Anda di halaman 1dari 16

I.

PENDAHULUAN

A. Judul
Penentuan Konsentrasi Mematikan dan Analisis Organ terhadap Toksisitas
Methanol
B. Tujuan
1. Mahasiswa dapat menghitung LC50 (Lethal Concentration 50%) dari
pemberian methanol secara oral terhadap mencit (Mus musculus) pada
pengamatan 1 jam dan 24 jam.
2. Mahasiswa dapat melihat pengaruh LC50 (Lethal Concentration 50%) dari
konsentrasi pemberian methanol 100%, 80%, 60%, 40%, 20%, 10%, dan
5% terhadap mencit (Mus musculus) pada pengamatan 1 jam dan 24 jam.
3. Mengetahui efek toksisitas dari methanol terhadap organ mencit (Mus
Musculus).

Mencit yang telah dicekok dengan larutan methanol kemudian ditandai (tagging) dengan spidol. kemudian larutan methanol dimasukkan secara perlahan (jangan sampai mencit tersedak atau mati). Bahan yang digunakan pada percobaan adalah mencit (Mus musculus) 10 ekor. 40%. serbuk kayu. larutan methanol 0. B. 80%. dan syringe. Pada saat mencit sudah dalam posisi yang tepat. gunting bedah. Analisis probit pada bagian . 40%. kemudian dipilih analyze dan regression.II. penjapit (pinset). 80%. papan bedah mencit. kemudian masing-masing mencit dipegang dengan benar. Analisis probit dengan SPP dilakukan dengan input data. dan 5%.5 ml dan dimasukkan ke dalam mulut mencit menggunakan syringe dan gavage needle. Pada saat larutan methanol dimasukkan ke dalam mulut mencit. 60%. Bagian tengkuk (di belakang telinga) dicubit menggunakan tangan kiri dan tubuh mencit dibalikkan dan diusahakan agar kepala mencit tidak bisa bergerak-gerak lagi dan ekor mencit ditahan dengan jari kelingking. Pengamatan dilakukan selama 1 jam dan 24 jam. gavage needle dipastikan telah masuk hingga esofagus mencit. sarung tangan. 20%. Handling yang benar dilakukan dengan memegang ekor mencit kemudian tubuh mencit dielus-dielus terlebih dahulu. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis probit SPSS. jarum pentul. gavage needle. dan tissue. METODE A. dan 5% dimana masing-masing konsentrasi diambil sebanyak 0. larutan methanol dengan konsentrasi 100%. Cara Kerja 1. Penentuan konsentrasi mematikan Mencit disiapkan sebanyak 10 ekor. Alat dan Bahan Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah botol. spidol. 60%. masker. kemudian diamati dan dihitung jumlah mencit yang mati. 10%. 20%. 10%.5 ml dengan konsentrasi 100%. kandang mencit.

response frequency dimasukkan jumlah mencit yang mati. dan transporm dipilih log base 10. Selaput yang menutup organ mencit dibuka dengan gunting bedah. .covariate dimasukkan konsentrasi. kemudian mencit diposisikan terlentang dan ditusuk keempat bagian kaki mencit serta ekornya dengan jarum pentul. Analisa Fisik Organ Mencit yang mati diambil dan diletakan di atas papan bedah. 2. kemudian diamati perubahan organ yang terjadi setelah diberi perlakuan methanol. selanjutnya kulit mencit dibuka dan ditusuk jarum pentul dibagian kanan dan kiri kulit. Mencit dibedah secara vertikal dari bawah perut mencit hingga leher mencit. total observed dimasukkan jumlah mencit.

HASIL DAN PEMBAHASAN Uji toksisitas merupakan uji hayati yang berguna untuk menentukan tingkat toksisitas dari suatu zat atau bahan pencemar. Nilai LC (Lethal Concentration) ditentukan untuk tujuan penelitian nilai ambang batas yang layak di suatu lingkungan penelitian (Ibrahim dkk. Senyawa kimia dikatakan bersifat racun akut apabila senyawa tersebut dapat menimbulkan efek racun dalam jangka waktu singkat (dalam hal ini 24 jam). urutan proses kematian. dan pernapasan yang dapat menyebabkan kematian. Pengujian toksisitas akut dapat menghasilkan nilai LD50 dan memberikan gambaran tentang gejala-gejala ketoksikan terhadap fungsi penting. Pengujian toksisitas khusus meliputi uji potensiasi. teratogenik. Uji toksisitas subkronik dapat memberikan efek yang berbaya yang timbul pada penggunaan obat secara berulang dalam jangka waktu tertentu (Manggung. dan tingkah laku. Data uji akut juga dapat menjadi dasar klasifikasi dan pelabelan suatu bahan kimia. Uji toksisitas akut dapat menyediakan informasi tentang bahaya kesehatan manusia yang berasal dari bahan kimia yang terpapar dalam tubuh pada waktu pendek melalui jalur oral. penyebab kematian.. Pengujian toksisitas umum meliputi berbagai pengujian yang dirancang untuk mengevaluasi keseluruhan efek umum suatu senyawa pada hewan uji yang meliputi pengujian toksisitas akut. Pengujian toksisitas suatu senyawa dibagi menjadi dua golongan. seperti gerak. kulit. 2009). mutagenik. reproduksi.III. mata. Uji toksisitas akut berguna untuk mendapatkan informasi tentang gejala keracunan. Efek toksik dari sediaan yang sama . tingkah laku. yaitu uji toksisitas umum dan uji toksisitas khusus. Toksisitas akut didefinisikan sebagai efek yang ditimbulkan oleh senyawa kimia atau obat terhadap organisme target. karsinogenik. sedangkan senyawa kimia dikatanya racun kronis jika senyawa tersebut baru menimbulkan efek dalam jangka waktu yang panjang karena kontak yang berulang-ulang walaupun dalam jumlah yang sedikit (Harmita. 2012). dan rentang dosis yang mematikan hewan uji (Lethal Dose 50% atau disingkat LD50) suatu bahan. dan kronik. 2008). subkronik.

keadaan mata dan bulu.dapat memberikan efek yang berbeda pada organ di dalam tubuh. Spesies. 2008). strain. tujuan toksisitas akut adalah untuk mendeteksi adanya toksisitas suatu zat. Pemberian secara per oral dilakukan dalam tes dikarenakan pemberian secara per oral ini merupakan cara yang paling umum dilakukan untuk memasukkan makanan ke dalam tubuh. dan keragaman individu . Pengujian toksisitas akut dilakukan dengan memberikan obat atau zat kimia yang sedang diuji sebanyak satu kali atau beberapa kali dalam jangka waktu 48 jam. faktor-faktor yang berpengaruh terhadap LD50 sangat bervariasi antara individu satu dengan individu yang lain. Pengujian toksisitas ini bertujuan untuk mencegah kerugian terhadap kesehatan manusia dan lingkungan (Manggung. (2008). Menurut Angelina dkk. sehingga menjadi indikator penting untuk mendeteksi adanya keracunan (Bhhatarai dan Gramatica. 2011). Menurut Manggung (2008). Pengamatan tersebut meliputi gejalagejala klinis seperti nafsu makan. Letal dosis 50% (LD50) merupakan kalkulasi dosis suatu substansi yang dapat menyebabkan kematian 50% populasi hewan percobaan dalam satuan mg/kg berat badan. kecuali pada kasus tertentu selama 7 sampai 24 hari. menentukan organ sasaran dan kepekaannya. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut: 1. memperoleh data bahayanya setelah pemberian suatu senyawa secara akut dan untuk meperoleh informasi awal yang dapat diunakan untuk menetapkan tingkat dosis yang diperlihatkan untuk uji toksisitas selanjutnya. serta tingkah laku. Takaran dosis yang dianjurkan paling tidak empat peringkat dosis. bobot badan. berkisar dari dosis terendah yang tidak atau hampir tidak mematikan seluruh hewan uji sampai dengan dosis tertinggi yang dapat mematikan seluruh atau hampir seluruh hewan uji. jumlah hewan yang diamati. Kebanyak toksisitas akut diarahkan pada penentuan LD50 dari suatu bahan kimia tertentu yang dirancang untuk menentukan efek toksik suatu senyawa yang akan terjadi dalam waktu yang singkat setelah pemberiannya dengan takaran tertentu (Manggung. Pada umumnya pengamatan dilakukan selama 48 jam. dan histopatologi organ. 2008).

sedangkan pada hewan yang sudah tua. . berat badan yang berbeda dapat memberikan nilai LD50 yang berbeda pula. Strain hewan percobaan menunjukkan perbedaan yang nyata dalam pengujian toksisitas akut. Hewan jantan dan betina yang sama dari strain dan spesies yang sama biasanya bereaksi terhadap toksikan dengan cara yang sama. 4. berdasarkan pertimbangan agar senyawa dapat mencapai suatu tingkat kadar awal yang tinggi di dalam daerah yangdilokalisasikan. kepekaannya akan meningkat karena fungsi biotransformasi dan ekskresi sudah meningkat. 6. Nilai terkecil diperoleh dengan cara pemberian intravena dan berturut-turut meningkat dengan cara pemberian intraperitonial. kelembaban nisbi. Cara yang digunakan untuk pemberian suatu senyawa dapat mengubah toksisitas senyawa itu. Cara pemberian tertentu mungkin diperlukan oleh suatu senyawa. Pada spesies yang sama. Faktor lingkungan Beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi toksisitas akut antara lain adalah perkandangan hewan. udara. 3. temperatur. dan peroral. Jenis kelamin Perbedaan jenis kelamin mempengaruhi toksisitas akut yang disebabkan oleh pengaruh langsung dari kelenjar endokrin. 5. Semakin besar berat badan maka jumlah dosis yang diberikan semakin besar pula. subkutaneus. Cara pemberian Letal dosis dipengaruhi juga oleh cara pemberian. iklim. dan untuk menghindari terjadinya berbagai efek senyawa itu pada suatu organ.Perbedaaan sistem detoksikasi spesies menyebabkan perbedaan nilai LD50. tetapi ada perbedaan kuantitatif yang menonjol dalam kerentanan terutama pada tikus. Umur Hewan-hewan yang lebih muda memiliki kepekaan yang lebih tinggi terhadap obat karena enzim untuk biotransformasi masih kurang dan fungsi ginjal belum sempurna. Berat badan Penentuan dosis dalam pengujian toksisitas akut dapat didasarkan pada berat badan. 2.

Grafik dibuat dengan log konsentrasi sebagai sumbu x terhadap mortalitas sebagai sumbu y. Nilai LC50 diperoleh dengan cara terlebih dahulu dilakukan penghitungan mortalitas dengan cara menghitung akumulasi mati dibagi jumlah akumulasi hidup dan mati (total) dikali 100%. Hewan yang tidak sehat dapat memberikan nilai LD50 yang berbeda dibandingkan dengan nilai LD50 yang didapatkan dari hewan percobaan yang sehat. Diet Komposisi makanan hewan percobaan dapat mempengaruhi nilai LD 50. Nilai LC50 merupakan konsentrasi dimana zat menyebabkan kematian 50% yang diperoleh dengan memakai persamaan regresi linier y = a + . nilai LD 50 untuk kebanyakan bahan kimia hanya sedikit dipengaruhi oleh faktor lingkungan ini. Penentuan LC50 dengan derajat kepercayaan 95% dilakukan dengan pengolahan data mortalitas menggunakan analisis probit.serta perbedaan siang dan malam. Dosis respons dinyatakan dengan suatu indek Lethal Dose (LD50) dan Lethal Concentration (LC50). OSHA (Occupational Safety and Health Administration) secara lebih spesifik mendefiniskan LD50 dan LC50 sebagai berikut LD50 merupakan dosis mematikan yang diekspresikan dalam mg/kg massa. 1986). Defisiensi zat makanan tertentu dapat mempengaruhi nilai LD50. Kesehatan hewan percobaan Status hewan percobaan dapat memberikan respon yang berbeda terhadap suatu toksikan. 8. Meskipun demikian. Malnutrisi dan infestasi parasit juga dapat mempengaruhi nilai LD50. yang dapat menyebabkan kematian hewan uji sebanyak 50%. Kesehatan hewan percobaan sangat dipengaruhi oleh kondisi hewan dan lingkungan. LD50 adalah dosis tunggal dari suatu zat yang secara statistik diharapkan dapat menyebabkan kematian sebanyak 50% dari binatang percobaan selama 14 hari paparan. artinya pada konsentrasi 124 ppm 50% dari binatang percobaan mati selama masa percobaan 14 hari. Komposisi makanan akan mempengaruhi status kesehatan hewan percobaan. Contoh LD50 dari Acrylamid adalah 124 ppm. sedangkan LC50 merupakan konsentrasi mematikan yang ditunjukkan dalam mg/L atau ml/m 3 yang dapat meneyabbkan kematian sebanyak 50% hewan uji selama 14 hari (Ariens. 7.

Mencit betina ataupun jantan dapat dikawinkan pada umur 8 minggu.) termasuk mamalia pengerat (rodensia) yang cepat berkembang biak. Menurut Meyer dkk. 2010). berwarna putih serta memiliki siklus estrus teratur yaitu 4-5 hari. Berdasarkan hasil perkawinan sampai generasi 20 akan dihasilkan strain-strain murni dari mencit. mudah dipelihara dalam jumlah banyak. LC50 : 30-200 ppm ekstrak berpotensi sebagai antimikroba. senyawa uji dikatakan toksik jika harga LC 50 lebih kecil dari 1000 μg/mL. Suatu zat dikatakan aktif atau toksik bila nilai LC 50 < 1000 µg/ml untuk ektrak dan < 30 µg/ml untuk suatu senyawa (Juniarti dkk. (1982).bx. Menurut Akbar (2010). Masa reproduksi mencit betina berlangsung 1. dan jauh dari kebisingan. Klasifikasinya adalah sebagai berikut : Kingdom : Animalia Phylum : Chordata Sub phylum : Vertebrata Class : Mammalia Ordo : Rodentia Sub ordo : Myoimorphia Family : Muridae Genus : Mus Species : Mus musculus Mencit (Mus musculus L. Kondisi ruang untuk pemeliharaan mencit (Mus musculus L. mencit (Mus musculus L.) memiliki ciri-ciri berupa bentuk tubuh kecil. kering. Mencit yang sering digunakan dalam penelitian di laboratorium merupakan hasil perkawinan tikus putih “inbreed” maupun “outbreed”. Suhu ruang pemeliharaan juga harus dijaga kisarannya antara 18-19ºC serta kelembaban udara antara 30-70% (Akbar. Lama hidupnya 1-2 tahun atau dapat mencapai 3 tahun. 2009). Lama kebuntingan 19-20 hari dengan jumlah . LC50 : 200-1000 ppm ekstrak berpotensi sebagai pestisida. Penentuan potensi bioaktif dilakukan dengan membandingkan nilai LC50 masing-masing ekstrak dengan ketentuan LC50 < 30 ppm ekstrak berpotensi sebagai antikanker (sitotoksik).) harus senantiasa bersih. variasi genetiknya cukup besar serta sifat anatomisnya dan fisiologisnya terkarakteristik dengan baik. Mencit betina dewasa dengan umur 35-60 hari memiliki berat badan 18-35 gram..5 tahun.

5-1.anak mencit rata-rata 6-15 ekor dengan berat lahir antara 0. daur estrusnya teratur dan dapat dideteksi. Mencit sering digunakan dalam penelitian dengan pertimbangan hewan tersebut memiliki beberapa keuntungan yaitu siklus hidupnya relatif pendek. periode kebuntingannya relatif singkat. 1992). 2004). Alkohol primer ini biasanya digunakan sebagai pelarut industri dan pembersih (Parthasarathy dkk. Kesalahan dalam cara memegangnya akan dapat menyebabkan kecelakaan atau hips ataupun rasa sakit bagi hewan dan juga kesulitan bagi orang yang memegangnya (Sulaksono. dan menunjukkan waktu paruh metabolisme berbagai bahan aktif yang tidak terlalu lama untuk dapat diamati.5 gram (Akbar. gangguan . Mencit secara khusus juga dipilih sebagai hewan uji dalam pengujian toksisitas akut karena ukurannya kecil sehingga mudah dilakukan handling. keadaan fisik (besar atau kecil). Aspartame merupakan senyawa yang digunakan sebagai pemanis buatan yang dapat membentuk methanol ketika kelompok metil dari aspartame bereaksi dengan enzim chymotrypsin dalam usus halus. 2006). Pengelolaan hewan percobaan secara keseluruhan dapat dilakukan melalui cara memegang hewan serta cara penentuan jenis kelaminnya yang juga perlu diketahui. variasi sifat-sifatnya tinggi. mudah dipelihara di laboratorium. Menelan methanol dengan sengaja ataupun tidak dapat menyebabkan metabolisme asidosis yang parah dan gangguan klinis seperti kebutaan (methanol tersekresi melalui kelenjar air mata). Keuntungan lainnya adalah sebagai sesama mamalia. pemberian materi mudah dilakukan dengan berbagai rute. Cara memegang hewan dari masing-masing jenis hewan berbeda-beda yang ditentukan oleh sifat hewan. 2010). dan mempunyai anak yang banyak serta terdapat keselarasan pertumbuhan dengan kondisi manusia (Akbar. serta tujuannya. Pemberian obat oral Kerugian Kelebihan Methanol adalah cairan tidak berwarna. fisiologi mencit diperkirakan sesuai atau identik dengan manusia (Kusumawati. 2010)..

Hasil yang diperoleh dari percobaan LC50 dapat dilihat pada Tabel 1. 2006). Hasil Jumlah Mencit yang Mati Konsentrasi Methanol Pengamatan 1 jam Pengamatan 24 jam Jumlah 100% 9 1 10 80% 5 4 9 60% 2 4 6 40% 2 3 5 20% 3 0 3 . yang mungkin terlibat dalam peroksidasi lemak (Parthasarathy dkk. dan bengkok. Peralatan yang digunakan jangan sampai terkontaminasi selain bahan uji. pembedahan hewan uji merupakan salah satu rangkaian dari penelitian in vivo yang menggunakan hewan seperti tikus. logbook. Pada pelaksanaanya. Tabel 1. Menurut Ridwan (2013). Gunting bedah dapat berbentuk lurus panjang. glove. mencit.. 2013). Pembedahan dimulai dari bagian perut ataupun uterus menggunakan gunting bengkok. 5. 4. Mencit selanjutnya diposisikan pada papan bedah dengan menggunakan pins. 2. Agar lebih akurat.. kelinci maupun jenis hewan lain. yang digunakan untuk memudahkan membedah dan memegang mencit. Perlakuan yang pada umumnya dilakukan sebelum pemberian materi uji adalah hewan dipuasakan selama 3-4 jam dengan tujuan menyeragamkan bobot mencit. Papan bedah. lurus pendek. berguna untuk memfiksasi mencit yang akan dibedah. Pins. Proses ini disertasi dengan elevasi tingkat NADH dan pembentukan anion superoksida. 3. Mencit harus dibedah agar dapat dilihat kondisi organ dalamnya (Rasyid dkk. organ juga dapat dikeluarkan dan dipisahkan (Ridwan. merupakan tempat fiksasi mencit yang akan dibedah.syaraf serius. Perlatan pendukung seperti kamera. Methanol menjadi semakin diakui sebagai zat yang merusak sel-sel hati dimana ia teroksidasi menjadi formaldehida dan kemudian menjadi format. perlu persiapan agar pekerjaan lebih lancar dan perlakuan yang dilakukan tidak mempengaruhi hasil penelitian. Peralatan bedah yang perlu disiapkan sebelum pembedahan antara lain: 1. jas lab. dan masker Teknik yang perlu diperhatikan dalam pembedahan adalah mencit harus dalam keadaan mati. Organ dalam diamati. 2012). dan kematian. Hewan uji yang digunakan yaitu mencit yang berbadan sehat. Pinset.

dan 5 ekor. 80%. 9. jumlah mencit yang mati sebagai response frequency dan jumlah mencit sebagai total observed. diketahui bahwa pemberian methanol dengan konsentrasi 100%. pembengkakan lambung. dan 40%) adalah 10. Hasil tersebut SESUAI/TIDAK SESUAI DENGAN TEORI Data mortalitas tersebut selanjutnya dianalisis dengan menggunakan software SPSS PASW Statistics 18 melalui input tiga jenis variabel berupa data konsentrasi sebagai covariates. Lambung. Perubahan yang terjadi dapat diamati pada Gambar 1. Berdasarkan hasil pembedahan..10% 5% 0 0 0 4 0 4 Berdasarkan hasil pengamatan. serta bagian usus mengalami lisis dan perubahan warna menjadi hitam. 60%. diketahui bahwa pada mencit yang dicekok dengan methanol konsentrasi 100% mengalami pembengkakan pada bagian hati dengan perubahan warna menjadi hitam. dan Usus Antara Mencit yang Tidak Diberi Perlakuan (Kiri) dan Mencit yang Diberi Perlakuan (Kanan) (Sumber : dokumen pribadi. 2015) . serta dilakukan analisis statistik berupa regresi probit menggunakan transformasi log base 10 sehingga diperoleh output berupa tabel confidence limit yang dapat digunakan untuk menentukan nilai LC50. dan 40% terjadi kematian baik pada pengamatan 1 jam maupun pada pengamatan 24 jam dengan jumlah kematian mencit secara berturut-turut (dari konsentrasi 100%. Pada pemberian methanol dengan konsentrasi 20% ditemukan adanya kematian 3 ekor mencit pasca pengamatan 1 jam dan tidak lagi terjadi kematian mencit pada pengamatan 24 jam sehingga jumlah total mencit yang mati adalah 3 ekor. Pada pemberian methanol dengan konsentrasi 10% tidak terjadi kematian pada mencit baik pada pengamatan 1 jam dan 24 jam. Berdasarkan tabel tersebut. dapat diamati bahwa kemungkinan kematian 50% hewan coba terjadi melalui ………………. Gambar 1. sedangkan pada pemberian methanol dengan konsentrasi 5% tidak diperoleh kematian mencit pada pengamatan 1 jam tetapi pada pengamatan 24 jam terjadi kematian mencit sebanyak 4 ekor sehingga jumlah total mencit yang mati adalah 4 ekor. 6. Perbedaan Kondisi Organ Hati. 80%. 60%.

.

IV. KESIMPULAN .

Kandungan Senyawa Kimia. S. J. N.and Polyfluorinated Chemicals on Rat and Mouse. Yogyakarta. Brine Shrimp : a Convinient General Bioassay for Active Plant Constituent. 2012. Majalah Farmasi dan Farmakologi 16(1):13-20. Plant Medica. Gadjah Mada University Press. 2013. Adabia Press. J. D. Juniarti. Toksikologi Umum Pengantar. Research and Development Pt Royal Medicalink Pharmalab. 13(1): 50-54. dan McLaughlin. Harmita. Gadjah Mada University Press. Parthasarathy. Bhhatarai. J. Kusumawati. A. Ariens. Nigella Sativa. Putman. . E. Ibrahim. Ridwan.. Oral LD50 Toxicity Modeling and Prediction of Per. Etika Pemanfaatan Hewan Perobaan dalam Penelitian Kesehatan. 2012.. J Occup Health 48(1): 20-27. E. B. B. IPB.. R. E. Bahan Kuliah Toksikologi. Mol Divers 15(1): 467-476. J.. Jakarta. Makara Sains. Nicols.DAFTAR PUSTAKA Akbar. E. 2011. E. Methanol-induced Oxidative Stress in Rat Lymphoid Organs. Meyer.. M. dan Yuhernita.. 1982. Manikandan. Yogyakarta. dan Gramatica. Fakultas Kedokteran Hewan IPB.. Ferrigni. B..1-diphenyl-2pikrilhydrazyl) dari Ekstrak Daun Saga. D. R. Anwar. Manggung. Y. New York. Rasyid. Pengujian Toksisitas Akut Lethal Dose (LD 50) Ekstrak Etanol Buah Belimbing (Averrhoa bilimbi L. R.) pada Mencit. 2010.) pada Mencit (Mus musculus albinus). Analisis Uji Hayati Toksisitas secara Mikrobiologi. S. N. S. N. Bersahabat dengan Hewan Coba. 2009. 2008. D.. L. Bogor. Usmar. 2004. dan Subehan. 1986. 2006. Kumar. Kleinhovia Hospita. B. Osmeli. Uji Lethal Dose 50% (LD-50) Poliherbal (Curcuma Xanthorriza. Arcangelisia Flava dan Ophiocephalus Striatus) Pada Heparmin Terhadap Mencit (Mus Musculus). Jurnal Indon Med Assoc 63(3):112-116. dan Ihsani. Bogor. Uji Toksisitas Akut Ekstrak Atanol Lempuyang Wangi (Zingiber aromaticum Val. Jacsben. M. L. 2009... R. dan Devi. Uji Toksisitas (Brine Shrimp Lethality Test) dan Antioksidan (1.. R. Tumbuhan dengan Kandungan Senyawa Aktif yang Berpotensi sebagai Bahan Antifertilitas. N.

setelah di beri perlakuan methanol 0. 2015) Gambar 3. 2015) .Sulaksono. LAMPIRAN Gambar 2. Sebelum pembedahan.5 ml denagn konsentrasi 100 % (Sumber : dokumen pribadi. E. Mencit (Mus musculus) yang digunakan sebagai kontrol (Sumber : dokumen pribadi. Jakarta. 1992. Biomedis. M. Faktor Keturunan dan Lingkungan Menentukan Karakteristik Hewan Percobaan dan Hasil Suatu Percobaan.

Mencit (Mus musculus) yang sudah diberi perlakuan methanol 0. 2015) .Gambar 4.5 ml dengan konsentrasi 100 % (Sumber : dokumen pribadi.