Anda di halaman 1dari 16
REFRAT JIWA GANGGUAN KESADARAN Disusun Oleh : Inneke Rachmawaty Syam 2011-11-071 FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIV. PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA) JAKARTA 2013 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Neurologi adalah ilmu kedokteran yang mempelajari kelainan, gangguan fungsi, penyakit, dan kondisi lain pada sistim saraf manusia. Oleh sebab itu dipelajari pula hal-hal yang secara alami dianggap fungsi sistim saraf normal. Misalnya: kepandaian berbahasa, gangguan belajar, pikun dan lain-lainnya. Dalam rangka menegakkan diagnosis penyakit saraf diperlukan pemeriksaan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan mental dan laboratorium (penunjang). Pemeriksaan neurologis meliputi: fungsi cerebral, fungsi nervus cranialis, fungsi sensorik, fungsi motorik dan reflek. Selama beberapa dasawarsa ini ilmu serta teknologi kedokteran maju dan berkembang dengan pesat. Banyak alat dan fasilitas yang tersedia, dan memberikan bantuan yang sangat penting dalam mendiagnosis penyakit serta menilai perkembangan atau perjalanan penyakit. Saat ini kita dengan mudah dapat mendiagnosis perdarahan di otak, atau keganasan di otak melalui pemeriksaan pencitraan. Kita juga dengan mudah dapat menentukan polineuropati dan perkembangannya melalui pemeriksaan kelistrikan. Di samping kemajuan yang pesat ini, pemeriksaan fisik dan mental di sisi ranjang (bedside) masih tetap memainkan peranan yang penting. Kita bahkan dapat meningkatkan kemampuan pemeriksaan di sisi ranjang dengan bantuan alat teknologi yang canggih. Kita dapat mempertajam kemampuan pemeriksaan fisik dan mental dengan bantuan alat-alat canggih yang kita miliki. Sampai saat ini kita masih tetap dan harus memupuk kemampuan kita untuk melihat, mendengar, dan merasa, serta mengobservasi keadaan pasien. Dengan pemeriksaan anamnesis, fisik dan mental yang cermat, kita dapat menentukan diagnosis, dan pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan. 1.1 TUJUAN PENULISAN Dalam penulisan makalah ini terdapat 2 (dua) tujuan utama penulisan yaitu; 1.1.1 Tujuan Umum untuk memberikan informasi mengenai cara pemeriksaan tingkat kesadaran dan status mental pada pasien penderita gangguan kejiwaan. 1.1.2 Tujuan Khusus Secara khusus bagi : · Mahasiswa keperawatan bertujuan untuk memberikan pengetahuan dasar mengenai pemeriksaan tingkat kesadaran dan status mental. · Institusi keperawatan bertujuan untuk mendambah literatur atau referensi mengenai pemeriksaan tingkat kesadaran dan status mental. 1.3 MANFAAT PENULISAN penulisan ini diharapkan memberikan manfaat bagi dunia kesehatan pada umumnya terlebih mengenai pemeriksaan tingkat kesadaran dan status mental bagi pasien yang menderita gangguan kejiwaan. BAB II PEMBAHASAN 2.1 TINGKAT KESADARAN Kesadaran mempunyai arti yang luas,kesadaran dapat didefinisikan sebagai keadaan yang mencerminkan pengintegrasian impuls eferen dan aferen. Keseluruhan dari impuls aferen dapat disebut input susunan saraf pusat dan keseluruhan dari impuls eferen dapat disebut output susunan saraf pusat. Kesadaran yang sehat dan adekuat dikenal sebagai kewaspadaan, yaitu aksi dan reaksi terhadap apa yang diserap (dilihat, didengar, dihidu, dikecap. Dan sterusnya ) bersifat sesuai dan tepat. Keadaan ketika aksi sama sekali tidak dibalas dengan reaksi dikenal sebagai koma. Kesadaran yang terganggu dapat menonjolkan kedua seginya, yaitu unsure tingkat dan unsure kualitasnya.Suatu ilustrasi perbedaan tingkat dan kualitas kesadaran ketika seorang klien yang sakit tidak dapat mengenal lagi orang-orang yang biasanya bergaul akrab dengan dia. Orang awam menamakan keadaan itu “ tidak sadar” atau pikiran kacau. Apa yang dimaksud dengan istilah itu adalah kualitas kesaradarannya terganggu. Dalam hal ini, klien tidak menunjukkan gangguan tingkat kesaradan, oleh karena apabila perawat memberi stimuli klien akan memberikan respons dengan perubahan ekspresi nyeri atau klien akan menarik bagian yang diberikan stimuli untuk menghindarinya. Kualitas kesadaran yang menurun tidak senantiasa menurunkan juga tingkat kesadaran. Tetapi tingkat kesadaran yang menurun senantiasa menggangu kualitas kesadaran. Oleh karena itu fungsi mental yang ditandai oleh berbagai macam kualitas kesadaran sangat ditentukan oleh tingkat kesadaran. Pengertian kualitas dan tingkat kesadaran dapat diartikan bahwa jumlah (kuantitas) input susunan saraf pusat menentukan tingkat kesadaran. Cara pengolahan input itu yang melahirkan pola-pola output susunan saraf pusat menentukan kualitas kesadaran. Input susunan saraf pusat dapat dibedakan menjadi input yang bersifat spesifik dan yang bersifat nonspesifik.Pengertian spesifik itu merujuk kepada perjalanan impuls aferen yang khas dan kesadaran yang dilahirkan oleh impuls aferen itu yang khas itu juga. Hal ini berlaku bagi semua lintasan yang menghubungkan suatu titik pada tubuh dengan suatu titik di daerah korteks perseptif primer. Oleh karena itu penghantaran impuls spesifik itu dikenal sebagai penghantaran impuls aferen dari titik ke titik. Setibanya impuls aferens spesifik ditingkat korteks terciptalah suatu kesadaran akan suatu modalitas perasaan, yaitu perasaan nyeri di kaki atau di wajah atau suatu penglihatan penciuman atau pendengaran tertentu. Pengertian input yang bersifat nonspesifik itu adalah sebagian dari impuls aferen spesifik yang disalurkan melalui lintasan aferen nonspesifik. Lintasan ini terdiri atas serangkaian neuron-neuron di substansia medulla spinalis dan batang otak yang menyalurkan impuls aferen ke thalamus yaitu ke inti intralaminaris.Impuls aferen spesifik sebagian disalurkan melalui kolateralnya ke rangkaian neuron-neuron substansia metikularis dan impuls aferen itu selanjutnya bersifat nonspesifik oleh karena cara penyalurannya ke thalamus berlangsung secara multisinaptik, unilateral, dan bilateral dan setibanya di nucleus intralaminaris akan membangkitkan inti tersebut untuk memancar impuls yang menggiatkan seluruh korteks secara divus dan bilateral. Lintasan aferen yang nonspesifik itu lebih dikenal sebagai diffuse ascending reticular system. Dengan adanya dua lintasan aferen itu, maka terbentuk penghantaran aferen yang pada prinsipnya berbeda. Lintasan spesifik (jaras spino-talamik, lemniskus medialis, jaras genikolo-kalkarina dsb) menghantarkan impuls dari satu alat reseptor ke satu titik pada korteks perseptif primer. Sebaliknya, lintasan aferen nonspesifik menghantarkan setiap impuls dari titik manapun dari tubuh ke titik-titik dibagian seluruh korteks serebri. Neuron-neuron diseluruh korteks serebri yang dibangkitkan oleh impuls aferen nonspesifik disebut Neuron Pengemban Kewaspadaan, oleh karena bergantung pada jumlah neuron-neuron tersebut yang aktif, maka derajat kesadaran bisa tinggi atau rendah. Aktivasi neuron-neuron tersebut dilakukan oleh neuron-neuron yang menyusun inti talamik yang disebut Nukleus Intralaminaris. Apabila terjadi gangguan sehingga kesadaran menurun sampai tingkat yang terendah, maka koma yang dihadapi dapat terjadi karena neuron pengemban kewaspadaan sama sekali tidak berfungsi disebut Koma Kortikal Bihemisferik atau oleh karena neuron pembangkit kewaspadaan tidak berdaya untuk mengaktifkan neuron pengemban kewaspadaan disebut Koma Diensefalik yang dapat bersifat Supratentorial atau Infratentorial. Kualitas kesadaran klien merupakan parameter yang paling mendasar dan penting yang membutuhkan pengkajian. Tingkat keterjagaan klien dan respons terhadap lingkungan adalah indicator paling sensitive untuk disfungsi system persarafan. Beberapa system digunakan untuk membuat peringkat perubahan dalam kewaspadaan dan keterjagaan. Istilah-istilah seperti letargi, stupor, dan semikomatosa adalah istilah yang umum digunakan dalam berbagai area. 2.1.1 PENGUJIAN TINGKAT KESADARAN a. Secara kualitatif 1. ComposMentis (conscious), yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya. 2. Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh. 3. Delirium, yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak, berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang berhayal. 4. Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal. 5. Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri. 6. Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap cahaya). b. Secara Kuantitatif dengan GCS ( Glasgow Coma Scale ) 1. Menilai respon membuka mata (E) (4) : spontan (3) : dengan rangsang suara (suruh pasien membuka mata). (2) : dengan rangsang nyeri (berikan rangsangan nyeri, misalnya menekan kuku jari) (1) : tidak ada respon 2. Menilai respon Verbal/respon Bicara (V) (5) : orientasi baik (4) : bingung, berbicara mengacau ( sering bertanya berulang-ulang ) disorientasi tempat dan waktu. (3) : kata-kata saja (berbicara tidak jelas, tapi kata-kata masih jelas, namun tidak dalam satu kalimat. Misalnya “aduh…, bapak…”) (2) : suara tanpa arti (mengerang) (1) : tidak ada respon 3. Menilai respon motorik (M) (6) : mengikuti perintah (5) : melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan stimulus saat diberi rangsang nyeri) (4) : withdraws (menghindar / menarik extremitas atau tubuh menjauhi stimulus saat diberi rangsang nyeri) (3) : flexi abnormal (tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas dada & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri). (2) : extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh, dengan jari mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri). (1) : tidak ada respon Hasil pemeriksaan tingkat kesadaran berdasarkan GCS disajikan dalam simbol E… V…M… Selanutnya nilai-nilai dijumlahkan. Nilai GCS yang tertinggi adalah 15 yaitu E4V5M6 dan terendah adalah 3 yaitu E1V1M1 Setelah dilakukan scoring maka dapat diambil kesimpulan : (Compos Mentis(GCS: 15-14) / Apatis (GCS: 13-12) / Somnolen(11-10) / Delirium (GCS: 9-7)/ Sporo coma (GCS: 6-4) / Coma (GCS: 3)). 2.1.2 PENYEBAB PENURUNAN TINGKAT KESADARAN Penurunan tingkat kesadaran mengindikasikan difisit fungsi otak. Tingkat kesadaran dapat menurun ketika otak mengalami kekurangan oksigen (hipoksia), kekurangan aliran darah (seperti pada keadaan syok), penyakit metabolic seperti diabetes mellitus (koma ketoasidosis), pada keadaan hipo atau hipernatremia, dehidrasi, asidosis, alkalosis, pengaruh obat-obatan, alkohol, keracunan, hipertermia, hipotermia, peningkatan tekanan intrakranial (karena perdarahan, stroke, tomor otak), infeksi (encephalitis) & epilepsi. 2.2 STATUS MENTAL Status mental merupakan keadaan kejiwaan yang dimiliki seseorang. Secara ringkas prosedur pengkajian status mental klien dapat dilakukan meliputi: 1. Observasi penampilan klien dan tingkah lakunya dengan melihat cara berpakaian klien, kerapihan, dan kebersihan diri. 2. Observasi postur, sikap, gerakan-gerakan tubuh, ekspresi wajah dan aktifitas motorik semua ini sering memberikan informasi penting tentang klien. 3. Penilaian gaya bicara klien dan tingkat kesadaran juga diobservasi. 4. Apakah gaya bicara klien jelas atau masuk akal ? 5. Apakah klien sadar dan berespons atau mengantuk dan stupor ? Untuk melihat lebih jauh penilaian status mental bagi perawat terdapat pada table PENILAIAN Perhatian Daya ingat Perasaan (efektif) Bahasa Pikiran Persepsi RESPONS Rentang perhatian ke depan dan ke belakang - Jangka pendek: mengingat kembali tiga item setelah 5 menit - Jangka panjang : mengingat nama depan ibunya, mengingat kembali menu makana sebelumnya. - Amati suasana hati yang tercermin pada tubuh, ekspresi tubuh - Deskripsi verbal efektif - Verbal kongruen, indicator tubuh tentang suasana hati. - Isi dan kualitas ucapan spontan - Menyebutkan benda-benda yang umum, bagian-bagian dari suatu benda - Pengulangan kalimat - Kemampuan untuk membaca dan menjelaskan pesan-pesan singkat pada surat kab - Kemampuan menulis secara spontan, di-dikte. - Informasi dasar (misalnya presiden terbaru, 3 presiden terdahulu) - Pengetahuan tentang kejadian-kejadian baru. - Orientasi terhadap orang tempat dan waktu. - Menghitung : menambahkan dua angka, mengurangi 100 dengan 7. - Menyalin gambar : persegi, tanda silang, kubus, tiga dimensi. - Menggambar bentuk jam membuat peta ruangan. - Menunjuk ke sisi kanan dan kiri tubuh. - Memperagakan : mengenakan jaket, meniup peluit, menggunakan sikat gigi. 2.2.1 Pemeriksaan status mental Pemeriksaan status mental terdiri dari hal-hal berikut ini : · Bicara · Orientasi · Pengetahuan kejadian mutakhir · Pertimbangan · Abstraksi · Kosakata · Respon emosional · Daya ingat · Berhitung · Pengenalan benda · Praktis (integrasi aktivitas motorik) 2.2.2 Pemeriksaan kemampuan berbicara Jika pasien bangun dan waspada, anda sudah dapat mengamati cara berbicaranya. Pasien sekarang diminta untuk mengulangi ungkapan singkat. Apakah ada disatria disfoni,disfasia, atau afasia? Disatria adalah kesukaran artikulasi. Biasanya disatria disebabkan oleh lesi pada lidah dan palatum. Disfoni adalah kesulitan dalam fonasi. Akibatnya perubahan volume dan nada suara. Lesi palatum dan pita suara seringkali menjadi penyebabnya. Disfasia adalah kesukaran memahami atau berbicara sebagai akibat gangguan fungis serebral. Pasien yang kehilangan kemampuan berbicaranya sama sekali menderita afasia. Berbagai daerah di otak menyebabkan afasia yang berbeda-beda. Afasia tidak lancar, motorik, ekspresif ada jika pasien mengetahui apa yang ingin dikatakannya, tetapi menderita gangguan motorik dan tidak dapat mengucapkannya dengan tepat. Ia memahami tulisan dan perintah verbal tetapi tidak dapat mengulanginya. Suatu lesi di lobus frontal sering menjadi penyebabnya. Afasia sensorik, reseptif, lancar, ada jika pasien mengucapkan kata-kata secara spontan tetapi memakai kata-kata secara tidak tepat. Pasien mengalami kesukaran dalam memahami perintah tertulis dan verbal serta tidak dapat mengulanginya. Keadaan sering disebabkan oleh lesi temporoparietal. 2.2.3 Pengenalan status mental secara formal Selama wawancara, pemeriksa telah memperoleh banyak informasi mengenai status mental pasien. Pewawancara mungkin sudah dapat menilai daya ingat jangka panjang pasien, afek dan pertimbangannya. Pemeriksaan status mental secara formal, sebagai bagian pemeriksaan neurologik, diperkenalkan oleh pemeriksa. 2.2.4 Pemeriksaan Orientasi Orientasi pasien terhadap orang, tempat dan waktu harus ditentukan. Orientasi menunjukkan kesadaran orang bersangkutan dalam hubungannya dengan orang lain, tempat dan waktu. Disorientasi terjadi dalam kaitannya dengan gangguan daya ingat dan rentang perhatian. 2.2.5 Pemeriksaan pengetahuan mengenai kejadian mutakhir Pemeriksaan pengetahuaan mengenai kejadian mutakhir dapat diperiksa dengan menanyakan kepada pasien, nama empat presiden terakhir amerika serikat. Menanyakan kepada pasien nama walikota atau gubernur. Kemampuan menyebutkan peristiwa mutakhir memerlukan orientasi yang utuh, daya ingat mutakhir yang utuh, dan kemampuan berpikir secara abstrak. 2.2.6 Pemeriksaan daya pertimbangan Pemeriksaan daya pertimbangan dilakukan dengan meminta pasien untuk menafsirkan suatu masalah sederhana. 2.2.7 Penilaian daya abstraksi Abstraksi adalah suatu fungsi luhur serebral yang memerlukan pemahaman dan pertimbangan. Peribahasa lazim dipakai untuk menguji penalaran abstraksi. Pasien dengan kelainan penalaran abstrak mungkin menafsirkan peribahasa dengan memakai tafsiran konkrit. Respon konkrit lazim dijumpai pada pasien dengan retardasi mental atau dengan kegagalan otak. Pasien skizofrenia sering menjawab dengan penafsiran konkrit, tetapi penilaian yang aneh juga lazim dijumpai. Cara lain untuk memeriksa penalaran abstrak adalah dengan menanyakan kepada pasien bagaimana sepasang benda serupa atau tidak serupa. 2.2.8 Pemeriksaan kosakata Kosakata seringkali sangat sulit untuk diperiksa. Kesulitan ini berdasarkan atas banyak faktor, yang mencakup pendidikan pasien, latar belakang, pekerjaan, lingkungan dan fungsi serebral. Tetapi kosakata merupakan parameter penting dalam menilai kemampuan intelektual. Pasien retardasi mental mempunyai kosakata yang terbatas, sedangkan pasien dengan kegagalan otak mental mempunyai kosakata yang terpelihara dengan baik. Pasien harus diminta untuk mendefinisikan kata-kata atau memakainya dalam kalimat. Kata apa saja dapat dipakai, tetapi harus dipakai dengan tingkat kesukaran yang makin bertambah. 2.2.9 Pemeriksaan respon emosional Meskipun respon emosional sudah diamati secara tidak formal, penting untuk ditanyakan secara spesifik apakah pasien memperhatikan adanya perubahan suasana hati secara tiba-tiba. Afek didefinisikan sebagai respon emosional terhadap suatu peristiwa. Responnya mungkin tepat, abnormal, atau mendatar. Respon yag tepat terhadap kematian orang yang dicintai mungkin menangis. Respon yang tidak tepat mungkin tertawa. Respon mendatar memperlihatkan sedikit respon emosional. Pasien dengan kerusakan serebral bilateral kehilangan kendali akan emosinya. 2.2.10 Pemeriksaan daya ingat Untuk memeriksa daya ingat, pasien harus diminta untuk mengingat kejadian yang baru saja terjadi dan dominan. Autotopagnosia adalah istilah yang dipakai untuk melukiskan ketidak mampuan untuk mengenali tubuh pasien sendiri, seperti tangan atau tungkainya. 2.2.11 Pemeriksaan integritas aktifitas motorik Praksis adalah kemampuan untuk melakukan suatu aktifitas motorik apraksia adalah ketidakmampuan pasien untuk melakukan suatu gerakan volunter tanpa adanya gangguan dalam kekuatan, sensasi, atau koordinasi motorik. Dispraksia adalah berkurangnya kemampuan untuk melakukan aktifitas. Pasien mendengar dan memahami perintah, tetapi ia tidak dapat mengintegrasikan aktifitas motorik yang akan melakukan gerakan itu. Mintalah kepada pasien untuk menuangkan air dari tempat air minum kedalam gelas minumannya. Gangguan ini sering disebabakan oleh lesi jauh di dalam lobus frontal.jenis apraksia lainnya disebut apraksia konstruksi pada penyakit ini, pasien tidak mampu menyusun atau menggambar desain sederhana. Pasien dengan apraksia konstruksi sering menderita lesi dipars posterior lobus pariental. 2.2.12 Pemeriksaan Olfaksi Pasien diminta untuk menutup matanya dan satu lubang hidung ketika pemeriksa mendekat zat penguji kelubang hidung lainnya.pasien diminta untuk menghirup zat penguji itu. Zat penguji itu harus mudah mengguap dan tidak mengiritasi,seperti cenggkeh,vanila bean,kopi yang baru digiling,atau lavender. 2.2.13 Pemeriksaan kemampuan berhitung. Kemampuan berhitung tergantung kepada integritas bemisfer serebral yang dominan dan juga intelegensia pasien. 2.2.14 Pemeriksaan kemampuan mengenal benda Pengenalan benda disebut genosia. Agnosia adalah kegagalan mengenali suatu rangsangan sensorik meskipun ada sensasi primer yang normal,contohnya:memperlihtakan benda yang sudah dikenal secara luas seperti uang logam,pena,kacamata dll. Dan mintalah kepadanya untuk mnyebutkan nama-nama benda itu. Jika pasien mempunyai daya visus normal dan tidak dapat mengenal benda itu dikatakan bahwa ia mangalami agnosia visual. Agnosia taktil adalah ketidakmampuan seorang pasien mengenal sebuah benda dengan palpasi tanpa ada gangguan sensorik. Semua terjadi pada lesi lubus pariental yang tidak. BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN Kualitas kesadaran yang menurun tidak senantiasa menurunkan juga tingkat kesadaran. Tetapi tingkat kesadaran yang menurun senantiasa menggangu kualitas kesadaran. Oleh karena itu fungsi mental yang ditandai oleh berbagai macam kualitas kesadaran sangat ditentukan oleh tingkat kesadaran. Status mental merupakan keadaan kejiwaan yang dimiliki seseorang. Pemeriksaan status mental seseorang harus dinilai dari berbagai aspek yang ditentukan, tidak bisa hanya melihat dari satu penilaian saja. 3.2 SARAN - bagi perawat dalam melakukan pemeriksaan harus menggunakan ketelitian - Serta dalam pemeriksaan status mental perawat harus menggunakan prosedur pengkajian yang telah biasa diterapkan kepada pasien yang mengalami gangguan mental.