Anda di halaman 1dari 8

ANATOMI KERANGKA DAN PENGUKURAN WALET (COLLOCALIA)

WALET (Collocalia)
Taksonomi
Kingdom Animal
Filum
Chordata
Sub Filum Vertebrata
Kelas
Aves
Familia
Apodidae
Genus
Collocalia
Spesies
Collocalia fuciphagus (walet putih)
Collocalia maxima (walet sarang
hitam)
Collocalia gigas (walet besar)
Collocalia brevirostris (walet gunung)
Collocalia vanikorensis (walet sarang
lumut)
Collocalia esculenta (walet sapi)
Collocalia linchi (walet gua)
Collocalia troglodytes (walet Filipina)
Status
Konserva Aman
si
Walet di Indonesia kebanyakan merujuk kepada burung berukuran
kecil yang memiliki nilai ekonomis utama dari sarang yang dihasilkannya.
Spesies walet umumnya dibedakan berdasarkan penampilan fisik (warna
bulu, ukuran tubuh) dan bahan yang digunakan dalam pembuatan
sarang. Perlu diketahui juga perbedaan antara walet dengan Sriti atau
kapinis, sebagai berikut
Keterangan

Walet

Kapinis

Famili

Apodidae

Hirunidae

Nama Inggris

Swift

Swallow

Kaki

Lemah, tidak dapat


bertengger
Melengkung

Kuat, dapat bertengger

Tidak terdapat celah

Sarang

Terdapat celah dan


tidak
Dari air liur

Panjang

9 45 cm

10 23 cm

Sayap
Ekor

Lurus

Dari tanah dan rumput

badan
Produksi
Telur
Warna
kerabang

2 butir/periode

3 6 butir/periode

Putih

Putih atau bercak cokelat


muda

Jenis Walet Di Indonesia


1. Walet Putih (Collocalia fuciphagus atau Aerodramus fuciphagus
atau edible-nest swiflet)

Bulu berwarna cokelat kehitaman dengan bulu bagian bawah


keabuan atau cokelat.

Sarang terbuat dari air liur berwarna putih


Panjang badan 12 cm
Bertelur 2 butir/periode berwarna putih
Habitat: celah-celah batu karang dan gua kapur
Penyebaran: Asia Tenggara, Filipina, Kalimantan, Sumatra, Jawa dan
Bali

2. Walet Besar (Collocalia gigas atau Hidrochous gigas atau giant


swiflet)

Bulu berwarna hitam dengan bagian bawah coklat tua


Sarang terbuat dari akar-akaran, lumut serat dengan karakteristik
semrawut dan kotor.

Panjang badan 16 cm
Bertelur 1 butir/periode berwarna putih
Habitat: perbukitan dan hutan-hutan pegunungan
Penyebaran: Semenanjung Malaya, Sumatera, Kalimantan, dan Jawa

3. Walet Sarang Hitam (Collocalia maxima atau Aerodramus


maximus atau black-nest swiflet)

Bulu berwarna cokelat kehitaman dengan bulu ekor cokelat kelabu


Sarang terbuat dari air yang tercampur dengan bulunya yang
berwarna hitam
Panjang badan 12 cm
Bertelur 1 butir/periode berwarna putih
Habitat: Pesisir pantai atau pegunungan berkapur
Penyebaran: Himalaya Timur, Filipina, Kalimantan, Sumatera dan
Jawa

4. Walet Gunung (Collocalia brevirostris atau Aerodramus


brevirostris atau Himalayan swiflet)

Bulu berwarna hitam dengan bulu ekor abu-abu kehitam-hitaman

Sarang terbuat dari rumput-rumputan dan sedikit air liur atau tidak
menggunakan air liu (tidak dapat dimakan)

Panjang badan 14 cm
Bertelur 2 butir/periode berwarna putih
Habitat: tebing atau puncak gunung
Penyebaran: Himalaya, China, Asia Tenggara, Filipina, Sumatera dan
Jawa Barat

5. Walet Sarang Lumut (Collocalia vanikorensis atau Aerodramus


vanikorensis atau moss-nest swiflet)

Bulu berwarna cokelat kehitam-hitaman dengan bulu ekor lebih


gelap
Sarang terbuat dari air liur yang tercampur lumut
Panjang badan 12 cm
Bertelur 2 butir/periode berwarna putih
Habitat: bagian gua yang lebih dalam
Penyebaran: Kalimantan, Sumatera, Jawa sampai daerah Pasifik
Barat Daya

6. Walet Sapi (Collocalia esculenta atau white-bellied swiflet)

Bulu berwarna hitam kebiru-biruan dengan bagian bawah berwarna


kelabu gelap, dan bagian perut agak putih.

Sarang terbuat dari campuran lumut dan rumput yang direkatkan


dengan air liur.

Panjang badan 10 cm
Bertelur 2 butir/periode berwarna putih
Habitat: Padang rumput berpohon terbuka atau hutan.
Penyebaran: Himalaya, Asia Tenggara, Papua Nugini, Australia, Jawa
dan
Bali.

7. Walet Gua (Collocalia linchi)

Bulu berwarna hitam kecoklatan dengan bagian atas berwarna hijau


berkilap (glossy), bagian dada hitam, perut sampai ke ekor
berwarna abu pucat. Ujung sayap bundar

Sarang terbuat dari campuran lumut dan rumput yang direkatkan


dengan air liur.

Panjang badan 9-11,5 cm (Chantler, 2010)


Bertelur 2 butir/periode berwarna putih
Habitat: Gua, Padang rumput terbuka dan hutan
Penyebaran: Jawa, Madura, Bawean, Kepulauan Kangean, Nusa
Penida, Bali, Lombok, sebagian Sumatra dan Kinabalu Malaysia

8. Walet Filipina (Collocalia troglodytes atau walet pygmy swiftlet)

Bulu berwarna hitam dengan bagian atas berwarna biru berkilap


(glossy), bagian dada hitam, perut sampai ke ekor berwarna abu
pucat. Ujung sayap bundar

Sarang terbuat dari campuran rumput yang direkatkan dengan air


liur.

Panjang badan dibawah 9 cm


Bertelur 2 butir/periode berwarna putih
Habitat: Hutan hujan tropis
Penyebaran: Endemik Filipina

Kami memilih membahas lebih lanjut mengenai walet gua


(Collocalia linchi atau Collocalia lynchi) karena memiliki nilai ekonomis
yang lebih tinggi dan banyak dibudidayakan. Walet gua memiliki empat
sub-spesies yang dapat teridentifikasi hingga kini yaitu:

C. l. dedii Somadikarta, 1986 - Bali dan Lombok


C. l. dodgei Richmond, 1905 (Bornean swiftlet) - Sabah
C. l. linchi Horsfield & F. Moore, 1854 - Madura, Bawean, Nusa
Penida dan Jawa
C. l. ripleyi Somadikarta, 1986 - Barisan Mountains, Sumatra
(del Hoyo, 1999)

Deskripsi walet gua


Burung walet gua memiliki warna tubuh
kecoklatan yang berkilap, dengan bagian atas
kilap hijau. Bagian dada berwarna hitam, perut
ekor berwarna abu pucat dengan speckles
pada bagian samping. Memiliki sayap
melengkung dengan ujung bundar, bagian
bawahnya berwarna hitam. Tidak terdapat
perbedaan ciri-ciri antara walet gua jantan
betina. Sangat mirip dengan walet sapi
(Collocalia
esculenta),
perbedaannya
tidak adanya bulu pada bagian belakang
walet gua.
Paruh pendek dan melengkung
termasuk jenis pemakan serangga. Dalam
sehari dapat memakan sampai 50-60
serangga di udara. Bobot badan hidup
gua berkisar antara 36-52 gram.

hitamberwarna
sampai
hitam

dan
adalah
kaki

gram
walet

Kaki termasuk jenis pamprodactyl, memiliki empat jari-jari di depan.


Jari pertama dan keempat dapat bergerak maju dan mundur sehingga

memungkinkan
walet
gua
dapat
bertengger pada permukaan gua atau
ranting menggunakan prinsip kait, namun
kurang
baik
digunakan
untuk
mencengkeram.

Topografi walet gua


Kami merasa perlu untuk mengingatkan bagian-bagian dari tubuh
walet agar dapat lebih memahami anatomi walet. Bagian-bagian dari
tubuh walet ditunjukkan pada diagram topografi di bawah ini.

Anatomi Kerangka dan Pengukuran walet gua


Skema di samping menunjukkan
pengukuran bagian tubuh walet gua,
dengan keterangan berikut:
PT: Panjang Tubuh 9-11,5 cm
PK: Panjang Kepala (cranium) 1,9-2,1
cm
PP: Panjang Paruh 0,6-0,8 cm
PE: Panjang Ekor 3-5 cm
PS: Panjang Sayap 9-13 cm
T: Tarsus, panjang kaki 2-3,5 cm
(Zuki, 2012)

Skema di samping ini


menunjukkan kerangka
walet gua. Keempat jari kaki

sudah diberi nomor.

Kerangka keseluruhan, tampak depan:

Kerangka keseluruhan, tampak belakang:

Kerangka keseluruhan, tampak samping:

Kepala (tengkorak) walet memiliki ukuran sebagai berikut:


Panjang 19 mm
Panjang cranium 13 mm
Lebar (cranium) 10 mm
Tinggi (cranium) 8 mm
Rasio tengkorak (panjang/panjang paruh) 3,17
Panjang paruh 6 mm
Tengkorak tampak samping
Tengkorak, tampak
bawah

Tengkorak tampak atas

Referensi
Chantler, Phil. 2010. Swifts: A Guide to the Swifts and Treeswifts of the
World. A&C Black
del Hoyo, J., Elliott, A., Sargatal, J. 1999. Handbook of the Birds of the
World, vol. 5: Barn-owls to Hummingbirds. Barcelona, Spain: Lynx
Edicions.
Hao, Looi Qi., Ideris, Aini., Zakaria, Md Zuki Bin Abu Bakar dan Omar,
Abdul Rahman Bin. 2015. Morphology Comparison of Swiftlet Species
from Natural and Man-Made Habitats in Malaysia. Sains Malaysiana
44(4): 497-502
Sigwart, J., Callaghan, E., Colla, A., Dyke, G., McCaffrey, S.L., Monaghan, N.
2004. Catalogue of Swifts, Tree-swifts, and Hummingbirds in the

National Museum of Ireland (Aves: Apodiformes). University College


Dublin, Department of Zoology, Belfield, Dublin 4, Ireland
Tietze, Dieter Thomas., Pckert, Martin dan Wink, Michael. 2015. Does
Evolution of Plumage Patterns and of Migratory Behaviour in Apodini
Swifts (Aves:Apodiformes) Follow Distributional Range Shifts?
http://dx.doi.org/10.7287/peerj.preprints.797v1 diakses Jumat, 11
Desember 2015
Zuki, A. B. Z., Abdul Ghani, M. M., Khadim, K. K., Intan-Shameha, A. R. dan
Kamaruddin, M. I. 2012. Anatomical Structures of the Limb of Whitenest Swiftlet (Aerodramus fuciphagus) and White-headed Munia
(Lonchura maja). Pertanika Journal Tropical Agricultural Science 35(3):
613-622