Anda di halaman 1dari 21

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ........................................................................

i

HALAMAN JUDUL ............................................................................

ii

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ............................................

iii

HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................

iv

HALAMAN PENGESAHAN .............................................................

v

HALAMAN MOTTO ..........................................................................

vi

HALAMAN PERSEMBAHAN ..........................................................

vii

PEDOMAN TRANSLITERASI ..........................................................

viii

KATA PENGANTAR ..........................................................................

ix

DAFTAR ISI .........................................................................................

x

ABSTRAK .............................................................................................

xi

BAB I: PENDAHULUAN ....................................................................

1

A. Latar Belakang Masalah ................................................................

1

B. Rumusan Masalah ..........................................................................

8

D. Tujuan Penelitian ..........................................................................

8

E. Manfaat Penelitian .........................................................................

8

F. Definisi Operasional .......................................................................

9

G. Sistematika Pembahasan ................................................................

12

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA ......................................................

14

A. Penelitian Terdahulu .....................................................................

14

B. Kajian Teori ..................................................................................

19

1. Hukum dan Tujuan Perkawinan ...............................................

19

2. Syarat dan Rukun Nikah ...........................................................

22

3. Batasan Umur Nikah Menurut UU ............................................

29

4. Batasan Umur Nikah Menurut Fiqh .........................................

31

5. Maslahah ...................................................................................

37

6. Dispensasi Kawin .....................................................................

40

BAB III : METODE PENELITIAN ..................................................

44

A. Jenis Penelitian ..............................................................................

45

B. Pendekatan Penelitian ....................................................................

45

C. Lokasi Penelitian ............................................................................

45

D. Metode Penentuan Subyek ............................................................

46

E. Jenis Dan Sumber Data ..................................................................

46

F. Metode Pengumpulan Data ............................................................

47

G. Metode Pengelolahan Data ............................................................

48

BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...................

52

A. Sekilas Tentang Dispensasi Kawin Di PA Pasuruan ......................

60

B. Gambaran Perkara ...........................................................................

62

C. Proses Pemberian Dispensasi Kawin Pada Perkara Nomor
0067/Pdt.P/2012/PA.Pasuruan ............................................................... 58

....................Pasuruan ........ 69 BAB V : PENUTUP ..................................................... Tinjauan Maslahah Pada Perkara Nomor 0067/Pdt.................... Kesimpulan ..................D........................... 74 B........... 74 A............................................................ Saran .............................. 75 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN .................................................................................................................P/2012/PA........

lebih spesifik lagi dalam Buku II Edisi Revisi tahun 2010. Pasal 7 ayat 2. Yang mana dalam Buku II Edisi Revisi tahun 2010.Bagi calon mempelai yang belum mencapai umur diperbolehkannya menikah dan ingin mengajukan dispensasi nikah juga memiliki prosedur sendiri. yang mengajukan permohonan dispensasi kawin bisa oleh anak sendiri. yang mana buku tersebut berisi pedoman-pedoman yang harus diikuti oleh seluruh hakim dan jajaran pegawai Pengadilan Agama. Mahkamah Agung mengeluarkan peraturan mengenai prosedur dispensasi kawin. Dalam Undang-Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan telah disebutkan prosedur melakukan permohonan Dispensasi Kawin yakni orangtualah yang mendaftarkan dan mengajukan permohonan dispensasi kawin anaknya. Pemohon yang dimaksud adalah para calon mempelai yang umurnya masih belum mencapai batas kebolehan menikah. Mahkamah Agung mengeluarkan Buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas Dan Administrasi Peradilan Agama. seperti yang tercantum dalam Pasal 7 ayat 2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yakni: “Dalam hal penyimpangan dalam ayat (1) pasal ini dapat minta dispensasi kepada Pengadilan atau pejabat lain yang diminta oleh kedua orang tua pihak pria atau pihak wanita”. 1 2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Keputusan Mahkamah Agung/032/SK/IV/2006 . 2 Di dalam Buku Pedoman Pelaksanaan Tugas Dan Administrasi Peradilan Agama.1 Seiring perkembangan Pengadilan Agama dan beracara didalam Pengadilan Agama.

Pengadilan Agama akan mengeluarkan 3 4 Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Peradilan Agama.3 Jadi untuk mendaftarkan dispensasi kawin tidak harus didaftarkan dan diajukan oleh orang tuanya.Hal itu disebutkan dalam bab Pedoman Khusus pernikahan. “Permohonan dispensasi kawin yang diajukan oleh calon mempelai pria dan/atau calon mempelai wanita dapat dilakukan secara bersama-sama kepada Pengadilan Agama atau Mahkamah Syar'iyah dalam wilayah hukum dimana calon mempelai pria dan wanita tersebut bertempat tinggal”. edisi revisi 2010. namun dalam prosesnya. hal itu setelah dicermati. antara Undang-Undang tahun 1974 tentang Perkawinan dengan Buku Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan agama terdapat perbedaan. Terkait dengan siapa yang boleh mengajukan pendaftaran dispensasi kawin apakah orangtua atau oleh anak sendiri. keluarga dekat atau walinya”.4 Jadi meskipun anak dibawah umur dapat mengajukan permohonan dispensasi kawin atas dirinya sendiri. edisi revisi 2010. Hal 138 . Buku II. dalam masalah Dispensasi Kawin. Namun dalam Buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Admistrasi Pengadilan Agama disebutkan bahwa “Pengadilan agama/mahkamah syar’iyah dapat memberikan dispensasi kawin setelah mendengar keterangan dari orang tua. Hal 138 Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Peradilan Agama. Buku II.

atau wali. Dalam mengajukan dispensasi kawin pemohon mengajukan atas dirinya sendiri.penetapan setelah mendengarkan keterangan dari orangtua. maka dalam proses penetapannya apakah penetapan dispensasi kawin akan baru dikeluarkan setelah mendengarkan keterangan dari orangtua. Oleh karena itu penelitian ini menliti tentang bagaimana jika dispensasi kawin itu diajukan sendiri oleh anak dibawah umur. pemohon merupakan pemuda yang berumur 17 tahun 3 bulan. memang jika dilihat dari Undang-Undang nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Dalam kasus ini apakah hakim nantinya dalam pertimbangan menetapkan dispensasi kawin mereka berdasarkan keterangan dari orangtuanya terlebih dahulu atau tidak. prosedur yang ada pada Buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan Agama mengenai dispensasi kawin tidak sesuai. namun bagaimana jika dilihat dari sudut pandang maslahah. bagaimana proses acaranya dan bagaimana tinjauan maslahahnya. Apakah hakim dalam memutus pengabulan dispensasi kawin sudah sesuai dengan apa yang telah ada dalam Buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan Agama. keluarga dekat.P/2012/PA. .Pasuruan. keluarga dekat atau wali dari si anak. Selain itu. Dalam perkara nomor 0067/Pdt. dan calon istrinya adalah perempuan yang berumur 16 tahun. Dalam praktiknya jika ada seorang anak dibawah umur mengajukan dispensasi nikah. Akan tetapi belum diketahui bagaimana praktik yang terjadi dalam lapangan. pemohon yang mengajukan dispensasi kawin adalah anak dibawah umur.

Abdul Kholik dan Slamet. MH. pasal 7 mengatakan bahwa: “Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun. adalah Drs. Dalam hal penyimpangan terhadap ayat (1) pasal ini dapat meminta dispensasi kepada Pengadilan atau Pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak pria maupun pihak wanita. selaku Panmud hukum Pengadilan Agama Pasuruan.Pas. Yang merupakan hakim anggota dalam sidang penetapan perkara Nomor 0067/Pdt.Pas. H.P/2012/PA.Ag. S. Disini peneliti tidak dapat mewawancarai Drs.Proses Pemberian Dispensasi Kawin Oleh Anak Sendiri Dan Pertimbangan Hakim PA Pasuruan Dalam Menangani Perkara Nomor 0067/Pdt. Data primer dari penelitian ini adalah hasil lapangan yang berupa wawancara terhadap hakim Pengadilan Agama Pasuruan. Wawancara diajukan kepada 3 narasumber. Ketentuan-ketentuan mengenai keadaan salah seorang atau kedua orang tua tersebut dalam Pasal 6 ayat (3) dan (4) Undang-undang ini.P/2012/PA. SH. selaku ketua majelis dikarenakan beliau sudah tidak bertugas lagi di Pengadilan Agama Pasuruan.Pas. Selain mewawancarai hakim anggota. Dalam Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 yang mengatur tentang Perkawinan. A.P/2012/PA. Zainal Arifin. Dardiri. Sebenarnya dalam satu majelis terdapat tiga hakim yang menjadi ketua majelis dan dua hakim anggota. berlaku juga dalam . peneliti juga mewawancarai Drs. dua diantaranya merupakan majelis hakim yang menetapkan perkara Nomor 0067/Pdt.

disebutkan bahwa orang tua dapat meminta dispensasi kawin untuk anaknya yang belum cukup umur untuk dapat melakukan pernikahan.” 6 Dalam Buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Peradilan Agama tertulis pada bagian dispensasi kawin tertulis: 5 6 Undang-undang nomor 1 tahun 1974. karena pada umumnya dispensasi kawin itu yang mengajukan adalah pihak orang tua. dan juru sita dalam melaksanakan tugasnya. Ia melanjutkan bahwa selama para pencari keadilan dalam memenuhi ketentuan dan persyaratan dalam mengajukan permohonannya maupun gugatannya.P/2012/PA. panitera. Terkait dengan hal itu Drs. untuk para hakim. 12 Mei 2015) . dispensasi dapat diminta kepada pengadilan. maka tidak ada alasan Pengadilan Agama untuk menolaknya. Dardiri selaku panitera muda hukum PA Pasuruan menjelaskan “Dalam Undang-undang No 1 tahun 74 memang tertulis seperti itu. apalagi dalam undang-undang beberapa hal hanya mengatur secara globalnya saja.hal permintaan dispensasi tersebut ayat (2) pasal ini dengan tidak mengurangi yang dimaksud dalam Pasal 6 ayat (6). Sedangkan dalam perkara nomor 0067/Pdt. Perkara semacam ini terbilang langka. yang mengajukan dan menjadi pemohon dispensasi kawin adalah anak sendiri. namun di Pengadilan Agama tidak hanya merujuk pada undang-undang saja. Oleh karena itu dikeluarkanlah Buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Peradilan Agama yang juga menjadi salah satu acuan bagi para aparat Peradilan Agama. wawancara (Pengadilan Agama Pasuruan. pasal 7.”5 Dalam pasal 7. Dardiri. A.Pas.

orang tua yang bersangkutan harus mengajukan permohonan dispensasi kawin kepada Pengadilan Agama atau Mahkamah Syar'iyah.Jika Pemohon tidak puas dengan penetapan tersebut. keluarga dekat. h. Permohonan dispensasi kawin diajukan oleh orang tua calon mempelai pria yang belum berusia 19 tahun dan/atau calon mempelai wanita yang belum berusia 16 tahun kepada Pengadilan Agama atau Mahkamah Syar'iyah dalam wilayah hukum dimana calon mempelai dan/atau orang tua calon mempelai tersebut bertempat tinggal. maka Pemohon dapat mengajukan upaya kasasi. Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Peradilan Agama. .Calon suami isteri yang belum mencapai usia 19 dan 16 tahun yang ingin melangsungkan perkawinan. Buku II Edisi Revisi 2010 (Jakarta: Mahkamah Agung RI Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama. 153-154. Permohonan dispensasi kawin yang diajukan oleh orang tua calon mempelai pria dan/atau calon mempelai wanita dapat dilakukan secara bersama-sama kepada Pengadilan Agama atau Mahkamah Syar'iyah dalam wilayah hukum dimana calon mempelai pria dan wanita tersebut bertempat tinggal. 2. 7 Muhammad Iqbal. 2010). Permohonan dispensasi kawin bersifat voluntair produknya berbentuk penetapan. sebagai berikut:7 1. 3. Pengadilan Agama atau Mahkamah Syar'iyah dapat memberikan dispensasi kawin setelah mendengar keterangan dari orang tua. atau walinya. Adapun prosedur pengajuan permohonan dispensasi kawin secara umum.

wawancara (Pengadilan Agama Pasuruan. 22 April 2015) .8 2. ada perkara.Hal ini berdasarkan pada asas di Pengadilan Agama yang menyatakan bahwa ada biaya. d) Fotocopy Kutipan Akta Kelahiran Pemohon. wawancara (Pengadilan Agama Pasuruan. dan posisi anak adalah sebagai pemohon. Sedangkan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi ketika mendaftar dispensasi kawin ada 2.Jadi menurut Buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Peradilan Agama. f) Surat Permohonan rangkap 4. dibenarkan apabila dispensasi kawin itu didaftarkan dan diajukan sendiri oleh anak. b) Fotocopy Kartu Tanda Penduduk (KTP) orang tua Pemohon. c) Fotocopy Kartu Keluarga (KK) orang tua Pemohon. 8 9 e) Fotocopy Ijazah Pemohon. Dardiri. Persyaratan Umum Syarat ini biasa dilakukan dalam pengajuan perkara perdata di Pengadilan Agama. yakni membayar biaya panjar yang telah ditaksir oleh petugas pada meja I Pengadilan Agama Pasuruan. yakni: 1. Persyaratan Pengajuan Permohonan Dispensasi Kawin Adapun syarat pengajuan permohonan dispensasi kawin yaitu:9 a) Fotocopy Surat Penolakan Pernikahan (Model N9) Pemohon yang dibuat oleh Pegawai Pencatat Nikah pada Kantor Urusan Agama. 22 April 2015) Dardiri.

keluarga dekat.g) Surat Keterangan Status Calon Suami dari Kepala Desa atau Kelurahan setempat calon suami bertempat tinggal. Meskipun disini Pengadilan Agama Pasuruan membenarkan jika dispensasi kawin dapat diajukan sendiri oleh anak. Sedangkan prosedur pengajuan perkara dispensasi kawin yang berlaku di Pengadilan Agama Pasuruan secara umum adalah: a) Permohonan dispensasi kawin diajukan oleh orang tua calon mempelai pria yang belum berusia 19 tahun dan/atau orang tua calon mempelai wanita yang belum berusia 16 tahun kepada meja satu bagian penerimaan Pengadilan Agama Pasuruan. atau walinya. c) Pengadilan Agama Pasuruan dapat memberikan dispensasi kawin setelah mendengar keterangan dari orang tua. h) Surat Keterangan Penghasilan calon suami. namun secara umumnya masih mengacu pada Undangundang No 1 Tahun 1974. . sesuai Buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Peradilan Agama. permohonan dispensasi kawin dapat dilakukan secara bersama-sama sekaligus. b) Dalam hal calon mempelai pria dan calon mempelai wanita yang akan melangsungkan pernikahan sama-sama membutuhkan dispensasi kawin.

Meskipun secara formil belum dapat melakukan perbuatan hukum. Namun hakim tidak dapat menolak perkara tanpa adanya dalil yang jelas. pemohon melampirkan foto kopi Surat Keterangan Kartu Tanda Penduduk Sementara milik pemohon. serta Surat Keterangan Penghasilan pemohon. Hal itu dikarenakan orang tua pemohon tidak berkenan untuk mendaftarkan anaknya. Menurut Drs. bisa dengan mempertimbangkan secara psikologis atau berdasar pada hukum adat asalkan bisa menyelesaikan perkara. pemohon tidak dapat menyerahkan foto kopi Kartu Tanda Penduduk orang tua pemohon. dan apa yang menjadi dasar hakim menerima dan memberikan izin dispensasi nikah kepada pemohon. Berkaitan dengan proses pemberian izin dispensasinya.Permohonan dispensasi kawin dengan nomor perkara 67/Pdt. selain itu hakim juga dianggap tahu. Oleh karena itu persyaratan yang harus dipenuhi pun berbeda. Surat Keterangan Status pemohon dari Kepala Kelurahan tempat domisili pemohon bertempat tinggal. pembuktian. muncul pemikiran mengapa anak dibawah umur dapat mengajukan dispensasi kawin atas dirinya sendiri. tidak diketahui orang tua calon mempelai . Abdul Kholik “Hakim dihadapkan pada dua hal yang bertentangan antara adanya permasalahn yang harus diperiksa dan persoalan anak dibawah umur yang tidak dapat melakukan perbuatan hukum. Sebagi gantinya. tapi dalam proses persidangan. pemohon telah dianggap sebagai orang yang punya wewenang melakukan perbuatan hukum.” Dari salinan penetapan diketahui bahwa tidak hanya didaftarkan sendiri oleh anak. Hakim bertindak sebagai penggali hukum atau recht finding.P/2012/PA. H.Pas tidak mengikuti prosedur yang umum. Merujuk pada legal standing atau persona standing in juditio. karena meskipun usianya belum dewasa tetapi dia telah dianggap cakap.

”11 Dengan mempertimbangkan seluruh bukti formil dan materiil. dengan dalil “Dar’ul mafâsid muqaddamun ‘ala jalbil mashâlih” (menolak kerusakan harus didahulukan daripada meraih kemaslahatan).P/2012/PA. Dan apabial pihak orang 10 11 Abdul Kholik. Dasar pertimbangan yang paling kuat adalah adanya fakta bahwa calon mempelai perempuan diketahui telah hamil 6 bulan. Abdul Kholik. H. Menanggapi hal itu Drs. 27 April 2015) Slamet. berdasarkan atas beberapa pertimbangan.Ag.memberikan kesaksian dan keterangan.Pas. denagan memanggil orang tua. SH. ahirnya para hakim memutuskan untuk memeriksa perkaranya. H.Pas memang termasuk perkara yang langka. menambahkan “Perkara dengan nomor 0067/Pdt. oleh sebab itu perkara ini sebelumnya telah dimusyawarahkan dengan para hakim. Abdul Kholik menjelaskan bahwa “selama proses pengadilan. namun dari pihak perempuan datang satu keluarga yakni sepupu dari calon mempelai perempuan. maupun kakak calon mempelai laki-laki. sementara orang tua calon mempelai perempuan terus mendesak agar segera menikahi putrinya. 27 April 2015) . ini termasuk dalam asas consensus. S.P/2012/PA. ketika proses pemeriksaan hakim dan pihak Pengadilan Agama Pasuruan telah secara formal memaksimalkan keadaan. paman. SH. Slamet. menanggapi tentang ketidakhadiran orang tua calon mempelai pria itu dikarenakan orang tuanya tidak mau merestui keduanya sehingga tidak mau memberikan keterangan dalam persidangan. Begitupula dengan orang tua calon mempelai perempuan. wawancara (Pengadilan Agama Pasuruan. dan juga mempertimbangkan bagaimana hukum adat yang ada di masyarakat. Slamet. Dikabulkannya permohonan izin dispensasi kawin ini. wawancara ((Pengadilan Agama Pasuruan. maka majelis hakim sepakat untuk mengabulkan permohonan dispensasi kawin dengan nomor perkara 0067/Pdt.Ag. dan apabila dibiarkan maka ditakutkan akan terjadi madlarat yang lebih besar. S. namun tidak ada yang berkenan datang memberikan keterangan.”10 Sama seperti yang telah dikatakan Drs.

Disinalah hakim dituntut untuk menjadi recht finding atau penemu hukum yang belum ada. Maslahah yang sering digunakan adalah maslahah mursalah. Pengadilan Agama tidak dapat menolak perkara tersebut. tak jarang juga para hakim menggunakan metode istinbat maslahah. Akan tetapi dalam perkara nomor 0067/Pdt. (dalam hal perkawinan ditetapkan 19 (laki-laki) dan 16 (perempuan)) seharusnya belum dapat melakukan tindakan hukum. yaitu apa yang dipandang baik oleh akal.Pas.P/2012/PA. . Meskipun dalam hukum positif belum ada peraturan tentang anak yang mengajukan sendiri dispensasi kawinnya. Dalam proses recht finding atau penemuan hukum. yang menjadi rujukan hakim jika hukum suatu perkara tidak ada dalam hukum positif maka hakim merujuk pada hukum adat dan agama. pihak Pengadilan Agama Pasuruan tetap menerima dan juga mengabulkan permohonan dispensasi kawin yang diajukan oleh seseorang yang berumur 17 tahun. Dalam hukum positif seorang yang belum mencapai umur dewasa.P/2012/PA. Tinjauan Maslahah Terhadap Perkara Nomor 0067/Pdt.Pas. tanpa didampingi walinya.tua keberatan atas penetapan ini maka orang tua pemohon dapat mengajukan permohonan pembatalan perkawinan.

(Jakarta: Kencana.Pas tertulis dalam pertimbangannya “dan mengawinkan keduanya adalah lebih baik dari pada membiarkan keduanya dalam keadaan yang sedemikian rupa.Pas.P/2012/PA. Dalam memutuskan perkara hakim memaknai suatu dalil hukum secara luas.sejalan dengan tujuan syara’ dalam menetapkan hukum. 351 . yang menjadi pertimbangan hakim adalah bagaimana nantinya dampak psikologi bagi calon istri yang telah hamil. tidak ada kepastian ditinjau dari sisi hukum. h. maka majelis hakim perbendapat sah pemohon sebagai subyek hukum. Dalam penetapan perkara nomor 0067/Pdt. Namun tidak ada petunjuk syara’ yang memperhitungkannya dan tidak ada pula petunjuk syara’ yang menolaknya. dan sisi sosialnya. sisi masa depan anak kelak.” atas dasar maslahah dan atas kaidah fiqhiyyah Dar’ul mafâsid muqaddamun ‘ala jalbil mashâlih.P/2012/PA. maka hakim mengabulkan permohonan dari pemohon. calon istrinya maupun anak yang dilahirkan kelak. dilihat dari sisi psikologis. 2011). baik bagi pemohon. Aspek-aspek yang dijadikan acuan dalam memutuskan perkara diantaranya. Ushul Fiqh. Calon istri akan menanggung aib sebagai 12 Amir Syarifuddin. Jilid 2. 12 Dalam perkara nomor 0067/Pdt. pertimbangan utama hakim adalah fakta bahwa ternyata hubungan antara calon mempelai laki-laki dan perempuan telah sangat dekat dan apabila tidak segera dinikahkan maka dikhawatirkan akan terjadi penyimpangan agama. Dari sisi psikologi. karena dengan perkawinan dapat menghindarkan kemungkinan terjadinya kemudlaratan yang lebih besar” Maka demi hukum agar tidak menambah kemudlaratan yang lebih besar. sehingga maslahah yang dijadikan acuan hakim pun tidak hanya dari satu aspek.

dalam Agama Islam ini termasuk dalam perzinaan. Masyarakat akan mencemooh atau bahkan mengucilkan calon ibu. keseehatan. Dan anak yang dilahirkan tanpa ayah akan sulit mendapatkan fasilitas-fasilitas seperti pendidikan. Namun disisi lain memberikan izin menikah kepada dua calon mempelai yang masih dibawah umur tersebut juga menimbulkan dampak. Harus diingat bahwa calon mempelai wanita telah hamil 6 bulan di luar nikah. Selain itu yang menjadi pertimbangan hakim juga bagaimana dampak psikologi bagi anak yang dilahirkan kelak. dan hal itu juga akan berdampak terhadap kehidupan sosialnya. dan bahkan keluarganya. dan hukum karena akan dipertanyakan orangtuanya. Dampak sosial tidak hanya akan dirasakan oleh calon istri dan anaknya. dan anak yang ada dalam kandungan calon . Dampak yang dikhawatirkan adalah adalah adanya sanksi norma dari masyarakat.perempuan yang memiliki anak tanpa suami. Apabila anak dilahirkan tanpa ayah dikhawatirkan berdampak buruk terhadap kehidupan sosial dan psikologinya di masa depan. dan juga mendapatkan kepastian dan perlindungan hukum. anaknya kelak. namun juga keluarga dari calon istri. Anak tidak seharusnya menjadi korban atau penanggung atas perbuatan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya. Dalam perkara hamil diluar nikah seperti ini yang menjadi korban adalah anak. diterima dalam masyarakat. Semua anak yang dilahirkan memiliki hak yang sama untuk hidup normal.

2266 . kitab Ath-Thalaq. Abu Dawud. Bab Fi Iddi’a` Walad Az-Zina no. maka dia tidak mewarisi anak biologis dan tidak mendapatkan warisan darinya. artinya keduanya sudah baligh.” 13 Dengan mengizinkan pemohon menikahi calon istrinya. jika diukur dalam batas maksimal baligh maka keduanya sudah melewati. Kemudian dilihat dari kematangan psikologis kedua pemohon. Perkara seperti ini seharusnya disebutkan dalam penetapan hakim agar ayah biologis (pemohon) mengetahui bahwa walaupun telah menikah. tapi nasab si anak tidak dapat diikutkan padanya berikut masalah kewarisannya. terlebih jika anak yang lahir nantinya perempuan maka ayah biologisnya tak bisa jadi wali nikahnya.mempelai wanita tidak dapat diikutkan nasabnya kepada ayah biologisnya. akan berdampak pada kerancuan nasab si anak kelak. Akan tetapi jika tolak ukurnya adalah kata ar-rusyd. Hal itu berdasarkan hadis: ‫ومن ادعى ولدا من غير رشدة فال يرث وال يورث‬ “Siapa yang mengklaim anak dari hasil di luar nikah yang sah. Selain itu. yang artinya adalah seseorang yang telah sempurna akal dan 13 HR. pemohon laki-laki berumur 17 sedangkan calon istrinya berumur 16 tahun. Nantinya akan menjadi hal yang sudah umum dan akan mempengaruhi cara berpikir yang salah oleh masyarakat bahwa jika tidak diperbolehkan menikahi seorang perempuan maka dapat mengambil jalan pintas dengan hamil di luar nikah. permohonan perizinan dispensasi kawin dengan alasan karena si perempuan telah hamil pada ahirnya akan dijadikan alasan kuat agar mendapatkan izin menikah dari Pengadilan Agama.

maka itu adalah suatu indikasi bahwa mereka belum dapat membedakan dan memilih mana hal yang dilarang dan diperbolehkan. Dari itu semua penulis menilai bahwa apa yang diputuskan oleh hakim itu sesuai jika berdasarkan maslahah. Sedangkan jika melihat dari perbuatannya yang begitu dekat antara satu sama lain padahal belum ada ikatan suami istri. maka apakah anak dengan umur 17 dan 16 tahun sudah dapat dikatakan rusd. dan mengakibatkan si perempuan hamil. dan kaidah fiqh dar’ul mafâsid muqaddamun ‘ala jalbil mashâlih. Dengan kata lain keduanya belum bisa dianggap rusydan. Atas beberapa pertimbangan hakim menganggap dampak negatifnya atau madlaratnya jauh lebih besar apabila membiarkan kedua pemohon dispensasi kawin ditolak permohonannya.agamanya serta memiliki kemampuan mengelola serta menjaga hartanya. .

2010. 1392 H). Pengantar Metode Penelitian Hukum. Metode Penelitian Hukum. Penelitian Hukum. dan Zainal Asikin.I. Ahkamul Fuqaha. 2010. Jakarta. IV. Ahmad. Mahkamah Agung R.2011. Kamus Besar Bahasa Indonesia. . Edisi 10/Cet. Jakarta: CV Pedoman Ilmu Jaya. (Beirut: Dar Al-Ihya’ al-Turats al‘Arabi. (Surabaya: Khalista. Jakarta: Kencana Prenada Group. 2011) An-Nawawi. Ahkâmul Usroh Fî Syarî’ati Al-Islâmiyyah Amiruddin. Yusuf. Jakarta: Rajawali Pers. Zainuddin. Hanafi. Kontroversi Perkawinan Anak Di Bawah Umur (Child Marriage). Marzuki. Juz IX Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Abdutawwab. 2013. Muhyiddin Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. 1993. 2011.Daftar Pustaka Ali. Peter Mahmud. MUNAS dan KONBES Nahdlatul Ulama (1926-2010 M). Jakarta: Balai Pustaka. Rahasia Perkawinan Rasulullah SAW Poligami dalam Islam vs Monogami Barat. Bandung: CV. Ali. Mandar Maju. Jakarta: Sinar Grafika. Keputusan Muktamar. 1995 Haikal.Solusi Problematika Aktual Hukum Islam. Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan: Buku II.

2007 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Soerjono. Jakarta: Kencana. Amir.Mughniyah. Fiqih. 82/Pdt. Skripsi “Dispensasi Nikah di Bawah Umur”. Hasanuddin University. Jakarta: Kencana. Quri. Jakarta:Yudhistira. terj. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah. 2012. . “PEMBERIAN DISPENSASI USIA PERKAWINAN (Studi Kasus Penetapan No.B. Suryabrata. (Jakarta: Erlangga. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia (Antara Fiqh Munakahat dan Undang-Undang Perkawinan. Al-Fiqh ‘Ala al-Madzahib al-Khamsah. Hukum Perkawinan Islam. Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan. Jakarta : Lentera. 4/7 (2013) Peraturan Menteri Negara (permeneg) Nomor 3 tahun 1975 Rahman. Sumadi. Ramulyo. Muhammad.P/2012/PA. Sutinah.2007 Orchid. Muhammad Jawad. Jakarta: Rajawali Pers. 2007) Syarifuddin. 2005. 2010 Suyanto. Metodologi Penelitian. Nurmilah. Jakarta: Bumi Aksara. 1986 Shomad. Jakarta: UI Press. Pendidikan Agama Islam SMA. Syamsuri. Ushul Fiqh. Pengantar Penelitian Hukum. (Jakarta: Kencana.Ghozali Abdul. 2011 Soekanto.Mks)”. Masykur A. Idris. Amir. 2003 Sari. Fiqh Munakahat. Syarifuddin. Bagong. Jakarta: Kencana. 2010 Muslih. Cet. Abdul. Hukum Islam. 26. dkk. 2010). Jilid 2. 2011. Jakarta:Kencana.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Zuhri. Saifudin. Ushul Fiqh (Akal Sebagai Sumber Hukum Islam). 2011 .