Anda di halaman 1dari 27

REFERAT

PARTOGRAM

Disusun oleh:
Nico Michael Muliawan
11.2014.211

Pembimbing:
dr. Rachmat Sobarna, SpOG

KEPANITERAAN KLINIK ILMU OBSTETRI GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
RUMAH SAKIT RAJAWALI, BANDUNG

BAB I
PENDAHULUAN

Tingginya kasus kesakitan dan kematian ibu di banyak negara
berkembang, terutama disebabkan oleh perdarahan, eklampsia, sepsis dan
komplikasi keguguran. Sebagian besar penyebab utama kesakitan dan kematian
ibu sebenarnya dapat dicegah. Hal ini dilakukan melalui upaya pencegahan yang
efektif, beberapa negara berkembang dan hampir semua negara maju, berhasil
menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu ke tingkat yang sangat rendah.1
Fokus asuhan persalinan normal adalah persalinan bersih dan aman serta
mencegah terjadinya komplikasi. Hal ini merupakan pergeseran paradigma dari
menunggu terjadinya dan kemudian menangani komplikasi menjadi pencegahan
komplikasi. Adanya pergeseran paradigma yang baru ini, terbukti mampu
mengurangi kesakitan atau kematian ibu dan bayi baru lahir. 1
Partus lama bisa disebabkan oleh adanya his yang tidak kuat, faktor janin
dan faktor jalan lahir. Untuk mencegah partus lama, asuhan persalinan normal
mengandalkan penggunaan partograf untuk memantau kondisi ibu dan janin serta
kemajuan proses persalinan. 2
Deteksi pada setiap kemajuan persalinan abnormal, dan pencegahan partus
lama, secara bermakna dapat menurunkan risiko terjadinya partus lama,
perdarahan pascapersalinan dengan segala komplikasinya. Untuk menurunkan
risiko terjadinya partus lama diusahakan supaya berjalan senormal mungkin. 1
Partograf sebagai rekam grafik dan catatan medik kemajuan persalinan sudah
lama dikenal. Partograf sebagai rekaman atau catatan kemajuan persalinan, dapat
berfungsi sebagai pendeteksi kemajuan persalinan abnormal, sehingga penolong
persalinan dapat dengan segera menentukan sikap terhadap kelainan persalinan
tersebut.2,3,4,5,6.
Oleh karena itu maka dibutuhkan pengetahuan dan pengalaman yang cukup
untuk dapat mengisi partograf dalam setiap kehamilan. Maka dari itu penulis
ingin membahas tentang partograf.

Friedman melakukan penelitian pada sejumlah besar ibu di Amerika Serikat dan menghasilkan pola pembukaan serviks normal.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. kemudian menciptakan sebuah normogram pembukaan serviks untuk populasi tersebut yang mampu mengidentifikasi penyimpangan dari keadaan normal yang dapat dipertanggungjawabkann secara ilmiah untuk melakukan suatu tindakan . selain itu tidak ditemukan fase deselerasi pada akhir kala I persalinan. Friedman membagi persalinan secara fungsional menjadi dua. kecepatan pembukaan pada primigravida dan multipara hampir tidak berbeda. yang dikuti dengan fase aktif yang ditandai dengan akselerasi dari pembukaan 3-10 cm dan berakhir dengan fase deselerasi.1.5.1. Philpott meneliti secara ekstensif pasien primigravida yang berada di Afrika Tengah dan Selatan. Kurva Freidman Tahun 1969 Hendriks mendemonstrasikan bahwa pada fase aktif persalinan normal. yaitu fase laten yang berlangsung selama 8-10 jam sampai pembukaan 3 cm.9 Gambar 2. Sedangkan pada tahun 1972. Sejarah Pada tahun 1954. 3.

berdasarkan prinsip-prinsip berikut : - fase aktif persalinan dimulai pada pembukaan > 3 cm - fase laten persalinan harus berlangsung < 8 jam - pada fase aktif.8. kecepatan pembukaan tidak boleh lebih lambat dari 1 cm/jam - tidak melakukan pemeriksaan dalam yang terlalu sering (sebaiknya setiap 4 jam) - menggunakan partograf yang sudah ada garis waspada dan garis tindakannya Partograf yang biasanya digunakan pada negara berkembang tersebut.sebagai usaha pencegahan persalinan lama dengan segala akibatnya. kemudian mengalami modifikasi pada tahun 1994 sebagai usaha memperoleh penanganan obstetri yang lebih optimal.5.7. berisi tentang partograf model WHO yang telah diuji cobakan pada beberapa negara dan dibuat secara sederhana berdasarkan penelitian dari semua karya partograf yang telah dipublikasikan.9 . Sejak saat itu banyak penulis mengembangkan normogram serupa di berbagai tempat. Akan tetapi tidak satu pun menunjukkan perbedaan yang bermakna. 3. melainkan langsung pada pencatatan fase aktif persalinan yang dimulai pada pembukaan 4 cm.9 Pada tahun 1988 World Health Organization (WHO) menerbitkan sebuah buku petunjuk berjudul The Partograf: A managerial tool for Prevention of prolonged labour. Modifikasi partograf terlihat dengan tidak tercantumnya fase laten pada grafik pencatatan.5. Pencatatan fast laten dilakukan pada lembar data antenatal dan setiap pencatatan diharapkan menggunakan tinta berwarna hitam. 3.

.

Partograf WHO .2.Gambar 2.

Partograf Modifikasi WHO .3.Gambar 2.

7 Partograf dirancang untuk dipakai pada berbagai tingkat pelayanan kebidanan dengan berbagai fungsi yang berbeda.1 Definisi Partograf adalah alat pencatatan persalinan. frekuensi min. Sedangkan di rumah sakit.6.2x/10’. sehingga harus segera dirujuk ke rumah sakit (fungsi garis waspada). lamanya<20".1x/10’. janin dan seluruh proses persalinan. Di Puskesmas fungsi utamanya adalah memberikan peringatan awal bahwa persalinan akan berlangsung lama.2. his teratur.2. bila persalinan dimulai his : . fase laten (pembukaan < 3 cm).2.2. Partograf WHO 2.2.2 Syarat pengisian partograf  Partograf mulai diisi bila o Mereka yang masuk dalam persalinan : 1. sehingga menjadi partus abnormal dan memerlukan tindakan bantuan lain untuk menyelesaikan persalinan. 2. fase aktif (pembukaan >3cm). Gambaran partograf dinyatakan dengan garis tiap parameter (vertikal) terhadap garis perjalanan waktu (horisontal). frekuensi min. dan bila melewati garis tindakan harus segera melakukan tindakan. bila infus oksitosin dimulai 2.5. lamanya<20". his teratur. o Masuk dengan ketuban pecah spontan tanpa adanya 1.2.6.10 2. Partograf merupakan lembaran form dengan berbagai grafik dan kode yang menggambarkan berbagai parameter untuk menilai kemajuan persalinan. untuk menilai keadaan ibu. Partograf digunakan untuk mendeteksi jika ada penyimpangan / masalah dari persalinan. bergesernya grafik pembukaan ke sebelah kanan garis waspada mengingatkan penolong untuk meningkatkan kewaspadaan.

akan dilakukan seksio sesar elektif maupun darurat. Sebelah kanan garis waspada: akselerasi dan terapi suportif dilakukan atas indikasi. Sebelah kiri garis waspada: akselerasi dan terapi suportif dilakukan bila ada indikasi. Partograf tidak dibuat pada partus prematurus (Usia kehamilan kurang dari 34 minggu). pengosongan kandung. 2. pemecahan ketuban (amniotomi) dengan atau tanpa infus oksitosin 2. Sebelah kanan garis bertindak: akselerasi dilakukan bila ada indikasi.o Masuk untuk induksi persalinan : 1. hidrasi adekuat yang terdiri dari glukosa dan elektrolit. dengan ketentuan penatalaksanaan sebagai berikut:  fase laten : tidak dilakukan akselerasi. bila persalinan dimulai atau induksi dimulai atau ketuban pecah. saat masuk rumah sakit dengan pembukaan > 9cm. terapi suportif (pemberian semangat).5 . sedangkan amniotomi haras dilakukan 3. sedangkan amniotomi boleh dilakukan atau tidak. 3.  fase aktif : 1. balon kateter atau pemberian prostaglandin) 3. terapi suportif dan amniotomi harus dilakukan.  Partograf tidak perlu diisi bila Pada pemakaian partograf WHO terdapat beberapa protokol yang harus diperhatikan. induksi medis (infus oksitosin.

5 1. Monitoring Pada Partograf 2. suhu 2. His B. yang terdiri dari 3 komponen A.9.4. sedangkan pasien risiko tinggi sebaiknya segera dirujuk ke rumah sakit.2.3. dan aseton 3. Pencatatan lembar depan Partograf yang.8. Urin: volume. Selaput ketuban dan air ketuban 3.2. Pemberian oksitosin Partograf dapat digunakan untuk setiap persalinan tanpa penyulit yang tidak memerlukan tindakan segera. 3. Molase C.1.2. Tanda vital: Nadi. Penurunan kepala 3.3. Rekaman dan catatan kemajuan persalinan 1. Jadi partograf dirancang untuk memantau penyimpangan dari keadaan normal yang timbul sewaktu persalinan berlangsung.5. Denyut jantung janin 2. dianjurkan oleh World Health Organization (WHO) pada dasarnya merupakan kurva yang menunjukkan hubungan antara pernbukaan serviks terhadap waktu.2. protein.3. Rekaman dan catatan tentang kondisi ibu 1. Di Puskesmas dapat dipakai untuk persalinan risiko rendah yang diharapkan akan berakhir dergan persalinan spontan pervaginam. 3. Rekaman dan catatan tentang kondisi janin 1. Pembukaan serviks uteri 2. Rekaman dan catatan tentang kemajuan persalinan Merupakan bagian terpenting yang memperlihatkan hubungan antara pembukaan serviks dengan waktu dan juga hubungan antara turunnya kepala dengan waktu. Pembukaan serviks .1.10 2. tekanan darah. Obat-obatan dan cairan infus 4.6.A.

8.8. tanda 'X' untuk pembukaan akan selalu terdapat pada garis waspada atau sebelah kirinya.9 Pembukaan diukur dalam satuan sentimeter (cm) dan dicatat dengan tanda 'X'. terutama pada multipara dimana pembukaan serviks lebih cepat dibandingkan dengan primipara. pencatatan dilakukan sesuai dengan partograf WHO. Periksa dalam selanjutnya dilakukan setiap 4 jam.4. Fase laten Fase laten persalinan dimulai sejak awal persalinan sampai pembukaan rnencapai 3 cm dengan penipisan bertahap dari serviks dan biasanya berlangsung tidak lebih dari 8 jam. sedangkan ibu yang ketika persalinan dalam fase laten dan beralih ke fase aktif. ibu yang masuk saat fase laten dicatat pada kolom kedua grafik pencatatan waktu pembukaan serviks partograf. 3.9 Pada persalinan yang sudah lanjut pemeriksaan dalam dilakukan lebih sering. sedangkan ibu yang masuk saat fase aktif. catatan pembukaan langsung dipindah dari daerah fase laten ke garis waspada. maka pembukaan sewaktu masuk langsung dicatat pada garis waspada. Periksa dalam pertama dilakukan sewaktu masuk kamar bersalin. persalinan akan cenderung mengalami kesulitan . Setiap kotaknya menunjukkan pembukaan 1 cm dan sepanjang sisi horisontal terdapat angka 0-24 yang setiap kotaknya menunjukkan waktu 1 jam. Pada persalinan yang normal. Dan kalau ibu masuk kamar bersalin dalam fase aktif. 3. yang juga mencakup pemeriksaan panggul.4. Pencatatan dilakukan pada grafik di bagian tengah partograf yang sepanjang sisi kirinya terdapat angka 0-10 pada setiap kotak. Kalau fase ini berlangsung lebih lama dari 8 jam dengan his 2 kali dalam 10 menit. kecuali bila pembukaan >7 cm atau ada indikasi lain seperti ibu ingin mengejan atau ketuban pecah dengan kecurigaan adanya tali pusat menumbung.5.5.9 Komponen grafik memusatkan perhatian pada pembukaan menurut waktu yang terbagi menjadi fase laten dan fase aktif. Pada partograf modifikasi WHO.Penilaian pembukaan serviks didapatkan dari hasil pemeriksaan dalam.8.3. yang pada partograf WHO dihubungkan oleh garis terputus-putus. a.4.5.

Fase aktif Fase aktif berlangsung dari 3-10 cm (pembukaan lengkap) dengan kecepatan 1 cm/jam bagi primi dan 2 cm/jam bagi multipara.4.kalau ibu bersalin di Puskesmas harus segera dirujuk ke rumah sakit. Pada persalinan yang berjalan lancar.7.8 2.5. . sedangkan bila ibu bersalin di rumah sakit pemeriksaan dan tindakan yang diambil harus dilakukan secermat mungkin. serta merencanakan tindakan tepat untuk mengatasinya. dan bila pembukaan melewati garis tindakan ibu harus diperiksa dengan cermat mengenai penyebab terhambatnya persalinan. 3. sesuai dengan kecepatan pembukaan pada fase ini. sedangkan persalinan yang berlangsung di rumah sakit memerlukan pengamatan yang cermat.8.5. Garis waspada digambar dari 3 cm sampai 10 cm menggambarkan kecepatan pembukaan.5.8.4. Pembukaan yang berpindah ke sebelah kanan garis waspada menunjukkan adanya hambatan dalam persalinan. Garis bertindak (action line) Berupa garis lurus yang sejajar dengan garis waspada dan berada 4 jam di sebelah kanan garis waspada.5.9 Pada fase ini terdapat 2 garis yaitu: 1.8. 3. dan bila persalinan berlangsung di Puskesmas harus segera melakukan rujukan ke rumah sakit.4.9 Dengan mencatat kecepatan pembukaan kita dapat menentukan apakah suatu persalinan akan berlangsung lama atau segera memerlukan tindakan. Garis waspada (alert line) Garis lurus dari pembukaan 3 cm sampai dengan 10 cm. pembukaan akan selalu berada di garis atau di sebelah kiri garis bertindak. 3.4. Apabila pembukaan serviks bergeser ke kanan garis waspada berarti proses kemajuan persalinan melambat. 3. sehingga harus dipikirkan kemungkinan untuk melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan.9 b.

3.8 Gambar 2.4. Penurunan kepala dari pintu atas panggul (PAP) Turunnya kepala janin harus selalu diperiksa dengan pemeriksaan perut ibu sesaat sebelum dilakukan pemeriksaan dalam. 3. . dimana lebar jari tangan pemeriksa menjadi ukuran turun kepala janin ke PAP.9 2.5. Dengan partograf suatu persalinan lama atau tidak maju dapat dikenali secara dini.4.8. Penurunan kepala janin Pada persalinan yang lancar.5. sehingga komplikasi lain seperti perdarahan dan infeksi dapat dicegah. Kepala engaged bila kepala janin di atas PAP hanya dapat dirasakan oleh 2 jari atau kurang.7. Penurunan kepala janin diperiksa dengan pemeriksaan luar perut ibu berdasarkan perlimaan di atas PAP (pintu atas panggul). Cara periksa ini ternyata lebih dapat dipercaya daripada periksa dalam. karena seringkali sudah terdapat kaput suksedaneum sehingga yang diraba pada pemeriksaan dalam adalah turunnya kulit kepala janin. 2.4. dan harus dilakukan sebelum pemeriksaan dalam.Persalinan yang lama atau tidak maju dapat disebabkan oleh disproporsi kepala panggul.6. yang kemudian dapat berlanjut menjadi ruptura uteri dan kematian janin. bertambahnya pembukaan akan disertai dengan turunnya kepala janin yang membantu menentukan kemajuan persalinan.

Penurunan kepala ditandai dengan tanda '0' pada graft pembukaan. dan semakin kuat. Penurunan kepala pada pemeriksaan luar Pada sisi kiri grafik pembukaan serviks terdapat kata 'penurunan kepala' dengan garis lurus dari 5 ke 0.Gambar 2.8.5. 3. Pengamatan his dilakukan setiap jam dalarn fase laten dan setiap setengah jam dalarn fase aktif.5.9 3. dengan mengamati frekuensi (jumlah his/10 menit) dan lamanya (detik) dari permulaan his terasa pada palpasi perut sampai hilang. semakin lama. His dicatat pada partograf di bawah garis waktu . His Pada persalinan normal his semakin lama akan semakin sering .4.

B. yaitu pada 5 kotak kosong melintang sepanjang partograf yang sisi kirinya tertulis 'his/10 menit'. dengarkan setiap 15 menit selama 1 menit segera setelah his selesai.9 . Frekuensi bunyi jantung janin Mengamati bunyi jantung janin merupakan pemeriksaan klinik yang aman dan dapat dipercaya untuk mengetahui kesejahteraan janin.1. Garis 120 dan 160 ditebalkan untuk mengingatkan tentang batas-batas normal bunyi jantung janin.  Bunyi jantung janin 100 kali/menit atau kurang. Satu kotak menggambarkan satu his. serta hidrasi yang adekuat.4. Berikut cara dan contoh pencatatan his : Keterangan : <20’: 20’ . dan bila ada 2 his dalam 10 menit. tidur miring ke kiri.sesuai dengan penulisan waktu pada partograf. Bunyi jantung janin dikatakan abnormal bila:  Bunyi >160 kali/menit (takikardi) dan <120 ka1i/menit (bradikardi) Keadaan ini dapat merupakan indikasi adanya gawat janin. maka ada 2 kotak yang diarsir. Waktu terbaik untuk mendengarkan bunyi jantung janin adalah segera setelah fase terkuat his lewat. 3. pemberian oksigen. Rekaman dan catatan mengenai keadaan janin 1. Tindakan tersebut dapat berupa penghentian oksitosin bila sedang dalam pemberian.5. dan didengarkan selama 1 menit. menunjukkan adanya gawat janin berat dan harus segera diterminasi.3. Kalau terdengar bunyi jantung janin yung abnormal. pemeriksaan dalam untuk menyingkirkan kemungkinan tali pusat menumbung. Bunyi jantung janin dicatat pada bagian atas partograf setiap setengah jam dan satu kotak menggambarkan setengah jam.40’: >40’: 2. tindakan harus segera diambil kecuali kalau persalinan sudah sangat dekat.8. Dan bila bunyi jantung janin tetap abnormal dalam 3 kali pengamatan.2.

dicatat `J' - air ketuban diwarnai mekonium.8 . Keadaan air ketuban dapat rnembantu menentukan keadaan janin. Nadi.8 3.C.4. dengan pengamatan yang harus dicatat di bagian bawah pencatatan bunyi jantung janin pada partograf berupa:  selaput ketuban utuh. Pencatatan dibuat di bawah catatan keadaan air ketuban dengan tanda sebagai berikut: 0 : tulang kepala teraba terpisah satu sama lain dan sutura mudah teraba + : tulang-tulang kepala saling menyentuh satu sama lain ++ : tulang-tulang kepala saling tumpang tindih +++ : tulang-tulang kepala saling tumpang tindih berat. dicatat 'A' (absen) atau ‘K’ (kering) - air ketuban bercampur darah. 1. Rekaman dan catatan mengenai keadaan ibu Dicatat pada bagian akhir partograf halaman pertama. dicatat `M' atau Hijau ‘H’ - tidak ada air ketuban. dan suhu 3. Moulage kepala -janin Moulage kadang-kadang sulit diketahui dengan adanya kaput suksedaneurn yang besar. Selaput dan air ketuban. 3.5.2. dicatat 'U'  selaput ketuban sudah pecah: - air ketuban jernih. tensi.5.1.4. dan bila didapatkan mekonium kental maupun air ketuban yang sudah pecah atau dipecahkan maka pencatatan bunyi jantung janin harus lebih sering dilakukan karena hal itu dapat merupakan tanda gawat janin. dicatat `D' Pengamatan ini dilakukan pada setiap pemeriksaan dalam. 2.3.2. oleh karena itu moulage yang hebat dengan kepala janin jauh di atas pintu atas panggul merupakan petunjuk adanya disproporsi kepala panggul pada ibu.

setiap 4 jam atau lebih sering.nadi . 2. Pencataan lembar belakang Halaman belakang partograf disebut juga catatan persalinan karena merupakan bagian untuk mencatat hal-hal yang terjadi selama proses persalinan dan tindakan-tindakan yang dilakukan sejak persalinan kala I hingga kala IV. terutama pada kala IV untuk rnembantu mencegah terjadinya perdarahan pascapersalinan. Lembar belakang ini terdiri dari: .5. Obat-obatan dan cairan intravena Dicatat dalam kolom di bawah his 4. tergantung indikasi diberi tanda suhu . aseton protein atau aseton dalam urin volume . 3.4.setiap setengah jam di beri tanda () tensi . Pemberian oksitosin Di atas kolom pencatatan cairan iv berdasurkan waktu pemberian. selain juga memantau penatalaksanaan persalinan yang sudah diberikan.9 2.3.2.ibu dianjurkan kencing setiap 2-4 jam 3. tergantung indikasi.8. Pencatatan ini sangat penting dalam membuat keputusan klinik. 4 Cara pengisian lembar belakang yang diisi setelah seluruh proses persalinan selesai sangat berbeda dengan bagian depan yang harus diisi pada setiap akhir pemeriksaan.setiap 2 jam atau lebih sering. termasuk keadaan bayi baru lahir. protein. Urin: volume.2.

.

A. 6.2.2. Partograf halaman belakang (Indonesia) 2.Gambar 2.3. Data dasar .

4 2.C.2. penatalaksanaan. jenis tindakan yang telah dilakukan harus ditulis. Kala III Terdiri dari lama kala III. Pertanyaan nomor l4 bisa lebih dari satu jawaban.3. Kala I Berisi pertanyaan-pertanyaan tentang partograf saat melewati garis waspada. 4 2. pendamping persalinan.2. dan untuk nomor 15 dan 16 jika jawaban "ya".B. penatalaksanaan.Mulai dari tanggal persalinan berlangsung hingga pendamping pada saat merujuk..2. distosia bahu. dan hasilnya. penegangan tali pusat terkendali.D. 2.2. plasenta tidak lahir dalam waktu lebih dari 30 menit. sedangkan untuk pertanyaan nomor 13 jika jawaban "ya". dan hasil dari penatalaksanaan tersebut. Kala II Kala II terdiri dari episiotomi. 4 2. Untuk pertanyaan nomor 5 jawaban yang sesuai dilingkari.E. masalah-masalah yang dihadapi.2. atonia uteri. Data diisi pada masing-masing tempat yang telah disediakan atau dengan memberi tanda di samping jawaban yang sesuai.3. masalah penyerta.3. masalah penyerta. jumlah perdarahan. pemberian oksitosin.2. sedangkan pertanyaan nomor 8 bisa lebilh dari satu jawaban.2. dan hasilnya. Di samping jawaban yang sesuai diberi tanda "√”. 4 2. gawat janin... maka indikasinya harus ditulis.3. Bayi baru lahir . Jawaban diisi sesuai dengan tempat yang telah disediakan. pemijatan fundus. plasenta lahir lengkap. laserasi. penatalaksanaan.

keadaan janin. ataupun kontraindikasi oksitosin. bila dalam 8 jam (2 kali periksa dalam) belum masuk fase aktif atau fase aktif dicapai dalarn waktu 8 jam tetapi kemajuan persalinan kurang dari 1 cm/jam atau adanya gawat janin. sangat penting untuk menilai terdapatnya risiko terjadinya perdarahan pascapersalinan. masalah penyerta. maka partograf dibatalkan dan ibu boleh pulang.4 2. Untuk pertanyaan nomor 36 dan 37. Pengisian dilakukan setiap 15 menit pada 1 jam pertama setelah melahirkan dan setiap 30 menit pada satu jam berikutnya pada kolom yang tersedia. serta pemeriksaan dalam tiap 4 jam sampai 12 jam.Berisi informasi mengenai berat dan panjang lahir. nadi. Pencatatan kemajuan persalinan abnormal 1. maka kemajuan persalinannya dianggap abnormal dan harus segera dirujuk ke rumah sakit untuk tindakan selanjutnya. dan perdarahan. penilaian kondisi bayi.4.F. dan bila persalinan belum dimulai. Kala IV Pamantauan kala IV yang terdiri dari tekanan darah.2.2.7 .3.3. disproporsi kepala panggul. kontraksi uterus. tinggi fundus. penatalaksanaan terpilih. dimana his kurang dari 2 kali dalam 10 menit dengan lama kurang dari 20 detik. Jawaban diisi pada tempat yang disediakan dan diberi tanda di samping jawaban yang sesuai. Fase laten lama Jika seorang ibu hamil masuk kamar bersalin dalam fase laten (pembukaan kurang dari 3 cm) dengan waktu lebih dari 20 jam pada primi dan 14 jam pada multi..2.5. pemberian ASI. dengan catatan bagian yang dihitamkan tidak usah diisi. sedangkan jawaban nomor 38 bisa lebih dari 1. Kemajuan persalinan. dipertimbangkan untuk melakukan terminasi dengan cara seksio sesar. kandung kemih (kosong/isi). Pilihan lain adalah akselerasi persalinan dengan amniotomi dan pemberian oksitosin.2. dan hasilnya. jenis kelamin. jawaban yang sesuai dilingkari. suhu. Hal ini yang menyebabkan dibuatnya garis tebal pada jam ke-8 dari fase laten dini pada partograf. maupun ibu harus dicatat secara lengkap.4 2.

9 3. 2 jam kemudian. kecuali jika pembukaan hampir lengkap. Evaluasi medis dilakukan secara lengkap. maka . penurunan kepala. Pindah ke sebelah kanan garis waspada Dalam persalinan fase aktif catatan pembukaan biasanya akan menetap di garis waspada atau sedikit bergeser ke sebelah kirinya. molase kepala. yang disertai dengan terapi suportif. Sedangkan di rumah sakit dengan fasilitas kebidanan dapat dilakukan pemeriksaan ulang persalinan secara cermat dan keputusan diambil untuk penanganan selanjutnya. obat maupun cairan yang diberikan. dan pengosongan kandung kemih. dan 2 jam setelahnya. atau akselerasi dengan pemberian oksitosin. tetapi bila kepala janin masih tinggi walaupun his baik dan pembukaan memuaskan. mulai dari his. Pembukaan mencapai garis bertindak atau di luar garis bertindak Tindakan aktif diambil setelah menunggu selama 4 jam. Pilihan lain dapat berupa : . dengan melakukan pemeriksaan dalam setelah 3 jam. oleh karena itu garis tindakan berada 4 jam di sebelah kanan garis waspada Kalau persalinan mencapai garis tindakan.Mengakhiri persalinan dengan seksio sesar bila terdapat tanda gawat janin. disproporsi kepala panggul. ataupun kontraindikasi pemakaian oksitosin . keadaan air ketuban . bunyi jantung janin.2. keputusan untuk mengakhiri persalinan harus diambil karena persalinan akan berlangsung lama dan pada akhirnya akan memerlukan tindakan juga. Keputusan dan tindakan ini harus diambil di rumah sakit yang memiliki fasilitas memadai untuk menangani penyulit persalinan. ibu harus tetap dirujuk ke rumah sakit. 5.Penatalaksanaan konservatif dengan terapi suportif dan analgetika bila keadaan ibu maupun his baik. selain pemeriksaan bunyi jantung janin setiap 30 menit. dan bila bergeser ke sebelah kanan melewati garis waspada menunjukkan persalinan berlangsung lama dan perlu segera dirujuk ke rumah sakit. Bila tidak terdapat kemajuan dari salah satu pemeriksaan tersebut. pemberian analgetika/sedativa. keadaan umum ibu.

sedangkan pada persalinan bekas seksio sesar.5. Pada pasien dengan his yang kurang efisien dapat dilakukan hidrasi secukupnya dan dilanjutkan dengan analgesi.persalinan diterminasi dengan seksio sesaria.7 Pada persalinan presentasi bokong atau kehamilan ganda. dan pemanjangan fase laten (lebih dari 8 jam) maupun pemantauan yang mencapai atau di luar dari garis bertindak memerlukan tindakan seksio sesar kembali. uterotonika tidak boleh diberikan. pemberian oksitosin baru boleh dilakukan saat berada di sebelah kanan garis waspada. dan bila terjadi hipertonia uterus ataupun tanda gawat janin maka infus oksitosin harus dikurangi atau dihentikan sama sekali. Kemudian tetesan dipertahankan dengan mencatat dosis serta kecepatan pemberian pada partograf. Sebelum memulai infus oksitosin dilakukan pemecahan ketuban kalau selaput ketuban masih utuh. Pemberian infus oksitosin adalah dengan cara drip yang ditingkatkan setiap setengah jam sampai tercapai his yang optimal. Selain itu dilakukan pemantauan dari kemajuan persalinan. dan ketuban yang sudah pecah lebih dari 6 jam dengan persalinan .3. 5 Pencatatan partograf pada pasien dengan selaput ketuban yang sudah pecah dimulai saat pasien mulai masuk persalinan spontan atau saat pemberian oksitosin. keadaan janin maupun ibu. atau maksimal 40 tetes/menit pada primi dan 60 tetes/menit pada multi. yaitu terdapatnya 3-4 his dalam 10 menit dengan lama 40-50 detik. masing-masing dicatat pada kolom Pemberian cairan iv maupun obat-obatan pada partograf. amniotomi dilakukan pada fase aktif. Batas waktu untuk mengakhiri persalinan adalah 6-8 jam setelah dimulainya infus oksitosin. dengan menyingkirkan terlebih dahulu indikasi seksio sesar akibat kemungkinan adanya disproporsi kepala panggul maupun bekas seksio sesar klasik atau dua kali seksio sesar pada persalinan sebelumnya.

yang masih lama merupakan indikasi pemberian antibiotik profilaksis secara intravena. 5 .

Jika digunakan dengan tepat dan konsisten.2 Tujuan utama dari penggunaan partograf adalah untuk :  Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan serviks melalui pemeriksaan dalam  Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal. membuat keputusan klinik dan asuhan atau tindakan yang diberikan dimana semua itu dicatatkan secara rinci pada status atau rekam medik ibu bersalin dan bayi baru lahir. Dengan demikian juga dapat mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya partus lama  Data pelengkap yang terkait dengan pemantauan kondisi ibu. adekuat dan tepat waktu serta membantu mencegah terjadinya penyulit yang dapat mengancam keselamatan jiwa mereka. bahan dan medikamentosa yang diberikan.2 .BAB III KESIMPULAN DAN SARAN Salah satu pencatatan yang penting dalam proses persalinan adalah dengan partograf. pemeriksaan laboratorium. kondisi bayi. partograf akan membantu penolong persalinan untuk:  Mencatat kemajuan persalinan  Mencatat kondisi ibu dan janinnya  Mencatat asuhan yang diberikan selama persalinan dan kelahiran  Menggunakan informasi yang tercatat untuk identifikasi dini penyulit persalinan  Menggunakan informasi yang tersedia untuk membuat keputusan klinik yang sesuai dan tepat waktu Penggunaan partograf secara rutin dapat memastikan bahwa ibu dan bayinya mendapatkan asuhan yang aman. grafik kemajuan proses persalinan.

lwh.pdf. Edisi Perdana. Dystocia. Dalam: Asuhan Persalinan Normal.com/Yosemite/Rapids/1744/index. Partograf WHO. 426-427 8. 21 st ed. Kala Satu Persalinan.18-37 6. Jakarta. Gant N. dkk. C. Penyunting. 2007: 1-2. Sumapraja S.1993 5. C. 2004: 870905 7. Dalam: Ilmu Kedokteran Fetomaternal.55-67 2.org. http://www.D. 2002. p. Cunningham F. 28 November 2015. p.. In Williams Obstetrics. Leveno K. Gillstrap L. Abnormal labour and fetopelvic disporpotion.A. 28 November 2015 . 10 Januari 2002.. Anthonius Budi Marjono. Recommended Best Practice for use of the Parogram.DAFTAR PUSTAKA 1. 4.. HauthJ. 7-14..html . Hariadi R.F.geocities. Waspodo D. Partograf. Madjid OA. Ahnan M. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Wenstrom K. Lavender T. Persalinan Normal. Ocviyanti D. Andriaansz G.J.. Asuhan Persalinan Normal. Saifuddin AB. New York : Mc Graw Hill. Surabaya: Himpunan Kedokteran Fetomaternal Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia.G..2004:2. 48-68 3. Januari 2007. http://www. Partograf. 2001.uk/Freedom/Intrapartum/PARTOGRAM. Syamsuddin K. Dhillon G. Jakarta. Jakarta: Departemen Kesehatan.

ABC of labour care Labour in special circumstances -.infoforhealth.gif.9.org/inforeports/fistula/partograph.Chamberlain and Steer 318 (7191) 1124 – BMJ http://www.com/cgi/content/full/318/7191/1124. Partograph.bmj. http://www.who.Low Risk http://www.cfm 16k –html. Anonymous. 28 November 2015 10. 28 November 2015 .org/quality/pstools/psprtgrf. 28 November 2015 12. UNICEF.msh. http://erc.int/reproductive-health/impac/dpartograph. Normal labour and Birth. 28 November 2015 11. 1998.