Anda di halaman 1dari 28

BAB I

LAPORAN KASUS
1.1. IDENTIFIKASI
Nama

: An. Muthia Shaliha

Umur

: 6 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Berat badan

: 28 kg

Tinggi badan

: 114 cm

Agama

: Islam

Suku Bangsa

: Jawa

Alamat

: Jalan Gajah Mada, Tanah Paset

MRS

: 20 Agustus 2015

1.2. ANAMNESIS
(Alloanamnesis dengan ibu pasien pada tanggal 21 Agustus 2015)
Keluhan Utama

: Badan lemas (saat dibawa ke UGD)

Keluhan Tambahan

: Sakit kepala. Nyeri otot, nyeri ulu hati

Riwayat Perjalanan Penyakit :


4 hari SMRS, os mendadak mengalami demam tinggi, demam
terus-menerus, menggigil (-), keringat banyak (-), riwayat berpergian ke luar
daerah (-). Batuk (+), pilek (-), mual (-), muntah (-), BAB cair (-), nyeri
menelan (-), nyeri saat BAK (-), sakit kepala (+), nyeri otot dan sendi (+),
nyeri ulu hati (+), sakit belakang mata (-). Bintik-bintik merah di kulit (-),
mimisan (-), perdarahan gusi (-). BAK dan BAB biasa.
3 hari SMRS, os masih mengeluh demam tinggi. Os lalu dibawa
berobat ke praktik dokter umum, diberi obat demam (paracetamol). Demam
sempat turun, namun kemudian demam lagi disertai sakit perut, mual, badan
terasa pegal-pegal, dan tidak nafsu makan.
1 hari SMRS, timbul bintik-bintik merah yang tidak hilang dengan
penekanan (-), os masih terus demam, perdarahan gusi dan hidung (-), BAB

hitam (-), sakit kepala, nyeri ulu hati dan pegal-pegal (+). Keesokan harinya
Os terlihat lemas saat bangun tidur kemudian dibawa

ke UGD RSUD

Panglima Sebaya.
Riwayat tetangga atau teman sekolah yang menderita demam
berdarah di sekitar pasien tidak diketahui.
Riwayat Penyakit dalam Keluarga:
Riwayat penyakit yang sama pada anggota keluarga disangkal.
Riwayat Kehamilan Ibu dan kelahiran:
GPA

: P2A0

Penyakit/komplikasi kehamilan

: (-)

Masa kehamilan

: Cukup bulan

Partus

: Spontan

Ditolong oleh

: Bidan

Berat badan

: 2800 gram

Panjang badan

: (-)

Keadaan saat lahir

: Langsung menangis

Riwayat Makanan:
ASI

: 0-1 tahun

Bubur susu

: 2 bulan 1 tahun

Nasi lembek

: 1-2 tahun

Nasi biasa

: 2 tahun - sekarang teratur, 3x 1 piring sedang/hari

Kesan: kualitas dan kuantitas makanan baik.


Riwayat Imunisasi:
BCG

: (+), ada skar

DPT

: DPT (+)

Polio

: Polio (+)

Hepatitis B

: Hepatitis B (+)

Campak

:+

Kesan

: Imunisasi dasar lengkap

Riwayat Perkembangan:
Tengkurap

: 3 bulan

Duduk

: 5 bulan

Berdiri

: 11 bulan

Berjalan

: 13 bulan

Kesan

: Perkembangan motorik dalam batas normal

Riwayat Sosial Ekonomi:


Ayah/SM
A/Swasta

Ibu/SMA/ IRT

Penderit
a 6 th

Kesan : keadaan sosial ekonomi Cukup


1.3. PEMERIKSAAN FISIK (20 Agustus 2015, Pukul 06.45 WITA, saat
masuk UGD, dr.Yanti R)
Keadaan Umum
Kesadaran

: Compos mentis

Tekanan darah : 80mmHg/palpasi


Nadi

: 120 x/m, reguler, isi dan tegangan kurang

Pernapasan

: 28 x/m

Suhu

: 35.6 0C

Berat badan

: 28 kg

Tinggi badan

: Tidak dinilai

Keadaan Spesifik
Kulit
Tidak dinilai
Kepala
Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),

Hidung

: Tidak dinilai

Telinga

: Tidak dinilai

Mulut

: Tidak dinilai

KGB

: Tidak dinilai

Thorax
Paru-paru
Inspeksi

: Tidak dinilai

Palpasi

: Tidak dinilai

Perkusi

: Sonor pada kedua lapangan paru

Auskultasi

: Vesikuler (+) normal, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

Jantung
Inspeksi

: Tidak dinilai

Palpasi

: Tidak dinilai

Perkusi

: Tidak dinilai

Auskultasi

: S1-S2 tunggal, bising (-)

Abdomen
Palpasi

: Soefle (+), Defans muskular (-), Meteorismus (-), cairan


bebas (-), Hepar dan lien tak teraba

Perkusi

: Timpani

Auskultasi

: Bising usus meningkat

Ekstremitas
Edema (-), Parese (-)
Pemeriksaan Neurologis
Tidak dinilai
1.4. PEMERIKSAAN FISIK (21 Agustus 2015)
Keadaan Umum
Kesadaran

: Compos mentis

Tekanan darah : 100/60 mmHg


Nadi

: 98 x/m, reguler, isi dan tegangan cukup

Pernapasan

: 22 x/m

Suhu

: 36.2 0C

Berat badan

: 28,3 kg

Tinggi badan

:114 cm

IMT

: 21.77 kg/m2 (IMT/U = > 2 SD)

Kesan

: Obesitas

Keadaan Spesifik
Kulit
Warna kulit sawo matang, turgor baik, ptechiae spontan (-).
Kepala
Lingkar kepala : 48 cm
Kesan kepala

: Normocephali

UUB

: Menutup

Rambut

: Hitam, lurus, tidak mudah dicabut

Mata

: Kelopak mata normal, konjungtiva anemis (-), sklera


ikterik (-), pupil bulat, isokor, refleks cahaya normal,
diameter 3 mm

Hidung

: Sekret (-), nafas cuping hidung (-)

Telinga

: Sekret (-)

Mulut

: Stomatitis angularis (-), atrofi papil lidah (-), mukosa


mulut kering (+), sianosis sirkum oral (-), typhoid tongue
(-)

Tenggorokan

: Tonsil T1-T1, hiperemis (-)

Leher

: Tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening, tekanan


vena jugularis tidak meningkat

Thorax
Paru-paru
Inspeksi

: Statis dan dinamis simetris, retraksi dinding dada tidak ada

Palpasi

: Stemfremitus kiri sama dengan kanan

Perkusi

: Sonor pada kedua lapangan paru

Auskultasi

: Vesikuler (+) normal, ronkhi (-), wheezing (-)

Jantung
Inspeksi

: Iktus kordis tidak terlihat

Palpasi

: Iktus cordis tidak teraba

Perkusi

: batas jantung dalam batas normal

Auskultasi

: HR 98 x/menit, reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
Inspeksi

: Datar

Palpasi

: Lemas, nyeri tekan (-) Regio epigastrium, Hepar dan lien


tak teraba

Perkusi

: Timpani

Auskultasi

: Bising usus (+) normal

Ekstremitas
Akral dingin (-), edema (-), sianosis (-), ptechiae spontan (+), CRT < 3 detik.

Pemeriksaan Neurologis
Lengan
Gerakan
Kekuatan
Tonus
Klonus
Refleks
fisiologis
Refleks

Kanan
Luas
+5
Eutoni

Kiri
Luas
+5
Eutoni

(+) normal

(+) normal

(+) normal

(+) normal

patologis
Fungsi sensorik

1.4.

Tungkai
Kanan
Kiri
Luas
Luas
+5
+5
Eutoni
Eutoni
-

: tidak ada kelainan

Nervi craniales

: normal

Gejala rangsang meningeal

: tidak ada

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Darah Rutin (9 Agustus 2012, pukul 06.00 WIB)
Hb

: 12.4 g/dl

Ht

: 39 vol %

Trombosit

: 73.000/mm3

Darah Rutin (8 Agustus 2012, pukul 06.00 WIB)


Hb

: 13.0 g/dl

Ht

: 41 vol %

Trombosit

: 22.700/mm3

Darah Rutin (7 Agustus 2012, pukul 06.00 WIB)


Hb

: 13.1 g/dl

Ht

: 41 vol %

Trombosit

: 18.000/mm3

Darah Rutin (6 Agustus 2012, pukul 06.00 WIB)


Hb

: 13.0 g/dl

Ht

: 41 vol %

Trombosit

: 27.000/mm3

Darah Rutin (5 Agustus 2012, pukul 06.00 WIB)


Hb

: 15 g/dl

Ht

: 46 vol %

Leukosit

: 2.700/mm3

Trombosit

: 35.000/mm3

Hitung jenis

: 0/2/2/66/25/5

1.5.

DIAGNOSIS BANDING
-

1.6.

DIAGNOSIS KERJA
Demam Berdarah Dengue (DBD) derajat II + gizi kurang

1.7.

PEMERIKSAAN ANJURAN
Pemeriksaan serologis IgG dan IgM

1.8.

PENATALAKSANAAN

IVFD RL 0,9% 2cc/kgBB/jam (42cc/jam) gtt X/menit makro

Paracetamol syr 3x 2 cth jika demam

Observasi tanda-tanda vital, tanda-tanda perdarahan, dan diuresis/ 24


jam

1.9.

Periksa Ht dan trombosit tiap 24 jam

Diet 1700 kkal/hari + 42 g protein

Anjuran banyak minum

PROGNOSIS
Quo ad vitam

: bonam

Quo ad functionam

: bonam

1.10. FOLLOW UP
Tanggal
08-08-2012

Keterangan
S: demam -, nyeri perut -, nyeri kepala -

(demam hari O: Keadaan Umum


ke-8,

Sens: compos mentis

perawatan

TD : 100/60 mmHg

hari ke-4 )

N : 92x/menit (i/t cukup)

RR : 22 x/menit
T : 36.7 oC

Keadaan spesifik
Kepala

: NCH (-)

Leher

: Tidak ada kelainan

Thorax
Cor

: HR 92 x/menit, reguler, murmur (-), gallop (-)

Pulmo : vesikuler (+) normal, ronkhi (-), wheezing (-)


Abdomen : datar, lemas, nyeri tekan (-) R. epigastrium, Hepar
dan lien tak teraba, BU (+) N
Ekstremitas : Akral dingin (-), ptechiae spontan (+), ruam
convalensence(+)
Balance cairan/24 jam
Pkl. 07.00-07.00 WIB
I

= 1700cc

= 1500 cc

IWL = 380 cc
BALANCE: -180 cc
OUTPUT = 1500 cc/24 jam diuresis = 3 cc/kgBB/jam
A: DBD grade II + gizi kurang
P:
Penggantian volume plasma : RL 3cc/kg BB/jam (gtt

XV/menit, makro)

10-08-2012

Observasi vital sign, tanda-tanda perdarahan, dan diuresis

Periksa Ht dan trombosit tiap 24 jam

Diet NB (1700 kkal/hari+ 42 gr protein)


S: -

(sakit hari ke- O: Keadaan Umum


10,

Sens: compos mentis

perawatan

TD : 100/60 mmHg

RR : 24 x/menit

hari ke-6)

N : 96 x/menit (i/t cukup)

T : 36,4 oC

Keadaan spesifik
Kepala

: NCH (-)

Leher

: Tidak ada kelainan

Thorax
Cor

: HR 96 x/menit, reguler, murmur (-), gallop (-)

Pulmo

: vesikuler (+) normal, ronkhi (-), wheezing (-)

Abdomen : datar, lemas, nyeri tekan (-), Hepar dan lien tak
teraba, BU (+) N
Ekstremitas : Akral dingin (-), ptechiae spontan (-), uji bendung
(-)
Balance cairan/24 jam
Pkl. 07.00-07.00 WIB
I

= 1800 cc

= 1300 cc

IWL = 380 cc
Balance cairan = 120 cc/24 jam diuresis = 2.5 cc/kgBB/jam
A: DBD grade II dengan perbaikan klinis + gizi kurang
P:
Anjuran banyak minum
Diet NB
10

Rencana aff infus dan pulang

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Demam berdarah dengue adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
virus dengue ditandai dengan demam tinggi mendadak disertai manifestasi
perdarahan dan bertendensi menimbulkan renjatan dan kematian.1
2.2 Etiologi
Di Indonesia, hingga sekarang telah dapat diisolasi virus dengue yang
terdiri dari 4 serotipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4. Serotipe DEN-3
merupakan serotipe yang paling banyak ditemukan di Indonesia dan berhubungan
dengan manifestasi yang berat.1 Urutan infeksi serotipe merupakan suatu faktor
resiko karena lebih dari 20 % urutan infeksi virus DEN 1 yang disusul DEN 2
mengakibatkan renjatan, sedangkan faktor resiko terjadinya renjatan untuk urutan
virus DEN-3 yang diikuti oleh DEN-2 adalah 2%.2
2.3 Insidensi
Indonesia menduduki urutan tertinggi kasus demam berdarah dengue
dibandingkan Negara ASEAN lain dengan jumlah kematian sekitar 1.317 orang
tahun 2010.
2.4 Patogenesis 2
Sebagian besar ahli masih menganut The secondary Heterologous
Infection Hypothesis

atau The Sequential Infection Hypothesis, yaitu bahwa

demam berdarah dengue yang dialami seseorang setelah terinfeksi dengan virus
dengue pertama kali kemudian mendapat infeksi ulangan dengan tipe virus
dengue yang berlainan, dalam waktu 6 bulan-5 tahun. Patogenesis terjadinya
renjatan berdasarkan The secondary Heterologous Infection Hypothesis dapat
dilihat dari rumusan yang dikemukakan oleh Suvatte (1977) yaitu akibat infeksi
11

kedua oleh tipe virus yang lain pada seseorang penderita dengan kadar antibodi
antidengue yang rendah, respon antibodi anamnestik yang akan terjadi dalam
waktu beberapa hari mengakibatkan proliferasi dan transformasi limfosit imun
dengan menghasilkan titer tinggi antibodi IgG anti dengue. Di samping itu,
replikasi virus dengue terjadi juga dalam limfosit yang bertransformasi dengan
akibat terdapatnya virus dalam jumlah banyak. Hal ini akan mengakibatkan
terbentuknya kompleks antigen-antibodi yang selanjutnya:

Akan mengaktivasi sistem komplemen. Pelepasan C3a dan C5a akibat


aktivasi C3 dan C5 menyebabkan meningkatnya plasma melalui endotel
dinding itu. Renjatan yang tidak ditanggulangi secara adekuat akan

menimbulkan anoksia jaringan, asidosis metabolik, dan terakhir kematian.


Dengan terdapatnya kompleks virus-antibodi dalam sirkulasi darah
mengakibatkan trombosit kehilangan fungsi agregasi dan mengalami
metamorfosis, sehingga dimusnahkan oleh sistem RE dengan akibat terjadi
trombositopenia hebat dan perdarahan. Di samping itu, trombosit yang
mengalami metamorfosis akan melepaskan faktor trombosit 3 yang

mengaktivasi koagulasi.
Akibat aktivasi faktor Haegeman (faktor XII) yang selanjutnya juga
mengaktivasi sistem koagulasi dengan akibat terjadinya pembekuan
intravaskular yang meluas. Menurunnya faktor koagulasi dan kerusakan
hati akan menambah beratnya perdarahan.
Secara garis besar akibat aktivasi komplemen, agregasi trombosit,

kerusakan sel endotel akan menyebabkan kebocoran kapiler, ektravasasi plasma,


hemokonsentrasi, renjatan, efusi cairan, ensefalopati serta hipoksia jaringan.
Vasculopati + trombopati + koagulopati + trombositopenia akan menyebabkan
perdarahan dan juga ensefalopati.
2.5 Manifestasi Klinik 2
Seperti pada infeksi virus yang lain, infeksi virus dengue juga merupakan
suatu self limiting infectious disease yang akan berakhir sekitar 2-7 hari. Infeksi
virus dengue pada manusia mengakibatkan suatu spektrum manifestasi klinik

12

yang bervariasi antara penyakit yang paling ringan, dengue fever, dengue
hemorrhagic fever dan dengue shock syndrome.
a. Demam
Demam biasanya tinggi dan terus-menerus, dengan sebab tidak jelas dan
hampir tidak bereaksi terhadap pemberian antipiretik (mungkin hanya turun
sedikit kemudian kembali naik lagi). Panas biasanya berlanhsung 2-7 hari. Jika
tidak disertai syok, panas akan turun dan penderita sembuh sendiri. Di samping
panas, penderita juga mengeluh malaise, mual, muntah, sakit kepala, anoreksia,
dan kadang-kadang batuk.

b. Tanda-tanda perdarahan

Karena manipulasi
- Uji Torniquet/Rumpel

Leede

test

positif,

yaitu

dengan

mempertahankan manset tensimeter pada tekananantara sistol dan


diastol selama 5 menit, kemudian dilihat apakah timbul ptekie atau
-

tidak di daerah volar lengan bawah.


kriteria:
(+) Bila jumlah ptekie 20
() Bila jumlah ptekie 10-20
(-) Bila jumlah ptekie <10

Perdarahan Spontan

c. Pembesaran hepar

13

d. Laboratorium

Hematokrit / PCV (Packed Cell Volume) meningkat sama atau lebih dari
20%. Normal PCV/Hct= 3 x Hb
Trombosit menurun, sama atau kurang dari 100.000/mm3
Leukopenia, kadang-kadang leukositosis ringan
Waktu perdarahan memenjang
Waktu protrombin memanjang

2.6 Bentuk Klinis 1

Berdasarkan kepastian diagnosis :


-

Tersangka demam dengue (TDD)

Tersangka demam berdarah (TDBD)

Demam dengue (DD)

Demam Berdarah Dengue (DBD)

Berdasar derajat penyakit (demam berdarah dengue) :


-

Derajat I

: demam + gejala non-spesifik + uji bendung (+)

Derajat II

: derajat I + perdarahan spontan di kulit atau

perdarahan lainnya
-

Derajat III

: kegagalan sirkulasi ditandai dengan nadi lemah,

takikardia, tekanan nadi 20 mmHg atau hipotensi, sianosis sirkum


oral, kulit lembab dan dingin, dan anak gelisah
-

Derajat IV

: renjatan berat, nadi tak teraba, tekanan darah tidak

terukur
*Derajat III dan IV DSS

14

2.7 Penegakkan Diagnosis 1


a. Anamnesis

Demam merupakan tanda utama, terjadi mendadak tinggi selama 2-7 hari,
lesu, tidak nafsu makan, muntah. Dapat disertai nyeri kepala, nyeri otot,
nyeri sendi, nyeri perut

Gejala penyerta lebih mencolok pada demam dengue daripada demam


berdarah dengue

Perdarahan yang paling sering dijumpai adalah perdarahan kulit dan


mimisan

b. Pemeriksaan Fisik

Hepatomegali dan kelainan fungsi hati lebih sering ditemukan pada DBD

15

Perbedaan antara DD dan DBD adalah pada DBD terjadi peningkatan


permeabilitas

kapiler sehingga menyebabkan perembesan plasma,

hipovolemia dan syok.

Perembesan plasma menyebabkan ekstravasasi cairan ke dalam rongga


pleura (efusi pleura) dan rongga peritoneal (asites) selama 24-48 jam.

Fase kritis sekitar hari ke-4 sampai ke-5 perjalanan penyakit. Pada fase ini
suhu turun dan dapat merupakan awal penyembuhan pada infeksi ringan
namun pada DBD berat merupakan tanda awal syok.

Perdarahan dapat berupa test torniquet positif, petekie, epistaksis,


hematemesis, melena, ataupun hematuria.

Tanda-tanda syok :
-

Anak gelisah, penurunan kesadaran, sianosis

Nafas cepat, nadi teraba lembut kadang tidak teraba

Tekanan darah turun, tekanan nadi < 20 mmHg

Akral dingin, capillary refill menurun

Diuresis menurun sampai anuria

Fase penyembuhan: Keadaan umum semakin membaik, nafsu makan


membaik, gejala gastrointestinal berkurang, status hemodinamik stabil.
Beberapa penderita timbul ruam yang terkadang gatal, bradikardia dan
perubahan elektrokardiografi dapat ditemukan pada fase ini

2.8 Kriteria Diagnosis 1

Kriteria klinis :
-

Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terusmenerus selama 2-7 hari

Manifestasi perdarahan, termasuk test torniquet positif, petekie,


ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis, dan/melena

Hepatomegali

Syok, ditandai nadi cepat dan lemah, serta penurunan tekanan nadi <
20 mmHg, hipotensi, kaki tangan dingin, gelisah

16

Kriteria laboratorium :
-

Trombositopenia 100.000/mikroliter

Hemokonsentrasi (peningkatan Ht 20 % menurut standar umur dan


jenis kelamin)

Diagnosis DBD ditegakkan berdasarkan :


Dua kriteria klinis + trombositopenia dan hemokonsentrasi, serta
dikonfirmasi secara uji serologis
Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium : hematokrit dan hitung trombosit secara


berkala serta pemeriksaan serologi, pemeriksaan LPB, albumin darah, CT,
BT, PT, PTT, gambaran darah tepi pada kecurigaan DIC

Pemeriksaan penunjang : foto thoraks pada dispneu untuk menelusuri


penyebab lain disamping efusi pleura, USG bila ada, dapat dipakai untuk
memeriksa efusi pleura minimal

Interpretasi hasil pemeriksaan serologis DBD


Ig M

Ig G

Interpretasi

keterangan

Infeksi primer akut

Infeksi sekunder

Tidak terbukti adanya infeksi

Diulang

Infeksi pada 2-3 bulan sebelumnya

Diulang

Pemeriksaan NS1:

NS1 merupakan glikoprotein non struktural 1 dari virus dengue. NS1 dapat
terdeteksi pada darah mulai awal demam sampai hari ke 5.

2.9 Indikasi rawat 3

Penderita tersangka demam berdarah derajat I dengan panas 3 hari atau


lebih sangat dianjurkan untuk dirawat.
17

Tersangka demam berdarah derajat I disertai hiperpireksia atau tidak mau


makan atau muntah-muntah atau kejang-kejang atau Ht cenderung

meningkat dan trombosit cenderung turun harus dirawat.


Penderita demam berdarah derajat I pada follow up berikutnya ditemukan
status mental berubah, nadi menjadi cepat dan kecil, kaki tangan dingin,

tekanan darah menurun , oligouria harus dirawat.


Seluruh derajat II, III, IV

2.10 Penatalaksanaan

Sesuai dengan bagan penatalaksanaan (bagan 1,2 terlampir)

Perhitungan pemberian cairan intravena maintenance dapat dihitung


dengan rumus Holliday-Segar (WHO 2009)
-

4 mL/kg/jam untuk 10 kg pertama

+ 2 mL/kg/jam 10 kg berikutnya

+ 1 mL/kg/jam untuk setiap kg berat badan berikutnya.

Untuk penderita overweight perhitungan cairan maintenance berdasarkan


berat badan ideal.
Tatalaksana komplikasi (overload cairan) :
-

Tanda-tanda awal : distress nafas, sesak, nafas cepat, retraksi,


wheezing, efusi pleura yang luas, peningkatan JVP

Tanda-tanda lanjut : edem paru (batuk dengan sputum berwarna


merah, krepitasi, sianosis), syok ireversibel

Tatalaksana :

O2 segera

Mengurangi atau menghentikan pemberiaqn cairan IV

Bila penderita sudah melewati fase kritis (> 24-48 jam setelah
demam turun) hentikan/ kurangi cairan , monitor secara ketat,
berikan furosemide 0,1-0,5 mg/kgBB/dosis bila perlu

Bila penderita masih pada fase kritis, kurangi pemberian cairan,


hindari pemakaian diuretik

18

Penderita yang masih mengalami syok pada kadar HT normal


atau rendah dengan tanda-tanda overload cairan mungkin
mengalami perdarahan. Berikan transfusi whole blood secara
hati-hati.

Tindak Lanjut

DSS : tensi/nadi diperiksa setiap 15-20 menit sampai keadaan stabil,


Ht, trombosit setiap 3-6 jam sampai keadaan menetap

Derajat I dan II : pemeriksaan Ht dan trombosit minimal 6-12 jam

Pada semua DSS pada saat masuk rumah sakit harus diperiksa juga
CT dan BT. Bila CT cenderung memanjang lakukan juga
pemeriksaan gambaran darah tepi

Pemeriksaan khusus: EKG bila gagal jantung, foto thorax bila pleural
efusi dan edema paru. USG bila curiga efusi pleura minimal

BT, CT, PT, PTT, dan gambaran darah tepi bila curiga DIC

Penderita yang berobat jalan diperiksa Hb, Ht, trombosit dan


dimonitor gejala klinis seperti muntah, nyeri perut, manifestasi
perdarahan; intake cairan,urin output (minimal BAK satu kali dalam
waktu 6 jam), setiap hari

Penderita yang dirawat, tampung urine 24 jam, bila kurang dari 1


ml/kgBB/jam periksa ureum dan kretinin

Elektrolit darahAGD bila keadaan umum tidak membaik

Pelaporan pada dinas kesehatan Tk II setempat melalui kurir, telepon


atau surat secara mingguan.

2.11 Edukasi dan Pencegahan 1


Pencegahan atau pemberantasan DBD dengan membasmi nyamuk dan
sarangnya dengan melakukan tindakan 3M, yaitu :
-

Menguras tempat-tempat penampungan air secara teratur seminggu sekali


atau menaburkan bubuk larvasida (abate)

Menutup rapat tempat penampungan air

Mengubur barang bekas yang dapat menampung air


19

2.12 Indikasi pulang 3

Keadaan umum baik dan masa krisis telah berlalu atau >7 hari
sejak panas.

nafsu makan membaik

keadaan klinis penderita membaik

tidak demam paling sedikit 24 jam tanpa antipiretik

tidak dijumpai distress pernafasan minimal 3 hari setelah syok


teratasi,

hematokrit stabil

trombosit >50.000 mm3 dengan kecenderungan meningkat.

2.13 Komplikasi 1
Perdarahan gastrointestinal masif, ensepalopati, edema paru, DIC, efusi
pleura
2.14 Prognosis 1
Angka kematian kasus di Indonesia secara keseluruhan < 3%. Angka
kematian DSS di RS 5-10%. Kematian meningkat bila disertai komplikasi. DBD
yang akan berlanjut menjadi syok atau penderita dengan komplikasi sulit
diramalkan, sehingga harus hati-hati dalam melakukan penyuluhan

20

BAB III
ANALISIS KASUS
Seorang anak perempuan berusia 9 tahun dibawa orangtuanya datang ke
RSUD Palembang BARI dengan keluhan utama demam. Dari anamnesis
didapatkan 4 hari SMRS pasien mengeluh demam tinggi, yang artinya pasien
diduga mendapat infeksi, misal infeksi bakteri (demam tifoid, infeksi saluran
kemih, infeksi saluran nafas, dsb), infeksi virus (demam dengue, DHF, dsb), atau
infeksi parasit (misal malaria).
Demam timbul mendadak, terus-menerus, tanpa menggigil dan berkeringat
banyak, ditambah dengan tidak adanya riwayat berpergian ke luar daerah endemik
malaria, maka untuk sementara kemungkinan sakit malaria dapat disingkirkan.
Tidak adanya batuk, pilek, dan sesak napas mengurangi kemungkinan adanya
infeksi di saluran napas, sedangkan BAK biasa, tidak ada nyeri saat BAK dapat
menyingkirkan infeksi di saluran kemih. Pasien mengeluhkan nyeri perut dan
tidak ada BAB cair, ada sakit kepala, ada nyeri otot dan sendi, tetapi sakit
belakang mata tidak ada, bintik-bintik merah di kulit (-), mimisan (-), perdarahan
gusi (-), sehingga kemungkinan demam dengue/DHF belum dapat disingkirkan.
Dari anamnesis lebih lanjut 1 hari SMRS, timbul bintik-bintik merah di
paha dan kaki kanan dan kiri yang tidak hilang dengan penekanan, pasien masih
terus demam, perdarahan gusi dan hidung (-), BAB hitam (-), sakit kepala, nyeri
ulu hati dan pegal-pegal (+). Hal ini menunjukkan kemungkinan besar pasien
mengalami demam dengue atau DHF.
Dari pemeriksaan fisik ditemukan kesadaran pasien compos mentis dengan
tekanan darah 100/60 mmHg, nadi 98x/menit, isi dan tegangan cukup, pernapasan
24x/menit dan suhu 370C. Hal ini menunjukkan keadaan umum pasien baik dan

21

tidak dalam keadaan syok. Berat badan 21 kg dan tinggi badan 125 cm.
Pemeriksaan spesifik pada kulit terdapat ptechie spontan. Dari anamnesis dan
pemeriksaan fisik dapat mengarahkan bahwa pasien mengalami DHF. Dan untuk
status gizi berdasarkan berat badan per tinggi badan, pasien termasuk dalam
kategori gizi kurang.
Pemeriksaan laboratorium menunjukkan trombositopeni (73.000/mm3 pada
9/8/12 dan 35.000 pada 5/8/12), dan peningkatan hematokrit (39 vol % pada
9/8/12 dan 46% pada 5/8/12). Berdasarkan kriteria diagnosis DHF menurut WHO,
maka pasien ini masuk dalam kriteria diagnosis yaitu dua kriteria klinis +
trombositopenia dan hemokonsentrasi.

Kriteria klinis yang memenuhi adalah:


- Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terusmenerus selama 2-7 hari

- Manifestasi perdarahan berupa ptechie

Kriteria laboratorium :
- Trombositopenia 100.000/mikroliter
- Hemokonsentrasi (peningkatan Ht 20 % menurut standar umur dan
jenis kelamin)
Dan berdasarkan derajatnya, pasien ini tergolong pada derajat II karena

didapatkan demam, sakit kepala, sakit otot dan ptechie spontan di kulit.
Berdasarkan standar penatalaksanaan ilmu kesehatan anak RSMH tahun
2010 tatalaksana DHF derajat II dengan kondisi pasien yang tidak dapat minum
diberikan NaCl 0,9% dextrosa 5% (1:3) tetesan rumatan sesuai berat badan untuk
terapi awal, selanjutnya bila terbukti ada trombositopenia dan hemokonsentrasi
cairan yang diberikan mulai 6-7 cc/kgBB jam, jumlah cairan diturunkan menjadi 5
cc/kgBB/jam apabila dalam followup 6-12 jam berikutnya pasien diuresisnya
baik, vital signya normal, Ht stabil, 6-12 jam berikutnya apabila kondisi pasien
baik maka cairan yang diberikan adalah 3cc/kgBB/jam Tujuan pemberian cairan
termasuk saran untuk banyak minum adalah untuk mencegah syok hipovolemik.
Dilakukan pemeriksaan Hb, Ht, trombosit tiap 6-12 jam. Pada pasien ini cairan
yang diberikan adalah RL, karena pasien masih mau makan dan minum sehingga
22

untuk nutrisi tidak perlu melalui parenteral.

Pada tanggal 9-8-2012 keadaan

umum pasien sudah baik, hasil pemeriksaan laboratoriumnya juga sudah


menunjukkan perbaikan, namun siang harinya pasien mengalami epistaksis,
sehingga diputuskan pasien tetap menggunakan cairan IVFD RL 2cc/kgBB/jam
dan diobservasi untuk sehari lagi.
Pasien juga termasuk dalam kategori gizi kurang sehingga harus diberikan
diet sesuai dengan kebutuhan kalorinya per hari yaitu 1700 kkal/hari + 42 g
protein untuk mengatasi keadaan gizi kurang dan mempercepat proses
penyembuhan.
Pasien direncanakan pulang pada hari perawatan ke 6, karena keadaan
umum pasien sudah baik, nafsu makan membaik, keadaan klinis penderita
membaik (sakit kepala (-), ptechie spontan (-), tidak demam lagi, hematokrit stabil
dan kecenderungan trombosit meningkat >50.000 mm3.
Prognosis pada pasien ini, quo ad vitam dan quo ad functionam nya adalah
bonam karena pada pasien ini tidak terdapat komplikasi dan tanda-tanda yang
membahayakan jiwa seperti syok atau overload cairan.

23

DAFTAR PUSTAKA
1. Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSMH. Standar Penatalaksanaan Ilmu
Kesehatan Anak.

2012. Standar Penatalaksanaan Boks Infeksi.

Demam Berdarah Dengue/DBD (DHF/DSS).


2. Rampengan TH. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak, Edisi 2. 2005.
Jakarta: EGC.
3. http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-hiswani9.pdf
4. Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSMH. Standar Penatalaksanaan Ilmu
Kesehatan Anak.

2010. Standar Penatalaksanaan Boks Infeksi.

Demam Berdarah Dengue/DBD (DHF/DSS).

24

Lampiran

25

26

27

28