Anda di halaman 1dari 2

Ada beberapa model kinetik linear dan non-linear untuk menjelaskan

mekanisme pelepasan dan membandingkan uji dan referensi profil disolusi


adalah sebagai berikut:
A. Kinetik Orde nol

Disolusi obat dari sediaan yang tidak memisah dan melepaskan obat
secara perlahan (dengan asumsi area tidak berubah dan tidak ada
keseimbangan kondisi diperoleh) dapat jelaskan oleh persamaan berikut:

W0 Wt = K0t
W0 adalah jumlah awal obat
Wt adalah jumlah obat pada waktu t
k adalah proporsionalitas konstan.
Persamaan tersebut kemudian di sederhanakan dengan cara dibagi dengan w0 menjadi :

ft = k t
0

Dimana ft = 1 - (Wt / W0) dan ft merupakan fraksi obat dilarutkan dalam waktu t dan k0 laju
disolusi konstan atau pelepasan konstan orde nol. (Brahma, 2000).
B. Kinetik orde satu

Study untuk menganalisa disolusi obat dengan cara ini, awalnya dikenalkan oleh Gibaldi dan
Feldman yang kemudian oleh wagner. Dimana dinyatakan dengan persamaan:

Log Qt = Log Q0 + K1t/2.303


Dimana Qt adalah jumlah obat dirilis pada waktu t,
Q0 adalah awal jumlah obat dalam larutan dan
K1 adalah laju pelepasan konstan orde satu (Park, 1998; Baumgartner, 2000).
C. Model Korsmeyer Peppas
Korsmeyer mengembangkan model semi empiris sederhana, dengan mengaitkan pelepasan obat
secara exponensial dengan waktu yang sudah dilewati.

Qt/Q = Kktn
Dimana Kk adalah penggabungan struktur konstan dan karakteristik geometrik sediaan
obat dan n adalah eksponen pelepasan.

D. Higuchi Model

Qt = KHt1/2
Dimana Qt = jumlah obat dirilis pada waktu t dan
KH = laju pelepasan Higuchi
Model ini merupakan model yang paling banyak digunakan untuk menggambarkan
pelepasan obat dari matriks. Sebuah hubungan linear antara akar kuadrat dari waktu versus
konsentrasi menunjukkan bahwa pelepasan obat sesuai dengan difusi Fickian . (Lingam,
2008; Lingam, 2009; Ramesh, 2009; Suresh, 2010).
E. Study In vivo (x-ray)

Untuk penelitian ini disiapkan tablet dengan berat 180 mg. Untuk membuat tablet X-ray tidak
tembus cahaya diperlukan penggabungan BaSO4. Barium Sulfat memiliki kepadatan tinggi
(4,4777g / cm3) dan memiliki sifat apung yang jelek. Pada obatnya ada bagian yang diganti
dengan BaSO4 untuk study in vivo .
F. Study protocol In-Vivo X-Ray

Studi in-vivo dilakukan dengan cara pemberian floating tablet domperidone untuk manusia
dan kemudian diamati dengan metode radiologikal. Studi dilakukan pada Empat laki-laki
yang
sehat
(rata-rata usia 27 tahun dengan rata-rata berat berat badan 60 10 kg) yang telah setuju untuk
berpartisipasi setelah diberikan penjelasan sebelumnya. Studi ini telah disetujui oleh Human
Ethical committe, UCPSc, Kakatiya Univeristy, Warangal dan dilakukan dengan memberikan
subjek masing-masing 1 floating tablet pada dua sesi terpisah.
1. Tahap puasa: Subyek berpuasa salama semalam dan kemudian diberikan floating tablet

dengan 150 ml air. setelah itu subjek tidak diperbolehkan untuk makan, kemudian
subjek diberikan 150 ml air setiap 1 jam.
2. Tahap diperbolehkan makan: Setelah makan, subjek langsung diberikan floating tablet.
Dimana menunya sudah distandarisasi yaitu terdiri dari roti dan susu (150g padat, 200
ml cair). Setelah itu subyek tidak diizinkan untuk makan tetapi diberi 150 ml air setiap 1
jam
Selama percobaan subyek tetap dalam posisi duduk atau postur tegak. pada setiap subjek
posisi floating tablet dipantau dengan meggunakan gambar X-ray (Konica Minolta,
Siemens, Karlsruhe, Jerman) dari wilayah lambung pada interval waktu yang sudah
ditentukan . Semua gambar X-ray diambil dalam posisi anterior.