Anda di halaman 1dari 46

1

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Jumlah penderita Diabetes mellitus di dunia dari tahun ke
tahun mengalami peningkatan, hal ini berkaitan dengan jumlah
populasi yang meningkat, life expectancy bertambah, urbanisasi
yang merubah pola hidup tradisional ke pola hidup modern,
prevalensi

obesitas

meningkat

dan

kegiatan

fisik

kurang.

Diabetes mellitus perlu diamati karena sifat penyakit yang kronik
progresif, jumlah penderita semakin meningkat dan banyak
dampak negatif yang ditimbulkan (Wild, 2004).
Diabetes mellitus adalah kelompok kelainan heterogen
yang ditandai olehkenaikan kadar glukosa dalam darah (Smeltzer
& Bare, 2001). Menurut American Diabetes Association (2004)
diabetes

mellitus

adalah

penyakit

metabolik

yangditandai

dengan hiperglikemia yang diakibatkan kelainan sekresi insulin,
kerjainsulin atau keduanya.Diabetes melitus memiliki beberapa
tipe yaitu diabetesmellitus tergantung insulin (diabetes tipe I),
diabetes mellitus tidak tergantunginsulin (diabetes tipe II),
diabetes mellitus gestasional dan diabetes mellitus tipelain.
Angka kejadian diabetes tipe I 5% hingga 10% dari seluruh
penderitadiabetes mellitus, sedangkan diabetes tipe II mencapai
90%

hingga

95%

dariseluruh

penderita

diabetes

mellitus

(Smeltzer & Bare, 2001).
Laporan data statistik

World Health Organization (WHO)

tentang prevalensi diabetes untuk semua kelompok umur di
seluruh dunia diperkirakan2,8% pada tahun 2000 dan 4,4% pada
tahun 2030. Jumlah penderita diabetesdiperkirakan meningkat

2

dari 171 juta pada tahun 2000 menjadi 366 juta jiwatahun 2030
(Wild et al, 2004). Menurut World Health Organization WHO
(2007) Indonesia masuk ke dalam sepuluh negara dengan jumlah
kasus diabetes mellitus terbanyak di dunia.Indonesia berada
pada peringkat keempat pada tahun 2000 dengan jumlah kasus
sebesar 8,4 juta orang dan terus akan mengalami peningkatan
menjadi sekitar 21,3 juta jiwa pada tahun 2030.
Saat ini berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013, angka
kejadian Diabetes Melitus di Indonesia
yaitu

dari

1,1

persen

(2007)

mengalamipeningkatan
menjadi

2,1

persen

(2013).Prevalensi DM di Indonesia berdasarkan jawaban pernah
didiagnosis dokter sebesar 1,5persen dan angka prevalensi pada
perempuan cenderung lebih tinggi daripada laki-laki. Angka
tersebut terjadi pada kelompok usia> 15 tahun dan terus
meningkat seiring dengan pertambahan usia (Riskesdas, 2013).
DM jika tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan
timbulnya komplikasi pada berbagai organ tubuh seperti mata,
jantung, ginjal, pembuluh darah kaki, syaraf dan lain-lain.
Penderita

DM

dibandingkan

dengan

penderita

non

DM

mempunyai kecenderungan 25 kali terjadi buta, 2 kali terjadi
penyakit jantung koroner, 7 kali terjadi gagal ginjal kronik, dan 5
kali menderita ulkus diabetika. Komplikasi menahun DM di
Indonesia terdiri atas neuropati 60%, penyakit jantung koroner
20,5%, ulkus diabetika 15%, retinopati 10%, dan nefropati 7,1%.
1.2 Tujuan
a. Tujuan Umum
Membina masyarakat dalam mendeteksi dini faktor resiko DM
b. Tujuan Khusus
1. Melaksanakan program pospendes CERDIK

3

2. Melakukan pemberdayaan kepada masyarakat dengan
pelatihan kader untuk mencegah resiko DM
3. Melakukan

pelatihan

penyuluhan

kepada

kader
keluarga

dengan
untuk

memberikan
merawat

dan

memantau penderita DM

1.3 Manfaat
a. Untuk Mahasiswa
Untuk

mengaplikasikan

kompetensi

keilmuan

analisis

manajemen layanan kesehatan.
b. Untuk Masyarakat
1. Menciptakan derajat kesehatan masyarakat
2. Membantu masyarakat untuk melakukan deteksi dini DM
c. Untuk Pemerintah
Membantu

pemerintah

untuk

melakukan

pencatatan, dan pelaporan kasus diabetes mellitus.

deteksi,

4

BAB 2. PENGKAJIAN
2.1 Gambaran Umum dan Perilaku Penduduk
2.1.1 Keadaan Penduduk
Menurut Permendagri No.66 Tahun 2011jumlah penduduk Jember
2.451.081 jiwa dengan luas wilayah 3.092,34 km2 yang terdiri dari 31 kecamatan,
22 kelurahan, dan 245 desa. Keberadaan Kabupaten Jember secara geografis
memiliki posisi yang sangat strategis dengan berbagai potensi sumber daya alam
yang potensial,sehingga banyak menyimpan peristiwa-peristiwa sejarah yang
menarik untuk digali dan dikaji. Tentang nama Jember sendiri dan kapan wilayah
ini diakui keberadaannya, hingga saat ini memang masih belum diperoleh
kepastian fakta sejarahnya.
Mayoritas penduduk Kabupaten Jember terdiri atas Suku Jawa dan
Madura serta banyak yang beragama Islam. Selain itu, di Kabupaten Jember
terdapat Warga Tionghoa dan Suku Osing. Rata-rata penduduk Jember adalah
masyarakat pendatang, Suku Madura dominan di Jember bertempat tinggal di
daerah utara dan Suku Jawa bertemapat tinggal di daerah selatan dan pesisir
pantai. Bahasa Jawa dan Madura banyak digunakan diberbagai tempat, sehingga
umum bagi masyarakat di Jember menguasai dua bahasa daerah tersebut dan juga
saling pengaruh tersebut memunculkan beberapa ungkapan khas jember.
Percampuran kedua kebudayaan Jawa dan Madura di Kabupaten Jember
melahirkan satu kebudayaan baru yang bernama Pendalungan. Masyarakat
Pendalungan di Jember mempunyai karakteristik yang unik sebagai hasil dari
penetrasi kedua budaya tersebut. Kesenian Can Macanan Kaduk merupakan suatu
hasil budaya masyarakat Pendalungan yang masih bertahan sampai sekarang di
kabupaten Jember.
2.1.2

Keadaan Ekonomi
Tumbuh dan berkembangnya suatu kota akan banyak dipengaruhi oleh

faktor-faktor internal dan eksternal, yang salah satunya adalah faktor

Seroedji. Akademi .UNEJ. perekonomian Jember masih banyak ditunjang dari sektor pertanian. STAIN Jember. Kota Jember memiliki perguruan tinggi negeri Universitas Jember .5 perekonomian. Bagi kota-kota kecamatan di Indonesia. Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qodiri (STAIQod) Gebang. Universitas Islam Jember.3 Keadaan pendidikan Fasilitas pendidikan di Kota Jember meliputi TK. Kondisi ini juga terjadi pada kota Jember dimana sektor pertanian baik pertanian tanaman pangan maupun holtikultura. Selain itu. IKIP PGRI Jember. Di pasaran dunia tembakau Jember sangat dikenal di Brehmen. SD. Universitas Moch. kehidupan ekonomi kotanya masih lebih banyak ditunjang oleh kegiatan pertanian. Kegiatan ekonomi ini secara langsung maupun tidak langsung dapat memperlihatkan cepat dan lambatnya proses perkembangan kota. Di Jember terdapat banyak area perkebunan. SLTP. STIE Kosgoro. dan Perusahaan daerah yaitu PDP (Perusahaan Daerah Perkebunan). dan Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang (POLTEKKES) Prodi Kebidanan Jember yang dibawahi langsung oleh Kementrian Kesehatan dan Dikti. Sekolah Tinggi Agama Islam Alfalah Assuniyah (Staifas) Kencong. Dan jumlah fasilitas ini semakin mengecil sejalan dengan semakin tingginya tingkat pendidikan. sebagian besar peninggalan Belanda. Perkebunan yang ada dikelola oleh Perusahaan nasional PTP Nusantara. STDI Imam Syafi'i. SLTA. dan Belanda. Dengan sebagian besar penduduk masih bekerja sebagai petani. Tembakau Jember adalah tembakau yang digunakan sebagai lapisan luar/kulit cerutu. Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa perekonomian kota Jember masih dipengaruhi oleh kegiatan pertanian. dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Mandala Jember. Universitas Muhammadiyah Jember. Jember terkenal sebagai salah satu daerah penghasil tembakau utama di Indonesia. Selain itu dapat juga memperlihatkan kecenderungan perkembangan ekonomi kota. Fasilitas-fasilitas pendidikan ini telah tersebar secara merata di wilayah Kota Jember. Jerman. 2. Tarutama Nusantara (TTN).1. terdapat beberapa perguruan tinggi swasta yaitu.Politeknik Negeri Jember. dan PT/Akademi.

179.4 Keadaan Kesehatan Lingkungan Kabupaten Jember merupakan salah satu daerah yang pertumbuhan penduduknya cukup pesat di Jawa Timur dan menempati peringkat ketiga padatahun 2009 dengan jumlah penduduk mencapai 2.6 Kebidanan (Akbid) Dr. Sungai yang melintasi Kota Jember adalah Sungai Bedadung. Angka temperatur berkisar antara 23ºC .394 mm.bersama 11.829 jiwa. Kondisi hidrologi di Kota Jember sangat dipengaruhi oleh air permukaan tanah dangkal.099. sumber-sumber mata air dan aliran-aliran sungai yang melintasinya. Padahal prasarana dansarana yang layak sangatlah penting untuk menunjang kesehatan masyarakat dan meningkatkan kualitas lingkungan Persentase rumah tangga di Kabupaten Jemberdengan fasilitas untuk buang air besar milik sendiri sebanyak 41.61 persen (Badan Pusat Statistik.65 persen. Soebandi . ada juga PIKMI (Pusat Pendidikan Program Satu Tahun) yang berbasis komputer antara lain: Magistra Utama. drainase dan persampahan (Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten Jember. 2007).477.1. Sedangkan curah hujan cukup banyak. umum 0. dan yang tidak mempunyai fasilitasuntuk buang air besar sebanyak 46. 2008).283 Ha atau 51.15 persen. dan masih banyak perguruan tinggi lainnya.47% dari total luas wilayah kota.Gebang. Tingkat pertumbuhan penduduk yang cukup pesat ini tidak diimbangi oleh pembangunan infrastruktur yang mendukung kualitas kesehatan masyarakat serta pengelolaan lingkungan seperti air bersih. 2. Kemudian berturutturut adalah tanah tegalan seluas 1. . 2009).969 mm sampai 3.31ºC. dengan musim kemarau terjadi pada bulan Mei sampai bulan Agustus dan musim hujan terjadi pada bulan September sampai bulan Januari. sanitasi. PPKIA (Pusat Pendidikan Komputer Indonesia Amerika) salah satu lembaga pendidikan luar sekolah.92%. perbaikan dan peningkatan jumlah sarana sanitasi dan program penyuluhan mengenai sanitasi (Dhokhikah. Arahan pengembangan prasarana dasar di Kabupaten Jember adalahpengembangan sistem setempat secara komunal untuk limbah rumah tangga.9 Ha atau 14. Iklim di Kota Jember adalah iklim tropis. yakni berkisar antara 1.60 persen. Dominasi penggunaan lahan diwilayah Kota Jember adalah kegiatan pertanian yakni seluas 5.

Debit sumber air baku mengalami penurunan karena penebangan pohon-pohondi daerah resapan air.sumur dalam dan sumber air permukaan dengan kapasitas 239 lt/dt dengan kondisibaik. Dalam pembuangan air limbah rumah tangga sistem saluran drainase di Kota Jember sudah memenuhi kebutuhan pelayanan kota. namun kondisi pengaliran dari air saluran cukup baik sehingga tidak ada penyumbatan ataupun hambatan yang berarti.875.35%.Jember. Perhitungan jumlah pelanggan PDAM diperoleh dari jumlah asumsi tiap unit sambungan rumah melayani 5 orang.01% dan penggunaan tanah lain-lainnya seluas 416. Keadaan sistem drainase yang ada menunjukkan sistem saluran yang baik terutama di lingkungan pemukiman. Sistem pembuangan yang ada terdiri atas: (1) Saluran air terbuka dari batu kali. Hal ini bisa terjadi karena kemungkinan satu unit sambungan rumah tangga yang sebenarnya melayani kurang dari 5 jiwa. Dengan asumsi timbulan sampah untuk kota sedang sebesar 3 liter/orang/hari. kolam ikan seluas 1. Sistem drainase di Kota Jember dikelola oleh Sub.02 m3/hari.Disepanjang jalan arteri sekunder dari saluran pembuangan air langsung ke sungai. Dinas Cipta Karya Kab. Jember dengan jumlah pegawai 98 orang. mata air. Perkiraan . yaitu secara individual pada masing-masing rumah tangga dan komunal dengan memanfaatkan fasilitas umum seperti jamban umum.655 Ha atau 27.415 Ha atau 4. Pengelolaan air limbah/air buangan di kota Jember dilakukan secara onsite. Sampah di kota Jember dikelola oleh DKP Kabupaten Jember. MCK dengan tangki septik dan cubluk serta saluran lainnya seperti sungai dan kolam.679. maka diasumsikan jumlah sampah yang perlu dikelola di kota Jember adalah sebesar 733.7 perumahan seluas 2. yaitu 96. (2) Saluran air tertutup. dan (3) Sungai/jaringan irigasi Meskipun belum keseluruhan kawasan mempunyai sistem saluran yang baik. dan kemudian diolah di TPA Kertosari dengan sistem controlled landfill.05%.0 Ha atau 0. Pengelolaan sumber air bersih di Kota Jember dilakukan oleh PDAM Kab.20%. Jumlah ini tidak sesuai dengan data prosentase cakupan pelayanan PDAM sebesar 10. Sumber yang digunakan adalah sungai.

kurang berolahraga. Semakin jarang masyarakat yang melakukan aktivitas fisik maka gula yang dikonsumsi juga akan semakin lama terpakai.1%. kemudian pada tahun 2001 di Depok. Demikian pula prevalensi DM di Ujung Pandang (daerah urban). perubahan gaya hidup. menunjukkan bahwa haya hidup mempengaruhi kejadian diabetes. Jumlah truk tinja di Kota Jember adalah 2 buah dengan keadaan yang baik.Di daerah rural di Jawa Barat angka itu hanya 1. maka dengan demikian dapat dimengerti bila suatu saat atau lebih tepat lagi dalam kurun waktu 1 atau 2 dekade yang akan datang kekerapan DM tipe 2 di Indonesia akan meningkat dengan drastis. Di Jawa Timur angka itu tidak berbeda yaitu 1. Di sini jelas ada perbedaan antara urban dengan rural. 2. meningkat dai 1. pola makan yang kurang diperhatikan dan kurangnya aktifitas .7% pada tahun 1993. akibatnya prevalensi peningkatan kadar gula dalam darah juga akan semakin tinggi. Hal ini mungkin disebabkan tingginya prevalensi Diabetes Melitus Terkait Malnutrisi (DMTM) yang sekarang dikategorikan sebagai diabetes tipe pankreas di Jawa Timur sebesar 21.43% di daerah urban dan 1.1.7% pada tahun 1982 menjadi 5.5% pada tahun 1998 dan terakhir pada tahun 2005 menjadi 12.8 produksi limbah di Kota Jember adalah 48.47% di daerah rural. Perkembangan perekonomian kota Jember yang semakin pesat mengakibatkan masarakat Jember mengadopsi gaya hidup perkotaan dari dunia barat. Peningkatan ini disebabkan karena faktor keturunan. Pola makanan berlemak dan karbohidrat yang berlebihan akan meningkatkan resiko terkena diabetes.868 lt/org/hr. daerah sub urban di Selatan Jakarta menjadi 12.8%. Tuntutan kerja yang tinggi mengakibatkan masyarakat jember kurang memperhatikan pola makannya. Di suatu daerah terpencil di Tanah Toraja didapatkan prevalensi DM hanya 0. pola makan tidak sehat. faktor kegemukan.5%.5 Keadaan Perilaku Masyarakat Hasil penelitian epidemiologis tahun 1993 di Jakarta (daerah urban) membuktikan adanya peningkatan prevalensi DM dari 1.8%.2% dari seluruh diabetes di daerah rural.5% pada tahun 1981 menjadi 3.Melihat tendensi kenaikan prevalensi diabetes secara global yang tadi dibicarakan terutama disebabkan oleh karena peningkatan kemakmuran suatu populasi.

Selain itu.4 juta jiwa.id).5 juta orang. Stress merupakan salah satu faktor pemicu meningkatnya resiko diabetes (www. India dengan 65 juta jiwa. sebagian besar kasus yang terjadi adalah diabetes tipe 2.2.8%.9 fisik seperti olah raga dapat mengakibatkan Obesitas. IDF bahkan memprediksi jumlah kasus diabetes melonjak 55%.5% terdiri dari pasien diabetes yang sudah .2 Morbiditas Jumlah penderita diabetes di seluruh dunia telah menyentuh angka yang mengkhawatirkan.7%. Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007.7% (1. Dan daerah pedesaan. Di posisi teratas. Penelitian terakhir yang dilakukan oleh Litbang Depkes yang hasilnya baru saja dikeluarkan bulan Desember 2008 menunjukkan bahwa prevalensi nasional untuk TGT 10.25% dan diabetes 5.viva.com).life. Seperti dilansir kantor berita Reuters. Epidemic tersebut semakin menyebar karena banyak masyarakat yang mengadopsi gaya hidup perkotaan dari dunia barat. Menurut International Diabetes Federation (IDF) jumlah kasus diabetes naik dari 371 juta pada tahun 2012 menjadi 382 juta pada tahun 2013.co.4 juta jiwa (www.viva. Indonesia saat ini menempati posisi 7 dengan jumlah penderita DM sebanyak 8.com).tropicanaslim. dan Amerika dengan 24.2 Situasi Keadaan Kesehatan 2. DM menduduki ranking ke-6 yaitu 5. diperoleh bahwa proporsi penyebab kematian akibat DM pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan menduduki ranking ke-2 yaitu 14. 2. karena kelebihan lemak dapat menyebabkan gangguan pada kerja hormon insulin. ada cina dengan 98.2.id).co. Semakin besar kelebihan berat badan maka prevalensi terganggunya kerja insulin akan semakin besar.tempoo.life. 2.1 Mortalitas Menurut International Diabetes Federation (IDF) Angka kematian diabetes dilaporkan mencapai 5. Untuk diketahui tipe ini erat kaitannya dengan obesitas dan kurangnya olahraga. menjadi 592 juta pada tahun 2035 (www.1 juta pertahun (www.

2% baru ketahuan diabetes saat penelitian). 2012) Kecamatan rambipuji menduduki urutan pertama prevalensi penyakit diabetes mellitus di kabupaten jember. Gagal jantung. The DiabCare Asia 2008 Study melibatkan 1.048 dengan rincian 12 pasien diabetes tipe 1 dan 1.785 penderita DM pada 18 .116 dan puskesmas jenggawah sejumlah 726 (Dinkes Jember. tercatat 11. Penelitian epidemiologis di Amerika. Pada tahun 2011 jumlah pasien diabetes mellitus mengalami kenaikan sebanak 137 dibanding tahun 2010.204 pasien diabetes mellitus tipe 1 dan 7. Retinopati adalah salah satu komplikasi mikrovaskular DM yang merupakan penyebab utama kebutaan pada orang dewasa. Australia.185 dengan rincian 27 pasien dm tipe 1 dan 1158 dm tipe 2 (DINKES JEMBER.812 pasien dengan diabetes tipe 2 (Dinkes Jember. tercatat 1.383 pasien diabetes tipe 2. Eropa.8 juta pada tahun 2010 menjadi 154. Urutan tiga angka tertinggi jumlah pasien diabetes militus adalah wilah kerja puskesmas rambipuji sejumlah 1.10 terdiagnosis sebelumnya.3 Dampak kesehatan akibat penyakit DM dapat mempengaruhi perubahan fisik dan psikologis penderitanya.557 pasien dengan rincian 2.030 dibandingkan tahun 2010. 2. Retinopati.2.745 pasien diabetes mellitus tipe 1 dan 5.587 pasien dengan rincian 4. Jika angka kejadian diabetes ini terus meningkat dan tidak dilakukan pencegahan maka dampaknya akan menurunkan kualitas kesehatan masyarakat kabupaten Jember. Jember adalah salah satu kabupaten di provinsi jawa timur dengan jumlah pasien diabetes militus cukup tinggi. Neuropati. 2012).036 pasien DM tipe 2 ( Dinkes jember.185. sedangkan sisanya 4. Pada tahun 2010 tercatat 8. Pada tahun 2011 jumlah pasien diabestes mellitus di kabupaten jember mengalami kenaikan sebesar 3.9 juta pada tahun 2030 dengan 30% di antaranya terancam mengalami kebutaan. Jumlah pasien diabetes mellitus di wilaah kerja puskesmas rambipuji tahun 2010 sebanyak 1. dan seterusnya. Masalah yang bisa timbul dari Diabetes Millitus diantaranya: ulkus diabetic. dan Asia melaporkan bahwa jumlah penderita retinopati DM akan meningkat dari 100. 2011). puskesmas puger 1. 2011).

6 persen. 2011).2 Pelayanan Kesehatan Rujukan Jumlah rumah sakit di Jawa Timur cenderung meningkat. Tidak hanya itu pelayanan rawat inap di puskesmas juga mengalami penurunan Tahun 2010.519 juta orang.246 orang. cakupan pelayanan rawat inap sekitar 4 persen dari jumlah warga Jember atau sekitar 95. Jumlah ini lebih kecil dibandingkan tahun 2010.1 Pelayanan Kesehatan Dasar Pada tahun 2010 Kabupaten Jember memiliki 49 puskesmas. pada tahun 2011 mencapai angka 324 buah yang terdiri dari rumah sakit swasta. dan 6. Kabupaten Jember memiliki 2 RS rujukan yaitu RSUD dr.2 persen dari jumlah penduduk.3.843 orang. yakni 474.11 pusat kesehatan primer dan sekunder di Indonesia dan melaporkan bahwa 42% penderita DM mengalami komplikasi retinopati. padahal SKM diperuntukkan hanya untuk masyarakat wilayah Jember. yakni 1. Dengan adanya 2 RS rujukan tersebut secara tidak langsung Kabupaten Jember mempunyai peranan penting dalam memberikan pelayanan kesehatan untuk seluruh wilayah eks Karisedenan Besuki. Namun selama ini tidak ada . rumah sakit BUMN dan rumah sakit yang dimilki oleh kementerian kesehatan RI (Dinkes Jatim. rumah sakit TNI/POLRI. Soebandi juga mengalami kenadala yaitu kendala pembiayaan operasi. RSUD dr. pemerintah. Tahun 2011. 2. banyaknya pasien dari luar daerah Jember yang menggunakan SKM (surat keterangan miskin). Tahun 2011 terjadi penurunan tinggal 1. 2. atau sekitar 39. Soebandi dan RS PARU Jember. Soebandi merupakan rumah sakit tempat rujukan dari rumah sakit atau puskesmas di wilayah eks Karesidenan Besuki. Namun dalam melayani rujukan RSUD dr. 2012). cakupan pasien rawat jalan di puskesmas sekitar 20. 17 Puskesmas perawatan dan 32 jumlah puskesmas non perawatan serta polindes sebanyak 112. di mana cakupan pasien rawat jalan mencapai 63.43 persen dari jumlah penduduk.4% di antaranya merupakan retinopati DM proliferative (Sitompul.3 Situasi upaya kesehatan 2.com.3.323 orang (beritajatim. 2012).

UPT.3%. Diabetes melitus disebabkan oleh pola makan/nutrisi. Tujuan program pengendalian diabetes melitus dan penyakit metabolik adalah terselenggaranya peningkatan kemandirian masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan faktor risiko penyakit tidak menular dengan melibatkan pengelola program pusat. 2012). 2. Rendahnya kepesertaan jaminan kesehatan tersebut dapat disebabkan karena kurangnya sosialisasi pada masyarakat sehingga mereka kurang memahami keuntungan menggunakan jaminan kesehatan (Dinkes Jatim. gangguan kelenjar tiroid. Sudah banyak penduduk miskin Kabupaten Jember yang menggunakan jaminan pelayanan kesehatan masyarakat ini di berbagai tempat pelayanan kesehatan di Jember.4% dari seluruh penduduk Jawa Timur sedangkan yang mempunyai jaminan kesehatan seperti jamsostek hanya sebesar 0. 2. lintas program. gangguan sekresi korteks adrenal. Pelayanan jaminan kesehatan di Kabupaten Jember diberikan kepada penduduk yang kurang mampu untuk menekan angka kesakitan atau kematian akibat berbagai penyakit yang mungkin terjadi termasuk penyakit Diabetes Millitus. .3. dislipidemia. lintas sektor. daerah. obesitas.3 Pelayanan Jaminan Kesehatan Masyarakat Berdasarkan hasil analisis situasi kondisi jaminan kesehatan masyarakat di provinsi Jawa Timur pada tahun 2011 didapatkan hasil bahwa masih banyak masyarakat Jawa Timur yang belum memiliki jaminan kesehatan. kurang aktifitas fisik.4 Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Ruang lingkup pengendalian penyakit diabetes melitus dan penyakit metabolik yang ditangani oleh Subdirektorat Pengendalian Diabetes Melitus dan Penyakit Metabolik adalah : diabetes melitus. 2012). kebiasaan tidak sehat. dan stress. LSM dan masyarakat (Kemenkes RI. dan gangguan kelenjar hipotalamus (Kemenkes RI. 2007). organisasi profesi.. gangguan metabolisme kalsium.3. 2012). Masyarakat di provinsi Jawa Timur yang belum memilki jaminan kesehatan sebesar 82.12 kerjasamanya pihak RS dengan pemerintah diluar daerah Jember sehingga dalam memberikan layanan kurang maksimal (Tempo.

4. 2. Denpasar dan Makassar. yaitu Medan.RS khusus. pengembangan partisipasi masyarakat dalam pengendalian diabetes dan penyakit metabolik di 10 provinsi. Upaya ini telah dilakukan melalui TOT deteksi dini dan tatalaksana diabetes melitus dan penyakit metabolik di 16 provinsi. c.1 Sarana Kesehatan Untuk melayani kesehatan masyarakat di Kota Jember telah dipenuhi oleh RSU. Pada tahun 1990 jumlah dan jenis fasilitas kesehatan di . b. Peningkatan kapasitas SDM. Jakarta. Selain itu juga dilaksanakan pelatihan terhadap 180 dokter spesialis penyakit dalam dan 180 dokter umum di 6 kota.13 Menurut Kemenkes RI tahun 2012. Pada tahun 2010 di bentuk Project Partnership Agreement (PPA) antara Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Ditjen PPPL dengan World Diabetes Foundation (WDF) yaitu lembaga swasta dunia yang berdedikasi dalam pencegahan dan pengobatan diabetes melitus di negara berkembang. Puskesmas pembantu. Menjalin kemitraan Upaya lain terkait pencegahan dan penanggulangan faktor risiko adalah menjalin kemitraan dengan lintas program/lintas sektor melalui pembentukan jejaring 157 kelompok kerja diabetes melitus. Yogyakarta.4 Situasi sumber daya kesehatan 2. Tujuan dari kerja sama ini adalah melakukan intervensi pada masyarakat dalam rangka pencegahan dan pengendalian diabetes melitus beserta faktor risikonya. Puskesmas. serta pengembangan Forum Diabetes Melitus di Indonesia. RS bersalin. dan Puskesmas keliling. Surabaya. Penyusunan pedoman Sampai dengan tahun 2010 telah disusun 7 pedoman dengan revisi sebanyak 3 kali.Sosialisasi dan advokasi sampai dengan tahun 2010 juga telah dilakukan di 33 provinsi. kegiatan pengendalian diabetes melitus dan penyakit metabolik yang telah dilaksanakan terdiri dari pokok-pokok kegiatan yaitu : a. Posyandu.

026 orang atau 16 %.029. dan puskesmas keliling sebanyak 1. tenaga farmasi 2 orang.239 orang (Dinkes Jatim. posyandu sebanyak 111. dan jumlah pustu sebanyak 126.819. jumlah puskesmas sebanyak 1.4.819. tenaga teknisi medis 72 orang.14 daerah Kaliwates RS Bersalin sebanyak 2. puskesmas pembantu sebayak 4. jumlah posyandu sebanyak 2.198 orang atau sebesar 41%. Pada tahun 2007. dan puskesmas keliling sebanyak 5. kesmas sebanyak 1.2 Tenaga Kesehatan Jumlah tenaga kesehatan di wilayah Jawa Timur pada tahun 2011 sebanyak 68. Pada tahun 2012 provinsi Jawa Timur mendapatkan BOK sebesar Rp. tenaga gizi 6 orang. Sedangkan sarana rumah sakit yang tersedia berupa RS dr. 83. jumlah polindes belum terdata.15 orang.4. Oleh karena itu pemerintah pusat meluncurkan program Bantuan Operasinal Kesehatan (BOK). jumlah polindes sebanyak 110. puskesmas sebanyak 1. Pada tahun 2011 tenaga kesehatan di kabupaten Jember adalah tenaga medis 59 orang. Di daerah Sumbersari puskesmas sebanyak 2. RS Paru. Puskesmas pembantu sebanyak 4. jumlah posyandu masih belum terdata. perawat dan bidan 16 orang. dan puskesmas keliling sebanyak 1.086 orang dengan jumlah terbanyak adalah perawat dengan jumlah 28. RS Kalisat. 2. dan RS Jember Klinik. Di daerah Patrang terdapat RSU sebanyak 3. RS Citra Husada. Pada tahun 2008.987 orang atau 22%. dan jumlah pustu tidak terdata. posyandu sebanyak 102. jumlah posyandu sebanyak 2.625. jumlah puskesmas sebanyak 49. jumlah polindes sebanyak 116. puskesmas pembantu sebanyak 2. RS Bina Sehat.000. tenaga bidan sebanyak 14. 2012). tenaga kesehatan masyarakat 8 orang. dan dokter gigi 44 orang.251 orang dan sanitasi sebanyak 1.3 Pembiayaan Kesehatan Puskesmas merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan dan seharusnya memperoleh anggaran yang cukup untuk pelayanan kepada masyarakat terutama dalam rangka promosi dan prevensi untuk mencapai derajat kesehtan yang optimal. RS khusus sebanyak 1. RS Balung. tenaga sanitasi 17 orang. Sedangkan pada tahun 2011. jumlah puskesmas sebanyak 49. tenaga medis sebanyak 11. dan jumlah pustu sebanyak 120. Puskesmas sebanyak 3. Soebandi.dimana masing-masing kabupaten mempunyai . Posyandu sebanyak 121. 2. kefarmasian sebanyak 6..

399. Kepadatan penduduk Jawa Timur tahun 2010 sebesar 806 jiwa/km.342 jiwa terdiri dari 114.550 jiwa.319 jiwa).Dana yang diperoleh oleh masing-masing puskesmas untuk mengendalikan penyakit yang sesuai dengan kondisi wilayahnya khususnya penyakit Diabetes Mellitus diharapkan dapat digunakan seoptimal mungkin agar derajat kesehatan masyarakatnya semakin baik. promosi kesehatan. Menurut World Populations Data Sheet 2008. pada pertengahan tahun 2008.774 jiwa/km2. Berdasarkan komposisi penduduk. jumlah penduduk Jawa Timur tahun 2010 sebesar 38.124.271 jiwa) dan Kota Blitar (130.395.523.931. dan Jember (2.5. Indonesia adalah negara dengan penduduk terbanyak di antara negara- .429 jiwa). Kepadatan penduduk di kota umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan kabupaten dan Surabaya dengan kepadatan penduduk tertinggi 8. Tingkat kepadatan yang tinggi masih didominasi oleh provinsi-provnsi di Pulau Jawa. Berdasarkan data BPS.104 perempuan.32 km2 maka tingkat kepadatan penduduk adalah sebesar 120 jiwa/km2.8% sedangkan kelompok bayi merupakan yang terkecil. dengan luas wilayah Indonesia 1.910. kelompok umur produktif usia 15-64 tahun masih menominasi presentase dengan jumlah terbanyak di kelompok usia 25-29 tahun 8. Kabupaten Malang (2.026.1 Kependudukan Berdasarkan hasil proyeksi BPS provinsi.203 jiwa/km. yaitu sebesar 13. 2. Provinsi yang memiliki kepadatan tertinggi adalah DKI Jakarta.238 laki-laki dan 114. imunisasi.665 jiwa).485.912. Daerah dengan penduduk terbanyak adalah kota Surabaya (2.15 alokasi yang berbeda-beda. Anggaran tersebut digunakan untuk 7 upaya kesehatan promotif preventif meliputi KIA-KB. kesehatan dan pengendalian penyakit dan upaya kesehatan lain yang sesuai dengan resiko dan masalah utama kesehatan di wilayah setempat (Dinkes.197 jiwa). jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2008 tercacat sebesar 228. perbaikan gizi masyarakat.5 Perbandingan Indonesia dengan negara anggota ASEAN dan SEARO 2. Secara nasional. 2012). sedangkan jumlah penduduk paling sedikit di Kota Mojokerto (120.

India dengan 65 juta jiwa. ada cina dengan 98. Menurut International Diabetes Federation (IDF) jumlah kasus diabetes naik dari 371 juta pada tahun 2012 menjadi 382 juta pada tahun 2013. Epidemic tersebut semakin menyebar karena banyak masyarakat yang mengadopsi gaya hidup perkotaan dari dunia barat.4 juta jiwa (www. Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007. DM menduduki ranking ke-6 yaitu 5.7% (1.5.co.7%.viva. Jika di kawasan ASEAN. sebagian besar kasus yang terjadi adalah diabetes tipe 2. Dengan wilayah negara terluas.9 juta jiwa.co. menjadi 592 juta pada tahun 2035 (www. 2. Bila dilihat dari tahun 2006-2008 kepadatan penduduk per km2 terus meningkat.life.life. Untuk diketahui tipe ini erat kaitannya dengan obesitas dan kurangnya olahraga.tempoo. dan Amerika dengan 24. Indonesia selalu menempati peringkat satu negara dengan jumlah penduduk tertinggi di ASEAN. Kepadatan penduduk di Indonesia sebesar 126 jiwa/km2. Jumlah penderita diabetes di seluruh dunia telah menyentuh angka yang mengkhawatirkan.id). Dan daerah pedesaan. di kawasan SEARO Indonesia menempati peringkat kedua setelah India. Indonesia menempati peringkat pertama dengan jumlah penduduk terbesar.com).id).viva.5% terdiri dari pasien diabetes yang sudah . Sedangkan di kawasan SEARO. Di posisi teratas. Penelitian terakhir yang dilakukan oleh Litbang Depkes yang hasilnya baru saja dikeluarkan bulan Desember 2008 menunjukkan bahwa prevalensi nasional untuk TGT 10.8%. Indonesia saat ini menempati posisi 7 dengan jumlah penderita DM sebanyak 8.1 juta pertahun (www. Seperti dilansir kantor berita Reuters.5 juta orang. diperoleh bahwa proporsi penyebab kematian akibat DM pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan menduduki ranking ke-2 yaitu 14. Indonesia di kawasan ASEAN berada pada peringkat ke lima terpadat.2 Derajat Kesehatan Menurut International Diabetes Federation (IDF) Angka kematian Diabetes Mellitus dilaporkan mencapai 5. IDF bahkan memprediksi jumlah kasus diabetes melonjak 55%.16 negara anggota ASEAN lainnya dengan jumlah 239. Indonesia menempati peringkat k delapan terpadat di antara 11 negara.25% dan diabetes 5.4 juta jiwa.

DM juga merupakan penyebab kematian tertinggi ke-2 pada kelompok umur 45-54 tahun di perkotaan (14. perilaku tidak sehat. Sedangkandata mortalitas DM di RS menggambarkan 74.7% selebihnya merupakan pasien DM yang bergantungpada insulin. prevalensi DM di Indonesia pada tahun 2007 sebesar0.clinical setting.Menurut TV3 pada tahun 2006 apabila hanya 8.. kurang aktifitas fisik dan stres. 2006) angka ini sangat tinggi bila dibandingkan dengan insidens dekubitus di ASEAN yang hanya berkisar 2.3% pada 1986. DM menyumbang 4. Malaysia merupakan salah satu Negara anggota dari ASEAN dan SEARO yang memiliki malasah terkait dengan diabetes mellitus.Berikut ini disajikan prevalensi diabetes mellitus berdasarkan doagnosis atau gejalamenurut provinsi tahun 2007. Menurut data morbiditas pada pasien rawat inap RS di seluruh Indonesia padatahun 2009. sedangkan sisanya 4. dan variable lainnya. Selain pada kelompok tersebut.17 terdiagnosis sebelumnya.. Seongsook et al. 1992.9% pada 2006 dan tahun lalu pula .Namun angka insiden dan prevalensi dekubitus masih simpang siur.1% berdasarkan diagnosis atau gejala.Sejak 11 tahun lalu.. Diabetes Mellitus (DM) adalah salah satu penyebab utama kematian yangdisebabkan oleh karena pola makan/nutrisi. Penyakit diabetes sentiasa meningkat dengan kadar sebanyak 6. kajian terbaharu pada 2011 menunjukkan 15. Menurut laporan Riskesdas 2007.6 % orang dewasa di Malaysia menghidap diabetes.diikuti kelompok umur 65 tahun ke atas dan kelompok umur 25-44 tahun.3% pada 1996. 14. jumlah penderita DM tertinggi terdapat pada kelompok umur 4564 tahun. hasil penelitian menunjukkan insiden dekubitus di Indonesia sebesar 33.8%).3% merupakan pasien DM yang tidakbergantung pada insulin dan 25.7%) dan tertinggi ke-6 di daerah perdesaan (5. Kwong et al.2 % orang dewasa menghidap diabetes.3 % (Suriadi. 8.2% baru ketahuan diabetes saat penelitian). Di sisi lain.1-31. Menurut riset yang sama. 2005). Hal ini disebabkan perbedaan metodelogi. 2004.7% berdasarkan diagnosis dan sebesar 1.2% kematian padakelompok umur 15-44 tahun di daerah perkotaan dan merupakan penyebab kematiantertinggi ke-6. sample.3 % (Sugama et al.

Peningkatan kapasitas SDM. serta pengembangan Forum Diabetes Melitus di Indonesia. Tujuan dari kerja sama ini adalah melakukan intervensi pada masyarakat dalam rangka pencegahan dan pengendalian diabetes melitus beserta faktor risikonya. . Surabaya.6 juta penduduk Malaysia menghidap diabetes. Menjalin kemitraan Upaya lain terkait pencegahan dan penanggulangan faktor risiko adalah menjalin kemitraan dengan lintas program/lintas sektor melalui pembentukan jejaring 157 kelompok kerja diabetes melitus. Penyusunan pedoman Sampai dengan tahun 2010 telah disusun 7 pedoman dengan revisi sebanyak 3 kali. Selain itu juga dilaksanakan pelatihan terhadap 180 dokter spesialis penyakit dalam dan 180 dokter umum di 6 kota. pengembangan partisipasi masyarakat dalam pengendalian diabetes dan penyakit metabolik di 10 provinsi. Jakarta. 2. Pada tahun 2010 di bentuk Project Partnership Agreement (PPA) antara Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Ditjen PPPL dengan World Diabetes Foundation (WDF) yaitu lembaga swasta dunia yang berdedikasi dalam pencegahan dan pengobatan diabetes melitus di negara berkembang.3 Upaya Kesehatan Upaya kesehatan yang telah dilaksanakan di Indonesia menurut Kemenkes RI tahun 2012. kegiatan pengendalian diabetes melitus dan penyakit metabolik yang telah dilaksanakan terdiri dari pokok-pokok kegiatan yaitu : a. Pada tahun 2012 kira-kira 2. Yogyakarta. Upaya ini telah dilakukan melalui TOT deteksi dini dan tatalaksana diabetes melitus dan penyakit metabolik di 16 provinsi. c. b. yaitu Medan.Sosialisasi dan advokasi sampai dengan tahun 2010 juga telah dilakukan di 33 provinsi.8 % berdasarkan jumlah penduduk.5. Denpasar dan Makassar.18 sehingga 20.

untuk mencapai tujuan dari pengendalian DM perlu diterapkan kebijakan teknis sebagai berikut: a. Mengembangkan dan meningkatkan surveilans epidemiologi di sarana pelayanan kesehatan sebagai bahan informasi dan perencanaan progam pengendalian DM d.6 Analsis Situasi 2. Peningkatan kemitraan melalui jejaring kerja baik nasional. Menetapkan standar. Menyelenggarakan pengendalian DM melalui pencegahan dan penanggulangan factor risiko. survailans epidemiologi. lintas sektor. Melaksanakan sosialisasi dan advokasi pada pemerintah. dan stake holder terkait baik di pusat maupun provinsi. Melakukan pembinaan dan monitoring serta evaluasi progam pengendalian DM d. perlu dikembangkan strategi pelaksaan kegiatan. norma. pedoman. Pengendalian DM berdasarkan fakta (evidence-based) dan skala prioritas b. dan kabupaten/kota f.6. penemuan dan tatalaksana kasus secara tepat. pelaksanaan dan evaluasi upaya pengendalian DM Menurut DEPKES (2008). Intensifikasi upaya pencegahan dan penanggulangan factor risiko.1 Perencanaan Menurut DEPKES (2008).19 2. untuk mencapai keberhasilan program secara efektif dan efisien. Menumbuhkembangkan potensi masyarakat kearah kemandirian melalui pendekatan kelembagaan di tingkat desa/kelurahan g. Meningkatkan jejaring lintas progam. kabupaten/kota dan masyarakat dalam perencanaan. yaitu: a. pihak legislative dan stake holder serta pemerintah daerah c. surveilans epidemiologi dan komunikasi. Meningkatkan kemampuan petugas kesehatan dan masyarakat serta mengupayakan ketersediaan sarana dan prasarana dalam pengendalian DM e. Meningkatkat peran pemerintah provinsi. informasi dan edukasi (KIE) DM c. regional maupun internasional . penemuan dan tatalaksana kasus KIE DM e. kriteria kesehatan dan prosedur kerja dengan mengacu pada pedoman dan peraturan yang berlaku b.

tatanan rasional tida merokok diet kalori seimbang) kehidupan .Penatalaksan . Pemberdayaan masyarakat melalui pembentukan kelompok masyarakat di desa/kelurahan seperti posyandu. Manfaat ilmu pengetahuan dan teknologi serta hasil-hasil penelitian atau kajian yang mendukung dalam upaya peningkatan progam pengendalian DM g.Perawatan kaki PHBS PHBS di aan kasus (peningkata setiap DM secara n aktivitas. Pengedalian Diabetes Mellitus secara Terintegrasi dan Komprehensif berdasarkan Upaya Pencegahan Upaya Pencegahan sasaran Kegiatan primer Skunder Skunder Tersier Populasi Populasi resiko Kasus DM Kasus sehat Komplikasi .Penggerakkan . Meningkatkan peran dan fungsi sesuai kewenangan daerah serta memanfaatkan sumberdaya pusat melalui system penganggaran (dana dekonsentrasi dan perbantu) Tabel 1.20 f. poslansia.Pelayanan pokok n peran peran serta n peran spesialistik pengendalian serta masyarakat serta dan sub Diabetes masyarakat dalam masyarakat spesialistik dalam deteksi dini dalam efisien dan PHBS factor risiko deteksi dan edektif pasien DM tindak dengan lanjut dini komplikasi kasus DM DM di rumah Penyakit metabolik . dll h.Peningkatan sakit .Tindak lanjut dini kasus factor risiko oleh dokter umum di Yankes diabetes .Penggerakka .Perawtan DM di rumah (Home Care) .Peningkatan .Penggerakka .

21 di setiap berbasis tahapan UKBM kehidupan .Monitoring/d eteksi dini dan tindak lanjut factor DM berbasis .KIE factor di yankes .Mencegah timbulnya terjadinya adanya kematian factor DM komplikasi akibat DM risiko DM .Mencegah .Mencegah .Direktorat .Pelayanan .KIE DM n kasus spesialistik melalui factor risiko efisien dan kunjungan DM secara efek pasien rumah (Home rasional oleh DM di Visit) dokter umum rumah sakit UKBM .KIE pasien .Direktoral DM .Mawas diri terhadap terhadap terjadinya factor DM risiko DM Koordinator/ .Mencegah aat Yankes .Penatalaksanaa .Monitoring/det kecacatan risiko DM dan eksi dini akibat DM di setiap keluarga kasus DM tahapan pasien DM berbasis kehidupan UKBM dan Tujuan/Manf .Mawas diri .Direktoral jendral pelayanan Medik .Direktoral .Mencegah .Mawas diri terhadap komplikasi DM .Direktorat Penanggung jendral jendral jendral jendral jawab pengendalia pengendalian pelayanan pelayanan n penyakit penyakit dan medik medik dan penyehatan penyehatan lingkungan lingkungan Jejaring kerja Penanggung jawab adalah pengelola program pengendalian DM di .

Pusat 1) Membuat perumusan dan kebijakan umum teknis 2) Menyusun norma. lintas sektor terkait.22 setiap administrasi pemerintahan khususnya sektor kesehatan. peraturan dan perundang-undangan dibidang pengendalian DM 2) Mensosialisasikan pedoman umum dan teknis. kelompok masyarakat aktif. Kemitraan: lintas progam terkait. dan prosedur di bidang DM . dan Kabupaten/kota 9) Memfasilitasi provinsi dan kabupaten/kota dalam melaksanakan kegiatan peningkatan kemandirian masyarakat dalam pengendalian DM 10) Melakukan bimbingan teknis progam pengendalian DM 11) Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanakan kebijakan DM 12) Menyusun laporan tahunan di bidang pengendalian DM b. organisasi masyarakat. Dinas Kesehatan Provinsi 1) Melaksanakan kebijakan. organisasi profesi seperti Perkeni. standar. lintas sektor dan pemegang kebijakan baik dipusatdan daerah 8) Membentuk dan memfasilitasi jejaring kinerja dalam pengendalian DM di pusat. pedi.2 Pengorganisasian a. prosedur. dan pedoman 3) Menyusun rencana progam DM sesuai prioritas kegiatan 4) Menyusun materi penyuluhan KIE melalui berbagai metode dan media baik media cetak maupun elektronik 5) Mengadakan dan mendistribusikan bahan/alat deteksi dini/diagnostic dalam rangka deteksi dini DM 6) Menyelenggarakan TOT (Training of Trainer) kepada pemegang/ pengelola progam DM 7) Melakukan sosialisasi dan advokasi baik kepada lintas progam. provinsi. masyarakat swasta. modul.6. modul. standar. perguruan tinggi. 2.

masyarakat/kader 6) Menyelenggarakan pelatihan penemuan dini dan tatalaksana DM bagi petugas puskesmas dan kader 7) Melakukan sosialisasi dan advokasi progam pengendalian PTM kepada pemerintah kabupaten/kota dan DPRD. lintas sektor.23 3) Melaksanakan deteksi dini DM di kabupaten/kota dalam rangka evidence based / pengumpulan data 4) Melaksanakan surveilans epidemiologi DM 5) Menyelenggarakan TOT (Training of Trainer) kepada pemegang/pengelola progam DMkabpaten/kota 6) Melaksanakan penyuluhan DM mlalui berbagai metode dan media penyuluhan di kabupaten/kota 7) Melakukan sosialisasi dan advokasi progam pengendalian DM kepad pemerintah daerah. Dinas kesehatan Kabupaten/kota 1) Melaksanakan kebijakan. dan prosedur di bidang DM 3) Melaksanakan deteksi dini DM di Puskesmas dan masyarakat dalam rangka evidence based / pengumpulan data 4) Melaksanakan surveilans epidemiologi DM 5) Melaksanakan KIE melalui berbagai metode dan media penyuluhan kepada puskesmas. lintas progam. standar operasional. swasta. lintas sektor. lintas progam. peraturan dan perundang-undangan dibidang pengendalian DM 2) Mensosialisasikan pedoman umum dan teknis. dan masyarakat. dan swasta 8) Memfasilitasi pertemuan baik lintas progam maupun lintas sektor 9) Membangun dan menerapkan kemitraan dan jejaring kerja DM secara berkesinambungan 10) Memfasilitasi kemandirian masyarakat dalam pengendalian DM 11) Melaksanakan bimbingan dan pembinaan teknis di kabupaten/kota 12) Melaksanakan monitoring dan evaluasi di kabupaten/kota 13) Melaksanakan pencatatan dan pelaporan serta mengirim ke pusat c. . DPRD. modul.

tokoh masyarakat tokoh pemuda dan sektor swasta maupun masyarakat melalui berbagai metode dan media penyuluhan . Provinsi dan pusat e. pembinaan. dan pemantapan jejaring kerja antara profesi dan LSM bidang DM secara berkesinambungan 8) Melaksanakan pencatatan dan pelaporan serta mengirim ke Kabupaten/Kota. Rumah Sakit 1) Melaksanakan deteksi dini terhadap faktor risiko DM 2) Melaksanakan penemuan dan tatalaksana kasus penyakit DM secara aktif di RS 3) Menagani rujukan pasien DM secara berjenjang 4) Menyelenggarakan pelatihan pengendalian DM 5) Melakukan surveilans epidemiologi DM 6) Melaksanakan KIE melalui berbagai metode dan media penyuluhan di lingkungan RS 7) Memfasilitasi pembentukan. Puskesmas 1) Melaksanakan deteksi dini terhadap faktor risiko DM di masyarakat 2) Melaksanakan penemuan dan tatalaksana kasus penyakit DM di puskesmas 3) melaksanakan rujukan pasien DM ke RS 4) Melaksanakan surveilans epidemiologi DM 5) Menyelenggarakan penyuluhan/KIE pengendalian DM kepada agama.24 8) Melaksanakan pertemuan lintas progam maupun lintas sektor 9) Membangun dan mematapkan jejaring kerja secara berkesinambungan 10) Membangun dan memfasilitasi kegiatan pemberdayaan dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam upaya pengendalian DM yang sesuai dengan kondisi daerah (local area specific) 11) Melaksanakan bimbingan dan pembinaan teknis di Puskesmas 12) Melaksanakan monitoring dan evaluasi progam di Puskesmas 13) Melaksanakan pencatatan dan pelaporan serta mengirimkan ke Provinsi d.

Sedangkan data/informasi tentang case fatality rate (CFR) DM akan lebih efektif untuk penilaian kinerja dan fasilitas sarana pelayanan kesehatan.Estimasi ini dapat dilaksanakan melalui pemanfaatan hasil survey yang telah ada seperti survey kesehatan rumah tangga (SKRT). dan survey DM yang berbasis masyarakat. Perencanaan 1) Estimasi kebutuhan masyarakat dan advokasi/kebijakan Estimasi kebutuhan masyarakat dimaksudkan untuk mengetahui besaran masalah DM serta factor risikonya sebagai bahan dasar dalam advokasi kepada pembuat kebijakan. survey kesehatan daerah (SURKESDA). 2) Koordinasi integrasi kebijakan dan strategi pengendalian DM Pengendalian DM difokuskan risikonya secara menyeluruh dan terintegrasi.Oleh karena itu.25 6) Memfasilitasi pembentukan.3 Pengarahan Menurut DEPKES (2008). survey ekonomi nasional (SUSENAS). sumber . Komitmen tersebut berupa kebijakan pengendalian DM dan pembiayaannya. sangat diperlukan kordiansi kebijakan kepada seluruh lintas progam dan lintas sektor terkait bersama-sama dengan swasta dan masyarakat. Untuk keberhasilan pengendalian DM sebaiknya merajuk kepada kebijakan-kebijakan yang sudah ada. komitmen DPRD. dan unsur lain (misalnya asuransi kesehatan).6. riset kesehatan dasar (RISKESDA). sebagai berikut: a. dan pemantapan jejaring kerja / kelompok kerja di masyarakat dalam bidang DM secara berkesinambungan 7) Melaksanakan pencatatan dan pelaporan di bidang DM serta mengirim ke Kabupaten/Kota 2. komprehensif daerah melalui sektor terkait. Data/informasi dan surveilans DM dan prevalensi factor risikonya dipergunakn sebagai bahan dasar perencanaan dan evaluasi kegiatan pengendalian DM serta dalam rangka advokasi untuk mendapatkan dukungan baik dukungan kebijakan maupun dukungan pendanaan. pembinaan. sehingga dalam pelaksanaan kegiatan dapat terintegrasi. pengarahan pengendalian DM meliputi perencanaan dan pelaksanaan.

Monitoring . upaya tersebut dapat dilakukan dengan mengintegrasikan kebijakan pusat dengan kebutuhan pemerintah daerah (PEMDA) melalui pengembangan jejaring DM berupa forum komunikas.6. Tahap pelaksanaan inti (core) Yaitu kegiatan pengendalian tepat guna sesuai dengan sumber daya ang sudah dimiliki dengan kondisi daerah selempat dan segera dapat dilaksanakan b.5 Pengawasan Menurut DEPKES (2008). Monitoring Monitoring adalah penilaian secara terus menerus terhadapfungsi kegiatan baik dalam jadwal pelaksanaan maupun input dan sasaran kegiatan. diagnostic dan pengobatan DM. pengawasan progam pengendalian DM meliputi monitoring dan evaluasi untuk menjamin strategi pengendalian DM dapat dilaksanakan. 2.4 Pelaksanaan Pelaksanaan pengendalian DM dilakukan melalui 2 tahapan baik di pusat. advokasi kepada seluruh stake holder dalam rangka pengendalian DM. a. 2. koordinasi. dipantau dan dievaluasi secara efisien dan efektif.26 daya dan sarana yang memadai untuk pencegahan. maupun individu. Ketiga tahapan tersebut adalah: a.6. serta dukungan kebijakan berupa peraturan daerah (PERDA) dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan pada penyandang DM. di daerah. 3) Identifikasi kebijakan dan strategi untuk pelaksanaan kegiatan Pelaksanaan kegiatan pengendalian DM perlu memperhatikan kebijakan pusat dan daerah agar kegiatan yang dilaksanakan dapat sinkron/sesuai kebutuhan dan berkelajutan. Tahap implementasi yang diinginkan (desirable) Yaitu intervensi yang sesuai standar tatlaksana dan berdasarkan fakta (evidence-based) untuk jangka waktu panjang.

Evaluasi dapat dilakukan pada tahap antara lain: 1) Perencanaan (Ex-ante Evaluation) 2) Kegiatan sedang berjalan (On-going Evaluation) 3) Kegiatan sudah selesai (Terminal Evaluation) 4) Kegiatan sudah berfungsi (Ex-post Evaluation) Pelaksanaan monitoring dan evaluasi (monev) kebijakan kegiatan/progam DM perlu didasarkan pada kejujuran. evaluasi lebih mengutamakan pada efektifitas.27 merupakan bagian penting yang integral dalam managemen sehari-hari (Casey & Kmar. tempat. Evaluasi Menurut Depkes RI (2008). Biasanya berbentuk prosentase target dan realisasi kemajuan kegiatan. b. dan sasaran. efisiensi dan dampak kegiatan tentang waktu. Evaluasi dapat dilakukan secara internal maupun eksternal untuk membantu pembuatan keputusan mempelajari dan menerapkan hasil evaluasi tersebut. catatan pelatihan dan notulen rapat. catatan kerja atau laporan perjalanan. motivasi dan keinginan yang kuat dari para . Secara khusus. monitoring dilakukan dengan metode pengumpilan data dan analisis informasi secara teratur dan dilakukan secara internal untuk menilai apakah semua masukan sudah diakomodir dan dipergunakan. 1987) Menurut Depkes (2008). Sumber data yang penting dalam monitoring adalah laporan verifikasi kegiatan keluaran dan output internal berupa laporan bulanan/triwulan/tahunan. evaluasi adalah penilaian secara berkala terhadap relevansi. bagaimana keiatan sudah dilaksanakan dan apakah keluaran sudah sesuai dengan rencana kegiatan secara khusus. penampilan. monitoring lebih mengutamakan pada efisiensi. dampak dan sustainabilitas. Evaluasi kegiatan disebut juga kaji ulang atau penilaian yang menyeluruh terhadap keluaran output dan kontribusinya pada tujuan kegiatan. Monitoring dilakukan dengan 2 cara yaitu: 1) Monitoring dengan melakukan kunjungan lapangan (field visit) 2) Monitoring dengan mendapatkan laporan kemajuan yang diperoleh dari laporan masing-masing pengelola proga.

6) Berkesinambungan Pelaksanaan monitoring dan evaluasi dilakukan secara berkesinambungan agar dapat dimanfaatkan sebagai umpan balik bagi penyempurnaan kebijakan. Menurut DEPKES (2008). provinsi maupun kabupaten/kota (DEPKES. 7) Berbasis indicator kerja . baik dari pusat.28 pelaku kegiatan. 2008). prinsip-prinsip dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi sebagai berikut: 1) Obyektif dan professional Pelaksanaan monitoring dan evaluasi dilakukan secara professional berdasarkan analisis data yang lengkap dan akurat agar menghasilkan penilaian secara obyektif dan masukan yang tepat terhadap pelaksanaan kebijakan pengendalian DM 2) Transparan Pelaksanaan monitoring dan evaluasi dilakukan secara terbuka dan dilaporkan secara luas melalui berbagai media yang ada agar masyarakat dapat mengakses dengan mudah tentang informasi dan hasil kegiatan monitoring dan evaluasi pengendalian DM 3) Partisipatif Pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi dilakukan dengan melibatkan secara aktif dan nteraktif para pelaku progam DM 4) Akuntabel Pelaksanaan monitoring dan evaluasi harus dapat dipertanggungjawabkan secara internal maupun eksernal 5) Tepat waktu Pelaksanaan monitoring dan evaluasi harus dilakukan sesuai dengan waktu yang dijadwalkan.

29 Pelaksanaan monitoring dan evaluasi dilakukan berdasarkan kriteria atau indicator kinerja. Setjen Depkes. Perguruan Tinggi. RS TNI dan RS POLRI serta RS Swasta (DEPKES. 2008). luaran. Dinas Kesehatan Provinsi. Jejaring kerja lintas sektor terkait pelaksanaan dengan departemen dalam negeri. Meurut DEPKES (2008). Ditjen Bina Kesmas dan Rumah Sakit Pemerintah. Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga. departemen pendidikan Nasional. lintas sektor terkait masayarakat untuk mengambil langkahlangkah upaya tindak lanjut. 3) Monitoring dilakukan setiap satu tahun sekali dan evaluasi output/outcome dilakukan 3 tahun sekali. manfaat maupun dampak. monitoring dan evaluasi serta pengembangan kegiatan pengendalian DM (DEPKES. Ditjen Yanfar dan Alkes. proses. departemen pertanian. Organisasi Profesi (PERKENI. pelaksanaan. Dinas Kesehatan Kabupaten/kota. sumber daya manusia(diklat dan studi banding di dalam dan diluar negeri) dan juga berupa forum komunikasi koordinasi dan aksi bersama dalam perencanaan. Badan Litbangkes. PEDI) dan masyarakat (PERSADIA) bentuk jejaring kerja dapat berupa seminar. Seluruh mekanisme kerja di setiap jejaring administrasi dapat dilaksanakan melalui jejaring kerja lintas progam dengan direktorat SEPIM KESMA. Badan POM. dan Puskesmas. Pusat Promkes. 5) Hasil monitoring dan evaluasi pengendalian DM disosialisasikan kepada lintas progam. kajian/penelitian dan pengembangan. monitoring dan evaluasi pengendalian DM dilakukan sebagai berikut: 1) Pelaksana monev adalah direktorat pengendalian PTM dibantu oleh Dinas Kesehatn Provinsi 2) Sasaran monev meliputi UPT. baik indicator masukan. Ditjen Yanmed. . 4) Hasil monev ini digunakan sebagai bahan penilaian kegiatan yang lalu dan sebagai bahan untuk menyusun perencanaan pengendalian DM pada tahun berikutnya. 2008).

dan puskesmas DM . Proporsi faktor a. Modul TOT provinsi. dan outcome) output proses a. Kegiatan monitoringdan evaluasi (input. output. Jumlah kebijakan provinsi.Sosialisasi input Kegiatan a. Jumlah c. Pedoman teknis provinsi. dan pencegahan dan kabupaten/kota. Pedoman teknis metode kabupaten/kota metode pencegahan dan yang telah pencegahan dan penaggulangan tersosialisasi penaggulangan faktor risiko faktor risiko DM DM c. Pencegahan dan risiko DM dan pedoman umum pengendalian pengendalian PM di pengendalian DM faktor risiko DM puskesmas DM b. Pedoman umum 1. pengukuran indikator diukur dengan batasan wilayah kabupaten/kota dan untu mengetahui keberhasilan pelaksanaan progam pengendalian Diabetes Mellitus. diperlukan beberapa indikator yang dapat dilihat pada table dibawah ini: Tabel 2. penanggulangan penanggulangan dan puskesmas faktor risiko DM faktor risiko yang telah melaksanakan pengendalian faktor risiko DM d.Sosialisasi b.30 Menurut DEPKES (2008).TOT pencegahan c. Jumlah b. kabupaten/kota.

31 yang telah melaksanakan pengendalian faktor risiko DM e. kabupaten/kota. Penemuan dan DM dan PM di pedoman teknis penemuan dan puskesmas penemuan dan tatlaksana tatlaksana penderita DM penderita DM b.Proporsi kasus a.Sosialisasi a.Lelang terbuka/tender c. penderita DM dan puskesmas ke daerah yang telah melaksanakan tatlaksana . Modul TOT penemuan dan dan tatlaksana tatlaksana penderita DM penderita DM c.Jumlah provinsi. dini/diagnostic kabupaten/kota.TOT penemuan c. Pedoman teknis 2. Jumlah provinsi. b. Pengadaan dan pendistribusian yang telah bahan/alat tersosialisasi deteksi d. Prevalensi DM b. Jumlah progam dan sektor laim yang berpartisipasi aktif dalam jejaring kerja pengendalian faktor risiko DM a.

Jumlah kebijakan provinsi. yang mendukung kegiatan penemuan dan tatalaksana kasus DM f. kabupaten/kota. Diterbitkannya kebijakan tentang jumlah hari pemberian obat (minimal 10 hari pemakaian) hipoglikemik oral (OHO) di unit Yankes .32 kegiatan penemuan dan tatalaksana kasus DM e. Jumlah progam sektor lain yang berpartisipasi aktif dalam jejaring kerja penemuan dan tatlaksana kasus DM g.

33 a. Tersedianya data 3. leaflet ke daerah c.Pelatikan KIE Bsgi Tenaga a. lembar balik. Tersedianya data faktor risikoDM a. c. Surveilans . Modul TOT KIE Kesehatan Dan kasus DM b. Jumlah provinsi. Pengadaan dan pendistribusian bahan atau KIE melalui media cetak berupa poster.Kegiatan Advokasi b.Diterbitkan kabupaten/kota Kebijakan yang telah Kesehatan Yang tersosialisasi Berhubungan Dengan Jenis Dan Jumlah Obat Maupun Kualitas Jenis Pelayanan Yang Dapat Dicakup Oleh PT Askes Epidemiologi DM Kader b.

Kurang optimalnya dukungan kemitraan berbasis pemberdayaan masyarakat 3. Keberhasilan program pengendalian DM masih rendah 5.34 BAB 3. MASALAH PROGRAM MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN 3. Pelaporan penemuan kasus atau surveilans belum optimal dilaksanakan 2.1 Analisis Masalah Fish Bone PLANNING ORGANIZING Kurang terhubungnya dengan program kesehatan atau promosi Belum optimalnya program pencegahan DM yang dilaksanakan Masalah Manajemen: 1. Pelaksanaan program pengendalian DM belum optimal 4. Belum optimalnya kader kesehatan masyarakat sebagai upaya preventif dan promotif dalam pengendalian DM 6. Sistem manajemen program pengendalian DM masih belum optimal Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pencegahanDM Kurangnya kesadaran masyarakat untuk melaksanakan program atau memeriksakan diri ke Kecenderungan pemerintah lebih mementingkan penyakit menular Pelaksanaan program belum berbasis pemberdayaan masyarakat TOGA dan TOMA belum dilibatkan secara optimal Kader kesehatan yang ada kurang berperan aktif dalam pelaksanaan program Tidak adanya program pengendalian DM melalui dukungan keluarga Kurangnya dukungan peralatan dan kegiatan deteksi dini faktor resiko DM karena keterbatasan dana Kurangnya pencegahan faktor resiko berbasis masyarakat dalam pengendalian DM CONTROLLING Kurang melakukan penemuan kasus atau survailence epidemiologi DM secara aktif Masih lemahnya sistem informasi dalam pengendalian DM ACTUATING .

Belum optimalnya dukungan keluarga pada anggota keluarga yang sakit berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit dan diet makanan. Kurang optimalnya dukungan kemitraan berbasis pemberdayaan masyarakat di Desa R berhubungan dengan kurang aktifnya peran serta kader dalam pelaksanaan program sebagai upaya preventif dan promotif dalam pengendalian DM.35 3. 3. belum optimalnya peran atau keterlibatan TOGA dan TOMA. Belum optimalnya pelayanan kesehatan masyarakat di Desa R dalam menangani DM berhubungan dengan kurangnya dukungan peralatan dan kegiatan deteksi dini faktor resiko DM akibat dana yang terbatas.2 Daftar Masalah Manajemen Pelayanan Kesehatan 1. . 2.

3. Masyarakat dan TOMA. informmasi pengarahan Toga dan pelaksanaan program Terbentuknya dan edukasi Toma sebagai upaya pos pengendalian kepada pengendalian DM preventif dan promotif diabetes TOGA 1. Pemberdayaan 1.2. PERENCANAAN No Diagnosa Tujuan 1 Kurang optimalnya TUM: Aktifnya dukungan kemitraan kader. komunitas tentang Masyarakat TOGA TOMA kontrol DM 1.1 terlaksananya Mahasiswa serta kader dalam TUK: 1.3 memberikan 1.1 terlaksananya pelatihan Kader .2. 1. belum difasilitasi oleh tentang optimalnya peran atau kader pengendalia Mahasiswa keterlibatan TOGA 2.1 Indikator Evaluator Masyarakat menerima dengan masyarakat 1.1.2 dan terbentuknya komunitas dalam pengendalian CERDIK yang TOMA DM.2 Komunikasi. terbentuknya n DM.1 Bina dan Evaluasi 1.36 BAB 4. TOGA dan masyarakat hubungan kehadiran berbasis TOMA dalam melalui saling membantu terlaksananya pemberdayaan program pelatihan kader percaya program masyarakat di Desa R pengendalian TOGA dengan berhubungan dengan DM TOMA kurang aktifnya peran Rencana Kegiatan Aktivitas 1.

skreening kasus 1.2 Promosi setiap sebulan 2 kali 1.1 penemuan kasus DM di masyarakat 100% 1.37 kontrol DM yang pelatihan kepada difasilitasi oleh kader tentang pengendalian DM 1.3. DM di Puskesmas dokter. dan LSM) deteksi dini faktor program resiko DM akibat dana pengendalian yang terbatas.2 Kelompok kasus maupun kelompok program resiko dapat pengendalia terakomodir n DM 1.2 terbentuknya program program pos pengendalian pengendalian diabetes CERDIK DM 1. Mahasiswa Masyarakat Pihak Swasta Puskesmas .3 terselenggaranya pos TOGA dan TOMA kader tentang program pengendalian DM 2.3 Pelayanan rujukan DM kebutuhannya. Belum optimalnya TUM: Menjalin kerjasama 1.3.1 melakukan pelayanan kesehatan tercapainya antara masyarakat di Desa R target MDG’s program dan lintas dalam menangani DM 2015 dalam sektor serta pihak berhubungan dengan penanganan DM swasta (praktek kurangnya dukungan TUK: peralatan dan kegiatan Terselenggaranya perawat. lintas bidan.

Diagnosis manajemen pelayanan kesehatan komunitas Kurang optimalnya dukungan kemitraan berbasis pemberdayaan masyarakat di Desa R berhubungan dengan kurang aktifnya peran serta kader dalam pelaksanaan program sebagai upaya preventif dan promotif dalam pengendalian DM. Kelola Stres) b. dan jarang memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan.38 BAB 5. makanan yang tidak sehat. Model program perencanaan .Masyarakat cenderung melakukan kegiatan yang kurang mendukung terhadap kesehatan sehingga bisa muncul masalah diabetes mellitus. belum optimalnya peran atau keterlibatan TOGA dan TOMA. jarang berolahraga. pola hidup yang buruk. Istirahat Cukup. Diet sehat dan seimbang. Enyahkan asap rokok. e. dan kaena penurunan fungsi organ seiring dengan bertambahnya usia. c. Berdasarkan hal tersebut maka perlu adanya posbindu Cerdik untuk pembinaan pada masyarakat desa R agar dapat mengendalikan faktor resiko penyakit DM secara mandiri. Pola hidup yang ada pada masyarakat Desa R yaitu suka merokok. Judul program : Pospendes Cerdik (Pos Pengendalian Diabetes dengan Cek kesehatan secara berkala. d. Deskripsi populasi target Masyarakat di Desa R kurang peduli dan tidak mengetahui tentang perilaku hidup bersih dan sehat.Hal ini dapat terlihat dengan adanya masyarakat yang menderita diabetes mellitus. Rajin aktifitas fisik. IMPLEMENTASI 5. Masyarakat Desa R juga kurang memahami tentang pencegahan DM dan menjaga pola hidup yang sehat agar terhindar dari Diabetes Melitus.1 Pilot Project a. Penyakit tersebut bisa muncul karena masyarakat kurang peduli terhadap kesehatan. Deskripsi komunitas Masyarakat di Desa R merupakan masyarakat yang kurang peduli terhadap kesehatan.

dan tekanan darah 3) Kegiatan pemeriksaan gula darah setiap bulan . yang beresiko. Cek kesehatan secara berkala. TOMA/TOGA berperan dalam mengontrol kelompok kasus dan resiko. Diet dengan kalori seimbang. Pos Pengendalian Diabetes CERDIK adalah kegiatan deteksi dini dan pemantauan faktor resiko DM utama melalui perilaku CERDIK yang sudah dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan yaitu. Rajin melakukan aktivitas atau berolahraga. Enyahkan asap rokok. Pos Pengendalian Diabetes CERDIK ini juga memberikan edukasi kepada keluarga dengan anggota keluarga yang sakit. TB. Tujuannya adalah meningkatkan peran serta masyarakat dalam pencegahan dan penemuan dini faktor resiko DM. kader berperan dalam menjalankan pospendes cerdik. IMT. Sasaran kegiatan adalah masyarakat sehat. Kelola stres dengan baik serta menindaklanjuti secara dini faktor resiko yang ditemukan melalui konseling kesehatan dan segera merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan dasar.39 Mahasiswa Masyarakat Kader Puskesmas Rumah Sakit Pospendes Cerdik TOMA/TOGA KELOMPOK RESIKO/KASUS KELUARGA f. Bentuk kegiatan Pospendes CERDIK meliputi: 1) Penggalian info faktor resiko dengan wawancara 2) Kegiatan pengukuran BB. Apabila ada keadaan yang gawat maka dirujuk ke pelayanan kesehatan dasar yaitu puskesmas dan kemudian ke rumah sakit. Puskesmas berfungsi untuk membantu dan mengontrol proses pelaksanaan posbindes dan juga sebagai fasilitator bagi TOMA/TOGA dan kader dalam menjalankan program pengendalian DM. lingkar perut. dan yang mengalami DM. Deskripsi program Pelaksanaan program ini pertama akan dilakukan oleh mahasiswayang akan bekerjasama dengan masyarakat membentuk kader dan TOMA/TOGA. Istirahat yang cukup.

TOGA/TOMA. memobilisasi kekuatan dan sumber fungsional keluarga.40 4) 5) 6) 7) Kegiatan penyuluhan dan konseling Kegiatan aktivitas fisik atau olahraga bersama setiap minggu Kegiatan rujukan ke pelayanan kesehatan dasar Edukasi kepada keluarga dengan anggota keluarga DM Pospendes CERDIK dilaksanakan setiap bulandua kali dengan tempat pelaksanaan adalah lokasi yang mudah dijangkau seperti rumah warga. dan lain-lain. g. Membantu keluarga mengenali bahwa pada kenyataannya gejala klien yangdiidentifikasi memiliki fungsi penting keluarga. Tujuan program Tujuan dari Pospendes CERDIK ini adalah untuk mendeteksi dini faktor resiko penyakit DM di masyarakat dengan melakukan pembinaan. petugas puskesmas.Unsur-unsur pelaksana adalah kader. 6) Memahami bagaimana dinamika keluarga mepengaruhi psikopatologi klien. 4) Meningkatkan dalam persepsi mempertahankan dan pemenuhan homeostasis kebutuhan anggota keluarga lain oleh anggota keluarga. 3) Mengenali dan menyatakan pola yang sering tersembunyi dalam mempertahankan keseimbangan di dalam keluarga. Tujuan dari pemberian edukasi kepada keluarga adalah sebagai berikut: 1) Meningkatkan fungsi keluarga 2) Memperbaiki ketidakadekuatan interaksi dan komunikasi interpersonal yang terlibat dari perbaikan pada klien yang teridentifikasi. 5) Mengubah satu bagian sistem sehingga sistem tersebut berfungsi dengan cara yang lebih sehat. kelompok beresiko dan juga keluarga. merestrukturisasi gaya perilaku . komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pada kelompok kasus. balai desa. dengan demikian sisa sistem ikut berubah.

Rincian dana yaitu: No 1.41 keluarga yang maladaptive.000 Rp 70. serta menguatkan perilaku penyelesaian masalah keluarga. Kriteria evaluasi program 1) Terdapatnya pengelolaan atau pembagian kerja dan penanggung jawab program 2) Terdapatnya kemampuan dan kemauan masyarakat dalam upaya pencegahan dini faktor resiko DM. karena dalam melakukan pencegahan dini diperlukan tenaga yang cukup dan kerjasama dari masyarakat. i. h. 3. Aktivitas intervensi program Aktivitas yang dilakukan yaitu dengan pemberdayaan masyarakata atau membina masyarakat dalam mengendalikan faktor resiko DM yang dilakukan oleh kader kesehatan melalui komunikasi.000 Rp 1. Budget Anggaran dana yang dibutuhkan dalam pelaksanaan Pospendes CERDIK di dapat dari swadaya masyarakat. 4.570. Sumber-sumber dan keterbatasan Keterbatasan dalam program ini adalah SDM. 2. informasi dan edukasi. j. 3) Tersedianya pelayanan DM melalui pospendes CERDIK. 4) Insidensi DM menurun dalam rentang waktu satu tahun. Kebutuhan Konsumsi Spanduk Alat-alat Lain-lain Total Anggaran Rp 600. k. 5.000 Rp 500.000 Rp 400.000 .

Level Downstream Target Individu.2 Tingkat Kegiatan Implemntasi di Komunitas No 1. keluarga Intervensi Pendidikan kesehatan Konseling 2. Upstream Pemerintah Kerjasama dengan Puskesmas dan Rumah Sakit terkait rencana tindak lanjut. . Midstream Komunitas Pembinaan Penyuluhan Konseling 3.42 5.

agar bisa mengurangi insidensi DM di wilayah tersebut. . EVALUASI 6. 6.43 BAB 6. dan edukasi (KIE) dalam pospendes CERDIK sekaligus pembinaan pada kelompok kasus dan resiko serta keluarga yang anggota keluarganya menderita Diabetes Melitus. Pembinaan ini dilakukan oleh kader dalam bentuk komunikasi.1 Evaluasi Formatif Evaluasi formatif dari program ini adalah untuk mendeteksi dini faktor resiko penyakit DM di masyarakat dengan melakukan komunikasi.3 Evaluasi Sumatif Program ini bisa memotivasi masyarakat untuk berperilaku hidup sehat dan bersih untuk menghindari faktor resiko DM.2 Evaluasi Proses Implementasi dari program ini adalah pembinaan pada masyarakat untuk mengendalikan faktor resiko terjadinya DM. sehingga masyarakat Desa Rmempunyai kemampuan untuk melakukan pengendalian penyakit Diabetes Melitus sehingga angka kejadiannya semakin berkurang atau bahkan hilang. informasi dan edukasi pada kelompok kasus dan kelompok beresiko. informasi. Evaluasi ini dilakukan dengan melihat insidensi DM setelah dilakukannya program. Diharapkan masyarakat kooperatif dalam pembinaan ini. 6.

Hal ini dilakukan agar tercapai Masyarakat yang sehat. dengan Indonesia menduduki peringkat ke empat Negara penderita DM tertinggi di dunia.44 BAB 7. .1 Kesimpulan Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit tidak menular yang sifatnya kronis dan membutuhkan perawatannya yang lama untuk proses penyembuhannya. Untuk mengatasi hal tersebut maka pemerintah melakukan program pengendalian DM yang berbasis pemberdayaan masyarakat dan bekerja sama dengan pihak swasta untuk melaksanakan programnya. PENUTUP 7. 7.Pemerintah juga harus memberi perhatian terhadap penyakit DM meskipun tidak menyebabkan penularan.2 Saran Perlu adanya koordinasi antara masyarakat dan pemerintah dalam menerapkan program ini. Angka kejadian DM di Indonesia sangat tinggi terbukti.Prevalensi DM di Indonesia meningkat setiap tahunnya.

http://depkes. http://dinkes. Kemenkes RI.go. 2012.co. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. 2013. 2013. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2007. 2008. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia Dinkes Jember. Jakarta: Bakti Husada Depkes RI.id/userfile/dokumen / 1111111111_1111111111_Profil_Kesehatan_Provinsi_Jawa_Timur_Tahu n_2011. Laporan kunjungan (LBI) DM kabupaten jember tahun 2010.45 DAFTAR PUSTAKA Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Volume 27. Diabetes Care.html (diakses tanggal 17 maret 2014) Sitompul.jatimprov. Global Prevalence of Diabetes-Estimates for the year 2000 and Projection for 2030. Ratna. S. 2011.viva. Pengendalian Diabetes dan Penyakit Metabolik. 2011. 2012. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur Tahun 2011.go. Jakarta: Bakti Husada http://www.life. Jember: dinas kesehatan kabupaten jember Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.tv3.. Laporan kunjungan (LBI) DM kabupaten jember tahun 2011.pdf [16 Maret 2013].com. Hasil Riskesdas 2013.pdf [25 Februari 2013] Depkes RI. Suzanne.id /news/read/458459-setiap-enam-detik-satu-orangmeninggal-akibat-diabetes (Diakses tanggal 17 maret 2014) . Wild. 2001. _______. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2011. Number 5. Page: 10471053. Jakarta: IDI Smeltzer C. Brunner & Suddarth. www. Jember: dinas kesehatan kabupaten jember Dinkes Jember. EGC : Jakarta.id/downloads/ riskesdas2013 /Hasil%20Riskesdas%202013. 2008.my/beritatv3/berita_terkini/Jumlah_Penghidap_Diabetes_Di_ Malaysia_Membimbangkan. 2004. Setiap enam detik satu orang meninggal akibat diabetes. 2012. Artikel Pengembangan Pendidikan Berkelanjutan: Retinopati Diabetik.

http://www.46 _______. 2013. berkenalan-dengan-si-manis-diabetes. 2013.com/read/news/2013/11/14/060529766/IndonesiaMasuk-10-Besar-Negara-dengan-Pengidap-Diabetes (Diakses tanggal 17 maret 2014) _______. Indonesia Masuk 10 Besar Negara dengan Pengidap Diabetes. Tropicanaslim . http://www. .tempoo.com/berkenalan-dengan-si-manis-diabetes (Diakses tanggal 17 maret 2014).