Anda di halaman 1dari 15

BAB 2

LANDASAN TEORI
A. Pengertian
Halusinasi adalah pencerapan tanpa adanya rangsang apapun pada panca
indra seorang pasien, yang terjadi dalam keadaan sadar atau bangun, dasarnya
mungkin organik, fungsional, psikotik ataupun histerik (Maramis, 2004).
Halusinasi adalah perubahan persepsi sensori : keadaan dimana indifidu
atau kelompok mengalami atau beresiko mengalami suatu perubahan dalam
jumlah, pola atau interpretasi stimulus yang datang ( Carpenito, 2000).
Halusinasi merupakan salah satu gejala yang sering ditemukan pada klien
dengan gangguan jiwa, halusinasi sering diidentifisikasikan dengan skizofrenia.
Dari seluruh klien skizofrenia 70% diantaranya mengalami halusinasi.
Gangguan jiwa lain yang disertai dengan gejala halusinasi adalah gejala panik
defensif dan delirium. Berbeda dengan ilusi dimana klien mengalami persepsi
yang salah terhadap stimulus, salah satu persepsi pada halusinasi terjadi tanpa
adanya stimulus internal dipersepsikan sebagai suatu yang nyata pada klien-klien.
Dari beberapa pengertian halusinasi diatas penulis dapat menyimpulkan
bahwa halusinasi adalah suatu persepsi klien terhadap stimulus dari luar tanpa
dari obyek yang nyata. Halusinasi merupakan gangguan persepsi dimana klien
mempersepsikan suatu obyek yang sebenarnya tidak terjadi.
B. Rentang Respon Halusinasi
Halusinasi merupakan salah satu respon maldaptive individual yang
berbeda rentang respon neurobiologi (Stuart and Laraia, 2005).
Ini merupakan persepsi maladaptive. Jika klien yang sehat persepsinya
akurat, mampu mengidentifisikan dan menginterpretasikan stimulus berdasarkan
informasi yang diterima melalui panca indera (pendengaran, pengelihatan,
penciuman, pengecapan dan perabaan) klien halusinasi mempersepsikan suatu
stimulus panca indera walaupun stimulus tersebut tidak ada.
Diantara kedua respon tersebut adalah respon individu yang karena suatu
hal mengalami kelainan persensif yaitu salah mempersepsikan stimulus yang
diterimanya, yang tersebut sebagai ilusi.

3

Halusinasi pengecap (gustatorik) : merasa/ mengecap sesuatu e. optik): tak berbentuk (sinar. Jenis-Jenis Halusinasi Halusinasi menurut Rasmun (2001). kejadian alamiah atau music c. atau anggota badannya bergerak (umpamanya anggota badan bayangan atau phantom limb) g. Halusinasi viseral : perasaan 4 tertentu timbul didalam tubuhnya . disentuh.Emosi berlebihan Gambar 1. akustik): suara manusia. binatang mesin. Halusinasi Penciuman (olfaktorius): mencium sesuatu bau d.Perilaku sesuai .Menarik diri .Delusi halusinasi . itu dapat menjadi : a.disinari atau seperti ada ulat bergerak di bawah kulitnya f. hewan.Sulit berespon dengan pengalaman . Halusinasi peraba (taktil) : merasa diraba. Halusinasi pendengaran (autif. C. Halusinasi penglihatan (visual. Rentang Respon Neurobiologi.Emosi social . ditiup. (Stuart & Laraia 2005).Perilaku disgonisasi tidak sesuai . Halusinasi kinestetik : merasa badannya bergerak dalam sebuah ruangan.Klien mengalami jika interpresentasi yang dilakukan terhadap stimulus panca indera tidak sesuai stimulus yang diterimanya. barang yang dikenal) baik itu yang berwarna atau tidak b.rentang respon tersebut sebagai berikut: Adaptif Maladaptif Respon Adaptif Distorsi pikiran Gejala pikiran .Persepsi akurat . binatang.Perilaku aneh / . barang. kilapan ataupola cahaya) atau yang berbentuk (orang.Respon logis .Distorsi pikiran .

kesepian. dan menarik diri dari orang lain ( Non Psikotik ). 1. c. Karakteristik Pengalaman sensori bersifat menjijikkan dan menakutkan. b. tetapi terjadi tepat sebelum terbangun sama sekali dari tidurnya.h. Tingkat : Secara umum halusinasi bersifat menyenangkan Karakteristik Orang yang berhalusinasi mengalami keadaan emosi seperti ansietas. individu mengetahui bahwa pikiran dan sensori yang dialami tersebut dapat dikendalikan jika ansietasnya bisa diatasi (Non Psikotik). 2007 ) : a) Tahap I : Menyenangkan – Ansietas tingkat sedang. Tahapan Intensitas Halusinasi Tingkat intensitas halusinasi ( Stuart dan Sundeen. Halusinasi histerik : Timbul pada nerosa histerik karena konflik emosional D. Menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara. orang yang berhalusinasi mulai merasa kehilangan kendali dan mungkin berusaha untuk menjauhkan dirinya dari sumber yang dipersepsikan. Diam dan dipenuhi oleh sesuatu yang mengasyikkan. Gerakan mata yang cepat. Respon verbal yang lamban. merasa bersalah. e. Tingkat Secara umum halusinasi menjijikkan. b) Tahap II : Menyalahkan – Ansietas tingkat berat. 3. tetap sebelum tertidur persepsi sensorik bekerja salah i. Halusinasi Hipnagogik : terdapat ada kalanya pada seorang yang normal. Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai. 3. d. dan takut serta mencoba untuk memusatkan pada penenangan pikiran untuk mengurangi ansietas. Perilaku klien 5 . 2. 1. Halusinasi hipnopompik : seperti pada halusinasi Hipanogogik. Prilaku klien a. Disamping itu ada pula pengalaman halusinatorik dalam impian yang normal j. individu mungkin merasa malu karena pengalaman sensorinya. 2.

individu mungkin mengalami kesepian jika pengalaman sensori tersebut berakhir (Psikotik). Prilaku klien a. d. halusinasi bisa berlangsung dalam beberapa jam atau beberapa hari bila tidak ada intervensi terapeutik (Psikotik). menarik diri. perintah. 3. c. Penyempitan kemampuan konsentrasi. Tidak mampu berespon terhadap lingkungan E. dan katakonik. c.a. agitasi. b. Lebih cenderung mengikuti petunjuk yang diberikan oleh halusinasinya dari pada menolaknya. b. c. dan Tahap III : Mengendalikan – Ansietas tingkat berat Tingkat Pengalaman sensori menjadi penguasa Karakteristik Orang yang berhalusinasi menyerah untuk melawan pengalaman halusinasi membiarkan halusinasi menguasai dirinya. Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain. isi halusinasi dapat berupa permohonan. tremor. Perilaku klien a. Dipenuhi dengan pengalaman sensori dan mungkin kehilangan kemampuan untuk membedakan antara halusinasi dengan realita. Gejala fisik ansietas berat (berkeringat. Potensial melakukan bunuh diri. 3. Tingkat Secara umum halusinasi menjadi lebih rumit dan saling terkait dengan delusi. Amuk. Perilaku menyerang seperti panik. missal peningkatan tanda – tanda vital. 2. b. a) Etiologi Faktor predisposisi ( stuart and sundeen. 1. Peningkatan sistem saraf otonom yang menunjukkan ansietas.1995 ) Faktor perkembangan 6 . ketidakmampuan untuk mengikuti petunjuk) d) Tahap IV : Menaklukkan – Ansietas tingkat panic 1. c) 1. d. Karakteristik Pengalaman sensori mungkin menakutkan jika individu tidak mengikuti 2. Rentang perhatian hanya beberapa menit.

1995). Ansietas berat yang berkepanjangan terjadi bersamaan dengan keterbatasan kemampuan untuk mengatasinya. Berpisah dari orang yang berarti dalam keluarga dalam kehidupannya missalnya karena dirawat di rumah sakit. bila dalam pencapaian tugas perkembangan tersebut mengalami gangguan akan menyebabkan seseorang berperilku menarik diri.akibat dari dari norma yanfg tuidak mendukung pendekatan terhadap orang lain atau tidak menghargai anggota masyarakat yang tak produktif seperti lansia. Faktor genetic dapat mendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial sehingga menimbulkan perilaku menarik diri sampai engan halusinasi.orang cacat dan berpenyakit kronis. 7 .ini termasuk hal hal sebagai berikut : Penilaian pencitraan otak sudah mulai menuunjukan keterlibatan otak yang lebih luas dalam perkembangan skizofrenia:lesi pada area frontal temporal dan limbic paling berhubunggan dengan perilaku psikotik. d) Faktor keluarga. Faktor presipitasi (stuart and sundeen.perceraian. a) Stressor sosio kuktural Menurunnya stabilitasi unit keluarga. b) Stresor psikologik.isolasi sosial merupakan factor dalam gangguan berhubungan.neurotransmitter dan lain lain.Pada tahap perkembangan individu mempunyai tugas perkembangan yang berhubungan dengan pertumbuhan interpersonal. b) Faktor biologic Abnormalitas otak yang menyebabkan respon neurobiologist yang mal adaptif yang baru di mulai di pahami. c) Faktor sosiokultural. Teori social budaya atau lingkungan meyakini bahwa oang yang berasal dari sosial ekonomi rendah aatu kondisi orang tua tunggal dan tidak mempunyai kesempatan mendapatkan penghargaan dari orang lain yang dapt mempengaruhi gangguan orientasi realita sehingga memberikan reaksi yang salah dan tidak mampu berespon terhdap stimulus dari luar. 2. beberapa kimia otak dikaitkan dengan gejalaskizofrenia antara lain: dopain. System keluarga yang terganggu dan Norma keluarga yang tidak mendukung hubungan keluarga dengan pihak lain diluar keluarga dengan pihak lain diluar keluarga dapat mengembangkan perilaku menarik diri.

kesukaran berhubungan dengan orang lain. urine. urine. tidak mampu merawat diri. Membau bau-bau seperti bau darah. berbicara dengan klien bahkan sampai percakapan lengkap antara dua orang yang mengalami halusinasi. fases. fases umumnya baubau yang tidak menyenangkan. diam.c) Biologis Stressor biologis yang berhubungan dengan respon neurobiologist yang maladptif. Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah. Halusinasi penciuman biasanyasering akibat stroke. bicara sendiri. pengecapan Perabaan kejang / dernentia. Beberapa tanda dan gejala perilaku halusinasi adalah tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai. F. tumor. Tanda dan gejala. asyik dengan pengalaman sensori.perubahan Jenis halusinasi Pendengaran Karakteristik Mendengar suara-suara / kebisingan. gambar karton dan atau panorama yang luas dan komplek.Penglihatan Penciuman dapat berupa sesuatu yang menyenangkan /sesuatu yang menakutkan seperti monster. gambar giometris. d) Gangguan dalam putaran umpan balik otak yang mengatur proses informasi. benda mati atau orang lain. paling sering suara katayang jelas. Pikiran yang terdengar jelas dimana klien mendengar perkataan bahwa pasien disuruh untuk melakukan sesuatu kadang kadang Penglihatan dapat membahayakan.pergerakan mata cepat. Merasa mengecap rasa seperti rasa darah.kehilangan kemampuan membedakan halusinasi dan realitas rentang perhatian yang menyempit hanya beberapa detik atau menit. 8 . menggerakkan bibir tanpa suara. Stimulus penglihatan dalam kilatan cahaya.

Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan. 2005 ) Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. dan spiritual. emosional. 6) Model ketidakberdayaan yang dipelajari menunjukkan bahwa bukan semata – mata trauma menyebabkan depresi tetapi keyakinann bahwa seseorang tidak mempunyai kendali terhadap hasil yang penting dalam kehidupannya. sumber koping. 4) Teori organisasi kepribadian menguraikan bagaimana konsep diri yang negatif dan harga diri rendah mempengaruhi sistem keyakinan dan penilaian seseorang terhadap stressor. social.G. dan kemampuan koping yang dimiliki klien. dunia seseorang dan masa depan seseorang. 5) Model kognitif menyatakan bahwa depresi merupakan masalah kognitif yang didominasi oleh evaluasi negatif seseorang terhadap diri seseorang. cara ini yang akan dipakai pada uraian berikut. 7) Model perilaku mengasumsi penyebab depresi terletak pada kurangnya keinginan positif dalam berinteraksi dengan lingkungan. 3) Teori kehilangan obyek merujuk kepada perpisahan traumatik individu dengan benda atau yang sangat berarti. 9 . intelektual. 2) Teori agresif menyerang menunjukkan bahwa depresi terjadi karena perasaan marah yang ditunjukkan pada diri sendiri. social. Data pada pengkajian kesehatan jiwa dapat dikelompokkan menjadi factor predisposisi.factor presipitasi penilaian terhadap stressor. Data yang dikumpulkan meliputi data biologis. yaitu fisik. dan spiritual. Pengkajian Menurut ( Keliat. psikologis. atau masalah klien. Faktor Predisposisi 1) Faktor genetik dianggap mempengaruhi transmisi gangguan afektif melalui riwayat keluarga atau keturunan. Cara pengkajian lain berfokus pada 5 (lima) dimensi. a.

5) Sumber – sumber koping meliputi status sosial ekonomi. orang lain. Kerusakan komunikasi verbal (Townsend.. Masalah Keperawatan Adapun masalah yang mungkin muncul pada klien dengan gangguan sensorori persepsi halusinasi pendengaran antara lain adalah : a. Orang Lain. Gangguan konsep diri : harga diri rendah.b. Pohon Masalah Resiko Menciderai Diri Sendiri. maupun lingkungan) (Keliat. Resiko tinggi mencederai (diri sendiri. keluarga. Perubahan persepsi sensori : halusinasi pengihatan 10 proble m . 4) Perubahan fisiologik diakibatkan oleh obat – obatan atau berbagai penyakit fisik. 3) Peran dan ketegangan peran. kedudukan atau harga diri. jaringan interpersonal dan organisasi yang dianungio oleh lingkungan sosial yang lebih luas. termasuk kehilangan cinta seseorang. 2007) H. fungsi fisik. (Townsend. 1998 : 73) d.2006) c. 1998 : 192) b. Faktor Presipitasi 1) Kehilangan keterkaitan yang nyata atau yang dibayangkan. Isolasi social : menarik diri (Townsend. 2) Peristiwa besar dalam kehidupan. 1998 : 73) H. ( Stuart and Sundeen.

perkenalkan diri . yaitu tujuan umum. dan rencana tindakan tindakan keperawatan.hal nyata yang ada di lingkungan 2) Strategi pelaksanaan (Sp 1p) a) Mengidentifikasi penyebab perilaku ekerasan 11 . Fokus Intervensi Perencanaan keperawatan terdiri dari tiga aspek. c. 2002) a. b. (Keliat 2006) J. orang lain dan lingkungan. b.isolasi social : menarik diri gangguan konsep diri : harga diri rendah I. tempat. Diagnosa Keperawatan a. orang lain dan lingkungan. Tujan umum berfokus pada penyelesaian permasalahan (P) dari diagnoses tertentu. Resiko mencederai diri sendiri. Risiko Perilaku Mencederai Diri (Keliat. Isolasi sosial : Menarik diri. 1.jelaskan tujuan – ciptakan lingkungan yang tenang .topik) b) Beri kesempatan mengungkapkan perasaan c) Empati d) Ajak membicarakan hal .buat kontrak yang jelas (waktu. Tujuan Umum: Klien tidak mencederai diri. tujuan khusus. Tujuan umum dapat dicapai jika serangkaian tujuan khusus telah tercapai. Perubahan persepsi sensori : Halusinasi dengar. Tujuan Khusus: 1) Membina hubungan saling percaya Tindakan: a) Salam terapeutik .

Perubahan persepsi sensori : Halusinasi. a.solat) c) Membimbing pasien memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian 6) Strategi pelaksanaan (Sp 5p) a) Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya b) Menjelaskan cara control perilaku kekerasan dengan meminum obat(prinsip lima benar minum obat) c) Membimbing pasien memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian 2. Tujuan Umum : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain sehingga tidak terjadi halusinasi b.b) Mengidentififikasi tanda dan gejala kekerasan c) Mengidentifikasi perilaku kekerasan yang dilakukan d) Mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan e) Mengajarkan cara mengontrol perilaku kekerasan f) Melatih pasien cara konttol perilaku kekerasan fisik 1 (nafas dalam) g) Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian 3) Strategi pelaksanaan (Sp 2p) a) Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya b) Melatih pasien cara control perilaku kekerasan fisik II (memukul bantal / kasur atau konversi energi) c) Membimbing pasien memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian 4) Startegi pelaksanaan (Sp 3p) a) Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya b) Melatih pasien cara control perilaku kekerasan secara verbal (meminta.berwudu. Tujuan khusus : 12 .dan mengungkapkan marah secara baik) c) Membimbing pasien memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian 5) Strategi pelaksanaan (Sp 4p) a) Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya b) Melatih pasien cara control perilaku kekerasan secara spiritual (berdoa.menolak.

Dorong untuk mengungkapkan perasaannya Tindakan: a) Identifikasi bersama tentang cara tindakan jika teriadi halusinasi b) Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien dan cara baru untuk mengontrol halusinasinya c) Bantu memilih dan melatih cara memutus halusinasi: bicara dengan orang lain bila muncul halusinasi. tempat. melakukan kegiatan. Klien dapat mengenal halusinasinya Tindakan : a) Kontak sering dan singkat b) Observasi tingkah laku yang terkait dengan halusinasi (verbal dan non verbal) c) Bantu mengenal halusinasinya dengan menanyakan apakah ada suara yang didengar .jelaskan tujuan – ciptakan lingkungan yang tenang .apa yang dikatakan oleh suara itu Katakan bahwa perawat percaya klien mendengar suara itu. 3).topik) b) Beri kesempatan mengungkapkan perasaan c) Empati d) Ajak membicarakan hal . tetapi perawat tidak mendengamya. mengatakan pada suara tersebut " saya tidak mau dengar!" d) Tanyakan hasil upaya yang telah dipilih / dilakukan e) Beri kesempatan melakukan cara yang telah dipilih dan beri pujian jika berhasil 4) Klien dapat dukungan dari keluarga Tindakan: 13 .perkenalkan diri . waktu.hal nyata yang ada di lingkungan 2).buat kontrak yang jelas (waktu. Katakan bahwa perawat akan membantu.1) Klien dapat Bina Hubungan Saling Percaya Intevensi: a) Salam terapeutik . frekuensi terjadinya halusinasi serta apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi. d) Diskusi tentang situasi yang menimbulkan halusinasi.

b. 14 . Kerusakan interaksi sosial : Menarik diri. nama. a.orang lain dan lingkungan Intervensi: a) Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri. b) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan menarik diri. g) Beri perhatian pada klien dan perhatian dasar klien. Klien dapat membina hubungan saling percaya Intervensi : a) Sapa klien dengan ramah baik vebal maupun non verbal. dosis.a) Beri pendidikan kesehatan pada pertemuan keluarga tentang gejala. obat. cara dan waktu) c) Anjurkan membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan d) Beri reinforcement positif bila klien mintun obat yang benar 3. informasi waktu follow up atau kapan perlu mendapat bantuan b) Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga 5) Klien dapat menggunakan obat dengan benar Tindakan: a) Diskusikan tentang dosis. cara memutus halusinasi. b) Perkenalkan diri dengan sopan c) Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan d) Jelaskan tujuan pertemuan e) Jujur dan menepati janji f) Tunjukkan sikap empati. cara merawat. pasien. menerima klien apa adanya. 2) Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri Kriteria Evaluasi: klien dapat menyebutkan menarik diri yang berasal dari diri sendiri. Tujuan Umum : Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal. efek dan efek samping minum obat b) Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama. Tujuan khusus : 1). frekuensi.

c) Diskusikan bersama klien tentang perlau menarik diri. 4) Klien melaksanakan hubungan secara bertahap. Kriteria Evaluasi: klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain. klien-perawat-keluarga/ kelompok masyarakat. a) Kaji pengetahuan klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain. f) Diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain g) Beri reinforcement positif tentang kemampuan mengungkapkan perasaan tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain. b) Mendorong dan membantu klien untuk berhubungan dengan orang lain melalui tahap: 1) Klien – perawat 2) Klien – perawat – perawat lain 15 . d) Beri pujian terhadap kemampuan klien dalam mengungkapkan perasaannya. c) Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubunga dengan orang lain d) Beri reinforcement positif tentang kemampuan mengungkapkan perasaan tentang manfaat berhubunga dengan orang lain. 3) Klien dapat menyebutkan manfaat berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain. Intervensi : a) Kaji pengetahuan klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain. Kriteria Evaluasi: klien dapat mendemotrasikan hubungan social secara bertahap antara klien – perawat. klien-perawat-perawat lain. tanda-tanda serta penyebab yang muncul. klien-perawat-perawat lainklien lain. e) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain. b) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang manfaat berhubungan dengan orang lain.

b) Mendiskusikan bersama klien tentang perasaanya manfaat berhubungan dengan orang lain.3) Klien – perawat – perawat lain – klien lain 4) Klien – perawat – keluarga / kelompok masyarakat c) Memberi reinforcement terhadap keberhasilan yang sudah dicapai. e) Mendiskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan bersama klien dalam mengisi waktu.menjelaskan cara merawat klien menarik diri dan berpartisipasi dalam perawatan klien menarik diri. 6) Klien dapat berdayakan sistem pendukung atau keluarga Kriteria Evaluasi : keluarga dapat menjelaskan perasaannya. d) Membantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan dengan orang lain. Intervensi : a) Bina hubungan saling percaya 1) Salam dan perkenalkan diri 2) Sampaikan tujuan 3) Eksplorasi perasaan keluarga b) Diskusikan dengan anggota keluarga yang lain tentang 1) Perilaku menarik diri 16 . 5) Klien dapat mengungkapkan perasaan setelah berhubungan dengan orang lain Kriteria Evaluasi : klien dapat mengungkapkan perasaan berhubungan dengan orang lain untuk diri sendiri. f) Memotivasi klien untuk mengikuti kegiatan harian g) Beri reinforcement positif tentang kemampuan mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain. Intervensi : a) Mendorong klien untuk mengungkapkan perasaanya setelah berhubungan dengan orang lain. c) Beri reinforcement positif tentang kemampuan mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain.

17 . d) Anjurkan kepada keluarga secara rutin dan bergantian untuk menjenguk klien minimal 1x seminggu.Memberi reinforcement atas hal-hal yang telah dicapai keluarga.2) Penyebab perilaku menarik diri 3) Akibat perilaku menarik diri jika perilaku menarik diri tidak di tanggapi c) Mendorong anggota keluarga untuk memberi dukungan kepada klien untuk berkomunikasi dengan orang lain.