Anda di halaman 1dari 26

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas berkah-Nyalah kami dapat melakukan diskusi tutorial dengan lancar dan
menyusun laporan hasil diskusi tutorial ini dengan tepat waktunya.
Kami mengucapkan terima kasih secara khusus kepada dr. E. Hagni
Wardoyo Sp.MK sebagai tutor atas bimbingan beliau pada kami dalam
melaksanakan diskusi ini. Kami juga mengucapkan terima kasih pada temanteman yang ikut berpartisipasi dan membantu kami dalam proses tutorial ini.
Kami juga ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kekurangankekurangan yang ada dalam laporan ini. Hal ini adalah semata-mata karena
kurangnya pengetahuan kami. Maka dari itu, kami sangat mengharapkan kritik
dan saran yang bersifat membangun yang harus kami lakukan untuk dapat
menyusun laporan yang lebih baik lagi di kemudian hari.

Mataram, 23 Oktober 2013

Penyusun

1

DAFTAR ISI

Kata Pengantar …………………………………………………………………. 1
Daftar Isi ……………………………………………………………………….. 2
BAB I : PENDAHULUAN………………………………………………….... 3
1.1. Skenario………………………………………………………………... 3
1.2. Learning Objective (LO)……………..…………………………. ……. 3
1.3. Mind Map……………………………………………………………… 4
BAB II : PEMBAHASAN ………….………………………………………….. 5
BAB III : PENUTUP…………………………………………………………… 26
Daftar Pustaka…………………………………………………………………... 27

2

Hasil pemeriksaan fisik didapatkan : Tanda Vital masih dalam batas normal. TB 100 cm. enterobiasis. Analisis skenario dan penatalaksanaan awal 2. tapi setelah minum dari puskesmas.BAB I PENDAHULUAN 1. trikuriasis. Si anak juga beberapa hari terakhir mengeluh perutnya tidak enak. lemes dan kurus dalam sebulan terakhir. Diagnosis banding (askariasis. karena anaknya sudah bisa cebok sendiri. seperti sebelum kelihatan sakit. menderita penyakit berat lain (-). keluhannya hilang. Si Ibu juga melihat perut anaknya semakin buncit.1. riwayat perdarahan (-). anaknya ikut memulung. padahal makan biasa-biasa saja. waktu berumur sekitar 4 tahun anaknya 2 kali mengeluh gatal. Dokter kemudian melakukan pemeriksaan penunjang. selain itu. LEARNING OBJECTIVES 1. ancilostomiasis) 3 . mereka juga melakukannya di pinggir sungai. SKENARIO 2 Seorang ibu membawa anak laki-lakinya yang berusia 5 tahun ke Puskesmas. seperti ada yang bergerak-gerak di dalam anusnya. 1. Hasil anamnesis tentang riwayat penyakit. untuk memastikan penyebabnya dan menentukan penatalaksanaan. diare (+) sebulan yang lalu berobat ke Pustu dan diberikan oralit dan tablet yang katanya mengurangi mules dan satu tablet yang dilarutkan di air sebelum diminum. Ditanyakan tentang kebiasaan BAB dan BAK. BB 17 kg. ibunya tidak pernah memperhatikan.2. Ibu menceritakan anaknya terlihat semakin pucat. Memang sejak 3 bulan terakhir. bersama ayah dan ibunya. konjungiva tampak pucat.

1. MIND MAP 4 .3.

enterobiasis. dan trikuriasis. dan kurus dalam sebulan terakhir. pasien bisa cebok sendiri akan tetapi tidak diketahui kebersihannya dan hal tersebut dilakukan di pinggir sungai. pasien mengalami gatal-gatal pada anusnya dan merasakan ada yang bergerak-gerak di anusnya.1. lemes. ANALISIS SKENARIO Pasien merupakan seorang anak laki-laki yang berusia 5 tahun. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh infeksi cacing enterobius vermicularis akibat sanitasi dan kebersihan lingkungan di sekitar tempat tinggal pasien yang kurang baik. Anemia juga diperkuat dengan adanya konjungtiva yang tampak pucat. ankilostomiasis. Riwayat diare sebulan lalu mengindikasikan perjalanan infeksi dari cacing parasit dalam tubuh pasien. Keluhan utama pasien yaitu pucat. Hal-hal tersebut merupakan suatu faktor resiko dari penyakit infeksi cacing seperti askariasis. ikut memulung 3 bulan terakhir bersama orang tuanya. Infeksi parasit seperti ankilostoma duodenale dan trichuris trichura dapat mengakibatkan anemia akibat perdarahan mukosa usus. Dengan demikian untuk menegakkan diagnosis penyakit pasien dibutuhkan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan mikroskopis feses untuk melihat jenis cacing parasit mana yang menginfeksi pasien 5 . padahal makannya biasa saja. Ketika pasien berumur 4 tahun.BAB II PEMBAHASAN 2. Infeksi cacing dapat menyebabkan terjadinya diare akibat obstruksi usus atau kelainan absorpsi pada usus sehingga terjadi diare pada pasien. Hal ini diakibatkan oleh parasit cacing yang menyerap darah dan nutrisi pasien sehingga pasien mengalami anemia.

demikian juga pada masyarakat yang menggunakan tinja sebagai pupuk dan dengan kondisi geografis yang mendukung. Penyebarannya terutama melalui tangan ke mulut (hand to mouth) dapat juga melalui sayuran atau buah yang terkontaminasi. Diperkirakan prevalensinya di dunia sekitar 25 % atau 1. Gejala penyakitnya sering berupa pertumbuhan yang terhanbat.000 telur setiap hari. Menurut World Health Organization (WHO). Telur fertil 6 . Prevalensi paling besar pada daerah tropis dan di negara berkembang di mana sering terjadi kontaminasi tanah oleh tinja sebagai pupuk.2. Masyarakat dengan kondisi sosial ekonomi yang rendah memiliki prevalensi infeksi yang tinggi. Epidemologi Askariasis merupakan infeksi cacing pada manusia yang angka kejadian sakitnya tinggi terutama di daerah tropis dimana tanahnya memiliki kondisi yang sesuai untuk kematangan telur di dalam tanah. Cacing betina dapat menghasilkan 200. Prevalensi dilapokan terjadi di lembah sungai Yangtze di Cina.25 miliar penduduk di dunia. Telur askaris dapat bertahan selama 2 tahun pada suhu 5-10 ºC. Walaupun infeksi dapat menyerang semua usia. Biasanya bersifat asimtomatis. Asia. pneumonitis. dan Amerika Serikat terinfeksi oleh cacing ini. Diperkirakan hampir 1 miliar penduduk yang terinfeksi dengan 4 juta kasus di Amerika Serikat. menyebabkan 8000 sampai 100. Empat dari 10 orang di Afrika.000 kematian per tahun. ASKARIASIS Askariasis merupakan infeksi cacing yang paling sering ditemui. Prevalensi pada komunitas-komunitas tertentu lebih besar dari 80%.2. Etiologi Askariasis disebabkan oleh Ascariasis lumbricoides. infeksi tertinggi terjadi pada anak-anak pada usia sebelum sekolah dan usia sekolah. Cacing Ascariasis lumbricoides dewasa tinggal di dalam lumen usus kecil dan memiliki umur 1-2 bulan. obstruksi intestinal atau hepatobiliar dan pancreatic injury. intestinal obstruction pada anak-anak menyebabkan komplikasi fatal.

Gambar 1. embrio dalam telur akan berkembang menjadi infektif dalam 5-10 hari pada kondisi lingkungan yang mendukung. Cacing dewasa berwarna putih atau kuning sepanjang 1535 cm dan hidup selama 10-24 bulan di jejunum dan bagian tengah ileum. Setelah keluar bersama tinja. Cacing Askariasis lumbricides Patofisiologi Ascariasis lumbricoides adalah nematoda terbesar yang umumnya menginfeksi manusia. Daur kehidupan Cacing Ascaris lumbricoides 7 .berbentuk oval dengan panjang 45-70 µm. Gambar 2.

atau vitamin A. 6. kalori. Telur dapat bertahan hidup di dalam tanah selama 17 bulan. yang akhirnya dapat mengalami pertumbuhan terlambat. 4. Manifestasi infeksi pada paru mirip dengan sindrom Loffler dengan gejala seperti batuk. Parasit dapat menyebabkan Pulmonari ascariasis ketika memasuki alveoli dan bermigrasi melalui bronki dan trakea. 7. Anak-anak yang terinfeksi dan memiliki pola makanan yang tidak baik dapat mengalami kekurangan protein.1. Cacing dewasa akan memakan sari makanan hasil pencernaan host. Obstruksi usus. Telur cacing askariasis akan menetas didalam usus. rasa mual dan kadang-kadang muntah. 2. perut buncit (pot belly). Larva kemudian menembus dinding usus dan bermigrasi ke paru melalui sirkulasi dalam vena. Gejala klinis yang nyata biasanya berupa nyeri perut. dalam waktu 5-10 hari telur tersebut dapat menginfeksi manusia. Infeksi umumnya terjadi melalui kontaminasi tanah pada tangan atau makanan.000 telur setiap hari yang akan terbawa bersama tinja. susah tidur dan diare. 3. berupa kolik di daerah pusat atau epigastrum. Pada tahap kedua larva akan melewati dinding usus dan akan berpindah melalui sistem portal menuju hepar dan kemudian paru. Larva kemudian dibatukkan dan tertelan kembali menuju jejunum. 5. anoreksia. Gejala klinis paling sering ditemui berkaitan dengan penyakit paru atau sumbatan pada usus atau saluran empedu. Kemudian masuk pada usus dan akan menetas pada usus kecil (deudenum). Pada sebagian besar penderita dengan infeksi rendah sampai sedang gejalanya asimtomatis atau simtomatis. sesak. Diperlukan waktu 65 hari untuk menjadi cacing dewasa. Infeksi yang berat dapat di ikuti pneumonia dan eosinifilia. cengeng. Manifestasi Klinis Manifestasi klinis tergantung pada intensitas infeksi dan organ yang terlibat. Cacing betina menghasilkan 240. adanya infiltrat pada paru dan eosinofilia. Telur fertil jika jatuh pada kondisi tanah yang sesuai. saluran empedu dan pankreas 8 .

konjungtivitis akut. urtikaria.  Sejak kapan gejala mula timbul. b. konstipasi. dan riwayat penyakit keluarga. Pada pemeriksaan mikroskopik feses. Selain itu. gangguan selera makan. tekanan darah dan suhu tubuh merupakan pemeriksaan umum yang biasanya dilakukan. bisa juga dilakukan pemeriksaan antropometri.  Riwayat pengobatan. serta mudah terjadi infeksi berulang. diare. c. allo-anamnesis perlu dilakukan karena pasien merupakan anak berumur 5 tahun. rasa tidak enak di perut. Infeksi dapat bertahan selama umur cacing maksimal (2 tahun). Pada pemeriksaan kemungkinan ditemukan cacing yang menginfeksi. Yang diperiksa adalah berat badan apakah ada penurunan setelah timbulnya gejala klinis askariasis. Pemeriksaan Fisik Pada anak yang diduga menderita askariasis.  Ada atau tidak keluhan penyerta lain seperti muntah. frekuensi napas. Penegakan Diagnosis a. Anamnesis Pada anamnesis. riwayat penyakit dahulu. ditanyakan keluhan utama yang menyebabkan pasien berobat ke dokter serta beberapa informasi berkaitan yang dapat menjurus kepada diagnosis.dapat terjadi akibat sumbatan oleh cacing yang besar. asma. Pemeriksaan tanda-tanda vital seperti denyut nadi. bisa ditemukan telur dari cacing yang menginfeksi. Berdasarkan kasus. Pemeriksaan kadar eosinofil darah 9 . fotofobia dan hematuria. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan sediaan feses dan muntahan anak yang terinfeksi. nyeri pada daerah epigastrium. dilakukan pemeriksaan fisik umum. Cacing ini tidak berkembang biak pada host. Hal yang harus ditanyakan adalah:  Riwayat penyakit sekarang. demam.

Diunduh dari Gambar Asacris lumbricoides dewasa. Diagnosis 10 . Gambar Telur Ascaris lumbricoides yang telah dibuahi. selain amat bermakna selama fase pulmonal.juga bisa dilakukan bagi mengenal pasti adanya proses sensitisasi atau tidak.

Oksantel-pirantel pamoat adalah obat yang dapat digunakan untuk infeksi campuran Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura. harus dilakukan operasi untuk mengeluarkan cacing yang memenuhi lumen usus.Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan tinja secara langsung. pirantel pamoat. Oksantel-pirantel pamoat. Mebendazol. Prognosis 11 . 10 mg/kgBB/hari. atau albendazol. 100 mg 2 kali sehari. Kasus askariasis saat kehamilan harus ditatalaksana seteleh trimester pertama. mebendazol. 10 mg/kgBB/hari.  Albendazol 400 mg tablet atau 20 ml suspensi. Berefek cacing dapat bermigrasi ke  tempat lain. Untuk pengobatan masal perlu beberapa syarat. diagnosis pasti Askariasis telah dapat ditegakkan. Untuk perorangan dapat digunakan bermacam-macam obat misalnya piperasin. Aturan pemakaian sederhana. Selain itu. yaitu:    Obat mudah diterima masyarakat. Antara obat mengatasi askariasi yang dapat digunakan adalah:   Pirantel pamoat. Mempunyai efek samping yang minimum. Penatalaksanaan Pengobatan dapat dilakukan secara perorangan atau secara masal. diagnosis dapat dibuat bila cacing dewasa keluar sendiri baik melalui mulut atau hidung kerana muntah maupun melalui tinja.  Bersifat polivalen. Tidak bisa diberikan kepada ibu hamil. Pada kasus askariasi dengan obstruksi usus yang berat. sehingga manjur untuk beberapa jenis cacing. Buat anak di atas 2 tahun.  Harganya murah Pengobatan masal dilakukan oleh pemerintah pada anak sekolah dasar dengan pemberian albendazol 400 mg 2 kali setahun. Bila dijumpai telur atau cacing dewasa Ascaris lumbricoides di dalam tinja.

Tanpa pengobatan. Gambar 3. Spoilative action. Karenanya pada siklus berikut dapat timbul manifestasi alergi berupa asma bronkiale. Juga askariasis tidak mengambil darah hospes. 2. Terutama disebabkan larva yang dalam siklusnya masuk kedalam darah. Infiltrat cepat menghilang sendiri dan 12 . Anak yang menderita askariasis umumnya dalam keadaan distrofi. Pada penyelidikan ternyata askariasis hanya mengambil sedikit karbohidrat ”hospes”. angka kesembuhan 70-99%. Cacing Ascariasis dewasa pada usus Komplikasi 1. Toksin. tetapi kemudian pada penyelidikan berikutnya tidak ditemukan toksin yang spesifik dari askaris.Pada umumnya askariasis mempunyai prognosis yang baik selama tidak terjadi obstruksi oleh cacing dewasa yang bermigrasi. Alergi. sehingga sesudah siklus pertama timbul alergi terhadap protein askaris. sedangkan protein dan lemak tidak diambilnya. dan sindrom Loffler. Dengan pengobatan. penyakit dapat sembuh sendiri dalam waktu 1. Mungkin renjatan yang terjadi tersebut disebabkan oleh protein asing. Chimura dan Fuji berhasil membuat ekstrak askaris yang disebut askaron yang kemudian ketika disuntikkan pada binatang percobaan (kuda) menyebabkan renjatan dan kematian. 3. Simdrom Loffler merupakan kelainan dimana terdapat infiltrat (eosinofil) dalam paru yang menyerupai bronkopneumonia atipik. hipereosinofilia. ultikaria. Dapat ditarik kesimpulan bahwa distrofi pada penderita askariasis disebabkan oleh diare dan anoreksia.5 tahun.

Disamping itu terdapat hiperesinofilia (40-70%). kemudian trakea dan bronkus sehingga terjadi afiksia. muntah. Errantic action. Pada foto rontgen akan tampak gambaran garis-garis panjang dan gelap (filling defect). Gejala hilang bila cacing dapat keluar bersama muntah. Jika cara ini tidak menolong. Tetapi masih diragukan. Cacing dapat juga menyebabkan iritasi dan infeksi sekunder hati jika terdapat dalam jumlah banyak dalam kolon maka dapat merangsang dan menyebabkan diare yang berat sehingga dapat timbul apendisitis akut. Dari nasofaring cacing dapat ke tuba Eustachii sehingga dapat timbul otitis media akut (OMA) kemudian bila terjadi perforasi. 4. Irritative Action. Akibat hal ini dapat terjadi diare dan muntah sehingga dapat terjadi dehidrasi dan asidosis dan bila berlangsung menahun dapat terjadi malnutrisi. Terutama terjadi jika terdapat banyak cacing dalam usus halus maupun kolon. sedangkan di daerah dengan jumlah penderita askariasis yang rendah. 5.cepat timbul lagi dibagian paru lain. perforasi dan kemudian peritonitis. diikuti oleh sel eosinofil. Askaris dapat menyebabkan abses di dinding usus. sindrom ini sangat jarang terdapat. kolik. Traumatik action. Yang lebih sering terjadi cacing-cacing askaris ini berkumpul dalam usus. Askaris dapat menetap di dalam duktus koledopus dan bila menyumbat saluran tersebut. maka dilakukan tindakan operatif. Anak dengan gejala demikian segera dikirim ke bagian radiologi untuk dilakukan pemeriksaan dengan barium enema guna mengetahui letak obstruksi. cacing akan keluar. Biasanya dengan tindakan ini cacing-cacing juga dapat terlepas dari gumpalannya sehingga obstruksi dapat dihilangkan. Selain melalui jalan tersebut cacing dari nasofaring dapat menuju laring. karena misalnya di Indonesia dengan infeksi askaris yang sangat banyak. menyebabkan obstuksi usus dengan segala akibatnya. dapat terjadi ikterus obstruktif. nyeri perut terutama di daerah epigastrium. Sindrom ini diduga disebabkan oleh larva yang masuk ke dalam lumen alveolus. kadang-kadang juga ditemukan sindrom ini. Gambaran radiologisnya menyerupai tuberkulosis miliaris. 13 . Askaris dapat berada dalam lambung sehingga menimbulkan gejala mual. 6.

4. Dalam siklusnya larva dapat masuk ke otak sehingga timbul abses-abses kecil. Bila pasien menderita beberapa spesies cacing. Memberikan pengobatan pada individu berdasarkan intensitas penyakit atau infeksi yang telah lalu. ke hati menyebabkan absesabses kecil dan hepatitis.  Sebelum melakukan persiapan makanan dan hendak makan. Pencegahan 1. hygiene keluarga dan hygiene pribadi seperti :  Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk tanaman.3. ke ginjal menyebabkan nefritis. 2. Memberikan pengobatan masal 6 bulan sekali pada semua individu pada daerah endemis atau di daerah yang rawan askariasis 2. Di indonesia komplikasi ini jarang terjadi tetapi di Srilangka dan Filipina banyak menyebabkan kematian.  Sayuran segar (mentah) yang akan dimakan sebagai lalapan. Penyuluhan kesehatan tentang sanitasi yang baik. 3.Komplikasi lain. harus dicuci bersih dan disiram lagi dengan air hangat karena telur cacing Ascaris dapat hidup dalam tanah selama bertahun-tahun. tangan dicuci terlebih dahulu dengan menggunakan sabun. askariasis harus diterapi lebih dahulu dengan pirantel pamoat. tidak di kali atau di kebun. TRICURIASIS Infeks Trichuris trichuria pada manusia dikenal sebagai Trichuriasis. Distribusi Geografis 14 . Memberikan pengobatan pada kelompok tertentu dengan frekuensi infeksi tinggi seperti anak-anak sekolah dasar. Dalam bahasa Indonesia cacing ini bernama Cacing Cambuk karena secara menyeluruh cacing ini bentuknya seperti cambuk.  Buang air besar di jamban.

Pada infeksi yang berat. telur ini akan mengalami pematangan dalam waktu 2-4 minggu dan siap menginfeksi host lain. Di luar tubuh. Telur yang dihasilkan cacing ini akan keluar dari tubuh bersama tinja. appendiks. Telur yang tertelan akan menetas di duodenum dan larva yang keluar akan melekat di vili usus. Demikianlah siklus hidup ini berulang kembali. di tempat yang lembab dan hangat. panti asuhan.Trichuris trichuria tersebar luas di seluruh dunia. Diperkirakan siklus dari telur sampai cacing dewasa yang siap menghasilkan telur berlangsung dalam waktu 3 bulan. Cacing dewasa membenamkan bagian anteriornya di mukosa usus dan mulai memproduksi telur sebanyak 2000-7000 butir per hari. Di daerah yang beriklim sedang mereka yang paling sering terserang adalah yang tinggal di lembagalembaga seperti. bahkan seluruh usus besar. 15 . cacing juga dapat pula ditemukan di ileum. lembaga permasyarakatan dan rumah sakit jiwa. Larva ini akan tetap tinggal selama 20-30 hari untuk kemudian bergerak ke sekum dan kolon bagian proksimal. Siklus Hidup Manusia terinfeksi cacing ini melalui makanan yang terkontaminasi telur cacing yang telah berembrio. tetapi daerah yang prevalensi tinggi adalah daerah tropis dan subtropis.

iklim tropis Indonesia sangat menguntungkan terhadap perkembangan T. Cacing jantan berukuran 30-45 mm sedangakan cacing betina berukuran 35-50 mm. Pada cacing betina vulva terdapat di bagian tubuh yang mulai membesar. dataran rendah.Morfologi Telur Trichuris trichuria berbentuk buulat panjang dan memiliki sumbatan yang menonjol di kedua ujungnya. trichiura didasari dengan sanitasi yang inadekuat dan populasi yang padat. Data dari berbagai survei di berbagai tempat di Indonesia menunjukkan bahwa infeksi T. bagian posterior cacing jantan melingkar ke dalam dan mengandung sebuah spicule. umumnya ini dijumpai di daerah kumuh dengan tingkat sosioekonomi yang rendah. Epidemiologi Faktor lingkungan mempunyai pengaruh yang penting dalam proses transmisi. trichiura. Indonesia mempunyai empat area ekologi utama terhadap transmisi T. trichiura merupakan masalah di semua daerah di Indonesia dengan prevalensi 35% sampai 75%. Pada saat itulah telur tersebut menjadi infeksius. sedangkan anusnya terletak di bagian posterior tubuhnya. dan hujan.Perbedaan prevalensi T. telur ini akan berkembang lebih lanjut sampai akhirnya mengandung embrio. Telur yang belum matang dikeluarkan dari tubuh bersama tinja dan merupakan pertanda diagnostik untuk trichuriasis. trichiura di daerah perkotaan dan pedesaan menggambarkan perbedaan sanitasi atau densitas populasi. Telur ini berukuran 44-50 x 22 µ dan berwarna kuning kecoklatan. tingkat pendidikan. kering. Pendidikan higienitas yang rendah juga mendukung tingginya infeksi 16 . Di luar tubuh manusia. Anak usia sekolah mempunyai prevalensi yang tinggi terhadap infeksi T. anak dengan tempat tinggal dan sanitasi yang buruk dan higienitas yang rendah mempunyai risiko terinfeksi yang lebih tinggi. Cacing dewasa bentuk seperti rambut di 2/3 bagian anteriornya dan membesar serta nampak berotot di bagian posteriornya sehingga secara keseluruhan cacaing ini menyerupai cambuk. trichiura. trichiura yaitu dataran tinggi. serta perbedaan sosioekonomi yang juga berperan penting. Berdasarkan data epidemiologi. Infeksi T.

Tingkat infeksi seperti juga pada Ascaris lumbricoides. Hb rendah sekali dapat mencapai 3 gr%.005 cc. kadang-kadang disertai prolapsus recti. Diagnosis Trikuriasis dapat ditegakkan diagnosisnya berdasarkan ditemukannya telur cacing Trichuris trichiura dalam tinja atau menemukan cacing dewasa pada anus atau prolaps rekti. mual. dan Entamoeba histolytica. ditemukan secara kebetulan pada waktu pemeriksaan tinja rutin. karena seekor cacing tiap hari menghisap darah kurang lebih 0. trichocephaliasis atau infeksi cacing cambuk. infeksi ringan biasanya tanpa gejala. Sakit perut. Pada infeksi berat. Patologi dan Klinik Infeksi oleh cacing ini disebut trikuriasis. Tumpukan sampah dan penyediaan makanan jajanan di lingkungan sekolah juga menjelaskan tingginya prevalensi. serta berat badan menurun. kadangkadang terlihat pada mukosa rektum yang prolaps akibat sering mengedan pada waktu defekasi. cacing tambang. muntah. Pengobatan 17 .tersebut. Diare dengan tinja sedikit dan mengandung sedikit darah. Infeksi Trichuris trichiura kadang-kadang terjadi bersama infeksi parasit usus lain. cacing tersebar keseluruh kolon dan rektum. ditentukan dengan memeriksa jumlah telur pada setiap gram tinja atau menentukan jumlah cacing betina yang ada dalam tubuh hospes. Cacing ini paling sering menyerang anak usia 1-5 tahun. Infeksi kronis dan sangat berat menunjukkan gejala-gejala anemi berat. Mungkin disertai sakit kepala dan demam. Parasit lain yang menyertainya adalah Ascaris lumbricoides.

Epidemiologi Penyebaran cacing kremi lebih luas daripada cacing lain. Untuk pengobatan masal dianjurkan dosis tunggal 600 mg. alas kasur. kursi. 18 .Mebendazole merupakan obat pilihan untuk trikuriasis dengan dosis 100 mg 2 kali per hari selama 3 hari bertururt-turut. dan pakaian. ENTEROBIASIS Enterobiasis merupakan infeksi yang disebabkan oleh cacing Enterobius vermicularis (cacing kremi) pada saluran cerna. Penularan dapat terjadi pada suatu keluarga atau kelompok-kelompok yang hidup dalam satu lingkungan yang sama (asrama).4. bufet. Di berbagai rumah tangga dengan beberapa anggota keluarga yang mengandung cacing kremi. tempat duduk kakus (toilet seats). pendidikan tentang sanitasi dan kebersihan perorangan seperti mencuci tangan sebelum makan. Komplikasi : Prolapsus rekti & perforasi usus Prognosis : Sebagian besar baik jika tanpa komplikasi berat 2. meja. bak mandi. mencuci dengan baik sayuran yang dimakan mentah (lalapan). Thiabendazole tidak efektif. telur cacing dapat ditemukan (92%) di lantai. Telur cacing dapat diisolasi dari debu diruangan sekolah atau kafetaria sekolah dan mungkin ini menjadi sumber infeksi bagi anakanak sekolah. tidak tergantung berat badan atau usia penderita. Penularan dari tangan ke mulut sesudah menggaruk daerah perinanal (auto-infeksi) atau tangan dapat menyebarkan telur kepada orang lain maupun kepada diri sendiri karena memegang benda-benda maupun pakaian yang terkontaminasi. Penularan dapat dipengaruhi oleh : 1. Pencegahan Pencegahan trikuriasis sama dengan askariasis yaitu buang air besar di jamban.

Bila telur matang yang tertelan. Telur resisten terhadap disinfektan dan udara dingin. sehingga jarang ditemukan di dalam tinja. jugam mempunyai sayap dan ekornya melingkar sehingga bentuknya seperti tanda tanya. usus besar dan di usus halus yang berdekatan dengan rongga sekum. Retroinfeksi melalui anus: larva dari telur yang menetas di sekitar anus kembali masuk ke usus.000 butir telur.000-15. Habitat cacing dewasa biasanya di rongga sekum. Telur berbentuk lonjong dan lebih datar pada satu sisi (asimetrik) dalam tinja. Mungkin daurnya hanya 19 .4 mm. Debu merupakan sumber infeksi oleh karena mudah diterbangkan oleh angin sehingga telur melalui debu dapat tertelan. mulai dari tertelannya telur matang sampai menjadi cacaing dewasa gravid yang bermigrasi ke daerah perianal. Bulubus esofagus jelas sekali. Makanannya adalah isi dari usus. pada suhu badan. Uterus cacing yang gravid melebar dan penuh dengan telur. Dinding telur bening dan agak lebih tebal dari dinding telur cacing tambang. Cacing jantan berukuran 2-5 mm. bermigrasi ke daerah perianal untuk bertelur dengan cara kontraksi uterus dan vaginanya. Morfologi dan Daur Hidup Cacing Enterobius vermicularis betina berukuran 8-13 mm x 0. Pada ujung anterior ada pelebaran kutikulum seperti sayap yang disebut alae. Cacing betina yang gravid mengandung 11. spikulum pada ekor jarang ditemukan. Waktu yang diperlukan untuk daur hidupnya. ekornya panjang dan runcing. Dalam keadaan lembab telur dapat hidup sampai 13 hari. Kopulasi cacing jantan dan betina mungkin terjadi di sekum. Cacing jantan mati setelah kopulasi dan cacing betina mati setelah bertelur. Infeksi cacing kremi terjadi bila menelan telur matang. telur menetas di duodenum dan larva rabfitiform berubah dua kali sebelum menjadi dewasa di jejujum dan bagian atas ileum. Telur menjadi matang dalam waktu kira-kira 6 jam setelah dikeluarkan. atau bila larva dari telur yang menetas di daerah perianal bermigrasi kembali ke usus besar. berlangsung kira-kira 2 minggu sampai 2 bulan. Telur-telur jarang dikeluarkan di usus.2. 3.

esofagus dan hidung sehingga menyebabkan gangguan di daerah tersebut. Cacing sering ditemukan di apendiks tetapi jarang menyebabkan apendisitis. maka penderita menggaruk daerah sekitar anus sehingga timbul luka garuk di sekitar anus.berlangsung kira-kira 1 bulan karena telur-telur cacaing dapat ditemukan kembali pada anus paling cepat 5 minggu sesudah pengobatan. Kadang-kadang cacing dewasa muda dapat bergerak ke usus halus bagian proksimal sampai ke lambung. Oleh karena cacing bermigrasi ke daerah anus dan menyebabkan pruritus ani. Bila tidak ada reinfeksi. tanpa pengobatan pun infeksi dapat berakhir. Gejala Klinis Enterobiasis relatif tidak berbahaya. Gejala klinis yang menonjol disebabkan iritasi disekitar anus. perineum dan vagina oleh cacing betina gravid yang bermigrasi ke daerah anus dan vagina sehingga menimbulkan pruritus lokal. jarang menimbulkan lesi yang berarti. Keadaan ini sering terjadi pada waktu malam hari hingga penderita terganggu tidurnya dan menjadi lemah. 20 . Cacing betina gravid mengembara dan dapat bersarang di vagina dan di tuba Fallopii sehingga menyebabkan radang di saluran telur. Infeksi cacing kremi dapat sembuh sendiri (self limited).

Pengobatan sebaiknya dilakukan juga terhadap keluarga serumah atau yang sering berhubungan dengan pasien. bila mungkin setiap hari. Pengobatan Perawatan umum : 1.25 g) dan diulangi 2 minggu kemudian. 3. Komplikasi Bila jumlah cacing dewasa cukup banyak akan dapat menyebabkan 21 . hanya ditemukan sedikit eosinofilia. aktivitas meninggi. berat badan turun. enuresis. insomnia. dapat diulang dengan interval 7 hari. Diagnosis Pemeriksaan darah tepi umumnya normal. Bersama mebendazol efektif terhadap semua stadium perkembangan cacing kremi. Obat ini dapat menyebabkan rasa mual.  Pirvium pamoat diberikan dengan dosis 5 mg/kg berat badan (maksimum 0. diulang setelah 2 minggu. Pengobatan Spesifik  Mebendazol diberikan dosis tunggal 500 mg.  Pirantel pamoat diberikan dengan dosis 10 mg/kg berat badan sebagai dosis tunggal dan maksimum 1 gram. diulang setelah 2 minggu.  Piperazin sitrat diberikan dengan dosis 2 x 1 g/ hari selama 7 hari berturut-turut. 2. muntah dan wama tinja menjadi merah. Kesehatan pribadi perlu diperhatikan terutama kuku jari-jari dan pakaian tidur.  Albendazol diberikan dosis tunggal 400 mg. Toilet sebaiknya dibersihkan dan disiram dengan desinfektan.Beberapa gejala karena infeksi cacing Enterobius vermicularis dikemukakan oleh beberapa penyelidik yaitu kurang nafsu makan. cepat marah. gigi menggeretak. Anal swab ditempelkan di sekitar anus pada waktu pagi hari sebelum anak buang air besar dan mencuci pantat (cebok). Diagnosis ditegakkan dengan cara menemukan telur atau cacing dewasa di daerah perianal dengan swab atau di dalam tinja.

dan dengan pemberian obatobat yang efektif maka komplikasi dapat dihindari. Cacing betina berukuran panjang ± 1 cm dan cacing jantan ± 0. terutama di daerah pedesaan khususnya perkebunan. Penyebaran cacing ini diseluruh daerah khatulistiwa dan di tempat lain dengan keadaan yang sesuai. Tanah yang baik untuk pertumbuhan larva adalah tanah gembur (pasir. Cacing ini menyebabkan ankilostomiasis. dan dapat menyebabkan peradangan di daerah tersebut. misalnya di daerah pertambangan dan perkebunan. dan pengolahan feses manusia yang higienis. Morfologi dan daur hidup Cacing dewasa hidup di rongga usus halus. terutama di daerah pedesaan sekitar 40%.apendisitis. Cacing dewasa pada wanita dapat bermigrasi ke dalam vagina. 2. 22 . humus) dengan suhu optimum 23-250C. Epidemiologi Insidensi tinggi ditemukan pada penduduk di Indonesia. Prognosis Infeksi cacing ini biasanya tidak begitu berat.8 cm. Pencegahan Pencegahan yang dapat dilakukan antara lain menjaga kebersihan diri. uterus dan tuba falopii. ANCILOSTOMIASIS Hospes parasit ini adalah manusia. apalagi dengan keadaan higienik yang buruk. memperbaiki kondisi lingkungan menjadi bersih. Yang sering menjadi masalah adalah infeksi intra familiar.000-10. dengan mulut yang besar melekat pada mukosa dinding usus. Cacing betina mengeluarkan telur 5.000 butir tiap hari.5. Kebiasaan defekasi di tanah dan pemakaian tinja sebagai pupuk kebun (di berbagai daerah tertentu) berperan penting dalama penyebaran infeksi. Prevalensi di Indonesia tinggi. Seringkali pekerja perkebunan yang langsung berhubungan dengan tanah mendapat infeksi lebih dari 70%.

telur menetas dalam 1-2 hari. Larva tersebut memasuki tubuh manusia dengan menembus kulit dan masuk ke jaringan dibawah kulit. Gejala lain yang bisa ditemukan adalah gejala umum seperti lemah/lesu. pusing. keluarlah larva labditiform. Larva rabditiform panjangnya ± 250 mikron. 23 . Pada keadaan yang berat dan lama dapat terjadi retardasi fisis/mental. Setelah hari ketiga sejak menembus kulit. Didalamnya terdapat beberapa sel.duodenale menyerupai huruf ‘C’. Telur cacing cacing tambang yang besarnya ± 60x40 mikron berbentuk bujur dan memppunyai dinding tipis. Siklus hidup pada manusia Telur cacing ditemukan pada feses orang yang terinfeksi parasit ini. Telur dikeluarkan dengan tinja dan setelah menetas dalam waktu 1-1. Selanjutnya. Seekor cacing dewasa diperkirakan akan menyebabkan kehilangan darah 0. larva biasanya telah mencapai paru. sehingga gejala utamanya adalah anemia. Faktor makanan. Anemia akan makin jelas/berat pada orang diet kurang protein. Dalam waktu ± 3 hari. larva labditiform tumbuh menjadi larva filariform yang dapat menembus kulit dan dapat hidup selama 7-8 minggu di tanah. sedangkan larva filariform panjangnya ± 600 mikron. nafsu makan menurun dan dapat timbul gejala polineuritis. Rongga mulut besar dan memiliki 2 pasang gigi. umumnya berupa anemia defisiensi besi tapi kadang-kadang juga memperlihatkan tanda anemia mengaloblastik.03 ml per hari. Dalam paru. Cacing jantan memiliki bursa kopulatriks. bronkus atau trakea dan bersama air ludah tertelan kembali ke usus Gejala klinis Tergantung pada banyaknya cacing yang terdapat dalam rongga usus. Protein diperlukan untuk membuat globin (fraksi hemoglobin). larva keluar dari pembuluh darah dan masuk kedalam alveolus. terutama protein juga berperan penting dalam menentukan berat-ringannya anemia tersebut. tetapi pada tanah yang kurang baik baru menetas setelah 3 minggu. Didalam tanah yang lembab dan teduh.5 hari. larva memasuki saluran getah bening dan pembuluh darah.Bentuk badan A.

000 > 10. Ringan Sedang Berat 1. efektif bagi kedua spesies terutama untuk Ancylostoma duodenale.12 mg/kgBB. Sebagai patokan beratnya infeksi cacing tambang berdasarkan jumlah telur dalam tinja atau jumlah cacing betina dapat dipakai patokan dari “Parasitic Diseases Programme. 2. Mebendazole.000 3. dosis dan cara pengobatan sama dengan pengobatan pada trichuriasis. Pencegahan 24 . Albendazole dan pyrantel pamoate. Ringan Sedang Berat Jumlah telur per gram tinja Infeksi oleh N. 3. Bitoskanat dengan dosis tunggal pada orang dewasa 150 mg. 2. Americanus < 2.000 Jumlah cacing betina 50 atau kurang 51 – 200 > 200 20 atau kurang 21 – 100 > 100 Pengobatan Tetrachlorethylen merupakan obat pilihan untuk Necator americanus dan cukup efektif untuk Ancylostoma duodenale. WHO. Geneva.000 Infeksi oleh A. Thailand.000 – 7.000 > 7.000 2. 1986” pada tabael di bawah ini: No. dengan dosis maksimal 4 mg.100. Beratnya Infeksi 1.Diagnosis Gejala klinis biasanya tidak spesifik sehingga untuk menegakkan diagnosis infeksi cacing tambang perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk dapat menemukan telur cacing tambang di dalam tinja ataupun menemukan larva cacing tambang di dalam biakan atau pada tinja yang sudah agak lama. duodenale < 3. Befenium hidroksinaftoat. dosis dan cara pengobatannya sama dengan penderita ascariasis. 1981” dalam “The Tenth Regional Training Course on Soil-Transmitted Helminthiasis and Integrated Program on Family Planning Nutrition and Parasite Control. Diberikan dalam dosis tunggal 0.000 – 10. Diberikan dengan dosis 5 gr/hari selama 3 hari berturut-turut. 3.

25 . Hal tersebut dilihat dari gejala klinis dan riwayat faktor resiko yang dialami pasien. BAB III PENUTUP KESIMPULAN Berdasarkan skenario diatas. kelompok kami mendapatkan hasil diagnosis banding infeksi cacing.Sama dengan pencegahan pada penderita ascariasis dengan tambahan membiasakan diri memakai sepatu terutama sekali waktu bekerja di kebun atau di pertambangan. dan pemeriksaan penunjang yang belum didapatkan informasinya. Dan dapat langsung diterapi sesuai dengan derajat dehidrasinya. Namun untuk menegakkan diagnosis yang lebih pasti masih dibutuhkan pemeriksaan yang lebih rinci seperti anamnesis. pemeriksaan fisik. Dengan diagnosis kerja trikuriasis.

2002.et al. Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach. Ismid IS. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Penerbit EGC. Sjarifuddin PK. Jakarta: FKUI 26 . Sungkar S. McGraw-Hill Nelson. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak Sutanto I. 2008. Ed 4. Ilmu Kesehatan Anak. 2008. Ed 7. 1995.DAFTAR PUSTAKA Dipiro JT. Jilid 2. Jakarta Staf Pengajar IKA FKUI.