Anda di halaman 1dari 14

PENGAMATAN MORFOLOGI JARINGAN TUMBUHAN

A. Tujuan
Setelah melakukan praktikum ini, mahasiswa diharapkan dapat :
1. Menyebutkan macam jaringan penyusun tubuh tumbuhan.
2. Menjelaskan masing-masing jaringan penyusun tubuh tumbuhan.
3. Menentukan bentuk sel penyusun epidermis.
4. Menunjukkan sel penutup stomata.
5. Menunjukkan rambut daun (trikomata).
6. Menunjukkan letak parenkima pada organ tumbuhan.
7. Membedakan macam parenkima pada organ daun.
8. Mengamati letak jaringan penguat pada tumbuhan.
9. Membedakan kolenkima dan sklerenkima.
10. Menjelaskan susunan berkas pengangkut dalam organ tumbuhan.
11. Menentukan tipe berkas pengangkut kolateral.
B. Dasar Teori
Sel tumbuhan memperlihatkan variasinya yang sangat besar dalam
hal ukuraan dan strukturnya, perbedaan-perbedaan itu merefleksikan
fungsi yang beragam dari sel-sel tersebut dalam fisiologi tumbuhan yang
bersangkutan. Sekelompok sel yang mempunyai asal, struktur dan fungsi
yang sama membentuk jaringan. Ilmu yang mempelajari tentang struktur
jaringan disebut dengan histologi. Seringkali dijumpai adanya sekelompok
sel yang secara kesatuan (unit) tampak seperti jaringan, seperti sebenarnya
bukan jaringan melainkan koloni sel, misalnya pada ganggang Spirogyra
dan Volvox.
Beberapa jaringan menyusun organ dan organ-organ tersebut
membentuk satu kesatuan dalam system tubuh makhluk hidup. Jaringan
diklasifikasikan menurut dasar yang berbeda, dapat berdasar asal usul,
struktur atau fisiologi. Salah satu klasifikasi yang umum, berdasar aspek
morfologis adalah sebagai berikut.
1. Jaringan meristematik (muda)
2. Jaringan dewasa
A. Jaringan dewasa sederhana terdiri sebagian besar dari satu
macam tipe sel
1. Epidermis
2. Parenkima
3. Sklerenkima

4. Kolenkima
5. Gabus
B. Jaringan dewasa majemuk (kompleks) terdiri dari beberapa
macam tipe sel
1. Xylem
2. Floem
1. Jaringan Meristem
Berdasarkan

asalnya,

meristem

biasanya

dibedakan

antara

meristem primer dan meristem sekunder. Meristem primer berasal dari


pembelahan langssung sel-sel embrionik yang akan menyusun embrio
terus menerus, sedangkan meristem skunder berkembang dari jaringan
dewasa yang sudah mengalami diferensiasi, kemudian dapat melakukan
aktivitas meristematis lagi. Pada pertumbuhan sekunder, kambium dapat
membentuk floem sekunder, xylem sekunder, dan kadang-kadang
membentuk jejari empulur (parenkima sekunder). Kambium terdapat
pada semua tumbuhan dikotil.
Jaringan meristem tersusun oleh sel-sel yang masih embrional
yaitu sel-sel yang masih aktif membelah. Menurut posisi meristem pada
tumbuhan, meristem dibagi sebagai berikut :
a. Meristem apikal, yang terdapat pada pucuk sumbu batang dan
akar pokok serta cabangnya.
b. Meristem interkalar, yang terdapat di antara jaringan dewasa
seperti jaringan pada pangkal ruas rumput-rumputan.
c. Meristem lateral, yang letaknya parallel dengan lingkaran
organ tempat meristem tersebut ditemukan, contohnya:
cambium vascular dan felogen.
2. Jaringan Dewasa
Jaringan dewasa berdasarkan fungsi terdiri atas :
a.
b.
c.
d.

epidermis beserta derivatnya sebagai jaringan pelindung;


parenkima sebagai jaringan dasar atau pengisi;
kolenkima dan sklerenkima sebagai jaringan penguat;
Xylem dan floem sebagai jaringan pengangkut.

a. Epidermis, merupakan jaringan penyusun tubuh primer tumbuhan yang


paling luar. Sel-sel epidermis biasanya terdiri atas satu lapis sel dan
berfungsi untuk melindungi bagian dalam organ tumbuhan. Permukaan
luar epidermis biasanya mempunyai lapisan kutikula. Lapisan ini berguna
untuk menahan penguapan air, serta menambah kekuatan.
epidermis mempunyai beberapa fungsi yaitu untuk melindungi
kerusakan mekanis pada jaringan lunak yang berada di sebelah dalam
jaringan epidermis, mencegah penguapan air yang berlebihan dari jaringan
dalam, dapat sebagai tempat penyimpanan air pada beberapa tumbuhan
xerofit, beberapa sel epidermis dapat berkembang menjadi jaringan
sekretorik dan jaringan nectar, stomata pada batang dan daun, dan bulu
penyerap pada akar. Epidermis akar disebut juga rizodermis. Epidermis
pada ujung akar umumnya membentuk tonjolan yang berfungsi untuk
penyerapan air dan disebut rambut dan bulu akar.
Stoma (jamak:stomata) adalaah suatu celah pada epidermis yang di
batasi oleh dua sel penutup. Stomata terdapat diantara pada sel-sel
epidermis suatu tumbuhan. Pada dasarnya ada 2 macam bentuk sel
penutup yaitu bentuk seperti ginjal atau hatler. Sel yang berbatasan
langsung dengan penutup disebut sel tetangga, yang jumlahnya bervariasi
dan dapat digunakan untuk menentukan tipe stomata. Stomata dapaat
ditemukan pada seluruh tubuh tumbuhan yang berwarna hijau kecuali pada
akar. Fungsi stomata sebagai pengatur penguapan, pengatur masuknya gas
CO2 dari udara dan keluarnya gas O2 ke udara selama fotosintesis
berlangsung dan arah sebaliknya pada waktu respirasi berlangsung.
Trikoma (jamak:trikomata) juga merupakan salah satu derivate
epidermis yang Nampak menonjol dan mempunyai bentuk khusus.
Trikomata dapat berupa sebuah sel sederhana atau terdiri atas beberapa sel;
dapat berupa satu deret sel atau beberapa deret. Trikomata pada batang dan
daun umumnya untuk mengurangi penguapan atau menghasilkan zat-zat
tertentu. Trikomata pada akar disebut bulu akar. Berdasar pada ada
tidaknya fungsi sekresi, trikomata dapat dibedakan menjadi trikoma

grandular, jika salah satu mempunyai fungsi sekresi (berfungsi sebagai


kelenjar yang menghasilkan sesuatu) dan trikoma non-grandular (rambut
penutup), jika tidak ada sel penyusunnya yang berfungsi untuk sekresi.
Selain stomata dan trikomata dikenal derivate epidermis lainnya
yang disebut sel kipas dapa epidermis daun suku Gramineae (rumputrumputan) yang berfungsi untuk menggulung daun sehingga menguragi
penguapan. Sel silica dan sel gabus diduga sebagai sebagai penguat,
misalnya terdapat pada epidermis batang tebu.
b. Parenkima, parenkima merupakan bagian utama system jaringan dasar
dan terdapat pula pada berbagai organ sebagai jaringan yang
bersinambungan seperti pada korteks dan empulur batang, korteks akar,
jaringan dasar pada tangkai daun, mesofil daun, bagian buah yang
berdaging, serta juga terdapat pada floem dan xylem.
Parenkima terdiri dari sel hidup yang bermacam-macam bentuk
sesuai dengan fungsinya yang berbeda-beda pula. Parenkima umumnya
berupa jaringan yang selnya tidak banyak menunjukkan spesialisasi dan
dapat terlibat dalam berbagai fungsi fisiologi tumbuhan. Oleh karena
merupakan sel hidup, sel parenkima dapat membelah meskipun telah
dewasa sehingga dapat berfungsi sebagai jaringan yang meristematik.
Sebab itu, sel parenkima berperan penting dalam penyembuhan luka serta
regenerasi.
Banyak sel parenkima bersegi banyak dan garis tengahnya dalam
berbagai arah bidang hampir sama (isodiametris). Parenkima mempunyai
bentuk-bentuk lain antara lain: prismatis memanjang, bentuk tidak teratur,
bercabang-cabang berbentuk bintang (aktinenkim), dindingnya berlekuklekuk (parenkima lipatan). Dinding sel parenkima biasanya berdinding
tipis, bervakkuola besar dangan protoplas hidup. Dinding sel biasanya
mengalami penebalan primer yang tersusun atas selulose. Pada parenkima
kadang-kadang dijumpai ruang antar sel, bahkan pada organ tertentu ruang
antar selnya sangat luas. Isi sel parenkima tergantung pada aktivitas
selnya, selain dapat berisi kloroplas mungkin juga berisi Kristal, tannin,
minyak dan hasil sekresi lainnya, amilum dan aleuron. Pada beberapa

tempat tertentu sel parenkima mengandung kloroplas sehingga dapat


berasimilasi, parenkima yang demikian disebut klorenkima. Pada daun di
jumpai klorenkim yang selnya memanjang kea rah radial dan tersusun
rapat seperti pagar maka dinamai jaringan tiang (parenkima palisade). Di
samping itu ada parenkima yang membentuk ruang antar sel kecil-kecil
sehingga seperti sponsa dinamakan jaringan bunga karang.
c. Kolenkima dan sklerenkima
Jaringan khusus ysng bertugas memberikan pengokohan atau kekuatan
pada tubuh tumbuhan tingkat tinggi dinamakan mekanik atau penguat.
Jaringan penguat pada tumbuhan terdiri atas kolenkima yang umumnya
memberikan pengokohan kepada bagian tumbuhan yang masih muda dan
sklerenkima pada tumbuhan muda atau tua.
1) Jaringan kolenkima
Sel-sel kolenkima merupakan sel hidup, bentuknya memanjang, dan
pada umumnya memiliki dinding yang tidak merata penebalannya.
Ujung sel-selnya mungkin siku, serong atau meruncing. Dinding
kolenkima hanya memiliki dinding primer dan mengandung selulose,
hemiselulose, pectin, (manan), dan air dengan kadar air tinggi. Dinding
sel umumnya tidak mengandung zat kayu yang bersifat plastis, yaitu
berkembang dan menyesuaikan diri dengan pertumbuhan memanjng
organ dan dapat merenggang secara permanen bersama dengan
pertumbuhan organ tempatnya berada. Sel-sel kolenkima dapat
mengandung

kloroplas

sehingga

mampu

melakukan

proses

fotosintesis, dan dapat mengandung tannin.


Jaringan ini berfngsi sebagai penguat pada organ muda dan tua
(terutama pada tumbuhan lunak). Jaringan kolenkima umumnya
terdapat di daerah perifer, misalnya langsung berada di sebelah dalam
epidermis atau di daerah korteks yang dipisahkan dari epidermis oleh
beberapa lapis parenkima. Bila epidermis langsung berbatasan dengan
kolenkima, dinding selnya akan menebal seperti kolenkima itu. Ukuran
dan bentuk sel kolenkima beragam. Sel dapat berupa prisma atau bias
pula panjang seperti serat dengan ujung meruncing, namun antara
kedua bentuk tersebut terdapat bentuk peralihan.
2) Jaringan sklerenkima

Slerenkima merupakan jaringan yang terdiri dari sel dengan dinding


yang mengalami penebalan primer dan penebalan sekunder yang tebal
dan keras, dengan berlignin atau senyawa lain (selulosa) dan
menunjukkan sifat elastic (kenyal). Dinding sel umumnya mengalami
penebalan merata dan tebal. Pada sel-sel yang telah dewasa biasanya
tidak terdapat protoplasma.
Bentuk sel penyusun sklerenkima bermacam-macam karena asal dan
perkembangannya berbeda-beda, tetapi pada dasarnya dapat dibagi
atas dua kelompok yaitu serabut atau serat sklerenkima dan sklereid.
Serabut atau serat terdiri dari sel yang panjang sedangkan sklereid
adalah sel pendek, meskipun bentuk sebaliknya juga ditemukan.
Dengan demikian ukuran sel tidak cukup digunakan sebagai pembeda.
Sklereid dibentuk dari sel parenkim yang dindingnya mengalami
penebalan sekunder sedangkan serabut sklerenkima berkembang dari
sel meristem.
a. Serabut sklerenkima
Serabut sklerenkima terdapat di berbagai bagian tubuh
tumbuhan, dapat berupa sel tunggal di antara jaringan dasar, tetapi
umumnya begerombol membentuk pita, anyaman, atau anyaman
padat berbentuk silinder sejajar permukaan tubuh. Sel-sel serabut
sklerenkima memanjang dengan ujung meruncing. Ruang sel atau
lumennya sempit dan letaknya di tengah serabut. Noktah-noktah
biasanya kecil, berbentuk bulat atau seperti celah. Jika sel telah
dewasa dan tidak mengandung protoplas, noktah-noktah itu tidak
berfungsi lagi. Noktah mungkin banyak, tetapi umumnya sedikit.
Pada serabut yang dindingnya sangat tebal, mungkin noktah sudah
tidak nyata lagi.
b. Sklereid
Sklereid merupakan sel-sel batu, karena ada pula yang disebut
sclerotic cells atau sel-sel sklerotik.
(a) Disebut sel-sel batu (stone cells) yaitu apabila sklereid itu tidak
bercabang-cabang, tidak mempunyai bentuk yang ekstrim, bersifat
soliter, ataupun berkumpul merupakan suatu jaringan atau organ.

(b)

Disebut sel-sel sklerotik, yaitu apabila sel-selnya terjadi dalam


jaringan-jaringan yang lunak.

d. Xylem dan floem


a. Jaringan Xylem
Jaringan Xylem terdapat pada bagian kayu tanaman . fungsinya
menyalurkan air dari akar menuju bagian atas tanaman. Xilem terdiri atas
unsur-unsur sebagai berikut,
- Unsur trakeal terdiri dari trakea yang sel-selnya berbentuk tabung dan
trakeid yang sel-selnya lancip panjang, dinding selnya berlubang-lubang
- Serabut Xilem yang terdiri dari sel-sel panjang dan ujungnya meruncing
- Parenkim kayu yang berisi berbagai zat seperti cadangan makanan,
tannin dan Kristal

b. Jaringan Floem
Jaringan Floem terdapat bagian kulit kayu berfungsi menyalurkan zat
makanan hasil fotosintesis ke seluruh bagian tumbuhan. Floem terdiri atas
unsur-unsur sebagai berikut,
- Buluh tapis berbentuk tabung dengan bagian ujung berlubang-lubang
- Sel pengiring berbentuk silinder-silinder dan lebih besar daripada sel-sel
tapis serta plasmanya pekat
- Serabut floem, bentuknya panjang dengan ujung-ujung berhimpit dan
dindingnya tebal
- Parenkim floem, selnya hidup memiliki diding primer dengan lubang
kecil yang disebut noktah halaman. Parenkim floem berisi tepung,
dammar, atau Kristal.
C. Alat
1. Mikroskop 2 buah
D.
1.
2.
3.
4.

Bahan
Preparat awetan irisan melintang batang Zea mays (jagung)
Preparat awetan irisan melintang batang Cucurbita moschata (waluh)
Preparat awetan irisan melintang daun Nerium oleander (bunga mentega)
Preparat awetan irisan melintang daun Cymbopogon lily (bunga lili)

E. Langkah Kerja
1. Pengamatan pada preparat awetan irisan melintang batang Zea mays (jagung).
a. Diambil mikroskop.
b. Diambil preparat awetan irisan melintang batang Zea mays (jagung).
c. Diletakkan preparat tersebut pada meja preparat mikroskop.
d. Diamati preparat tersebut.

2.

e. Dibuat bagan dan skematis penampang preparat tersebut.


Pengamatan pada preparat awetan irisan melintang batang Cucurbita
moschata (waluh).
a. Diambil mikroskop.
b. Diambil preparat awetan irisan melintang batang Cucurbita moschata

3.

(waluh).
c. Diletakkan preparat tersebut pada meja preparat mikroskop.
d. Diamati preparat tersebut.
e. Dibuat bagan dan skematis penampang preparat tersebut.
Pengamatan pada preparat awetan irisan melintang daun Nerium oleander
(bunga mentega).
a. Diambil mikroskop.
b. Diambil preparat awetan irisan melintang daun Nerium oleander (bunga

4.

mentega).
c. Diletakkan preparat tersebut pada meja preparat mikroskop.
d. Diamati preparat tersebut.
e. Dibuat bagan dan skematis penampang preparat tersebut.
Pengamatan pada preparat awetan irisan melintang daun Cymbopogon lily
(bunga lili).
a. Diambil mikroskop.
b. Diambil preparat awetan irisan melintang daun Cymbopogon lily (bunga
lili)
c. Diletakkan preparat tersebut pada meja preparat mikroskop.
d. Diamati preparat tersebut.
e. Dibuat bagan dan skematis penampang preparat tersebut.

F. Hasil Pengamatan
Gambar

Keterangan

1.

G. Pembahasan

Dari hasil pengamatan beberapa preparat batang dan daun monokotil


maupun dikotil, didapat ciri-ciri dari masing-masing preparat sebagai berikut.
Pada preparat awetan irisan melintang batang Zea mays (batang monokotil)
secara bagan / diagram, jaringan yang dapat diamati adalah: jaringan
epidermis, jaringan kolenkim, jaringan berkas pengangkut (floem dan xilem),
dan jaringan parenkim. Secara biologis / sektor, bagian lain yang dapat
diamati adalah sarung sklerenkim, jaringan sklerenkim dan rongga udara.
Pada preparat awetan irisan melintang batang Cucurbita moschata (batang
dikotil) secara bagan / diagram jaringan yang dapat diamati adalah: jaringan
epidermis, jaringan berkas pengangkut (floem dan xilem), empulur,
kambium,jaringan kolenkim serta korteks. Secara biologis / sektor, bagian
lain yang dapat diamati adalah jaringan sklerenkim. Pada preparat awetan
irisan melintang daun Nerium oleander (daun dikotil) secara bagan / diagram
dan secara biologis / sektor, jaringan yang dapat diamati adalah: stomata,
jaringan berkas pengangkut (floem dan xilem), jaringan epidermis atas
(adaksial), jaringan epidermis bawah (abaksial), jaringan palisade, jaringan
bunga karang, dan jaringan kolenkim serta jaringan sklerenkim. Pada preparat
awetan irisan melintang daun Cymbopogon lily (daun monokotil) secara
bagan / diagram dan secara biologis / sektor, jaringan yang dapat diamati
adalah: stomata, jaringan berkas pengangkut (floem dan xilem), jaringan
mesofil, jaringan epidermis atas (adaksial), dan jaringan epidermis bawah
(abaksial), jaringan kolenkim dan jaringan sklerenkim.
Pada semua irisan melintang batang dan daun yang kami amati
terdapat jaringan epidermis yang berfungsi untuk melindungi jaringan di
bawahnya. Jaringan epidermis terdiri atas sel-sel yang tersusun rapat, tidak
mempunyai ruang antar sel. Pada preparat awetan irisan melintang batang
Cucurbita moschata, lapisan epidermis digantikan oleh lapisan gabus yang
dibentuk dari kambium gabus. Pada preparat awetan irisan melintang daun
Nerium oleander dan preparat awetan irisan awetan melintang daun
Cymbopogon lily terdapat stomata yang biasanya terdapat pada permukaan
bawah daunnya. Sel penutup pada preparat awetan irisan melintang daun
Nerium oleander dan preparat awetan irisan melintang daun Cymbopogon
lily terletak lebih tinggi dari jaringan epidermis bawah (abaksial).

Rambut daun (trikomata) banyak dibentuk dari sel epidermis.


Namun, pada semua preparat awetan irisan melintang daun yang kami amati,
tidak ditemukan adanya rambut daun.
Jaringan Parenkim merupakan jaringan yang memiliki bentuk sel
segienam dan memiliki diameter yang sama ke berbagai arah (isodiametris).
Jaringan parenkim memiliki dinding sel yang tipis dengan ruang interselular
yang cukup banyak. Letak parenkima pada organ tumbuhan yang kami amati
yaitu di antara epidermis atas dan epidermis bawah. Letak inti selnya
mendekati dasar sel (bersifat basalis).
Perbedaan macam-macam parenkima pada organ daun :
a. Pada bentuknya yaitu : aktinenkin, palisade, parenkim sponsa

b. Pada fungsinya yaitu : parenkim penimbun, klorenkim, airenkim


Jaringan penguat pada tumbuhan terdiri dari jaringan kolenkim dan
sklerenkim. Pada pengamatan preparat batang dan daun monokotil dan
dikotil ini, jaringan sklerenkim terletak di dekat berkas pembuluh angkut.
Jaringan sklerenkim ditutupi oleh sarung sklerenkim.Sedangkan jaringan
kolenkim terletak di bawah jaringan epidermis. Pada daun sel kolenkim dapat
mengandung kloroplas yang menyerupai sel-sel parenkim
Jaringan kolenkim tersusun atas sel-sel hidup yang bentuknya
memanjang dengan penebalan dinding sel yang tidak merata biasanya terjadi
di sudut-sudut sel dan bersifat plastis, artinya mampu membentang, tetapi
tidak dapat kembali seperti semula bila organnya tumbuh. Sklerenkim
merupakan sel mati yang tersusun atas dua kelompok sel, yaitu sklereid dan
serabut. Sklereid disebut juga sel batu yang terdiri atas sel-sel pendek,
sedangkan serabut sel-selnya panjang.
Susunan berkas pengangkut pada batang dikotil (Cucurbita
moschata) terlihat teratur dengan floem terletak di sebelah luar xilem. Antara
floem dan xilem dipisahkan oleh jaringan meristem yaitu kambium. Hal ini
berbeda dengan susunan berkas pengangkut pada batang monokotil (Zea
mays) yang tidak teratur. Di daerah tengah batang, berkas pembuluhnya
kurang rapat, semua berkas pembuluh memutar secara seragam. Pada daerah
tepi (perifer), terdapat banyak berkas pembuluh daripada pada daerah tengah
batang. Hal ini disebabkan karena semua berkas untuk sebagian dari

pertumbuhannya berada di daerah tepi (perifer). Berkas pembuluh akan


membentuk sistem tulang daun. Pada daun monokotil (Cymbopogon lily),
memiliki pola sistem tulang daun sejajar, sedangkan pada daun dikotil
(Nerium oleander), memiliki pola sistem tulang daun jala (menjari dan
menyirip). Pada batang monokotil (Zea mays), tipe berkas pengangkutnya
adalah berkas kolateral tertutup yang artinya antara floem dan xilem tidak
terdapat kambium pembuluh, letak berkas biasanya tersebar. Pada batang
dikotil (Cucurbita moschata), tipe berkas pengangkutnya adalah berkas
bikolateral yaitu seperti kolateral, namun terdapat floem di sebelah dalam
xilem sehingga ada floem eksternal dan floem internal.
H. Kesimpulan
1. Macam jaringan penyusun tubuh tumbuhan, yaitu :
jaringan epidermis, jaringan sklerenkim, jaringan kolenkim,

jaringan

berkas pengangkut (floem dan xilem), dan jaringan parenkim.


2. Jaringan epidermis adalah jaringan penyusun tubuh primer tumbuhan yang
paling luar yang berfungsi untuk melindungi bagian dalam organ
tumbuhan.
Jaringan sklerenkim adalah jaringan yang terdiri dari sel dengan dinding
yang mengalami penebalan primer dan penebalan sekunder yang tebal
dank eras, dengan berlignin atau senyawa lain (selulosa) dan menunjukkan
sifat elastis.
Jaringan kolenkim adalah jaringan yang terdiri dari sel hidup dengan
bentuk memanjang dan pada umumnya memiliki dinding yang tidak
merata penebalannya, berfungsi sebagai penguat pada organ muda dan tua.
Jaringan pengangkut adalah jaringan yang berfungsi untuk mengangkut air
serta garam mineral maupun hasil fotosintesis.
-

Xilem : jaringan yang berfungsi mengangkut air tanah serta zat


yang terlarut didalamnya.

Floem : jaringan yang berfungsi mengangkut zat makanan hasil


fotosintesis.

Jaringan parenkim merupakan jaringan dasar yang selnya tidak banyak


menunjukkan spesialisasi, sel-selnya bisa membelah meskipun telah
dewasa sehingga dapat berfungsi sebagai jaringan meristematik.
3. Bentuk sel penyusun epidermis adalah selapis sel yang tersusun rapat dan
tidak ada ruang antar sel.
4. Sel penutup stomata letaknya bisa lebih tinggi atau lebih rendah daripada
jaringan epidermis.
5. Rambut daun (trikomata) banyak dibentuk dari sel epidermis.
6. Letak parenkima pada organ tumbuhan yaitu di antara epidermis atas dan
epidermis bawah.
7. Perbedaan macam-macam parenkima pada organ daun yaitu :
Pada bentuknya yaitu : aktinenkin, palisade, parenkim sponsa

Pada fungsinya yaitu : parenkim penimbun, klorenkim, airenkim


8. Jaringan penguat pada tumbuhan terdiri dari jaringan kolenkim dan
sklerenkim. Jaringan sklerenkim terletak di dekat berkas pembuluh angkut
dan jaringan kolenkim terletak di bawah jaringan epidermis.
9. Jaringan kolenkim tersusun atas sel-sel. Sklerenkim merupakan sel mati.
10. Susunan berkas pengangkut pada batang dikotil yaitu teratur dengan
susunan dari luar ke dalam adalah floem-kambium-xilem. Susunan berkas
pengangkut pada batang monokotil yaitu tidak teratur dan tersebar. Daun
monokotil memiliki pola sistem tulang daun sejajar, sedangkan daun
dikotil memiliki pola sistem tulang daun jala.
11. Batang monokotil (Zea mays) memiliki tipe berkas pengangkut
kolateral tertutup sedangkan batang dikotil (Cucurbita moschata)
memiliki tipe berkas pengangkut bikolateral.
I. Daftar Pustaka
Hidayat, Estiti B.1995.Anatomi Tumbuhan Berbiji.Bandung: Penerbit ITB
Sumardi, Issirep.1992.Struktur dan Perkembangan Tumbuhan.
Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada
J. Lampiran

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM


PENGAMATAN JARINGAN TUMBUHAN

OFFERING A
KELOMPOK 1
ANGGOTA :
1.
2.
3.
4.
5.

MADE IRMA RUSMAYANTI


TRIANA PERTIWI
APRILYATI SUSANTI
DAYU ARDHIYATMITA NUR R
FERDI SEPTIAN

(100331400778)
(100331400779)
(100331400787)
(100331404565)
(100331404580)

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
2010