Anda di halaman 1dari 13

Tinjauan Pustaka

Penatalaksanaan Gizi Pada Pasien Rawat Inap
Baskoro Tri Laksono. Wira Gotera Lab/SMF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Unud/RSUP Sanglah Denpasar
Pendahuluan
Pada dekade terakhir, pertumbuhan ilmu pengetahuan yang pesat mampu
menjelaskan peranan diet dalam mencegah dan mengontrol morbiditas dan mortalitas
penyakit(1).
Nutrisi mulai menjadi faktor yang dapat dimodifikasi pada individu yang
sakit, dengan disertai bukti-bukti kuat bahwa alterasi pada diet memiliki

efek yang

besar baik yang positif maupun negatif pada kesehatan sepanjang hidupnya. Paling
penting, pengaturan diet tidak hanya mempengaruhi kesehatan saat ini tapi mungkin
mempengaruhi apakah individu tersebut akan mempunyai penyakit seperti karsinoma,
penyakit kardiovaskular, dan diabetes suatu saat nanti. Tapi kenyataannya hal ini
sering tidak dijalankan pada kebijakan dan pada praktek klinisnya. Di banyak negara
berkembang, kebijakan nutrisi hanya terfokus bagi individu yang mengalami kurang
nutrisi(1).
Nutrisi klinik dalam bidang penyakit dalam adalah nutrisi untuk orang sakit
khususnya dalam bidang penyakit yang berkaitan dengan proses penyembuhan lebih
tegasnya nutrisi berperan sebagai dasar dari proses penyembuhan(2).
Pada suatu proses penyembuhan dibutuhkan berbagai rangkaian reaksi
kimiawi dan ensimatik. Agar proses penyembuhan tersebut dapat berjalan sesuai
dengan apa yang diharapkan tergantung pula pada asupan makanan termasuk asupan
mineral, vitamin, dan air. Oleh karena itu apabila asupan makan dan minum tidak
terpenuhi maka proses penyembuhan yang diharapkan tidak berjalan optimal seperti
yang diharapkan(1).
Nutrisi adalah substansi yang tidak disintesis oleh tubuh dalam jumlah yang
cukup dan karena oleh sebab itu harus disuplai oleh makanan dari luar. Kebutuhan
nutrisi untuk orang sehat sudah ditentukan berdasarkan bukti eksperimen. Untuk
tubuh yang sehat kita membutuhkan

nutrisi yang dapat menghasilkan energy

(protein, lemak, dan karbohidrat), vitamin, mineral, dan air. Kebutuhan nutrisi
spesifik termasuk 9 asam amino esensial, beberapa asam lemak, 4 vitamin larut
lemak, 10 vitamin vitamin larut air, dan kolin. Beberapa substansi inorganic,
1

Koreksi atau penyesuaian:  Umur di atas 40 tahun : -5%  Aktivitas ringan : +10%  Aktivitas sedang : +20%  Aktivitas berat : +30%  Berat badan gemuk : -20%  Berat badan lebih : -10%  Berat badan kurus : +20% . tidak menggunakan umur dan tinggi badan yang juga berperanan penting. Kebutuhan basal:  Laki-laki : BB idaman (kg) x 30 kilokalori  Wanita: BB idaman (kg) x 25 kilokalori 2.     Berat badan kurang BB < 90 % BBI Berat badan normal BB 90-110% BBI Berat badan lebih BB 110-120% BBI Gemuk BB > 120% BBI Untuk keperluan praktis dalam praktek di lapangan. Broca adalah seorang dokter bedah yang pada awalnya menggunakan rumus tersebut untuk menentukan dosis obat. penghitungan tidak dikurangi dengan 10%. 7 mineral dalam jumlah kecil. Berat badan idaman berdasarkan rumus: (BBI kg) = (TB cm – 100) – 10%. elemen ultratrace harus ditambahkan dalam diet(2). Jumlah dari nutrisi esensial yang dibutuhkan berbeda antar tiap individu tergantung dari umur dan keadaan fisiologis. digunakan rumus Broca Penentuan kebutuhan kalori per hari: 1. 3 elektrolit. Penentuan status gizi dihitung dari : (BB actual : BB idaman) x 100%.2 termasuk 4 mineral. Untuk laki-laki < 160cm dan wanita < 150cm. Rumus Broca menggunakan berat badan idaman sebagai dasar. Normalnya nutrisi esensial tidak dibutuhkan pada diet tapi harus disuplai dalam jumlah yang cukup pada pasien yang tidak dapat memproduksinya dalam jumlah yang cukup(2). Kebutuhan Nutrisi Pada awalnya kita menentukan kubutuhan nutrisi dengan menggunakan penghitungan status gizi dengan menggunakan rumus Broca.

dan 20% lemak.5. berbagai formula telah digunakan untuk memperkirakan pengeluaran energi.6). karena biaya yang tinggi dan terbatasnya jumlah laboratorium yang melakukan teknik DLW. Sayangnya. persamaan Brandi. dan persamaan yang digunakan oleh WHO dan Dietary Reference Intake. persamaan Swinamer.saat ini aplikasi ini tidak dapat diakses dalam situasi klinis. persamaan ini secara akurat memprediksi REE hanya 45% sampai 81% pada individu non-obesitas yang sehat (2). Persamaan prediksi yang telah dievaluasi meliputi: persamaan HarrisBenedict. persamaan MSJE. persamaan Owen. dan Faisey dievaluasi untuk menilai apakah mereka dapat digunakan dalam memperkirakan pengeluaran energi pada pasien sakit kritis(4. para ilmuwan telah mulai untuk lebih akurat menentukan total energy expenditure (TEE) pada orang yang sehat. Dalam studi pasien obesitas. 20% protein.3    Stres metabolic Kehamilan trimester I dan II Kehamilan trimester III dan menyusui : +10-30% : + 300kkal : +500kkal Dengan distribusi 60% karbohidrat. Sejak munculnya teknik doubly labeled water (DLW) pada 1980-an. Persamaan Mifflin-St. Academy of Nutrition and Dietetics (AND) melaporkan akurasi dan penerapan berbagai metode yang digunakan untuk mengukur pengeluaran energi. khususnya kalorimetri langsung dan formula prediktif untuk berbagai kelompok populasi. persamaan Harris-Benedict akurat memprediksi REE hanya 33% sampai 64%. Dari berbagai studi dikatakan penggunaan BB idaman tidak bisa memprediksi lebih baik kebutuhan energy dengan tepat dibandingkan BB actual(2.3). Jeor (MSJE). sedangkan persamaan Mifflin-St. Beberapa studi telah melaporkan akurasi dengan persamaan Harris-Benedict. persamaan Penn State. Laporan-laporan ini memberikan bukti yang dapat digunakan oleh para klinisi untuk mengukur atau memperkirakan resting metabolic rate (RMR).Jeor memprediksi REE yang paling konsisten dan kesalahan terkecil dalam populasi rawat jalan. Sejak awal 1900-an. juga dikenal sebagai resting energy expenditure (REE) pada pasien. Keakuratan semua persamaan prediksi menurun ketika diterapkan pada populasi obesitas. Persamaan Mifflin-St. Pada tahun 2012. Baru-baru ini. Jeor . persamaan Ireton-Jones.

sedangkan stress metabolic seperti inflamasi atau trauma sering meningkatkan kebutuhan samapi sekitar 50% dari nilai sebelum pasien sakit(12). Dalam setting rumah sakit di mana pasien umumnya memiliki beberapa komplikasi dan potensi untuk perubahan yang cepat dalam status medis. kondisi peradangan. dan pengeluaran energy dari aktivitas fisik (sekitar 20% dari TEE)(11. Menghitung “Total Energy Expenditure” (TEE) TEE terdiri dari REE (biasanya sekitar 70% dari TEE). Karena variasi hasil yang dilaporkan dengan penggunaan rumus Harris-Benedict.Penggunaan persamaan-persamaan tersebut dengan bijaksana dapat mengestimasi kebutuhan energy asalkan dengan modifikasi yang diperlukan sesuai dengan perjalanan klinis pasien. Persamaan ini digunakan hanya sebagai panduan atau titik awal. dan tuntutan pernapasan harus diperhatikan. tinggi badan.12). formula prediksi yang mencakup tidak hanya penentu REE. dan aktivitas fisik. jenis kelamin. Keadaan seperti malnutrisi dan hypocaloric feeding dapat menurunkan REE 15-20% dibawah nilai yang diharapkan untuk ukuran tubuh tertentu. Pengeluaran energi tergantung pada faktor-faktor termasuk usia. .4 secara akurat memprediksi RMR hingga 70% . tetapi juga factor keparahan penyakit. efek termal dari makanan (biasanya 10% dari TEE).9.10). Tidak mungkin untuk menentukan kebutuhan energy sehari-hari dengan tepat dengan persamaan-persamaan atau rumus-rumus karena kompleksnya factor yang dapat mempengaruhi metabolic rate. setelah itu pasien harus diawasi secara ketat dan intervensi harus dirancang berdasarkan kebutuhan individu untuk pencapaian status gizi(7. persamaan ini tidak dianjurkan untuk digunakan pada populasi pasien dengan penyakit kritis dan pasien yang sedang dirawat di rumah sakit. berat badan.8. Dokter harus menyadari bahwa setiap metode yang digunakan untuk memperkirakan pengeluaran energi hanya menyediakan sebuah perkiraan.

Persamaan ini memperhitungkan ukuran tubuh dan massa jaringan lemak (yang dipengaruhi oleh usia dan kelamin) untuk mencari kebutuhan energy dan dapat digunakan untuk memperkirakan TEE pada pasien yang dirawat di rumah sakit(12). Kebutuhan energy per kilogram berat badan berbanding terbalik dengan BMI. dapat memberikan perkiraan yang rasional mengenai jumlah REE (dalam kkal per hari) pada dewasa sehat. Menghitung “Resting Energy Expenditure” (REE) Pada Pasien Kritis . para ahli memodifikasi persamaan tersebut untuk dapat diaplikasikan pada pasien dengan kondisi critically ill.5 Persamaan Harris-Benedict yang kita kenal. Batas bawah biasanya digunakan pada kondisi pasien dengan resisten insulin dan pasien critically ill. W: berat dalam kg H: tinggi dalam cm A: umur dalam tahun Karena persamaan ini termasuk mudah untuk diaplikasikan.

14. dan persamaan Fick sebaiknya tidak digunakan untuk memperkirakan RMR pada pasien berpenyakit kritis karena kurang akuratnya persamaan-persamaan tersebut. 77% >60 tahun). maka rumus yang paling ideal digunakan adalah (diurutkan berdasarkan tingkat keakuratan) termasuk Penn State Equation (PSU versi 2003b) (69% <60 tahun. Persamaan ini kemudian direvisi kembali untuk mengakomodasi populasi usia di atas 60 tahun dan BMI>30(4). Persamaan Harris-Benedict (dengan atau tanpa factor aktivitas dan stress). Jika dibutuhkan untuk menggunakan rumus perhitungan karena tidak ketersediaan kalorimetri.6 Pada kondisi sakit. MSJE x 1. pada pasien non obese dan berpenyakit kritis. Pada jurnal-jurnal terdahulu dikatakan bahwa dapat juga digunakan tekanan darah dan jumlah nadi untuk menentukan RMR(4.15).25 (54% <60 tahun 54% > 60 tahun). persamaan Ireton-Jones. Persamaan Brandi . Persamaan “Penn State” Penn State Equation (PSU 2003b) divalidasi tahun 2009. Direkomendasikan untuk pasien dengan BMI<30 atau untuk pasien di bawah 60 tahun dengan BMI>30. bukan berat badan ideal. Brandi (61% <60 tahun. Kalorimetri memberikan perkiraan yang lebih akurat dibandingkan menggunakan rumus perhitungan.13. Kalorimetri indirek digunakan untuk menghitung RMR pada pasien dengan penyakit kritis. Persamaan-persamaan yang saat ini ini lebih dipilih menggunakan berat badan saat ini. 61% > 60 tahun). inflamasi jaringan dan obat-obatan berhubungan dengan kebutuhan energy pada seseorang.

dikatakan bahwa persamaan tersebut tidak bias tetapi tidak akurat (53%)(4).7 Persamaan Brandi menunjukkan ketidak biasan terhadap pasien non obese dengan akurasi 61%. pada 54% . Persamaan Swinamer Dipublikasi tahun 1990 berdasarkan pada 112 pasien critically ill dengan ventilator mekanik pada 2 hari pertama di ICU. Persamaan Faisey Pada 2 studi yang mengevaluasi persamaan Faisey. Tingkat akurasi 45-61% dengan tren menuju overprediksi(4). Pada kondisi pasien critically ill persamaan ini dapat memprediksi TEE pasien(4). Persamaan Mifflin-St Jeor Persamaan ini didisain untuk mengukur REE pada pasien ambulatory. Menununjukkan bias pada pasien obese dengan tinkat akurasi 48%(4).

Persamaan-persamaan yang dirasakan akurat membutuhkan instrument tambahan untuk dihitung.17.8 Penggunaan Klinis Penggunaan persamaan-persamaan tersebut di atas dirasakan cukup sulit untuk dilakukan dengan baik pada praktisnya. Beberapa persamaan dikatakan cukup mampu untuk menghitung kebutuhan kalori perhari seperti persamaan Harris Benedict dan Ireton Jones(16. seperti diperlukannya spirometri untuk menghitung minute ventilation.18). .

9 Untuk menghitung TEE dengan menggunakan persamaan Harris Benedict dan Ireton Jones makan hasil persamaan harus dikalikan dengan factor aktivitas dan factor injuri. TEE= REE x FA x FI .

Kemudian dengan menambahkan kebutuhan energy pada saat sakit.10 Terdapat pula metode praktis untuk menghitung kalori yang dibutuhkan pada pasien yang dirawat di rumah sakit(6). .

Setiati S. Nutrisi mulai menjadi factor yang dapat dimodifikasi pada individu yang sakit. Ed V. dengan disertai bukti-bukti kuat bahwa alterasi pada diet memiliki efek yang besar baik yang positif maupun negative pada kesehatan sepanjang hidupnya. . selain harus menggunakan kalorimetri yang tentunya sukar untuk diterapkan di klinik maka digunakanlah persamaan Harris Benedict yang mampu memperkirakan kebutuhan akan energy dalam hal ini untuk kondisi pasien yang dirawat di rumah sakit. Geneva: WHO Library cataloguing in publication data Geneva-Switzerland. Diet. 2009.11 Ringkasan Nutrisi klinik dalam bidang penyakit dalam adalah nutrisi untuk orang sakit khususnya dalam bidang penyakit yang berkaitan dengan proses penyembuhan lebih tegasnya nutrisi berperan sebagai dasar dari proses penyembuhan. dkk. Bush NC. Alwi I. Daftar Pustaka 1. 2007. 2. Lawrence JC. Nutr Res. Gower BA. WHO. Telah diformulasikan berbagai macam cara untuk mendapatkan berapa kebutuhan akan energy dari setiap individu per hari. Douglas CC. Nutrition and The Prevention of Chronic Disease. Ability of the Harris Benedict formula to predict energy requirements differs with weight history and ethnicity. Oster RA. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 27(4): 194-199. 2003. Sudoyo AW. 3. Setiyohadi B. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Darnell BE.

Gariballa S. Indian J Med Sci 2008. part II12-II15. Darnell BE. 23(7): 155-159. 2009 Mar-Apr. Nutr J 2006. 2007. Accesed in 01 Sep 2014. Clinical guidelines: Nutrition support of hospitalized adult patients with obesity. 62(7):117-121. Maday KR. . Barbour E.33(2):168-75. 14. 96(1): 115-119. Compher C. et al. 15. Otepka H. Clin Nutr 2007. Dickerson R.P. Rosenstock A. Back to basics: estimating energy requirements for adult hospital patients. Hirbe A.E. Harris-Benedict equations do not adequately predict energy requirement in elderly hospitalized african Americans. Douglas CC.12 4. Anderegg BA. Predictive equations for energy needs for the critically ill. Manual of Clinical Nutrition Management.N. 5:9-11. Validation of predictive equations for resting energy expenditure in adults outpatients and inpatients. Delegge M. Respiratory care 2009.S. 13.thefreelibrary. Oster RA. Nutr Res.com. 8. Bader J. 11. 7. Worthington P. Energy estimation in the critically ill: A literature review. Ability of the Harris Benedict formula to predict energy requirements differs with height and ethnicity. Univ J Clin Med 2013. Malone A. Comparison of Harris Benedict and Mifflin-ST Jeor equations with indirect calorimetry in evaluating resting energy expenditure. Worrall C. Meagan W. Bush NC. Comparison of resting energy expenditure prediction methods with measured resting energy expenditure in obese. Bagher L. Heuberger RA. JPEN 2013. Hosseini S. 6. Nassif M. 54(4): 211-215. Simpson KN. Compher C. Kinoslan B. Choban P. London: Compass Inc 2013. Weijs PJM. JPEN J Parenter Enteral Nutr. Godara H. Morrison. Walker RN. 12. Energy expenditure of acutely ill hospitalized patients. Heshmat R. avail www. Gower BA. 2014. Amirkalali B. The Free Library Dietitians Association of Australia 2007. J Nat Med 2004. hospitalized adults. 27(4): 199-211. 5. A. 21(4): 113-117. The Washington Manual of Medical Therapeutics. Lawrence JC. Forster S. 10. 1(3): 39-43. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.Back+to+basics %3a+estimating+energy+requirements+for+adult+hospital. 9. Ferrie S. Cato R.

Mao-Yun W.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Asia Pac J Clin Nutr 2012. Hartono A. Rhoades R. 2013. London: Wolters Kluwer Pub. Medical Physiology: Principal of Clinical Medicin.21(3): 338-346. Zhi-Yong R.13 16. 17. Comparison between measured and predicted resting energy expenditure in mechanically ventilated patients with COPD. Bell DR. Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit. Wen H. . 18. Xiao-Ting W. 4th ed. 2007.