Anda di halaman 1dari 9
PRAKTIKUM IV Topik : Sampling Komunitas Menurut Metode Releve Tujuan : 1. Untuk menentukan ukuran plot minimal suatu komunitas dengan metode releve 2. Menguji apakah area minimal yang didapatkan sudah bisa digunakan untuk sampling komunitas. I. Hari / Tanggal : Rabu – Minggu / 18 – 22 Februari 2015 Tempat : Desa Tiwingan baru Kec. Araniao Kab. Banjar ALAT DAN BAHAN Alat : 1. Meteran 2. Patok kayu 3. Tali rafia 4. Alat tulis Bahan : 1. Herba II. CARA KERJA 1. Melakukan segmentasi pada vegetasi herba, yang terdedah. 2. Menentukan stand secara subjektif pada masing-masing area. 3. Menentukan area minimal dengan teknik nested plot yang dimulai dari ukuran plot 0,5 x 0,5 m. Kemudian diperbesar 2 kali, 4 kali, 8 kali dan seterusnya sampai tidak ada penambahan spesies lagi. 4. Mencatat semua spesies yang ada dalam plot secara kumulatif. 5. Membuat tabel untuk menentukan area minimal berdasarkan jumlah total spesies kumulatif dari plot-plot tersebut. 6. Mengadakan replikasi sebanyak 5 plot untuk masing-masing area dengan ukuran plot sesuai area minimal yang didapatkan. 7. Mencatat nama spesies dan penutupan masing-masing spesies, dan kemudian menghitung frekuensi relatif, dominansi relatif dan nilai pentingnya. 8. Mengurutkan spesies berdasarkan rangking nilai penting untuk masing-masing spesies. III. TEORI DASAR Langkah pertama yang harus dilakukan untuk mengkaji vegetasi dengan metode releve adalah melakukan segmentasi vegetasi, sehingga dapat ditentukan batas-batas komunitas dari suatu vegetasi. Kemudian pada setiap komunitas ditentukan sampel stand secara subyektif. Syarat-syarat dari sampel stand adalah : 1. Cukup luas untuk memuat semua jenis dari komunitas. 2. Habitatnya uniform 3. Penutupan tumbuhan tampak homogen Area sampel minimal Area sampel minimal adalah persyaratan luas area suatu releve (plot), dan area minimal suatu vegetasi memberi petunjuk releve atau kuadrat yang harus dipakai untuk sampling. Area minimal sangat tergantung pada macam komunitas untuk vegetasi daerah temperate berdasarkan nilai empiris adalah: a. Hutan stratum pohon (temperate) yaitu 200 – 500 m2. b. Hutan stratum tumbuhan bawah yaitu 50 – 200 m2. c. Padang rumput kering yaitu 50 – 200 m2. d. Perdu kerdil kering yaitu 10 – 25 m2. e. Padang jerami yaitu 10 – 20 m2. f. Padang gembala yang dipupuk yaitu 5 – 10 m2. g. Komunitas gulma pertanian yaitu 25 – 100 m2. h. Komunitas lumut yaitu 1 – 4 m2. i. Komunitas Lichenes 0,1 – 1 m2. Cara menentukan area minimal adalah pertama-tama diletakkan kuadrat berukuran 0,5 m X 0,5 m atau 0,25 m X 0,25 m untuk vegetasi herba, dan semua jenis tumbuhan yang ada dicatat. Kemudian luas plot diperluas 2X, 4X, 8X, dan seterusnya, sampai tidak ada penambahan spesies lagi. Hasilnya masukan ke dalam tabel. Dengan menggunakan tabel tersebut dibuat kurva spesies area yaitu dengan memplotkan jumlah jenis tumbuhan pada sumbu Y dan luas area pada sumbu X. Area minimal ditentukan oleh titik pada kurva di mana kurva telah mulai mendatar sehingga diperoleh luas area minimal. Perkiraan jumlah individu Pada metode releve tidak perlu menghitung jumlah individu secara akurat, cukup diperkirakan saja, yang dipentingkan adalah jumlah semua spesies yang hadir. Braun Blanquet telah menciptakan sistem praktis untuk menganalisis, sehingga cara memperkirakan jumlah tersebut banyak digunakan peneliti. Skala penutupan Braun – Blanquet adalah: 5 = sembarang jumlah dengan penutupan > 75 % 4 = sembarang jumlah dengan penutupan > 50 – 75 % 3 = sembarang jumlah dengan penutupan > 25 – 50 % 2 = sembarang jumlah dengan penutupan > 5 – 25 % 1 = banyak, tetapi penutupan < 5 % + = beberapa dengan penutupan kecil r = soliter, dengan penutupan kecil 1 2 4 3 5 6 8 7 9 Gambar 1. Sistem nested plot untuk menentukan area minimal Area minimal Gambar 2. Grafik area minimal yang dicari IV. HASIL PENGAMATAN a. Tabel hasil pengamatan ( Sampling komunitas menurut metode releve) Plot Ukuran Luas Ʃ Spesies Ʃ Kumulatif 0,5 X 0,5 M 0,25 M² 5 5 0,5 X 1 M 0,5 M² 1 6 1X1M 1 M² 1 7 1X2 2 M² 0 7 2X2 4 M² 0 7 I II III IV V I ANALISA DATA Berdasarkan hasil praktikum dengan menggunakan metode releve di gunakan pelekatan plot dimulai dari ukuran 0,5 x 0,5 m sampai tidak ditemukan lagi spesies barupada plot terakhir yang diamati. Untuk menentukan ukuran plot minimal suatu komunitas dengan menggunakan metode releve, Area minimal merupakan persyaratan ukuran luas releve (plot) pada metode releve. Metode ini biasanya digunakan untuk memudahkan dalam pengklasifikasian. Klasifikasi bertujuan untuk mengelompokkan stand individu ke dalam kategori-kategori sedemikan rupa sehingga stand yang sama dimasukkan dalam satu kelas. Ordinasi bertujuan melukiskan tiap individu stand ke dalam bentuk model geometrik. Metode ini bersifat kualitatif di mana jenis spesies yang hadir dan tidak hadir dianggap lebih penting daripada variasi komunitas. Penentuan area plot minimal ini didapat dari beberapa pengulangan pembukaan plot dan penambahan jumlah spesies yang ada pada komunitas tersebut dan pembukaan plot ini dihentikan apabila sudah tidak ditemukan lagi penambahan spesies. Berdasarkan pengamatan di daerah ini pada plot I dengan ukuran 0,5 x 0,5 m ditemukan 5 spesies, pada plot II dengan ukuran plot 0,5 x 1 m ditemukan 1 spesies baru, dan pada plot III dengan ukuran plot 1x 1 m juga ditemukan spesies baru lagi, sedangkan pada plot IV dan plot V tidak lagi ditemukan adanya spesies baru . Banyaknya spesies tumbuhan ditentukan oleh faktor lingkungan yang optimal turut mendukung pertumbuhan suatu spesies tumbuhan Faktor-faktor tersebut di atas menentukan variasi tumbuhan hutan, di mana hal ini juga berhubungan dengan keadaan atmosfir yang ditentukan oleh sinar matahari, suhu, angin dan kelembaban. Di samping itu, suhu akan menurun mengikuti ketinggian tempat. Di daerah tropika misalnya suhu akan turun 0.40C setiap kenaikan ketinggian tempat 100 meter (Arief, 1994). Hal ini menyebabkan terjadi pembagian zona dan spesies yang berubah seperti pada daerah iklim sedang. Pengaruh suhu bagi pertumbuhan pohon yaitu, pohon memiliki kisaran suhu untuk pertumbuhan optimumnya, jika suhu melampaui batas maksimum atau minimum dari kisaran suhu optimum bagi pertumbuhan pohon, pertumbuhan dan perkembangan pohon akan terhenti. Suhu optimum yang dibutuhkan bagi pertumbuhan tiap-tiap pohon akan berbeda satu dengan yang lain. Karena suhu mempunyai pengaruh besar terhadap proses metabolisme pada pohon, susunan vegetasipun ikut terpengaruh. Pada daerah yang memiliki suhu tinggi dijumpa tumbuhan rumput (Arief, 1994). Sinar matahari merupakan tenaga penunjang pertumbuhan dan perkembangan vegetasi. Penyebaran radisi matahari tidaklah merata di permukaan bumi, karena tergantung dari keadaan awan, ketinggian tempat, topografi, musim dan waktu dalam hari. Vegetasi yang mendapat sinar matahari secara terus menerus sepanjang tahun akan membantu tumbuh-tumbuhan dalam proses fotosintesis secara maksimum di siang hari. Hutan umumnya rapat dengan dedaunan, sehingga sinar matahari akan sulit secara langsung menrpa daun tetapi hal ini dimungkinkan oleh proses pantulan atau biasan. Proporsi radiasi yang diserap oleh tiap-tiap bagian daun tidak sama, akan tetapi penyerapan yang paling besar adalah pada hutan yang memiliki tajuk yang susunannya tidak teratur. Kecepatan angin berhubungan dengan pola penyebaran. Angin dapat memencarkan biji atau buah tumbuhan sehingga mempengaruhi pola distribusi/penyabaran. IV. KESIMPULAN 1. Metode ini digunakan untuk memudahkan pengklasifikasian tumbuhan. 2. Ukuran plot minimal suatu komunitas herba berdasarkan pengamatan adalah 0,5 m x 0,5 m. 3. Area minimal ini sebagai persyaratan luas area suatu releve (plot), dan area minimal suatu vegetasi memberi petunjuk ukuran releve atau kuadrat yang harus dipakai untuk sampling. 4. Berdasarkan pengamatan releve ini pada plot I dengan ukuran 0,5 x 0,5 m ditemukan 5 spesies, pada plot II dengan ukuran plot 0,5 x 1 m ditemukan 1 spesies baru, dan pada plot III dengan ukuran plot 1x 1 m juga ditemukan spesies baru lagi, sedangkan pada plot IV dan plot V tidak lagi ditemukan adanya spesies baru VII. DAFTAR PUSTAKA Arief, Arifin, 1994, Hutan, Hakikat dan Pengaruhnya terhadap Lingkungan, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta Hardiansyah, dkk. 2015. Penuntun Praktikum Ekologi Hewan. FKIP Jurusan Pendidikan PMIPA UNLAM. Banjarmasin. Hardjosuwarno, S. 1994. Metode Ekologi Tumbuhan. Universitas Gadjah Mada Fakultas Biologi. Yogyakarta.