 ,
resistansi beban RL 33 ohm 1 W, dan tegangan catu
Vcc 6 V. Digunakan ampere meter untuk mengukur
arus dari kedua catu daya.

Diberikan input pada penguat dari sumber sinyal dari


generator sinusoidal 4Vpp 1KHz. Hubungkan
osiloskop untuk mengamati sinyal input dan
outputnya.
Pengamatan Kualitatif Linieritas dan VTC

Dilakukan juga pengamatan spektrum untuk sinyal


input (ch 1). Dengan mengubah sumber input fungsi
MATH.

Diaktifkan tampilan kanal 1 (ch 1) agar dapat


membaca besaran amplituda sinyal input dan ubah
sinyal input untuk amplituda input yang lebih kecil
(pada kisaran 4 Vpp). Kembali nonaktifkan tampilan
kanal 1 untuk memudahkan pengamatan spektrum
sinyal outputnya (ch 2). Lalu amati spektrum sinyal
outputnya (kanal 2). Dilakukan juga untuk sinyal
amplituda output yang melebihi batas saturasi (pada
kisaran 11-12 Vpp) dan amati spektrum sinyal
outputnya.
Pengamatan Daya Disipasi dan Daya pada beban
Dikembalikan osiloskop pada pengamatan dual trace
dan nonaktifkan pengamatan FFT dengan menekan
tombol MATH hingga lampu indikator mati. Berikan
sinyal input terkecil dari generator sinyal, amati dan
catat arus dari kedua catu daya, serta tegangan
output (beban). Dihitung dan perhatikan daya yang
terdisipasi saat tahap penguat tidak mendapat sinyal
input.

Dilakukan kembali pengamatan di atas untuk


tegangan input 2, 4 , 6, dan 10 Vpp. Diperhatikan
besaran daya catu (supplied power), daya terdisipasi
pada penguat, dan daya pada beban.
2.

Diamati dan dicatat bentuk sinyal tegangan input dan


outputnya dengan osiloskop. Perhatikan distori
bentuk sinyal dan penyebabnya.

Diubah amplituda tegangan input (pada kisaran 9-10


Vpp) agar cukup besar sehingga tegangan output
tampak memasuki batas saturasi dan gunakan mode
xy pada osiloskop untuk mengamati kurva
karakteristik alih tegangan (VTC). Diamati dan dicatat
kuva VTC yang diperoleh. Perhatikan distorsi yang
ada pada tahap penguat jenis ini.
Pengamatan Linieritas Kuantitatif
Masih dalam keadaan tegangan input di bawah nilai
saturasinya, digunakan fungsi FFT pada osilokop.
Diamati spektrum sinyal input dan output dan catat
besaran amplitudo untuk frekuensi dasar dan
frekuensi harmonik ke tiga.

Dilakukan kembali langkah di atas untuk amplituda


tegangan input yang jauh lebih kecil dari saturasi
(pada kisaran 4 Vpp) dan untuk amplituda tegangan
input yang lebih besar dari batas saturasi (pada
kisaran 11-12 Vpp). Diamati dan dicatat amplitudo
frekuensi dasar dan harmonik ketiganya.
Pengamatan Daya Disipasi dan Daya pada Beban

Penguat pushpull kelas B

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Digunakan sinyal terkecil dari generator sinyal, amati


dan catat arus dari catu daya dan tegangan pada
beban. Dihitung dan diperhatikan daya catu, daya
disipasi dan daya pada bebannya.

Dilakukan kembali pengamatan di atas untuk


tegangan input 2, 4 , 6, dan 10 Vpp. Perhatikan
besaran daya catu (supplied power), daya terdisipasi
pada penguat, dan daya pada beban.
Pengamatan Tahap Output kelas B dengan Umpan
Balik Penguat Operasional

Diubah rangkaian menjadi seperti pada Gambar 4.


Komponen yang digunakan transistor Q1 BD139 dan
Q2 BD 140, resistansi beban RL 33 1W, penguat
operasional LM741, dan tegangan catu VCC 6V.
Gunakan juga ampere meter untuk mengukur arus
dari kedua catu daya.

Diberikan input pada penguat dari sumber sinyal dari


generator sinusoidal 4Vpp 1KHz. Dihubungkan
osiloskop untuk mengamati sinyal input dan
outputnya. Diamati dan dicatat bentuk gelombang
outputnya. Dibandingkan dengan hasil dengan hasil
pengamatan sebelumnya tanpa umpan balik.

Diubah amplituda tegangan yang cukup besar hingga


tegangan output tampak memasuki saturasi dan
gunakan mode xy pada osiloskop untuk mengamati
kurva karakteristik alih tegangan (VTC). Diamati dan
dicatat bentuk kurva VTC ini. Dibandingkan dengan
hasil pengamatan rangkaian tanpa umpan balik.

Dipindahkan titik pengamatan output (kanal 2 atau Y)


dari beban ke output penguat operasional. Diamati
dan dicatat juga bentuk kurva VTC ini. Diperhatikan
fungsi transfer rangkaian umpan baliknya.

Dikembalikan titik pengamatan output ke beban.


Diatur tegangan input sehingga tegangan output
sedikit di bawah nilai saturasinya. Memanfaatkan
fungsi FFT pada osilokop amati spektrum sinyal input
dan output dan dicatat besaran amplitudo untuk
frekuensi dasar dan frekuensi harmonik ke tiga.
Dibandingkan juga dengan hasil pengamatan
rangkaian tanpa umpan balik.

Digunakan mode dual trace untuk mengamati


tegangan output atau beban dan arus dari catu daya
untuk sinyal tegangan input terkecil dan input 10Vpp.
Dihitung dan diperhatikan daya catu, daya disipasi
dan daya pada bebannya.
3.

Penguat Pushpull Kelas AB

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Menyusun Rangkaian

Pengamatan Daya Disipasi dan Daya pada Beban

Disusun rangkaian seperti pada Gambar 5 dengan


resistansi Resistor R1 dan R2 1,8k , dioda D1 dan D2
1N4001, transistor Q1 BD139 dan Q2 BD140,
resistansi beban RL = 33 1W dan tegangan catu daya
VCC 6V. Digunakan ampere meter untuk mengukur
arus dari kedua catu daya.

Diberikan input pada penguat dari sumber sinyal dari


generator sinusoidal 4Vpp 1KHz. Dihubungkan
osiloskop untuk mengamati sinyal input dan
outputnya.
Pengamatan Kualitatif Linieritas dan VTC
Diamati dan dicatat bentuk sinyal tegangan input
dan outputnya dengan osiloskop. Diperhatikan
bentuk sinyal output dan bandingkan dengan hasil
tahap output kelas B. Diamati dan dicatat arus dari
catu daya.

Dilakukan kembali pengamatan bentuk sinyal dan


arus catu daya ini untuk resistansi R1 = R2 = 1 k,
dan untuk R1 = R2 = 4.7 k

Diubah amplituda tegangan yang cukup besar


hingga tegangan output tampak memasuki saturasi
dan gunakan mode xy pada osiloskop untuk
mengamati kurva karakteristik alih tegangan (VTC).
Diamati dan catat bentuk kurva VTC ini.

Digunakan sinyal terkecil dari generator sinyal,


diamati dan dicatat arus dari catu daya dan
tegangan pada beban. Dihitung dan perhatikan
daya catu, daya disipasi dan daya pada bebannya.

Dilakukan kembali pengamatan di atas untuk


tegangan input 2, 4 , 6, dan 10 Vpp. Diperhatikan
besaran daya catu (supplied power), daya
terdisipasi pada penguat, dan daya pada beban.
Disipasi pada Transistor dan Rangkaian Termal
Disusun rangkaian sumber arus seperti pada
Gambar 2 dengan resistansi R1 5,6k
, R2 1,2k ,
R3 1,2 dan transistor BD139 yang dilengkapi dengan
heatsink (pendingin). Digunakan amperemeter
untuk mengukur arus kolektor dan voltmeter untuk
mengukur tegangan kolektor-emitor.

Dihubungkan terminal kolektor dengan tegangan 0V.


Diberikan tegangan VCC 6V kemudian diamati dan
diukur arus saat relatif stabil dan ukur temperatur
ambient dan temperatur pada sirip terjauh heatsink
dan pada casing transistor.
Diturunkan tegangan VCC 6V hingga arus kolektor
naik sekitar 20% dan kembali amati dan ukur arus
serta temperatur seperti di atas.

Diulangi langkah di atas untuk arus 50% arus awal.


Mengakhiri Percobaan

Dilakukan kembali pengamatan VTC ini untuk


resistansi R1 = R2 = 1k, dan untuk R1 = R2 = 4.7
k. Diperhatikan juga area kurva VTC disekitar
tegangan input nol.

Selesai praktikum dirapikan semua kabel dan


dimatikan osiloskop, generator sinyal serta
dipastikan juga multimeter analog, multimeter digital
ditinggalkan dalam keadaan mati (selector
menunjukan ke pilihan off).

Pengamatan Linieritas Kuantitatif


Dikembalikan resistansi bias R1 = R2 = 1 k diatur
tegangan input sehingga tegangan output sedikit di
bawah nilai saturasinya. Memanfaatkan fungsi FFT
pada osilokop diamati spektrum sinyal input dan
output dan dicatat besaran amplitudo untuk
frekuensi dasar dan frekuensi harmonik ke tiga.

Dilakukan kembali langkah di atas untuk amplituda


tegangan input yang jauh lebih kecil dari saturasi dan
untuk amplituda yang lebih besar dari saturasi.
Diamati dan dicatat amplitudo frekuensi dasar dan
harmonik ketiganya.

Dimatikan MCB dimeja praktikum sebelum


meninggalkan ruangan.

Diperiksa lembar penggunaan meja.

DIpastikan asisten telah menandatangani catatan


percobaan kali ini pada Buku Catatan Laboratorium.

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

4.

Gambar 10 Mode dual trace sinyal input dan output saat


melewati batas saturasi penguat kelas A

HASIL DAN ANALISIS

PENGUAT KELAS A

Pengamatan kualitatif linieritas dan VTC


Pada percobaan pertama ini dilakukan pengamatan
kualitratif linieritas dan VTC pada penguat kelas A.
Dibuat rangkain penguat kelas A terlebih dahulu
dengan nilai-nilai komponen sesuai dengan
metodologi. Lalu diberikan input penguat yang
berasal dari generator sinyal sinusoidal dengan
input tegangan sebesar 2 Vpp dan frekuensi 1 kHz.
Kemudian diperoleh hasil sinyal sebagai berikut :
Gambar 7 Sinyal input dan output penguat kelas A (RL = 56
)

Gambar 8 Voltage Transfer Characteristics penguat kelas A


(RL = 56 )

Dari gambar diatas (Gambar 7 dan 8) terlihat


bahwa sinyal input hampir identic dengan sinyal
output, dimana tegangan output memiliki peak to
peak yang sama (hanya bergeser kebawah) dengan
tegangan inputnya. Hal ini berarti bahwa
penguatan yang dihasilkan pada penguat kelas A
adalah mendekati 1. Selain itu terlihat pula dari
kutva karakteristik VTC yang dihasilkan
berbanding lurus (linier) atau memiliki kemiringan
1 V/V.
Pada saat tegangan output diperbesar hingga
mendekati batas saturasinya, tegangan inputnya
yaitu sebesar 7.2 Vpp. Berikut kurva karakteristik
VTC dan sinyal input-output mode dual trace saat
terjadinya saturasi :
Gambar 9 Mode XY sinyal input dan output saat batas
saturasi penguat kelas A (RL = 56 )

Setelah dilakukan pengamatan dengan resistansi


beban 56 , selanjutnya dilakukan pengamatan
kurva VTC untuk resistansi beban sebesar 33
sebagai berikut :
Gambar 11 Kurva Voltage Transfer Characteristics penguat
kelas A (RL 33 )

Besarnya tegangan input saat outputnya berada


pada batas saturasi yaitu sebesar 3 Vpp.
Pada Gambar 10 terlihat bahwa sinyal output
terpotong pada bagian bawah. Batas saturasi
bawah pada penguat kelas A bergantung pada
besarnya
nilai
resistansi
beban.
Apabila
dibandingkan besarnya tegangan saat saturasi
untuk RL 56 dan 33 diketahui bahwa semakin
kecil nilai resistansi beban (RL) maka semakin kecil
pula swing outputnya sehingga batas saturasinya
semakin turun.
Pengamatan Linieritas Kuantitatif
Dikembalikan beban pada nilai resistansi beban
sebesar 56 . Lalu diturunkan tegangan input
menjadi dibawah 7.2 Vpp. Dengan menggunakan
mode Fast Fourier Transfor (FFT) pada osiloskop,
kita dapat mengamati sinyal penjumlahan dari
berbagai sinyal sinusoidal. Spectrum sinyal output
untuk amplitude sinyal pada frekuensi dasar,
harmonic kedua, hamonik ketiga sebagai berikut :
Table 1 Pengukuran amplitude spectrum sinyal input dan
output penguat kelas A

Frekuensi
\ Spektrum

Sinyal
output

Sinyal
input

Frekuensi dasar
(1000 Hz)

53.2 dB

55.6 dB

Harmonik
pertama (2000
Hz)

12.8 dB

12.8 dB

Harmonik kedua
(3000 Hz)

9.2 dB

9.2 dB

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Table 2 Pengukuran amplitude spectrum saat sinyal input 4


Vpp dan saat batas saturasi penguat kelas A

Frekuensi
\ Spektrum

Saat input 4
Vpp

Saat batas
satursi

Frekuensi
dasar (1000
Hz)

51.6 dB

62 dB

Harmonik
pertama
(2000 Hz)

7.6 dB

Harmonik
kedua (3000
Hz)

4 dB

44 dB

35.6 dB

Table 3 Pengukuran daya beban, daya disipasi dan efiiensi


penguat kelas A (1)

V input

I+ (mA)

I- (mA)

Vo (V)

Vmin

53.7

69.6

0.6

2 Vpp

11.3

66.3

0.7

4 Vpp

26.6

61.5

1.42

6 Vpp

24.5

67.3

2.1

10 Vpp

62.5

68.3

3.19

Setelah data I+, I-, serta Vo seperti table diatas,


dengan menggunakan rumus (F 2) (F 5)
dilakukan perhitungan untuk mencari daya
sumber, daya beban, daya disipasi, dan efisiensi
penguat sebagai berikut :

Pada pengamatan linieritas kuantitatif ini,


diperolehh tiga kondisi sinyal input yang berbeda
Table 4 Pengukuran daya beban, daya disipasi dan efiiensi
yaitu saat sinyal input berada dibawah batas penguat kelas A (2)
saturasi, pada batas saturasi dan diatas batas
V input
Ps (mW)
Pl (W)
Pd (mW)
H
saturasi. Saat sinyal input berada dibawah batas
saturasi, sinyal output masih berbentuk sinusoidal
Vmin
739.8
0.003
0.7366
0.434 %
dan pada FFT nya hanya menghasilkan amplitude
sinyal pada frekuensi dasar saja. Berbeda halnya
2 Vpp
465.6
0.004
0.4612
0.94 %
ketika kita mengamati saat sinyal berada pada
batas saturasi dan diatas daerah saturasi, sinyal
4 Vpp
528.6
0.018
0.5106
3.406 %
output menjadi terpotong atau dengan kata lain
sinyal output sudah mulai mengalami distorsi.
6 Vpp
550.8
0.039
0.5114
7.149 %
Sinyal output tidak berbentuk sinyal sinusoidal lagi,
sehingga pada FFT nya tidak hanya menghasilkan
10 Vpp
784.8
0.091
0.6939
11.58 %
amplitude sinyal frekuensi dasar saja tetapi juga
amplitude pada frekuensi harmonic kedua dan
Untuk tegangan input dan output yang kecil,
ketiga.
menghasilkan daya beban dan disipasi yang kecil
Karakteristik lain dari sinyal spectrum yang pula. Sehingga dapat dikatakan bahwa daya beban
dihasilkan yaitu amplitude sinyal harmoniknya dan daya disipasi berbanding lurus dengan nilai
menjadi
semakin
mengecil.
Hal
tersebut tegangan input dan outputnya. Berdasarkan
menandakan distorsi semakin terlihat saat perhitungan daya diatas, diperoleh bahwa daya
tegangan melebihi daerah saturasi. Selain itu disipasi rata-rata transistor adalah sebesar 0.583 W.
semakin besar frekuensi, maka semakin kecil pula Untuk input paling besar 10 Vpp menghasilkan
spectrum
amplitudenya.
Karaketeristik
ini daya disipasi yang cukup kecil yaitu 11.58 %.
menjelaskan mengapa untuk nilai tegangan input Sehingga diperoleh pula range efisiensi yaitu
yang berbeda-beda menghasilkan nilai penguatan sekitar 0.4 11.58 %. Teori pada referensi [2]
yang berbeda-beda pula meskipun perbedaannya menyatakan bahwa efisiensi untuk penguat kelas A
sangat kecil.
berselang antara 10-20 % dan efisiensi maksimum
25 %. Apabila dibandingkan, maka hasil percobaan
Pengamatan daya disipasi dan daya pada beban
dapat dikatakan sudah mendekati teori. Namun
Selanjutnya dilakukan pengukuran nilai arus pada
karena beberapa kesalahan yang mungkin terjadi
bjt yang dihubungkan dengan catu daya positif,
saat percobaan (seperti ketidak telitian praktikan
arus pada bjt yang dihubungkan dengan catu daya
dalam pengukuran nilai arus dan tegangan)
negative, serta dilakukan pengukura tegangan
sehingga menghasilkan data yang tidak sama
output pada beban. Berikut data yang diperoleh :
persis dengan teori.

PENGUAT PUSHPULL KELAS B

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Pengamatan kualitatif linieritas dan VTC


Pada percobaan kedua ini dilakukan pengamatan
kualitatis linieritas dan VTC sama seperti pada
percobaan 1 namun dengan rangkaian penguat
kelas B. Berikut hasil pengamatan yang diperoleh :
Gambar 12 Sinyal input dan output penguat kelas B

Gambar 13 Kurva karakteristik alih tegangan (VTC)


penguat kelas B

Table 6 Pengukuran amplitude spectrum sinyal saat input 4


Vpp dan saat batas saturasi penguat kelas B

Frekuensi
\ Spektrum

Saat input 4
Vpp

Saat batas
satursi

1000 Hz

52 dB

53.6 dB

2000 Hz

11.6 dB

12.8 dB

3000 Hz

6.8 dB

20.8 dB

Apabila dillihat pada table 5 dan 6 diatas, pada


keadaan sinyal input berada dibawah nilai batas
saturasinya , FFT nya menghasilkan amplitude
sinyal pada frekuensi dasar, harmonic pertama,
dan harmonic kedua. Hal ini dikarenakan pada
keadaan tersebut sinyal output sudah mengalami
distorsi. Sehingga jika sinyal input terus dinaikan
pada nilai batas saturasi atau melebihinya, maka
nilai amplitude frekuensinya akan semakin besar.
Selain itu, pada penguat kelas B ini range nilai
sebelum batas saturasinya lebih lebar dari penguat
kelas A.
Pengamatan daya disipasi dan daya pada beban

Pada Gambar 12 dan 13 diatas dapat terlihat bahwa


sinyal input dan output tidak linier. Meskipun
sinyal input diatur pada nilai yang masih berada
dibawah nilai saturasi, namun sinyal output yang
dihasilkan sudah mengalami distorsi cross-over
(sesuai dengan teori). Terjadnya distorsi ini
disebabkan karena terdapat tegangan cut-in
junction pada transistor yang menyebabkan
perpindahan kondisi aktif transistor dari transistor
NPN ke transistor PNP dan sebaliknya. Sehingga
untuk nilai input pada range batas tegangan VBE (0.7 V sampai 0.7 V), transistor tidak diperkuat
karena transistor berada pada daerah cut-off.

Table 7 Pengukuran daya beban, daya disipasi dan efisiensi


penguat kelas B (1)

V in (Vpp)

I1 (mA)

I2 (mA)

Vo (V)

Vmin

0.03

0.03

5.0

1.98

2.2

0.15

9.83

10.24

0.73

17.4

18.0

1.29

10

33.0

38.4

2.81

Table 8 Pengukuran daya beban, daya disipasi dan efisiensi


penguat kelas B (2)

Pengamatan Linieritas Kuantitatif


Selanjutnya dilakukan perngamatan linieritas
kuantitatif seperti pada penguat kelas A, dan
diperoleh data sebagai berikut :
Table 5 Pengukuran amplitude spectrum sinyal input dan
output penguat kelas B

V input

Ps (mW)

Pl (W)

Pd (mW)

Vmin

0.000579

3.79 x 10-7

0.289

0.066 %

2 Vpp

0.01783

0.000359

8.74

2.06 %

Frekuensi
\ Spektrum

Sinyal
output

Sinyal
input

4 Vpp

0.08535

0.00823

38.56

10.67 %

1000 Hz

54.8 dB

58 dB

6 Vpp

0.14962

0.02529

62.17

20.34 %

2000 Hz

19.6 dB

8 dB

10 Vpp

0.32542

0.11964

102.891

58.14 %

3000 Hz

29.6 dB

5.2 dB

Dapat dilihat bahwa pada tegangan input dan


output yang kecil, menghasilkan daya beban dan
disipasi yang kecil pula. Sehingga dapat dikatakan
bahwa daya beban dan daya disipasi berbanding
Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

1
0

lurus (linier) dengan nilai tegangan input dan


outputnya. Berdasarkan data perhitungan daya
diatas, didapatkan daya disipasi rata-rata sebesar
63.6 mW. Selain itu, ada input maksimum sebesar
10 Vpp diperoleh nilai efisiens yang cuku besar
yaitu 58.14 %. Berdasarkan teori pada referensi [2]
menyatakan bahwa untuk penguat kelas B,
memiliki nilai maksimum efisiensi sebesar /4 atau
78.5 %. Jika membandingkan kedua nilai efisiensi
tersebut maka dapat dikatakan bahwa praktikum
telah berhasil karena data yang diperoleh telah
sesuai dengan referensi teori yang ada.
Pengamatan tahap output kelas B dengan umpan
balik (feedback) penguat operasional
Selatelah dilakukan pengamatan pada penguat
keas B, juga dilakukan pengamatan pada penguat
kelas B yang diberi umpan balik (feedback) penguat
operasional. Berikut hasil yang diperoleh :
Gambar 14 Dual trace sinyal input dan output penguat kelas
B dengan feedback op amp

Berbeda dengan hasil penguatan kelas B


sebelumnya, penguat kelas B dengan umpan balik
op amp menghasilkan sinyal output yang hampir
sama dengan sinyal inputnya (penguatan 1) dan
tidak terdapat distorsi. Penambahan op amp pada
penguat kelas B ini berfungsi untuk menjaga
tegangan output agar sama dengan tegangan
inputnya. Tidak hanya itu, op amp juga berperan
untuk menekan distorsi akibat ketidak seimbangan
penguatan arus transistor NPN dan PNP.
Dilihat dari kurva karakteristik tegangan, output
op amp terlihat sebagai komplemen dari sinyal
distrosi cross-over sehingga apabila kedua sinyal
dijumlahkan maka diperoleh kurva karakteristik
yang linier.
Untuk hasil FFT saat sinyal input berada dibawah
nilai batas saturasi hanya memiliki frekuensi dasar.
Lalu sinyal input yang melewati nilai batas
saturasinya memiliki frekuensi dasar, harmnik
kedua, dan harmonic ketiga.
Table 9 Pengukuran amplitude spectrum sinyal input dan
output penguat kelas B dengan feedback op amp

Gambar 15 Kurva VTC penguat kelas B dengan feedback op


amp

Gambar 16 Kurva VTC penguat kelas B dengan feedback


op amp saat memasuki daerah saturasi

Frekuensi
\ Spektrum

Sinyal
output

Sinyal
input

1000 Hz

55.6 dB

54.8 dB

3000 Hz

6.4 dB

12.4 dB

Berdasarkan data pengamatan kualitatif seperti


pada table diatas diketahui bahwa penguatan tidak
murni linier. Hal ini karena yang semakin besar
frekuensi harmoniknya, amplitude sinyal yang
dihasilkan menjadi semakin kecil. Sehingga ketidak
linieraan lebih kecil jika dibandingkan dengan
penguat kelas B tanpa menggunakan feedback
dengan op amp.
Table 10 Pengukuran daya beban, daya disipasi dan
efisiensi penguat kelas B dengan feedback op amp (1)

V input

I1 (mA)

I2 (mA)

Vo (V)

Vmin

1.2

1.01

0.075

10 Vpp

37.7

39.1

3.09

Table 11 Pengukuran daya beban, daya disipasi dan


efisiensi penguat kelas B dengan feedback op amp (2)
Gambar 17 Kurva VTC dengan output pada op amp
(penguat kelas B dengan feedback op amp)

V input

Ps (mW)

Pl (mW)

Pd
(mW)

Vmin

0.008686

8.5 x10-5

8.6 x10-

0.979 %

10 Vpp

0.357846

0.144668

0.213

40.427 %

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

11

Berdasarkan data pada tebel diatas, terlihat bahwa


tegangan input berbanding lurus (linier) dengan
daya beban dan daya disipasinya. Untuk tegangan
input terbesar yaitu 10 Vpp menghasilkan efisiensi
sebesar 40.427 %. Nilai ini lebih kecil dibandingkan
dengan efisiensi pada 10 Vpp untuk penguat kelas
B tanpa op amp (yaitu 58.14 %).
Hal ini
menunjukan bahwa dengan adanya penambahan
feedback dengan op amp pada penguat kelas B maka
akan menurunkan efisiensi penguat.

Gambar 21 Dual trace sinyal input-output penguat kelas AB


(R1 = 1 k)

PENGUAT PUSHPULL KELAS AB

Pengamatan kualitatif linieritas dan VTC


Gambar 18 Dual trace sinyal input dan output penguat kelas
AB (R1 = 1.8 k)

Gambar 19 Kurva VTC penguat kelas AB (R1 = 1.8 k)

Gambar 22 VTC sinyal input-output penguat kelas AB (R1


= 1 k)

Gambar 23 VTC saat saturasi penguat kelas AB (R1 = 1 k)

Berdasarkan data pengamatan pada mode dual


trace sinyal input dan output, terlihat bahwa kedua
sinyal identic. Selain itu dari pengamatan kurva
karakteristik VTC nya teramati bentuk garis lurus
dengan kemiringan kurva 1 V/V. sehingga dapat
disimpulkan bahwa sinyal tersebut linier.

Gambar 24 Dual trace sinyal input-output penguat kelas AB


(R1 = 4.7 k)

Gambar 20 Kurva VTC saat saturasi penguat kelas AB (R1 =


1.8 k)

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

12

Gambar 25 VTC sinyal input-output penguat kelas AB (R1


= 4.7 k)

tersebut dapat disimpulkan penguat kelas ini


bagus dalam hal linieritas.
Pengamatan daya disipasi dan daya pada beban
Table 13 Pengukuran daya beban, daya disipasi dan
efisiensi penguat kelas AB (1) (*data percobaan diperoleh
dari Husin Abubakar A. 13213001)

Gambar 26 VTC saat saturasi penguat kelas AB (R1 = 4.7


k)

V input

I1 (mA)

I2 (mA)

Vo (V)

Vmin

0.17

21.8

0.46

2 Vpp

8.26

24.33

1.82

4 Vpp

16.16

32.28

3.72

6 Vpp

25.07

40.82

5.61

10 Vpp

43.51

54.98

8.59

Table 14 Pengukuran daya beban, daya disipasi dan


efisiensi penguat kelas AB (2) (*data percobaan diperoleh
dari Husin Abubakar A. 13213001)

Terlepas dari saturasi yang tetap terjadi pada sinyal,


batas tegangan inpu agar tidak terjadi distorsi
menjadi semakin besar. Selain itu distorsi cross-over
yang terjadi pada penguat kelas B, tidak terjadi
pada penguat jenis ini. Hal-hal tersebut merupakan
keuntungan dari penguat kelas AB.
Pengamatan Linieritas Kuantitatif
Table 12 Pengukuran amplitude spectrum sinyal input dan
output penguat kelas AB (*data percobaan diperoleh dari
Husin Abubakar A. 13213001)

V input /
Frekuensi

Frekuensi
dasar (1
kHz)

Harmonik
ketiga (3
kHz)

8 Vpp

37.5

10 Vpp

58.1

22.5

Berdasarkan data pengamatan kualitatif seperti


pada table diatas diketahui bahwa penguatan tidak
linier. Hal ini karena yang semakin besar frekuensi
harmoniknya, amplitude sinyal yang dihasilkan
menjadi semakin kecil.
Untuk tegangan input yang jauh lebih besar dari
saturasinya menampilkan amplitude harmonic
yang juga besar sedangkan untuk tegangan input
yang lebih kecil dari saturasi menunjukan
amplitude harmonic yang sangat kecil. Dari hal

V input

Ps (W)

Pl (W)

Pd (W)

Vmin

0.0266

0.0008

0.0258

3.009 %

2 Vpp

0.1054

0.013

0.0928

11.91 %

4 Vpp

0.215

0.052

0.0163

24.34 %

6 Vpp

0.325

0.119

0.2056

36.7 %

10 Vpp

0.497

0.289

0.2178

56.19 %

Pada amplitude sinyal input yang kecil, daya beban


serta daya disipasi yang dihasilkan juga kecil.
Sedangkan untuk amplitude sinyal yang lebih
besar, dihasilkan daya beban dan disipasi beban
yang besar pula. Sehingga dapat dikatakan bahwa
daya pada beban daya disipasi pada penguat kelas
AB ini berbanding lurus (linier) dengan nilai sinyal
input dan outputnya.
Dalam hal efisiensi, pada sinyal input terbesar (10
Vpp) dihasilkan efisiensi sebesar 56.19 %. Oleh
karena itu, penguat kelas AB ini dapat dikatakan
baik dalam hal efisiensi.

DISIPAS PADA TRANSISTOR DAN


RANGAKAIAN TERMAL

*Percobaan ini tidak sempat dilakukan karena


keterbatasan waktu saat praktikum.

5.

KESIMPULAN

Percobaan yang dilakukan pada praktikum I tahap


output penguat daya ini bertujuan antara lain
untuk mengamati karakteristik dari ketiga kelas

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

13

penguat yaitu kelas A, B, dan AB. Setelah


dilakukan
pengamatan,
maka
diperoleh
kesimpulan sebagai berikut :
Tahap output penguat daya terdiri dari
beberapa kelas yang tiap-tiap kelas
tersebut
memiliki
kelemahan
dan
kelebihan masing-masing. Faktor yang
memberdakan tiap kelas tersebut yaiut
dilihat dari batas penguatannya, linieritas
(kualitatif
dan
kuantitatif),
daya
disipasinya, serta efiensi yang dihasilkan.
Kelas penguat yang linier secara kualitatif
belum tentu dapat dikatakan linier secara
kuantitatif.

DAFTAR PUSTAKA
[1]. Mervin T Hutabarat, Praktikum Elektronika II
Laboratorium
Dasar
Teknik
Elektro
ITB,Bandung, 2015.
[2]. Adel S. Sedra and Kennet C. Smith,
Microelectronic Circuits, Oxford University Press,
USA, 2004.
[3]. https://arhild.wordpress.com/2012/01/07/pen
guat-kelas-a/, 19 September 2015, 10:40.
[4]. https://tektro2011.files.wordpress.com/2013/0
2/chapter_7_output_penguat_daya.pdf,
19
September 2015, 10:39.

Penguat kelas A memiliki swing sinyal


yang baik, namun untuk batas bawah
sinyalnya masih terpengaruh oleh nilai RL
yang digunakan (apabila arus bias tidak
mencukupi). Distorsi saturasi terjadi ketika
rangkaian diberi tegangan input yang
terlalu besar. Pada penguat kelas A, daya
disipasi yang dihasilkan cukup besar
sedangkan efisiensi maksimumnya cukup
kecil (berkisar antara 10 20 %).
Penguat kelas B terjadi distorsi cross-over
yang disebabkan karena adanya tegangan
cut-in pada transistor. Daya disipasi yang
dihasilkan
pada
penguat
kelas
B
berbanding lurus dengan inputnya. Untuk
besar efisiensi yang dihasilkan yaitu
berkisar antara 50 - 60 %. Distorsi cross-over
yang terjadi pada penguat kelas B ini,
dapat minimalisasi dengan penambahan
rangkaian
umpan
balik
(feedback)
operasional amplifier . Namun dengan
penambahan
feedback
ini
dapat
mengurangi sedikit efisiensi dari rangkaian.
Penguat kelas AB merupakan kelas yang
mengkombinasikan
kelebihan-kelebihan
dari penguat kelas A dan penguat kelas B.
Dari rangkain penguat kelas AB hasil yang
diperoleh yaitu sinyal output dengan swing
yang baik serta linieritas yang baik namun
dengan tidak adanya distorsi cross-over.
Selain itu daya disipasi yang dihasilkan
berbanding lurus dengan inputnya dan
efisiensi yang dihasilkan cukup tinggi
(sekitar 56.19 %).
Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa
untuk batas penguatan, linieritas, daya disipasi,
dan efisiensi dari suatu penguatan palinh baik
adalah penguat kelas AB.

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

14