Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN AKHIR

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

PENINGKATAN MINAT BELAJAR SISWA DALAM


PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
DENGAN MENGGUNAKAN METODE BERMAIN PERAN
SDN PURNASATRIA KECAMATAN SATRIA ALAS

Disusun Oleh :
DRA. ALOY TUA NAGARA, M.PD
NIP.

DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN GUMELAR KARYA


UPT DINAS PENDIDIKAN SATRIA ALAS
SEKOLAH DASAR NEGERI PURNASATRIA
TAHUN 2010

HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN HASIL PENELITIAN TINDAKAN KELAS
1. Judul Penelitian

: PENINGKATAN MINAT BELAJAR SISWA


DALAM
PEMBELAJARAN
ILMU
PENGETAHUAN
SOSIAL
DENGAN
MENGGUNAKAN
METODE
BERMAIN
PERAN SDN PURNASATRIA

2. Peneliti
a. Nama Lengkap dan Gelar
b. Jenis Kelamin
C. Pangkat/Golongan
d. Sekolah

:
:
:
:

DRA. ALOY TUA NAGARA, M.PD


Perempuan
Pembina, IV/b/
SDN PURNASATRIA

e. Alamat Sekolah

: Satria Alas

f. Alamat Rumah

: Kp. Padahayu Satria Alas

3. Lama Penelitian

: 3 Bulan
Juli s/d September 2010
Gumelar Karya, Oktober 2010

Petugas Perpustakaan
SD Negeri PURNASATRIA

Peneliti,

Saparia Soe Ara, S.Pd


NIP.

DRA. ALOY TUA NAGARA, M.PD


NIP.

Mengetahui
Kepala SD Negeri PURNASATRIA

:
DRS. TUNGGARA SALAMINA, M.PD
NIP.

KATA PENGANTAR

Pertama-tama Penulis Panjatkan Puji dan Syukur kepada Allah SWT.


Karena dengan izinnya, maka penelitian ini yang berjudul Meningkatkan
Minat Belajar Siswa Dalam Pembelajaran IPS Dengan Menggunakan
Metode Bermain Peran di SDN PURNASATRIA

Kabupaten Gumelar

Karya dapat terselesaikan tepat pada waktunya.


Pada kesempatan yang baik ini, penulis ingin menyampaikan ucapan
terima kasih atas bantuan dan dukungannya kepada semua pihak Semua
pihak yang telah membantu kelancaran proses Penelitian Tindakan Kelas,
semoga amal baiknya mendapat imbalan dari Allah SWT.

Gumelar Karya, Oktober 2010

Dra. ALoy Tua Nagara, M.Pd : Meningkatkan minat belajar siswa dalam
pembelajaran IPS dengan menggunakan Metode Bermain
Peran di SDN PURNASATRIA
ABSTRAK

Penelitian tindakan kelas ini karena pembelajaran IPS kurang diminati


oleh para siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS di kelas. Penelitian ini
diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengelola pendidikan, agar
proses belajar mengajar lebih menarik sehingga siswa menyenangi pembelajaran
IPS, dan dapat meningkatakan minat serta motivasi siswa terhadap pembelajaran
IPS sehingga meningkatkan hasil prestasi belajar siswa dalam pembelajaran IPS.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas melalui
tahapan atau siklus, penelitian ini berlangsung dalam dua siklus.Prosedur
pelaksanaan tindakan meliputi beberapa tahapan.Tahapan pertama melakukan
pendahuluan identifikasi masalah.Tahapan kedua peningkatan metode bermain
peran melalui diskusi dengan guru dalam pengenalan.Tahapan ketiga pelaksanaan
penggunaan metode bermain peran dan dilanjutkan dengan refleksi agar dapat
menyusun rencana selanjutnya.Tahap keempat mengadakan tindak lanjut melalui
penyusunan laporan.
Setelah melakukan penelitian ini ada beberapa temuan dalam
pengembangan pembelajaran IPS dengan menggunakan metode bermain peran
diantaranya :
pertama meningkatkan kinerja guru dalam merencanakan,
melaksanakan dan mengevaluasi rencana persiapan pembelajaran, yang kedua
meningkatakan minat siswa dalam pembelajaran IPS, ketiga partisipasi siswa
dalam pembelajaran IPS menjadi efektif dan kondusif . berdasarkan penelitian ini
bahwa penggunaan metode bermain peran dalam pembelajaran IPS perlu
dikembangkan dan ditingkatkan di Sekolah Dasar supaya dapat menigkatkan
minat siswa dalam pembelajaran IPS lebih menigkat sehingga siswa tertarik
dalam pembelajaran IPS. Dengan demikian prestasi hasil belajar siswa dalam
pembelajaran IPS akan lebih baik.

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................

ABTRAK ......................................................................................................

ii

KATA PENGANTAR ..................................................................................

iii

DAFTAR ISI .................................................................................................

iv

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................

A. LATAR BELAKANG MASALAH ......................................................... 1


B. IDENTIFIKASI MASALAH .................................................................. 2
C. PEMBATASAN MASALAH DAN RUMUSAN MASALAH .................. 3
D. TUJUAN PENELITIAN .......................................................................

E. MANFAAT PENELITIAN .................................................................... 4

BAB II KAJIAN PUSTAKA ....................................................

A. PENGERTIAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL ......... 5


B. KARAKTERISTIK PENDIDIKAN IPS................................................... 6
C. TUJUAN PENDIDIKAN IPS ................................................................ 7
D. PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH................................................... 9
E. PEMBELAJARAN MODEL BERMAIN PERAN .................................. 11
1. PENGERTIAN BERMAIN PERAN ............................................... 11
2. TUJUAN PENGGUNAAN BERMAIN PERAN .............................. 12
3. LANGKAH-LANGKAH DAN PERSIAPAN
BERMAIN PERAN ......................................................................... 12
4. METODE BERMAIN PERAN DALAM PEMBELAJARAN
IPS DI SEKOLAH DASAR ............................................................ 13

BAB III METODE PENELITIAN ...................................................

14

A. PENDEKATAN METODE PENELITIAN ............................................. 14


B. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN ............................................. 16
C. LOKASI DAN SUBJEK PENELITIAN .................................................. 16
D. PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS .................................. 19

BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN .....................................

23

A. GAMBARAN UMUM HASIL PENELITIAN .......................................... 23

B. GAMBARAN AWAL PROSES PEMBELAJARAN IPS ....................... 23

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ..........................................................


A. SIMPULAN .......................................................................................... 30
B. SARAN-SARAN .................................................................................. 30

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
FOTO-FOTO DOKUMENTASI

30

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Ilmu Pengetahuan Sosial termasuk salah satu mata pelajaran yang
amat penting dikuasai dan diminati sejak tingkat Sekolah Dasar oleh
karena itu mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial sangat penting diminati
oleh siswa yang ditunjukkan dengan motivasi yang tinggi dalam belajar
Ilmu Pengetahuan Sosial.
Harapan tersebut ternyata belum nampak pada siswa kelas V SDN
PURNASATRIA 8. Dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial para siswa
sepertinya kurang tertarik, dari jumlah siswa hanya 35% yang tertarik,
sedangkan yang tidak tertarik 65%. Alasan yang sering mereka keluhkan
antara lain, materi Ilmu Pengetahuan Sosial terlalu susah untuk dihafalkan
dan dianggap sebagai mata pelajaran yang membosankan.
Untuk mengatasi masalah tersebut dilakukan antara lain dengan tanya
jawab, lembaran tugas, membuat rangkuman dan mengerjakan LKS.
Namun demikian belum tampak hasilnya.
Untuk meningkatkan siswa dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial
perlu kiranya dicoba menerapkan metode pembalajaran yang membuat
siswa lebih tertarik dan senang mengikuti pembelajaran Ilmu pengetahuan
Sosial. Metode pembelajaran tersebut

yaitu Metode Bermain Peran,

karena dalam metode bermain peran melibatkan aspek-aspek kognitif,


afektif serta psikomotor.
Sebagaimana yang tercantum dalam kurikulum SD 1994 bahwa
pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di SD berfungsi mengembangkan
pengetahuan, sikap dan keterampilan dasar untuk memahami kenyataan
sosial yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari; (Depdikbud,
1994). Oleh karena itu dituntut memiliki kualifikasi pendidikan profesi
yang

memadai

memiliki

kompetensi

dan

memiliki

kemampuan

komunikasi yang baik dengan peserta didik, mempunyai jiwa kreatif dan
memilikii etos kerja serta komitmen yang tinggi terhadap profesinya.
Melalui penerapan Bermain Peran siswa juga dapat menguji hubungan
personal dan perilaku sosial dan mengkritisi berbagai pandangan dan
pelaku, karakter peran.
Melalui penerapan metode bermain peran diharapkan terjadi
peningkatan motivasi dan minat belajar siswa khususnya dalam
pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas V SDN Purnasatria.
Berdasarkan pernyataan di atas perlu kiranya di lakukan Penelitian
Tindakan Kelas mengenai meningkatkan minat belajar siswa dalam
pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan menggunakan metode
bermain peran.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana yang telah diuraikan di
atas untuk meningkatkan minat siswa dalam pembelajaran IPS dapat
dilakukan upaya antara lain :
1. Apakah penggunaan metode pembelajaran dapat meningkatkan minat
siswa dalam pembelajaran IPS?
2. Apakah penggunaan media pembelajaran dapat meningkatkan minat
belajar siswa dalam pembelajaran IPS?
3. Apakah lingkungan sekolah dapat meningkatkan minat siswa dalam
pembelajaran IPS?
4. Apakah kompetensi guru dapat meningkatkan minat siswa dalam
pembelajaran IPS?
5. Apakah sikap siswa terhadap mata pelajaran dapat meningkatkan
minat siswa dalam pembelajaran IPS?

C. Pembatasan Masalah Dan Rumusan Masalah


Berdasarkan identifikasi masalah tersebut di atas terdapat sejumlah faktor
yang dapat meningkatkan minat belajar. Dalam penelitian ini akan dibatasi
pada metode bermain peran dalam meningkatkan minat siswa dalam
pembelajaran IPS berdasarkan pembatasan masalah diatas dirumuskan
permasalahan sebagai berikut:
a. Bagaimana

penggunaan

metode

bermain

peran

meningkatkan minat belajar siswa dalam pembelajaran IPS?

untuk

b. Apakah dengan menggunakan metode bermain peran dapat


meningkatkan minat siswa dalam pembelajaran IPS?

D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan diatas maka tujuan penelitian tindakan kelas ini
adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui penggunaan metode bermain peran dalam
meningkatkan minat dan perhatian siswa dalam pembelajaran IPS.
b. Untuk mengetahui minat siswa dalam pembelajaran Ilmu
Pengetahuan Sosial setelah menggunakan metode bermain peran.

E. Manfaat Penelitian
Dengan penelitian tindakan kelas ini diharapkan terjadi perbaikan dan
peningkatan proses hasil pembelajaran, secara lebih rinci manfaatnya
adalah :
a. Bagi Guru : melalui PTK ini guru dapat mengetahui metode
pembelajaran metode bermain peran untuk meningkatkan minat
belajar dalam pembelajaran IPS.
b. Bagi Siswa : diharapkan dapat tertarik dan senang mengikuti
pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial sehingga menumbuhkan
keberanian untuk bertanya, menjawab sehingga aktifitas dan
antusias belajar siswa lebih hidup dan meningkat.

c. Bagi Sekolah : hasil dari proses belajar dan pembelajaran yang


efektif diharapkan dapat meningkatkan mutu Pendidikan Sekolah.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)


Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem
Pendidikan Nasional bahwa pengertian pembelajaran adalah suatu proses
interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar.
Ilmu Pengetahuan Sosial adalah suatu pelajaran yang mengkaji
seperangkat peristiwa fakta, konsep dan generalisasi yang berkaitan
dengan isu sosial (kurikulum 2006).
Tujuan pembelajaran IPS adalah memperkenalkan siswa kepada
pengetahuan tentang kehidupan masyarakat manusia secara sistematis.
Dengan demikian peran pendidikan IPS sangat penting untuk mendidik
siswa mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk dapat
aktif dalam kehidupannya nanti sebagai anggota masyarakat.
IPS adalah bidang studi yang memepelajari dan

menelaah serta

menganalisis gejala dan masalah sosial di masyarakat di tinjau dari


berbagai aspek kehidupan secara terpadu; ( Ischak 1997: 1.35).
Bahan kajian IPS dalam kurikulum 2006 disusun dengan sistematis,
materi pelajaran berorientasi pada fungsi dan tujuan pembelajaran, standar
kompetensi dasar hasil belajar dan indikator serta ruang lingkup yang
harus dicapai oleh siswa.

Bidang studi IPS adalah ilmu yang mempelajari gejala dan masalah
kehidupan manusia di masyarakat.

B. Karakteristik Pendidikan IPS


IPS bukan merupakan pengajaran pengetahuan sosial yang terlepaslepas dari satu dan terisolasi yang lainnya, tapi IPS merupakan proses
pengajaran yang memadukan berbagai pengetahuan sosial; (Sumaatmadja,
1984:22). Pandangan lain bahwa karekteristik pendidikan IPS adalah :
1) Bahan pelajarannya akan lebih banyak memperhatikan minat para
siswa, masalah-masalah sosial, keterampilan berpikir, serta
pemeliharaan dan pemanfaatan lingkungan alam,
2) Program studi IPS akan mencerminkan berbagai kegiatan dasar
dari manusia,
3) Organisasi kurikulum IPS akan bervariasi dari susunan yang
Integrated (terppadu) berhubungan sampai yang terpisah,
4) Susunan bahan pelajaran akan bervariasi dari pendekatan
kewarganegaraan, fungsional, humanitis sampai yang struktural,
5) Kelas pengajaran IPS akan dijadikan laboratorium demokrasi,
6) Evaluasinya takan mencakup aspek-aspek kognitif, afektif dan
psikomotor saja, tetapi juga mencobakan mengembangkan apa
yang disebut Democratic Quotient dan Atizanship Quetient,
7) Unsur-unsur sosiologi dan pengetahuan sosial lainya akan
melengkapi program studi IPS. Begitu pula unsur-usnur Science,

teknologi, matematika dan agama akan ikut memperkaya bahan


pelajaran IPS; (Daldjoeni, 1992:60)
Pembelajaran

pendidikan

IPS

bukanlah

bertujuan

untuk

mengembangkan dan memenuhi ingatan para peserta didik semata


melainkan juga untuk membina dan mengembangkan mental anak untuk
sadar akan tanggung jawabnya baik bagi dirinya maupun masyarakat dan
negara.
Dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial para siswa dibekali
konsep-konsep pengetahuan yang mengarah kepada pemahaman atau
pengertian-pengertian. Dalam penyajiannya menggunakan akal pikiran
(kognitif), afektif serta psikomotor.

C. Tujuan Pendidikan IPS


Tujuan

utama

pendidikan

IPS

adalah

menolong

siswa

mengembangakan berbagai kemampuan untuk mengolah lingkungan Fisik


dan Sosialnya agar dapat harmonis dilingkungannya.
Tujuan pendidikan IPS di Sekolah Dasar bertujuan agar siswa
mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang
dimilikinya berguna bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Proses
belajar pendidikan IPS yang diharapkan adalah proses belajar yang mampu
mengembangkan potensi yang dimiliki siswa, baik pengetahuan,
keterampilan dan maupun sikap. Menurut Bruce Joyce dalam Pendidikan
IPS memiliki tiga tujuan yaitu :

1. Pendidikan

Kemanusiaan

(Humamnistic

Education),

yaitu

membantu anak memahami pengalamanya dan menentukan arti


kehidupan,
2. Pendidikan Kewarganegaraan (Cisizenship education), yaitu siswa
ikut berpartisipasi secara efektif dalam dinamika kehidupan
masyarakat dengan penuh kesadaran sebagai warga negara,
3. Pendidikan Intelektual (intelectual education) siswa mampu
mengenalisa dan memecahkan masalah dengan menggunakan
Ilmu Sosial sebagai alat,
Banks (1985 :3) menyatakan bahwa tujuan utama Pendidikan IPS
adalah pengenalan kewarganegaraan, sehingga siswa dapat merefleksikan
dan mengambil keputusan serta mampu berpartisipasi dalam kehidupan
masyarakat, negara dan dunia. Adapun tujuan yang dimaksud meliputi
pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap.
Salah satu tujuan utama pendidikan IPS yang konsisten adalah
mengembangkan anak-anak dengan perilaku dan keterampilan seperti di
atas yang mendorong mereka untuk berpikir dan memecah masalah secara
bebas;(Jarolimek, 1993).
Pembaharuan dibidang IPS dirasakan kurang mendapat perhatian jika
dibandingkan dengan yang ada di bidang lain seperti IPA, Matematika,
dan Bahasa.
Pola kehidupan masyarakat merupakan salah satu sumber bagi
pembelajaran IPS. Dengan demikian dapat dipahami bahwa melalui

pembelajaran

IPS berbagai kemampuan

yang diharapakan

dapat

berkembang pada diri siswa khususnya kemampuan untuk dapat hidup


ditengah- tengah masyarakat dimana tempat siswa hidup.
Ilmu Pengetahuan Sosial di SD berfungsi untuk mengembangkan
pengetahuan nilai, sikap dan keterampilan siswa tentang masyarakat,
bangsa dan negara.

D. Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar


Proses

pembelajaran

dapat

terjadi

dalam

berbagai

model

pembelajaran. Pembelajaran tidak terlepas dari strategi guru dalam


menyampaikan materi pelejaran, strategi ini memiliki dua dimensi yaitu
dimensi perencanaan dan operasional. Pembelajaran adalah suatu proses
yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman sendiri
dalam interaksi dengan lingkungannya; (Sumaatmadja, 2003: 1.18).
Pengertian di atas dapat ditemukan prinsip yang menjadi landasan
pengertian pembalajaran yakni :
1. Pembelajaran sebagai usaha memperoleh perubahan tingkah laku,
2. Hasil belajar ditandai dengan perubahan tingkah laku,
3. Pembelajaran merupakan suatu proses,
4. Proses

pembelajaran

terjadi

karena

adanya

mendorong ada suatu tujuan yang akan dicapai,


5. Pembelajaran merupakan bentuk pengalaman.

sesuatu

yang

Pendidikan IPS sebagai suatu program pembelajaran yang membina


dan menyiapkan kehidupan sosial yang baik bagi peserta didik sebagai
warga negara dan warga masyarakat, diharapkan mamapu membina
perubahan dan harapan-harapan baru yang positif. Pelaksanaan pendidikan
IPS harus selalu mengikuti gejolak kehidupan dan perkembangan
masyarakat, bangsa, dan negara dan bahkan dunia pada umumnya.
Pembelajaran IPS di SD isi sajiannya harus pragmatis praktis sesuai
dengan tingkat perkembangan usia dan kemampuan pelajarnya.
Pendidikan IPS di Sekolah Dasar diandalkan untuk membina generasi
muda, agar memahami potensi dan peran dirinya dalam berbagai tata
kehidupannya dimasyarakat, melaluli pembelajaran IPS diharapakan siswa
memiliki minat, kecintaan terhadap pengetahuan kehidupan sosial. Oleh
karen itu, sekolah memiliki tanggung jawab unutk mentransmisikan
pengetahuan, keterampilan, nilai dan perilku yang sangat dibutuhkan oleh
generasi muda.

E. Pembelajaran Model Bermain Peran


1. Pengertian Bermain Peran
Metode bermain peran adalah berperan atau memainkan peranan
dalam dramatisasi masalah sosial atau psikologis.
Bermain peran adalah salah satu bentuk permainan pendidikan yang di
gunakan unutk menjelaskan perasaan, sikap, tingkah laku dan nilai, dengan

tujuan untuk menghayati perasaan, sudut pandangan dan cara berfikir


orang lain (Depdikbud, 1964:171).
Melalui

metode

bermain

peran

siswa

diajak

untuk

belajar

memecahkan masalah pribadi, dengan bantuan kelompok sosial yang


anggotanya teman-temannya sendiri. Dengan kata lain metode ini
berupaya membantu individu melalui proses kelompok sosial.
Melalui bermain peran, para siswa mencoba mengeksploitasi masalahmasalah hubungan antar manusia dengan cara memperagakannya.
Hasilnya didiskusikan dalam kelas.
Proses
diharapkan

belajar

dengan

siswa

mampu

menggunakan
menghayati

metode

tokoh

bermain

yang

peran

dikehendaki,

keberhasilan siswa dalam menghayati peran itu akan menetukan apakah


proses

pemahaman, penghargaan dan identifikasi diri terhadap nilai

berkembang: (Hasan, 1996: 266).

2. Tujuan Penggunaan Bermain Peran


Tujuan dari penggunaan metode bermain peran adalah sebagai berikut:
a. Untuk motivasi siswa,
b. Untuk menarik minat dan perhatian siswa,
c. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi
situasi dimana mereka mengalami emosi, perbedaan pendapat dan
permasalahan dalam lingkungan kehidupan sosial anak,
d. Menarik siswa untuk bertanya,

e. Mengembangkan kemampuan komusikasi siswa,


f. Melatih siswa untuk berperan aktif dalam kehidupan nyata,

3. Langkah-langkah dan persiapan bermain peran


Agar proses pelaksanaan pembelajaran IPS dengan menggunakan
metode bermain peran tidak mengalami kaku, maka perlu adanya langkahlangkah yang harus kita pahami terlebih dahulu ( Dahlan ; 1984) adalah
sebagai berikut :
1. Identifikasi masalah dengan cara memotivasi para peserta didik,
2. Memilih tema,
3. Menyusun skenario pembelajaran,
4. Pemeranan,
5. Tahapan diskusi dan evaluasi,
6. Melakukan pemeranaan ulang,melakukan diskusi dan evaluasi
tahap 2,
7. Membagi pengalaman dan menarik generalisasi,

4. Metode Bermain Peran Dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar


Penggunaan metode bermain peran tidak terlepas dari kegiatan tanya
jawab dan evalusi. Pembelajaran IPS dengan menggunakan bermain peran
siswa akan menemukan bahwa dengan

pemeranan para pemain dan

pengamat memiliki kesempatan untuk merefleksikan apa yang sedang


terjadi.

Bermain

peran

dapat

digunakan

untuk

mengekspesikan masalah-masalah hubungan

melatih

para

siswa

manusia, serta untuk

mengilustrasikan bagaimana bermain peran bisa digunakan untuk


mengembangkan kemampuan perasaan, sikap dan nilai.

BAB III
METODE PENELITIAN

Permasalahan mendasar dalam penelitian ini adalah terbatasnya minat


belajar siswa dalam pembelajaran IPS. Hal ini berkaitan dengan penggunaan
pendekatan, strategi pembelajaran dan metode yang digunakan. Penggunaan
metode bermain peran ini bertujuan untuk meningkatakan dan mengembangkan
minat siswa dan kemampuan inovasi profesional guru dalam pelaksanaan
pembelajaran pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Sosial di sekolah dasar. Dapat di
artikan bahwa penelitian ini juga membantu guru dalam meningkatkan dalam
pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Hal ini karena dapat melibatkan siswa
dalam pembelajaran IPS di kelas, melalui sebuah tindakan yang direncanakan,
dilaksanakan dan dievaluasi serta direfleksikan.
Penelitian tindakan kelas merupakan salah satu cara yang strategis bagi guru
untuk meningkatkan profesional keguruannya.
A. Pendekatan Metode penelitian
Penelitian ini bersifat melakukan perbaikan pembelajaran, oleh karena itu
metode yang di anggap tepat adalah metode penelitian tindakan kelas (clasroom
action research) yang difokuskan pada situasi kelas.
Metode yang terkandung dalam penelitian tindakan kelas yaitu suatu bentuk
penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan nyata agar
dapat memperbaiki dan meningkatkan praktek pembelajaran di kelas secara lebih

profesional. Tujuan akhir penelitian tindakan kelas adalah untuk meningkatkan


proses pembelajaran di kelas yang pelaksanaanya berulang-ulang.
Manfaat yang dapat dipetik jika melaksanakan penelitian tindakan kelas
menurut Suryanto ;(Darmawan, 1997: 41), antara lain dapat dilihat dan dikaji
dalam beberapa komponen pembelajaran yang mencakup antara lain : 1). Inovasi
pembelajaran, 2). Pengembangan kurikulum di tingkat sekolah dan di tingkat
kelas, dan 3). Peningkatan profesionalisme guru.
Penelitian

tindakan

kelas

ini

diharapkan

dapat

mendorong

dan

meningkatkan peran guru sebagai praktisi agar memiliki kesadaran diri,


melakukan refleksi terhadap aktifitas kinerja, bagi perbaikan atau peningkatan
tindakan pembelajaran, sehingga harapan untuk meningkatkan minat dan aktivitas
belajar anak dalam pembalajaran IPS dapat tercapai.
Untuk mendukung tujuan di atas, penelitian tindakan ini menggunakan
rancangan kualitatif-naturalistik yang biasa digunakan dalam penelitian
etnografis, dan didasarkan pada prinsip kealamiahan latar (natural setting)
berbasis lingkungan, situasional, kontekstual adaptif, dan bergantung dengan
realitas situasi sosial kelas.
Penggunaan rancangan kualitatif-naturistik ini dalam penelitian tindakan
kelas agar pengertian terhadap apa yang terjadi dalam kelas diperoleh langsung,
serta melalui keterlibatan dan partisipasi diri bersama guru dan konteks kelas
secara alamiah.

B. Tujuan dan Manfaat Penelitian


Penelitian tindakan kelas ini bertujuan mengkaji dan menganalisis secara
reflektif, partisifatip, dan kolaboratif terhadap realitas, kendala, problema aktual,
dan implikasi pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang dikembangkan
berdasarkan penggunaan metode bermain peran. Selanjutnya tujuan penelitian
tindakan kelas ini menemukan bahan informasi dan rujukan konseptual dalam
mengadakan perubahan, perbaikan dan peningkatan iklim pembelajaran Ilmu
Pengetahuan Sosial di sekolah dasar. Penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh guruguru di sekolah dasar sebagai pemberian bantuan profesional untuk menigkatkan
kinerja profesionalnya, khususnya dalam mengembangkan dan meningkatkan
kualitas iklim pembelajaran IPS yang aktif, partisipatif dan lebih mengacu kepada
kepentingan siswa.

C. Lokasi dan Subjek Penelitian.


Subjek penelitian ini adalah di kelas V (lima) Sekolah Dasar

Purnasatria 8

yang ada di wilayah Kecamatan Satria Alas, Kabupaten Gumelar Karya tahun
pelejaran 2010/2011 sejumlah 33 siswa. Unsur pelaku penelitian ini adalah guru
dan seluruh siswa kelas V (lima) yang terlibat dalam proses pembelajaran.
Penelitian ini dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan yang terdiri dari
perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan.
a)

Subjek Penelitian
Yang dijadikan subjek penelitian ini adalah hal peristiwa, manusia dan situasi
yang dapat di observasi. Dalam penelitian tindakan ini, yang dijadikan subjek

penelitian adalah kinerja guru dan siswa serta proses pembelajaran IPS
selama pelaksanaan program tindakan ini dengan menggunakan metode
bermain peran.
b) Data Penelitian
Data penelitian yang akan dikumpulkan dalam penelitian tindakan ini berupa
perkataan, tindakan, dokumen, situasi dan peristiwa yang dapat di observasi,
berkenaan dengan kinerja guru dan siswa, juga interaksi sosial yang terjadi
selama pembelajaran IPS berlangsung dengan menggunakan metode bermain
peran.
c)

Instrumen Penelitian
Dalam rancangan penelitian ini (kualitatif naturalistik) peneliti sendirilah
yang menjadi instrumen penelitian utama (human instrument) yang terjun
langsung ke lapangan untuk mengumpulkan sendiri data dan informasi yang
diperlukan.

d) Prosedur Dasar Penelitian Tindakan Kelas


Prosedur Dasar penelitian Tindakan Kelas (action research classrom) melalui
lima tahapan yaitu orintasi, perencanaan tindakan, observasi dan refleksi,
diuraikan sebagai berikut :
1) Orientasi yaitu studi pendahuluan sebelum

tindakan dan penelitian

tindakan dilakukan.
2) Perencanaan

yaitu

merencanakan

pembelajaran

yang

akan

diselenggarakan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan

menggunakan metode bermain peran, perencanaan disusun dan dipilh


secara efektip untuk dilaksanakan dalam berbagai situasi.
3) Tindakan yaitu kegiatan yang dilakukan pada tahap ini melaksanakan
kegiatan pembelajaran yang mengacu pada skenario yang telah
direncanakan dan disiapkan.
4) Observasi yaitu melakukan observasi atau pengamatan atas hasil tindakan
yang dilaksanakan selama pembelajaran berlangsung. Hasil observasi ini
menjadi dasar refleksi bagi tindak yang telah dilakukan dan untuk
penyusunan program selanjutnya..
5) Refleksi yaitu melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan refleksi
dimaksudkan untuk mendapatkan dasar bagi perbaikan secara tindakan
selanjutnya. Refleksi dilakukan pada akhir pelaksanaan seluruh tindakan
atau setelah pengembangan program tindakan dipandang cukup.
Prosedur di atas didasarkan pada model penelitian tindakan yang
dikemukakan Suharsimi, Suhardjono, Supardi (2006 :16) sebagaimana gambar
berikut ini :

Perencanaan

Refleksi

SIKLUS I

Pelaksanaan

Pengamatan

Perencanaan
Refleksi

SIKLUS II

Pelaksanaan

Pengamatan

D. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas


Siklus I

Perencanaan identifikasi

Merencanakan pembelajaran yang

masalah dan penetapan

akan diterapakan dalam KBM.

alternativ pemecahan

Menentukan pokok bahasan.

masalah

Mengembangkan

skenario

pembelajaran.
Menyusun LKS.
Menyiapkan sumber belajar.

Meyiapkan format wawancara


Mengembangkan format evalusi.
Mengembangkan format observsi
pembelajaran.
Tindakan

Menerapkan tindakan mangacu


kepada

skenario

pembelajaran

yang telah disiapkan dan LKS.


Pengamatan

Melakukan

observasi

dengan

memakai format observasi


Menilai hasil tindakan dengan
menggunakan format LKS
Refleksi

Melakukan

evaluasi

tindakan

yang telah dilakukan, meliputi


evalusi mutu, jumlah dan waktu
dari setiap macam tindakan
Melakukan

pertemuan

untuk

membahas hasil evaluasi tentang


skenario LKS
Memperbaiki

pelaksanaan

tindakan sesuai hasil evaluasi


untuk

digunakan

berikutnya.
Evalusi tindakan

pada

siklus

Indikator keberhasilan

Instrumen-instrumen yang telah

Siklus I

disiapkan pada siklus I dapat


terlaksana semua.
Siswa

mampu

belajar

atau

berdiskusi dengan teman dalam


membahas tugas yang diberikan
Siswa

mampu

belajar

dalam

bentuk kelompok
Diatas 50% siswa tertarik dalam
pembelajaran IPS

Siklus II

Perencanaan

Identifikasi

masalah

dan

penetapan alternatif pemecahan


masalah
Pengembangan program tindakan
II
Tindakan

Pelaksanaan program tindakan II

Pengamatan

Pengumpulan data tindakan II

Refleksi

Evaluasi tindakan

Indikator Keberhasilan

Instrumen-instrumen yang telah

Siklus II

disiapkan pada siklus II dapat


terlaksana semua

Minat dan perhatian siswa dalam


pembelajaran IPS meningkat
Diatas

75%

minat

siswa

meningkat dalam pembelajaran


IPS

BAB IV
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

A.

Gambaran Umum Hasil Penelitian


Kelas V SD Negeri Purnasatria 8. demikian sekolah dasar ini memiliki

program pengembangan sekolah. Jumlah siswa 197 orang,

jumlah tenaga

pengajar PNS sebanyak 8 orang, sukwan 1 orang dan penjaga sekolah.

B.

Gambaran Awal Proses Pembelajaran IPS


Ada dua aspek yang menjadi pembahasan tentang awal proses pembelajaran

IPS dalam penelitian ini, aspek tersebut meliputi jenis kelamin dan kegiatan
belajar siswa di sekolah. Kondisi siswa berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat
dalam tabel 4.1 berikut.
Tabel 4.1
Keadaan Siswa Kelas V SDN PURNASATRIA 8
No.

Jenis Kelalmin

Jumlah

1.

Laki-Laki

17

2.

Perempuan

16

Jumlah

33

Prosentase

1. Kegiatan Pembelajaran di Kelas


Kegiatan peneliti berupa studi pendahuluan pada pembelajaran IPS yang
berlangsung di Kelas. Studi pendahuluan ditujukan untuk mengetahui kondisi,

potensi, kekuatan dan kelemahan pembelajaran IPS yang biasa dilakukan oleh
guru di kelas. Data mengenai situasi pembelajaran saat ini dikumpulkan melalui
wawancara, dan observasi.
Kegiatan pertama dalam studi pendahuluan berupa wawancara kepada siswa
kelas V.
Ada tiga hal yang ingin digali dari siswa berkaitan dengan wawancara yang
dilakukan. Pertanyaan berkisar kesiapan siswa belajar, kesungguhan dalam proses
pembelajaran dan perubahan pola pembelajaran yang diharapkan siswa.
Tabel 4.2
No.

Pertanyaan

Jawaban

Prosentase

1.

Apakah kalian mengetahui


apa yang akan dipelajari pada
hari ini

Ya
Tidak

35
65

2.

Apakah kalian tahu untuk apa


tujuan belajar hari ini

Ya
Tidak

67
33

3.

Senangkah kalian belajar IPS

Ket.

12 orang
menjawab
senang
sedangkan 21
orang menjawab
tidak senang

Dari tabel diatas diketahui bahwa sebagian besar sudah mengetahui apa
yang dipelajari dan sedikit siswa yang mengetahui dari tujuan pembelajaran yang
akan dicapai. Rasa senang belajar IPS juga hanya dimiliki oleh 12 orang siswa
dari 33 siswa yang diwawancarai, selebihnya menyatakan tidak tertarik karena
pembelajaran IPS banyak yang harus di ingat atau dihafalkan.

Pertanyaan wawancara kedua berkisar tentang perubahan yang diinginkan


siswa. Pertanyaan ini merupakan pertanyaan kelanjutan karena banyak siswa yang
kurang senang atau berminat dalam pembelajaran IPS.
Tabel 4.3
No.

Pertanyaan

Jawaban

1.

Apa yang kurang disenangi


pada saat pembelajaran IPS

2.

Seringkah kamu belajar


kelompok saat belajar IPS

Jarang

Senangkah kamu apabila


terus mendengarkan guru
dalam belajar IPS

Tidak

Banyak hafalan
Membosankan

Prosentase

65
67

100

Perubahan yang diinginkan siswa dalam pembelajaran IPS meliputi cara


belajar, desain pembelajaran agar lebih meningkatkan minat siswa dalam
pembelajaran IPS.
Kesimpulan yang didapatkan dari hasil studi pendahuluan melalui
wawancara adalah sebagai berikut :
1. Siswa sudah mengetahui hal yang akan dipelajari dan siap untuk belajar.
2. Siswa tidak banyak mengetahui tujuan pembalajaran yang akan
dicapainya.
3. Cara belajar siswa masih mengerjakan soal-soal latihan dan mendengarkan
penjelasan guru.
4. Siswa menginginkan perubahan cara belajar yang membuat pembelajaran
lebih menarik sehingga siswa berminat dan termotivasi.

1.

Rencana Pembelajaran
Rencana pembelajaran yang dibuat guru melilputi silabus, program semester,

dan rencana pelaksanaan pembelajaran , komponen RPP terdiri dari standar


kompetensi, kompetensi dasar, indikator, materi pembelajaran, metode, media
pembelajaran dan evaluasi.

2.

Pelaksanaan Pembelajaran
Sesuai dengan perencanaan yang dibuat, pembelajaran berlangsung dalam

klasikal, guru berperan penting sebagai narasumber dalam pembelajaran.


Informasi yang didapatkan dari guru diserap anak melalui metode ceramah, siswa
tidak bertanya kendati diberi kesempatan untuk bertanya. Guru memberikan soal
latihan sebagai pengganti tanya jawab yang tidak diminati siswa.
Pada akhir pembelajaran memberikan PR kepada siswa.
Dari hasil observasi selama pembelajaran berlangsung dapat disimpulkan sebagai
berikut :
1.

Guru menduduki peran penting sebagai sumber dalam pembelajaran.

2.

Siswa tidak antusias bertanya.

3.

Jalannya pembelajaran

sangat biasa,

tidak

nampak inovasi proses

pembelajaran yang berbeda.


Setelah pembelajaran berakhir, peneliti dengan guru kelas V berdiskusi
tentang hasil wawancara dan observasi. Hasil diskusi sebagai berikut :
a)

Diperlukan perubahan pendekatan yang selama ini digunakan.

b) Diperlukan inovasi strategi, metode, dan model pembelajaran yang membuat


siswa berminat dan termotivasi untuk senang belajar IPS.

2.

Penelitian Siklus I

a.

Perencanaan siklus I
Perencanaan siklus I diawali dengan menyusun desain pembelajaran
berdasarkan

hasil

kajian.

Desain

pembelajaran

berbentuk

rencana

pelaksanaan pembelajaran (RPP).


b.

Pelaksanaan
Pelaksanaan pembelajaran siklus I dilakukan pada bulan Juli 2010 pada hari
selasa tanggal 20 Juli 2010. Pembelajaran berlangsung 2 x 35 menit.

c.

Refleksi
Refleksi atas rencana. Proses, dan hasil pembelajaran dilakukan sesuai
pelaksanaan pembelajaran pada siklus I. Refleksi dilakukan terhadap
penyusunan desain pembelajaran berupa RPP, proses pembelajaran, dan hasil
belajar setelah siswa menjalani proses pembelajaran dengan penekanan pada
minat siswa.

3.

Penelitian Siklus II

a.

Perencanaan Siklus II
Perencanaan pada siklus II meliputi pembuatan rencana pembelajaran, hasil
refleksi siklus I menunjukan perlunya perbaikan rencana pembelajaran. RPP
diatas menjadi dasar pelaksanaan pembelajaran pada siklus II.

b.

Pelaksanaan
Pelaksanaan penelitian siklus II dilangsungkan pada minggu ke 4 Januari
tanggal 27 Juli 2010. Seperti yang terjadi pada siklus I pelaksanaan dimulai
dengan kegiatan awal memberikan materi pengait sebagai bahan apresepsi.
Dilanjutkan ke materi pokok yaitu masih tentang Perang Diponogoro (19251930), dengan menggunakan metode bermain peran dan siswa memainkan
tokoh yang ada pada Perang Diponegoro.
Pada siklus ke dua ini diarahkan pada kemampuan guru dalam mengerahkan
siswa untuk bermain peran yang labih baik dari pada siklus pertama. Dari
gambar dialogis yang dilakukan siswa dalam kegiatan bermain peran pada
siklus kedua, nampaknya sudah sesuai dengan skenario pembelajaran yang
diharapkan guru. Observasi yang dilakukan oleh peneliti terhadap tampilan
guru dalam pembelajaran IPS menampakan bahwa guru telah berupaya untuk
menyerahkan siswa agar terfokus pada materi pembelajaran. Kegiatan dialog
terhadap siswa yang dihubungkan dengan pendekatan kejadian menjadikan
iklim pembelajaran semakin menarik dari respon-respon siswa dengan
menggunakan metode bermain peran sehingga minat siswa terhadap
pembelajaran IPS meningkat.

c.

Refleksi
Refleksi dilakukan terhadap perencanaan pembelajaran, proses pembelajaran
dan hasil belajar setelah siswa menjalani desain pembelajaran yang bertujuan
untuk meningkatkan minat belajar siswa dalam pembelajaran IPS.

Dari dua kegiatan penelitian (tindakan satu dan tindakan dua), dapat kita
cermati bahwa kreatifitas siswa semakin meningkat. Hal ini ditandai dengan
bagaimana siswa (siklus satu) gemetar dan gugup saat mengungkapkan ke
dalam dialog. Berbeda pada siklus kedua dimana spontanitas siswa dalam
dialog sangat terlihat antusias dan senang. Sehingga pembelajaran yang aktif,
kreatif dan menyenangkan, minat belajar yang tinggi dapat meningkat hasil
belajar siswa.

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil uraian dari pembahasan tindakan pembelajaran dengan
menggunakan metode bermain peran pada siswa kelas V SDN Purnasatria 8 dapat
ditarik simpulan dan saran sebagai berikut :
A. Simpulan
1. Pelaksanaan pembelajaran IPS melalui penggunaan metode bermain peran
dapat meningkatkan minat siswa dalam pembelajaran IPS menjadi
menarik minat dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
2. Pengembangan pembelajaran IPS dengan menggunakan metode bermain
peran terbukti meningkatkan minat belajar siswa SD, ini terlihat dari
rencana pembelajaran hingga proses pembelajaran dengan menetapkan
siswa sebagai pemeran aktif dalam pembelajaran yang didesain.
3. Penggunaan metode bermain peran dalam pembelajaran IPS tujuan
utamanya untuk meningkatkan minat siswa. Dalam belajar IPS yang
terlihat peningkatan minat siswa dalam pembelajaran IPS meningkat serta
prestasi belajar menunjukan kenaikan serta proses pembelajaran lebih
menarik dan menyenangkan.
B. Saran-Saran
Berdasarkan hasil penelitian, ada beberapa hal yang perlu di sampaikan untuk
dijadikan bahan pertimbangan dan masukan bagi pihak yang akan

menggunakan metode bermain peran. Saran-saran peneliti ajukan kepada


Guru, Kepala Sekolah, Instansi terkait, dan peneliti selanjutnya.
1. Guru
Hendaknya guru melakukan kajian mendalam tentang metode bermain
peran dalam pembelajaran IPS. Guru perlu menjalin hubungan baik
dengan kepala sekolah, teman, siswa dan orang tua siswa sebab faktorfakor tersebut dapat menjadi penentu keberhasilan pendidikan di sekolah
2. Kepala Sekolah
Sebagai manajer sekolah, hendaknya mampu memberikan situasi yang
kondusif bagi pengembangan kemampuan guru dalam menjalankan
tugasnya sebagai profesional di sekolah. Kepala sekolah pun perlu
mengevaluasi program sekolah sehingga diketahui keberhasilan sekolah
yang dapat menjadi keunggulan sekolah tersebut.
3. Instansi terkait
Hendaknya memberikan kesempatan kepada guru secara merata untuk
mengikuti pendidikan dan pelatihan yang relevan. Pembinaan rutin pun
kepada guru juga perlu diberikan agar guru senantiasa menjaga
kemampuannya dan disiplin.
4. Untuk peneliti selanjutnya
Hendaknya mengkaji dan menelaah masalah-masalah yang berkaitan
dengan penggunaan metode bermain peran dengan lebih luas seperti
kerangka teoritis maupun saat menerapkan metode ini di sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud (1999). Penelitian Tindakan Kelas , Jakarta : Depdikbud


AI Muchtar, S (2001) Epistemologi Pendidikan IPS , Bandung; Gelar Pustaka
Mandiri
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Suplemen kurikulum 1994) Jakarta;
Depdikbud
Dahlan MD. (1990) Model-model Mengajar, Bandung; Diponogoro.
David, I.K (1987) Pengelolaan Belajar, Jakarta: David_MC. Coy, Inc
Dahar. RW. (1996) Teori-teori Belajar , Jakarta ; Erlangga.
Gulo W (2002) Strategi belajar mengajar, Jakarta; Gramedia.
Hasan S.N (1996) Pendidikan ilmu-ilmu sosial buku 1 dan 2, Bandung, Jurusan
Pendidikan Sejarah UPI.
Maleong, lai (2004) Metologi pendekatan kualitatif, Bandung; Remaja
Rosdakarya
Suharsimi, Suhardjono, Supardi (2006) Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta; PT.
Bumi Aksara
Sukamadinata (2006), Kurikulum dan Pembelajaran kompetensi; Bandung:
Yayasan Kusuma karya.