Anda di halaman 1dari 9

MEMBANGUN KEDAULATAN NEGARA MELALUI KEDAULATAN PANGAN*

Fuad Hasan, MP
Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Trunojoyo Madura

Negara dengan alat perang yang canggih sekalipun tidak akan mampu
berperang kalau tanpa didukung oleh ketersediaan pangan, sedangkan Negara
yang tanpa senjatapun kalau punya cadangan pangan maka masih bisa untuk
berperang. dengan cadangan pangan yang cukup sudah bisa menjadi alat
pertahanan minimal suatu Negara.
Pangan menjadi sumber kehidupan bagi seluruh umat manusia. Makna pangan
sebagai sumber kehidupan sudah bergeser pada pangan sebagai salah satu
sumber peningkatan kualitas kehidupan melalui kecukupan gizi (karbohidrat,
protein, lemak, dan vitamin). Selain itu, pangan juga menjadi sumber
penghidupan atau pendapatan bagi pelaku usaha yang bergerak dalam sector
pangan, mulai dari hulu sampai hilir.
Sebagai sumber kehidupan, kuantitas dan kualitas pangan menjadi hal penting
tanpa harus menghiraukan sumber pangan dari produksi sendiri atau impor dan
pemerintah sudah memenuhi untuk rakyatnya. Meskipun belum semua
masyarakat bisa mengaksesnya karena beberapa alasan, yaitu: secara ekonomi
tidak mampu membeli karena kemiskinan, prilaku kebanyakan masyarakat yang
belum sadar dengan pangan yang seimbang untuk kecukupan gizi, dan distribusi
yang tidak merata.
Faktor penghambat utama tidak dapat diaksesnya pangan oleh masyarakat
adalah kemiskinan. Menurut BPS (2011), hampir 33 juta jiwa penduduk
Indonesia

saat

ini

mengalami

pemiskinan dan

rentan menjadi miskin

Penyelesaian masalah kemampuan ekonomi masyarakat untuk mengakses


pangan bisa didekati dengan penyediaan pangan murah atau peningkatan
pendapatan masayarakat. Pendekatan pertama sudah dilakukan pemerintah
untuk memenuhi salah satu sumber karbohidrat masyarakat, yaitu dengan
program

Raskin.

Prilaku

masyarakat

diubah

dengan

edukasi

untuk

Dimuat dalam Buku Pangan Rakyat: Soal Hidup atau Mati 60 Tahun Kemudian. Diterbitkan oleh
Departemen Agribisnis, FEM IPB Bekerjasama dengan PERHEPI, 2012. ISBN: 978-979-19423-6-2

mengkonsumsi pangan seimbang dengan penganekaragaman pangan guna


mengurangi pada ketergantungan beras sebagai sumber pangan utama dan
pemenuhan gizi. Paradigma empat sehat lima sempurna sudah tidak sesuai lagi.
Konsumsi pangan dengan kandungan gizi seimbang bisa mendukung terciptanya
sumber daya manusia yang berkualitas.
Distribusi pangan yang tidak merata menjadi salah satu penyebab adanya
daerah atau kawasan rawan pangan. Transportasi dan infrastruktur menjadi
alasan utama masalah distribusi. Apalagi sifat produk pertanian yang amba/bulky
dan perishable. Kasus tersendatnya penyebarangan selat sunda menjadi contoh
nyata buruknya infrastruktur dan transportasi. Buruknya layanan penyebrangan
tersebut menyebabkan banyaknya truk pengangkut bahan makanan mengantri
berhari-hari untuk bisa menyeberang baik dari maupun ke jakarta. Akibatnya
adalah keterlambatan pasokan atau bahkan tidak sampainya pasokan karena
komoditas pangan tersebut sudah tidak layak konsumsi lagi, terutama untuk
pangan yang dikonsumsi dalam bentuk segar seperti buah-buahan dan sayursayuran.
Pangan sebagai sumber penghidupan artinya bahwa pangan tersebut menjadi
sumber pendapatan bagi pelaku usaha mulai dari hulu sampai hilir. Pelaku yang
sangat membutuhkan perhatian adalah pada sub sistem on farm, para petani
membudidaya tanaman pangan. Sampai saat ini, sebagian besar petani hidup
miskin dan kebanyakan darinya adalah petani yang menggantungkan hidupnya
pada sub sector pangan dibandingkan dengan petani pada subsector
perkebunan.
Sikap pemerintah dalam usahanya memenuhi kebutuhan pangan menjadi
dilematis. Apa harus berpihak pada konsumen atau produsen/ petani. Pada satu
sisi harus menjamin ketersediaan pangan dalam negeri padahal produksi dalam
negeri belum bisa memenuhi sehingga kebijakan impor diambil sehingga jumlah
yang dibutuhkan konsumen tersedia dan biasanya dengan harga lebih murah.
tetapi pada sisi lain, kebijakan impor merugikan petani karena menurunkan harga
dalam negeri sehingga produsen atau petani dirugikan.
Meskipun kebijakan impor merupakan kebijakan yang sah tetapi secara moral
perlu dipertimbangkan. Seakan-akan impor pangan menjadi jalan pintas yang
dilakukan

pemerintah

dalam

memenuhi

kewajibannya

untuk

memenuhi

ketahanan pangan. Memang berdasarkan konsep ketahanan pangan yang


dirumuskan dalam PP No. 68 Tahun 2002, ketahanan pangan didefinisikan
sebagai kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari
tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah ataupun mutunya, aman, merata,
dan terjangkau. Dalam PP tersebut tidak diatur bagaimana pangan itu diproduksi
dan dari mana pangan tersebut berasal. Tidak adanya pengaturan mengenai dua
hal dimaksud, merupakan titik lemah dari konsep dan kebijakan ketahanan
pangan nasional.
Padahal kebijakan impor mempunyai beberapa dampak negatif. Pertama,
berkurangnya devisa negara. Apalagi Ketergantungan pangan Indonesia pada
produk luar negeri semakin meningkat. Terbukti, nilai impor pangan Indonesia
terus mengalami tren peningkatan tiap tahun.
Sebagaimana diberitakan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat selama
Januari-Juni 2011, nilai impor pangan mencapai US$5,36 miliar atau sekitar Rp
45 triliun.
Indonesia mengimpor untuk sejumlah komoditas pangan seperti, beras, jagung,
kedelai, biji gandum dan Meslin, tepung terigu, gula pasir, gula tebu, daging
sejenis lembu, mentega, minyak goreng, susu, telur unggas, kelapa, kelapa
sawit, lada, kopi, cengkeh, kakao,cabe kering, tembakau dengan total volume
11,33 juta ton.
Indonesia juga mengimpor bawang merah. Impor bawang merah terbesar dari
India dengan nilai US$3,575 juta untuk 8,87 ribu ton, kemudian Thailand dengan
nilai US$3,187 juta untuk 5,961 ribu ton, dan Filipina sebesar 2,996 ribu ton
dengan nilai US$1,4 juta.
Total, sepanjang Juni 2011, tercatat impor bawang merah sebanyak 18,918 ribu
ton dengan nilai US$8,76 juta. Sementara impor bawang merah selama
semester I tahun 2011 mencapai 141,795 ribu ton dengan nilai US$67,611 juta.
Nilai impor pangan semester I tahun 2011 lebih tinggi jika dibandingkan dengan
semester yang sama tahun 2010. BPS juga mencatat, nilai impor pangan pada
tahun lalu sebesar US$4,66 miliar atau setara dengan Rp39,91 triliun.

Kedua, Kedaulatan pangan adalah pondasi kedaulatan negara. Konsep


kedaulatan pangan lebih mengutamakan bagaimana pangan ditentukan oleh
komunitas secara mandiri, berdaulat dan berkelanjutan. Kedaulatan pangan
adalah hak setiap orang, kelompok-kelompok masyarakat dan setiap negara
untuk menentukan sendiri kebijakan pertanian, ketenagakerjaan, perikanan,
pangan dan tanah, yang berwawasan ekologis, sosial, ekonomi dan budaya yang
sesuai dengan kondisi khas dan kedaerahan mereka. Ini menyangkut hak yang
sebenar-benarnya terhadap pangan dan produksi pangan, sehingga orang
mempunyai hak atas pangan yang aman, cukup gizi dan cocok dengan kondisi
budaya setempat dan hak atas sumber-sumber daya untuk memproduksi pangan
serta

kemampuan

masyarakatnya.

untuk

Dengan

menjaga

keberlanjutan

ketergantungan

pangan

hidup
dari

luar

mereka

dan

negeri

bisa

mengancam kedaulatan pangan maka pada akhirnya bisa mengancam


kedaulatan negara. Negara tidak lagi bisa secara mandiri menentukan kebijakan
pangannya. Seharusnya Kebijakan pangan nasional harus steril dari berbagai
tekanan pihak asing sehingga sebagai bangsa yang berdaulat atas pangan,
Indonesia tak perlu menerima infus pemberdayaan dari kekuatan luar seperti IMF
atau Bank Dunia.
Ketiga, Ancaman kesejahteraan petani. Membanjirnya produk impor merusak
harga produk dalam negeri yang pada ujungnya pendapatan petani menjadi
turun. Kesejahteraan petani tidak boleh diabaikan oleh negara,

selain

merupakan hak petani sebagai warga negara untuk mendapatkan kehidupan


yang layak,

kesejahteraan petani juga bisa menjadi indikator kesejahteraan

karena sebagian besar penduduk Indonesia adalah petani.


Negara maju memberikan perhatian yang begitu besar terhadap petaninya
melalui berbagai proteksi, diantaranya berupa subsidi baik untuk input produksi
maupun insentif pajak sehingga petaninya mampu memproduksi hasil pertanian
dengan kuantitas melimpah, kualitas baik, dan harga murah. Akibatnya ketika
pemerintah mengimpor produk pertanian mereka, pasar untuk hasil pertanian
domestik tidak mampu bersaing baik dari sisi kualitas maupun harga. Apalagi
kalau produk pangan yang diimpor merupakan dumping. Prilaku konsumen yang
lebih suka produk impor juga memperparah pasar produk lokal meskipun
sebenarnya pangan impor segar seperti sayur dan buah mempunyai kandungan

gizi yang lebih sedikit dibanding produk lokal yang segar karena umur dan
perlakuan yang sudah dilakukan terhadap sayur dan buah tersebut.
Yang lebih memprihatinkan lagi adalah ketika konsumen lebih menyukai produk
pangan olahan impor yang sebenarnya berbahan baku dari hasil pertanian dalam
negeri yang diekspor. Kelemahan penguasaan teknologi pasca panen khususnya
pengolahan hasil pertanian menyebabkan ekspor produk pertanian dalam bentuk
bahan mentah yang menjadi bahan baku produksi di negara tujuan ekspor
dimana hasil olahannya dipasarkan ke Indonesia.
Dampak negatif keempat atas ketergantungan impor adalah tidak adanya
jaminan keberlanjutan stok pangan dunia. Pada tahun 2030 akan terjadi
kenaikan kebutuhan pangan 50% karena pertambahan penduduk. Pada saat ini
jumlah penduduk dunia 7 milyar dan pada tahun 2040 jumlah penduduk akan nail
menjadi 9 milyar. Sekarang ini jumlah warga dunia yang kurang gizi nail 20 juta
dibanding tahun 2000. Tiap tahun 5,2 juta hektar hutan musnah sedangkan 85%
stok ikan dunia berkurang. Disisi lain, emisi karbon dioksida justru naik 30%
antara 1999-2009 kemudian ini mengakibatkan cuaca ekstrim dan air laut naik
(KR, 2 Februari 2012). Apalagi adanya persaingan pemanfaatan bahan pangan
untuk kebutuhan pangan dengan pemanfaatan bahan pangan untuk kebutuhan
energi
Selain itu, faktor penyebab lain ancaman krisis pangan dalam konteks Indonesia,
produktivitas lahan cenderung turun karena turunnya kesuburan lahan sebagai
akibat dari sistem pertanian yang kurang (bahkan tidak) ramah lingkungan atau
mungkin akibat dari keterbatasan kemampuan petani untuk membeli input
pertanian.
Upaya Pemenuhan Pangan
Selama masih ada kehidupan manusia maka kebutuhan pangan tidak akan
berhenti. Upaya pemenuhan pangan tidak boleh berhenti. Peningkatan jumlah
ketersediaan melalui produksi adalah hal yang sangat penting, tetapi aspek
konsumsi yang berhubungan dengan prilaku konsumen juga merupakan hal yang
penting. Oleh karena perencanaan pemenuhan pangan oleh pengambil
kebijakan harus memasukkan keduanya dalam program perencanaan mengatasi
ancaman krisis pangan. Dalam pelaksanaannya melibatkan semua unsure yang
terkait dan peduli pangan baik pemerintah maupun swasta.
5

a. Aspek konsumsi.
Masyarakat Indonesia yang menjadikan beras sebagai bahan makanan utama
menyebabkan besarnya kebutuhan beras, padahal sebenarnya masih banyak
produk pertanian yang mempunyai fungsi sama dengan beras (sumber
karbohidrat), seperti sagu dan ketela. Swasembada beras yang pernah dicapai
pada tahun 1984 tidak bisa dipertahankan dan baru bisa swasembada lagi pada
tahun 2008. Sama seperti pada tahun sebelumnya, Itupun juga tidak bisa
dipertahankan.
Menurut perhitungan BPS menunjukkan konsumsi beras per kapita 113 kg per
orang per tahun, jauh lebih tinggi dari konsumsi Negara Asia lainnya seperti
Thailand dan Malaysia yang hanya 70 kg per orang per tahun. Dengan begitu,
total konsumsi 27 juta ton beras per tahun (Kompas, 13 Desember 2011)
Tingginya konsumsi beras perkapita tidak diikuti dengan tingginya konsumsi
aneka ragam bahan pangan lain yang menjadi sumber nutrisi selain
karobohidrat. Kebiasaan konsumsi pangan seimbang belum diterapkan oleh
kebanyakan masayarakat Indoesia.
Tingkat konsumsi sayur dan buah masyarakat Indonesia saat ini masih rendah.
Bahkan masih jauh dari standar konsumsi yang direkomendasikan oleh Food and
Agriculture Organization (FAO) yaitu 73 kilogram per kapita per tahun. Konsumsi
sayur masyarakat Indonesia saat ini rata-rata 41,9 Kg per kapita per tahun.
Padahal Singapura sudah 125 Kg perkapita per tahun, Malaysia sudah 90 kg
pertahun (Republika, 30 September 2011).
Penyadaran pada masyarakat untuk mengurangi konsumsi beras dengan beralih
ke bahan makanan lain terutama yang bersifat lokal dan pola makan dengan
pangan yang seimbang menjadi upaya yang mendesak untuk dilakukan. Selain
mengurangi konsumsi beras, pola makan seimbang bisa meningkatkan kualitas
sumberdaya manusia karena keterpenuhan gizinya.
Kebijakan raskin perlu dimodifikasi dengan tidak menyeragamkan pangan
dengan beras, tetapi beranekaragam disesuaikan dengan pangan local di
daerah. Image beras yang didalamnya melekat nilai status social harus bisa
dikaburkan.

Ada salah satu daerah di dataran tinggi yaitu Desa Giyombong Kecamatan Bruno
Kabupaten Purworejo-Jawa Tengah yang sampai saat ini masih mengkonsumsi
makanan local yang memang dibudidayakan oleh petani di desa tersebut, yaitu
ketela dan jagung. Masyarakat desa akan memasak nasi ketika ada tamu dari
luar atau ketika ada hajatan (seperti: acara pernikahan, sunatan, dll). Penulis
khawatir, adanya program raskin, kemungkinan bisa merusak pola kebiasaan
konsumsi pangan masyarakat desa tersebut.
Hal lain dari aspek konsumsi yang perlu mendapatkan perhatian adalah
seringnya atau banyaknya sisa makan yang terbuang. Berdasarkan survei sisa
makanan masyarakat di negara Inggris dan Amerika Serikat, bila dikumpulkan
setiap tahunnya bisa memberi makan sebanyak 1,5 miliar orang yang kelaparan.
rata-rata sisa atau limbah makanan per kapita di negara tersebut adalah 1.400
kilo kalori per harinya (www.sumbar.bkkbn.go.id). Badan pangan dunia (FAO)
menemukan 1/3 (sepertiga) makanan di dunia terbuang setiap tahunnya, yang
jumlahnya cukup untuk memenuhi pangan di negara-negara Afrika.
Makanan terbuang sia-sia saat di 27 negara anggota UE mencapai 50% dari total
konsumsi yakni 89 juta ton atau 179 kg per kapita per tahun. Diproyeksikan untuk
tahun 2020 jumlah makanan terbuang mubazir itu akan naik 40% menjadi 126
juta ton, jika tidak ada tindakan yang diambil. Makanan yang terbuang sia-sia
sebanyak itu rinciannya 42% berasal dari rumahtangga (yang sebenarnya 60%
dari jumlah itu dapat dihindari), produsen 39%, pengecer 5%, dan sektor catering
14% (www.detik.finance.com).
Indonesia belum ada penelitian khusus berapa jumlah sisa makanan yang
terbuang begitu saja. Akan tetapi, diperkirakan kalangan menengah ke atas yang
hidup di negeri ini, pada resepsi atau pertemuan, selalu mempunyai sisa
makanan cukup berlimpah. Sebagian besar orang hanya menghabiskan
sepertiga dari makanan yang diambilnya.
Indonesia bisa mengadopsi langkah-langkah yang akan dilakukan di Uni Eropa
adalah dengan 1) penyuluhan pada masyarakat untuk menggugah kesadaran
dan bagaimana menghindari pemborosan makanan; 2) pelabelan dan kemasan
yang tepat melalui pelabelan tanggal ganda yang menunjukkan sampai kapan
makanan boleh dijual (sell-by date) dan sampai kapan boleh dikonsumsi (use-by
date)., kemasan makanan harus ditawarkan dalam berbagai ukuran dan

dirancang untuk melindungi makanan lebih baik lagi untuk memungkinkan


konsumen hanya membeli sejumlah yang mereka butuhkan; 3) Makanan dekat
dengan tanggal kedaluwarsa dan produk makanan yang rusak harus dijual
dengan harga diskon, untuk membuatnya lebih mudah diakses oleh orang yang
membutuhkan; 4) memperbaharui Aturan pengadaan untuk catering dan
perhotelan untuk memastikan bahwa sedapat mungkin kontrak diberikan kepada
perusahaan catering yang menggunakan produk lokal dan mendermakan
makanan sisa untuk orang miskin atau posko makanan gratis, bukan hanya
membuangnya; 5) mendistribusikan makanan untuk warga yang kurang mampu
atau program-program yang mendorong konsumsi buah-buahan dan susu di
sekolah juga harus ditarget ulang dengan maksud untuk mencegah makanan
terbuang sia-sia; dan 6) menyelamatkan makanan yang tidak terjual lalu
menawarkannya

kepada

warga

miskin

dan

meminta

pengecer

untuk

berpartisipasi dalam program tersebut


b. Aspek produksi
Kalau dalam aspek konsumsi sudah mulai dipikirkan untuk penganekaragaman
pangan

maka

demikian

pula

dalam

aspek

produksi

harus

ada

penganekaragaman komoditas pangan yang dibudidayakan. Bagi petani, untuk


membudidayakan suatu komoditas ada pertimbangan lain selain kemampuan
teknis, yaitu bernilai ekonomi (Economic Valueable) dan berwatak sosial (Socially
Just). Sedangkan untuk keberlanjutan pertanian, diperlukan kampanye kepada
petani agar kegiatan budidayanya tidak mengkorbankan lingkungan (Ecologically
Sound)
Bernilai ekonomis artinya sistem budidaya pertanian harus mengacu pada
pertimbangan untung rugi, baik bagi diri sendiri dan orang lain, bahkan kalau bisa
memberi sumbangan bagi devisa pada negara untuk jangka pandek dan jangka
panjang. Ciri ini mengacu pada bahwa produksi pangan menjadi sumber
pendapatan/penghidupan dan sumber devisa negara. Bagi produsen pangan,
nilai ekonomis menjadi urusan hidup matinya mereka.
Nilai ekonomis disini tidak mempedulikan apakah keuntungan yang diperoleh
berasal dari mekanisme pasar atau dari insentif dari pemerintah yang berupa
subsidi ataupun kebijakan lain.

Berwatak sosial atau kemasyarakatan artinya sistem pertanian harus selaras


dengan norma-noma sosial dan budaya yang dianut dan di junjung tinggi oleh
masyarakat disekitarnya sebagai contoh seorang petani akan mengusahakan
peternakan ayam dipekarangan milik sendiri. Mungkin secara ekonomis
menjanjikkan keuntungan yang layak, namun ditinjau dari aspek sosial dapat
memberikan aspek yang kurang baik misalnya, pencemaran udara karena bau
kotoran ayam.
Norma-norma sosial dan budaya harus diperhatikan, apalagi dalam sistem
pertanian di Indonesia biasanya jarak antara perumahan penduduk dengan areal
pertanian

sangat

berdekatan.

Didukung

dengan

tingginya

nilai

sosial

pertimbangan utama sebelum merencanakan suatu usaha pertanian dalam arti


luas.
Pertanian merupakan sektor yang sangat tergantung dengan alam. Kerusakan
lingkungan mempunyai dampak yang begitu besar perubahan iklim yang pada
terhadap produksi pertanian. Tidak mengorbankan lingkungan artinya sistem
budidaya pertanian tidak boleh menyimpang dari sistem ekologis yang ada.
Keseimbangan adalah indikator adanya harmonisasi dari sistem ekologis yang
mekanismenya dikendalikan oleh hukum alam. Generasi yang akan datang tidak
hanya

mewarisi

lahan

saja

tetapi

juga

kesuburan

lahannya

beserta

keseimbangan ekologisnya.
Aspek teknis menuntut kemampuan petani untuk meningkatkan produktivitas
lahan dengan jaminan ketersediaan dan keterjangkauan input, mendorong petani
untuk memanfaatkan lahan kosong di sekitarnya dengan tanaman pangan,
perbaikan irigasi dan infrastruktur lainnya, perlu dipikirkan untuk mengganti
tanaman turus di pinggir jalan dengan tanaman pangan semisal buah-buahan,
dan mengetatkan pemberian ijin alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian.