Anda di halaman 1dari 7

Oral Lichen Planus

Oral Lichen Planus


Oral lichen planus (OLP) adalah suatu kondisi inflamatori autoimun kronis yang
berdampak pada tepi mulut, biasanya tampak sebagai lesi berwarna putih. Oral lichen
planus paling sering timbul pada mukosa pipi, tapi juga dapat timbul pada gingiva, bibir,
dan bagian lain dari mulut. Oral lichen planus terkadang juga meliputi kerongkongan atau
esophagus.
Walaupun oral lichen planus biasanya muncul pada usia pertengahan, oral lichen planus
dapat muncul pada segala usia. Tahap awal terjadinya oral lichen planus dapat
berlangsung selama mingguan atau bulanan. Akan tetapi sayangnya, oral lichen planus
biasanya berupa kondisi kronis sehingga dapat bertahan selama beberapa tahun.

Etiologi
Penyebab pasti dari OLP tidak diketahui. Akan tetapi, kemungkinan berhubungan
dengan alergi atau reaksi imun.

Gejala Klinis
Lichen planus tampak mengkilat, benjolan dengan permukaan yang rata seringkali
dengan bentuk angular. Benjolan ini memiliki warna merah keunguan dengan dilapisi
lapisan mengkilat membentuk kerak yang kuat. Penyakit ini dapat muncul pada kulit
bagian mana saja, tetapi sering pada bagian dalam pergelangan tangan dan kaki, kaki
bagian bawah, punggung, dan leher. Pada beberapa individual dapat terjadi pada mulut,

regio genital, rambut, dan kuku. Lapisan yang tebal dapat muncul, terutama pada tulang
kering. Lepuhan jarang terjadi. Benjolan dapat muncul pada area trauma pada beberapa
individual. Sekitar dua puluh persen lichen planus pada kulit menimbulkan gejala
minimal dan tidak membutuhkan perawatan. Tetapi, pada banyak kasus terjadi gatal-gatal
yang konstan dan intens.
OLP tampak sebagai garis putih, papule putih, tanda-tanda putih, erythema, erosi,
maupun lepuhan yang tampak mendominasi mukosa bukal, lidah, dan gingiva, walaupun
juga muncul di tempat-tempat lain. OLP timbul pada 1-2 persen populasi umum orang
dewasa dan merupakan penyakit mukosa oral non-infeksius yang paling banyak terjadi
berdasarkan klinik patologi oral dan oral medicine. OLP timbul lebih banyak pada wanita
dibanding pada laki-laki.

Manajemen Perawatan OLP


Perawatan LP bergantung pada gejala, perluasan dari keterlibatan oral dan
ekstraoral secara klinis, riwayat medis, dan faktor lainnya. Pada kasus pasien dengan
reaksi likenoid, faktor presipitasinya harus dieliminasi.
Pasien dengan OLP retikular dan asimptomatik lainnya umumnya tidak
membutuhkan perawatan aktif. Luka mekanis atau iritan seperti tepi restorasi atau gigi
tiruan yang tidak nyaman harus diberi perhatian serius dan perlu dibuat program untuk
mengoptimalkan higienitas oral, terutama pada pasien LP gingival.
Pasien dengan lesi simptomatik juga membutuhkan perawatan, biasanya dengan obat,
terkadang dibutuhkan terapi bedah.

1. Perawatan Obat
Perawatan dengan agen topikal lebih diutamakan untuk mencegah efek samping.
Namun, agen sistemik mungkin dibutuhkan apabila lesi telah meluas, atau terjadi
penyakit yang bersifat recalcitrant. Obat untuk OLP umumnya bersifat
imunosupresif dan beberapa dikembangkan khusus untuk penyakit oral,
konsekuensinya, kurang adanya studi yang mencukupi mengenai penggunaannya.
Pasien harus diberi peringatan mengenai pentingnya mengikuti instruksi yang ada,
terutama pada instruksi obat yang terdapat tulisan, hanya untuk pemakaian luar
2. Kortikosteroid Topikal
Kortikosteroid topikal dengan potensial sedang seperti triamcinolone, steroid
poten yang terfluorinasi seperti fluocinolone acetonide dan fluocinonide, dan
steroid superpoten terhalogenasi seperti clobetasol, terbukti efektif pada
kebanyakan pasien. Eliksir seperti dexamethasone, triamcinolone dan clobetasol
dapat digunakan sebagai obat kumur untuk pasien dengan keterlibatan oral yang
difus/ menyebar atau pada kondisi dimana sulit untuk mengaplikasikan medikasi
pada bagian tertentu di dalam mulut. Tidak terdapat data yang definitif untuk
membuktikan steroid topikal dengan bahan adesif lebih efektif dibanding bentuk
preparasi lainnya, walaupun telah digunakan secara luas.
Pasien harus dinstruksikan untuk mengaplikasikan steroid (ointment, spray, obat
kumur atau bentuk lain) beberapa kali dalam sehari, untuk menjaga agar obat
tetap berkontak dengan mukosa selama beberapa menit, dan pasien harus
menunda makan atau minum selama satu jam setelahnya.
Mayoritas studi menunjukkan bahwa kortikosteroid topikal lebih aman apabila
diaplikasikan pada membran mukosa dalam interval waktu yang pendek, selama 6
bulan, namun terdapat potensi terjadinya supresi adrenal pada pemakaian dengan

jangka waktu lama, terutama pada penyakit yang sudah kronis, sehingga
membutuhkan follow up berkala dan penanganan yang lebih hati-hati. Supresi
adrenal lebih sering terjadi pada pemakaian steroid sebagai obat kumur. Beberapa
efek samping yang serius dapat muncul dari penggunaan kortikosteroid topikal,
namun pada pasien OLP yang mengalami candidiasis sekunder, beberapa klinisi
memberikan obat antifungal.

3. Agen Topikal Lainnya


Agen imunosupresan dan imunomodulator yang lebih poten seperti inhibitor
calcineurin (ciclosporin, tacrolimus atau pimecrolimus) atau retinoid (tretinoin)
dapat membantu. Ciclosporin dapat digunakan sebagai obat kumur namun mahal,
kurang efektif dibanding clobetasol topikal dalam menginduksi perbaikan klinis
OLP, walaupun dua jenis obat ini memiliki efek yang hampir sama dalam
mengatasi gejala.
Tacrolimus, 100 kali lebih poten dibanding ciclosporin, menunjukkan efektifitas
tanpa efek samping secara klinis pada beberapa studi klinis tanpa kelompok
kontrol, namun mengakselerasi karsinogenesis kulit pada kulit sehingga Food and
Drug Administration (FDA) membatasi penggunaannya. Saat ini, terdapat laporan
yang menunjukkan kanker oral pada OLP yang diobati dengan tacrolimus.
Retinoid topikal seperti tretinoin atau isotretinoin telah cukup banyak digunakan
pada pasien OLP, terutama bentuk atrofik-erosif, dengan perbaikan yang
memuaskan namun retinoid memiliki efek samping dan kurang efektif jika
dibanding kortikosteroid topikal.
4. Obat Sistemik
Beberapa kortikosteroid sistemik yang dianggap paling efektif untuk mengobati

OLP, pada penelitian terkini menunjukkan tidak adanya perbedaan respon yang
signifikan antara prednisone sistemik (1 mg/kg/hari) dengan clobetasol topikal
pada bahan adesif dibandingkan dengan clobetasol saja. Kortikosteroid sistemik
biasanya digunakan pada kasus dimana aplikasi topikal tidak berhasil, terdapat
OLP recalcitrant, erosif atau eritrematous, atau pada OLP yang menyebar hingga
kulit, genital, esofagus, dan kulit kepala. Prednisolone 40-80 mg tiap hari
biasanya cukup untuk mendapat respon perbaikan; toksisitas yang mungkin
timbul membuatnya hanya diresepkan apabila benar-benar dibutuhkan, pada dosis
terendah, dan untuk jangka waktu terpendek yang paling memungkinkan. Harus
diberikan pada jangka waktu yang mencukupi (5-7 hari) kemudian dihentikan,
atau dosisnya dapat dikurangi 5-10 mg/ hari secara gradual selama 2-4 minggu.
Efek samping dapat diminimalkan apabila pasien dapat menoleransi total dosis
yang sama pada hari lainnya.
5. Bedah
Reseksi direkomendasikan pada plak yang terisolasi ataupun erosi yang tidak
menyembuh, karena dengan prosedur ini dapat diambil spesimen jaringan untuk
konfirmasi diagnosis secara histopatologis, dan dapat menyembuhkan lesi yang
terlokalisir, namun hanya beberapa data yang mendukung hal tersebut. Graft
jaringan lunak dapat diberikan pada OLP erosif, dan OLP simptomatik akan
hilang secara menyeluruh dengan perawatan graft gingival setelah follow up 3.5
tahun. Namun, bedah periodontal juga dilaporkan dapat memicu OLP.
Cryosurgery telah digunakan secara khusus pada OLP erosif yang resisten
terhadap obat, tetapi lesi ini dapat berkembang pada bekas lesi yang telah sembuh
ataupun sembuh dalam bentuk jaringan parut.
Laser juga telah digunakan untuk merawat OLP; laser karbon dioksida digunakan

pada lesi multisentrik atau area yang sulit dijangkau, dan laser eksimer 308 nm
dengan dosis rendah terbukti cukup menjanjikan pada tiga kali percobaan, namun
perlu bukti lebih lanjut untuk membukti efektifitasnya pada OLP, sebagaimana
pada kasus terapi fotodinamik.
Kesimpulan
OLP merupakan penyakit pada mukosa rongga mulut yang sering terjadi dengan
faktor penyebab yang belum diketahui secara pasti. OLP merupakan salah satu penyakit
yang sering terjadi pada penderita diabetes melitus sehingga perlu dilakukan pemeriksaan
kadar gula darah pada pasien ini. Untuk diperoleh perawatan OLP dengan latar belakang
diabetes

melitus

yang

komprehensif

membutuhkan

kooperatif

pasien

dalam

mengendalikan stres, mengikuti instruksi pengobatan, kontrol terhadap kadar glukosa


darah dan pemilihan obat yang tepat. Penggunaan obat kortikosteroid sistemik pada
pasien OLP dengan diabetes melitus harus hati- hati. Pilihan utama pada kasus ini adalah
kortikosteroid topikal. Penggunaan obat non steroid imunomodulator lain dapat
dipertimbangkan sesuai dengan kondisi pasien.