Anda di halaman 1dari 22

BAB I

ANATOMI, HISTOLOGI DAN FISIOLOGI KORNEA

1.1

ANATOMI KORNEA

Gambar 1.1 Anatomi Kornea (diambil dari Guyton, C. Arthur dkk.


2006. Anatomi Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC)

Kornea merupakan jaringan yang avaskular, bersifat transparan,


berukuran11-12 mm horizontal dan 10-11 mm vertikal, serta memiliki
indeks refraksi 1,37.Kornea memberikan kontribusi 74 % atau setara
dengan 43,25 dioptri (D) daritotal 58,60 kekuatan dioptri mata manusia .
(Fitzpatrick's, 2005). Kornea juga merupakan sumber astigmatisme pada
sistem optik. Dalam nutrisinya, kornea bergantung pada difusi glukosa dari
aqueus humor dan oksigen yang berdifusi melalui lapisan air mata.
Sebagai tambahan, kornea perifer disuplai oksigen dari sirkulasi limbus.
Kornea adalah salah satu organ tubuh yang memiliki densitas ujung-ujung
saraf terbanyak dan sensitifitasnya adalah 100 kali jika dibandingkan
dengan konjungtiva (Guyton, 2006).

Kornea dalam bahasa latin cornum artinya seperti tanduk,


merupakan selaput bening mata, bagian dari mata yang bersifat tembus
cahaya, merupakan lapis dari jaringan yang menutup bola mata sebelah
depan dan terdiri atas :
1. Epitel
Terdiri dari sel epitel squamos yang bertingkat, terdiri atas 5 lapis
sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih; sel poligonal dan sel
gepeng. Tebal lapisan epitel kira-kira 5 % (0,05 mm) dari total seluruh
lapisan kornea. Epitel dan film air mata merupakan lapisan permukaan
dari media penglihatan. Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel
muda ini terdorong ke depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju
ke depan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat dengan sel basal di
sampingnya dan sel poligonal di sampingnya melalui desmosom dan
makula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan
glukosa melalui barrier. Sel basal menghasilkan membran basal yang
melekat erat kepadanya. Bila terjadi gangguan akan mengakibatkan erosi
rekuren Sedangkan epitel berasal dari ektoderem permukaan. Epitel
memiliki daya regenerasi. (Junqueira, 2007).
2. Membran bowman
Membran yang jernih dan aselular, Terletak di bawah membran
basal dari epitel. Merupakan lapisan kolagen yang tersusun tidak teratur
seperti stroma dan berasal dari epitel bagian depan stroma. Lapisan ini
tidak mempunyai daya regenerasi. (Junqueira, 2007).
3. Stroma
Lapisan ini mencakup sekitar 90% dari ketebalan kornea.
Merupakan lapisan tengah pada kornea. Bagian ini terdiri atas lamel fibrilfibril kolagen dengan lebar sekitar 1 m yang saling menjalin yang hampir
mencakup seluruh diameter kornea, pada permukaan terlihat anyaman
yang teratur sedang di bagian perifer serta kolagen ini bercabang;

terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu lama, dan kadang


sampai 15 bulan. (Junqueira, 2007).
4. Membran Descemet
Merupakan membran aselular dan merupakan batas belakang
stroma kornea yang dihasilkan oleh endotel. Bersifat sangat elastis dan
jernih yang tampak amorf pada pemeriksaan mikroskop elektron,
membran ini berkembang terus seumur hidup dan mempunyai tebal + 40
mm (Junqueira, 2007).
5. Endotel
Berasal dari mesotelium, terdiri atas satu lapis sel berbentuk
heksagonal, tebal antara 20-40 mm melekat erat pada membran
descemet melalui taut. Endotel dari kornea ini dibasahi oleh aqueous
humor. Lapisan endotel berbeda dengan lapisan epitel karena tidak
mempunyai daya regenerasi, sebaliknya endotel mengkompensasi sel-sel
yang

mati

dengan

mengurangi

kepadatan

seluruh

endotel

dan

memberikan dampak pada regulasi cairan, jika endotel tidak lagi dapat
menjaga keseimbangan cairan yang tepat akibat gangguan sistem pompa
endotel, stroma bengkak karena kelebihan cairan (edema kornea) dan
kemudian hilangnya transparansi (kekeruhan) akan terjadi. Permeabilitas
dari kornea ditentukan oleh epitel dan endotel yang merupakan membrane
semipermeabel, kedua lapisan ini mempertahankan kejernihan daripada
kornea, jika terdapat kerusakan pada lapisan ini maka akan terjadi edema
kornea dan kekeruhan pada kornea (Junqueira, 2007).
Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal
dari saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke V, saraf siliar longus yang
berjalan suprakoroid, masuk ke dalam stroma kornea, menembus
membran Bowman melepas selubung Schwannya. Seluruh lapis epitel
dipersarafi sampai pada kedua lapis terdepan Sensasi dingin oleh Bulbus
Krause ditemukan pada daerah limbus.

1.2

HISTOLOGI KORNEA

Gambar 1.2 Histologi Kornea (diambil dari Fitzpatrick's, 2005,


Dermatology in General Medicine, 7th edition)

1.3

FISIOLOGI KORNEA
Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan jendela yang

dilalui berkas cahaya menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan


oleh strukturnya yang uniform, avaskuler dan deturgesensi. Deturgesensi
atau keadaan dehidrasi relatif jaringan kornea, dipertahankan oleh
pompa bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan
endotel. Dalam mekanisme dehidrasi ini, endotel jauh lebih penting dari
pada epitel, dan kerusakan kimiawi atau fisis pada endotel berdampak
jauh lebih parah daripada kerusakan pada epitel. Kerusakan sel-sel
endotel menyebabkan edema kornea dan hilangnya sifat transparan.
Sebaliknya,kerusakan pada epitel hanya menyebabkan edema stroma
kornea lokal sesaat yang akan meghilang bila sel-sel epitel telah
beregenerasi.

Penguapan

air

dari

lapisan

air

mata

prekorneal

menghasilkan hipertonisitas ringan lapisan air mata tersebut, yang


mungkin merupakan faktor lain dalam menarik air dari stroma kornea

superfisial dan membantu mempertahankan keadaan dehidrasi. (Sidarta,


2002).
Penetrasi kornea utuh oleh obat bersifat bifasik. Substansi larutlemak dapat melalui epitel utuh dan substansi larut-air dapat melalui
stroma yang utuh. Karenanya agar dapat melalui kornea, obat harus larutlemak dan larut-air sekaligus. Epitel adalah sawar yang efisien terhadap
masuknya mikroorganisme ke dalam kornea. Namun sekali kornea ini
cedera, stroma yang avaskular dan membran bowman mudah terkena
infeksi oleh berbagai macam organisme, seperti bakteri, virus, amuba, dan
jamur (Sidarta, 2002)

BAB II
TRAUMA OKULI
2.1 Definisi
Trauma okuli merupakan penyebab kebutaan unilateral tersering
pada anak-anak dan dewasa muda; orang pada usia ini paling rentan
mengalami trauma okuli yang parah. Penyebab trauma okuli ini antara
lain, kekerasan, ledakan baterai, trauma yang berkaitan dengan olah raga,
dan kecelakaan merupakan penyebab tersering. Trauma okuli yang parah
bisa mengakibatkan trauma multiple pada palpebra, bola mata dan
jaringan lunak orbita (Riordan-eva, 2007).
Insiden trauma okuli tetap tinggi walaupun regulasi keamanan telah
ditingkatkan, seperti kewajiban menggunakan seat bealts dan kewajiban
menggunakan protektor mata untuk orang yang mengoperasikan mesin
berputar dengan kecepatan tinggi. Oleh karena itu, dokter umum dan staf
pelayanan

kesehatan

harus

dapat

mengenali

trauma

okuli

dan

memberikan penatalaksanaan awal Pasien tersebut kemudian harus


dirujuk ke dokter spesialis mata, yang seharusnya bertanggungjawab
mengevaluasi trauma dan memeberikan penanganan definitive. (Lang,
2000).
2.2 Klasifikasi
Berdasarkan

mekanisme

trauma,

trauma

okuli

dapat

diklasifikasikan menjadi: (Khurana, 2007)


A. Trauma Mekanik
Korpus alienum ekstraokular
Korpus alienum extraokular sering terjadi pada pekerja
industrial dan pertanian. Tempat corpus alienum yang umum
ditemukan

adalah

pada

konjungtiva

dan

kornea.

Pada

konjungtiva, mungkin korpus alienum menempel pada sulkus


subtarsalis, fornik atau konjungtiva bulbi. Sedangkan pada kornea,
biasanya tertanam pada epithelium atau stroma superficial dan
jarang ditemukan pada stroma yang dalam. Korpus alienum pada
kornea akan dibahas lebih lanjut pada bab selanjutnya (Khurana,

2007)
Trauma Tumpul (kontusio)
Trauma tumpul okuli bisa terjadi melalui: (Khurana, 2007)
6

Pukulan langsung pada bola mata karena tinju, bola, atau alat

tumpul seperti tongkat atau batu besar.


Trauma tumpul pada bola mata juga bisa terjadi pada
kecelakaan lalu lintas, trauma karena alat pertanian dan
industry dan jatuh pada objek tumpul.
Lesi traumatik yang diakibatkan oleh trauma tumpul dapat

digolongkan menjadi: (Khurana, 2007)


- Closed globe injury
- Globe rupture
- Extraocular lesions
Trauma penetrasi dan perforasi
Trauma jenis ini bisa terjadi melalui: (Khurana, 2007)
- Trauma karena benda tajam dan runcing seperti jarum, pisau,
kuku, panah, sekrup-driver, pena, pensil, kompas, potongan
-

kaca dan sebagainya.


Trauma karena benda berkecepatan tinggu seperti peluru dan
korpus alienum besi.
Efek trauma penetrasi dan perforasi pada struktur okuli bisa

terjadi melalui beberapa efek, antara lain: (Khurana, 2007)


- Efek mekanik
- Menyebabkan terjadinya infeksi
- Post-traumatik iridosiklitis
- Sympathetik ophthalmitis
Trauma Tembus dengan korpus alienum intraokular
Korpus alienum yang sering menyebabkan trauma ini antara
lain chip dari besi dan baja (90%) partikel kaca, batu, pelet
memimpin,

tembaga, aluminium, plastik dan kayu (Khurana,

2007)
Trauma jenis ini dapar menyebabkan kerusakan struktur
okuli melalui: (Khurana, 2007)
- Efek mekanis
- Infeksi
- Reaksi terhadap benda asing
- Post-traumatik iridosiklitis.
- Sympathetik ophthalmitis
B. Trauma non-mekanik (Khurana, 2007)
Trauma kimia
- Asam
- Basa
Trauma termal
Trauma elektrik
7

Trauma radiasi
- Radiasi ultraviolet
- Radiasi Infrared
- Trauma radiasi ionisai

Gambar 2.1 Laserasi pada bagian atas dan bawah palpebra dan
hiphema (kiri) dan hemorrhagik khemosis (kanan)

2.3 Pemeriksaan awal


Mengetahui keseluruhan riwayat pasien, akan menyediakan
informasi yang sangat penting mengenai penyebab dari trauma. Korpus
alienum intraokuler harus dicurigai apabila terdapat riwayat memalu,
menggiling atau terkena ledakan dan pemeriksaan penunjang yang sesuai
harus dilakukan. Apabila terdapat gangguan visus, harus diketahui apakah
gangguan tersebut terjadi secara progresif atau perlakan-lahan, atau
terjadi secara mendadak. Trauma pada anak-anak dengan riwayat yang
tidak sesuai dengan trauma yang didapatkan, harus curiga adanya
kekerasan pada anak (Riordan-eva, 2007)
Trauma okuli sering menyebabkan
blefarospasme.

Beberapa

tetes

anestesi

nyeri,

fotofobia,

dan

direkomendasikan

agar

pemeriksaan dapat dilakukan dengan nyeri minimal (Lang, 2000)


Pemeriksaan fisik dimulai dengan pengukuran dan pencatatan
visus. Apabila gangguan visual parah, diakuakan light projection, two-point
discrimination, dan memeriksa ada tidaknya afferent pupillary defect. Tes
pergerakan bola mata, sensasi kulit periorbita, dan dialkukan palpasi

untuk mengetahui ada tidaknya kerusakan pada tulang orbita. Apabila slit
lamp tidak tersedia di UGD, penlight atau direct ophthalmoscope dapat
digunakan untuk menilai permukaan tarsal dari kelopak mata dan segmen
anterior (Riordan-eva, 2007).
Permukaan kornea diperiksa untuk mengetahui ada tidaknya
korpus alienum, luka dan abrasi. Konjungtiva bulbi diinspeksi untuk
melihat ada tidaknya hemorrhage, korpus alienum atau laserasi.
Kedalaman dan kejernihan kamera okuli anterior juga diperiksa. Ukuran,
bentuk, dan reflex cahaya pupil harus dibandingkan dengan mata yang
lain utuk memastikan apabila terdapat defek pupil karena trauma okuli
(Riordan-eva, 2007).
Mata yang lunak, vusus hanya dengan hand movements atau kebih
burk, defek pulil afferent, atau vitreous hemorrhage menandakan danya
globe rupture. Apabila bila mata tidak rusak, palpebra, konjungtiva
palpebra dan fornik dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk
pemeriksaan pada palpebra atas. Ophthalmoscope direct dan indirect
digunakan untuk melihat lensa, vitreus, optic disk, dan retina. Pada semua
kasus trauma okuli, mata yang terlihat tidak terluka juga harus diperiksa
dengan teliti (Riordan-eva, 2007).
2.4 Managemen
Managemen trauma okuli sesuai dengan jenis trauma dan berat
ringannya trauma tersebut.
Pada globe ruptur, jangan dilakukan manipulasi lebih lanjut sampai
dilakukan operasi dalam kondisi steril dapat dilakukan, biasanya dengan
menggunakan anestesi umum. Tidak perlu diberikan sikloplegik atau
antibiotik topikal sebelum dilakukan operasi karena berpotensi toksik dan
membuat jaringan intraokular terpapar (Riordan-eva, 2007).
Fox shield titempelkan di atas mata, dan antibiotik spektrum luas
diberian (oral ciprofloxacin, 500 mg dua kali sehari). Analgetik, antiemetik
dan antitoksin tetanus diberikan apabila diperlukan. Induksi anestesi
umum tidak menggunakan blok neuromuskular depolarisasi karena agen
ini

dapat

meningkatkan

tekanan

intraokular

dan

hal

ini

dapat

meningkatkan kemungkinan terjadinya herniasi isi intraokular (Riordaneva, 2007).


9

BAB III
Korpus Alienum Pada Kornea
3.1 Definisi
Korpus alienum pada kornea merupakan benda asing yang
terdapat di kornea, biasanya berupa logam (contoh, gram atau serpihan
metal), serpihan kaca, atau material organik (Bashour, 2014). Korpus
alienum pada kornea ini termasuk dalam trauma okuli mekanik (korpus
alienum extraokular atau superficial.
Korpus alienum pada kornea hampir selalu berhubungan dengan
trauma, sering terjadi di tempat kerja perindustrian dimana tidak dilengkapi
dengan proteksi mata. Sebagian besar merupakan logam dan menembus
kornea yang cukup dalam sehingga dapat tetap tertanam. Jika korpus
alienum tersebut hanya menembus perifer kornea, maka perubahan visual
permanen biasanya tidak terjadi. Akan tetapi, apabila menembus central
kornea, pasien bisa mengalami penurunan visual permanen yang
disebabkan oleh bekas luka (Yesar, 2009)

10

Gambar 3.1 Korpus alienum pada kornea

3.2 Korpus alienum


Korpus alienum pada mata adalah sesuatu yang masuk ke dalam
mata yang berasal dari luar tubuh. Korpus alienum tersebut bisa apa saja
mulai dari debu sampai benda metal.
Jenis korpus alienum pada kornea yang umum ditemukan antara
lain: (Khurana, 2007)

Pekerja di bidang industri: partikel partikel besi (terutama pada bagian

bubut dan palu-pahat), ampelas dan batu bara.


Pekerja di bidang pertanian: di bidang ini terutama kulit padi dan
sayap serangga.

Benda asing umum lainnya antara lain partikel debu, pasir, baja, kaca,
kayu dan serangga kecil (nyamuk).

3.3 Epidemiologi dan Faktor Resiko


Krorpus alienum merupakan penyebab tersering pasien mata
datang ke UGD. Sama dengan trauma okuli, insiden korpus alienum pada
kornea lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Untuk
usia, insiden puncak ditemukan pada dekade ke dua dan umumnya terjadi
pada orang dengan usia kurang dari 40 tahun (Bashour, 2014).

11

Korpus alienum pada kornea yang termasuk dalam korpus alienum


ekstraokular atau superficial merupakan trauma okuli yang paling sering
ditemukan dan dapat dicegah. Korpus alienum pada kornea berupa metal,
contohnya gram, berhubungan dengan kecelakaan kerja yang sering
terjadi pada pekerja konstruksi dan industri metal. Hal ini berkaitan
dengan penggunaan alat pengaman pada mata. korpus alienum pada
kornea yang berkaitan dengan pekerjaan ini terhitung 35%-58% dari
seluruh trauma okuli (Ozkurt, 2014)
Pada penelitian yang dilakukan

di

turki,

fragmen

metal

menyebabkan 37% korpus alienum kornea superficial (Ozkurt, 2014)

3.4 Patofisiologi
Biasanya, partikel dari potongan atau logam yang rusak tertanam di
kornea dengan kekuatan yang signifikan. Korpus alienum pada kornea
tersebut umumnya masuk dalam kategori trauma okular minor. Partikel
tersebut bersarang atau menetap di dalam epitel atau stroma kornea,
terutama bila diproyeksikan ke arah mata dengan kekuatan yang cukup
(Yesar, 2009).
Benda asing dapat merangsang timbulnya reaksi inflamasi,
mengakibatkan dilatasi pembuluh darah dan kemudian menyebabkan
oedem pada kelopak mata, konjungtiva, dan kornea. Sel darah putih juga
dilepaskan, yang kemudian mengakibatkan reaksi pada kamera okuli
anterior dan terdapat infiltrate kornea. Jika tidak dihilangkan, benda asing
dapat menyebabkan infeksi dan nekrosis jaringan (Yesar, 2009).
Korpus alienum berupa besi biasanya lebih banyak menyebabkan
morbiditas dengan adanya besi itu sendiri. Besi tersebut teroksidasi dan
larut dalam cairan kornea dan mengendap pada jaringan yang
berdekatan. Dalam beberapa jam akan terbentuk rust ring, yang terdapat
dimembran

bowman

dan

substansia

propria.

Untuk

mencegah

berlanjutnya inflamasi okuli dan tertundanya penyembuhan, rust ring ini


harus di hilangkan (Zuckerman, 1960)

12

3.5

Mortalitas dan Morbiditas


Secara umum, korpus alienum yang segera diambil setelah terjadi

trauma, tidak akan meninggalkan sequelae yang permanen. Akan tetapi,


jaringan parut pada kornea atau infeksi mungkin bisa terjadi. Semakin
lama interval antara terjadinya trauma dengan penanganan, maka
kemungkinan terjadinya komplikasi akan semakin besar (Yesar, 2009).
Jika korpus alienum sepenuhnya menembus kamera okuli anterior
atau posterior, maka disebut sebagai korpus alienum intraocular. Pada
kasus ini, morbiditas pada mata semakin besar. Kerusakan pada iris,
lensa, dan retina dapat terjadi dan bisa menyebabkan gangguan visual
yang parah. Korpus alienum intraocular dapat menyebabkan infeksi dan
endophthalmitis yang merupakan kondisi serius yang dapat menyebabkan
seseorang kehilangan mata (Yesar, 2009)

3.6 Manifestasi Klinis


3.6.1 Gejala
a. Perasaan tidak nyaman seperti perasaan ber-pasir atau ngeres pada
benda asing di kornea, keluar air mata secara terus menerus dan
kemerahan pada mata (Khurana, 2007)
b. Nyeri dan fotofobia lebih sering dijumpai pada benda asing di kornea
dibandingkan benda asing pada konjungtiva (Khurana, 2007)
c. Penurunan visus yang terjadi terutama saat benda asing berada di
tengah kornea (Khurana, 2007)
3.6.2 Tanda
Infiltrasi leukosit sering dijumpai di sekitar benda asing yang
menempel. Jika benda asing berupa logam besi, partikel besi dapat
berkarat dalam beberapa jam pada dasar abrasi membentuk cincing karat
yang menyebabkan noda berbentuk cincin dan berwarna kekuning
kuningan pada permukaan stroma yang akan hilang dalam jangka waktu
tertentu yang mengakibatkan terbentuknya jaringan parut berwarna putih.
Dapat pula terjadi uveitis sekunder yang ringan, yang disertai dengan

13

miosis iritatif, dan fotofobia (Bowling, 2016). Pada pemeriksaan dapat pula
terjadi blepharospasme dan kongesi konjungtiva. (Khurana, 2007)

Gambar 3.2 lingkaran merah menunjukkan benda asing berupa logam


pada kornea (diambil dari Kanski Clinical Ophthalmology 8th edition)

Gambar 3.3 Lingkaran merah menunjukkan benda asing telah dibuang.


Telah membentuk lingkaran karat dan abrasi (diambil dari Kanski Clinical
Ophthalmology 8th edition)

14

3.7 Diagnosis
a. Pada kasus benda asing perlu juga dicurigai adanya benda
asing intraokuler; perlu juga dilakukan pemeriksaan segmen
posterior

dan

menggunakan

jika
foto

diperlukan,
polos

sinar-X

melakukan
untuk

pencitraan

menyingkirkan

kemungkinan ini (Bowling, 2016).


b. Pemeriksaan menggunakan lampu celah (slit-lamp) dilakukan
untuk menentukan posisi dan kedalaman dari benda asing
(Bowling, 2016).
3.8

Manajemen
Prinsip penanganan benda asing adalah benda asing harus

dikeluarkan segera mungkin (Khurana, 2007).


a. Ekstraksi benda asing pada konjungtiva. Benda asing yang terletak
secara bebas pada fornix inferior, sulkus subtarsalis, atau pada
15

canthus dapat dilepaskan dengan swab stick atau sapu tangan


bersih bahkan tanpa menggunakan anestesi. Benda asing yang
tertancap pada konjuntiva bulbi dapat dilepaskan dengan bantuan
jarum hipodermis setelah pemberian anestesi lokal terlebih dahulu
(Khurana, 2007).
b. Ekstraksi benda asing pada kornea. Mata yang terkena benda
asing diberi anestesi topikal dengan kandungan xylocaine 2-4%
dan pasien diminta untuk berbaring pada meja pemeriksaan.
Kelopak mata dipisahkan dengan spekulum mata, dan pasien
diminta untuk melihat tepat ke depan dan sinar difokuskan pada
kornea. Pertama, dilakukan usaha untuk melepaskan benda asing
dari mata menggunakan lidi kapas basah. Jika gagal lakukan
ekstraksi benda asing menggunakan jarum. Jika benda asing
berupa benda magnetik, lakukan pengelepasan benda asing
menggunakan magnet. Setelah pengeluaran benda asing, kasa
dan perban dengan salep antibiotik mata diberikan pada mata
tersebut selama 24 hingga 48 jam. Tetes mata antibiotik kemudian
diberikan sebanyak 3-4 kali sehari selama 1 minggu (Khurana,
2007).
Gambar 3.4 Cara mengeluarkan benda asing pada mata
menggunakan jarum. (diambil dari Pavan-Langston Manual of
Ocular Diagnosis and Therapy 5th edition)

c. Jika terdapat benda asing multipel pada epitel kornea, contoh


seperti pada ledakan, pengeluaran benda setiap benda asing dapat
mengakibatkan
Biasanya

terbentukanya

dilakukan

pelepasan

jaringan
pada

parut
epitel

pada

kornea.

kornea

dengan

pemberian anestesi topikal dan melepas seluruh lapisan epitel


hingga 1-2 mm dari limbus menggunakan aplikator dengan ujung
16

kapas

yang

dibasahi

dengan

alkohol.

Membran

Bowman

ditinggalkan untuk memungkinkan regenerasi epitel. Kemudian,


benda asing yang berada pada limbus dilepaskan satu per satu
(Pavan and Langston, 2002).
d. Sikloplegis dan obat anti-inflamasi non-steroid topikal dapat
diberikan untuk mengurangi nyeri (Pavan and Langston, 2002).
e. Terapi yang dikontraindikasikan yaitu pemberian anestesi topikal
secara terus menerus pada pasien dengan abrasi kornea akut atau
benda asing pada kornea karena pemberian anestesi topikal dapat
menghambat penyembuhan, menyebabkan penghancuran epitel,
edema stroma, dan nyeri hebat (Pavan and Langston, 2002).
3.9 Profilaksis
Setelah terapi, pekerja industri, agrikultur, pengendara sepeda dan
sepeda motor diharuskan menggunakan kacamata pelindung untuk
mencegah komplikasi. Edukasi kesehatan mata harus diberikan terutama
pada pekerja industri dan agrikultur (Khurana, 2007)
3.10 Prognosis
Jika benda asing pada kornea tidak dilepaskan, terdapat risiko
yang besar terjadinya infeksi sekunder dan ulkus kornea. Setiap sekret,
infiltrat, ataupun uveitis wajib meningkatkan kecurigaan dokter akan
adanya infeksi bakteri sekunder, dan harus dilakukan manajemen yang
tepat seperti pada keratitis bakteri; Pertikel logam diasosiasikan dengan
risiko infeksi yang rendah dibandingkan benda asing tersebut berupa
materi organik dan batu (Pavan and Langston, 2002).
3.11 Komplikasi
Benda asing pada mata dapat menyebabkan abrasi kornea.
Konjungtivitis akut dan keratitis bakteri dapat terjadi pada benda asing
yang tercemar atau kebiasaan menggosok mata menggunakan tangan
yang terinfeksi, terutama pada pekerjaan agricultural atau melibatkan
paparan terhadap bahan infeksius. Keratitis kerena bakteri dapat

17

menyebabkan ulkus kornea yang mengakibatkan kebutaan jika tidak


dirawat dengan baik (Khurana, 2007; Wipperman dan Dorsch, 2013).
Selain itu, abrasi kornea pada mata juga dapat menyebabkan iritis
traumatika dan recurrent erosion syndrome. Recurrent erosion syndrome
terjadi akibat abrasi dari kornea. Pasien biasanya mengeluhkan terbangun
dari tidur karena nyeri yang berat. Gejala pada kasus ini dapat dicegah
dengan lubrikasi pada setiap malam. Jika terjadi kasus rekalsitran yang
lebih dari 24 jam, pasien tersebut harus dirujuk karena membutuhkan tata
laksana dengan kontak lens terapetik atau debridemen epitel kornea.
Photo-therapeutic keratectomy dapat dilakukan pada kasus rekalsitran
yang berulang (Wipperman dan Dorsch, 2013)
Benda asing berupa logam (terutama partikel besi dan amril) pada
kornea dapat menyebabkan pigmentasi dan/atau kekeruhan (Khurana,
2007). Partikel benda asing yang kecil juga dapat terbilas oleh air mata
dan masuk pada sistem drainase lakrimalis dan juga dapat menyebabkan
menggores kornea mata setiap kali berkedip (Kanski, 2016).

18

Bab IV
KESIMPULAN
Trauma mata merupakan tindakan sengaja maupun tidak sengaja
yang menyebabkan perlukaan pada mata. Secara umum trauma pada
mata dibagi menjadi 3, yaitu : trauma tajam, trauma tumpul, dan trauma
kimia. Trauma mata merupakan kejadian yang cukup sering terjadi pada
Amerika (sekitar 2,4 juta kasus per tahunnya). Sering kali trauma pada
mata mengancam pengelihatan pada anak dan dewasa yang sebagian
besar faktor risikonya disebabkan karena pekerjaan dan aktivitas sehari
hari.
Benda asing merupakan kasus trauma mata yang sering terjadi
terutama pada laki laki. Prinsip penanganan kasus benda asing
terutama pada kasus benda asing yang berada pada permukaan bola
mata adalah benda asing tersebut harus segera dibuang dari mata dan
menangani kerusakan mata yang diakibatkan benda asing tersebut,
sebelum

terjadi

komplikasi

lebih

buruk

dan

dapat

mengancam

pengelihatan. Oleh sebab itu, dokter umum dan staf kesehatan lainnya
harus mampu melakukan penanganan awal terhadap benda asing
tersebut dan memikirkan komplikasi yang dapat terjadi, sebelum
melakukan rujukan kepada dokter spesialis mata jika terdapat indikasi
untuk melakukan perawatan lanjutan.
Penanganan awal untuk kasus benda asing pada mata pun
bermacam macam sesuai dengan lokasi benda asing tersebut. Oleh
sebab itu, penatalaksanaan awal meliputi anamnesa, pemeriksaan fisik,
19

dan pemeriksaan penunjang yang baik sangat diperlukan dalam


mengambil langkah tindakan pada pasien.

20

BAB V
PENUTUP
4.1 SARAN
a. Perlu dilakukan pelatihan tentang penatalaksanaan trauma mata
pada dokter umum dan staf kesehatan lainnya, terutama pada
petugas kesehatan pada daerah yang jauh dari fasilitas kesehatan
rujukan.
b. Melakukan penyediaan sarana dan prasarana yang baik dalam
penatalaksanaan kasus kasus trauma mata.
c. Tidak lupa melakukan edukasi yang baik terhadap pasien tentang
menjaga kesehatan mata.
4.2 KRITIK
a. Pembekalan penanganan kasus trauma mata yang masih kurang.
b. Edukasi yang masih kurang kepada pasien terhadap kesehatan
mata.

21

Daftar pustaka
1. Abrams P, Birkholz ES, Trantola RM, Oetting TA, Russel SR. 2011.
A Classic Case of Metal on Metal Eye Injury. Viewed 9 Agustus
2015,
<
http://webeye.ophth.uiowa.edu/eyeforum/case/132Intraocular-Foreign-Body.htm>
2. Bowling B. 2016. Kanski Clinical Ophthalmology 8 th edition, Elsevier
Limited, Australia.
3. Bashour M. 2014. Corneal Foreign Body. Viewed 9 Agustus 2015,
http://emedicine.medscape.com/article/1195581-overview
4. Fitzpatrick's, 2006, Dermatology in General Medicine, 7th edition
5. Guyton, C. Arthur dkk. 2005. Anatomi Fisiologi Kedokteran.
Jakarta : EGC
6. Junqueira,Luiz Carlos, Carneiro, 2007, Basic Histology, 11th edition
7. Khurana AK. 2007. Comprehensive Ophthalmology 4th edition. New
Delhi: Published by New Age International (P) Ltd.
8. Lang GK. 2000. Ophthalmology A Short Textbook. New York:
Thieme
9. Riordan-eva P, Whitcher JP. 2007. Vaughan & Asburys General
Ophthalmology. The McGraw-Hills Companies
10. Ozkurt ZG, Yuksel H, Saka G, Guclu H, Evsen S, Balsak S. 2014.
Metallic Corneal Foreign Bodies : an Occupational Health Hazzard.
Viewed 10 Agustus 2015. http://www.scielo.br/scielo.php?
pid=S00047492014000200081&script=sci_arttext
11. Pavan-Langston D. 2002. burns and trauma, inManual of ocular
diagnosis and therapy 5 th edition, Lippincott Williams & Wilkins,
USA
12.Wipperman J. L., Dorsch J.N 2013, Evaluation and management of
corneal abrasion, American Family Physician, Kansas,
http://www.aafp.org/afp/2013/0115/p114.html (dilihat pada tanggal
24 Agustus 2015, jam 16. 57 WIB).
13. Yesar MH, Yousif Z. 2009. Physiological Healing Power Of The
Cornea After Foreign Body Exposure. Kufa Med. Journal. Vol 12
(1). Pp. 90-97
14. Zuckerman BD, Lieberman TW. 1960. Corneal Rust Ring Etiology
and
Histology.
Viewed
10
Agustus
2015
<http://archopht.jamanetwork.com/article.aspx? articleid=626130>

22