Anda di halaman 1dari 21

TUGAS MANDIRI

BLOK SISTEM REPRODUKSI

LABORATORY USED IN REPRODUCTIVE SYSTEM

Disusun Oleh:
Fitria Marina Sandy
135070218113021
Reguler

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


JURUSAN ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

LABORATORY USED IN REPRODUCTIVE SYSTEM

1. IVA Test
a. Pengertian
IVA (Inspeksi Visual Dengan Asam Asetat) merupakan cara sederhana
untuk mendeteksi kanker leher rahim sedini mungkin (Sukaca E.
Bertiani, 2009).
IVA merupakan pemeriksaan leher rahim (serviks) dengan cara
melihat langsung (dengan mata telanjang) leher rahim setelah
memulas leher rahim dengan larutan Asam Asetat 3% 5% (Wijaya
Delia, 2010).
Tes visual menggunakan larutan asam cuka (asam asetat 3 5%) dan
larutan iodium lugol pada serviks dan melihat perubahan warna yang
terjadi setelah dilakukan olesan. Tujuannya untuk melihat adanya sel
yang mengalami displasia sebagai salah satu metode skrining kanker
mulut rahim (Rasjidi, 2010).
b. Prosedur
-

Persiapan alat dan bahan :

Sabun dan air untuk cuci tangan

Lampu yang terang untuk melihat serviks

Spekulum dengan desinfeksi tingkat tinggi

Sarung tangan sekali pakai atau desinfeksi tingkat tinggi

Meja ginekologi

Lidi kapas

Asam asetat 3 5% atau anggur putih (white vinegar)

Larutan iodium lugol

Larutan klorin 0,5% untuk dekomentasi instrument dan


sarung tangan

Format pencatatan .

Persiapan tindakan :
a)

Menerangkan prosedur tindakan, bagaimana dikerjakan, dan


apa artinya hasil tes positif. Yakinkan bahwa pasien telah
memahami dan menandatangani informed consent .

b)

Pemeriksaan inspekulo secara umum meliputi dinding vagina,


serviks dan fornik.

Teknik / prosedur
1.

Sesuaikan pencahayaan untuk mendapatkan gambaran


terbaik dari serviks.

2.

Gunakan lidi kapas untuk membersihkan darah, mucus dan


kotoran lain pada serviks.

3.

Identifikasi daerah sambungan skuamo-columnar (zona


transformasi) dan area di sekitarnya

4.

Oleskan larutan asam cuka, tunggu 1-2 menit untuk terjadinya


perubahan warna. Amati setiap perubahan pada serviks,
perhatikan dengan cermat daerah di sekitar zona
transformasi.

5.

Lihat dengan cermat SCJ (Squoamosa Columnar Junction) dan


yakinkan area ini dapat semuanya terlihat. Catat bila serviks
mudah berdarah. Lihat adanya plaque warna putih dan tebal
atau epitel aceto white

6.

Bersihkan sisa larutan asam asetat dengan lidi kapas atau


kasa bersih.

7.

Lepaskan speculum dengan hati-hati.

8.

Catat hasil pengamatan, dan gambar denah temuan.

c. Peran perawat
1. Pre
Sebelum dilakukan pemeriksaan, pasien akan mendapat
penjelasan mengenai prosedur yang akan dijalankan. Privasi
dan kenyamanan sangat penting dalam pemeriksaan ini.
2. Intra
Melakukan pemeriksaan pada klien
3. Post

Meminta ibu untuk duduk, turun dari meja periksa dan


berpakaian

Membersihkan lampu/senter dan alas tempat duduk pasien


berturut-uturt dengan larutan klorin 0,5%, cairan detergen
dan air bersih

Merendam sarung tangan dalam keadaan dipakai ke dalam


larutan klorin 0,5%.
o

Melepas sarung tangan dengan membalik sisi dalam


keluar.

Jika sarung tangan akan dibuang, buang ke dalam


kantung plastik.

Jika sarung tangan akan dipakai ulang,


dekontaminasi dengan merendam sarung tangan
dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit.

Mencuci tangan dengan air dan sabun sampai benar-benar


bersih lalu dikeringkan

dengan kain kering dan bersih

Meyakinkan ibu bahwa dia bisa kembali setiap saat bila


membutuhkan konsultasi

atau perawatan medis

Setelah memberi konseling, berikan pengobatan atau rujukan

2. Pap Smear
a. Pengertian
Test

atau

Pemeriksaan

ginekologi,

merupakan

Pap

Smear

adalah

pemeriksaan

leher

metode
rahim

(screening)
(serviks)

menggunakan alat yang dinamakan speculum, dan bisa dilakukan oleh


dokter kandungan. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui
adanya HPV ataupun sel karsinoma penyebab Kanker Leher Rahim,
sejak dini. Pemeriksaan ini lebih diutamakan pada perempuan yang
sudah pernah melakukan hubungan seksual. Bahkan Perempuan yang
pernah melakukan hubungan seksual selama tiga tahun dari kontak
seksual pertama kali WAJIB melakukan pap smear.
b. Prosedur
Menurut Soepardiman (2002), Manuaba (2005), dan Rasjidi (2008), prosedur
pemeriksaan Pap Smear adalah:

1) Persiapan

alat-alat

yang

akan

digunakan,

meliputi

spekulum bivalve (cocor bebek), spatula Ayre, kaca objek


yang telah diberi label atau tanda, dan alkohol 95%.
2) Pasien berbaring dengan posisi litotomi.
3) Pasang spekulum sehingga tampak jelas vagina bagian
atas,

forniks

posterior,

serviks

uterus,

dan

kanalis

servikalis.
4) Periksa serviks apakah normal atau tidak.
5) Spatula dengan ujung pendek dimasukkan ke dalam endoserviks,
dimulai dari arah jam 12 dan diputar 360 searah jarum
jam.
6) Sediaan yang telah didapat, dioleskan di atas kaca objek
pada sisi yang telah diberi tanda dengan membentuk
sudut 45 satu kali usapan.
7) Celupkan kaca objek ke dalam larutan alkohol 95% selama 10
menit.
8) Kemudian sediaan dimasukkan ke dalam wadah transpor
dan dikirim ke ahli patologi anatomi.
c. Peran Perawat
1. Pre
Perawat harus menanyakan dulu tentang hal-hal sebagai berikut:
1) Apakah pasien berhubungan seksual sebelum pap smear?
2) Apakah pasien menggunakan obat vaginal atau tidak 2 hari
sebelum pap smear?
3) Apakah pasien sedang haid atau tidak?
4) Kapan anda terakhir melakukan pap smear? Pernahkah anda
memiliki hasil pap smear abnormal? Kapan daur haid terakhir
anda?

Apakah

daur

haid

anda

teratur?

Berapa

hari

berlangsungnya daur haid anda? Perdarahanya banyak atau


sedikit?
5) Apakah anda pernah atau saat ini sedang minum hormon atau
kontrasepsi oral?Apakah anda menggunakan alat kontrasepsi
dalam rahim?
6) Apakah

terdapat

keputihan,nyeri,atau

gatal?Kelainan

genikologi apa yang terdapat dalam keluarga anda?Apakah


anda

pernah

menjalani

bedah

genikolog,kemoterapi,atau

terapi radiasi? Bila ya,jelaskan dengan lengkap. Catat sebagai


riwayat data pasien yang berhubungan pada lembar formulir
laboratorium.
2. Intra
Perawat melakukan pemeriksaan pap smear.
3. Post
Berikan dukungan emosional bila pasien cemas,Beritahukan
bahwa hasil uji ini slesai dalam beberapa hari.

3. HCg
a. Pengertian
Alat tes uji kehamilan hCG adalah untuk mendeteksi adanya hormon
Human Chorionic Gonadotrophin (HCG) di dalam urin manusia. Human
Chorionic Gonadotropin (HCg) adalah hormon yang dihasilkan oleh
sinsitiotrofoblas sejak hari 7-9 setelah ovulasi atau saat terbentuknya
blastokis. Sehingga dapat memperthankan korpus luteum gravidarum
sampai plasenta terbentuk. Pada kehamilan HCG timbul dalam darah
dan urine saat 14 hari sampai 26 hari setelah konsepsi dan
konsentrasi

memuncak

pada

kira-kira

minggu.

Kenaikan

konsetrasinya sebanding dengan bertambahnya jaringan plasenta .


Setelah trimester pertama kehamilan, produksi HCG menurun.
b. Prosedur
-

Persiapan Alat
1. Kontrol Positif : 1000 mIU/ml hCG
2. Kontrol Negatif
3. Latex Reagent: 50/100 slide
4. Pipet stirer

Spesimen:
1. Urin tanpa pengawet dan bersih didalam wadah yang steril
2. Apabila urin berkabut sebaiknya disentrifus
3. Urin dapat disimpan selama 72 jam sebelum diperiksa pada
suhu 2- 8C

Prosedur
1. Siapkan spesimen dan Reagent dan biarkan pada suhu ruangan
37 C sebelum digunakan

2. Campurkan keduanya pada latex reagent untuk membuat


suspensi pada partikel lateks
3. Kocok

dan

disuspensikan

pada

tambahkan 1 tetes menggunakan

Pregnancy

latex

reagent,

vial dropper (40ul) untuk

setiap lingkaran pada aglutination slide


4. Teteskan 1 tetes Kontrol Negatif ke dalam lingkaran agglutination
slide
5. Teteskan 1 tetes Kontrol Positif ke dalam lingkaran agglutination
slide
6. dengan memakai pipet-stirer teteskan spesiemn urin pada
lingkaran tersebut
7. aduk secara merata pada area lingkaran tersebut (agglutination
slide)
c. Peran Perawat
1. Pre
Lakukan uji kehamilan 2 minggu ( tidak lebih cepat dari 5 hari)
setelah pertama kali tidak menstruasi, persiakan klien dengan
mengedukasi klien perihal tes yang akan dilakukan. Jelaskan
prosedur dari masing-masing tes
2. Intra
Melakukan pemeriksaan
3. Post
Edukasi klien, beri informasi terkait hasil pemeriksaan yang telah
dilakukan. Adakan konseling guna memberikan informasi lebih
lanjut dan sebagai rujukan

4. TORCH
a. Pengertian
TORCH adalah singakatan Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus
(CMV), dan Herpes
simpleks. Uji ini merupakan suatu uji skrining untuk mendeteksi
organisme tersebut pada ibu dan bayi. Selama kehamilan, infeksi
TORCH dapat menembus sawar plasenta dan dapat menyebabkan
malformasi congenital ringan atau berat, aborsi atau lahir mati. Efek
berbahaya dari organisme tersebut terjadi selama kehamilan trimester

pertama. Pada masa prenatal, uji skrining TORCH hanya dilakukan jika
dicurigai terjadi infeksi TORCH, seperti rubella.
Uji skrining TORCH lebih sering dilakukan jika dicurigai terjadi infeksi
congenital pada
bayi pada awal kehamilan. Dugaan terhadap infeksi TORCH dibuktikan
melalui

pemeriksaan

darah

dengan

pengukuran

titer

(takaran

konsentrasi) IgG, IgM, atau keduanya . Titer IgG dibandingkan antara


serum ibu dan bayinya. Angka yang terbaca
pada hasil pemeriksaan laboratorium terhada serum darah adalah
positif atau negatif.
a) Toxoplasmosis
Toxoplasmosis adalah penyakit infeksi yang diakibatkan oleh
parasit Toxoplasma gondii. Bila seorang ibu hamil terjangkit
toxoplasma, maka janin dalam kandungannya memiliki resiko
infeksi yang lebih tinggi juga. Bila infeksi terjadi pada awal
kehamilan,

dapat

terjadi

hidrosefalus,

pengapuran

otak,

kelainan jantung dan kelainan pada mata (katarak). Ada 2 jenis


pemeriksaan toxoplasma:
1) IgM anti Toxoplasma : IgM menandakan adanya infeksi
yang sedang atau baru saja terjadi.
2) IgG anti Toxoplasma: IgG menandakan infeksi yang
sudah lama terjadi. Sampel yang diambil adalah
sampel darah. Pemeriksaan ini tidak memerlukan
persiapan sebelumnya sehingga sampel darah dapat
diambil kapan saja. Infeksi yang sedang atau baru saja
terjadi (IgM positif) yang wajib diterapi agar tidak
berlanjut dan mempengaruhi perkembangan janin.
b) Rubella
Rubella sering pula disebut sebagai campak Jerman (German
measles). Penyakit ini disebabkan karena virus rubella. Virus
rubella dapat ditularkan melalui udara (cairan ludah ataupun
hidung saat berbicara, batuk atau bersin). Pada ibu hamil, virus
ini dapat ditularkan melalui darah ibu ke janinnya. Hal ini yang
perlu diwaspadai dan dicegah karena dapat mengakibatkan
kelainan pada bayi. Kelainan pada bayi nampak saat lahir yang

disebut dengan Congenital Rubella Syndrome. Pemeriksaan


terhadap infeksi rubella ada dua jenis yaitu:
1) IgM anti Rubella : IgM merupakan tanda adanya infeksi
yang masih aktif ataupun yang baru berlangsung
2) IgG anti Rubella : sedangkan IgG menandakan adanya
infeksi yang telah berlangsung lama dan tubuh telah
membentuk kekebalan terhadap Rubella. Bila kadarnya
belum nampak, kedua tes ini dapat diulang lagi 2 3
minggu kemudian untuk mendeteksi ulang apakah
memang ada infeksi ataupun kekebalan terhadap
infeksi Rubella.
c) CMV
Infeksi CMV disebabkan karena virus CMV (Cytomegalovirus).
Virus ini ikut dalam keluarga besar virus herpes. Keluarga besar
virus herpes lainnya antara lain virus varicella / cacar air, virus
herpes sendiri dan virus EBV (Epstein-Barr Virus). Virus CMV
dapat menyebar melalui air liur dan urin serta dapat pula
menyebar melalui darah, air mata dan cairan tubuh lainnya.
Sama seperti virus herpes lainnya, bila pernah terinfeksi CMV,
virus ini akan selalu berada dalam orang tersebut. Pemeriksaan
terhadap infeksi CMV ada dua jenis yaitu:
1) IgM anti CMV : IgM merupakan tanda adanya infeksi
yang masih aktif ataupun yang baru berlangsung.
2) IgG anti CMV: IgG menandakan adanya infeksi yang
telah berlangsung lama dan tubuh telah membentuk
kekebalan terhadap virus CMV. Bila kadarnya belum
nampak atau masih meragukan, kedua tes ini dapat
diulang lagi 2 3 minggu kemudian.
d) Herpes Simplex Virus (HSV)
Ada dua jenis virus herpes simpex yaitu tipe 1 dan tipe 2. Lokasi
infeksi HSV tipe 1 biasanya pada daerah wajah dan mulut
sedangkan HSV tipe 2 lebih banyak pada daerah genital.
Sebagian penderita tidak sadar bahwa mereka telah terinfeksi
HSV, namun sebagian lainnya sadar karena adanya gejala
seperti nyeri dan gatal serta timbul gelembung berisi cairan.

Virus ini dapat ditularkan ke janin bila ibu terjangkit saat hamil.
Pemeriksaan adanya infeksi HSV ada dua jenis yaitu:
1)

IgM anti HSV : Tes IgM menandakan bahwa sedang


terjadi

infeksi

ataupun

infeksi

yang

baru

saja

berlangsung
2)

IgG anti HSV: Tes IgG menandakan bahwa infeksi telah


terjadi dalam kurun waktu beberapa lama (lebih dari 6
bulan) dan penderita telah memiliki kekebalan tubuh
terhadap HSV. Selain itu, pemeriksaan juga meliputi HSV
tipe 1 dan HSV tipe 2.

b. Prosedur
Kumpulkan 7ml darah vena dalam tabung bertutup merah. Tidak
terdapat pembatasan asupan makanan atau cairan. Perangkat TORCH:
ikuti petunjuk yang ada pada perangkat tersebut
c. Peran Perawat
1. Pre
Tanyakan

pada

klien

apakah

pernah

melakukan

uji

TORCH

sebelumnya? Apakah di rumahnya mempunyai peliharaan atau


tidak, jelaskan prosedur yang akan dilakukan untuk pemeriksaan,
persiapkan kondisi klien dan jaga pirvasi. Tanyakan riwayat penyakit
dan infeksi yang pernah di alami
2. Intra
Melakukan pengambilan spesimen
3. Post
Beritahu klien hasil pemeriksaan
Jika hasil positif, beritahu klien untuk melakukan pemeriksaan lain
Beri alternatif informasi dan konseling pada klien
5. Tes Hormon
a. Pengertian
1) ESTROGEN
Estrogen (dan progesteron) disekresikan oleh ovarium. Hormonhormon ini berperan untuk perkembangan ciri seksual sekunder
perempuan dan untuk menstruasi normal. Kadarnya biasanya tidak
terdeteksi pada anak-anak. Hormon-hormon ini disekresikan oleh

sel folikel ovarium selama pertengahan awal daur haid dan oleh
korpus luteum selama fase luteal serta selama kehamilan. Pada
menopause, sekresi estrogen menurun sampai kadar rendah yang
konstan.
2) PROGESTERON
Progesteron

adalah

suatu

hormon

steroid

ovarium

yang

disekresikan oleh korpus luteum, menyebabkan penebalan dan


perkembangan sekresi endometrium sebagai persiapan untuk
implantasi ovum yang telah dibuahi. Dengan demikian, kadar
progesteron memuncak selama fase midluteal daur haid. Bila tidak
terjadi implantasi, progestaron (dan estrogen) turun secara tajam
dan mulai terjadi haid 2 hari kemudian.
3) TESTOSTERON
Testosteron menginduksi pubertas pada laki-laki dan memelihara
ciri seksual sekunder laki-laki. Kadar testosteron prapubertas
rendah.

Peningkatan

sekresi

testosteron

selama

pubertas

merangsang pertumbuhan tubulus seminiferus dan pembentukan


sperma. Testosteron juga berperan pada pembesaran genitalia
eksterna, organ seks aksesorius (seperti kelenjar prostat), dan otototot polos serta pada pertumbuhan rambut wajah, rambut pubis,
rambut aksila. Pembentukan testosteron mulai meningkat saat
permulaan pubertas dan terus meningkat selama masa dewasa.
Pembentukannya mulai menurun pada usia kira-kira 40 tahun dan
perlahan-lahan turun sampai kira-kira seperlima kadar puncak pada
usia 80 tahun. Pada perempuan, kelenjar adrenal dan ovarium
mensekresikan sejumlah kecil testosteron.
4) HORMON PLASENTA
Suatu hormon polipeptida, laktogen plasenta manusia (Hpl, Human
Placental Lactogen) yang juga dikenal sebagai somatomamotropin
korion manusia, memperlihatkan sifat laktogenik dan somatrotopik
(hormon pertumbuhan) pada perempuan hamil. Bersama dengan
prolaktin, hPL mempersiapkan payudara untuk menyusui. Hpl juga
secara tidak langsung menyediakan energi untuk metabolisme ibu
dan nutrisi janin. Hormon ini mempermudah sintesis dan mobilisasi
protein yang sangat penting untuk pertumbuhan janin. Sekresi

bersifat otonom, mulai pada kehamilan 5 minggu dan menurun


cepat setelah persalinan.
b. Prosedur
-

Persiapan alat

tabung aktivator-bekuan 10 ml

formulir laboratorium

alat pungsi vena

Prosedur
a) ESTROGEN
Prosedur dan perawatan pasca uji dapat sedikit berbeda
bergantung pada apakah yang diukur plasma atau serum

Lakukan pungsi vena dan kumpulkan sampel pada tabung


aktivator-bekuan 10 ml

Bila pasien dalam fase pramenopause, catat fase daur


haidnya pada lembar formulir laboratorium

Tekan tempat pungsi vena sampai perdarahan berhenti

Bila timbul hematoma pada tempat pungsi vena, berikan


kompres hangat

Bertahukan kepada pasien bahwa ia dapat minum kembali


obat-obatan yang sebelumnya dihentikan sebelum uji
Nilai Rujukan

Perempuan pramenopause 26-149 pg/ml (SI, 90-550


pmol/L)

Perempuan pascamenopause 0-34 pg/ml (SI, 0-125


pmol/L)

Laki-laki 12-34 pg/ml (SI, 40-125 pmol/L)

Anak dibawah usia 6 tahun 3-10 pg/ml (SI, 10-36


pmol/L)

Kehamilan 30 minggu 2 ng/ml (SI, 7 nmol/L)

Kehamilan 40 minggu 2-30 ng/ml (SI, 105 nmol/L)

b) PROGESTERON
Prosedur dan Perawatan Pasca Uji

Lakukan pungsi vena dan kumpulakn sampel pada tabung


heparin 7 ml

Penuhi tabung pengumpul. Lalu balikkan perlahan-lahan


paling sedikit 10 kali untuk mencampur sampel dan
anikoagulan dengan benar

Tuliskan tanggal daur haid terakhir dan fase daur haidnya


pada lembar formulir laboratorium. Bila pasien sedang
hamil, tuliskan juga bulan kehamilannya

Kirimkan sampel segera ke laboratorium


Nilai Rujukan

Selama haid nilai progesteron normal adalah:

Fase folikular :<150 ng/dl (SI, <5nmol/L)

Fase luteal : 300-1200 ng/dl (SI, 10-40 nmol/L)

Selama kehamilan nilai progesteron normal adalah :

Trimester I : 1500-5000 ng/dl (SI, 50-160 nmol/L)

Trimester II dan III : 8000-20000 ng/dl (SI, 250-650


nmol/L)

Nilai normal pada perempuan menopause adalah 1022 ng/dl (SI, <2 nmol/L)

c) TESTOSTERON
Prosedur dan Perawatan Pasca Uji

Lakukan pungsi vena dan kumpulkan sampel pada


tabung aktivator-bekuan 7ml

Bila akan mengumpulkan plasma gunakan tabung


berheparin

Catat usia, jenis kelamin pasien, dan riwayat terapi


hormon pada formulir laboratorium

Tekan tempat pungsi vena sampai perdarahan berhenti

Bila timbul hematom pada tempat pungsi vena berikan


kompres hangat

Perhatian
1. Tangani sampel dengan hati-hati untuk mencegah
hemolisis. Kemudian kirimkan sampel ke laboratorium
dengan segera.
2. Sampel

bersifat

stabil

dan

tidak

memerlukan

pendinginan atau pengawet selama 1minggu. Sampel


yang beku stabil selama paling sedikit 6 bulan.

Nilai Rujukan
Kadar testosteron normal adalah:
Laki-laki : 300-1200 ng/dl (SI, 10,4-41,6 nmol/L)
Perempuan : 20-80 ng/dl (SI, 0,7-2,8 nmol/L)
Anak prapubertas : nilai lebih rendah daripada
dewasa
d) HORMON PLASENTA (LAKTOGEN)
Prosedur dan Perawatan Pasca Uji

Lakukan pungsi vena dan kumpulkan sampel dalam


tabung aktivator-bekuan 7 ml

Tekan tempat pungsi vena sampai perdarahan berhenti

Bila timbul hematom pada tempat pungsi vena, berikan


kompres hangat

Perhatian

Tangani

sampel

dengan

hati-hati

untuk

mencegah

hemolisis

Kirimkan sampel ke laboratorium dengan segera

Nilai Rujukan

Untuk perempuan hamil kadar Hpl normal berbedabeda sesuai fase kahamilan.

Kemudian meningkat perlahan disepanjang kehamilan


mencapai 8,6 g/ml saat aterm.

Saat aterm, pasien dengan diabetes memiliki kadar


rata-rata 9-11 g/ml. Kadar normal

untuk laki-laki dan perempuan tidak hamil adalah


<0,5 g/ml

c. Peran Perawat
a) ESTROGEN
Persiapan Klien

Jelaskan kepada pasien bahwa uji ini membantu menentukan


apakah sekresi hormon

seks perempuannya normal dan uji ini dapat diulang selama


berbagai fase daur haid

Beritahukan bahwa ia tidak perlu membatasi makanan atau


minuman

Beritahukan

bahwa uji ini memerlukan

sampel

darah.

Jelaskan kapan dan siapa yang

akan melakukan pungsi vena

Jelaskan kepada pasien bahwa ia dapat merasa tidak


nyaman akibat tusukan jarum

dan turniket

Hentikan

semua

steroid

dan

hormon-hormon

yang

berdasarkan steroid, sebagaimana

diminta. Bila obat-obat ini harus diteruskan, catat pada


lembar formulir laboratorium

b) PROGESTERON
Persiapan Pasien

Jelaskan kepada pasien bahwa uji ini membantu menentukan


apakah sekresi hormon seks perempuannya normal

Beritahukan bahwa ia tidak perlu membatasi makanan atau


minuman

Beritahukan

bahwa uji ini memerlukan

sampel

darah.

Jelaskan kapan dan siapa yang akan melakukan pungsi vena

Jelaskan kepada pasien bahwa ia dapat merasa tidak


nyaman akibat tusukan jarum dan turniket

Beritahu bahwa uji ini dapat diulangi pada waktu tertentu


yang bertepatan dengan fase daur haidnya atau dengan
setiap kunjungan pranatal

Periksa riwayat pasien apakah ia sedang minum obat yang


dapat mengganggu hasil uji, termasuk progesteron dan
estrogen.

Catat

temuan

ini

pada

lembar

hasil

uji

laboratorium.
c) TESTOSTERON
Persiapan Pasien

Jelaskan kepada pasien bahwa uji ini membantu menentukan


apakah sekresi hormon laki-lakinya mencukupi

Beritahu bahwa ia tidak pperlu membatasi makanan atau


cairan

Beritahukan kepada pasien bahwa uji ini memerlukan sampel


darah. Jelaskan kapan dan siapa yang akan melakukan
pungsi vena

Jelaskan kepada pasien bahwa ia dapat merasa tidak


nyaman

akibat

tusukan

jarum

dan

turniket,

tetapi

pengumpulan sampel hanya membutuhkan waktu beberapa


menit
d) HORMON PLASENTA
Persiapan Klien

Jelaskan kepada klien bahwa uji ini membantu menilai fungsi


plasenta

dan

kesejahteraan

janin.

Bila

penilaian

kesejahteraan janin bukan merupakan tujuan diagnosis,


berikan penjelasan yang tepat

Beritahukan kepada pasien bahwa uji ini memerlukan sampel


darah. Jelaskan kapan dan siapa yang akan melakukan
pungsi vena

Jelaskan kepada pasien bahwa ia dapat merasa tidak


nyaman akibat tusukan jarum dan turniket

Beritahukan kepada pasien yang hamil bahwa uji ini dapat


diulangi selama kehamilannya.

6. Tes Sperma
a. Pengertian
Pemeriksaan

Semen

digunakan

sebagai

salah

satu

uji

untuk

menentukan penyebab infertilitas. Ketika menganalisis kandungan


semen, perlu diperiksa semua karakteristik uji, meliputi hitung
sperma, volume cairan, persentase normal, spermatozoa matur
(sperma); dan persentase spermatozoa yang masih aktif diperiksa.
Hitung sperma sering digunakan untuk memantau efektifitas tindakan
sterilisasi

setelah

vasektomi(pemotongan

vasdefferens).

Hitung

sperma diperiksa secara berkala. Pada kasus pemerkosaan, analisis


forensik atau medikolegal dilakukkan untuk mendeteksi apakah
terdapat semen pada sekret vagina atau di pakaian.Tiga metode yang
digunakan untuk mengambil spesimen semen, yaitu dengan cara
masturbasi, koitus interuptus, serta hubungan seksual menggunakan
kondom.

b. Prosedur

Abtinensia hubungan seksual selama 3 hari sebelum pengambilan


semen.

Ambil semen dengan cara:


o

Masturbasi, tampung dalam wadah yang bersih.

Koitus interuptus, tampung dalam wadah kaca yang bersih.

Hubungan seksual dengan kondom yang bersih dan telah


dicuci letakkan kondom pada wadah yang bersih.

Jaga agar spesimen semen tersebut tidak membeku, dan bawa


segera ke laboratorium. Uji terhadap spesimen semen yang telah
dikumpulkan dalam waktu 2 jam harus dilakukan lebih cepat lebih
baik.

Minuman ringan yang beralkohol juga harus dihindari selama


beberapa hari (sedikitnya 24 jam) sebelum uji dilakukan. Tidak
terdapat pembatasan asupan makanan atau minuman.

c. Peran Perawat
1. Pre

Berikan instruksi tertulis dan beritahukan kepada pasien bahwa


spesimen yang paling diinginkan harus dilakukan dengan
masturbasi, yang ideal dalam ruang praktek atau laboratorium

Beritahukan kepada pasien untuk mengikuti instruksi yang


diberikan dengan memperhitungkan masa berpantang seksual
sebelum

uji

karena

hal

ini

dapat

meningkatkan

jumlah

spermanya. Beberapa dokter menetapkan jumlah hari, biasanya


antara 2-5 hari

Bila

pasien

memilih

mengumpulkan

spesimen

di

rumah,

tekankan pentingnya mengirim spesimen ke laboratorium dalam


1 jam setelah pengumpulan. Peringatkan pasien agar spesimen
tidak terpajan suhu ekstrim atau sinar matahari langsung

Cara lain untuk mengumpulkan spesimen selain masturbasi


adalah senggama terputus atau menggunakan kondom

Bila pasien memilih mengumpulkan spesimen dengan cara


senggama terputus,beritahukan agar tidak ada semen yang
terbuang selama ejakulasi.

2. Intra

Dapatkan spesimen untuk pemeriksaan kesuburan dengan


meminta pasien

mengumpulkan semen dalam wadah spesimen plastik yang


bersih

Persiapkan apusan langsung pada kaca objek setelah melabeli


ujung yang buram.

Segera masukkan kaca objek yang telah diapus dalam toples


Coplin yang mengandung etanol 95%

Sebelum pemeriksaan

pasca koitus, pemeriksa mengusap

semua mukus yang berlebihan dari serviks eksternal dan


mengumpulkan spesimen melalui aspirasi lengsung kanalis
servikalis

dengan

menggunakan

spuit

tuberkulin

dengan

menggunakan 1 ml tampa kanula atau jarum


3. Post

Kirimkan semua spesimen, tanpa memandang sumber atau


metode pengumpulan ke laboratorium dalam 1 jam

Lindungi spesimen semen untuk pemeriksaan kesuburan dari


suhu ekstrim dan sinar matahari langsung selama pengiriman
ke laboratorium

Jangan melumasi spekulum vagina

Lakukan

pengamanan,

pelabelan

dan

pengiriman

semua

spesimen yang akan digunakan dengan hati-hati dengan tujuan


untuk medikolegal

Beritahu

pasien

yang

sedang

menjalani

pemeriksaan

kemandulan bahwa hasil uji tersedia dalam 24 jam.

7. Amniocentesis
a. Pengertian
Cairan Amniotik merupakan cairan yang berisi sel dan dikeluarkan oleh
janin. Amniocentesis dapat dilakukan pada usia kehamilan 16 minggu
pada saat terjadi perpindahan cairan amniotik. Cairan amniotik
dianalisis

untuk

mengetahui

adanya

kelainan

pada

janin.

Amniocentesis juga dapat dilakukan selama trimester ketiga jika


adanya indikasi kelahiran prematur guna mengetahui perkembangan

paru-paru

janin

serta

untuk

menilai

apakah

ibu

memiliki

chorioamnionitis (infeksi/peradangan cairan amniotik). Amniocentesis


dilakukan jika tes pendukung lainnya menunjukkan hasil positif. Tes
tersebut meliputi AFP, estriol, inhibin A, dan hCG.
b. Prosedur
-

Persiapan alat

Larutan antiseptik

Jarum jarum spinal dan stilus ukuran 18, 20, 22

Spuit 10cc

Spuit 2cc

Lidokain

Jarum ukuran 25, 21

Handuk dan duk lobang steril

Es

Vial spesimen bersih dan berwarna coklat

Pelaksanaan
1) Pasien akan menandatangani formulir persetujuan.
2) Pasien harus memiliki kandung kemih yang kosong.
3) Pasien terletak di atas meja dengan perut yang terbuka.
4) Situs penyisipan

dibersihkan

dengan

antiseptik dan

dikelilingi dengan duk bolong steril.


5) Situs penyisipan disuntik dengan bius lokal.
6) gel konduktif ditempatkan pada perut ibu.
7) Sebuah monitor janin ditempatkan pada perut ibu untuk
memantau janin selama prosedur.
8) tanda-tanda vital sang ibu dipantau selama prosedur.
9) cairan untuk rasio lesitin-sfingomielin (L/S) ditempatkan
kedalam sebuah tabung reaksi yang dikelilingi dengan es
dan cairan untuk analisis spektrofotometri ditempatkan
dalam sebuah botol coklat untuk melindunginya dari sinar
matahari langsung
10)

Penyedia layanan kesehatan melakukan USG janin

untuk memandu penyisipan jarum spuit 10 cc.


11)

Sebuah jarum dilewatkan melalui perut ke dalam

rahim. Jarum di cabut dan dimasukkan kembali jika janin


bergerak mendekati jarum. (jika darah teraspirasi, jarum

mungkin berada di dalam uterus, plasenta, atau janin.


Agar jarum sampai pada rongga amnion, rotasi jarum
180 jika diperlukan untuk memperoleh aliran bebas
cairan amnion. Pada mulanya cairan sanguineus sering
jernih dalam 30 sampai 60detik
12)

Dua sendok makan cairan ketuban diambil naik dari

jarum ke jarum suntik.


13)

Jarum di cabut

14)

Beri perban pada area penyisipan jarum

c. Peran Perawat
1. Pre

Jelaskan prosedurnya kepada pasien dan jelaskan behwa uji


mendeteksi kelainan pada janin

Nilai pemahaman pasien tentang uji ini, dan jawab pertanyaan


yang diajukan pasien

Beritahukan bahwa ia tidak perlu membatasi makanan atau


cairan

Beritahu pasien bahwa uji ini memerlukan spesimen cairan


amnion dan siapa yang akan melakukan uji ini

Beritahu pasien bahwa hasil uji normal tidak menjamin janin


normal karena beberapa kelainan janin tidak dapat diditeksi

Pastikan pasien telah menandatangani persetujuan tindakan


medis

Jelaskan

bahwa

ia

akan

merasakan

sensasi

nyeri

saat

penyuntikan anastesi lokal


2. Intra

Melakukan pemeriksaan

Perintahkan pasien untuk melipat tangannya di belakang kepala


agar tidak menyentuh daerah steril secara tidak sengaja dan
menyebabkan kontaminasi

3. Post

Pasien harus menghubungi penyedia layanan kesehatan jika dia


tahu ada cairan atau keluarnya cairan berdarah dari situs
penyisipan atau jika ada pembengkakan dan kemerahan di
lokasi penyisipan. Pasien juga harus menghubungi penyedia

layanan kesehatan jika dia mengalami demam, nyeri, atau kram


di perutnya.

Kirimkan

spesimen

ke

laboratorium

segera

setelah

pengumpulan.

Referensi
Novel S. Sinta dkk. 2010. Kanker Serviks dan Infeksi Human
Papillomavirus (HPV).
Jakarta: Javamedia Network.
Taber, Ben-Zion. 1994. Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi. Jakarta : EGC
Wijaya Delia. 2010. Pembunuh Ganas Itu Bernama Kanker Serviks.
Yogyakarta: Sinar
Kejora.