Anda di halaman 1dari 11

REVIEW ARTIKEL

STRATEGI
PENGELOLAAN
WILAYAH
PESISIR DAN LAUTAN SECARA TERPADU
DAN BERKELANJUTAN
TUGAS I PERENCANAAN PESISIR

JURUSAN

Oleh :

PERENCANAAN
WILAYAH DAN
KOTA
FAKULTAK TEKNIK
SIPIL DAN
PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI
SEPULUH
NOPEMBER
2015

ANAK AGUNG ISTRI


WITARI
361310039

Judul Artikel :
LAUTAN

STRATEGI

SECARA

PENGELOLAAN

TERPADU

DAN

WILAYAH

BERKELANJUTAN

PESISIR
(Oleh

DAN

Dra.

Wahyuningsih Darajati, MSc. Direktur Kelautan dan Perikanan, Bappenas)

Penjelasan Materi Inti dalam artikel


Indonesia memiliki wilayah pesisir dan lautan dengan luas areal mencakup

5,8 juta km

kaya dengan beragam sumberdaya alamnya. Sumberdaya alam

baik yang dapat diperbaharui seperti sumberdaya perikanan (perikanan tangkap


dan budidaya), mangrove, dan terumbu karang, maupun sumber daya yan tidak
dapat diperbaharui seperti minyak, gas, dll. Wilayah pesisir Indonesia memiliki
berbagai fungsi, seperti : transportasi dan pelabuhan, kawasan industri,
agribisnis dan agroindustri, jasa lingkungan, rekreasi dan pariwisata, serta
kawasan permukiman dan tempat pembuangan limbah.
Pemanfaatan sumberdaya pesisir dan lautan oleh bangsa Indonesia telah
dilakukan sejak berabad-abad lamanya. Dalam kaitannya dengan sumberdaya
pesisir dan lautan, pemerintah dan bangsa Indonesia di era reformasi mulai
sadar untuk menjadikan pembangunan berbasis kelautan menjadi pijakan yang
kuat dan strategis. Ini tercermin dalam GBHN 1999 yang menyatakan bahwa
pembangunan

perekonomian

yang

berorientasi

global

sesuai

kemajuan

teknologi dengan membangun keunggulan komperatif sebagai negara kelautan


dan agraris sesuai kompetensi dan produk unggulan daerah dan berbasis
sumberdaya alam (SDA) dan sumberdaya manusia (SDM). Arti strategis ini
dilandasi empat hipotesa pokok, yaitu :
1) Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia memiliki sebanyak
17.508 pulau (pulau besar dan kecil) dengan kekayaan lautan yang besar
dan beragam, maka sudah seharusnya arus utama pembangunan berbasis
pesisir

dan

lautan

akan

memberikan

manfaat

bagi

kemajuan

dan

kesejahteraan bangsa secara keseluruhan.


2) Semakin meningkatnya kegiatan pembangunan dan jumlah penduduk, serta
semakin menipisnya sumberdaya alam daratan, maka sumberdaya pesisir
dan

lautan

akan

menjadi

tumpuan

harapan

bagi

kesinambungan

pembangunan ekonomi nasional di masa mendatang.


3) Dalam menuju era industrialisasi, wilayah pesisir dan lautan merupakan
prioritas utama untuk pusat pengembangan industri, pariwisata, agribisnis,
agroindustri pemukiman, transportasi dan pelabuhan. Kondisi demikian bagi
kota-kota yang terletak di wilayah industri terus dikembangkan menuju tata

ekonomi baru dan industrialisasi. Tidak mengherankan bila sekitar 65%


penduduk Indonesia bermukim di sekitar wilayah pesisir.
4) Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah (UU No. 22 Tahun 1999 dan UU
No. 25 Tahun 1999), tentang pemerintah daerah dan tentang perimbangan
keuangan antara Pusat dan Daerah, maka dengan propinsi dengan otonomi
terbatas dan kabupaten, mempunyai peluang besar untuk memanfaatkan,
mengelola dan melindungi wilayah pesisir dan laut sebesar-besarnya untuk
kemakmuran rakyat dalam batas kewenangan wilayah laut propinsi 12 mil
laut diukur dari garis pantai, dan kewenangan kabupaten sejauh sepertiga
dari kewenangan propinsi. Pengelolaan wilayah pesisir dan laut oleh daerah
tidak terlepas dari misi dan visi secara nasional dan komitmen bangsa dalam
melindungi

wilayah

pesisir

dan

laut,

pendekatan

pemanfaatan

dan

konservasi perlu dilakukan dengan kehati-hatian agar tidak mengurangi


peluang generasi yang akan datang juga menikmati kehidupan yang lebih
baik dari sekarang.
Sumberdaya pesisir dan lautan memiliki arti penting bagi pembangunan
nasional, baik dari aspek ekonomi, aspek ekologis, aspek pertahanan dan
keamanan, serta aspek pendidikan dan pelatihan. Ekosistem pesisir dan lautan
yang meliputi sekitar 2/3 dari total wilayah teritorial Indonesia dengan
kandungan kekayaan alam yang sangat besar, kegiatan ekonominya baru
mampu

menyumbangkan

20,06%

dari

total

Produk

Domestik

Bruto

(Kusumastanto, 1998 dalam Rohmin 2001). Ini menunjukan bahwa kontribusi


kegiatan ekonomi berbasis kelautan masih kecil dibanding dengan potensi dan
peranan sumberdaya pesisir dan lautan yang sedemikian besarnya, pencapaian
hasil pembangunan berbasis kelautan masih jauh dari optimal.
Persoalan pemanfaatan sumber daya pesisir dan lautan tidak optimal dan
berkelanjutan disebabkan oleh faktor-faktor kompleks yaitu faktor internal dan
eksternal. Faktor internal adalah faktor-faktor yang berkaitan dengan kondisi
internal sumberdaya masyarakat pesisir dan nelayan, seperti rendahnya tingkat
pemanfaatan sumberdaya, teknologi dan manajemen usaha, pola usaha
tradisional dan subsisten, keterbatasan kemampuan modal usaha, kemiskinan
dan Keterbelakangan masyarakat pesisir dan nelayan.
Sedangkan Faktor eksternal, seperti kebijakan pembangunan pesisir dan
lautan yang lebih berorientasi pada produktivitas untuk menunjang pertumbuhan
ekonomi, bersifat sektoral,parsial dan kurang memihak nelayan tradisional,
belum kondisinya kebijakan ekonomi makro (political economy), suku bunga
yang masih tinggi serta belum adanya program kredit lunak yang diperuntukan

bagi sektor kelautan, kerusakan ekosistem pesisir dan laut karena pencemaran
dari wilayah darat, praktek penangkapan ikan dengan bahan kimia, eksploitasi
dan perusakan terumbu karang, serta penggunaan peralatatan tangkap yang
tidak ramah lingkungan, sistem hukum dan kelembagaan yang belum memadai
disertai implementasinya yang lemah, dan birokrasi yang beretoskerja rendah
serta sarat KKN, perilaku pengusaha yang hanya memburu keuntungan dengan
mempertahankan sistem pemasaran yang mengutungkan pedagang perantara
dan pengusaha, rendahnya kesadaran akan arti penting dan nilai strategis
pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir dan lautan secara terpadu bagi
kemajuan dan kemakmuran bangsa.
Banyak faktor

yang menyebabkan tidak optimal dan berkelanjutan

pengelolaan wilayah pesisir dan lautan. Namun, salah satu penyebab utama
adalah perencanaan dan pelaksanaan pembangunan sumberdaya pesisir dan
lautan bersifat sektoral dan terpilah-pilah. Padahal karakteristik dan alamiah
ekosistem pesisir dan lautan yang secara ekologis saling terkait satu sama lain
termasuk dengan ekosistem lahan atas, serta beraneka sumberdaya alam dan
jasa-jasa lingkungan sebagai potensi pembangunan yang pada umumnya
terdapat dalam suatu hamparan ekosistem pesisir, mensyaratkan bahwa
pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir dan lautan secara optimal dan
berkelanjutan hanya dapat diwujudkan melalui pendekatan terpadu dan holostik.
Ditinjau dari sudut pandang pembangunan berkelanjutan dan status
bangsa

Indonesia

Wilayah

Pesisir

sebagai
dan

negara

Lautan

berkembang,

secara

Terpadu

Pengelolaan

Sumberdaya

sesungguhnya

berada

dipersimpangan jalan (at the cross road). Disatu sisi mengahadapi wilayah
pesisir yang padat penduduk dengan derap pembangunan yang intensif dengan
pola yang tidak berkelanjutan (unsustainable development pattern), di sisi lain,
masih banyak kawasan pesisir dan lautan Indonesia yang tingkat pemanfaatan
sumberdaya alamnya belum optimal, kondisi ini umumnya dijumpai di Kawasan
Timur Indonesia (KTI) dan daerah luar jawa lainnya yang belum tersentuh
aktivitas pembangunan.
Berdasarkan pada kondisi tersebut, perlu ada kebijakan dan strategi
pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan lautan yang dapat
menyeimbangkan pemanfaatan antar wilayah dan tidak mengulangi kesalahan
(kerusakan lingkungan dan in-efesiensi). Bedasarkan karakteristik dan dinamika
dari kawasan pesisir, potensi dan permasalahannya, maka kebijakan pemerintah
untuk membangun kawasan pesisir dan laut secara optimal dan berkelanjutan

hanya dilakukan melalui Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu
(PWPLT).
Pendekatan PWPLT memiliki keunggulan atau manfaat lebih dibanding
dengan pendekatan pengelolaan secara sektoral, yaitu :
a) PWPLT memberikan kesempatan (opportunity) kepada masyarakat pesisir
atau para pengguna sumberdaya pesisir dan lautan (stakeholder) untuk
membangun sumberdaya pesisir dan lautan secara berkelanjutan, melalui
pendekatan secara terpadu konflik pemanfaatan ruang (property rigth) yang
sering terjadi di kawasan pesisir dapat di atasi.
b) PWPLT melibatkan masyarakat pesisir untuk memberikan aspirasi berupa
masukan terhadap perencanaan pengelolaan kawasan pesisir dan laut baik
sekarang maupun masa depan. Dengan pendekatan ini stakeholder kunci
(masyarakat pesisir) dapat memanfaakan, menjaga sumberdaya pesisir dan
c)

lautan secara berkelanjutan.


PWPLT menyediakan kerangka (framework) yang dapat merespons segenap
fluktuasi maupun ketidak-menentuan (uncertainties) yang merupakan ciri

khas pesisir dan lautan.


d) PWPLT membantu pemerintah daerah maupun pusat dengan suatu proses
yang dapat menumbuhkembangkan pembangunan ekonomi lokal berbasis
sumberdaya lokal.
e) Meskipun PWPLT memerlukan pengumpulan data dan analisis data serta
perencanaan yang lebih panjang daripada pendekatan sektoral, tetapi secara
keseluruhan akhirnya PWPLT lebih murah ketimbang pendekatan sektoral.
PWPLT pada dasarnya ditujukan untuk mendapatkan pemanfaatan
sumber daya dan jasa-jasa lingkungan yang terdapat diwilayah ini secara
berkelanjutan dan optimal bagi kemakmuran rakyat. Oleh karena itu, rumusan
PWPLT disusun berdasarkan pada potensi, peluang, permasalahan, kendala dan
kondisi aktual yang ada, dengan memperimbangkan pengaruh lingkungan
strategis terhadap pembangunan nasional, otonomi daerah dan globalisasi.
Untuk mengimplementasikan PWPLT pada tataran praktis (kebijakan dan
program) maka ada lima strategi, yaitu :
(1) Penerapan Konsep Pembangunan Berkelanjutan dalam PWPLT ; Suatu
kawasan pembangunan yang berkelanjutan memiliki empat dimensi, yaitu :
ekologis,

sosial-ekonomi-budaya,

sosial-politik,

dan

hukum

serta

kelembagaan. Dimensi ekologis menggambarkan daya dukung suatu wilayah


pesisir dan lautan (supply capacity) dalam menopang setiap pembanguan
dan kehidupan manusia, sedangkan untuk dimensi ekonomis-sosial dari
pembangunan berkelanjutan mempresentasikan permintaan terhadap SDA

dan jasa-jasa lingkungan dimana manfaat dari pembangunan wilayah pesisir


seharusnya untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk lokal sekitar
program. Untuk Dimensi Sosial-politik, pembangunan berkelanjutan hanya
dapat dilaksanakan dalam sistem dan suasana politik demokratis dan
transparan. Penegakan dimensi Hukum dan kelembagaan, Sistem peraturan
dan perundang-undangan yang kuat akan mengendalikan setiap orang untuk
tidak merusak lingkungan pesisir dan lautan.
(2) Mengacu pada Prinsip-prinsip dasar dalam PWPLT ; terdapat 15 prinsip dasar
yang sebagian besar mengacu Clark (1992) yaitu :
1. Wilayah pesisir adalah suatu sistem sumberdaya (resource system) yang
unik, yang memerlukan pendekatan khusus dalam merencanakan dan
mengelola pembangunannya.
2. Air merupakan faktor kekuatan pemersatu utama dalam ekosistem
pesisir.
3. Tata ruang daratan dan lautan harus direncanakan dan dikelola secara
terpadu.
4. Daerah perbatasan laut dan darat hendaknnya dijadikan faktor utama
dalam setiap program pengelolaan wilayah pesisir.
5. Batas suatu wilayah pesisir harus ditetapkan berdasarkan pada isu dan
permasalahan yang hendak dikelola serta bersifat adaptif.
6. Fokus utama dari pegelolaan wilayah pesisir adalah

untuk

mengkonservasi sumberdaya milik bersama.


7. Pencegahan kerusakan akibat bencana alam dan konservasi sumberdaya
alam harus dikombinasikan dalam suatu program PWPLT.
8. Semua tingkatan di pemerintahan dalam suatu negara

harus

diikutsertakan dalam perencanaan dan pengelolaan wilayah pesisir.


9. Pendekatan pengelolaan yang disesuaikan dengan sifat dan dinamika
alam adalah tepat dalam pembangunan wilayah pesisir.
10.Evaluasi pemanfaatan ekonomi dan sosial dari ekosistem pesisir serta
partisipasi masyarakat lokal dalam program pengelolaan wilayah pesisir.
11.Konservasi untuk pemanfaatan yang berkelanjutan adalah tujuan dari
pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir.
12.Pengelolaan multiguna (multiple uses) sangat tepat digunakan untuk
semua sistem sumberdaya wilayah pesisir.
13.Pemanfaatan multiguna (multiple uses) merupakan kunci keberhasilan
dalam pembangunan wilayah pesisir secara berkelanjutan
14.Pengelolaan sumberdaya pesisir secara tradisional harus dihargai.
15.Analisis dampak lingkungan sangat penting bagi pengelolaan wilayah
pesisir secara terpadu.
(3) Proses Perencanaan PWPLT

terdiri

dari

tiga

langkah

perencanaan, implementasi, dan pemantauan dan evaluasi.

utama,

yaitu

(4) Elemen dan Struktur PWPLT; Pada intinya, piranti pengelolaan terdiri dari
piranti

kelembagaan

dan

alat

pengelolaan.

Piranti

kelembagaan

menyediakan semacam kerangka (frame work) bagi pelaksanaan tugastugas pengelolaan dan penerapan segenap alat pengelolaan.
Keberhasilan PWPLT memerlukan empat persyaratan utama,

yaitu

kepemimpinan pionir (initial leadership), piranti kelembagaan, kemapuan


teknis (technical capacity), dan alat pengelolaan.
(5) Penerapan PWPLT dalam Perencanaan Pembangunan Daerah ; Untuk
mengatasi konflik perencanaan pengelolaan pesisir, maka perlu diubah dari
perencanaan sektoral ke perencanaan terpadu yang melibatkan pemerintah

daerah, swasta dan masyarakat terkait di pesisir.


Analisa dan Ide Pengembangan
Strategi pengembangan pesisir terpadu secara garis besar bertujuan agar
menjadikan kawasan pesisir yang direncanakan secara terpadu bukan lagi
sektoral sehingga perencanaan tidak tumpang tindih antara satu sektor
dengan sektor lainnya. Hal terpenting dalam merencanakan kawasan pesisir
yang terpadu adalah dengan melibatkan semua stakeholder dari semua
sektor yang bersangkutan termasuk masyarakat pesisir. Pelibatan semua
stakeholter tersebut guna dapat membuat konsep perencanaan yang tepat
dan juga menyatukan semua persepsi stakeholder tersebut, sehingga semua
kepentingan dari masing-masing sektoral yang akan direncanakan dapat
tercapai.
Konsep pengembangan
masyarakat

dari

pesisir

pemrumusan

terpadu
konsep,

melibatkatkan

perencanaan,

peran

serta

pengelola,

serta

melakukan monitoring terhadap kegiatan di kawasan tersebut. Dengan


melibatkan masyarakt dari tahap paling awal perumusan konsep tersebut
merupakan hal yang penting karena masyarakat sekitar wilayah pesisir akan
lebih

mengetahui

bagaimana

kondisi

lingkungan

pesisir,

masyarakat

mengetahui apa yang dibutuhkan dalam pengembangan kawasan pesisir


tersebut.
Dalam pembuatan perencanaan masyarakat diberikan hak untuk ikut dalam
memberikan masukan terkait apa yang ingin dikembangkan di wilayah
pesisir tersebut, hal ini akan dapat mempermudah dalam pelaksanaan
konsep pesisir yang terpadu dan berkelanjutan tersebut. Karena masyarakat
ikut menyusun perencanaan tersebut maka dalam relevansi dari rencana
akan masyarakat akan melakukan program-program yang ditetapkan dalam
rencana

tersebut

karena

program-program

tersebut

kesepakantan atau hasil pemikiran dari masyarakat tersebut.

merupakan

Dengan memberdayakan masyarakat selain dapat menjaga ekosisitem


pesisir juga dapat memberikan penghasilan atau membuka lapangan
pekerjaan

bagi masyarakat sekitar.

Hal

ini juga dapat meningkatan

kesadaran masyarakat pesisir akan pentingnya menjaga ekosistem pesisir,


sehingga kerusakan ekosistem pesisir dapat ditekan.
Hal penting laiinya dalam mewujudkan kawasan pesisir yang terpadu adalah
konsistensi dari semua stakeholder. Baik dari pihak masyarakat, pemerintah,
maupun swasta yang terlibat. Dengan konsistensi yang dimiliki maka
kawasan pesisir terpadu dapat berkembang lebih baik lagi dan akan banyak
muncul koncep-konsep pengembangan yang tidak merugikan salah satu
pihak.

Kemungkinan penerapan di Indonesia atau konteks yang lebih mikro


Salah satustrategi untuk menerapkan Pembangunan Wilayah pesisir terpadu
adalah penerapan kawasan pesisir yang berkelanjutan. Suatu kawasan
pembangunan yang berkelanjutan memiliki empat dimensi, yaitu : ekologis,
sosial-ekonomi-budaya,

sosial-politik,

dan

hukum

serta

kelembagaan.

Dimensi ekologis menggambarkan daya dukung suatu wilayah pesisir dan


lautan

(supply

kehidupan

capacity)

manusia,

dalam

sedangkan

menopang
untuk

setiap

dimensi

pembanguan

dan

ekonomis-sosial

dari

pembangunan berkelanjutan mempresentasikan permintaan terhadap SDA


dan jasa-jasa lingkungan dimana manfaat dari pembangunan wilayah pesisir
seharusnya untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk lokal sekitar
program. Untuk Dimensi Sosial-politik, pembangunan berkelanjutan hanya
dapat dilaksanakan dalam sistem dan suasana politik demokratis dan
transparan. Penegakan dimensi Hukum dan kelembagaan, Sistem peraturan
dan perundang-undangan yang kuat akan mengendalikan setiap orang untuk
tidak merusak lingkungan pesisir dan lautan.
Ekowisata

merupakan

salah

satu

pembangunan wilayah pesisir yang

pendekatan

untuk

mewujudkan

berkelanjutan. Beberapa daerah di

Indonesia telah memiliki ekowisata mangrove seperti Ekowisata Mangrove


Wonorejo Surabaya, Ekowista Mangrove Probolinggo, Ekowisata Mangrove
Bali yang terletak di wisata Taman Hutan Raya Ngurah Rai, Ekowisata
Mangrove Jakarta yaitu diwilayah Pulau Untung Jawa, dan Taman wisata Alam
Angke Kapuk, Ekowista Mangrove Bedul Banyuwangi, Ekowisata Mangrove di
Balikpapan dan ekowisata mangrove di wilayah lannya.

Menurut berita yag dikelurkan oleh Tempo.co pada tanggal 31 Mei 2012,
disebutkan bahwa wisata mangrove Banyuwangi merupakan percontohan
nasional dalam pengelolaan ekowisata mangrove berbasis masyarakat.
Banyuwangi dijadikan sebagai percontohan karena mampu mengelola
ekowisata yang melibatkan semua stake-holder mulai dari Pemerintah
Daerah, Taman Nasional Ala Purwo, Perhutani, dan masyarakat pinggiran
hutan. Ekowisata Bedul Banyuwangi dikelola oleh Badan Pengelola Ekowisata
Blok Bedul yang pengurusnya merupakan warga sekitar hutan mangrove.
Selain itu masyarakat juga diperdayakan untuk menjadi pemandu wisata,
penyewaan

perahu,

dan

lain-lain

yang

dapat

menjadikan

sumber

pendapatkan masyarakt.
Berdasarkan

data

diatas

beberapa

strategi

dalam

mewujudkan

pembangunan wilayah pesisir yang terpadu sudah dapat diterapkan pada


kawasan pesisir banyuwangi kususnya pada pesisir Desa Sumbersari,
Purwoharjo, Banyuwangi. Pengelolaan pesisir difokuskan pada ekosistem
mangrove. Dinyatakan bahwa sebelum kawasan hutan mangrove dijadikan
sebagai kawasan wisata banyak masyarakat yang melakukan penebangan
mangrove di kawasan tersebut. Namun setelah ditetapkan menjadi kawasan
wisata hutan mangrove pada Juli 2009, kesaran masyarakat untuk menjaga
keberadaan hutan mangrove semakin meningkat. Strategi yang digunakan
untuk menjadikan untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan pada
kawasan pesisir tersebut adalah dengan menggunakan strategi penerapan
pembangunan berkelanjutan dengan memperhatikan empat pilar yaitu,
ekologi, ekonomi, lingkungan, dan sosial, politik, dan kelembangaan. Ciri
yang paling menojol penerapan ekowisata Bedul sebagai Pembangangunan
Wilayah Pesisir Terpadu adalah metode pendekatan yang digunakan yaitu
dengan pelibatan masyarakt dalam pengelolaan ekowisata hutan mangrove
ini.
Upaya mewujudkan pembangunan wilayah pesisir yang berkelnajutan juga
dilakukan oleh Desa Blendung Kabupaten Pamalang. Desa Blendung terletak
dibagian timur luat Kabupaten Pamalang yang mempunyai garis pantai
sepanjang 1.275 m yang langsung menghadap ke laut Jawa. Embrio kegiatan
pariwisata telah berkembang di Desa Blendung kususnya pada kawasan
pantai Blendung.
Konsep pengembangan ekowisata di Desa Blendung adalah mengatasi
permasalah degradasi hutan mangrove yang sekaligus dapat meningkatkan

pendapatan masyarakat setmpat melalui pengembangan potensi-potensi


lokal sekaligus sebagai atraksi wisata. Pengembangan kegiatan ekowisata
Desa Blendungan mengintegrasikan empat komponenn internal desa, yaitu
konservasi hutan mangrove, keindahan panorama Pantai Blendunbg sebagai
embrio atraksi pariwisata, potensi kegiatan budidaya tambak dan melati,
serta partisipasi masyarakat desa sebagai SDM pelaksanaan kegiatan.
Faktor penting pada konsep ini adalah menjadikan mangrove tidak hanya
berfungsi

ekologis namun

juga memberikan manfaat ekonomi

untuk

masyarakat desa saat ini dan keberlanjutan dimasa mendatang. Dengan


pemahaman tersebut masyarakat termotivasi untuk berpartisipasi aktif
mendukung program rebuisasi dan konservasi mangrove.
Konsep pengembangan kegiatan ekowisata dapat diterapkan di Desa
Blendung dengan menjalin kerjasama atau kemitraan dengann pihak
pemerintah daerah, swasta, masyarakat, dan stake-holder terkait lannya.
Dalam hal ini masyarakat harus dilibatkan dari tahap perencanaan hingga
pelaksanaan monitoring.
Berikut

beberapa

tahapan

pengembangan

kawasan

ekowisata

Desa

Blendung:
1. Menjalin kemitraan dengan masyarakat setempat, pemerintah daerah
yang meliputi Dinas Pertanian, Dinas Perikanan, Dinas Perkebunan dan
Perhutanan, Dinas Pariwisata, pengusaha tambak, dan pihak lainnya.
Pada tahap ini juga dilakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang
pentingnya

mangrove

dan

manfaat

kegiatan

ekowisata

dengan

komunikasi 2 arah
2. Memberikan pemahaman kepada masyarakat tentan pentingnya reboisasi
mangrove
3. Membangun
meningkatkan

kemampuan

masyarakat

produktivitas

budidaya

dalam

mengembangkan

tambak

dan

melati

dan

sebagai

kegiatan ekonomi potensial.


4. Menerapkan teknologi produksi yang dapat meningkatkan produktivitas
kegiatan

tumpangsari

mangrove-tambak-melati

dan

mengarahkan

pengambangan tidak hanya sebagai unit produksi tetapi sekaligus


sebagai atraksi wisata
5. Merencanakan Desa Blendungan sebagai kawasan agropolitan, sebagai
bagian integral dari RTRW Kabupaten Pemalang
Untuk mewujudkan tujuan pengambangan melalui tahapan tersebut berikut
beberapa hasil yang telah dicapai adalah :

1. Terjalinnya kemitraan atara masyarakat Desa Blendungan dalam hal ini


petani, pemerintah daerah, dalam hal ini Bappeda Kab. Pemalang, dan
Dinas Pertanian Pemalang
2. Terwujudnya lima buah kebun percontohan budidaya melati yang berasal
dari penerapan teknologi kultur jaringan.
3. Petani mulai melakukan penanaman mangrove di sekitar kebun melati
dan tambak yang dimiliki
4. Bersama masyarakat, telah di rumuskan konsep pengembangan Desa
Blendung sebagai kawasan agropolitan, termasusk penyusunan zonasi
diluar tambak yang memungkinkan dilakukan reboisisasi mangrove skala
luas.
Hasil-hasil tersebut merupakan tahap awal sebelum kegiatan ekowisata
dapat

dilaksanakan.

Masih

dibutuhkan

proses

yang

panjang

untuk

mewujudkan Desa Blendung sebagai kawasan ekowisata. Tantangan untuk


mewujudkan pengembangan ekowisata adalah kosistensi semua pihak, dan
kreativitas

dalam

mengemas

kegiatan-kegiatan

ekonomi

masyarakat

kususnya pertambakan, perkebunana melati, srta ekosistem mangrove


sebagai atraksi wisata.

Rekomendasi
Dalam merencanakan kawasan pesisir yang terpadu harus stakeholder dari
semua sekor yang bersangkutan dengan harapakan perencanaan yang
dilakukan dapat menyangkup segala kepentingan sektor yang sesuai
diterapkan

pada

wilayah

pesisir

tersebut.

Selain

itu

pemberdayaan

masyarakat harus tetap dilakukan karena akan lebih baik dan lebih efisien
ketika masyarakat sendiri yang memanfaatkan dan menjaga lingkungan
pesisir.

Perlunya dilakukan monitoring untuk memastikan kegiatan yang

dilakukan didaerah pesisir tersebut sesuai dengan ketentuan yang telah


disepakati.

Dengan

pelibatan

stakeholder

yang

terkait,

pelibatan

masyarakat, dan melakukan monitoring serta konsisitensi dari semua


stakeholder maka akan lebih mudah dalam mewujudkan pengembangan
kawasan pesisir secara terpadu.