Anda di halaman 1dari 10

Penggunaan Wewenang Menurut Hukum

Oleh : Dr. Agussalim Andi Gadjong, SH. MH.
A. Pengertian Wewenang
Kewenangan atau wewenang memiliki kedudukan penting dalam kajian hukum tata
negara dan hukum administrasi. Begitu pentingnya kedudukan wewenang ini sehingga
F.A.M. Stroik dan J.G. Steenbeek menyatakan: “Het begrip bevoegdheid is dan ook een
kembergrip in het staats-en administratief recht”.[1] Dari pernyataan ini dapat ditarik suatu
pengertian bahwa wewenang merupakan konsep inti dari hukum tata negara dan hukum
administrasi.
Istilah wewenang atau kewenangan disejajarkan dengan “authority” dalam bahasa
Inggris dan “bevoegdheid” dalam bahasa Belanda. Authority dalam Black S Law Dictionary
diartikan sebagai Legal power; a right to command or to act; the right and power of public
officers to require obedience to their orders lawfully issued in scope of their public duties.[2]
(Kewenangan atau wewenang adalah kekuasaan hukum, hak untuk memerintah atau
bertindak; hak atau kekuasaan pejabat publik untuk mematuhi aturan hukum dalam lingkup
melaksanakan kewajiban publik). “Bevoegdheid” dalam istilah Hukum Belanda, Phillipus M.
Hadjon memberikan catatan berkaitan dengan penggunaan istilah “wewenang” dan
“bevoegdheid”. Istilah “bevoegdheid” digunakan dalam konsep hukum privat dan hukum
publik, sedangkan “wewenang” selalu digunakan dalam konsep hukum publik.[3]
Wewenang sebagai konsep hukum publik sekurang-kurangnya terdiri dari 3 (tiga)
komponen, yaitu pengaruh, dasar hukum, dan konformitas hukum. Komponen pengaruh
ialah bahwa penggunaan wewenang dimaksudkan untuk mengendalikan perilaku subjek
hukum. Komponen dasar hukum bahwa wewenang itu selalu harus dapat ditunjuk dasar
hukumnya. Komponen konformitas mengandung makna adanya standar wewenang yaitu
standar umum (semua jenis wewenang) dan standar khusus (untuk jenis wewenang
tertentu).[4]
Asas legalitas merupakan unsur universal konsep negara hukum apapun tipe negara
hukum yang dianut suatu negara. Dalam hukum pidana asas legalitas dalam wujudnya
“nullum delictum sine lege” dewasa ini masih diperdebatkan asas berlakunya. Dalam hukum
administrasi asas legalitas dalam wujudnya “wetmatigheid van bestuur” sudah lama
dirasakan tidak memadai.[5]
Tidak memadainya asas “wetmatighid van bestuur” pada dasarnya berakar pada
hakikat kekuasaan pemerintah. Kekuasaan pemerintahan di Indonesia sangat populer
disebut dengan eksekutif dalam prakteknya tidaklah murni sebuah kekuasaan eksekutif
(melaksanakan undang-undang). Dalam kaitan dengan hal tersebut, Philipus M. Hadjon
menyatakan dengan menyitir pendapatnya N.E. Algra bahwa : “pada kepustakaan Belanda
jarang menggunakan istilah “uitvoerende macht”, melainkan menggunakan istilah yang
populer “betuur” yang dikaitkan dengan “sturen” dan “sturing”. “Bestuur” dirumuskan sebagai
lingkungan kekuasaan negara di luar lingkungan kekuasaan legislatif dan kekuasaan
yudisial”.[6]
Konsep “bestuur” membawa implikasi kekuasaan pemerintahan tidaklah semata
sebagai kekuasaan terikat, tetapi juga merupakan suatu kekuasaan bebas (vrij bestuur,
Freies Ermessen, discretionary power).[7] Menurut Ten Berge, seperti yang dikutip Philipus
M. Hadjon, kekuasaan bebas itu meliputi kebebasan kebijakan dan kebebasan penilaian.[8]
Kebebasan kebijakan (wewenang diskresi dalam arti sempit) artinya bila peraturan
perundang-undangan memberikan wewenang tertentu kepada organ pemerintah,
sedangkan organ tersebut bebas untuk (tidak) menggunakannya meskipun syarat-syarat
bagi penggunaannya secara sah dipenuhi. Sedangkan kebebasan penilaian (wewenang
diskresi dalam arti yang tidak sesungguhnya) adalah hak yang diberikan organ pemerintah

Pasal 19. pemerintah daerah. inrichtingrecht. yang ditegaskan dalam konstribusi. Dalam organ atas susunan negara diatur mengenai: bentuk negara.[11] B. Administrasi karena kedua jenis hukum itulah yang mengatur tentang kewenangan. Adapun parameter yang dipakai dalam penggunaan wewenang itu adalah kepatuhan hukum ataupun ketidakpatuhan hukum (“improper legal” or “improper illegal”). Pasal 5. dan kewenangan interpretasi terhadap norma-norma tersamar (vage normen).[9] Kekuasaan bebas (vrij bestuur) asas “wetmatigheid” tidaklah memadai.untuk menilai secara mandiri dan eklusif apakah syarat-syarat bagi pelaksanaan suatu wewenang secara sah telah terpenuhi. Pasal 17. bentuk pemerintahan. Pembagian kekuasaan dalam negara terdiri atau pembagian horizontal yang meliputi : kekuasaan legislatif. Pemberian wewenang tersebut dapat dilihat dalam Pasal 4. eksekutif dan yudikatif. mandat. kewenangan untuk memutus sendiri. Hukum administrasi atau hukum tata pemerintahan (“administratiefrecht” atau “bestuursrecht”) berisikan norma-norma hukum pemerintahan. sekaligus dengan pemberian kewenangan badan-badan negara tersebut. Pasal 20 yang diamandar dengan Pasal 20 A. Atribusi merupakan wewenang untuk membuat keputusan (besluit) yang langsung bersumber kepada undang-undang dalam arti materiil. organisatierecht) dan posisi hukum dan warga negara berkaitan dengan hak-hak dalam (grondrechten). Hukum Tata Negara berkaitan dengan susunan negara atau organ dan negara (staats. Philipus M. Adapun pembagian tugas secara vertikal maupun horizontal. kadang-kadang juga. Perihal kewenangan tidak terlepas dari Hukum Tata Negara dan Hukum. sehingga apabila terjadi penggunaan kewenangan dilakukan secara “improper illegal” maka badan pemerintah yang berwenang tersebut harus mempertanggung jawabkan. Badan hukum publik yang berupa negara. dan vertikal terdiri atas pemerintah pusat dan daerah. Hadjon menyatakan untuk memudahkan memberikan pemahaman tentang kekuasaan bebas atau kekuasaan diskresi dengan cara melihat ruang lingkupnya. dan Pasal 24 C. pemerintah. Norma-norma pemerintahan tersebut menjadi parameter yang dipakai dalam penggunaan kewenangan yang dilakukan oleh badan-badan pemerintah. tetapi tetap dalam koridor hukum (rechtmatigheid). Tatiek Sri Djatmiati dalam disertasinya menguraikan hubungan antara hukum administrasi dengan kewenangan.dan pembagian kekuasaan dalam negara. Pasal 18 dengan amandir Pasal 18 A dan Pasal 18 B. atas dasar prinsip tersebut bahwa wewenang pemerintahan berasal dari peraturan perundang-undangan. Kekuasaan bebas di sini tidak dimaksudkan kekuasaan yang tanpa batas. departemen. Pemberian kewenangan terhadap badan hukum publik tersebut dapat dilihat pada konstitusi masing-masing negara.[10] Hukum administrasi hakikatnya berhubungan dengan kewenangan publik dan cara-cara pengujian kewenangannya. Dalam kepustakaan hukum administrasi terdapat dua cara untuk memperoleh wewenang pemerintahan yaitu atribusi dan delegasi. Sumber dan Lahirnya Wewenang Sejalan dengan pilar utama negara hukum yaitu asas legalitas (legaliteits beginselen atau wetmatigheid van bestuur). Pembagian kekuasaan dalam negara secara horizontal dimaksudkan untuk menciptakan keseimbangan dalam negara dan saling melakukan kontrol. juga hukum mengenai kontrol terhadap kewenangan tersebut. dan yudikatif. institusi untuk dapat menjalankan tugasnya mereka memerlukan kewenangan. eksekutif. Untuk Indonesia diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 tentang Pembagian Kekuasaan yang terdiri dari kekuasaan legislatif. setidak-tidaknya kepada hukum yang tertulis atau asas-asas hukum.[12] Suatu atribusi menunjuk kepada kewenangan yang asli atas dasar ketentuan hukum tata negara. Rumusan lain mengatakan bahwa atribusi merupakan pembentukan wewenang tertentu dan pemberiannya kepada . dan Pasal 24 yang diamandar dengan Pasal 24 A. Kekuasaan bebas atau kekuasaan diskresi meliputi. Pasal 24 B. ditempatkan sebagai cara tersendiri untuk memperoleh wewenang.

Dalam Pasal 10:3 AWB. Atribusi berkenaan dengan penyerahan wewenang baru. jadi delegasi secara logis selalu didahului oleh atribusi. tanggung jawab pada Walikota berdasarkan wewenang mandat. Lebih lanjut disebutkan bahwa legislator yang kompeten untuk memberikan atribusi wewenang pemerintahan itu dibedakan antara: Yang berkedudukan sebagai original legislator. delegasi diartikan sebagai penyerahan wewenang (untuk membuat “besluit”) oleh pejabat pemerintahan (pejabat tun) kepada pihak lain dan wewenang tersebut menjadi tanggung jawab pihak lain tersebut. Dalam Hukum Administrasi Belanda telah merumuskan pengertian delegasi dalam wet Belanda yang terkenal dengan singkatan AWB (Algemene Wet Bestuursrecht). organ tertentu. Kewajiban memberikan keterangan (penjelasan). untuk urusan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dikeluarkan surat yang berkepala kop “DINAS PENGAWASAN BANGUNAN DAERAH”. tidak lagi menjadi wewenang Walikota. Jadi suatu delegasi selalu didahului oleh adanya suatu atribusi wewenang. C.[13] Indroharto mengatakan bahwa pada atribusi terjadi pemberian wewenang pemerintahan yang baru oleh suatu ketentuan dalam peraturan perundang-undangan. yaitu : Delegasi harus definitif. Yang dapat membentuk wewenang adalah organ yang berwenang berdasarkan peraturan perundang-undangan. Peraturan kebijakan (beleidsregelen). tidak lagi menggunakan surat dengan kop WALIKOTA MAKASSAR. [14] Pada delegasi menegaskan suatu pelimpahan wewenang kepada badan pemerintahan yang lain. Delegasi tidak kepada bawahan. Di sini dilahirkan atau diciptakan suatu wewenang baru. artinya dalam hubungan hirarki kepegawaian tidak diperkenankan adanya delegasi. . seperti presiden yang berdasar pada suatu ketentuan undang-undang mengeluarkan peraturan pemerintah di mana diciptakan wewenang-wewenang pemerintahan kepada badan atau jabatan tata usaha negara tertentu.[18] Hal ini berimplikasi hukum pada tanggung jawab. yakni bisa jadi tanggung jawab ada pada Kepala Dinas berdasarkan wewenang delegasian. 1. di negara kita di tingkat pusat adalah MPR sebagai pembentuk kontribusi dan DPR bersama-sama pemerintah sebagai yang melahirkan suatu undang-undang. Dan juga. Kedudukan Dinas sebagai bawahan Kepala Daerah. Dengan perubahan tersebut seolah-olah wewenang telah dialihkan kepada Dinas Pengawasan Bangunan Daerah. Misalnya di Kota Makassar. artinya delegans berwenang untuk meminta penjelasan tentang pelaksanaan wewenang tersebut. [16] Pemberian atau pelimpahan wewenang ada persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. konsep pelimpahan wewenang dengan cara delegasi tidak memungkinkan karena Kepala Dinas merupakan bawahan Kepala Daerah. 2. artinya delegans tidak lagi menggunakan sendiri wewenang yang telah dilimpahkan itu. 2. dan di tingkat daerah adalah DPRD dan Pemda yang melahirkan Peraturan Daerah.1. 5. maka tidak ada delegasi umum dan tidak mungkin ada delegasi dari atasan ke bawahan. 4.[17] Jika konsep delegasi seperti itu.[15] Yang memberi/melimpahkan wewenang disebut delegans dan yang menerima disebut delegataris. artinya delegans memberikan instruksi (petunjuk) tentang penggunaan wewenang tersebut. artinya delegasi hanya dimungkinkan kalau ada ketentuan itu dalam peraturan perundang-undangan. Penggunaan Wewenang Menurut Hukum dan Praktik Di dalam praktik acap kali terjadi penggunaan wewenang berupa penyelundupan hukum. sedangkan delegasi menyangkut pelimpahan wewenang yang telah ada (oleh organ yang telah memperoleh wewenang secara atributif kepada organ lain). Delegasi harus berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Yang bertindak sebagai delegated legislator. yakni mandat dialihkan menjadi delegasi semu. 3.

Di dalam pemberian mandat. Kepala Dinas melakukan penyalahgunaan wewenang yang berimplikasi tindak pidana korupsi maka Kepala Dinas tersebut yang harus bertanggung jawab secara pribadi. ayat (3). Brouwer berpendapat pada “atribusi”. Adapun mandat tidak terjadi pelimpahan apapun dalam arti pemberian kewenangan.G. Dalam kaitan dengan konsep atribusi. Di dalam Penjelasan Pasal 2 ayat (2) PP Nomor 58 Tahun 2005 dinyatakan: “Kewenangan yang didelegasikan minimal adalah kewenangan yang berkaitan dengan tugas sebagai Bendahara Umum Daerah”. pejabat yang memberi mandat (mandans) menunjuk pejabat lain (mandataris) untuk bertindak atas nama mandans (pemberi mandat). tetapi pemberi mandat (mandans) memberikan kewenangan pada badan yang lain (mandataris) untuk membuat suatu keputusan atau mengambil suatu tindakan atas namanya. Dalam kaitan dengan asas legalitas kewenangan tidak dengan didelegasikan secara besar- . dan ayat (4) ditetapkan dengan keputusan kepala daerah berpedoman pada peraturan perundangundangan. dalam hal terjadi mandat atau delegasi menurut hukum pidana yang bertanggung jawab adalah mandatoris atau delegatoris. Kewenangan ini asli. Hal tersebut berbeda dari aspek pidana. Dalam hal pertanggungjawaban terhadap si pelaku perlu dibedakan pertanggungjawaban jabatan (liability jabatan) dengan prinsip pertanggungjawaban perorangan atau individu (personal responsibility) sebagaimana berlaku sebagai prinsip dalam hukum pidana. delegasi yang dilakukan oleh Kepala Daerah kepada Sekretaris Daerah atau Perangkat Pengelola Keuangan Negara tidak dapat diklasifikasikan sebagai delegasi karena Sekretaris Daerah dan Perangkat Pengelola Keuangan Daerah adalah bawahan/pembantu Kepala Daerah. Ada perbedaan yang mendasar dengan yang lain antara kewenangan atribusi dan delegasi. mandat itu oleh J.(1) (2) (3) Delegasi semu dijumpai juga dalam Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dalam Pasal 5 dinyatakan : Kepala Daerah selaku Kepala Pemerintah Daerah adalah pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah dan mewakili pemerintah daerah dalam kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan. tidak demikian dengan delegasi. kewenangan diberikan kepada suatu badan administrasi oleh suatu badan legilatif yang independen. Pada delegasi semu menimbulkan permasalahan dari segi hukum administrasi berkaitan dengan KTUN kepada siapa tuntutan diajukan. delegasi. sehingga delegator/delegans (badan yang telah memberikan kewenangan) dapat menguji kewenangan tersebut atas namanya. Misalnya dalam pengelolaan keuangan daerah. Dari ketentuan tersebut. Pelimpahan kekuasaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pada mandat tidak terdapat suatu transfer kewenangan. yang tidak diambil dari kewenangan yang ada sebelumnya. pejabat yang diberi mandat (mandataris) bertindak untuk dan atas nama pemberi mandat (mandans). meskipun dilihat dari segi konsep delegasi wewenang hal tersebut keliru. Dalam pelaksanaan kekuasaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). sekretaris daerah bertindak selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah. kewenangan yang siap ditransfer. [19] Delegasi ditransfer dari kewenangan atribusi dari suatu badan administrasi yang satu kepada lainnya. karena dalam hukum pidana pertanggungjawaban pidana dikenal dengan pertanggungjawaban pribadi (personal responsibility). Dilihat dari tugas dan kewajiban dari Sekretaris Daerah yang tercantum dalam Pasal 121 ayat (2) UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dinyatakan : Sekretaris Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan kewajiban kepala daerah dalam menyusun kebijakan dan mengoordikasikan dinas daerah dan lembaga teknis daerah. karena di dalam hukum administrasi Kepala Daerah sebagai pejabat yang mewakili pemerintah daerah baik eksternal maupun internal. Pada atribusi. Badan legislatif menciptakan kewenangan mandiri dan bukan putusan kewenangan sebelumnya dan memberikannya kepada yang berkompeten.

[20] D. Jika yang dilakukan adalah pemberian mandat maka si mandans (pemberi wewenang/ penerima wewenang dalam atribusi) tetap bertanggung jawab. Pada delegasi disertai dengan penyerahan wewenang. akan tetapi hanya mungkin di bawah kondisi bahwa peraturan hukum menentukan mengenai kemungkinan delegasi. apakah dalam delegasi? Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah tidak delegasi karena dalam konsep pelimpahan wewenang dengan cara delegasi tidak diperuntukkan pelimpahan wewenang dari atas ke bawahan. Kepala Dinas (Kadis) tersebut menunjuk salah satu Kepala Seksi sebagai Kuasa Pengguna Anggaran. karena wewenang tetap berada pada mandans (pemberi wewenang) sedangkan mandataris (penerima wewenang) hanya dilimpahi wewenang bertindak untuk dan atas nama mandans. pertanyaan yang muncul berkaitan dengan siapa yang bertanggung jawab secara hukum dalam hal terjadi perbuatan melanggar hukum (“melawan hukum” dan “penyalahgunaan wewenang”) yang berakibat kerugian pada keuangan daerah atau perekonomian daerah (korupsi)? Contoh kasus yang dapat dikemukakan sebagai berikut: Pengguna Anggaran (Kepala Dinas) pada Dinas Kebersihan akan melakukan pembelian alat pengolahan sampah. selanjutnya Kepala Seksi membentuk Panitia Lelang (Panitia Tender). oleh karenanya jika terjadi penyalahgunaan wewenang oleh delegatoris maka yang bertanggungjawab adalah delegatoris. Kepala Daerah sebagai Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah mendelegasikan sebagian atau seluruhnya kepada Sekretaris Daerah dan atau perangkat pengelola keuangan daerah. Hal tersebut berbeda kalau dengan cara delegasi. Hal tersebut sesuai dengan konsep hukum “geen bevoegdheid zonder verantwoordelijkheid atau there is no authority without responslibility”. Panitia lelang dan Kepala Seksi yang telah ditunjuk tersebut tidak melaksanakan lelang sesuai wewenang yang telah dilimpahkan kepadanya melainkan dengan cara melakukan penunjukan langsung (PL) dengan tujuan untuk memenangkan rekanan tertentu. Pelimpahan wewenang dari Kepala Daerah kepada Sekretaris Daerah atau Perangkat Pengelola Keuangan Daerah. Tidak adanya penyerahan wewenang pada mandat maka yang bertanggung jawab secara yuridis tetap pada mandans (pemberi wewenang). Pada delegasi.besaran. Dalam pengelolaan keuangan daerah (PP Nomor 58 Tahun 2005). Atas dasar pelimpahan wewenang. tergantung pada di penerima wewenang melakukan mandat atau delegasi. Sekretaris Daerah dan Perangkat Pengelola Keuangan Daerah secara hirarkhi sebagai bawahan dari Kepala Daerah. artinya mandans tetap dapat bertindak sendiri atas namanya. Pada atribusi wewenang pertanggungjawaban secara yuridis oleh si penerima wewenang. Pertanggungjawaban Wewenang Untuk mengetahui kepada siapa yang harus bertanggungjawab secara yuridis terhadap penggunaan wewenang yang melanggar hukum (penyalahgunaan wewenang) harus dilihat dari segi sumber atau lahirnya wewenang. maka pemberi wewenang tidak bertanggung jawab. dengan tujuan untuk memenangkan rekanan . Di dalam setiap pemberian wewenang kepada pejabat pemerintahan tertentu tersirat pertanggungjawaban dari pejabat yang bersangkutan.[21] Pertanggungjawaban mandat bersumber dari persoalan wewenang. Penetapan pendelegasian wewenang kepada perangkat pengelola keuangan daerah tersebut dengan Surat Keputusan Kepala Daerah. Pada mandat tidak terjadi penyerahan wewenang. Penetapan tersebut merupakan salah satu syarat pelaksanaan anggaran. pertanggung jawaban sudah beralih pada delegatoris. pekerjaan yang didelegasikan diserahkan sebagian atau seluruh wewenang kepada penerima delegasi (delegatoris) untuk bertindak melaksanakan pekerjaan tersebut atas namanya sendiri. Tidak dalam konsep delegasi pelimpahan wewenang Kepala Daerah kepada Perangkat Pengelola Keuangan Daerah.

seperti yang tertuang dalam Pasal 5 PP Nomor 58 Tahun 2005 dengan dinyatakan “delegasi”. Indroharto menambahkan wewenang yang sifatnya fakultatif. Pada hukum administrasi berlaku prinsip pertanggungjawaban jabatan (liability jabatan). dalam hukum pidana menganut prinsip “personal responsibilitiy”. Akan tetapi jika terbukti pengesahan yang dilakukan oleh Gubernur BI tersebut dikarenakan telah menerima suap. maka perbuatan pejabat tersebut yang dapat dituntut pidana. seseorang disebut atau dikategorikan sebagai pejabat adalah ketika ia menjalankan kewenangan untuk dan atas nama jabatan (ambtshalve). yang berkedudukan sebagai subyek hukum adalah jabatan (ambt) yakni suatu lembaga dengan lingkup pekerjaan sendiri yang dibentuk untuk waktu yang lama dan kepadanya diberikan tugas dan wewenang. In casu dalam hal ini perlu dibedakan tanggung jawab menurut hukum administrasi dengan hukum pidana. Di samping itu. lebih menyerupai dekonsentrasi (pelimpahan wewenang pusat kepada daerah). In casu siap saja yang dapat dimintai pertanggungjawaban? Pelimpahan wewenang dari Kepala Daerah kepada Kepala Dinas. dan juga tidak kalah pentingnya ditelaah secara teliti atas Surat Keputusan Kepala Daerah sebagai Sumber pelimpahan wewenang tersebut. Terkait dengan kasus posisi tersebut untuk menjawab siapa yang dapat dimintai pertanggung. Penyalahgunaan Wewenang Dalam “Diskresi” Konsep bestuur (besturen). dalam hukum administrasi setiap penggunaan wewenang itu di dalamnya terkandung pertanggung-jawaban.tertentu. 1. Pejabat yang memperoleh dan menjalankan wewenang secara atribusi dan delegasi adalah pihak yang melaksanakan tugas dan atau pekerjaan atas dasar mandat bukanlah pihak yang memikul tanggung jawab hukum.[22] Pendapat tersebut didasarkan pada suatu argumen legalistic formal. Selain itu tak kalah pentingnya dalam penentuan kewajiban tanggung jawab yuridis yang didasarkan pada cara memperoleh wewenang/ kewenangan. dapat dikategorikan sebagai tindakan penyalahgunaan wewenang dalam menggunakan wewenang diskresinya. Di samping wewenang bebas dan wewenang terikat. meskipun konsep delegasi dalam peraturan perundang-undangan tersebut keliru. Dan apabila terbukti. maka penerimaan suap itulah yang menjadi obyek pemeriksaan. Kepala Seksi kepada Panitia Lelang tidak pelimpahan wewenang dalam konsep delegasi. Dari paparan di atas. Sebagai ilustrasi dapat diketengahkan contoh sebagai berikut: “Gubernur Bank Indonesia (BI) mengesahkan kebijakan “dana talangan” untuk menanggulangi dampak krisis global. hakim tidak dapat melakukan penilaian. perlu juga ada kejelasan tentang siapa “pejabat” tersebut dan yang kedua. sedangkan dalam hukum pidana berlaku prinsip pertanggungjawaban pribadi (personal responsibility). bagaimana seseorang itu disebut dan dikategorikan sebagai pejabat? Dalam perspektif hukum publik. Kebijakan atau “Beleid” yang dalam hal ini dituangkan dalam bentuk Peraturan BI. tanggung jawab pidana adalah tanggung jawab pribadi. hakim tidak dapat melakukan penilaian. misalnya menerima suap.[23] Berbeda halnya dalam pembuatan “beleid” tersebut ada indikasi penyalahgunaan wewenang. namun demikian harus pula dipisahkan tentang tata cara memperoleh dan menjalankan wewenang oleh karena tidak semua pejabat yang menjalankan wewenang pemerintahan itu secara otomatis memikul tanggung jawab hukum. Selanjutnya jawaban atau pertanyaan kedua. kekuasaan pemerintahan tidaklah semata sebagai kekuasaan terikat tetapi juga merupakan suatu kekuasaan bebas (discretionary power atau Feies Ermessen). Pejabat adalah seseorang yang bertindak sebagai wakil dari jabatan. Dalam kaitan dengan tanggung jawab jabatan. yang melakukan perbuatan untuk dan atas nama jabatan (ambtshalve). dengan cara seperti yang berakibat merugikan keuangan negara.jawaban menurut hukum pidana adalah delegatoris (penerima pelimpahan wewenang). Kepala Dinas kepada Kepala Seksi. jika perbuatan tersebut masih dalam tahapan “beleid”. Wewenang fakultatif terjadi dalam hal . Pihak yang ditunjuk dan bertindak sebagai wakil adalah seseorang yang di satu sisi sebagai manusia (natuurlijke persoon) dan di sisi lain sebagai pejabat.

maka tindakan itu tidak sampai pada tindakan sewenang-wenang. 3. tetapi menyimpang dari tujuan apa kewenangan tersebut diberikan oleh undang-undang atau peraturan-peraturan lainnya. Pendapat Indiyanto Seno Adji yang mengutip dari W. 2.[25] Majelis hakim Pengadilan Tinggi Jakarta dalam kasus Ir. Pendapat Jean Rivero dan Waline sebagaimana dikutif oleh Indriyanto Seno Adji di atas pada point ke-3 mencampur adukan antara penyalahgunaan wewenang dengan cacat prosedur. Unsur menyalahgunakan kewenangan dinilai ada tidaknya pelanggaran terhadap peraturan dasar tertulis atau asas kepatutan yang hidup dalam masyarakat dan negara ini. Hadjon menyatakan untuk memudahkan memberikan pemahaman tentang kekuasaan bebas atau kekuasaan diskresi dengan cara melihat ruang lingkupnya. penyalahgunaan wewenang dalam hukum administrasi dapat diartikan dalam 3 (tiga) wujud yaitu: 1. AT telah keliru dalam memahami pengertian penyalahgunaan wewenang dengan menyamakan pengertian perbuatan sewenang-wenang (abus de droit/willekeur). kelompok atau golongan. padahal antara konsep penyalahgunaan wewenang dengan konsep cacat prosedur merupakan dua hal yang berbeda konsep.[26] Menurut Ten Berge. Sedangkan kebebasan penilaian (wewenang diskresi dalam arti yang tidak sesungguhnya) adalah hak yang diberikan organ pemerintah untuk menilai secara mandiri dan eksklusif apakah syarat-syarat bagi pelaksanaan suatu wewenang secara sah telah terpenuhi. Konijnenbelt menyatakan bahwa untuk mengukur penyalahgunaan wewenang dengan menggunakan parameter sebagai berikut: 1. kekuasaan bebas itu meliputi kebebasan kebijakan dan kebebasan penilaian. sekalipun pilihan itu hanya dapat dilakukan dalam hal-hal atau keadaan tertentu sebagaimana ditentukan dalam peraturan dasarnya. Hadjon. 2. Penyalahgunaan kewenangan untuk melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan kepentingan umum untuk menguntungkan kepentingan pribadi. Pengertian perbuatan sewenang-wenang adalah jika saja suatu tindakan dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Indriyanto Seno Adji. Kriteria dan parameternya bersifat alternatif.[24] Philipus M.badan atau pejabat tata usaha negara yang bersangkutan tidak wajib menerapkan wewenangnya atau sedikit banyak masih ada pilihan. tetapi telah menggunakan prosedur lain agar terlaksana. Kekuasaan bebas atau kekuasaan diskresi meliputi Kewenangan untuk memutus sendiri dan Kewenangan interpretasi terhadap norma-norma tersamar (vage normen).[28] memberikan pengertian penyalahgunaan wewenang dengan mengutip pendapatnya Jean Rivero dan Waline dalam kaitannya “detournement de pouvoir” dengan “Freis Ermessen”. Penyalahgunaan kewenangan dalam arti menyalahgunakan prosedur yang seharusnya dipergunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Kesalahan prosedur terjai tidak selalu in haeren dengan penyalahgunaan wewenang. Padahal dalam hukum administrasi kedua asas tersebut memiliki perbedaan pengertian dan makna yang signifikan. sedangkan peraturan dasar (tertulis) itu nyatanya tidak dapat diterapkan pada kondisi dan keadaan tertentu yang mendesak sifatnya. Penyalahgunaan kewenangan dalam arti bahwa tindakan pejabat tersebut adalah benar diajukan untuk kepentingan umum. sedangkan organ tersebut bebas untuk (tidak) menggunakannya meskipun syarat-syarat bagi penggunaannya secara sah dipenuhi.[27] Kebebasan kebijakan (wewenang diskresi dalam arti sempit) artinya bila peraturan perundang-undangan memberikan wewenang tertentu kepada organ pemerintah. Cacat prosedur yang in hearen dengan . Asas kepatutan dalam rangka melaksanakan suatu kebijakan atau zorgvuldigheid ini ditetapkan apabila tidak ada peraturan dasar ataupun Asas Kepatutan ini diterapkan apabila ada peraturan dasar. seperti yang dikutip Philipus M.

prosedur dan substansi. mensyaratkan bahwa pada prinsipnya pengadaan barang atau jasa tidak melalui tender. dengan kata lain terbuktinya cacat prosedur tidak serta merta penyalahgunaan wewenang terbukti. melainkan penunjukan langsung? Dalam kasus posisi itu jelas ada cacat prosedur dikarenakan menurut aturan hukum harus melalui ternder. Adakah dalam kasus posisi tersebut ada unsur penyalahgunaan wewenang? Adanya cacat prosedur tidak secara mutatis mutandis penyalahgunaan wewenang terjadi.[30] 2. Artinya wewenang. maka di situ sudah ada penyalahgunaan wewenang di samping terjadinya cacat prosedur. karena asas “wetmatigheid” tidaklah memadai. Indikator atau tolok ukur penyalahgunaan wewenang pada jenis wewenang terikat adalah asas legalitas (tujuan yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan). Berdasarkan Keppres 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa oleh Instansi Pemerintah. karena asas “wetmatigheid” tidaklah memadai. Di atas telah dikemukakan bahwa penyalahgunaan wewenang dapat terjadi pada jenis wewenang terikat dan juga bisa terjadi pada jenis wewenang bebas (diskresi). Kasus . Sjachran Basah mengartikan penyalahgunaan wewenang atau “detournement de pouvoir” adalah perbuatan pejabat yang tidak sesuai dengan tujuan tetapi masih dalam lingkungan ketentuan peraturan perundang-undangan. yang telah mengalami beberapa kali perubahan dan yang terakhir adalah Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2006. Untuk memberi gambaran yang lebih jelas perlu dikemukakan contoh lain sebagai berikut: Walikota/Bupati telah menerbitkan IMB tetapi dalam permohonan IMB tersebut baru diketahui setelah adanya tuntutan oleh tetangga sekitar bahwa persyaratan pengajuan IMB tidak lengkap karena tidak disertai dengan persetujuan tetangga dekatnya (ijin H. bagaimana prosedur untuk mencapai suatu tujuan serta menyangkut tentang substansinya. sedangkan pada kewenangan bebas (diskresi) parameter penyalahgunaan wewenang menggunakan asas-asas umum pemerintahan yang baik. atau menggunakan parameter asas legalitas.[31] Sebagai illustrasinya dapat dijelaskan dalam kaitannya dengan pengadaan barang atau jasa oleh pemerintah. sedangkan pada jenis wewenang bebas (diskresi) mempergunakan parameter asas-asas umum pemerintahan yang baik. Tolok Uukur penyalahgunaan wewenang pada jenis wewenang terikat menggunakan peraturan perundang-undangan (written rules). Ilustrasi lainnya adalah: pejabat administrasi tersebut melakukan penunjukan langsung (tidak tender) dikarenakan bertujuan untuk memenangkan salah satu rekanan tertentu. Di dalam praktek peradilan sering dipertukarkan/dicampuradukan antara penyalahgunaan wewenang dan cacat prosedur yang seolah-olah cacat prosedur itu in heren dengan penyalahgunaan wewenang. Sedangkan tindakan sewenangwenang “abus de droit” yaitu perbuatan pejabat yang tidak sesuai dengan tujuan di luar lingkungan ketentuan perundang-undangan. Penyalahgunaan Wewenang dan “Cacat Prosedur” Di dalam hukum administrasi asas legalitas/keabsahan (legaliteit beginsel/wetmatigheid van bestuur) mencakup tiga aspek yaitu: wewenang. karena pada peraturan perundang-undangan tersebut sudah ditentukan tujuan diberikannya wewenang kepada pejabat administrasi. Cacat prosedur mempunyai implikasi pada penyalahgunaan wewenang jika penggunaan wewenang tersebut menyimpang atau bertentangan dengan suatu tujuan yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan.[29] Pendapat dari Sjachran Basah terkandung pengertian yang sama untuk menilai ada tidaknya penyalahgunaan wewenang dengan melakukan pengujian dengan bagaimana tujuan dari wewenang tersebut diberikan (asas spesialitas).penyalahgunaan wewenang jika pelaksanaan wewenang tersebut menyimpang dari tujuan yang telah ditentukan.O). prosedur maupun substansi harus berdasarkan peraturan perundang-undangan (asas legalitas).

p. Inleiding in het Staats-en. A Survey of Ductch Administrative Low. Stroink dan J. Tentang Wewenang. Black’S Law Dictionary. 171/Pid/2002/PT. 1985. Palangkaraya.posisi tersebut terjadi cacat prosedur. 40 menyatakan “Er bestaan slechts twee wijzen waarop een orgaan aan een bevoegdheid kan komen. 1-2.Pst tanggal 4 September 2002 yang dikuatkan dengan Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Putusan No.cit. Sep-Des 1997. Terbuktinya penyalahgunaan wewenang membawa implikasi lebih luas dibandingkan dengan adanya cacat prosedur. Jakarta. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 (Pasal 53 ) tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang telah mengalami dua kali perubahan. 1 (Philipus M. terakhir dengan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Unndang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Program Pascasarjana Universitas Airlangga. h. Yuridika. Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. Black’S Law Dictionary. Hadjon.B/2002 PN.M. Inleiding in het Staats-en. Eksistensi dan Tolok Ukur Peradilan Administrasi di Indonesia. 133. Sjachran Basah. ________________. No. Philipus Mandiri Hadjon. DAFTAR PUSTAKA E. disampaikan pada Seminar Nasional “Aspek Pertanggung jawaban Pidana Dalam Kebijakan Publik Dari Tindak Pidana Konsep”. Alphen aan den Rijn : Samsom H. Tjeenk Willink. Nur Basuki Minarno. Semarang 6-7 Mei 2004. Steenbeek. 2004.Jkt.. p.cit. 1985. 5 & 6 Tahun XII. Stroink dan J. 1990. 2009. dari Schilder. 82-85. [3] Phillipus M.G. 1998. No.D. Tentang Wewenang. Stroink dan J. West Publishing. Op. Administratief Recht. Bandung. maka perbuatan tersebut sudah dapat diklasifikasikan sebagai penyalahgunaan wewenang yang mempunyai implikasi korupsi.G. Alumni. [2] Henry Campbell Black. h. Alphen aan den Rijn : Samsom H. West Publishing.G. dalam Putusan No. p.M. 572K/Pid/2003 tanggal 12 Pebruari 2004.DKI tanggal 17 Januari 2003 dan selanjutnya kedua putusan tersebut dibatalkan oleh Mahkamah Agung R.”. Prinsip Izin Usaha Industri di Indonesia. Nijmegeo. diterbitkan Laksbang Mediatama. Surabaya. 5 & 6 Tahun XII. Administratief Recht. Steenbeek. 26. Lihat pada pendapat dari F. Ars Aequi Libri. Lot. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 (Pasal 5) tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dinyatakan “… Kepala Daerah mendelgasikan sebagian atau seluruhnya kewenangannya kepada Sekretaris Daerah dan atau Perangkat Pengelola Keuangan Daerah…. h.M. Paper.A. 1997. dalam Nur Basuki Minarno. [4] Ibid. Tjeenk Willink. sehingga implikasi IMB yang telah diterbitkan/dikeluarkan dapat dicabut kembali atau dibatalkan. 1985. Steenbeek. Henry Campbell Black. nomelijk attributie en delegatie”.I. [1] E.D. 2004. yaitu di samping berakibat pada pencabutan ketetapan (beschikking) bisa berimplikasi pidana jika dengan penyalahgunaan wewenang menimbulkan kerugian negara. Tatiek Sri Djatmiati. Berbeda halnya diterbitkannya IMB dengan sudah mengetahui sebelumnya ada persyaratan yang tidak lengkap tetapi karena pejabat administrasi tersebut telah menerima suap. . Discretionary Power dan Asas-Asas Umum Pemerintahan Yang Baik (AAUPB). Hadjon. III.G. Phillipus M. Yuridika. Disertasi. Hadjon III). Penyalahgunaan Wewenang Dan Tindak Pidana Korupsi Dalam Pengelolaan Keuangan Daerah. 449/Pid. 1990.A. Brouwer J.A.

I. [8] Ibid. dalam Philipus M Hadjon. 40 menyatakan “Er bestaan slechts twee wijzen waarop een orgaan aan een bevoegdheid kan komen. [13] Ibid. h. 99-101. Op.. Semarang 6-7 Mei 2004. 6. h. [18] Nur Basuki Minarno. 1998. Op.cit. [17] J. 35. h. Hadjon IV). nomelijk attributie en delegatie”. [24] Indroharto. Op. terakhir dengan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas Unndang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.DKI tanggal 17 Januari 2003 dan selanjutnya kedua putusan tersebut dibatalkan oleh Mahkamah Agung R. 1. [21] Nur Basuki Minarno. Op. h.Cit. 223. 4.. 75-76. Lihat pada pendapat dari F. Disertasi. Palangkaraya. Nijmegeo. Op. 62-63.cit. Ars Aequi Libri. 82-85. [30] Baca Pasal 53 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang telah mengalami dua kali perubahan. h. dalam Nur Basuki Minarno. p.M. disampaikan pada Seminar Nasional “Aspek Pertanggung jawaban Pidana Dalam Kebijakan Publik Dari Tindak Pidana Konsep”. 72-79. Op. Cit. 4-5. Program Pascasarjana Universitas Airlangga.cit.. Cit. A Survey of Ductch Administrative Low. 2. (Philipus M. 2004. h.”. h. h. 171/Pid/2002/PT. Op.cit. Hadjon II.Pst tanggal 4 September 2002 yang dikuatkan dengan Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Putusan No.cit.cit. h.J. [27] Philipus M. Hadjon..[5] Philipus Mandiri Hadjon.J. 2009. Op. [22] Lihat Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dinyatakan “… Kepala Daerah mendelgasikan sebagian atau seluruhnya kewenangannya kepada Sekretaris Daerah dan atau Perangkat Pengelola Keuangan Daerah…. [26] Indriyanto Seno Adji II.M. III. h.B/2002 PN. Hadjon I.cit.M. Bandung.B. ten Berge dalam Philipus M. 3. [31] Lihat Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. [25] Philipus M. 91. diterbitkan Laksbang Mediatama. Stroink dan J. [20] Ibid.72. Op. [16] Nur Basuki Minarno. [7] Ibid. h. Lot. 2. Steenbeek. h. [12] Philipus M. Alumni. [10] Tatiek Sri Djatmiati. ten Berge.B.Jkt. h. Discretionary Power dan Asas-Asas Umum Pemerintahan Yang Baik (AAUPB). h. Op. [6] Ibid.. [9] Ibid. h. [14] Indroharto.cit. Paper. Surabaya.cit.. h. 2 [28] Indriyanto Seno Adji II. Eksistensi dan Tolok Ukur Peradilan Administrasi di Indonesia. Penyalahgunaan Wewenang Dan Tindak Pidana Korupsi Dalam Pengelolaan Keuangan Daerah. 6. 16-18.. h. Hadjon III. dalam Putusan No. . 449/Pid. Op. 1985. Op. h. h.G. [19] Brouwer J.A. p.cit. [11] Ibid. 26 [29] Sjachran Basah. h. 572K/Pid/2003 tanggal 12 Pebruari 2004.G. 124-125. Prinsip Izin Usaha Industri di Indonesia. [15] J..Hadjon I. [23] Philipus M. dari Schilder.