Anda di halaman 1dari 3

“Advokat Iblis” (Advocatus Diaboli) dalam

Tradisi Hukum Romawi
OPINI | 30 August 2012 | 10:38 Dibaca: 403
bermanfaat

Komentar: 4

1 dari 1 Kompasianer menilai

sumber: IEET.org
Bila secara historis memahami profesi dan makna “Advocatus Diaboli” atau Advokat Iblis,
sebutan dalam Tradisi Hukum Romawi, dan istilah lainnya, seruan Wamen Kemenkum-HAM
Denny Indrayana, dipahami dari konteks dan didukung sebagai bagian menciptakan penegakkan
hukum, yang pada gilirannya menciptakan good and clean governance yang diimpikan bersama.
Tulisan ini tidak memasuki wilayah privat dan tidak berpretensi membela pribadi Denny
Indrayana.
Debat para Advokat dan pemerhati hukum dalam tayangan Indonesia Lawyers Club (ILC) di TV
swasta (28/8/2012), muncul dari Twitter Wamen Kemenkum-HAM Denny Indrayana. Sebagian
salah-paham mestinya boleh dianggap terjelaskan dan tuntas. Namun, sebagiannya meninggalkan
kekaburan dan butuh catatan, termasuk mengkritisi kritik Prof. J.E. Sahetapi, yang umumnya
menjadi referensi dunia hukum, namun karena (atau, betapa pun) pada konteks Denny adalah
bagian dari kekuasaan Presiden SBY, Prof. Sahetapi tampak bertentangan dengan core issue,
pergumulan etis Denny agar para Advokat menegakkan prinsip Etika Profesi. Karena itu, saya
memberikan catatan dan konteks hukum dan Etika Profesi Advokat dalam pointers, agar pemirsa
TV maupun pembaca dapat memiliki konteks lain dan memisahkan inti dari ‘kulit’ masalah, serta
cara berpikir out of the box.
Pertama, bahasa Tweet Wamen Denny Indrayana adalah pernyataan etis-normatif, ketika
mengatakan “Advokat koruptor sama dengan koruptor”. Pernyataan itu setingkat dengan
pernyataan normatif lain seperti, “Politisi atau pejabat korup adalah penjahat”. Pernyataan Denny
jauh dari suatu “generalisasi” atau ‘gebyah-uyah’ pada seluruh Advokat atau (apalagi) sebuah
Lembaga yang menaunginya. Membuat premis bahwa Denny menghina profesi Advokat adalah
premis yang keliru dan berlebihan, dan lahir sebuah loncatan pemikiran dari pemahaman garis
logika bahasa yang tepat. Generalisasi baru ada dalam kalimat, misalnya “Semua Advokat itu
koruptor”. Sebaliknya, generalisasi atau gebyah-uyah itu justeru muncul dari asumsi keliru,
bahwa Denny telah menyerang Profesi, dan pembuat asumsi itu bertolak dari generalisasi buatan
pembuat asumsi sendiri.
Kedua, konteks pernyataan Denny seperti diungkapkan, datang dari situasi conditional atau
kasuistik. Karena itu, pernyataan Denny sebagai suatu pernyataan etis-normatif, justeru
melepaskan diri dari “ruang privat” itu dan ditingkatkan menjadi suatu pernyataan publik,
sebagai suatu kerisauan. Seorang pejabat yang risau pada kemungkinan adanya tindak pidana
yang mungkin lahir dari praktek-praktek pilar penegak hukum, menurut nurani dan common
sense, Denny harus didukung dan dibela dalam isu penegakkan etika profesi penegak hukum,
terutama tugas Advokat sebagai officium nobelium.

Tugas “Advokat Jahat” adalah menyerang semua argumen Advokat Tuhan yang menyatakan seseorang sebagai SALEH. maupun pilar penegak hukumlainnya. menetapkan. Advokat (Sipil sekarang) memerankan posisi Advocatus Iustitia (atau Advokat Tuhan). Argumen ad Hominem picisan terhadap pribadi Denny dan tidak terkait sebuah dalihnya adalah irrasional. Sahetapi. Bahasa lainnya. Etiket boleh dilanggar (sedikit/banyak) asalkan target penegakkan ETIKA PROFESI dimenangkan. Tweeter dengan baik digunakan Denny sebagai cara komunikasi. benar Denny mungkin “sedikit tidak sopan” membuat statemen lewat Tweeter. core issue yang diperjuangkan dan menjadi komitmen Denny. Beban pembuktian (onus probandi) bahwa seseorang adalah jahat diargumentasikan penyidik dan Jaksa. Sebagai ilustrasi historis seni beracara. Hakim. Idealnya lagi. sejumlah orang saleh adalah Advocatus Diaboli (Gereja). Denny dalam kapasitasnya adalah tepat untuk menyampaikan seruan moral itu. Jika argumen Advocatus Diaboli atau Promotor Fidei yang dimenangkan. Budayawan Sudjiwo Tedjo dengan tepat mengatakan. Pejabat publik memang perlu kehati-hatian. Tetapi. Kalau harus diparalelkan dengan Hukum Acara Pidana (Sipil) sekarang. karena Denny tidak hanya menulis di Tweeter. Advocatus Diaboli diperankan Jaksa yang harus membuktikan bahwa seseorang adalah jahat. BAIK atau KUDUS dan karenanya harus dinyatakan atau dikanonisasikan. khusus kritik Prof. “Masrayakat kita perlu orang (dengan cara) gila untuk menjadi pemecah kebekuan (komunikasi). bahkan sebaliknya DIWAJIBKAN secara moral karena jabatan publiknya. bahwa SEORANG TERSANGKA telah dengan meyakinkan (tahu dan mau) memenuhi unsur CRIMEN (atau JAHAT) dan/atau karena kelalaiannya terjadi suatu kerugian pada pihak lain. Peran dramatis “Advokat Jahat” atau “Advokat Iblis” adalah menjernihkan orang yang terlanjur dianggap saleh atau kudus. atau sebaliknya dibebaskan. Sahetapi memang menganggap tidak patut pejabat publik tidak berkomunikasi dengan Tweeter. IDEALNYA pekerjaan Advokat adalah seni menguji argumen-argumen secara rasional dan logis untuk mencapai pembuktian keadaan BERSALAH atau TIDAK BERSALAH-nya seseorang. Dalam praktek Hukum Romawi yang mempengaruhi Hukum Acara Kanonik (Katolik) Roma. Saya tidak melihat pertentangan TUJUAN menegakkan ETIKA PROFESI (Advokat) Deny dan Sahetapi. Tweeter yang selama ini isinya tetek-bengek yang tak penting. Itu adalah propaganda good and clean governance.Ketiga. cara itu bahkan boleh didebat. di mana lahir peran Advokat Modern. J. Kelima. Keempat. yaitu mendorong kemuliaan profesi Advokat (dan profesi lainnya). muncul istilah Advokat Jahat (Advocatus Diaboli atau Promotor Fidei ) danAdvokat Tuhan (Advocatus Iustitia atau promoter of the Cause). Namun. Dalam profesi (dramatis) ini. dengan nuraninya. Atlit Olimpiade London 2012 yang mengirim TWEET dengan warna rasial dihukum. secara bersama atau masing-masing mereka. membangun dan mendorong Etika Profesi Advokat yang layak dan dihormati sebagaiofficium nobile. paham profesi Advokat secara historis dan filosofinya: dalam sejarah Tradisi Hukum Romawi. sampai dibuktikan bahwa orang tersebut patut dipandang sebagai “seorang saleh”. Jaksa. Keenam. karena memenuhi unsur-unsur pidana dan harus dihukum. Jaksa harus dapat membuktikan dengan seksama. Tapi. Denny bukan hanya TIDAK melanggar. tidak perlu ‘dihukum’ sebaliknya harus dipromosikan. dan yakin. bahwa Tweeter adalah salah satu cara dan produk peradaban untuk berkomunikasi. Filosofi di sini (seperti doktrin militer) adalah semua orang adalah “biasa saja” (atau jahat). Sementara. dalam konteksnya. kita tidak boleh lupa. tampak seolah dikritik Sahetapi. sebuah ‘kenakalan Tweet’ diperlukan sebagai CARA untuk TUJUAN lebih besar dan mulia. dan karenanya harus dihukum. sebagai sebuah produk kebudayaan. dalam debat hukum yang konstruktif. tapi dia punya konteks pernah menulis tentang topik yang sama. di mana salah satu filosofi utama . tentang memenuhi tidaknya unsur TINDAK PIDANA seseorang. maka para Advokat. maka Hakim (Gereja) akan menolak argumen “Advocatus Iustitia” atau Advokat Tuhan untuk menyatakan seseorang sebagai “SALEH” atau “KUDUS”. bahasa Etikanya.E. meski kembali dapat didebat. mungkin karena faktor waktu dan usia senior. Tapi. betapa pun bukan cara satu-satunya tentu. Untuk menetapkan seseorang sebagai JAHAT dan melanggar HUKUM. seperti disarankan beberapa aktivis yang cukup kritis. Ketika memandang dan mengalami adanya sesuatu mengancam keluhuran profesi Advokat. kalau tweet untuk kebaikan.” Tedjo juga menilai.

Filosofi daripresumption of innocent. aktivis-pejuang HAM Munir. Di situlah Denny mendapat apresiasi saya. Pilar penegak hukum legendaris ada di negeri kita. sampai dibuktikan sebaliknya. *) Penulis. boleh disebut sebagai dua orang pejabat yang punya komitmen dan terus bergumul. Semestinya. seseorang tidak berhak menghakimi orang lain sebagai baik atau buruk/jahat secara mutlak. salah-satu cara untuk memulai praktek Advokat dalam bingkai Etika Profesi yang diidealkan adalah penjabaran praktek Hukum Acara Pidana atau Perdata lain yang mengharuskan klien sejak awal menandatangani segala bentuk “perjanjian” di mana Advokat dengan mudah terjerumus dalam kepentingan (koruptif). preseden buruk atau dalih untuk menghindar dari penegakkan Advokat sebagai profesi mulia. YLBHI.com/2012/08/30/advokat-iblis-advocatus-diaboli-dalam-tradisi-hukumromawi/ . Sebaliknya. Lebih dari itu. terutama Advokat.kompasiana. sebagai pemerhati Etika Profesi. Menutup kebaikan atau kejahatan seseorang sehingga menerima hukuman yang tidak patut. Advokat dapat menghalalkan segala cara untuk menutup suatu kejahatan. Seolah.” Ketujuh. Kedelapan. Denny dianggap “makhluk aneh” karena malah mengkampanyekan penegakkan Etika Profesi. karena rendahnya komitmen dan integritas Advokat adalah sebuah bencana penegakkan hukum. Selama ajal belum menjemput. keadilan dan kebenaran demi Indonesia sebagai rechtstaat yang bermartabat di panggung dunia peradaban. dan beberapa tokoh muda lainnya yang membangun idealisme penegakkan Etika Profesi. Tidak ada yang dihukum dan menghukum. Para penegak hukum menyadari relativitas kebenaran (hukum) mereka. Bean dalam peran jenakanya sebagai Setan (Devil) mengatakan. Rowan Atkinson atau populer dikenal Mr. Sebaliknya. dalam keseluruhannya adalah sebuah proses pencerdasan dan pemurnian komitmen pada nilai kemanusiaan. Advokat yang mempersilahkan dirinya sendiri agar mengindari conflict of interest adalah tindakan nyata yang baik. Karena. di segala bidang. Advokat Yap Thiam Hien. Advokat di sini secara moral berkualifikasi baik. dengan konotasi dan kualifikasi bila. Semua pilar penegak hukum bicara Good and clean Governance. let’s kill all the lawyers”. Polisi Hoegeng. dan di lain pihak menentang kesewenangan penguasa. William Shakespeare dengan statemennya “The first thing we do. Dalam segala diskusi dan pesimisme kita tentang penegakkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. dalam semua Argumen ILC dimaksud. ini akan mengikat dirinya sendiri. Inilah paradoks penegakkan hukum. apresiasi khusus patut diberikan kepada aktivis (muda) dari ICW. Wakil Ketua KPK Bambang Widjoyanto dan Denny Indrayana. Diskursus ILC besutan Karni Ilyas. komit pada penegakkan hukum. integritas tinggi.adalah semua orang adalah baik. welcome to hell. konteksnya adalah penguasa yang terganggu dengan argumen-argumen Advokat demgam pembelaan terhadap Rakyat di satu sisi. propaganda Etika Profesi dan komitmen ada pada banyak di antara kita. Argumen bahwa tidak mungkin seorang klien ditanya asal hartanya oleh calon lawyer-nya. “Looters and advocates. pemerhati Etika Profesi http://hukum. PUKAT. Organisasi Advokat atau Dewan Etik-nya memasukkan UU yang menjamin para anggotanya menjalankan Etika Profesi yang BUKAN bebas aturan dan nilai.