Anda di halaman 1dari 6

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA ANAK

ASFIKSIA

A. Konsep Teori
1. Pengertian
Asfiksia atau mati lemas adalah suatu keadaan berupa berkurangnya kadar oksigen
(O2) dan berlebihnya kadar karbon dioksida (CO 2) secara bersamaan dalam darah dan
jaringan tubuh akibat gangguan pertukaran antara oksigen (udara) dalam alveoli paruparu dengan karbon dioksida dalam darah kapiler paru-paru. Kekurangan oksigen
disebut hipoksia dan kelebihan karbon dioksida disebut hiperkapnia.
Asfiksia adalah keadaan dimana fetus atau neonates mengalami kekurangan oksigen.
2. Etiologi
Penyebab terjadinya:
1) Penyebab alamiah, misalnya penyakit yang menyumbat saluran pernafasan seperti
laryngitis difteri, tumor laring, asma bronkiale, atau menimbulkan gangguan
pergerakan paru seperti fibrosis paru, pneumonia, COPD.
2) Trauma mekanik, yang menyebabkan asfiksia mekanik, misalnya trauma yang
mengakibatkan emboli, pneumotoraks bilateral, sumbatan atau halangan pada
saluran napas dan sebagainya. Emboli terbagi atas 2 macam, yaitu emboli lemak
dan emboli udara. Emboli lemak disebabkan oleh fraktur tulang panjang. Emboli
udara disebabkan oleh terbukanya vena jugularis akibat luka.
3) Keracunan bahan yang menimbulkan depresi pusat pernafasan, misalnya
barbiturate, narkotika.
Pada anak , menurut Wiknjosastro :
1) Keadaan ibu
2) Partus lama atau partus macet yaitu persalinan yang lebih dari 24 jam pada
primigravida atau 18 jam pada multigravida.
3) Demam selama persalinan
4) Infeksi berat (mmalaria, sifilis,TBC,HIV)
5) Kehamilan lewat 42 minggu
3. Klasifikasi asfiksia

1) Tidak asfiksia (nilai APGAR 7-10)


2) Asfiksia ringan (nilai APGAR 4-6)
3) Asfiksia berat (nilai APGAR 0-3 )
4. Patofisiologi
Ada 4 stadium gejala / tanda dari asfiksia, yaitu (1,5):
Fase dispneu / sianosis
Fase konvulsi
Fase apneu
Fase akhir / terminal / final
1) Pada fase dispneu / sianosis asfiksia berlangsung kira-kira 4 menit. Fase ini terjadi
akibat rendahnya kadar oksigen dan tingginya kadar karbon dioksida. Tingginya
kadar karbon dioksida akan merangsang medulla oblongata sehingga terjadi
perubahan pada pernapasan, nadi dan tekanan darah. Pernapasan terlihat cepat,
berat, dan sukar. Nadi teraba cepat. Tekanan darah terukur meningkat.
2) Fase konvulsi asfiksia terjadi kira-kira 2 menit. Awalnya berupa kejang klonik
lalu kejang tonik kemudian opistotonik. Kesadaran mulai hilang, pupil dilatasi,
denyut jantung lambat, dan tekanan darah turun.
3) Fase apneu asfiksia berlangsung kira-kira 1 menit. Fase ini dapat kita amati
berupa adanya depresi pusat pernapasan (napas lemah), kesadaran menurun
sampai hilang dan relaksasi spingter.
4) Fase akhir asfiksia ditandai oleh adanya paralisis pusat pernapasan lengkap.
Denyut jantung beberapa saat masih ada lalu napas terhenti kemudian mati.
5. Pathway
6. Manifestasi Klinis
1) Hipoksik-hipoksia
Dalam keadaan ini oksigen gagal untuk masuk ke dalam sirkulasi darah.
2) Anemik-hipoksia
Keadaan dimana darah yang tersedia tidak dapat membawa oksigen yang cukup
untuk metabolisme dalam jaringan.
3) Stagnan-hipoksia
Keadaan dimana oleh karena suatu sebab terjadi kegagalan sirkulasi.
4) Histotoksik-hipoksia
Suatu keadaan dimana oksigen yang terdapat dalam darah, oleh karena suatu hal,
oksigen tersebut tidak dapat dipergunakan oleh jaringan.
7. Diagnose

Asfiksia yang terjadi pada bayi biasanya merupakan kelanjutan dari anoksia/hipoksia
janin. Diagnosis dapat dibuat dalam persalinan dengan ditemukannya tanda-tanda
gawat janin. Tiga hal yang perlu mendapatkan perhatian (Prawiroharjo,2005):
1) Denyut jantung janin
Frekuensi normal adalah antara 120-160, tetapi jika frekuensi turun sampai
dibawah 100 per menit diluar his, dan lebih-lebih jika tidak teratur, hal ini
merupakan tanda bahaya.
2) Mekonium dalam air ketuban
Persentase kepala mungkin menunjukkan gangguan oksigenasi dan harus
menimbulkan kewaspadaan. Adanya mekonium dalam air ketuban pada persentasi
kepala dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri persalinan bila hal itu dapat
dilakukan dengan mudah.
3) Pemeriksaan darah janin
Adanya asidosis menyebabkan turunnya pH, apabila pH turun hingga dibawah 7,2
, hal itu dianggap sebagai tanda bahaya.
8. Penatalaksanaan
Prinsip resusitasi , menurut Prawirohardjo:
1) Menciptakan lingkungan yang nyaman bagi bayi dan mengusahakan tetap
bebasnya jalan nafas
2) Memberikan bantuan pernafsan secara aktif pada bayi
3) Memperbaiki asidosis yang terjadi
4) Menjaga agar peredaran darah tetap baik
Pada keadaan (APGAR 7-10) bayi tidak memerlukan tindakan istimewa,
penatalaksanaannya terdiri dari :
1) Memberikan lingkungan suhu yang baik pada bayi
2) Pembersihan jalan nafas bagian atas dari lendir dan sisa-sisa darah
3) Kalau perlu melakukan rangsangan pada bayi (Mansjoer,2005)
Tindakan untuk mengatasi asfiksia neonatorum disebut resusitasi bayi baru lahir yang
bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup bayi dan membatasi gejala sisa
yang mungkin muncul. Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan
yang dikenal dengan ABC resusitasi (Exva, 2009):
1) Memastikan saluran nafas terbuka :
a. Meletakkan bayi dalam posisi yang benar
b. Menghisap mulut kemudain hidung

2) Memulai pernafasan :
a. Lakukan rangsangan tktil dengan menepuk telapak kaki. Lakukan
penggosokkan punggung bayi secara cepat, mengusap atau mengelus tubuh,
tungkai dan kepala bayi.
b. Bila perlu lakukan ventilasi tekanan positif.
3) Mempertahankan sirkulasi darah:
Rangsang dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara kompresi dada atau bila
perlu menggunakan obat-obatan
Cara resusitasi dibagi dalam tindakan umum dan tindakan khusus (Exva,2009):
1. Tindakan umum
a. Pengawasan suhu
b. Pembersihan jalan nafas
c. Rangsang untuk menimbulkan pernafasan
2. Tindakan khusus
a. Asfiksia berat
Resusitasi aktif harus segera dilaksanakan , langkah utama memperbaiki
ventilasi paru dengan pemberian O2 dengan tekanan intermitten, cara terbaik
dengan intubasi endotrakeal lalu diberikan O2 tidak lebih dari 30 mmHg.
Asfiksia berat hampir selalu disertai asidosis, koreksi dengan bikarbonas 2-4
ml/kgBB, diberikan pula glukosa 15-20 % dengan dosis 2-4 ml/kgBB. Kedua
obat ini disuntikkan intravena perlahan melalui umbilicus. Reaksi obat ini
akan terlihat jelas jika ventilasi paru sedikit banyak telah berlangsung. Usaha
bernafas biasanya mulai timbul setelah tekanan positif diberikan 1-3 kali,
bila setelah 3 kali inflasi tidak didapatkan perbaikan pernafasan atau
frekuensi jantung, maka masase jantung eksternal dikerjakan dengan
frekuensi 80-100/menit. Tindakan ini diselingi ventilasi tekanan dalam
perbandingan 1:3 yaitu setiap kali satu ventilasi tekanan diikuti oleh 3 kali
kompresi dinding toraks, jika tindakan ini tidak berhasil bayi harus dinilai
kembali, mungkin hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan asam dan basa
yang belum dikoreksi. (Exva,2009)
b. Asfiksia sedang
Stimulasi agar timbul reflek pernafasan dapat dicoba, bila dalam waktu 30-60
detik tidak timbul pernafasan spontan, ventilasi aktif

segera dilakukan,

ventilasi sederhana dengan kateter O2 intranasal dengan aliran 1-2 liter/


menit, bayi diletakkan dalam posisi dorsofleksi kepala. Kemudian dilakukan
gerakan membuka dan menutup nares dan mulut disertai gerakan dagu keatas
dan kebawah dengan frekuensi 20x/menit, sambil diperhatikan gerakan
dinding toraks dan abdomen. Bila bayi memperlihatkan gerakan pernafasan
spontan usahakan mengikuti gerakan tersebut , ventilasi dihentikan jika hasil
tidak dicapai dalam 1-2 menit. Sehingga ventilasi paru dengan tekanan
positif secara tidak langsung segera dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan
mulut ke mulut atau dari ventilasi ke kantong masker. Pada ventilasi dari
mulut ke mulut, sebelumnya mulut penolong diisi dulu dengan O2, ventilasi
dilakukan dengan frekuensi 20-30 kali per menit dan perhatikan gerakan
nafas spontan yang mungkin timbul. Tindakan dikatakan berhasil jika setelah
dilakukan beberapa saat terjadi penurunan frekuensi jantung atau perburukan
tonus otot, intubasi enditrakheal harus segera dilakukan, bikarbonas nutrikus
dan glukosa dapat segera diberikan, apabila 3 menit setelah lahir tidak
memperlihatkan pernafasan teratur. (Exva,2009)
Pemantauan pasca resusitasi,yatu:
1) Lakukan kunjungan neonatal minimal sebelum bayi berumur 7 hari
2) Apakah pernah timbul kejang selama di rumah
3) Apakah pernah timbul gangguan napas: sesak napas, timbul retraksi
4) Apakah bayi minum ASI dengan baik (dapat menghisap dan menetek dengan
baik)
5) Apakah

dijumpai

tanda

atau

gejala

gangguan

pertumbuhan

dan

perkembangan pada kunjungan berikutnya.


9. Pencegahan
Pencegahan, eliminasi dan antisipasi terhadap faktor-faktor risiko asfiksia
neonatorum menjadi prioritas utama. Bila ibu memiliki factor risiko yang
memungkinkan bayi lahir dengan asfiksia, maka langkah- langkah antisipasi harus
dilakukan. Pemeriksaan antenatal dilakukan minimal 4 kali selama kehamilan seperti
anjuran WHO untuk mencari dan mengeliminasi faktor-faktor risiko. (Anonim, 2010)
a. Pencegahan secara Umum
Pencegahan terhadap asfiksia neonatorum adalah dengan menghilangkan atau
meminimalkan faktor risiko penyebab asfiksia. Derajat kesehatan wanita,

khususnya ibu hamil harus baik. Komplikasi saat kehamilan, persalinan dan
melahirkan harus dihindari. Upaya peningkatan derajat kesehatan ini tidak
mungkin dilakukan dengan satu intervensi saja karena penyebab rendahnya
derajat kesehatan wanita adalah akibat banyak faktor seperti kemiskinan,
pendidikan yang rendah, kepercayaan, adat istiadat dan lain sebagainya. Untuk itu
dibutuhkan kerjasama banyak pihak dan lintas sektoral yang saling terkait.
(Perinasia, 2006).
b. Pencegahan saat persalinan
Pengawasan bayi yang seksama sewaktu memimpin partus adalah penting, juga
kerja sama yang baik dengan Bagian Ilmu Kesehatan Anak.Yang harus
diperhatikan,yaitu:
1. Hindari forceps tinggi, versi dan ekstraksi pada panggul sempit, serta
pemberian pituitarin dalam dosis tinggi.
2. Bila ibu anemis, perbaiki keadaan ini dan bila ada perdarahan berikan
oksigen dan darah segar.
3. Jangan berikan obat bius pada waktu yang tidak tepat, dan jangan menunggu
lama pada kala II . (Perinasia, 2006)

Anda mungkin juga menyukai