Anda di halaman 1dari 60

Blok Saraf dan Perilaku

Skenario 3: Sakit Kepala Menahun

FAKULTAS
KEDOKTERAN
Ketua
Sekertaris
Anggota

: Betari Texania Harsa


: Darayani Amalia
: Airindya Bella K
Ayu Nujma Paradis
Fitria Nengsih
Aiman Idrus Alatas
Bayu Adhitya W
Bayu Hernawan R M
Dea Melinda S
Harvien Bhayangkara

(1102013058)
(1102013070)
(1102013016)
(1102011058)
(1102012092)
(1102013015)
(1102013053)
(1102013054)
(1102013072)
(1102013124)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
JL. LET. JEND. SUPRAPTO, CEMPAKA PUTIH,
JAKARTA PUSAT, 10510
DESEMBER 2015

SKENARIO:
SAKIT KEPALA MENAHUN

Perempuan 35 tahun berkonsultasi dengan dokter keluarga dengan keluhan sakit kepala
berulang sejak 2 tahun yang lalu. Sakit kepala seperti tertimpa beban berat dan nyeri pada
tengkuknya. Sakit kepala ini disertai dengan insomnia. Sakit kepala berawal sejak pasien
diceraikan oleh suaminya 2 tahun yang lalu dan harus berpisah dari kedua orang anaknya.
Oleh dokter pasien disarankan untuk berkonsultasi lebih lanjut ke neurolog dan psikiater.
Neurolog mengatakan bahwa pasien mengalami nyeri kepala tipe tegang, sedangkan psikiater
menyimpulkan bahwa pasien mengalami nyeri somatoform (psikogenik). Walaupun ia sudah
bercerai, ia tetap bertanggung jawab untuk membimbing anaknya sesuai dengan prinsip
keluarga sakina, mawaddah, warahmah.

KATA SULIT:
1. Insomnia

: Gangguan pada waktu tidur.


2

2. Nyeri Somatoform
: Gangguan yang bersifat psikologis seperti nyeri, mual,
pusing yang tidak dapat dijelaskan secara medis.
3. Nyeri kepala tipe tegang
: Sensasi nyeri atau rasa tidak nyaman di daerah kepala
atau kulit kepala yang berhubungan dengan ketegangan otot.
PERTANYAAN DAN JAWABAN:
1. Apa hubungan dari insomnia dengan nyeri kepala?
Pasien mengalami masalah perceraian sulit diselesaikan yang mengakibatkan pasien
mengalami sakit kepala dan akhirnya menyebabkan insomnia
2. Apa hubungan nyeri kepala tipe tegang dengan nyeri somatoform?
Nyeri kepala tipe tegang disebabkan oleh adanya konversi dari masalah psikis
menjadi keluhan fisik seperti mual, nyeri dan pusing sama halnya dengan nyeri
somatoform
3. Kenapa psikiater bisa menyimpulkan pasien mengalami nyeri somatoform?
Karena tidak ditemukan kelainan fisik dan disebabkan oleh masalah psikis
4. Bagaimana mekanisme nyeri somatoform?
Stress pelepasan kortisol meningkatnya metabolisme tubuh Na K pump aktif
terjadi retensi Na tegang otot Nyeri kepala dan tengkuk
Stress peristaltik penceranaan menurun mual
5. Bagaimana tatalaksana untuk pasien tersebut?
Untuk nyeri bisa diberikan analgetik, untuk insomnia bisa diberikan obat
benzodiazepine dan hydroksizine (anti histamin sedatif) dan untuk depresi bisa
diberikan anti depressan serta untuk terapi non farmako dilakukan terapi konseling.
6. Bagaimana tanggung jawab orang tua terhadap anak sesuai dengan prinsip keluarga
sakinah, mawadah, warahmah?
Memberikan pendidikan, memberikan kasih sayang, membahagiakan lahir batin dan
lain lain
7. Apa yang menyebabkan pasien insomnia?
Sakit kepala yang membuat pasien tidak nyaman yang berujung mengganggu pola
tidur pasien
8. Mengapa dokter menyarankan ke psikiater dan neurologi?
Psikiater: karena pasien mengalami masalah psikis (perceraian)
Neurologi: karena pasien mangalami sakit kepala yang disertai nyeri tengkuk

HIPOTESA:
3

Masalah yang tidak bisa


diatasi (Stressor)

Stress

Konversi dari masalah


psikis menjadi keluhan
fisik

Nyeri kepala

Pemeriksaan: tidak
ditemukan kelainan
medis (contoh: tumor,
infeksi, dll)

Diagnosis
neurolog: nyeri kepala
tipe tegang
psikiater: nyeri
somatoform

Terapi:
analgetik, antipsikosis
dan konseling

SASARAN BELAJAR
4

LO 1. Memahami dan Menjelaskan Jaras Nyeri


LO 2. Memahami dan Menjelaskan Nyeri Kepala
2.1. Definisi
2.2. Etiologi
2.3. Epidemiologi
2.4. Klasifikasi
2.5. Patofisiologi
2.6. Manifestasi
2.7. Diagnosis dan Diagnosis Banding
2.8. Penatalaksanaan
2.9. Komplikasi
2.10. Pencegahan
2.11. Prognosis
LO 3. Memahami dan Menjelaskan Nyeri Somatoform
3.1. Definisi
3.2. Etiologi
3.3. Klasifikasi
3.4. Diagnosis dan Diagnosis Banding
3.5. Penatalaksanaan
3.6. Prognosis
LO 4. Memahami dan Menjelaskan Keluarga Sakinah, Mawaddah dan Warahmah
Serta Memahami dan Menjelaskan Konsultasi Perkawinan

LO 1. Memahami dan Menjelaskan Jaras Nyeri


5

A. Traktus spinotalamikus Lateralis

i.

ii.

iii.

iv.

v.
vi.

Axon dari neiron orde pertama (ganglion spinalis) memasuki ujung cornu
posterius substantia grissea medulla spinalis dan segera bercabang menjadi
serabut yang naik dan yang turun
Sesudah memasuiki satu atau dua segmen medulla spinalis membentuk
tractus posterolateral (lissaueri) , serabut ini segera bersinapsis dengan
neuron orde kedua yang terletak pada kelompok sel substantia gelatinosa
cornu posterius
Axon dari neuron orde kedua berjalan menyilang garis tengah pada
comissura anterior substantia grissea dam substantia alba kemudian naik
keatas pada sisi kontra lateral sebagai anterius. Sewaktu berjalan keatas,
serabut saraf baru terus bertambah sesuai dengan banyaknya segmen
medulla spinalis, demikian rupa sehingga pada bagian atas cervical
terdapat
a) Serabut sraf yang datang dari sacral terletak posterolateral
b) Serabut saraf yang datang dari cervical terletak anteromedial
(serebut saraf yang menghantarkan rasa sakit terletak didepan yang
menghantarkan sensasi suhu)
Pada Medulla oblongata tractus tersebut terletak pada dataran lateral antara
nucleus olivarius inferius dengan nucleus tractus spinalis N.Trigeminus.
disini ia bergabung dengan
1. Tractus spinothalamicus anterius
2. Tractus spinotectalis
Yang kemudian gabungan dari ketiganya disebut lemniscus spinalis
Pada pons kemudian naik keatas dibagian belakang pons
Pada mesencephalon kemudian lemniscus medialis berjalan pada
tegmentum , lateralis dari lemniscus medialis

vii.

viii.

ix.

Pada diencephalon serabut saraf dari tractus spinothalamicus lateralis akan


bersinapsis dengan neuron orde ketiga yaitu nucleus posterolateral dari
keolompok ventral thalamus (bagian dari nucleus lateralis thalamus),
dimana disini akan terjadi penilaian kasar sensasi sakit dan suhu dan reaksi
emosi mulai timbul.
Axon dari neuron orde ketiga jalan memasuki crus posterior capsula
interna dan corona radiata untuk berakhi pada gyrus postcentralis
(brodmann 3 2 1) . dari sini informasi rasa sakit dan suhu akan diteruskan
ke area motorik dan area asosiasi di cortex lobus parietalis.
Cortex cerevri gyrus psotcentralis berfungsi untuk menafsirkan suhu dan
sakit sehingga akan muncul kesadaran terkait sensasi tersbut.

Pembagian secara fisiologis


Sewaktu memasuki medulla spinalis , sinyal rasa nyeri melewati dua jalur ke otak
yaitu:
A. Traktus neospinotalamikus
Traktus neospinotalamisu berfungsi utnuk menyalurkan nyeri
secara cepat. Terutama terdiri atas serabut A-Delta yang tyerutama
dilalui oleh rasa nyeri mekanik dan nyeri suhu akut. Serabut perifer
jalur ini berakhir pada lamina I kornu dorsalis. Dan dari sini akan
merangsang neuron orde dua dari tractus neospinotalamicus. Neuron
ini akan mengirimkan sinyal ke serabut panjang yang terletak di dekat
sisi lain medulla spinalis dalam komisura anterior dan selanjutnya
berbelok naik ke otak dalam kolumna anterolateralis.
1. Hanya sebagian kecil saja serabut neopinotalamikus
berakhir di daerah retikularis batang otak, sisaya melewati
batang otak dan langsung berakir di kompleks ventrobasal
thalami.
2. Nyeri cepat dapat dilokalisasi dengan mudah di dalam
tubuh
3. Neurotransmiter A delta umumnya adalah glutamat
B. Traktus paleospinotalamikus
Jalur ini befungsi untuk menjalarkan nyeri lambat-kronik , sebagian
serabutnya adalah tipe C, sebagian kecil A-delta. Dalam jaras ini, serabutserabut perifer berakhri pada lamina II dan II kornu dorsalis yang secara
bersama-sama disebut substansi gelatinosa, serabut C terletak lebih lateral
dari A-delta. Setelah itu akan berlanjut ke lamina V dan neuron-neuronnya
merangsang akson-akson panjang (yang juga menjadi penghantar nyeri
cepat) yang mula-mula melewati komisura anterior ke sisi berlawanan dari
medulla spinalis ,kemudian naik ke otak melalui jaras anterolateral
Neotransmiter nya adalah glutamat dan Substansi P, substansi P
bersifat lebih lambat dari Glutamat yang memungkinkan glutamat untuk
sampai terlebih dahulu. Yang menjelaskan suatu fenomena rasa sakit
ganda
7

Jaras paleospinotalamikus berakhir kebanyakan di


a. Mucleus retikularis medula, pons dan mesensefalon
b. Area tektal mesensefalon sampai kolukulus usperior dan inferior
c. Daerah periakuaduktus substansia grisea yang mengelilingi
aquaductus sylvii
Kemampuan lokalisasi rasa nyeri pada jalur lambat sangatlah
buruk dan kebanyakan hanya dapat dilokalisasi di bagian tubuh yang
luas
Formasio retikularis berfungsi untuk menimbulkan persepsio
nyeri yang disadari

Mekanisme penghantaran nyeri


Fisiologi nyeri melalui proses-proses berikut
1.

Proses Transduksi (Transduction)


Proses transduksi merupakan proses dimana suatu stimuli nyeri diubah menjadi
suatu aktifitas listrik yang akan diterima ujung-ujung saraf. Stimuli ini dapat berupa
stimuli fisik (tekanan), suhu (panas) atau kimia (substansi nyeri). Transduksi rasa sakit
dimulai ketika ujung saraf bebas (nociceptors) dari serat C dan serat A delta neuron
aferen primer menanggapi rangsangan berbahaya. Nosiseptors terkena rangsangan
berbahaya ketika kerusakan jaringan dan inflamasi terjadi sebagai akibat dari,
misalnya, trauma, pembedahan, peradangan, infeksi dan iskemia.
Nociceptors didistribusikan pada ;
1.
2.

Struktur Somatik (kulit, otot, jaringan ikat, tulang, sendi);


Struktur Viseral (organ viseral seperti hati, saluran gastro-intestinal).

3.

Serat C dan serat A-delta yang terkait dengan kualitas yang berbeda rasa
sakit.

Ada tiga kategori rangsangan berbahaya:


8

1.
2.

Mekanik (tekanan, pembengkakan, abses, irisan, pertumbuhan


Tumor)
Thermal (membakar, panas);

3.

Kimia (neurotransmitter rangsang, racun, iskemia, infeksi).

Penyebab stimulasi mungkin internal, seperti tekanan yang diberikan oleh tumor
atau eksternal, misalnya, terbakar. Stimulasi ini menyebabkan pelepasan mediator
kimia berbahaya dari sel-sel yang rusak, termasuk: prostaglandin, bradikinin,
serotonin, substansi P, kalium, histamin. Mediator kimia ini mengaktifkan nosiseptor
terhadap rangsangan berbahaya. Dengan maksud memperbaiki rasa nyeri, pertukaran
ion natrium dan kalium (depolarisasi dan repolarisasi) terjadi pada membran sel. Hal
ini menghasilkan suatu potensial aksi dan generasi dari sebuah impuls nyeri.
2.

Proses Transmisi ( Trasmision)


Proses tranmisi dimaksudkan sebagai penyaluran impuls melalui saraf sensoris
menyusul proses transduksi. Impuls ini akan disalurkan oleh serabut saraf A delta dan
serabut C sebagai neuron pertama, dari perifer ke medulla spinalis dimana impuls
tersebut mengalami modulasi sebelum diteruskan ke thalamus oleh traktus
sphinotalamikus sebagai neuron kedua. Dari thalamus selanjutnya impuls disalurkan
ke daerah somato sensoris di korteks serebri melalui neuron ketiga, dimana impuls
tersebut diterjemahkan dan dirasakan sebagai persepsi nyeri.

3.

Proses Modulasi (Modulation)


Proses modulasi adalah proses dimana terjadi interaksi antara sistem analgesik
endogen yang dihasilkan oleh tubuh pada saat nyeri masuk ke kornu posterior medula
spinalis. Proses acendern ini di kontrol oleh otak. Sistem analgesik endogen ini
meliputi enkefalin, endorfin, serotonin, dan noradrenalin memiliki efek yang dapat
menekan impuls nyeri pada kornu posterior medulla spinalis. Kornu posterior ini
dapat diibaratkan sebagai pintu yang dapat tertutup atau terbukanya pintu nyeri
tersebut diperankan oleh sistem analgesik endogen tersebut di atas. Proses modulasi
inilah yang menyebabkan persepsi nyeri menjadi sangat subyektif pada setiap orang. .
Suatu jaras tertentu telah diternukan di sistem saran pusat yang secara selektif
menghambat transmisi nyeri di medulla spinalis. Jaras ini diaktifkan oleh stress atau
obat analgetika seperti morfin (Dewanto).

4.

Persepsi
Persepsi merupakan titik kesadaran seseorang terhadap nyeri. Pada saat individu
menjadi sadar akan nyeri, maka akan terjadi reaksi yang kompleks.
a

Korteks somatosensori: Ini adalah terlibat dengan persepsi dan interpretasi dari
sensasi. Ini mengidentifikasi intensitas, jenis dan lokasi sensasi rasa sakit dan
sensasi yang berkaitan dengan pengalaman masa lalu, memori dan aktivitas
kognitif. Ini mengidentifikasi sifat stimulus sebelum memicu respons, misalnya,
di mana rasa sakit itu, seberapa kuat itu dan bagaimana rasanya.
9

Sistem limbik: Hal ini bertanggung jawab untuk respon emosi dan perilaku
terhadap rasa sakit misalnya, perhatian, suasana hati, dan motivasi, dan juga
dengan pengolahan rasa sakit,dan pengalaman masa lalu rasa sakit.

RESEPTOR NYERI
Aferen primer mencakup serat A-alfa dan A-beta yang besar dan bermielen serta
membawa impuls yang besar dan tidak bermielin ( tidak diperlihatkan ) serta membawa
impuls yang memperantarai sentuhan, tekanan, dan propriosepsi dan serat A-delta yang
kecil bermielin dan serat C yang tidak bermielin, yang membawa impuls nyeri. Aferenaferen primer ini menyatu di sel-sel kornu dorsalis medulla spinalis, masuk ke zona
lissauer, serat pascaganglion simpatis adalah serat eferen dan terdiri dari serat-serat C
tidak bermielin.

SENSITISASI NOSISEPTOR DI DAERAH CEDERA JARINGAN

10

Pengaktifan langsung dengan tekanan intensif yang menyebabkan kerusakan sel.


Kerusakan sel menyebabkan dibebaskannya kalium ( K) intra sel dan sintesis
prostaglandin (PgG) dan bradikinin (BK. Prostaglandin meningkatkan sensitivitas
reseptor nyeri bradikinin, yaitu zat kimia penghsil nyeri yang paling kuat.
Apapun bentuknya, pada nantinya hal tersebut akan menyebabkan perubahan
permeabilitas neurong sehingga dapat terjadi suatu potensial aksi dengan perpindahan
ion-ion yang timbul.
LO 2. Memahami dan Menjelaskan Nyeri Kepala
2.1. Definisi
Nyeri kepala adalah rasa sakit atau tidak nyaman antara orbita dengan kepala yang
berasal dari struktur sensitif terhadap rasa sakit (Kenneth, 2004). Struktur cranium yang
peka nyeri kepala adalah semua jaringan ekstrakranium, termasuk kulit kepala, otot,
arteri, dan periosteum tengkorak; sinus kranialis; sinus vena intrakranium dan vena-vena
cabangnya; bagian dari dura di dasar otak dan arteri di dalam dura; dan nervus kranialis
trigeminus, fasialis, vagus, dan glosofaringeus serta nervus cervicalis ( C2 dan C3).
Apabila nyeri kepala melibatkan struktur-struktur di daerah infratentorium, nyeri tersebut
dari daerah oksipitalis kepala dan leher oleh akar saraf cervical atas.Nyeri supratentorium
dirasakan di bagian anterior kepala (daerah oksipital, temporalis, dan parietalis) dan
terutama diperantai oleh nervus trigeminus. (Kowalak, 2011)
2.2. Etiologi
Nyeri kepala dapat dibagi kepada tiga kelompok berdasarkan onsetnya iaitu nyeri kepala
akut, subakut dan kronik. Nyeri kepala akut ini biasanya disebabkan oleh subarachnoid
haemorrhage, penyakit-penyakit serebrovaskular, meningitis atau encephalitis dan juga

11

ocular disease. Selain itu, nyeri kepala ini juga bisa timbul disebabkan kejang, lumbar
punksi dan karena hipertensi ensefalopati.
Bagi nyeri kepala subakut, nyerinya biasa timbul karena giant cell arteritis, massa
intrakranial, neuralgia trigeminal, neuralgia glossofaringeal dan hipertensi.
Nyeri kronik timbul karena migren, nyeri kepala klaster, nyeri kepala tipe-tegang,
cervical spine disease, sinusitis dan dental disease. (Greenberg, 2002).
Dalam buku Disease of the Nervous System, dinyatakan bahwa nyeri kepala juga
disebabkan oleh penyakit pada tulang kranium, neuritis dan neuralgia, irritasi meningeal,
lesi di intracranial, trauma dan penurunan tekanan intracranial. Selain itu cough headache
dan psychogenic headache juga dapat menimbulkan nyeri kepala (Brain, dan Walton, J.N.,
1969). Nyeri kepala sering menyertai OSA(Obstructive Sleep Apnea); dibandingkan dengan
gangguan tidur yang lain, sefalgia lebih sering terjadi pada gangguan tidur OSA. (Gaharu,
M., Prasadja, A., 2009).
Sebagian besar nyeri kepala terjadi karena tegangan (kontraksi otot) dapat disebabkan
oleh:
Stres emosional, kelelahan, menstruasi, rangsangan dari lingkungan (bunyi berisik,
kerumunan banyak orang, cahaya yang terang).
Keadaan lain yang dapat menjadi penyebab: glaukoma, inflamasi pada mata atau mukosa
nasal atau sinus paranasal, penyakit pada kulit kepala, gigi, arteri ekstrakranial,
pemakaian obat-obat vasodilator (nitrat, alkohol dan histamin), penyakit sistemik,
hipertensi, peningkatan tekanan intracranial, trauma/tumor kepala, perdarahan, abses atau
aneurisma intrakranial.(Price, 2006)
2.3. Epidemiologi
Migren terjadi hampir pada 30 juta penduduk Amerika Serikat dan 75 % diantaranya
adalah wanita. Migren dapat terjadi pada semua usia tetapi biasanya muncul pada usia 10
40 tahun dan angka kejadiannya menurun setelah usia 50 tahun. Migren tanpa aura
lebih sering diabndingkan migren yang disertai aura dengan persentasi 9 : 1.
TTH terjadi 78 % sepanjang hidup dimana Tension Type Headache episodik terjadi 63 %
dan Tension Type Headache kronik terjadi 3 %. Tension Type Headache episodik lebih
banyak mengenai pasien wanita yaitu sebesar 71% sedangkan pada pria sebanyak 56 %.
Biasanya mengenai umur 20 40 tahun.
2.4. Klasifikasi
Sakit kepala bisa merupakan keluhan primer atau sekunder

Primer :

sakit kepala merupakan diagnosis utama, bukan disebabkan karena adanya


penyakit lain
Sekunder : sakit kepala merupakan gejala ikutan karena adanya penyakit lain hipertensi,
radang sinus,premenstrual disorder, dll.

Sakit kepala dapat diklasifikasikan menjadisakit kepala primer dan sakit kepalasekunder.
12

1. Sakit kepala primer dapat dibagi menjadi migraine, tension type headache, cluster
headache dengan sefalgia trigeminal / autonomik, dan sakit kepala primer lainnya.
2. Sakit kepala sekunder dapat dibagi menjadi sakit kepala yang disebabkan oleh karena
trauma pada kepala dan leher, sakit kepala akibat kelainan vaskular kranial dan
servikal, sakit kepala yang bukan disebabkan kelainan vaskular intrakranial, sakit
kepala akibat adanya zat atau withdrawal,sakit kepala akibat infeksi, sakit kepala
akibat gangguan homeostasis, sakit kepala atau nyeri pada wajah akibat kelainan
kranium, leher,telinga, hidung, dinud, gigi, mulut atau struktur lain di kepala dan
wajah, sakit kepala akibat kelainan psikiatri.
Tension Type Headache (TTH)
Definisi nyeri kepala tipe tegang menurut kriteria Internatinal Headache Society (IHS)
adalah episode yang berulang dari nyeri kepala yang berlangsung bermenit menit sampai
berhari-hari. Nyerinya khas, menekan atau ketat dalam kualitas, ringan atau sedang
intensitasnya, umumnya bilateral lokasinya dan tidak memberat dengan aktivitas fisik
rutin, nausea biasanya tidak ada, tetapi fotofobi bisa ditemukan.
Istilah lain yang pernah digunakan untuk menyingkatkan gambaran klinis dari tension
headache adalah psychomyogenic headache, stress headache, ordinary headache,
idiopathic headache, dan psychogenic headache.
TTH dibagi 2 macam:
1. Episodik , jika serangan yang terjadi kurang dari 1 hari perbulan (12 hari dalam 1
tahun).
a. Nyeri kepala tipe tegang episodik disertai oleh gangguan otot perikranial.
b. Nyeri kepala tipe tegang episodik tidak disertai oleh gangguan otot perikranial
Ciri-ciri TTH episodik:
Paling tidak terjadi 10 kali nyeri kepala yang memenuhi criteria berikut;
dimana nyeri kepala terjadi kurang dari 15 kali per bulan
Nyeri kepala berdurasi sekitar 30 menit 7 hari
Paling tidak dua dari karakteristik nyeri berikut terpenuhi:
o kualitas nyeri menekan (nonpulsatil)
o intensitas ringan atau sedang
o lokasi bilateral
o Tidak diperberat dengan aktivitas fisik rutin
Tidak ada mual atau muntah

13

Tidak terjadi Fotofobia dan fonofobia atau hanya ada satu di antaranya
tidak ada dugaan nyeri kepala tipe sekunder
2. Kronik, jika serangan minimal 15 hari perbulan selama paling sedikit 3 bulan (180
hari dalam 1 tahun).
a. Short-duration, jika Serangan terjadi kurang dari 4 jam.
b. Long-duration, jika Serangan berlangsung lebih dari 4 jam.
Cirri-ciri TTH kronik:
Frekuensi rata-rata nyeri kepala lebih dari 15 hari per bulan selama lebih dari
6 bulan dan memenuhi criteria berikut
Paling tidak 2 dari karakteristik nyeri berikut terpenuhi
o kualitas nyeri menekan (nonpulsatil)
o intensitas ringan atau sedang
o lokasi bilateral
o Tidak diperberat dengan aktivitas fisik rutin
Tidak ada mual atau muntah
Tidak terjadi Fotofobia dan fonofobia atau hanya ada satu di antaranya
tidak ada dugaan nyeri kepala tipe sekunder
Migren
Migren adalah nyeri kepala dengan serangan nyeri yang berlansung 4 72 jam. Nyeri
biasanya unilateral, sifatnya berdenyut, intensitas nyerinya sedang sampai berat dan
diperhebat oleh aktivitas, dan dapat disertai mual muntah, fotofobia dan fonofobia.
Migren dapat diklasifikasikan menjadi migren dengan aura, tanpa aura, dan migren
kronik (transformed).
1.

Migren dengan aura adalah migren dengan satu atau lebih aura reversibel yang
mengindikasikan disfungsi serebral korteks dan atau tanpa disfungsi batang otak,
paling tidak ada satu aura yang terbentuk berangsur angsur lebih dari 4 menit, aura
tidak bertahan lebih dari 60 menit, dan sakit kepala mengikuti aura dalam interval
bebas waktu tidak mencapai 60 menit.

2. Migren tanpa aura adalah migren tanpa disertai aura klasik, biasanya bilateral dan
terkena pada periorbital.

14

3. Migren kronik adalah migren episodik yang tampilan klinisnya dapat berubah
berbulan-bulan sampai bertahun-tahun dan berkembang menjadi sindrom nyeri
kepala kronik dengan nyeri setiap hari.

Nyeri Kepala Cluster


Nyeri kepala cluster merupakan sindroma nyeri kepala yang lebih sering terjadi pada
pria dibanding wanita. Nyeri kepala cluster ini pada umumnya terjadi pada usia yang
lebih tua dibanding dengan migraine. Nyeri pada sindrom ini terjadi hemikranial pada
daerah yang lebih kecil dibanding migraine, sering kali pada daerah orbital, sehingga
dikatakan sebagai klaster. Jika serangan terjadi, nyeri ini dirasakan sangat berat, nyeri
tidak berdenyut konstan selama beberapa menit hingga 2 jam. Namun pada penelitian
yang dilakukan oleh Donnet, kebanyakan pasien mengalami serangan dengan durasi 30
hingga 60 menit.
1. Nyeri kepala klaster episodik
Periode nyeri (klaster) terjadi sepanjang 7 hari sampai 1 tahun, klaster dipisahkan oleh
interval bebas nyeri yang berlangsung selama paling tidak 2 minggu. Umumnya, satu
klaster berlangsung selama 2 minggu sampai 3 bulan.
2. Nyeri kepala klaster kronik
Terjadi lebih dari satu tahun tanpa remisi, atau remisi bertahan kurang dari 2 minggu.
Nyeri kepala klaster kronik dibagi lagi menjadi nyeri kepala klaster kronik sejak awitan
dan nyeri kepala klaster kronik yang berkembang dari episodik
Nyeri kepala klaster kronik sulit ditangani dan resisten terhadap agen profilaksis standar.
Sebagai etiologi terjadinya nyeri kepala klaster, dipikirkan adanya predisposisi genetic
pada keluarga. Namun tidak ditemukan adanya pola pewarisan tertentu.
2.3. Etiologi
Sebagian besar nyeri kepala terjadi karena tegangan (kontraksi otot) dapat disebabkan
oleh:

Stres emosional, kelelahan, menstruasi, rangsangan dari lingkungan (bunyi berisik,


kerumunan banyak orang, cahaya yang terang).

Keadaan lain yang dapat menjadi penyebab: glaukoma, inflamasi pada mata atau
mukosa nasal atau sinus paranasal, penyakit pada kulit kepala, gigi, arteri
ekstrakranial, pemakaian obat-obat vasodilator (nitrat, alkohol dan histamin),
penyakit sistemik, hipertensi, peningkatan tekanan intracranial, trauma/tumor kepala,
perdarahan, abses atau aneurisma intrakranial.
15

Secara umum Sakit kepala bisa disebabkan oleh kelainan: (1) vaskular, (2) jaringan saraf,
(3) gigi geligi, (4) orbita, (5) hidung dan (6) sinus paranasal, (7) jaringan lunak di
kepala, kulit, jaringan subkutan, otot, dan periosteum kepala.

Tension Type Headache (TTH)


Stress, depresi, bekerja dalam posisi yang menetap dalam waktu lama, kelelahan
mata, kontraksi otot yang berlebihan, berkurangnya aliran darah, dan ketidakseimbangan
neurotransmitter seperti dopamin, serotonin, noerpinefrin, dan enkephalin.
Migren
(1) Perubahan hormon (65,1%), penurunan konsentrasi esterogen dan progesteron
pada fase luteal siklus menstruasi, (2) makanan (26,9%), vasodilator (histamin seperti
pada anggur merah, natrium nitrat), vasokonstriktor (tiramin seperti pada keju, coklat,
kafein), zat tambahan pada makanan (MSG), (3) stress (79,7%), (4) rangsangan sensorik
seperti sinar yang
terang menyilaukan(38,1%) dan bau yang menyengat baik
menyenangkan maupun tidak menyenangkan, (5) faktor fisik seperti aktifitas fisik yang
berlebihan (aktifitas seksual) dan perubahan pola tidur, (6) perubahan lingkungan
(53,2%), (7) alkohol (37,8%), (7) merokok (35,7%). Faktor resiko migren adalah adanya
riwayat migren dalam keluarga, wanita, dan usia muda.
Nyeri Kepala Cluster
Lebih sering pada pria usia dewasa muda (20-40 th). Pemicu adalah alkohol, stres dan
makanan tertentu.
2.5. Patofisiologi

16

Beberapa mekanisme umum yang berpengaruh memicu nyeri kepala:

Peregangan atau pergeseran pembuluh darah: intrakranium atau ekstrakranium.

Traksi pembuluh darah.

Peregangan periosteum (nyeri local).

Degenerasi spina cervicalis atas disertai kompresi pada akar nervus cervicalis
(misalnya, arthritis vertebra cervicalis).

Defisiensi enkefalin (peptide otak mirip opiate, bahan aktif endorphin).


17

Sistem saraf simpatis pada dasarnya bertanggung jawab atas pengendalian neural
pembuluh darah cranium dan ekstrakranium. Nyeri kepala dapat memancar dari struktur
yang peka terhadap rasa nyeri seperti kulit, kulit kepala, otot, arteri dan vena; nervus
kranialis V. VII, IX dan X; atau nervus kranialis 1, 2, dan 3.
Empat fase nyeri kepala:
1

Normal. Arteri serebri dan arteri temporalis dipersarafi secara ekstrakranial; arteri
dalam parenkim otak tidak dipersarafi.

Vasokontriksi (aura). Vasokontriksi lokal neurogenik yang berkaitan dengan stres


pada arteri serebri yang dipersarafi akan mengurangi aliran darah ke dalam otak
(iskemia lokal). Secara sistematis, prostaglandin tromboksan akan meningkatkan
agregasi trombosit dan pelepasan serotonin, suatu vasokontriktor yang poten, serta
mungkin pula zat adiktif lain.

Dilatasi arteri parenkim. Pembuluh darah parenkim otak yang tidak dipersarafi akan
berdilatasi sebagai reaksi terhadap keadaan asidosis dan anoksia (iskemia).
Peningkatan aliran darah, kenaikan tekanan internal dan peningkatan pulsasi
pembuluh darah menyebabkan aliran darah melintas pembuluh darah yang pada
keadaan normal untuk memberikan nutrisi.

Vasodilatasi. Mekanisme kompensasi menimbulkan vasodilatasi pada arteri yang


dipersarafi sehingga terjadi nyeri kepala. Agregasi trombosit dalam peredaran darah
sistemik berkurang dan penurunan kadar serotonin menyebabkan vasodilatasi.

(Kowalak, 2011)
Sakit Kepala Beberapa mekanisme umum yang tampaknya bertanggung jawab memicu
nyeri kepala adalah sebagai berikut(Lance,2000) : (1) peregangan atau pergeseran
pembuluh darah; intrakranium atau ekstrakranium, (2) traksi pembuluh darah, (3)
kontraksi otot kepala dan leher ( kerja berlebihan otot), (3) peregangan periosteum (nyeri
lokal), (4) degenerasi spina servikalis atas disertai kompresi pada akar nervus servikalis
(misalnya, arteritis vertebra servikalis), defisiensi enkefalin (peptida otak mirip- opiat,
bahan aktif pada endorfin).

Tension Type Headache (TTH)

Saat ini penyebab yang paling mungkin terjadinya TTH dipercayai adalah akibat
sensitivitas neuronal yang abnormal dan fasilitasi nyeri, bukan kontraksi otot
abnormal. Berbagai studi menunjukkan bahwa TTH berasosiasi dengan supresi
eksteroseptif (ES2), serotonin platelet abnormal, dan penurunan beta-endorfin likuor
serebrospinal.
18

Nosisepsi miofasial ekstrakranial merupakan salah satu dari mekanisme nyeri kepala
tegang. Nyeri kepala tidak secara langsung berhubungan dengan kontraksi otot, dan
dipikirkan kemungkinan hipersensitivitas neuron pada nucleus trigeminal kaudalis.
Sensitisasi sentral tersebut dikarenakan adanya input nosiseptif yang berkepanjangan
yang dihasilkan dari jaringan miofasial perikranial. Perubahan tersebut dapat
mempengaruhi mekanisme perifer dan menimbulkan peningkatan aktivitas otot
perikranial atau pelepasan neurotransmitter pada jaringan miofasial. Sensitisasi sentral
tersebut dapat bertahan bahkan setelah factor pencetus awal telah dihilangkan sehingga
menimbulkan konversi dari nyeri kepala tegang episodik menjadi kronik.

Salah satu teori yang paling populer mengenai penyebab nyeri kepala ini adalah
kontraksi otot wajah, leher, dan bahu. Otot-otot yang biasanya terlibat antara lain m.
splenius capitis, m. temporalis, m. masseter, m. sternocleidomastoideus, m. trapezius,
m. cervicalis posterior, dan m. levator scapulae. Penelitian mengatakan bahwa para
penderita nyeri kepala ini mungkin mempunyai ketegangan otot wajah dan kepala
yang lebih besar daripada orang lain yang menyebabkan mereka lebih mudah
terserang sakit kepala setelah adanya kontraksi otot. Kontraksi ini dapat dipicu oleh
posisi tubuh yang dipertahankan lama sehingga menyebabkan ketegangan pada otot
ataupun posisi tidur yang salah.

Sebuah teori juga mengatakan ketegangan atau stres yang menghasilkan kontraksi otot di
sekitar tulang tengkorak menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah sehingga aliran
darah berkurang yang menyebabkan terhambatnya oksigen dan menumpuknya hasil
metabolisme yang akhirnya akan menyebabkan nyeri.

Rasa nyeri di dalam kepala, seperti halnya nyeri di bagian lain, akan dihantarkan ke
korteks serebri oleh serabut-serabut saraf sensorik. Nyeri kepala dapat mempunyai
distribusi permukaan yang terlokalisasi atau terasa menyeluruh (difus) di dalam
kepala sebagai suatu kesatuan. Nervus yang terutama terlibat:
1. Nervus Trigeminus atau nervus kelima yang mempersarafi wajah dan
bangunan di wajah, bagian dua per tiga anterior kulit kepala dan periosteum di
bawahnya di luar tulang tengkorak. Di dalam tengkorak, nervus ini
mempersarafi dura mater dan pembuluh-pembuluh darah pada fossa anterior
dan media di depan tentorium serebri.
2. Tiga nervus servikalis pertama yang mempersarafi bagian sepertiga posterior
kulit kepala serta periosteum dan muskulus trapezius di luar tengkorak. Di
dalam tengkorak, ketiga saraf ini mempersarafi dura mater di sebelah posterior
tentorium dan pembuluh-pembuluh darah pada fossa posterior.

Migren
19

Patofisiologi Migren Terdapat berbagai teori yang menjelaskan terjadinya migren.


Teori vaskular, adanya gangguan vasospasme menyebabkan pembuluh darah otak
berkonstriksi sehingga terjadi hipoperfusi otak yang dimulai pada korteks visual dan
menyebar ke depan. Penyebaran frontal berlanjuta dan menyebabkan fase nyeri kepala
dimulai. Teori cortical spread depression, dimana pada orang migrain nilai ambang saraf
menurun sehingga mudah terjadi eksitasi neuron lalu berlaku shortlasting wave
depolarization oleh pottasium-liberating depression (penurunan pelepasan kalium)
sehingga menyebabkan terjadinya periode depresi neuron yang memanjang. Selanjutnya,
akan terjadi penyebaran depresi yang akan menekan aktivitas neuron ketika melewati
korteks serebri.
Teori Neovaskular (trigeminovascular), adanya vasodilatasi akibat aktivitas NOS dan
produksi NO akan merangsang ujung saraf trigeminus pada pembuluh darah sehingga
melepaskan CGRP (calcitonin gene related). CGRP akan berikatan pada reseptornya di
sel mast meningens dan akan merangsang pengeluaran mediator inflamasi sehingga
menimbulkan inflamasi neuron. CGRP juga bekerja pada arteri serebral dan otot polos
yang akan mengakibatkan peningkatan aliran darah. Selain itu, CGRP akan bekerja pada
post junctional site second order neuron yang bertindak
sebagai transmisi impuls nyeri
Teori sistem saraf simpatis, aktifasi sistem ini akan mengaktifkan lokus sereleus
sehingga terjadi peningkatan kadar epinefrin. Selain itu, sistem ini juga mengaktifkan
nukleus dorsal rafe sehingga terjadi peningkatan kadar serotonin. Peningkatan kadar
epinefrin dan serotonin akan menyebabkan konstriksi dari pembuluh darah lalu terjadi
penurunan aliran darah di otak. Penurunan aliran darah di otak akan merangsang serabut
saraf trigeminovaskular. Jika aliran darah berkurang maka dapat terjadi aura. Apabila
terjadi penurunan kadar serotonin maka akan menyebabkan dilatasi pembuluh darah
intrakranial dan ekstrakranial yang akan menyebabkan nyeri kepala pada migren.
20

Cluster Headache
Patofisiologi nyeri kepala klaster yang masih banyak dianut sampai saat ini :
Fokus patofisiologi di arteri karotis intrakavernosus yang merangsang pleksus
perikarotis. Pleksus ini mendapat rangsangan dari cabang 1 dan 2 nervus trigeminus,
ganglia servikalis superior/SCG (simpatetik) dan ganglia sfenopalatinum/SPG
(parasimpatetik). Diperkirakan focus iritatif di dan sekitar pleksus membawa impulsimpuls ke batang otak dan mengakibatkan rasa nyeri di daerah periorbital, retroorbital dan
dahi
Hubungan polisinaptik dalam batang otak merangsang neuron-neuron dalam
kolumna intermediolateral sumsum tulang belakang (simpatetik) dan nucleus salivatorius
superior (parasimpatetik).
Serat-serat preganglioner dari nucleus-nukleus ini membawa impuls-impuls untuk
merangsang SCG (simpatetik) dan mengakibatkan sekresi keringat di dahi, serta
rangsangan pada SPG (parasimpatetik) untuk sekresi air mata (lakrimasi) dan air hidung
(rinorrhea).
2.6. Manifestasi Klinik
Selama serangan migrain, fungsi fisiologik terganggu:
1

Gangguan pemprosesan sensorik menyebabkan


pendengaran (fotofobia dan fonofobia).

Gangguan motilitas GI dapat menyebabkan mual dan muntah serta kesulitan


mengkonsumsi obat antimigren oral.

Gangguan autonom dapat menimbulkan berbagai gejala seperti diare.

Gangguan serebrum dapat menyebabkan perubahan kognitif dan suasana hati.

Tipe
Migrain tanpa aura ( migrain biasa)
Durasi 4 sampai 72 jam apabila tidak
diobati

disfungsi

penglihatan

dan

Tanda dan Gejala


Gejala prodromal yang meliputi rasa
lelah,
nausea,
vomitus,
dan
ketidakseimbangan
cairan
yang
mendahului serangan sakit kepala.
Sensitive terhadap cahaya dan bunyi
berisik.
Nyeri tipe sakit kepala (rasa pegal atau
nyeri berdenyut yang bias unilateral atau
21

bilateral).
Migrain dengan aura (klasik)
Biasanya terjadi pada kepribadian
kompulsif.

Migrain hemiplegik dan oftalmoplegik


Biasanya terjadi pada dewasa muda

Migrain arteri basilaris


Terjadi pada wanita muda periode haid

Gejala prodromal yang meliputi gangguan


penglihatan seperti penampakan garis zig
zag dan cahaya yang terang, gangguan
sensorik (kesemutan pada wajah, bibir
serta tangan), gangguan motorik.
Sakit kepala yang periodik dan rekuren.
Nyeri unilateral
Kelumpuhan otot ekstraokuler (N. cranial
III) dan psitosis.
Migrain hemiplegic terdapat gangguan
neurologi (hemiparesis, hemiplagia) yang
dapat bertahan meskipun sakit kepala
sudah mereda.
Gejala prodromal yang meliputi gangguan
penglihatan parsial dengan keluhan
vertigo, ataksia, tinnitus, kesemutan jarijari tangan serta kaki.
Nyeri kepala yang berupa nyeri berdenyut
di daerah oksipital dn vomitus.

Membedakan Nyeri Kepala

Jenis
Penyebab

atau

Ketegangan otot

Migren

Ciri Khas

Pemeriksaan Diagnostik

Sakit kepala sering terjadi, nyeri


hilang timbul, tidak terlalu berat
dan dirasakan di kepala bagian
depan dan belakang atau dirasakan
kekakuan menyeluruh.
Nyeri dimulai di dalam dan di
sekitar mata atau pelipis, menyebar
ke satu atau kedua sisi kepala,
biasanya mengenai seluruh kepala,
berdenyut dan disertai dengan
hilangnya nafsu makan, mual dan
muntah.
Serangannya singkat (sekitar 1
jam), dirasakan di satu sisi kepala,

Pemeriksaan
untuk
menyingkirkan penyakit
fisik serta penilaian faktor
psikis & kepribadian.
Jika diagnosisnya masih
meragukan dan sakit
kepala
baru
terjadi,
dilakukan CT scan atau
MRI/diberikan
obat
migren untuk melihat
efeknya.
Obat migren diberikan
untuk melihat efeknya
22

Nyeri
Cluster

Kepala

Hipertensi

Kelainan
mata
(iritis, glaukoma).

Kelainan sinus

Tumor otak

Infeksi otak

Meningitis

Hematoma

serangan terjadi secara periodik,


menyerang pria yang disertai
dengan
pembengkakan
mata,
hidung meler & mata berair pada
sisi yang sama dengan nyeri.
Nyerinya berdenyut dan dirasakan
di kepala bagian belakang atau di
puncak kepala.
Nyeri dirasakan di kepala bagian
depan atau di dalam dan di seluruh
mata, bersifat sedang sampai berat
dan seringkali memburuk jika mata
dalam keadaan lelah.
Nyeri bersifat akut atau subakut,
dirasakan di kepala bagian depan,
bersifat tumpul atau berat, biasanya
memburuk di pagi hari, membaik di
siang hari dan memburuk dalam
keadaan dingin atau lembab.
Nyeri hilang-timbul, bersifat ringan
sampai berat, dirasakan di satu titik
atau di seluruh kepala. Kelemahan
di salah satu sisi tubuh semakin
meningkat,
kejang,
gangguan
penglihatan, kemampuan berbicara
hilang, muntah dan perubahan
mental.
Nyeri hilang-timbul, bersifat ringan
sampai berat, dirasakan di satu titik
atau di seluruh kepala. Sebelumnya
penderita pernah mengalami infeksi
telinga, sinus atau paru-paru,
penyakit jantung rematik atau
penyakit jantung bawaan.
Nyeri baru dirasakan, menetap,
berat dan dirasakan di seluruh
kepala serta menjalar ke leher.
Sakit disertai demam, muntah dan
sebelumnya
mengalami
nyeri
tenggorokan
atau
infeksi
pernafasan dan leher sulit ditekuk.
Nyeri hilang-timbul atau terus
menerus, bersifat ringan sampai

(sumatriptan,
metisergid/obat
vasokonstriktor,
kortikosteroid,
indometasin)
atau
menghirup O2.
Analisa kimia darah dan
pemeriksaan ginjal.

Pemeriksaan mata.

Rontgen sinus

MRI atau CT scan

MRI atau CT scan

Pemeriksaan
pungsi lumbal.

darah,

23

subdural

Perdarahan
subaracnoid

Sifilis,
tuberculosis,
kriptococcus,
kanker.

berat, bisa dirasakan di satu titik


atau di seluruh kepala, menjalar ke
leher. Biasanya sebelumnya telah
terjadi cedera pada penderita yang
disertai penurunan kesadaran.
Nyeri baru dirasakan, menyebar,
hebat dan menetap, kadang
dirasakan di dalam dan di sekitar
mata, kelopak mata turun.
Nyeri bersifat tumpul sampai berat
dan dirasakan di seluruh kepala
atau di puncak kepala, menderita
demam meski tidak terlalu tinggi
dan terdapat riwayat sifilis,
tuberkulosis,
kriptokokosis,
sarkoidosis atau kanker pada
pasien.

MRI atau CT scan.

MRI atau CT scan, jika


hasilnya negatif maka
dilakukan pungsi lumbal.

Pungsi lumbal.

(The International Classification of Headache Disorders, 2004)

2.7. Diagnosis dan Diagnosis Banding


Anamnesis Umum

24

Usia timbulnya, syndrome yang benign seperti migraine, tensiontype headache dan
cluster headache biasanya mulai sebelum usia pertengahan.aneurisma, tumor otak
lebih banyak pada usia sekitar 35 tahun.

Lamanya & frekwensi nyeri kepala. Lamanya keluhan nyeri kepala pada pasien dapat
mengarahkan kepada kelainan neurologi yang progressive atau suatu keganasan.
Nyeri kepala hebat yang akut disertai dengan kehilangan kesadaran atau tanda-tanda
gangguan neurological fokal mengarah kepada subaraknoid hemoragia atau
meningitis. Nyeri kepala yang kronis misalnya pada migraine atau tension type
headache.

Sisi mana yang sakit. Tension type headache sering difuse dan bilateral. Migraine
dapat bilateral tapi lebih sering unilateral. Cluster headache selalu unilateral

Kwalitas nyeri kepala. Kwalitas nyeri kepala sangat subyektif tergantung pada
keadaan psikologi pasien.

Saat timbulnya nyeri kepala. Cluster headache sering nyeri timbul pada saat pasien
tidur sehingga sering membangunkan pasien. Tumor otak dalam ventrikel juga dapat
menyebabkan nyeri kepala pada saat tidur.

Fenomena lain yang menyertainya seperti photofobia,phonofobia, gangguan


penglihatan, dizziness, kelemahan otot, febris.

Hal hal lain yang memperburuk nyeri kepala misalnya batuk.

Pemeriksaan Fisik Umum


1. Keadaan umum pasien & mentalnya.
2. Tanda tanda rangsangan meningeal
3. Pemeriksaan khusus meliputi palpasi pada tengkorak untuk mencari kelainan bentuk,
nyeri tekan dan benjolan. Palpasi pada otot untuk mengetahui tonus dan nyeri tekan
daerah tengkuk. Perabaan arteri temporalis superfisialis dan arteri carotis komunis.
Pemeriksaan leher, mata, hidung, tenggorok, telinga, mulut dan gigi geligi perlu
dilakukan. Pemeriksaan neurologis lengkap, ditekankan pada fungsi saraf otak
termsuk funduskopi, fungsi motorik, sensorik serta koordinasi

Pemeriksaan Penunjang Umum


1

Ro foto kepala melihat struktur tengkorak

Ro foto servikal menentukan adanya spondiloartrosis dan fraktur servikal


25

CT Scans/ MRI pada nyeri kepala yang menunjukkan kemungkinan penyakit


intrakranial (tumor, perdarahan subarachnoid, AVM dll)

EEG dilakukan bila ada riwayat kejang, kesadaran menurun, tauma kepala atau
presinkop

Foto sinus paranasal melihat adanya sinusitis

Angiografi untuk kasus spesifik seperti aneurisma

LP infeksi, perdarahan intrakranial

EMG kontraksi otot yang terus menerus pada tengkuk, belakang dan depan kepala

Labor pemeriksaan kimia darah

Tension Type Headache (TTH)


Anamnesis
Tension Type Headache harus memenuhi syarat yaitu sekurang kurangnya dua dari
berikut ini : (1) adanya sensasi tertekan/terjepit, (2) intensitas ringan sedang, (3) lokasi
bilateral, (4) tidak diperburuk aktivitas. Selain itu, tidak dijumpai mual muntah, tidak ada
salah satu dari fotofobia dan fonofobia.
PF dan PP
Pemeriksaan Penunjang Tension Type Headache (TTH) Tidak ada uji spesifik untuk
mendiagnosis TTH dan pada saat dilakukan pemeriksaa neurologik tidak ditemukan
kelainan apapun. TTH biasanya tidak memerlukan pemeriksaan darah, rontgen, CT scan
kepala maupun MRI.

Migren
Anamnesis
Migren dg aura 3 dr 4 kriteria berikut: (1) migren dengan satu atau lebih aura reversibel
yang mengindikasikan disfungsi serebral korteks dan atau tanpa disfungsi batang otak,
(2) paling tidak ada satu aura yang terbentuk berangsur angsur lebih dari 4 menit, (3)
aura tidak bertahan lebih dari 60 menit, (4) sakit kepala mengikuti aura dalam interval
bebas waktu tidak mencapai 60 menit
26

Migren tanpa aura sedikit lima kali serangan nyeri kepala seumur hidup yang memenuhi
kriteria berikut :
(a) berlangsung 4 - 72 jam, (b) paling sedikit memenuhi dua dari :
(1) unilateral , (2) sensasi berdenyut, (3) intensitas sedang berat, (4) diperburuk oleh
aktifitas, (3) bisa terjadi mual muntah, fotofobia dan fonofobia.

PF dan PP
Pemeriksaan Penunjang Migren Pemeriksaan untuk menyingkirkan penyakit lain ( jika
ada indikasi) adalah pencitraan ( CT scan dan MRI) dan punksi lumbal.

Sakit Kepala Cluster


Anamnesis
Diagnosis nyeri kepala klaster menggunakan kriteria oleh IHS adalah sebagai berikut :
(IHS,2005)
a. Paling sedikit 5 kali serangan dengan kriteria seperti di bawah
b. Berat atau sangat berat unilateral orbital, supraorbital, dan atau nyeri temporal selama
15 180 menit bila tidak di tatalaksana.
c. Sakit kepala disertai satu dari kriteria dibawah ini :
1. Injeksi konjungtiva ipsilateral dan atau lakriimasi
2. Kongesti nasal ipsilateral dan atau rhinorrhea
3. Edema ipsilateral kelopak mata
4. berkeringat pada bagian depan dan wajah ipsilateral
5. Ipsilateral miosis dan atau ptosis
6. Sensasi agitasi
d. Serangan mempunyai frekuensi dari 1 kali setiap hari berbeda hingga 8 kali pada hari
yang sama
e. Tidak berhubungan dengan kelainan yang lain

27

DIAGNOSIS BANDING
Gejala
Riwayat keluarga
Jenis kelamin
Usia
Lokasi sakit
Saat timbul
Nyeri berdenyut
Intensitas nyeri
Lama serangan
Pengaruh aktifitas
fisik
Nyeri
hilang
timbul
Enek / muntah
Fotofobia
Fonofobia
Mata
merem/merah
Hidung keluar air
Leher kaku
Kelumpuhan
badan

Migrain
+
Perempuan
Remaja dewasa
Unilateral
Pagi
++
Sedang berat
4 jam 3 hari
Makin parah

Tension headache
Tak berbeda
dewasa
Bilateral
Sore
Ringan sedang
beberapa hari
Tak berpengaruh

Cluster
Pria
20 40 tahun
Unilateral
Malam
Sangat hebat
15 menit 3 jam
Tak berpengaruh

+
+
+
-

+++

++
-

+++
-

Diferensial Diagnosa Tension Type Headache (TTH)


Diferensial Diagnosa dari TTH adalah sakit kepala pada spondilo-artrosis deformans,
sakit kepala pasca trauma kapitis, sakit kepala pasca punksi lumbal, migren klasik,
migren komplikata, cluster headache, sakit kepala pada arteritis temporalis, sakit kepala
pada desakan intrakranial, sakit kepala pada penyakit kardiovasikular, dan sakit kepala
pada anemia.
Diagnosis Banding Cluster Headache
Anisocoria
Atypical Facial Pain
Basilar Artery Thrombosis
Brainstem Gliomas
Cavernous Sinus Syndromes
Chronic Paroxysmal Hemicrania
Craniopharyngioma
Headache: Pediatric Perspective
Intracranial Hemorrhage
28

Migraine Headache
Migraine Variants
Pituitary Tumors
Postherpetic Neuralgia
Subarachnoid Hemorrhage
Temporomandibular Joint Syndrome
Tolosa-Hunt Syndrome
Trigeminal Neuralgia
Diferensial diagnosa Migren
Diferensial diagnosa migren adalah malformasi arteriovenus, aneurisma serebri,
glioblastoma, ensefalitis, meningitis, meningioma, sindrom lupus eritematosus,
poliarteritis nodosa, dan cluster headache.
2.8. Penatalaksanaan
Terapi Migren
Tujuan terapi migren adalah membantu penyesuaian psikologis dan fisiologis, mencegah
berlanjutnya dilatasi ekstrakranial, menghambat aksi media humoral ( misalnya serotonin
dan histamin), dan mencegah vasokonstriksi arteri intrakranial untuk memperbaiki aliran
darah otak.
Terapi tahap akut adalah ergotamin tatrat, secara subkutan atau IM diberikan sebanyak
0,25 0,5 mg. Dosis tidak boleh melewati 1mg/24 jam. Secara oral atau sublingual dapat
diberikan 2 mg segera setelah nyeri timbul. Dosis tidak boleh melewati 10 mg/minggu.
Dosis untuk pemberian nasal adalah 0,5 mg (sekali semprot). Dosis tidak boleh melewati
2 mg (4 semprotan). Kontraindikasi adalah sepsis, penyakit pembuluh darah,
trombofebilitis, wanita haid, hamil atau sedang menggunakan pil anti hamil. Pada wanita
hamil, haid atau sedang menggunakan pil anti hamil berikan pethidin 50 mg IM. Pada
penderita penyakit jantung iskemik gunakan pizotifen 3 sampai 5 kali 0,5 mg sehari.
Selain ergotamin juga bisa obat obat lain (lihat tabel 6). Terapi profilaksis
menggunakan metilgliserid malead, siproheptidin hidroklorida, pizotifen, dan
propanolol. Selain menggunakan obat obatan, migren dapat diatasi dengan
menghindari aktor penyebab, manajemen lingkungan, memperkirakan siklus menstruasi,
yoga, meditasi, dan hipnotis.
Terapi Tension Type Headache (TTH)
Relaksasi selalu dapat menyembuhkan TTH. Pasien harus dibimbing untuk mengetahui
arti dari relaksasi yang mana dapat termasuk bed rest, massage, dan/ atau latihan
biofeedback. Pengobatan farmakologi adalah simpel analgesia dan/atau mucles relaxants.
Ibuprofen dan naproxen sodium merupakan obat yang efektif untuk kebanyakan orang.
Jika pengobatan simpel analgesia (asetaminofen, aspirin, ibuprofen, dll.) gagal maka

29

dapat ditambah butalbital dan kafein ( dalam bentuk kombinasi seperti Fiorinal) yang
akan menambah efektifitas pengobatan.
Terapi Cluster Headache
Tidak ada terapi untuk menyembuhkan cluster headache. Tujuan dari pengobatan adalah
menolong menurunkan keparahan nyeri dan memperpendek jangka waktu serangan.
Obat-obat yang digunakan untuk cluster headache dapat dibagi menjadi obat-obat
simtomatik dan profilaktik. Obta-obat simtomatik bertujuan untuk menghentikan atau
mengurangi rasa nyeri setelah terjadi serangan cluster headache, sedangkan obat-obat
profilaktik digunakan untuk mengurangi frekuensi dan intensitas eksaserbasi sakit
kepala.
Karena sakit kepala tipe ini meningkat dengan cepat pengobatan simtomatik harus
mempunyai sifat bekerja dengan cepat dan dapat diberikan segera, biasanya
menggunakan injeksi atau inhaler daripada tablet per oral.
Pengobatan simtomatik termasuk :
1. Oksigen. Menghirup oksigen 100 % melalui sungkup wajah dengan kapasitas 7
liter/menit memberikan kesembuhan yang baik pada 50 sampai 90 % orang-orang
yang menggunakannya. Terkadang jumlah yang lebih besar dapat lebih efektif.
Efek dari penggunaannya relatif aman, tidak mahal, dan efeknya dapat dirasakan
setelah sekitar 15 menit. Kerugian utama dari penggunaan oksdigen ini adalah
pasien harus membawa-bawa tabung oksigen dan pengaturnya, membuat
pengobatan dengan cara ini menjadi tidak nyaman dan tidak dapat di akses setiap
waktu. Terkadang oksigen mungkin hanya menunda daripada menghentikan
serangan dan rasa sakit tersebut akan kembali.
2. Sumatriptan. Obat injeksi sumatriptan yang biasa digunakan untuk mengobati
migraine, juga efektif digunakan pada cluster headache. Beberapa orang
diuntungkan dengan penggunaan sumatriptan dalam bentuk nasal spray namun
penelitian lebih lanjut masih perlu dilakukan untuk menentukan keefektifannya.
3. Ergotamin. Alkaloid ergot ini menyebabkan vasokontriksi pada otot-otot polos di
pembuluh darah otak. Tersedia dalam bentuk injeksi dan inhaler, penggunaan intra
vena bekerja lebih cepat daripada inhaler dosis harus dibatasi untuk mencegah
terjadinya efek samping terutama mual, serta hati-hati pada penderita dengan
riwayat hipertensi.
4. Obat-obat anestesi lokal. Anestesi lokal menstabilkan membran saraf sehingga sel
saraf menjadi kurang permeabel terhadap ion-ion. Hal ini mencegah pembentukan
dan penghantaran impuls saraf, sehingga menyebabkan efek anestesi lokal.
Lidokain intra nasal dapat digunakan secara efektif pada serangan cluster
headache. Namun harus berhati-hati jika digunakan pada pasien-pasien dengan
hipoksia, depresi pernafasan, atau bradikardi.
Obat-obat profilaksis :
1. Anti konvulsan. Penggunaan anti konvulsan sebagai profilaksis pada cluster
headache telah dibuktikan pada beberapa penelitian yang terbatas. Mekanisme
30

kerja obat-obat ini untuk mencegah cluster headache masih belum jelas, mungkin
bekerja dengan mengatur sensitisasi di pusat nyeri.
2. Kortikosteroid. Obat-obat kortikosteroid sangat efektif menghilangkan siklus
cluster headache dan mencegah rekurensi segera. Prednison dosis tinggi diberikan
selama beberapa hari selanjutnya diturunkan perlahan. Mekanisme kerja
kortikosteroid pada cluster headache masih belum diketahui.
Pembedahan
Pembedahan di rekomendasikan pada orang-orang dengan cluster headache kronik yang
tidak merespon dengan baik dengan pengobatan atau pada orang-orang yang memiliki
kontraindikasi pada obat-obatan yang digunakan. Seseorang yang akan mengalami
pembedahan hanyalah yang mengalami serangan pada satu sisi kepal saja karena operasi
ini hanya bisa dilakukan satu kali. Orang-orang yang mengalami serangan berpindahpindah dari satu sisi ke sisi yang lain mempunyai resiko kegagalan operasi.
Ada beberapa tipe pembedahan yang dapat dilakukan untuk mengobati cluster headache.
Prosedur yang dilakukan adalah merusak jalur saraf yang bertanggungjawab terhadap
nyeri.
Blok saraf invasif ataupun prosedur bedah saraf non-invasif (contohnya radio frekuensi
pericutaneus, gangliorhizolisis trigeminal, rhizotomi) telah terbukti berhasil mengobati
cluster headache. Namun demikian terjadi efek samping berupa diastesia pada wajah,
kehilangan sensoris pada kornea dan anestesia dolorosa.
Pembedahan dengan menggunakan sinar gamma sekarang lebih sering digunakan karena
kurang invasif. Metode baru dan menjanjikan adalah penanaman elektroda perangsang
dengan menggunakan penunjuk jalan stereostatik di bagian inferior hipotalamus.
Penelitian menunjukkan bahwa perangsangan hipotalamus pada pasien dengan cluster
headache yang parah memberikan kesembuhan yang komplit dan tidak ada efek samping
yang signifikan.

31

2.9. Komplikasi
Komplikasi TTH adalah rebound headache yaitu nyeri kepala yang disebabkan oleh
penggunaan obat - obatan analgesia seperti aspirin, asetaminofen, dllyang berlebihan.
Tension type headache episodik dapat berkembang menjadi tipe kronik, dan depresi
32

akibat gejalanya dapat terjadi sebagai suatu komplikasi pada pasien. Komplikasi Migren
adalah rebound headache, nyeri kepala yang disebabkan oleh penggunaan obat-obatan
analgesia seperti aspirin, asetaminofen, dll yang berlebihan
2.10. Pencegahan
Terapi Perilaku merupakan pencegahan yang baik pada pasien, mengingat ini adalah
suatu kelainan psikogenik, diharapkan,d engan adanya suatu terapi psikologis, pasien
dapat mengenali jika sakit kepalanya mulai timbul dan mulai melakukan perubahanperubahan sikap agar sakit kepalanya mereda.
Pencegahan nyeri kepala adalah dengan mengubah pola hidup dengan cara mengatur pola
tidur yang sama setiap hari, berolahraga secara rutin, makan makanan sehat dan teratur,
kurangi stress, menghindari pemicu nyeri kepala yang telah diketahui. (Price, 2006)
2.11. Prognosis
Prognosis dari sakit kepala bergantung pada jenis sakit kepalanya sedangkanindikasi merujuk
adalahsebagai berikut: (1) sakit kepala yang tiba tiba dan timbulkekakuan di leher, (2) sakit
kepala dengan demam dan kehilangan kesadaran, (3) sakitkepala setelah terkena trauma
mekanik pada kepala, (4) sakit kepala disertai sakit pada bagian mata dan telinga, (5) sakit
kepala yang menetap pada pasien yangsebelumnya tidak pernah mengalami serangan, (6)
sakit kepala yang rekuren pada anak
LO 3. Memahami dan Menjelaskan Nyeri Somatoform
3.1. Definisi
Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagai
contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang
adekuat. Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan penderitaan
emosional yang bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan penderita untuk
berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan. Suatu diagnosis gangguan somatoform
mencerminkan penilaian klinisi bahwa faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar
untuk onset, keparahan, dan durasi gejala. Gangguan somatoform tidak disebabkan oleh purapura yang disadari atau gangguan buatan.
3.2. Etiologi
Secara garis besar, faktor-faktor penyebab dikelompokkan sebagai berikut (Nevid dkk, 2005):
a. Faktor-faktor Biologis Faktor ini berhubungan dengan kemungkinan pengaruh genetis
(biasanya pada gangguan somatisasi).
b. Faktor Lingkungan Sosial Sosialisasi terhadap wanita pada peran yang lebih
bergantung, seperti peran sakit yang dapat diekspresikan dalam bentuk gangguan
somatoform.
33

c. Faktor Perilaku. Pada faktor perilaku ini, penyebab ganda yang terlibat adalah:
Terbebas dari tanggung jawab yang biasa atau lari atau menghindar dari situasi
yang tidak nyaman atau menyebabkan kecemasan (keuntungan sekunder).
Adanya perhatian untuk menampilkan peran sakit
Perilaku kompulsif yang diasosiasikan dengan hipokondriasis atau gangguan
dismorfik tubuh dapat secara sebagian membebaskan kecemasan yang
diasosiasikan dengan keterpakuan pada kekhawatiran akan kesehatan atau
kerusakan fisik yang dipersepsikan.
d. Faktor Emosi dan Kognitif Pada faktor penyebab yang berhubungan dengan emosi
dan kognitif, penyebab ganda yang terlibat adalah sebagai berikut:
Salah interpretasi dari perubahan tubuh atau simtom fisik sebagai tanda dari
adanya penyakit serius (hipokondriasis).
Dalam teori Freudian tradisional, energi psikis yang terpotong dari impulsimpuls
yang tidak dapat diterima dikonversikan ke dalam simtom fisik (gangguan
konversi).
Menyalahkan kinerja buruk dari kesehatan yang menurun mungkin merupakan
suatu strategi self-handicaping (hipokondriasis).
Faktor Resiko Gangguan Somatoform
Riwayat orangtua
Pola asuh dalam keluarga yang salah
Wanita lebih banyak menderita
Memiliki kepribadian yang mudah cemas
Orang yang tertutup
Alkoholism
Penyalahgunaan obat
Faktor Predisposisi (faktor kepribadian)
a. Faktor biologi
Emosi dikaitkan dengan bangkitan sistem neuroindokrin melalui pelepasan
kortikosteroid, aksi sistem neurotransmiter, dan perubahan reseptor
pascasinaptik dalam berespon terhadap stres.
Umpan balik pengaturan gangguan stres yang relevan, terutama aktivasi
kekebalan dan peradangan, dapat, pada gilirannya, memberikan kontribusi
untuk patologi stres yang terkait, termasuk perubahan dalam perilaku,
sensitivitas insulin, metabolisme tulang, dan diperoleh respon imun
Teori genetik menunjukkan bahwa stres berkepanjangan dapat menyebabkan
perubahan fisiologis, yang mengakibatkan gangguan fisik, penyakit jantung,
gangguan pencernaan, dan iritasi kulit.
b. Faktor psikologis
Kepribadian tipe A mewakili hubungan tipe kepribadian dengan gangguan
fisiologis, dalam hal ini penyakit jantung.
Penyakit fisik dapat terjadi tanpa disertai kerusakan organic
34

Optimis tampaknya memiliki gejala fisik lebih sedikit dan dapat


menunjukkan pemulihan lebih cepat dari penyakit
Percaya pada kendali pribadi, atau self-efficacy
Fokus peningkatan pada peran pelindung negara emosional yang positif. satu
gagasan tentang sifat-sifat ini adalah bahwa kepribadian penyembuhan diri,
yang dicirikan oleh antusiasme
c. Faktor sosiokultural
Keparahan gejala pada individu dipengaruhi oleh aspek lingkungan sosial
dan budaya pengalaman subjektif stres dapat ditingkatkan atau dikurangi
dengan sifat dan jumlah masalah dalam dunia orang tersebut, perubahan
iklim dunia yang emosional, dan dengan kehidupan sosial orang yang sakit
itu.
Menjadi sakit adalah peran sosial akan sebagai kondisi dan masyarakat
ditempatkan keyakinan tertentu dan harapan pada orang yang jatuh sakit.
Faktor Presipitasi (faktor psikososial)
a. Faktor biologis
Penyakit psikofisiologis diakibatkan akumulasi kejadian kecil yang
menimbulkan stres.
b. Faktor Psikologis
Sulit mengenali satu atau lebih stressor yang menyeababkan masalah
c. Faktor sosiokultural
Pola bekerja terlalu berat dan berlebih-lebihan
3.3. Klasifikasi
1. Pain Disorder
Pada pain disorder, penderita mengalami rasa sakit yang mengakibatkan ketidakmampuan
secara signifikan;faktor psikologis diduga memainkan peranan penting pada kemunculan,
bertahannya dan tingkat sakit yang dirasakan. Pasien kemungkinan tidak mampu untuk
bekerja dan menjadi tergantung dengan obat pereda rasa sakit. Rasa nyeri yang timbul dapat
berhubungan dengan konflik atau stress atau dapat pula terjadi agar individu dapat terhindar
dari kegiatan yang tidak menyenangkan dan untuk mendapatkan perhatian dan simpati yang
sebelumnya tidak didapat.
Diagnosis akurat mengenai pain disorder terbilang sulit karena pengalaman subjektif dari rasa
nyeri selalu merupakan fenomena yang dipengaruhi secara psikologis, dimana rasa nyeri itu
sendiri bukanlah pengalaman sensoris yang sederhana, seperti penglihatan dan pendengaran.
Untuk itu, memutuskan apakah rasa nyeri yang dirasakan merupakan gangguan nyeri yang
tergolong gangguan somatoform, amatlah sulit. Akan tetapi dalam beberapa kasus dapat
dibedakan dengan jelas bagaimana rasa nyeri yang dialami oleh individu dengan gangguan
somatoform dengan rasa nyeri dari individu yang mengalami nyeri akibat masalah fisik.
Individu yang merasakan nyeri akibat gangguan fisik, menunjukkan lokasi rasa nyeri yang
dialaminya dengan lebih spesifik, lebih detail dalam memberikan gambaran sensoris dari rasa
35

nyeri yang dialaminya, dan menjelaskan situasi dimana rasa nyeri yang dirasakan menjadi
lebih sakit atau lebih berkurang (Adler et al., dalam Davidson, Neale, Kring, 2004).
2. Body Dysmorphic Disorder
Pada body dysmorphic disorder, individu diliputi dengan bayangan mengenai kekurangan
dalam penampilan fisik mereka, biasanya di bagian wajah, misalnya kerutan di wajah, rambut
pada wajah yang berlebihan, atau bentuk dan ukuran hidung. Wanita cenderung pula fokus
pada bagian kulit, pinggang, dada, dan kaki, sedangkan pria lebih cenderung memiliki
kepercayaan bahwa mereka bertubuh pendek, ukuran penisnya terlalu kecil atau mereka
memiliki terlalu banyak rambut di tubuhnya (Perugi dalam Davidson, Neale, Kring, 2004).
Beberapa individu yang mengalami gangguan ini secara kompulsif akan menghabiskan
berjam-jam setiap harinya untuk memperhatikan kekurangannya dengan berkaca di cermin.
Ada pula yang menghindari cermin agar tidak diingatkan mengenai kekurangan mereka, atau
mengkamuflasekan kekurangan mereka dengan, misalnya, mengenakan baju yang sangat
longgar (Albertini & Philips daam Davidson, Neale, Kring, 2004).
Beberapa bahkan mengurung diri di rumah untuk menghindari orang lain melihat kekurangan
yang dibayangkannya. Hal ini sangat mengganggu dan terkadang dapat mengerah pada bunuh
diri; seringnya konsultasi pada dokter bedah plastik dan beberapa individu yang mengalami
hal ini bahkan melakukan operasi sendiri pada tubuhnya. Sayangnya, operasi plastik berperan
kecil dalam menghilangkan kekhawatiran mereka (Veale dalam Davidson, Neale, Kring,
2004). Body dysmorphic disorder muncul kebanyakan pada wanita, biasanya dimulai pada
akhir masa remaja, dan biasanya berkaitan dengan depresi, fobia social, gangguan
kepribadian (Phillips&McElroy, 2000; Veale et al.,1996 dalam Davidson, Neale, Kring,
2004). Faktor social dan budaya memainkan peranan penting pada bagaimana seseorang
merasa apakah ia menarik atau tidak, seperti pada gangguan pola makan.
3. Hypochondriasis
Hypochondriasis adalah gangguan somatoform dimana individu diliputi dengan ketakutan
memiliki penyakit yang serius dimana hal ini berlangsung berulang-ulang meskipun dari
kepastian medis menyatakan sebaliknya, bahwa ia baik-baik saja. Gangguan ini biasanya
dimulai pada awal masa remaja dan cenderung terus berlanjut. Individu yang mengalami hal
ini biasanya merupakan konsumen yang seringkali menggunakan pelayanan kesehatan;
bahkan terkadang mereka manganggap dokter mereka tidak kompeten dan tidak perhatian
(Pershing et al., dalam Davidson, Neale, Kring, 2004). Dalam teori disebutkan bahwa mereka
bersikap berlebihan pada sensasi fisik yang umum dan gangguan kecil, seperti detak jantung
yang tidak teratur, berkeringat, batuk yang kadang terjadi, rasa sakit, sakit perut, sebagai
bukti dari kepercayan mereka. Hypochondriasis seringkali muncul bersamaan dengan
gangguan kecemasan dan mood.
4. Conversion disorder
Pada conversion disorder, gejala sensorik dan motorik, seperti hilangnya penglihatan atau
kelumpuhan secara tiba-tiba, menimbulkan penyakit yang berkaitan dengan rusaknya sistem
saraf, padahal organ tubuh dan sistem saraf individu tersebut baik-baik saja. Aspek psikologis
dari gejala conversion ini ditunjukkan dengan fakta bahwa biasanya gangguan ini muncul
36

secara tiba-tiba dalam situasi yang tidak menyenangkan. Biasanya hal ini memungkinkan
individu untuk menghindari beberapa aktivitas atau tanggung jawab atau individu sangat
ingin mendapatkan perhatian. Istilah conversion, pada dasarnya berasal dari Freud, dimana
disebutkan bahwa energi dari instink yang di repress dialihkan pada aspek sensori-motor dan
mengganggu fungsi normal. Untuk itu, kecemasan dan konflik psikologis diyakini dialihkan
pada gejala fisik.
Gejala conversion biasanya berkembang pada masa remaja atau awal masa dewasa, dimana
biasanya muncul setelah adanya kejadian yang tidak menyenangkan dalam hidup. Prevalensi
dari conversion disorder kurang dari 1 %, dan biasanya banyak dialami oleh wanita (Faravelli
et al.,1997;Singh&Lee, 1997 dalam Davidson, Neale, Kring, 2004). Conversion disorder
biasanya berkaitan dengan diagnosis Axis I lainnya seperti depresi dan penyalahgunaan zatzat terlarang, dan dengan gangguan kepribadian, yaitu borderline dan histrionic personality
disorder (Binzer, Anderson&Kullgren, 1996;Rechlin, Loew&Jorashky, 1997 dalam
Davidson, Neale, Kring, 2004).
5. Somatization Disorder
Menurut DSM-IV-TR kriteria dari somatization disorder adalah memiliki sejarah dari banyak
keluhan fisik selama bertahun-tahun; memiliki 4 gejala nyeri, 2 gejala gastrointestinal, 1
gejala sexual, dan 1 gejala pseudoneurological; gejala-gejala yang timbul tidak disebabkan
oleh kondisi medis atau berlebihan dalam memberikan kondisi medis yang dialami.
Prevalensi dari somatiation disorder diperkirakan kurang dari 0.5% dari populasi Amerika,
biasanya lebih sering muncul pada wanita, khususnya wanita African American dan Hispanic
(Escobar et al., dalam Davidson, Neale, Kring, 2004) dan pada pasien yang sedang menjalani
pengibatan medis. Prevalensi ini lebih tinggi pada beberapa negara di Amerika Selatan dan di
Puerto Rico (Tomassson, Kent&Coryell dalam Davidson, Neale, Kring, 2004). Somatizaton
disorder biasanya dimulai pada awal masa dewasa (Cloninger et al., dalam Davidson, Neale,
Kring, 2004).
6. Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Somatoform yang Tidak Digolongkan
Kriterianya:
Satu atau lebih keluhan fisik (misalnya kelelahan, hilangnya nafsu makan, keluhan
gastrointestinal atau saluran kemih)
a) Salah satu (1)atau (2)
Setelah pemeriksaan yang tepat, gejala tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh
kondisi medis umum yang diketahui atau oleh efek langsung dan suatu zat (misalnya
efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol)
Jika terdapat kondisi medis umum yang berhubungan, keluhan fisik atau gangguan
sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan
menurut riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratonium.
b) Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi
sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
c) Durasi gangguan sekurangnya enam bulan.

37

d) Gangguan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya
gangguan somatoform, disfungsi seksual, gangguan mood, gangguan kecemasan, gangguan
tidur, atau gangguan psikotik).
e) Gejala tidak ditimbulkan dengan sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan
atau berpura-pura)
Sindrom Koro dan Sindrom Dhat
Sindrom koro itu adalah gangguan somatoform yang terkait budaya, ditemukan terutama di
Cina, dimana orang takut bahwa alat genital mereka akan mengerut. Sindrom koro cenderung
hanya muncul sebentar dan melibatkan episode kecemasan takur bahwa alat genitalnya akan
mengerut. Tanda-tanda fisiologis kecemasan yang medekati proposi panic umu terjadi,
mencakup keringat yang berlebihan , tidak dapat bernafas, dan jantung berdebar-debar.
Sindrom dhat adalah gangguan somatoform yang terkait budaya, ditemukan terutama di
antara pria Asia India, yang ditandai oleh ketakutan yang berlebih akan kehilangan air mani.
Pria dengan sindrom ini juga percaya bahwa air mani bercampur dengan urine dan
dikeluarkan saat buang air kecil. Ada keyakinan yang tertersebar luas dalam budaya India
yaitu bahwwa hilangnya air mani merupakan sesuatu yang berbahaya karena mengurangi
energi mental dan fisik tubuh.
3.4. Diagnosis dan Diagnosis Banding
KRITERIA DIAGNOSTIK MENURUT DSM-IV
Kriteria diagnostik untuk Gangguan Somatisasi
A Riwayat banyak keluhan fisik yang dimulai sebelum usia 30 tahun yangterjadi selama
periode beberapa tahun dan membutuhkan terapi, yangmenyebabkan gangguan bermakna
dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsipenting lain.
B Tiap kriteria berikut ini harus ditemukan, dengan gejala individual yangterjadi pada
sembarang waktu selama perjalanan gangguan:
1

Empat gejala nyeri: riwayat nyeri yang berhubungan dengansekurangnya empat


tempat atau fungsi yang berlainan (misalnyakepala, perut, punggung, sendi, anggota
gerak, dada, rektum, selamamenstruasi, selama hubungan seksual, atau selama
miksi).

Dua gejala gastrointestinal: riwayat sekurangnya dua gejalagastrointestinal selain


nyeri (misalnya mual, kembung, muntah selaindari selama kehamilan, diare, atau
intoleransi terhadap beberapa jenismakanan)

Satu gejala seksual: riwayat sekurangnya satu gejala seksual ataureproduktif selain
dari nyeri (misalnya indiferensi seksual, disfungsierektil atau ejakulasi, menstruasi
tidak teratur, perdarahan menstruasiberlebihan, muntah sepanjang kehamilan).

Satu gejala pseudoneurologis: riwayat sekurangnya satu gejala ataudefisit yang


mengarahkan pada kondisi neurologis yang tidak terbataspada nyeri (gejala konversi
seperti gangguan koordinasi ataukeseimbangan, paralisis atau kelemahan setempat,
sulit menelan ataubenjolan di tenggorokan, afonia, retensi urin, halusinasi,
38

hilangnyasensasi atau nyeri, pandangan ganda, kebutaan, ketulian, kejang;gejala


disosiatif seperti amnesia; atau hilangnya kesadaran selainpingsan).
C Salah satu (1)atau (2):
1

Setelah penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam kriteria B tidak dapat dijelaskan
sepenuhnya oleh sebuah kondisi medis umum yangdikenal atau efek langsung dan
suatu zat (misalnya efek cedera,medikasi, obat, atau alkohol).

Jika terdapat kondisi medis umum, keluhan fisik atau gangguan sosialatau pekerjaan
yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yangdiperkirakan dan riwayat penyakit,
pemeriksaan fisik, atau temuanlaboratorium.

D Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti gangguanbuatan atau
pura-pura).

Kriteria diagnostik untuk Gangguan Konversi


A Satu atau lebih gejala atau defisit yang mengenai fungsi motorik volunter atausensorik
yang mengarahkan pada kondisi neurologis atau kondisi medis lain.
B Faktor psikologis dipertimbangkan berhubungan dengan gejala atau defisitkarena awal
atau eksaserbasi gejala atau defisit adalah didahului oleh konflik atau stresor lain.
C Gejala atau defisit tidak ditimbulkkan secara sengaja atau dibuat-buat (sepertipada
gangguan buatan atau berpura-pura).
D Gejala atau defisit tidak dapat, setelah penelitian yang diperlukan, dijelaskansepenuhnya
oleh kondisi medis umum, atau oleh efek langsung suatu zat, atausebagai perilaku atau
pengalaman yang diterima secara kultural.
E Gejala atau defisit menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinisatau gangguan
dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain ataumemerlukan pemeriksaan
medis.
F Gejala atau defisit tidak terbatas pada nyeri atau disfungsi seksual, tidak terjadi sematamata selama perjalanan gangguan somatisasi, dan tidak dapatditerangkan dengan lebih
baik oleh gangguan mental lain.
Sebutkan tipe gejala atau defisit:
Dengan gejata atau defisit motorik
Dengan gejala atau defisit sensorik
Dengan kejang atau konvulsi
Dengan gambaran campuran
39

Kriteria Diagnostik untuk Hipokondriasis


A Preokupasi dengan ketakutan menderita, atau ide bahwa ia menderita, suatupenyakit
serius didasarkan pada interpretasi keliru orang tersebut terhadapgejala-gejala tubuh.
B Perokupasi menetap walaupun telah dilakukan pemeriksaan medis yang tepatdan
penentraman.
C Keyakinan dalam kriteria A tidak memiliki intensitas waham (sepertigangguan
delusional, tipe somatik) dan tidakterbatas pada kekhawatirantentang penampilan (seperti
pada gangguan dismorfik tubuh).
D Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara kilnis ataugangguan dalam
fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
E Lama gangguan sekurangnya 6 bulan.
F Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan kecemasanumum,
gangguan obsesif-kompulsif, gangguan panik, gangguan depresif berat, cemas
perpisahan, atau gangguan somatoform lain.

Sebutkan jika:
Dengan tilikan buruk: jika untuk sebagian besar waktu selamaepisode berakhir, orang
tidak menyadari bahwa kekhawatirannya tentang menderitapenyakit serius adalah
berlebihan atau tidak beralasan.
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Dismorfik Tubuh
A Preokupasi dengan bayangan cacat dalam penampilan. Jika ditemukan sedikitanomali
tubuh, kekhawatiran orang tersebut adalah berlebihan dengan nyata.
B Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis ataugangguan dalam
fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
C Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain(misalnya,
ketidakpuasan dengan bentuk dan ukuran tubuh pada anorexianervosa).

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Nyeri


A Nyeri pada satu atau lebih tempat anatomis merupakan pusat gambaran klinisdan cukup
parah untuk memerlukan perhatian klinis.

40

B Nyeri menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguandalam fungsi
sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
C Faktor psikologis dianggap memiliki peranan penting dalam onset,kemarahan,
eksaserbasi atau bertahannnya nyeri.
D Gejala atau defisit tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (sepertipada
gangguan buatan atau berpura-pura).
E Nyeri tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mood, kecemasan,atau gangguan
psikotik dan tidak memenuhi kriteria dispareunia.
Tuliskan seperti berikut:
Gangguan nyeri berhubungan dengan faktor psikologis:faktor psikologis dianggap
memiliki peranan besar dalam onset, keparahan,eksaserbasi, dan bertahannya
nyeri.Sebutkan jika:
Akut: durasi kurang dari 6 bulan
Kronis: durasi 6 bulan atau lebih
Gangguan nyeri berhubungan baik dengan faktor psikologls maupun kondisimedis umum
Sebutkan jika:
Akut: durasi kurang dari 6 bulan
Kronis: durasi 6 bulan atau lebih
Catatan: yang berikut ini tidak dianggap merupakan gangguan mental dandimasukkan
untuk mempermudah diagnosis banding.

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Somatoform yang Tidak Digolongkan


A Satu atau lebih keluhan fisik (misalnya
makan,keluhangastrointestinal atau saluran kemih).

kelelahan,

hilangnya

nafsu

B Salah satu (1)atau (2)


1.Setelah pemeriksaan yang tepat, gejala tidak dapat dijelaskansepenuhnya oleh kondisi
medis umum yang diketahui atau oleh efek langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera,
medikasi, obat, ataualkohol).
2.Jika terdapat kondisi medis umum yang berhubungan, keluhan fisik atau gangguan
sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalahmelebihi apa yang diperkirakan
menurut riwayat penyakit,pemeriksaan fisik, atau temuan laboratonium.

41

C. Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguandalam


fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
D.Durasi gangguan sekurangnya enam bulan.
E.Gangguan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain(misalnya
gangguan somatoform, disfungsi seksual, gangguan mood,gangguan kecemasan,
gangguan tidur, atau gangguan psikotik).
F. Gejala tidak ditimbulkan dengan sengaja atau dibuat-buat (seperti padagangguan
buatan atau berpura-pura).

Kriteria Diagnostik Faktor Psikologis yang Mempengaruhi Kondisi Medis


A Adanya suatu kondisi medis umum (dikodekan dalam Aksis III).
B Faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi medis umum dengan salah satucara
berikut:
1.Faktor yang mempengaruhi perjalanan kondisi medis umumditunjukkan oleh hubungan
erat antara faktor psikologis dan perkembangan atau eksaserbasi dan, atau keterlambatan
penyembuhandan, kondisi medis umum.
2. Faktor yang mengganggu pengobatan kondisi medis umum.
3. Faktor yang membuat risiko kesehatan tambahan bagi individu.
4.Respons fisiologis yang berhubungan dengan stres menyebabkan ataumengeksaserbasi
gejala-gejala kondisi medis umum.
Pilihlah nama bendasarkan sifat faktor psikologis (bila terdapat lebih dan satu
faktor,nyatakan yang paling menonjol).

Gangguan mental mempengaruhi kondisi medis (sepertigangguan depresif


beratmemperlambat pemulihan dan infark miokardium). Gejala psikologis mempengaruhi
kondisi medis (misalnya gejala depresifmemperlambatpemulihan dan pembedahan;
kecemasan mengeksaserbasi asma). Sifat kepribadian atau gaya menghadapi masalah
mempengaruhi kondisi medis(misalnya penyangkalan psikologis terhadap pembedahan
pada seorang pasienkanker, perilaku bermusuhan dan tertekan menyebabkan penyakit
kandiovaskular).
Perilaku kesehatan mal-adaptif mempengaruhi kondisi medis (misalnya tidak olahraga,
seks yang tidak aman, makan berlebihan).Respon fisiologis yang berhubungan dengan
stres mempengaruhi kondisi medisumum(misalnya eksaserbasi ulkus, hipertensi, aritmia,
atau tension headache yangberhubungan dengan stres).
42

DIAGNOSIS MENURUT PPDGJ :


Gangguan Somatoform

Ciri utama gangguan ini adalah adanya keluhan-keluhan gejala fisik yang berulangulang disertai permintaan pemeriksaan medik, meskipun sudah berkali-kali terbukti
hasilnya negatif dan sudah dijelaskan dokternya bahwa tidak ditemukan keluhan yang
menjadi dasar keluhannya. Penderita juga menyangkal dan menolak untuk membahas
kemungkinan kaitan antara keluhan fisiknya dengan problem atau konflik dalam
kehidupan yang dialaminya bahkan meskipun didapatkan gejala-gejala anxietas dan
depresi.

Tidak adanya saling pengertian antara dokter dan pasien mengenai kemungkinan
penyebab keluhan-keluhannya yang menimbulkan frustasi dan kekecewaan pada
kedua belah pihak

Gangguan Somatisasi
Pedoman diagnostik
Diagnosis pasti memerlukan semua hal berikut :

Adanya banyak keluhan-keluhan fisik yang bermacam-macam yang tidak dapat


dijelaskan atas dasar kelainan fisik yang sudah berlangsung sedikitnya 2 tahun

Tidak mau menerima nasehat atau penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak ada
kelainan fisik yang dapat menjelaskan keluhannya

Terdapat disabilitas dalam fungsinya di masyarakat dan keluarga yang berkaitan


dengan sifat keluhan-keluhannya dan dampak dari perilakunya

a. Gangguan Somatoform Tak Terinci


Pedoman diagnostik

Keluhan-keluhan fisik bersifat multipel, bervariasi dan menetap, akan tetapi gambaran
klinis yang khas dan lengkap dari gangguan somatisasi tidak terpenuhi

Kemungkinan ada ataupun tidaknya faktor penyebab psikologis belum jelas, akan
tetapi tidak boleh ada penyebab fisik dan keluhan-keluhannya

b. Gangguan Hipokondrik

43

Pedoman diagnostik
Untuk diagnostik pasti, kedua hal ini harus ada :

Keyakinan yang menetap adanya sekurang0kurangnya satu penyakit fisik yang serius
yang dilandasi keluhan-keluhannya, meskipun pemeriksaan yang berulang-ulang tidak
menunjang adanya alasan fisik yang memadai, ataupun adanya preokupasi yang
menetap kemungkinan deformitas atau perubahan bentuk penampakan fisik

Tidak mau menerima nasehat atau dukungan penjelasan dari beberapa dokter bahwa
tidak ditemukan penyakit atau abnormalitas fisik yang melandasi keluhannya.

c. Gangguan Otonomik Somatoform


Pedoman diagnostik
Diagnosis pasti memerlukan semua hal berikut :

Adanya gejala-gejala bangkitan otonomik seperti palpitasi, berkeringat, tremor, muka


panas/flushing, yang menetap dan mengganggu

Gejala subjektif tambahan mengacu pada sistem atau organ tertentu (gejala tidak
khas)

Preokupasi dengan dan penderitaan (distress) mengenai kemungkinan adanya


gangguan yang serius (sering tidak begitu khas) dari sistem atau organ tertentu, yang
tidak terpengaruh oleh hasil pemeriksaan berulang, maupun penjelasan dari dokter

Tidak terbukti adanya gangguan yang cukup berarti pada struktur/fungsi dari sistem
atau organ yang dimaksud.

Karakter kelima : F45.30 = jantung dan sistem kardiovaskuler


F45.31 = saluran pencernaan bagian atas
F45.32 = saluran pencernaan bagian bawah
F45.33 = sistem pernafasan
F45.34 = sistem genito-urinaria
F45.35 = sistem atau organ lainnya

d. Gangguan Nyeri Somatoform Menetap


44

Pedoman diagnostik

Keluhan utama adalah nyeri hebat, menyiksa, menetap, yang tidak dapat dijelaskan
sepenuhnya atas dasar proses fisiologik maupun adanya gangguan fisik

Nyeri timbul dalam hubungan dengan adanya konflik emosional atau problem
psikososial yang cukup jelas untuk dapat dijadikan alasan dalam mempengaruhi
terjadinya gangguan tersebut

Dampaknya adalah meningkatnya perhatian dan dukungan, baik personal maupun


medis, untuk yang bersangkutan.

e. Gangguan Somatoform Lainnya


Pedoman diagnostik

Pada gangguan ini keluhan-keluhannya tidak sistem saraf otonom dan terbatas secara
spesifik pada bagian tubuh atau sistem tertentu

Tidak ada kaitannya dengan kerusakan jaringan

Diagnosis Banding Gangguan Somatofom


a

Gangguan Somatisasi

Klinisi harus selalu menyingkirkan kondisi medis non-psikiatrik yang dapat menjelaskan
gejala pasien. Gangguan medis tersebut adalah sklerosis multiple, miastenia gravis, lupus
eritematosus sistemik kronis. Selain itu juga harus dibedakan dari gangguan depresi berat,
gangguan kecemasan (anxietas), gangguan hipokondrik dan skizofrenia dengan gangguan
waham somatik.
b

Hipokondriasis

Kondisi medis nonpsikiatrik: khususnya gangguan yang tampak dengan gejala yang tidak
mudah didiagnosis. Penyakit-penyakit tersebut adalah AIDS, endokrinopati, miastenia
gravis, skerosis multiple, penyakit degeneratif pada sistem saraf, lupus eritematosus
sistemik, dan gangguan neoplastik yang tidak jelas.
c

Gangguan Konversi

Gangguan neurologis (seperti demensia, penyakit degeneratif), tumor otak, penyakit


ganglia basalis harus dipertimbangkan sebagai diagnosis banding.
d

Gangguan Dismorfik Tubuh

45

Pada distorsi citra tubuh terjadi pada anoreksia nervosa, gangguan identitas jenis kelamin,
gangguan depresif, gangguan kepribadian narsistik, skizofrenia dan gangguan obsesifkumpulsif.
e

Gangguan Nyeri

Gangguan nyeri harus dibedakan dari gangguan somatoform lain, seperti nyeri pada
hipokondrial, nyeri pada konversi.(Kaplan, 1997)
3.5. Penatalaksanaan
Konsep penggabungan psikoterapetik dan pengobatan medis, yaitu pendekatan yang
menekankan hubungan pikiran dan tubuh dalam penbentukan gejala dan gangguan,
memerlukan tanggung jawab bersama di antara berbagai profesi.Permusuhan, depresi,
dan kecemasan dalam berbagai proporsi adalah akar dan sebagian besar gangguan
psikomatik.
Terapi kombinasi merupakan pendekatan di mana dokter psikiatrik menangani aspek
psikiatrik, sedangkan dokter ahli penyakit dalam atau dokter spesialis lain menangani
aspek somatik.
Tujuan terapi medis adalah membangun keadaan fisik pasien sehingga pasien dapat
berperan dengan berhasil, serta psikoterapi untuk kesembuhan totalnya.Tujuan akhirnya
adalah kesembuhan, yang berarti resolusi gangguan struktural dan reorganisasi
kepribadian.Psikoterapi kelompok dan terapi keluarga.Terapi keluarga menawarkan
harapan suatu perubahan dalam hubungan keluarga dan anak, mengingat kepentingan
psikopatologis
dari
hubungan
ibu-anak
dalam
perkembangan
gangguan
psikosomatik.keluarga dan anak, mengingat kepentingan psikopatologis dari hubungan
ibu-anak dalam perkembangan gangguan psikosomatik.

Gangguan somatisasi ditatalaksana dengan ikatan terapeutik, perjanjian teratur, dan


intervensi krisis. Pengobatan psikofarmakologis diindikasikan bila gangguan
somatisasi disertai dengan gangguan penyerta (misalnya: gangguan mood,
gangguan depresi yang nyata, gangguan anxietas. Medikasi harus dimonitor karena
pasien dengan gangguan somatisasi cenderung menggunakan obat secara
berlebihan dan tidak dapat dipercaya.

Penatalaksanaan untuk gangguan konversi adalah sugesti dan persuasi dengan


berbagai teknik. Strategi penatalaksanaan pada hipokondriasis meliputi pencatatan
gejala, tinjauan psikososial, dan psikoterapi.

Gangguan dismorfik tubuh diterapi dengan ikatan terapeutik, penatalaksanaan stres,


psikoterapi, dan pemberian antidepresan.

Terapi pada gangguan nyeri mencakup ikatan terapeutik, menentukan kembali tujuan
terapi, dan pemberian antidepresan.

46

Pendekatan terapi
a

Berhubungan dengan primary care practitioner memonitoring gejala yang


dialami pasien, apakah ada gejala baru, dan pengobatan yang diberikan.
Diperlukan juga untuk berkonsultasi dengan psikiatri.

Medikamentosa

Pasien dengan somatoform disorder terkadang diperlukan obat anti-anxietas


atau obat antidepresan jika ada mood atai anxietas disorder. Tricyclic
antidepresant dan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI) mungkin bisa
membantu.

Psikoterapi.

Cognitif-behavioural therapy
Terapis behavioral dapat mengajarkan anggota keluarga untuk menghargai usaha
memenuhi tanggung jawab dan mengabaikan tuntutan dan keluhan.Teknik kognitif
behavioral, paling sering pemaparan terhadap pencegahan respons dan restrukturisasi
kognitif, juga mencapai hasil yang memberikan harapan dalam menangani gangguan
dismorfik tubuh (BDD). Pencegahan respons berfokus pada pemutusan ritual kompulsif
seperti memeriksa di depan cermin (dengan menutup semua cermin) dan berdandan
berlebihan. Dalam restrukturisasi kognitif, terapis menantang keyakinan pasien dengan
cara menyemangati mereka untuk mengevaluasi keyakinan mereka dengan bukti yang
jelas. (Yutzy, 2006)
Perhatian akhir-akhir ini beralih pada penggunaan anti depressan terutama fluoxetine
(Prozac) dalam menangani beberapa tipe gangguan somatoform. Meski kita kekurangan
terapi obat yang spesifik untuk gangguan konversi, sebuah penelitian terhadap 16 pasien
hipokondriasis menunjukkan penurunan yang berarti terhadap keluhan-keluhan
hipokondrial setelah percobaan selama 12 minggu dengan Prozac.
Hipnosis
Tujuan terapi medis adalah membangun keadaan fisik pasien sehingga pasien dapat
berperan dengan berhasil, serta psikoterapi untuk kesembuhan totalnya. Tujuan akhirnya
adalah kesembuhan, yang berarti resolusi gangguan struktural dan reorganisasi
kepribadian. Psikoterapi kelompok dan terapi keluarga. Terapi keluarga menawarkan
harapan suatu perubahan dalam hubungan keluarga dan anak, mengingat kepentingan
psikopatologis dari hubungan ibu-anak dalam perkembangan gangguan psikosomatik.
Keluarga dan anak, mengingat kepentingan psikopatologis dari hubungan ibu-anak dalam
perkembangan gangguan psikosomatik.

47

motivasi: perlu motivasi dari orang lain, karena pasien sering kali berpikir bahwa
mereka tidak memerlukan terapi.

konfrontasi: merespon dengan cara mendukung melalui konfrontasi terhadap akibat


dari pemikiran dan pola perilaku. Lebih efektif bila dilakukan oleh teman sebaya,
psikoterapis.
peran keluarga dan kelompok.

dorongan dan partisipasi sangat efektif bagi pasien.

bila terdapat cemas dan depresi maka berikan anti-depresan namun terkadang tidak
efektif.
Terapi jangka panjang
Terapi wicara:psikoterapi yang dimaksudkan untuk membantu pasien mengerti apa
penyebab kecemasan dan mengenal perilakunya yang tidak pantas, sebagai landasan
untuk pengobatan lainnya. Psikoanalisis:bila ditemukan gangguan kepribadian seperti,
narsis/obsesifkompulsif. (Khan, 2003)
Medikamentosa

Golongan

Mekanisme Kerja

Contoh

Anti depresan trisiklik

Menghambat reuptake

Amitriptilin,
imipramin,

5-HT/NE secara tidak


selektif

SSRIs
serotonin

(selective

desipramin,
nortriptilin,
klomipramin

Menghambat secara

Fluoksetin, paroksetin,

selektif reuptake 5-HT

sertralin, fluvoksamin

Menghambat reuptake

Trazodon, nefazodon,
mirtazapin, bupropion,

Inhibitor

DA/NE secara tidak


selektif

MAO inhibitors

Menghambat aktivitas

Phenelzine,
tranylcypromine

reuptake inhibitors)
Mixed
reuptake

DA/NE

enzim MAO

maprotilin, venlafaksin

48

Dosis
*Depresi ringan sampai dengan sedang 25 mg 1-3 x sehari atau 25-75 mg 1 x sehari
tergantung dari beratnya gejala.
*Depresi berat 25 mg 3 x sehari atau 75 mg 1 x sehari. Maksimal: 150 mg/hari dalam
dosis tunggal atau terbagi.
*Lansia Awal 10 mg 3 x sehari atau 25 mg 1 x sehari. Bila perlu tingkatkan bertahap
sampai 25 mg 3 x sehari atau 75 mg 1 x sehari.
Efek Samping
Reaksi SSP, antikolinergik ringan, sinus takikardi, hipotensi pustural, reaksi alergi pada
kulit, kejang, aritmia, gangguan hantaran jantung, alveolitis alergi, hepatitis.
Kontraindikasi
*epilepsi atau ambang rangsang lebih rendah, intoksikasi akut oleh alkohol, gangguan
hantaran jantung, glaukoma sudut sempit, retensi urin, hepatitis berat, gangguan ginjal.
*pengguanaan bersama obat analgesik, hipnotik, atau psikotropik.
Perhatian pada pasien dengan:
*Insufisiensi hati & ginjal, retensi urin, riwayat peningkatan tekanan intra okular, hamil,
laktasi, skizofrenia, gangguan afektik siklik, dapat mengganggu kemampuan
mengemudi/menjalankan mesin.
Rujukan: penanganan pada kasus ini juga membutuhkan dukungan dari berbagai bidang
ilmu misalnya psikiatri, ahli penyakit dalam, keluarga, serta para ulama (bila perlu).
(Gunawan, 2007)
Terapi untuk Gangguan Somatoform

Kebijakan klinis menyarankan pendekatan halus dan suportif seraya


memberikan penghargaan kepada pasien atas setiap perbaikan kondisi sekecil apa pun
yang berhasil dicapai(Simon,1998).

Orang-orang yang menderita gangguan somatoform jauh lebih sering datang ke dokter
dibanding ke psikiater atau psikolog karena mereka menganggap masalah berkait
dengan kondisi fisik. Para pasien tersebut menganggap rujukan dokter ke psikolog
atau psikiater sebagai tanda bahwa dokter menganggap penyakit mereka terletak di
kepala; sehingga mereka tidak merasa senang dirujuk ke ahli jiwa. Mereka
49

menguji kesabaran dokter mereka, yang sering kali meresepkan berbagai macam obat
atau penanganan medis dengan harapan akan menyembuhkan keluhan
somatiktersebut.
Penyembuhan dengan berbicara yang menjadi dasar psikoanalisis dilandasi
oleh asumsi bahwa suatu represif masif telah memaksa energi psikis diubah menjadi
anestesia atau kelumpuhan yang membingungkan. Namun demikian, psikoanalisis
tradisional dengan terapi jangka panjang dan psikoterapi yang berorientasi
psikoanalisis tidak menunjukkan hasil yang bermanfaat bagi gangguan konversi,
kecuali mungkin mengurangi kekhawatiran pasien atas penyakitnya. Penanganan
psikodinamika jangka pendek dapat menjadi efektif untuk menghilangkan simtomsimtom gangguansomatoform.
Pasien somatoform sering menderita kecemasan dan depresi. Dengan
menangani kecemasan dan depresi sering kali mengurangi kekhawatiran somatoform.
Pada kasus komorbiditas antara ganguan obsesif kompulsif dan gangguan somatoform
tertentu, seperti hipokondriasis dan gangguan dismorfik tubuh memiliki penanganan
pilihan untuk ganguan kompulsif-pemaparan dan pencegahan respons-dapat menjadi
efektif untuk gangguan somatoform tersebut.
Terapis perlu memperhitungkan untuk memastikan pasien tidak kehilangan muka
ketika gangguan tersebut tidak lagi dialaminya. Terapis harus mempertimbangkan
kemungkinan pasien merasa dipermalukan ketika kondisinya menjadi lebih baik
melalui penanganan yang tidak berkaitan dengan masalah medis (fisik).

Terapi untuk gangguan somatisasi


Pemaparan atau terapi kognitif dapat digunakan untuk mengatasi ketakutan,
berkurangnya rasa takut dapat membantu mengurangi berbagai keluhan somatik.
Terapi keluarga, membantu pasien dan keluarga mengubah jaringan hubungan yang
bertujuan untuk membantu usahanya menjadi lebih mandiri.
Training asersi dan keterampilan sosial, bermanfaat untuk membantunya manguasai
atau menguasai kembali, berbagai cara untuk berhubungan dengan orang lain dan mengatasi
berbagai tantangan tanpa harus mengatakan Saya seorang yang malang, lemah, dan sakit.
Dokter tidak menghindari validitas keluhan-keluhan fisik, namun meminimalkan
penggunaan berbagai tes diagnostik dan pemberian obat, mempertahankan kontak dengan
pasien. Teknik-teknik seperti training relaksasi dan berbagai bentuk terapi kognitif juga
terbukti bermanfaat. Biofeedback, yang mencangkup pengendalian atas proses-proses
fisiologis telah terbukti efektif dalam mengurangi berbagai pikiran yang merusak pada para
pasien yang menderita gangguan somatoform-bahkan lebih efektif dibanding teknik relaksasi.

50

Terapi utuk hipokondriasis


Pendekatan kognitif behavioral. Penelitian menunjukkan bahwa para pasien
hipokondrial menunjukkan penyimpanan kognitif dengan menganggap masalah kesehatan
yang muncul sebagai suatu ancaman. Terapi kognitif-behavioral dapat ditujukan untuk
merestrukturisasi pemikiran pesimistik.
Penanganan dapat mencangkup beberapa strategi seperti mengarahkan perhatian
selektif pasien ke simtom-simtom fisik dan tidak mendorong pasien mencari kepastian medis
bahwa ia tidak sakit.

Terapi untuk rasa nyeri


Nyeri mengandung dua komponen, yaitu nyeri psikogenik dan nyeri yang benar-benar
disebabkan factor medis, seperti cedera jaringan otot. Penanganan yang efektif cenderung
terdiri dari hal-hal berikut:
A. Melakukan validasi bahwa rasa nyeri memang nyata, dan tidak hanya dalam pikiran
pasien.
B. Pelatihan relaksasi
C. Menghadiahi pasien karena berperilaku yang tidak sejalan dengan rasa nyeri (menahan
rasa nyeri).
Varian terapi psikodinamika jangka pendek, yang disebut terapi tubuh psikodinamika,
efektif untuk mengurangi rasa nyeri dan mempertahankannya dalam jangka waktu lama.
Dosis rendah obat antidepresan, terutama imipramine, lebih tinggi manfaatnya
dibandingkan placebo untuk mengurangi rasa nyeri dan distress kronis. Obat-obatan
tersebut tidak menghilangkan depresi terkait.
a. Secara umum tampaknya perlu disarankan untuk mengalihkan focus dari hal-hal yang
tidak dapat dilakukan pasien karena penyakitnya dan bahkan mengajarkan pada pasien
bagaimana cara mengatasi stres, mendorong aktivitas yang lebih banyak, dan
meningkatkan kontrol diri

3.6. Prognosis
Prognosis pada gangguan somatoform sangat bervariasi, tergantung umur pasien dan sifat
gangguannya (kronik atau episodik). Umumnya, gangguan somatoform prognosisnya baik,
dapatditangani secara sempurna. Sangat sedikit sekali yang mengalami eksarsebasi, dapat
51

bervariasidari mild-severe dan kronis. Pengobatan yang lebih awal dan menjadikan prognosis
menjadilebih baik. Secara independen tidak meningkatkan risiko kematian. Kematian lebih
disebabkankarena upaya bunuh diri. (Kaplan, 1999)
LO 4. Memahami dan Menjelaskan Keluarga Sakinah, Mawaddah dan Warahmah
Serta Memahami dan Menjelaskan Konsultasi Perkawinan
Dengan memperhatikan titik kontras antara pernikahan dan perceraian, untuk
menemukan dan mengetahui falsafah kebencian Allah Swt terhadap perceraian, maka
langkah pertama yang harus ditempuh adalah menjelaskan betapa pentingnya pernikahan.
Allah Swt dalam Al-Quran berfirman, Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah
Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan
merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang
berpikir.(Qs. Al-Rum [30]: 21)
Dalam riwayat-riwayat yang berasal dari para Imam Maksum, pernikahan memiliki
manfaat yang sangat besar. Dalam hal ini, Nabi Muhammad Saw bersabda, Tidak ada
bangunan yang lebih dicintai di sisi Allah Swt dalam agama Islam melebihi perintah untuk
menikah.
Demikian juga disebutkan bahwa salah satu manfaat penting dari pernikahan adalah
memperbanyak dan melanggengkan keturunan anak Adam. Oleh karena itu, wajar kalau ada
yang berpendapat bahwa perceraian akan merusak fondasi rumah tangga dan sebagai
ikutannya akan merusak anggota keluarga.
Anak-anak yang seharusnya mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya akan
kehilangan pengawasan dan tanpa perlindungan. Mereka akan lepas begitu saja di tengah
masyarakat tanpa bimbingan dan pengawasan. Amat disayangkan banyaknya tindakan amoral
dan asusila yang terjadi di masyarakat umumnya dilakukan oleh anak-anak ini.
Di samping itu, karena perceraian berlawanan dengan falsafah penciptaan manusia
dan selaksa alasan-alasan lainnya, karena itu perceraian merupakan perbuatan yang sangat
dibenci di sisi Allah Swt. Namun, dalam hal ini, perceraian yang dibenci adalah perceraian
yang dilakukan tanpa dalil dan alasan yang dibenarkan.
52

Adapun apabila seseorang melakukan perceraian dengan dalil yang dapat diterima,
maka perbuatan ini bukanlah perbuatan yang dibenci dan hal ini merupakan sebuah alternatif
dalam memecahkan persoalan dan kemelut yang terjadi di tengah rumah tangga.

Sakinah mengandung makna ketenangan.


Setiap jenis laki-laki atau perempuan, jantan atau betina, dilengkapi Allah dengan alat
serta aneka sifat dan kecenderungan yang tidak dapat berfungsi secara sempurna jika ia
berdiri sendiri. Kesempurnaan eksistensi makhluk hanya tercapai dengan bergabungnya
masing-masing pasangan dengan pasangannya sesuai dengan sunnatullah.
Memang benar bahwa sewaktu-waktu manusia bisa merasa senang dalam
kesendiriannya, tetapi tidak untuk selamanya. Manusia telah menyadari bahwa hubungan
yang dalam dan dekat dengan pihak lain akan membantunya mendapatkan kekuatan dan
membuatnya lebih mampu menghadapi tantangan. Karena alasan-alasan inilah maka
manusia butuh pasangan hidup dengan jalan menikah, berkeluarga, bahkan bermasyarakat
dan berbangsa. Ketenangan hidup ini didambakan oleh suami istri setiap saat, termasuk
saat sang suami meninggalkan rumah dan anak istrinya.
Sakinah terlihat pada kecerahan raut muka yang disertai kelapangan dada, budi bahasa
yang halus, yang dilahirkan oleh ketenangan batin akibat menyatunya pemahaman dan
kesucian hati, serta bergabungnya kejelasan pandangan dengan tekad yang kuat. Itulah
makna sakinah secara umum dan makna-makna tersebut yang diharapkan dapat menghiasi
setiap keluarga yang hendak menyandangKeluarga Sakinah.
Mawaddah mengandung arti rasa cinta.
Mawaddah ini muncul karena di dalam pernikahan ada faktor-faktor yang bisa
menumbuhkan dua perasaan tersebut. Dengan adanya seorang istri, suami dapat
merasakan kesenangan dan kenikmatan, serta mendapatkan manfaat dengan adanya anak
dan mendidik dan membesarkan mereka. Disamping itu dia merasakan adanya
ketenangan, kedekatan dan kecenderungan kepada istrinya. Sehingga secara umum tidak
akan didapatkan mawaddah diantara manusia yang satu dengan manusia yang lain
sebagaimana mawaddah (rasa cinta) yang ada di antara suami istri.
Rasa cinta yang tumbuh di antara suami istri adalah anugrah dari Allah Swt kepada
keduanya, dan ini merupakan cinta yang sifatnya tabiat. Tidaklah tercela orang yang
senantiasa memiliki rasa cinta asmara kepada pasangan hidupnya yang sah. Bahkan hal itu
merupakan kesempurnaan yang semestinya disyukuri. Namun tentunya selama tidak
melalaikan dari berdzikir kepada Allah Swt, karena Allah berfirman,

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak


kalian melalaikan kalian dari dzikir kepada Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian
maka mereka itulah orang-orang yang merugi. (Al-Munafiquun [63]: ayat 9)

53

Allah Swt tumbuhkan mawaddah tersebut setelah pernikahan dua insan. Padahal
mungkin sebelumnya pasangan itu tidak saling mengenal dan tidak ada hubungan yang
mungkin menyebabkan adanya rasa kasih sayang, apalagi rasa cinta.
Rahmah mengandung arti Rasa Sayang.
Rasa sayang kepada pasangannya merupakan bentuk kesetian dan kebahagiaan yang
dihasilkannya.
Perlu digaris bawahi bahwa sakinah mawaddah warahmah tidak datang begitu saja,
tetapi ada syarat bagi kehadirannya. Ia harus diperjuangkan, dan yang lebihutama, adalah
menyiapkan kalbu. Sakinah, mawaddah dan rahmah bersumber dari dalam kalbu, lalu
terpancar ke luar dalam bentuk aktifitas sehari-hari, baik didalam keluarga maupun dalam
masyarakat.
Semua ibadah dalam Islam mengandung hikmah yang baik bagi manusia, baik yang sudah
dapat diketahui atau belum bisa diketahui. Sikap seorang mukmin ketika sudah jelas datang
aturan dari Allah dan Rasul Nya.
Begitupun dengan syari'at pernikahan, di dalamnya mengandung hikmah dan tujuan yang
baik bagi manusia, antara lain adalah :

1. Untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang asasi.


Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, tidak bertentangan dengan perkaraperkara yang asasi bagi manusia, seperti marah, malu, cinta, ini semua adalah contoh sifat
fitrah manusia, dalam Islam tidak boleh dimatikan, tetapi di atur agar menjadi ibadah kepada
Allah ta'ala.
Menikah juga merupakan fitrah manusia (ghorizah insaniyah) yang tidak boleh dibunuh
sehingga dapat menimbulkan kerusakan pada diri dan masyarakat, maka ghorizah insaniyah/
insting manusiawi ini harus diatur dengan nikah, kalau tidak maka dia akan mencari jalan
setan yang menjerumuskan manusia ke lembah hitam. Oleh karena itu dalam Islam tidak ada
doktrin kerahiban, "tidak menikah dan mengklaim mensucikan diri". Juga tidak dibiarkan saja
menghambur nafsu syahwatnya tanpa aturan, sehingga menimbulkan berbagai penyakit moral
dalam masyarakat.

2. Untuk membentengi akhlak yang luhur


Menikah merupakan jalan yang paling bermanfaat dan paling afdhol dalam upaya
merealisasikan dan menjaga kehormatan. Dengan menikah seseorang dapat menundukan
pandangannya dan menjaga kemaluannya, sehingga tidak terjatuh dalam berbagai bentuk
kemaksiatan dan perzinahan, dengan menikah seseorang dapat menjaga kehormatan dan
akhlaknya, tidak mengikuti nafsu syahwat.

54

, :
. , .
Dari Ibnu Mas'ud RA telah bersabda Rosulullah SAW : "Wahai para pemuda barang siapa
diantara kalian yang sudah mampu maka segeralah menikah, karena hal ini dapat
menundukan pandangan dan menjaga kemaluan, barangsiapa yang belum mampu, maka
hendaklah dia berpuasa karena hal ini dapat menjadi tameng baginya. " (Muttafaqun
'alaihi).
3.Untuk menegakkan rumah tangga yang Islami
Merupakansalah satu tujuan pernikahan dalam Islam, yang semestinya setiap mukmin
memperhatikannya. Maka Islam sedemikian rupa mengatur urusan pernikahan ini agar
pasangan suami istri dapat bekerja sama dalam merealisasikan nilai-nilai Islam dalam rumah
tangga.

4. Untuk meningkatkan ibadah kepada Allah SWT


Bersabda Rosulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam
..... : , : ,
,.
" ..Sesoorang diantara kalian yang bergaul dengan istrinya adalah sedekah!"
Mendengar sabda Rosulullah SAW tersebut para sahabat bertanya: "Wahai Rosulullah,
apakah seseorang dari kita yang melampiaskan syahwatnya terhadap istrinya akan
mendapatkan pahala?" Rosulullah SAW menjawab: "Bagaimana menurut kalian jika
sesorang bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah dia berdosa?, Begitu pula jika dia
bersetubuh dengan istrinya maka dia akan mendapatkan pahala." (HR. Bukhori Muslim)

5. Untuk memperoleh banyak keturunan yang sholeh dan sholehah


Firman Allah ta'ala dalam surat An Nahl ayat 72 :

Artinya:
"Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu
dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baikbaik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat
Allah ?"
55

Melalui menikahdengan izin Allah SWT, seseorang akan mendapatkan keturunan yang sholeh
sehingga menjadi aset yang sangat berharga, karena anak yang sholeh senantiasa akan
mendoakan kedua orang tuanya ketika masih hidup atau sudah meninggal dunia, hal ini
menjadi amal jariyah bagi kedua orang tua.Dengan banyak anak juga akan memperkuat
barisan kaum muslimin.

6. Untuk mendatangkan ketenangan dalam hidupnya.


Merupakansalah satu tujuan dalam pernikahan, yakni membentuk keluarga yang sakinah,
mawaddah warohmah.
Firman Allah ta'ala dalam Al Qur'an surat Ar Rum ayat 2:

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari
jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir."
Rasulullah SAWmenyebutkan
warohmahdalam sabdanya :

beberapa

indikasi

keluarga

sakinah,

mawaddah,

, , , :
. , ,
.
Dari Anas RA, telah bersabda Rosulullah SAW : "Apabila Allah SWT ingin menghendaki
kebaikan pada sebuah rumah tangga, maka Allah akan mengkaruniakan keluarga tersebut
kepahaman terhadap agamanya, orang yang kecil dikeluarga akan menghormati yang besar,
Allahakan mengkaruniakan kepada mereka kemudahan dalam penghidupan mereka dan
kecukupan dalam nafkahnya, dan Allah akan menampakkan aib dan keburukan keluarga
tersebut kemudian mereka semua bertaubat dari keburukan tersebut. Jika Allahtidak
menginginkan kebaikan pada sebuah keluarga, maka Allah akan biarkan begitu saja
keluarga tersebut (tanpa bimbingan Nya). (HR Ad Daruquthni).
Sakinah merupakan pondasi dari bangunan rumah tangga yang sangat penting. Tanpanya,
tiada mawaddah dan warahmah. Sakinah itu meliputi kejujuran, pondasi iman dan taqwa
kepada Allah SWT.

56

Dalam hadits yang mulia ini ada beberapa indikator keluarga sakinah, yakni :

At tafaqquh fid diin : Indikasinya adalah, anggota keluarga tersebut


rajin dan penuh semangat dalam menuntut ilmu agama, menjadikan
rumah sebagai tempat ibadah dan majelis ilmu, cinta kepada orangorang sholeh dan pejuang Islam serta mereka berupaya menerapkan
nilai-nilai Islam itu pada seluruh anggota keluarganya.

Al ihtiroom al mutabaadil lilhuquuq baina ash shighoor wal kibaar


(ada penghormatan yang timbal balik dalam kewajiban antara
orang tua dan anak-anak) : Indikasinya anak-anak berbakti kepada
orang tuanya dan merekapun mendapatkan pendidikan dan kebutuhan
dari kedua orang tuanya, serta lingkungan keluarga yang kondusif
dan Islami.

Ar rifqu fil ma'iisyah (Allah SWT mudahkan penghidupannya) :


Indikasinya selalu berusaha mencari nafkah dengan jalan yang halal,
berinfak dan membantu yatim piatu serta orang-orang yang
membutuhkan bantuan.

Al qoshdu fin nafaqoot (merasa cukup dengan rezeki yang Allah


SWT karuniakan) : Indikasinya anggota keluarga tersebut
mempunyai sikap qona'ah dan hatinya tidak tergantung dan terbuai
dengan kehidupan dunia.

Tabshiirul 'uyuub at taubah 'anhaa (Allah SWT tampakkan


aibnya dan mereka bertaubat dari aib tersebut) : Indikasinya
mereka selalu muhasabah dalam hidup, menghindarkan hal-hal yang
dapat merugikan anggota keluarga, menjaga kehormatan keluarga dan
tidak menyebarkan rahasia-rahasia keluarga.

Mawaddah adalah berupa cinta dan harapan. Setiap mahluk Allah SWT kiranya diberikan
sifat ini, mulai dari hewan sampai manusia. Dalam konteks pernikahan, contoh mawaddah itu
berupa kejutan suami untuk istrinya, begitu pun sebaliknya. Misalnya suatu waktu si suami
bangun pagi-pagi sekali, membereskan rumah, menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Dan
ketika si istri bangun, hal tersebut merupakan kejutan yang luar biasa.
Warahmah merupakan kasih sayang yang merupakan suatu kewajiban. Kewajiban seorang
suami menafkahi istri dan anak-anaknya, mendidik, dan memberikan contoh yang baik.
Kewajiban seorang istri untuk menaati suaminya. Intinya warahmah ini kaitannya dengan
segala kewajiban.
Prinsip yang harus dilakukan untuk mencapai rasa tenteram, kasih dan sayang dalam
rumah tangga:
57

Sikap yang santun dan bijak (Muasyarah bil Maruf), merawat cinta kasih dalam
keluarga. Rasulullah saw menyatakan bahwa : Sebaik-baik orang diantara kamu
adalah orang yang paling baik terhadap isterinya, dan aku (Rasulullah) adalah
orang yang paling baik terhadap isteriku.

Saling mengingatkan dalam kebaikan. Di antara bentuk ketakwaan suami istri dalam
mempererat serta mengokohkan rumah tangga adalah dengan saling nasehat
menasehati untuk menjalankan sunnah Nabi.

"Allah merahmati seorang suami yang bangun pada malam hari untuk melaksanakan shalat
(malam/tahajjud) lalu dia juga membangunkan istrinya hingga shalat. Jika istrinya enggan
untuk bangun dia percikan air kewajahnya. Dan Allah merahmati seorang istri yang bangun
dimalam hari untuk melaksanakan shalat (malam/tahajjud) lalu dia membangunkan
suaminya hingga shalat. Jika suaminya enggan untuk bangun dia percikan air kewajahnya"
(HR. Ahmad, Nasai, dan Ibnu Majah dan derajatnya hasan shohih).

Lebih mengutamakan untuk melaksanakan kewajibandaripada menuntut hak. Dalam


membangun rumah tangga, suami dan istri memiliki hak dan kewajiban yang saling
sinergi satu sama lain. Untuk menghadirkan ketentraman, hendaknya setiap individu
lebih mengedepankan kewajiban daripada hak. Hal ini akan menumbuhkan sikap
saling pengertian dan rasa tanggung jawab. Sebaliknya, tuntutan yang muncul dalam
kehidupan rumahtangga dapat menyulut api perpecahan diantara pasangan suami-istri.

Saling menutupi kekurangan pasangannya. Setiap suami pasti memiliki kekurangan,


begitu juga dengan sang istri. Dengan saling menutupi kekurangan diri masingmasing, harmonisasi dalam rumahtangga akan terjaga. Prinsip saling menutupi ini
didasari oleh Surat Al Baqarah ayat 187, "..mereka adalah pakaian bagimu, dan
kamupun adalah pakaian bagi mereka..". Fungsi pakaian adalah menutup aurat,
sehingga dapat dipahami bahwa suami-istri hendaknya saling menutupi
kekurangannya satu sama lain.

Saling tolong menolong. Itulah kata kunci pasangan samara dalam mengelola keluarga.
Suami-istri itu akan berbagi peran dan tanggung jawab dalam mengelola keluarga mereka.
Suami penuh rasa tanggung jawab, istri mampu menjaga kehormatan diri dan pandai
menempatkan diri. (www. Aklaqukarimah.com)

58

DAFTAR PUSAKA
Departemen Kesehatan R.I. 1993.Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di
Indonesia III cetakan pertama. Direktorat Jenderal Pelayanan MedikDepartemen Kesehatan
RI : Jakarta

http://emedicine.medscape.com/article/1142908-overview#a0104

http://www.med.nyu.edu/pmr/residency/resources/general%20MSK%20and
%20Pain/headache%20tension_neuro%20clinics.pdf

http://www.who.int/mental_health/management/who_atlas_headache_disorders.pdf

59

ICSI.2011. Health Care Guideline : Diagnosis and Treatment of Headache

ISH Classification ICHD II ( International Classification of Headache Disorders) available at


http://ihs-classification.org/_downloads/mixed/ICHD-IIR1final.doc

Kaplan & Saddock. 1997. Sinopsis Psikiatri Edisi 7 Jilid 2. Jakarta : Binarupa Aksara

Mansjoer, Arief, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid 2. Jakarta : Media
Aesculapius FKUI

Price, Sylvia dan Lorraine M.Wilson.Nyeri. Huriawati,dkk.Patofisiologi edisi 6.Jakarta :


EGC.2003.

Sherwood, laura.Susunan Saraf Pusat.Beatricia I.Santoso.Fisiologi Manusia dari Sel ke


Sistem. Jakarta : EGC.2001;115-119.

60