Anda di halaman 1dari 24

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3)

PADA PT.DWI PUTRA PERKASA DAN PT.TRINUNGGAL KOMARA

Oleh :

1. ANDI PRATAMA

200944500056

2. RESKY SEPTIAWAN

200944500043

3. RIZKY KURNIAWAN

200944500076

4. AHMAD KOMARULLAH
5. MUSMULIA RANDI

200944500104
200944500073

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM.
UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI
2013/2014

K3 di perusahaan Dwi Putra Perkasa Garment

A. Sejarah Dwi Putra Perkasa Garment


Usaha garment kemeja dari pemilik yang biasa dipanggil Pak Yanto ini
berawal pada tahun 1989 yang saat itu usaha garment kemeja itu masih
belum menggunakan nama usaha seperti sekarang ini. Dimana beliau masih
menggunakan rumahnya sendiri sebagai tempat kerja untuk merintis usaha
garment kemeja ini bagi para karyawannya. Awal mula pak yanto mendirikan
usaha ini masih terdapat tujuh buah mesin manual.Dengan jumlah tujuh
orang karyawan. Yaitu pak yanto sendiri dengan sang istri ditambah lima
orang tetangga yang beliau didik dari awal. Saat itu pak yanto masih belum
berani untuk membuka usaha garment kemeja ini karena keterbatasan jumlah
mesin jahit serta pegawai. Yang ahirnya pada tahun 1998 pak yanto baru
berani membuka usaha garment kemeja tersebut karena jumlah mesin jahit
yang sudah memadai. Yaitu dengan jumlah 50 mesin jahit. Saat itu usaha
garment kemeja tersebut berubah menjadi salah satu usaha garment kemeja
yang terbesar di Indonesia. Dan itulah awal mula garment kemeja ini diberi
nama menjadi nama yang sekarang ini yaitu, Dwi Putra Perkasa Garment
dan disingkat menjadi DPP Garment.
Berjalan beberapa tahun hingga sampai saat ini,dari sinilah usaha dari
DPP Garment itu sendiri mulai memperlihatkan perkembangan yang sangat
pesat. Dimulai dari bertambahnya jumlah mesin dan meningkatnya jumlah

pegawai yang sampai saat ini sudah mencapai kurang lebih 160.Dari
banyaknya pegawai inilah yang membuat usaha ini selalu menambah jumlah
mesin setiap tahunnya.Dari bertambahnya jumlah mesin dan pegawai inilah
yang mengakibatkan keterbatasan kerja dan pada akhirnya beliau membuka
cabang usaha garment kemeja ini untuk para pegawainya yang semakin
bertambah, dimana cabang ini terletak di lima tempat yang ada di kota
Malang ini. Yakni, plaosan, kebon agung, bululawang, Jln. Manggar atas no.
31A yang merupakan pusat dari usaha Garment itu sendiri dan awal mula
tempat yang digunakan pak yanto dan sang istri untuk pertama kali membuka
usaha garment ini yangjuga rumah kediaman bapak yanto sendiri. Adapun
pak yanto ini adalah kelahiran kalipare, jadi beliau juga memutuskan untuk
membuka cabang usaha garmen kemeja yang beliau geluti di tempat
kelahirannya tersebut. Produk garment kemeja ini sendiri dipasarkan dengan
nama label LARUSSO

B. Penerapan K3 pada Dwi Putra Perkasa Garment


1. Kesehatan Kerja
Kesehatan kerja yang diterapkan pada perusahaan sangat memadai,
pertama bisa dilihat dari sang pemilik yang sudah menyediakan beberapa
ruangan yang cukup untuk para pegawainya. Ruangan tersebut terbagi
menjadi beberapa bagian-bagian yang sudah diatur untuk kelancaran
produksi.Menurut pada pembagiannya, di salah satu cabang garment kemeja
tersebut yang letaknya tepat di Jln. Manggar No. 31A terdapat banyak tempat
yang digunakan untuk bermacam-macam produksi. Yaitu, bagian memotong,

bagian seterika produk yang sudah menjadi kemeja, bagian untuk memasang
kancing, pengemasan, gudang penyimpanan, serta tempat quality control.
Dan rumah sang pemilik sendiri digunakan sebagai kantor dan tempat
menjahit per bagian produk kemeja.
Dalam hal ini pemilik sendiri menerapkan adanya sistem estafet pada
produksinya. Yang dimaksut estafet disini adalah tiap ruangan, khususnya
ruang menjahit dibagi menjadi beberapa bagian untuk memudahkan proses
menjahit sehingga hasil yang didapat pun lebih banyak. Untuk luas ruang
menjahit ini sekitar 12 m x 6 mdimana didalamnya berisikan 30 orang
pegawai. Jadi setiap orangnya berhak mendapatkan kebebasan tempat
seluas 1m persegi beserta dengan mesin yang dipakai masing-masing oleh
para pegawainya

Area Kerja

Setiap ruangan produksi tidak ditemukan adanya kipas angin.Menurut


pemilik sendiri berpendapat bahwa pemasangan kipas angin kurang baik bagi
kesehatan

para

pegawainyadalam

kurun

waktu

yang

lama,

pemilik

menegaskan bahwa dampek dari kipas angin itu sendiri tidak bisa dirasakan
sekarang, tapi dikemudian hari.Sehingga mengakibatkan pemilik sendiri

benar-benar

melarang

diadakannya

kipas

angin

didalam

tempat

produksi.Yang pada akhirnya beliau memberikan beberapa ventilasi serta


blowing, yang digunakan untuk sirkulasi udara dalam ruangan produksi.

Blowing

Bukan hanya itu, untuk memperhatikan kesehatan kerja, sang pemilik


sendiri sudah menyiapkan masker sebagai pelindung pernafasan, disebabkan
area kerja sendiri rawan dengan debu dan serat kain yang bertebangan.
Tetapi hal yang disayangkan oleh pemilik adalah para pegawainya yang
kurang peduli tentang hel tersebut, sehingga kerap kali para pegawai
mengacuhkan pekerjaannya yang sebenarnya harus memakai masker pada
saat jam kerja. Sehingga pemilik sendiri tidak selalu membeli masker, hanya
saja apabila ada pekerja yang memang membutuhkan masker maka sang
pemilik pun dengan senang hati akan memberikannya.
Dalam hal kesehatan lainnya, perusahaan memberikan asuransi
kesehatan yangberupa penanggungan biaya kecelakaan maupun sakit.
Dengan syarat apabila pegawai mengalami kecelakaan pada saat kerja,

maka biaya pengobatan 100% akan ditanggung oleh perusahaan sendiri. Dan
apabila pegawai mengalami kecelakaan atau sakit diluar jam kerja atau
tempat kerja dan benar-benar dibuktikan dengan adanyasurat dokter, maka
pegawai berhak mendapatkan asuransi kesehatan sebesar 50%.
Untuk jam kerja, perusahaan memberikan ketentuan setiap harinya
para pegawai harus bekerja selama 9 jam. Mulai dari jam delapan pagi
hingga jam lima sore. Untuk para pekerja lembur biasanya jam kerjanya
sampai jam tujuh malam. Tapi dalam penerapan jam kerja tersebut para
pegawai masih belum bisa untuk mengoptimalkannya. Misalnya saja banyak
para pegawai yang terlambat masuk jam kerja ataupun pulang pada saat jam
kerja belum habis. Dari hal ini perusahaan pun menerapkan sanksi bagi para
pelanggar jam kerja. Mulai dari uang gaji yang dikurangi kemudian jam kerja
yang ditambah, sampai diberhentikan dari ia bekerja. Tapi pemilik
menegaskan disini, apabila keterlambatan itu karrena sakit maka itupun
dimaklumi.Dalam hari bebas atau pun hari libur pegawai boleh bekerja dan
itupun waktu yang ia gunakan kerja bebas ia tentukan sendiri. Jadi walau hari
bebas perusahaan tidak mewajibkan jam kerja sebagaimana mestinya setiap
hari.
Pihak

perusahaan

juga

memberikan

jam

istirahat

bagi

para

pegawainya, dikarenakan jam kerja para pekerja begitu padat, istirahat ini pun
berselan waktu sekitar satu jam, itu tepat disaat waktu dhuhur.Disini
perusahaan membebaskan para pegawai untuk membawa bekal makanan
dari rumah.Bagi para pegawai lembur, makanan disediakan oleh perusahaan
dengan menu masakan yang berbeda-beda setiap harinya.Adapun yang

memasak adalah juru masak yang berada di perusahaan itu sendiri khusus
untuk para pegawai.

Keselamatan Kerja
Untuk

menerapkan

keselamatan

pegawai

perusahaan

sendiri

memberikan alas kaki kepada para pegawai.Guna dari alas kaki ini sendiri
agar para pegawai tidak terpeleset maupun tersengat aliran listrik.Tapi pada
umumnya para pegawai tidak memperdulikan hal tersebut dan memilih
bekerja tanpe menggunakan las kaki.Mereka masih tidak peduli dengan
resiko yang mereka dapatkan ketika tidak menggunakan alas kaki
tersebut.Sehingga dari perusahaan sendiri tidak begitu mewajibkan memakai
alas kaki saat bekerja ketika menghadapi masalah seperti ini. Hanya saja
ketika para pegawai membutuhkan atau ingin menggunakan alas kaki saat
bekerja, maka perusahaan akan memberikannya.
Dalam setiap ruangan penataan listrik di perusahaan tersebut tertata
dengan cukup rapi.Yaitu kabel-kabel listrik menempel pada tembok dan
letaknya pun dijauhkan dari para pegawainya, dalam artian letaknya tidak
bisa digapai oleh para pegawai.Sehingga membuat para pegawai aman dari
bahaya listrik. Pemilik perusahaan beranggapan bahwa lebih efektif jika
kabel-kabel tersebut tertata rapi dengan menempel di tembok dari pada
ditanamkan di dalam tembok. Dikarenakan jika ada kerusakan pada kabelkabel

tersebut

maka

dapat

memudahkan

untuk

memperbaiki

dan

menggantinya serta dapat diketahui dengan mudah. Keuntungan yang lain,


perusahaan pun bisa mengganti kabel-kabel tersebut secara periodik.

Penataan Listrik

Kabel-kabel yang terdapat pada perusahaan tersebut, diganti secara


berkala, setiap 10 tahun sekali.Dan setiap ruangan produksi terdapat jalurjalur listrik.Yaitu pembagian mesin sesuai dengan tugasnya, dimana setiap
kabel listrik terdapat pada satu jalur. Setiap jalur tersebut memiliki sekring
tersendiri, jika terdapat korsleting pada salah satu jalur maka tidak akan
mengganggu jalur listrik yang lainnya.
Dalam

pemaikaian

listrik

sendiri

setiap

harinya

perusahaan

menggunakan 12.000 watt.Akan tetapi perusahaan memakai listrik dengan


jumlah 16.500 watt perhari. Hal ini dilakukan, untuk mencegah turunnya

tekanan listrik secara tiba-tiba dan akan mengganggu para pegawai dalam
bekerja. Jika listrik padam bukan diakibatkan kerusakan/kesalahan dari
perusahaan, tetapi dari pusat/PLN dan dalam kurung waktu 2 maka
perusahaan mempunyai kebijakan untuk memulangkan para pegawainya
lebih awal.Listri perusahaan disini hanya digunakan untuk menjahit serta alat
pemotongan bahan.Selebihnya tidak menggunakan listrik. Adapun untuk
setrika kemeja, perusahaan menggunakan setrika uap, dimana bahan dasar
sebagai setrika adalah air yang kemudian menjadi uap akibat dari proses
dimasak melalui tabung yang cukup besar dengan menggunakan elpiji.

Setrika Uap, Pada Krah

Tabung Setrika Uap

Listrik pun dijauhkan dari ruang setrika karena meminimalisir


kecelakaan kerja serta mengantisipasi agar tidak terjadi kosrsleting sehingga
mengakibatkan kebakaran pada tempat kerja.
Untuk mencegah adanya kecelakaan kebakaran, perusahaan juga
menyediakan alat pemadam kebakaran disetiap ruang.Adapun kebakaran itu
ditakutkan terjadi karena gangguan pada listrik atau biasa yang disebutkt
kongslet. Karena banyaknya kabel atau watt yang digunakan pada setiap
ruang produksinya
Listrik yang ada pada perusahaan tersebut berada jauh dari lokasi
penyetrikaan uap yang menggunakan media air untuk setrika. Sehingga
dapat meminimalisirkan kecelakaan kerja, misalnya korsleting listrik karena
listrik terkena uap air/air dari setrika uap tersebut.
Selain itu, kotoran hasil produksi tidak di buang begitu saja melainkan
dapat diolah kembali. Seperti potongan sisa sisa kain perca dapat
dimanfaatkan kembali. Menurut istri pemilik, ada orang orang yang

memanfaatkan limbah dari kain kain tersebut untuk dijadikan isi boneka.
Jadi, tidak menimbulkan sampah dan mengotori lingkungan.
Tidak hanya sisa sisa kain saja tetapi karton gulungan kain juga
daapat dimanfaatkan tidak tahu bagaimana dan di proses untuk apa tetapi
ada saja orang yang memungutnya, ada saja orang yang memanfaatkan
limbah tersebut untuk diolah kembali menjdai suatu produk yang baru dan
berkualitas.
Gulungan benang juga seperti itu, pasti ada orang yang meminta
limbah tersebut tidak tahu pasti untuk apa gulungan gulungan. Tetapi pihak
perusahaan mengijinkan untuk diambil yang kemudian di proses kembali.
Jadi, semua sisa pembuangan dari setiap proses prosespembuatan di
garmen ini, tak terbuang sia sia karena dapat dimanfaatkan bagi sebagian
orang dan menghasilkan produk baru, yang dapat membuka lapangan
pekerjaan yang baru pula.
Disamping itu, limbah limbah tersebut tidak mengganggu keseimbangan
ekosistem lingkungan. Jadi lingkungan dapat terkontrol dengan baik, dan
tidak mengotori lingkungan sekitar. Serta tidak menimbulkan sumber penyakit,
karena akibat pembuangan limbah yang sembarangan. Setiap proses
produksi tersebut sangat memperhatikan kebersihan lingkungan. Memang,
pada setiap mesin tidak terdapat kantong sampah/tempat sampah, tetapi
pada saat selesai produksi/bekerja, para pegawai memiliki tanggung jawab
dan kesadaran untuk membersihkan ruangan kerja. Jadi, ruang kerja selalu
terjaga kebersihan dan kerapihannya.

2. Alat Pelindung Bagi Para Pekerja

Perusahaan

memberikan

fasilitas

bagi

para

pekerja

untuk

mendapatkan hasil produksi yang maksimal, fasilitas yang diberikan antara


lain :
a. Masker untuk menghindari debu-debu dan serat-serat kain yang berterbangan
b. Alas kaki untuk menghindari tersengat listrik, terpleset dari lantai licin

3. Fasilitas bagi para pekerja


Para pekerja mendapatkan fasilitas berupa alat jahit yang akan mereka
pakai untuk bekerja. Ruangan yang cukup luas dengan dilengkapi berbagai
alat yang dapat menolong mereka ketika ada kecelakaan. Para pegawai juga
mendapatkan tempat dengan luas 1 meter persegi.
Para pekerja mendapatkan jaminan kesehatan, dan keringanan biaya
pengobatan. Tetapi para pekerja, tetap harus menggunakan haknya sesuai
dengan keadaan dan bertanggung jawab. Perusahaan memberikan asuransi
kesehatan yang berupa penanggungan biaya kecelakaan maupun sakit.
Dengan syarat apabila pegawai mengalami kecelakaan pada saat kerja,
maka biaya pengobatan 100% akan ditanggung oleh perusahaan sendiri. Dan
apabila pegawai mengalami kecelakaan atau sakit diluar jam kerja atau
tempat kerja dan benar-benar dibuktikan dengan adanya surat dokter, maka
pegawai berhak mendapatkan asuransi kesehatan sebesar 50%.

K3 di perusahaan Trinunggal Komara Garment

RINGKASAN

Industri garmen ekspor impor dewasa ini semakin berkembang di Indonesia.


Kontrol produksi dan kendali mutu tak dipungkiri amat diutamakan agar produk
garmen kita tetap eksis di luar negeri. Tak terkecuali yang dilakukan PT. Trinunggal
Komara Garmen, sebuah perusahaan garmen ekspor impor yang telah bertahuntahun melaksanakan produksi untuk kepentingan ekspor dan impor. Perusahaan ini
merupakan perusahaan berjenis padat karya, yaitu proses produksinya memerlukan
tenaga kerja dalam jumlah yang banyak. Untuk itu kesehatan dan keselamatan kerja
tenaga kerja yang tentunya menjadi tanggung jawab perusahaan harus diperhatikan
dengan baik dan sesuai standar operasional prosedur yang diterapkan oleh
perusahaan ini.
Berkenaan dengan hal

tersebut, penulis berkunjung ke PT. Trinunggal

Komara Garment untuk mengetahui lebih lanjut tentang penerapan LK3 di


perusahaan yang bergerak di bidang garment ini sehingga diharapkan dapat lebih
memahami tentang penerapan LK3 dan dapat menerapkannya suatu saat di
lingkungan kerja.
Adapun tujuan dari dibuatnya laporan ini yaitu disamping untuk memenuhi tugas
mata kuliah LK3 juga ditujukan sebagai media untuk memperoleh pengetahuan dan
pemahaman mengenai penerapan LK3 pada dunia industri, serta sebagai referensi
dalam pembelajaran LK3 bagi mahasiswa,
Metode yang penulis gunakan yaitu metode wawancara langsung dengan
sumber terkait yang mengetahui prosedur pelaksanaan penerapan LK3 di PT.
Trinunggal Komara Garment.

Dari kunjungan yang penulis lakukan, diperoleh beberapa informasi penting


seperti bagaimana sistem penerapan LK3 di PT. Trinunggal Komara Garment, visi
dan misi serta komitmen perusahaan untuk menerapkan LK3 secara nyata dan
sesuai dengan standar operasional yang ditetapkan, prosedur pengendalian
keselamatan tenaga kerja, pemeliharaan kesehatan tenaga kerja, pengendalian
dampak lingkungan akibat proses produksi,
Secara garis besar PT. Trinunggal Komara Garment telah menerapkan LK3 dalam
operasional perusahaan sehari-hari dengan memperhatikan berbagai aspek seperti
keselamatan tenaga kerja, kesehatan tenaga kerja, dan dampak lingkungan
disekitarnya.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penerapan LK3 adalah salah satu hal penting yang harus diterapkan
secara nyata di dunia industri. Tiap perusahaan yang memiliki visi dan misi
serta berkompetensi sudah seyogyanya menerapkan LK3 dalam operasional
proses produksi kesehariannya. Penerapan LK3 ini bertujuan untuk
meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan tenaga kerja agar produktifitas
dan efisiensi produksi dapat diperoleh seoptimal mungkin. Kunci dari
produktifitas dan efisiensi produksi ada pada Sumber Daya Manusia (SDM)
yang berperan di dalamnya.

Sumber Daya Manusia (SDM) yang bermasalah tentunya menjadi


faktor penghambat dalam proses produksi di lingkungan industri. Oleh karena
itu diperlukan manajemen atau pengaturan yang berkaitan dengan LK3 untuk
meminimalisir dampak yang dapat terjadi dari berbagai hambatan akibat SDM
yang bermasalah yang mengakibatkan kecelakaan kerja.
Akibat dari kecelakaan kerja tidak saja dapat menimbulkan korban jiwa
maupun kerugian materi bagi tenaga kerja dan karyawan, tetapi juga
menggangu proses produksi baik sebagian maupun secara menyeluruh,
sehingga merusak lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak kepada
lingkungan dan manusia secara keseluruhan.

B. Rumusan Masalah
Dalam penyusunan makalah ini, materi yang dibahas mengenai
penerapan sistem LK3 atau P2K3 di PT Trinunggal Komara garment dan
kesesuaiannya dengan sistem yang ada. Perbandingan antara penerapan
LK3 atau P2K3 di PT Trinunggal Komara Garment dengan sistem secara
umum.

C. Metode Penulisan
Metode yang digunakan penulis dalam pembuatan laporan ini yaitu
wawancara secara langsung kepada sumber terkait yang mengetahui
prosedur pelaksanaan penerapan LK3 di PT. Trinunggal Komara Garment.

D. Tujuan
Adapun tujuan penulis menyusun laporan ini yaitu :
1. Memenuhi tugas mata kuliah Lingkungan Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (LK3) semester 2,
2. Sebagai media untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman
mengenai penerapan LK3 pada dunia industri,
3. Sebagai referensi bagi mahasiswa dalam pembelajaran LK3.

Penerapan LK3 dalam Operasional Harian PT Trinunggal Komara Garment yaitu:


1.
Perusahaan membentuk pengurus P2K3 termasuk tenaga dokter dan
paramedik yang sudah bersertifikat hiperkes. Tugas dari pengurus adalah membantu
memantau pelaksanaan dan penerapan sitem K3 atau kesehatan kerja di area
lingkungan kerja. Dokter dan paramedic memantau syarat-syarat kesehatan,
kebersihan di area lingkungan kerja perusahaan.
2. Tempat dan alat-alat kerja
a.
Perusahaan harus mempunyai sarana keperluan keluar masuk area
yang aman.
b. Memilikik penerangan cukup
c.
Memiliki tempat kerja yang berventilasi cukup.
d.
Kebersihan harus dijaga kerapihannya atau ketertibannya agar tidak
menimbulkan kecelakaan
e.
Menjaga, mengendalikan kebisingan dan getaran serta volume udara
tidak boleh melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh pemerintah. Poin ini
dipantau dengan cara tes laboratorium, sekurang-kurangnya triwulan dalam
satu tahun per semester dalam satu tahun yang diakui adalah laboratorium
yang telah terakreditasi.
f.
Orang lain yang tidak berkepentingan dilarang masuk ke ruangan kerja.
Hal ini dimaksudkan untuk menjaga dan mengurangi ketertiban kerja

sehingga tidak terjadi kelalaian atau kecerobohan yang berakibat timbulnya


3.

kecelakaan
Mesin-mesin

Alat-alat dan mesin-mesin harus disetting menurut standar operasional berdasarkan


kapasitas masing-masing mesin.
a. Kapasitas tidak boleh lebih dari yang ditetapkan
b. Mesin harus lengakap pengamanannya seperti cover pole atau pentil harus
terpaang. Spiral mesin harus terpasang. Mesin jahit harus ada neddle plat.
Kebersihan mesin harus terjaga.
4. Instalasi dan Listrik
a. Instalasi yang tepasang harus dimasukkan dalam ac dan tidak dibenarkan
sambungan kabel langsung tanpa system terminal dan susunan kabel harus rapi.
Berdasarkan standard perusahaan,untuk mengatur arus listrik harus menggunakan
terimanl. Tugas pengurus K3 apabila terjadi penyimpangan pada poin ini harus
melapor pada teknisi listrik.

3.

Perlengkapan dan Alat Kerja

Perusahaan diwajibkan menyediakan dan memberikan alat-alat perlengkapan kerja


pada karyawan untuk melindungi diri pada saat melaksanakan tugas kerja, misalnya:

Bagian obat / chemical / laboratorium (memiliki SNI), harus menggunakan APD

(jas laboratorium,sepatu boat,sarung tangan,karet,masker (respirator).

Tempat-tempat obat / drum bekas obat dipasang label sesuai jenis obat dan
disusun menurut daftar urutan layout masing-masing.

Tempat obat / drum yang masih berisi harus ditempatkan pada layout yang
sebenarnya (terdapat tempat khusus) sesuai dengan label jenis obat tersebut.
Maksud dan tujuan labeling dan penyusunan layout agar tidak terjadi salah
pemakaian jenis obat yang dapat menimbulkan bahaya kecelakaan
Pada area produksi :

Divisi cutting / pemotongan

Setiap karyawan wajib memakai masker (respirator) sebab polusi debu tinggi,khusus
pekerja mesin potong/cutting menggunakan sarung tangan metalik/baja putih dan
masker (respirator).

Divisi sewing / menjahit/mesin jahit

Pekerja yg bekerja di mesin jahit secara umum harus menggunakan masker dan
tidak diperbolehkan membawa minuman berwarna,makanan dan benda metal lain
agar tidak terjadi kecelakaan dan gangguan kerja.

Divisi kebersihan

Petugas kebersihan harus diberikan alat-alat kebersihan sesuai standard alat


kebersihan. Contoh : sapu bertangkai, tempat sampah berada lengkap dengan
sepatu boots dan masker.

Laundry

Secara umum diwajibkan menggunakan peralatan yang sama yaitu menggunakan


APD.Pekerja washing harus menggunakan sepatu boots karena pada proses
pencucian dihadapkan dengan substansi kimia seperti hipo (soda api 100%) yang di
gunakan untuk memperlunak. Jenis laundry yang di gunakan pun bermacammacam. Pada tahap washing ( pencucian ) menggunakan formula-formula khusus
seperti bahan-bahan kimia khusus untuk membersihkan/mencuci pakaian yang
sudah jadi. Semua SOP berjalan.

Finishing dan ekspor

Pada dasarnya sama bedanya yaitu tidak boleh menggunakan alat-alat kosmetik
atau kecantikan, makanan, minuman,dll karena di khawatirkan pakaian yang sudah
jadi terkena noda atau terkontaminasi.
4.

Pemeriksaan Kesehatan

Pemeriksaan

kesehatan

diwajibkan

kepada

setiap

perusahaan

yang

mengoperasikan pegawainya untuk berprodiksi dengan menggunakan atau


menempatkan tenaga kerja yang benar-benar standar sehat yaitu diantaranya :
a.

Memulai dari penerimaan calon pegawai harus dilakukan pemeriksaan

kesehatan atau melampirkan surat resume sehat dari dokter.


b.
Secara berkala perusahaan wajib melakukan medical check up bagi seluruh
karyawan.
c.
Perusahaan wajib memeriksakan atau melakukan check up mata minimal 1X
setahun.
Wajib menyediakan dokter dan paramedis yang sudah bersertifikat hygiene dan
hiperkes. Paramedis wajib stand by setiap hari kerja dengan menyiapkan poliklinik
dan obat-obatan lengkap. Dokter dan tenaga medis melayani pengobatan dan
pemeriksaan karyawan tanpa dipungut biaya dalam P3K.
P3K ( Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan)
Harus memiliki emergency planning. Setiap divisi perusahaan wajib menyediakan
alat P3K. Contoh: alat tandu. Berkaitan dengan aturan internasional (tidak
diperbolehkan sentuhan dengan lawan jenis) atau pelanggaran harrasement
(menggotong orang pingsan ). setiap divisi harus dipasang kotak obat lengkap
dengan isinya yang memenuhi standar P3K (minyak angin, perban,dsb).Disediakan
administrasi khusus pemantauan lingkungan kesehatan setingkat dengan standar
administrasi yang bertugas memonitor obat-obatan atau kotak P3K.
5.

Pengolahan Limbah

a. Limbah Padat
Limbah padat yang dihasilkan berasal dari potongan kain dan benang, sludge, dan
sampah yang bersal dari kegiatan domestic. Sifatnya tidak berbahaya, hanya

menimbulkan gangguan estetika, sedangkan sludge bersifat berbahaya. Upaya


penanganan yang dilakukan diantaranya:
Potongan kain dan benang dijual ke pihak ketiga, potongan benangnya dijual ke
TPS di lokasi kegiatan. Batu apung dari proses laundry dilakukan pengeringan,
selanjutnya dijadikan bahan penutup tanah. Sludge dan IPAL ditampung sementara
dekat IPAL untuk dijadikan bahan pengurugan. Sedangkan sampah dari kegiatan
domestic ditampung di tempat penampungan sementara, selanjutnya diambil oleh
petugas lingkungan untuk dibuang ke tempat pembuangan akhir.
b. Limbah Cair
Berasal dari proses laundrydan kegiatan domestic, diantaranya mandi dan cuci. Sifat
limbah tidak berbahayatetapi dapat menurunkan kualitas air permukaan. Upaya
penanganan yang dilakukan diantaranya limbah cair yang berasal dari proses
laundry diolah melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) secara Kimia dan
Fisika (penyaringan, flokulasi, sedimentasi, koagulasi, aerasi, dan biotest).
Sedangkan dari kegiatan mandi dan cuci dialirkan melalui saluran yang kedap air
untuk selanjutnya dibuang ke saluran umum.
Parameter yang melebihi baku mutu, yaitu amoniak bebas, sulfide dan COD
dilakukan upaya meminimalisasi dampak dengan menambah proses aerasi ke
instalasi pengolahan air limbbah dengan tujuan menambah kadar oksigen ke dalam
IPAL sehingga limbah cair yang dibuang diharapkan di bawah baku mutu
lingkungan.
c. Debu
Partikel-partikel debu di dalam tuangan dari proses produksi, sedangkan di luar
ruangan berasal dari aktifitas di sekitar lokasi dan di luar lokasi pabrik serat kegiatan

proses produksi. Sifatnya berbahaya. Upaya penangan dengan pemakaian masker


dan pemasangan ventilasi udara serta penanaman phon pelindung di sekitar pabrik.
d. Gas
Berasal dari aktifitas proses produksi serta aktifitas di sekitar lokasi dan di luar lokasi
pabrik yang sifatnya berbahaya. Upaya pengelolaan yang dilakukan diantaranya
dengan pemakaian masker dan pemasangan ventilasi udara serta penanaman phon
pelindung di sekitar pabrik.
e. Kebisingan
Sumber kebisingan berasal dari ruangan produksi dan aktifitas di sekitar lokasi dan
di luar lokasi pabrik, sifatnya berbahaya. Upaya pengelolaan yang dilakukan antara
lain yaitu pemakaian ear plug dan penanaman pohon pelindung (penghijauan)
terutama pohon yang berdaun lebar. Kebisingan yang melebihi baku mutu
lingkungan

dilakukan

upaya

meminimalisasi

dampak

dengan

menambah

penghijauan melalui pendisiplinan dan pengecekan alat produksi dan penanaman


pohon pelindung di sekitar lokais pabrik.
6.

Ventilasi udara dan Air

Ventilasi udara

Perusahaan tritunggal membuat ventilasi udara di setiap ruangan sesuai dengan


standar yang ditentukan (ambang batas) untuk menjaga stabilitas ventilasi
udara.Perusahaan berstandar bangunan sesuai standar dinas tata bangunan kota
dengan tinggi (<12m ,>2,5m atau 3m)

Air

Perusahaan wajib membuat dan menyediakan saluran air yang cukup baik untuk
menampung curah hujan maupun menampung limbah cair perusahaan.Limbah cair
perusahaan diolah dengan standar UPL atau UKL.Upaya pengolahan limbah sesuai

standar pemerintah daerah dan membuat lokasi WWT (water treatment) dengan
system recycle dengan standar 10% sudah jernih
7.

Sistem Audit

Sistem audit LK3 pada PT Trinunggal Komara Garment yaitu:


a.
b.
c.

Audit manajemen atau internal management


Cross auditor (dengan pihak kedua)
Audit pemerintah

Sistem audit nya yaitu:

Mencatat dan mengaudit semua system administrasi K3

Membuat laporan audit

Pengecekan alat-alat area dan mendeteksi kondisi alatalat tsb dengan


pembuktian hasil laboratorium.

Evaluasi umum semua kondisi dan lingkungan,mengecek kelengkapan alat


dan kebersihan lingkungan.
Evaluasi atau pengecekan di lakukan setiap seminggu sekali dan setiap harinya di
cek oleh supervisior. PT.Trinunggal komara juga menyediakan safety information dan
kotak saran bagi setiap karyawan maupun pekerjanya.

B.

Pembahasan

Secara teoritis dan praktek penerapan LK3/P2K3 di PT Trinunggal Komara Garment


sudah berjalan sesuai prosedur yang ada. Aspek-aspek penting seperti pemakaian
Alat Pelindung Diri (APD) pada karyawan, kebersihan pabrik, kesejahteraan dan
kesehatan karyawan serta pengolahan limbah telah dilaksanakan dengan optimal
oleh perusahaan. Kecelakaan yang pernah terjadi disebabkan karena human error
yang dilakukan SDM. Namun

pengendalian dapat dilakukan dengan baik oleh

perusahaan sehingga proses produksi dan kegiatan operasional harian perusahaan


dapat dilakukan dengan optimal. Hal ini didukung oleh situasi lingkungan yang
kondusif, penuh dan seluruh personel perusahaan yang berkomitmen untuk

menerapkan LK3 secara kontinyu dan konsekuen untuk kebaikan bersama. Baik
perusahaan dan tenaga kerja bekerja sama dengan pengurus K3 melalui sistem
kontrol, pengendali pengembangan. Apabila terjadi penyimpangan maka wajib ada
sanksi untuk pelanggaran tersebut. Seluruh anggota wajib memonitor seluruh
kegiatan agar tidak terjadi penyimpangan atau kelalaian dari para petugas itu
sendiri, pihak pengurus dan perusahaan wajib aktif ataupun menerima pelaporan.
Untuk penyimpangan di area secepatnya direalisasikan. Tiga bulan sekali pengurus
LK3 mengadakan rapat serta mengadakan pelatihan P2K3 minimal sekali setahun.
Pengurus dan peraturan K3 tiap tahun diganti.

BAB V
PENUTUP

1.

Kesimpulan

Penerapan LK3 yang ada di PT Trinunggal Komara Garment telah cukup baik dan
dilakukan secara optimal oleh semua perangkat perusahaan dengan sistem yang
ada di perusahaan itu sendiri.

2.

Saran

Diperlukan komitmen serta konsistensi dari seluruh perangkat dan Sumber Daya
Manusia (SDM) perusahaan untuk menerapkan K3 sesuai standar yang telah ada.
Apabila terjadi penyimpangan wajib memberi sanksi bagi pelanggaran sesuai jenis
pelanggaran.