Anda di halaman 1dari 9

Contoh PTK TIK SMA/ SMK/ MA:

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN


KOOPERATIF TIPE STAD UNTUK
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR
SISWA PADA MATA PELAJARAN TIK
KELAS XI SEMESTER 2
A. JUDUL
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD UNTUK MENINGKATKAN
HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN TIK KELAS XI SEMESTER 2 TAHUN
PELAJARAN 2010/2011 MAN 1 BANDUNG
B. LATAR BELAKANG MASALAH
Pembelajaran merupakan perpaduan yang harmonis antara antara kegiatan
pengajaran yang dilakukan guru dan kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa.
Dalam kegiatan pembelajaran tersebut, terjadi interaksi antara siswa dengan siswa,
interaksi antara guru dan siswa, maupun interaksi antara siswa dengan sumber
belajar. Diharapkan dengan adanya interaksi tersebut, siswa dapat membangun
pengetahuan secara aktif, pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, serta dapat memotivasi peserta didik sehingga
mencapai kompetensi yang diharapkan.
Pelaksanaan pembelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIK) merespons
jauh lebih cepat berbagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan, dan
teknologi. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan relevansi program pembelajaran
TIK dengan keadaan dan kebutuhan sekarang dan masa yang akan datang.
Kompetensi TIK diharapkan mampu menyeimbangkan pertumbuhan keimanan dan
ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, penguasaan kecakapan hidup,
penguasaan tehnologi, informasi sehingga tumbuh generasi yang kuat dan
berakhlak mulia.
Melihat dari uraian tersebut maka mata pelajaran TIK seharusnya merupakan suatu
pelajaran yang ditunggu-tunggu, disenangi, menantang dan bermakna bagi peserta
didik. Kegiatan belajar mengajar mengandung arti interaksi dari berbagai
komponen, seperti guru, murid, bahan ajar, media dan sarana lain yang digunakan
pada saat kegiatan berlangsung.
Dalam upaya menciptakan proses belajar mengajar yang efektif dan efisien, maka
guru perlu memperhatikan prinsip-prinsip mengajar diantaranya menggunakan alat
bantu mengajar atau alat peraga. Bahwa dalam prinsip mengajar yaitu sebagai
guru, diharapkan mampu memperhatikan perbedaan individual siswa,
menggunakan variasi metode mengajar; menggunakan alat bantu mengajar;
melibatkan siswa secara aktif; menumbuhkan minat belajar siswa, dan menciptakan

situasi belajar mengajar yang kondusif.


Konsentrasi diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar karena kegiatan belajar
mengajar memerlukan perhatian khusus. Dengan adanya konsentrasi belajar dapat
meningkatkan intelektual, emosional dan mental siswa. Siswa merasakan bahwa
belajar merupakan suatu kebutuhan, sehingga siswa benar-benar berkonsentrasi
atau memusatkan perhatiannya pada materi pelajaran yang sedang dipelajarinya.
Jika siswa berkonsentrasi dalam belajar, maka tujuan belajar mengajar atau prestasi
belajar akan mudah tercapai.
Proses pembelajaran dapat dirancang tidak hanya berinteraksi dengan guru sebagai
satu-satunya sumber belajar yang mungkin dapat dipakai untuk mencapai hasil
pembelajaran, melainkan mencakup interaksi dengan semua sumber belajar yang
mungkin dapat dipakai untuk mencapai hasil yang bermakna.
Dalam kegiatan pembelajaran guru sebaiknya memperhatikan perbedaan individual
peserta didik, yaitu pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis. Kerangka
pemikiran demikian dimaksudkan agar guru mudah dalam melakukan pendekatan
kepada setiap peserta didik secara individual. Peserta didik sebagai individu
memliki perbedaan sebagaimana disebutkan di atas. Pemahaman ketiga aspek
tersebut akan merapatkan hubungan guru dengan peserta didik, sehingga
memudahkan melakukan pendekatan mengajar.
Berdasarkan data dari MAN 1 Bandung diperoleh gambaran bahwa penerapan
metode pembelajaran TIK sebagian besar menggunakan metode praktikum dan
tutorial sebaya di lab komputer, tanpa adanya aktivitas yang bervariasi dan
melibatkan sisi psikologis yang cukup berarti bagi siswa, melainkan hanya
berkonsentrasi pada tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Begitu juga akibat
padatnya materi dan penyampaian pembelajaran hanya menggunakan metode
praktikum di depan komputer, membuat siswa menjadi bosan dan jenuh menerima
pembelajaran TIK tersebut. Padahal, dalam membahas pelajaran TIK tidak cukup
hanya menekankan pada praktikum di depan komputer, tetapi yang lebih penting
adalah keterampilan proses dan pengembangan ilmu diri siswa itu sendiri. Sehingga
perolehan hasil belajar pada mata pelajaran TIK di MAN 1 Bandung siswa kelas XI
rata-rata masih berkisar pada angka KKM. Oleh sebab itu, proses pembelajaran TIK
yang tepat sasaran sangat diperlukan untuk mempermudah proses tercapainya
tujuan apa yang diharapkan dari pembelajaran TIK.
Dari uraian di atas bahwa mata pelajaran TIK mempunyai nilai yang strategis dan
penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul, handal, dan
bermoral semenjak dini. Hal yang menjadi hambatan selama ini dalam
pembelajaran TIK adalah disebabkan kurang dikemasnya pembelajaran TIK
dengan metode pembelajaran yang menarik, menantang, dan menyenangkan.
Supaya pembelajaran TIK menjadi pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif
dan menyenangkan (PAIKEM), dapat dilakukan melalui berbagai macam cara. Salah
satu caranya yaitu melalui penerapan model pembelajaran kooperatif dengan tipe
STAD (Student Teams Achievement Divisions). Namun seberapa jauh
keefektifitasannya model pembelajaran tersebut dalam meningkatkan hasil belajar
siswa, akan dilakukan penelitian yang salah satunya dengan menggunakan
penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas merupakan suatu
pendekatan untuk memperbaiki pendidikan melalui perubahan, dengan mendorong
para guru untuk memikirkan praktik mengajarnya sendiri, agar kritis terhadap
praktik tersebut dan agar mau untuk mengubahnya (Harjodipuro, 1997:6).
Penelitian model pembelajaran kooperatif dengan tipe STAD ini sejalan dengan

penelitian lain yaitu rerata peningkatan keaktifan dan hasil belajar mata diklat
perhitungan Statika Bangunan pada siswa yang menggunakan model pembelajaran
Cooperative Learning STAD lebih tinggi dibandingkan dengan metode konvensional.
Dengan demikian pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
Cooperative Learning STAD lebih efektif dalam meningkatkan keaktifan dan hasil
belajar mata diklat Perhitungan Statika Bangunan dibandingkan metode
konvensional. (Adhi Kurniawan ,2005)
B. IDENTIFIKASI MASALAH
Memperhatikan latar belakang di atas, kondisi yang ada saat ini adalah :
1. Model pembelajaran yang digunakan saat ini cenderung bersifat konvensional.
2. Rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran TIK siswa kelas XI semester 2
tahun pelajaran 2010/2011 MAN 1 Bandung.
C. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, perumusan masalah adalah :
1. Bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada
pembelajaran TIK?
2. Apakah ada perubahan hasil belajar siswa dengan digunakannya model
pembelajaran kooperatif tipe STAD pada pembelajaran TIK siswa kelas XI semester
2 tahun pelajaran 2010/2011 MAN 1 Bandung?
D. CARA MEMECAHKAN MASALAH
Metode pemecahan masalah yang akan digunakan dalam Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) ini, yaitu model pembelajaran kooperatif dengan tipe STAD (Student Teams
Achievement Divisions). STAD dikembangkan oleh Slavin di Universitas John Hopkin
Amerika Serikat dan merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling
sederhana (Ibrahim dkk, dalam yeni susilowati, 2006).
Dengan model pembelajaran ini, diharapkan hasil belajar siswa siswa kelas XI
semester 2 tahun pelajaran 2010/2011 MAN 1 Bandung dalam pelajaran TIK
meningkat.
E. HIPOTESIS
Hipotesis sebagai suatu jawaban sementara terhadap masalah penelitian sampai
terbukti data yang terkumpul (Arikunto, 1993: 67).
Penelitian tindakan kelas sebagai serangkaian langkah yang membentuk spiral.
Setiap langkah Penelitian tindakan kelas memiliki empat tahap, yaitu perencanaan
(planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting) (Joko
Nurkamto, 2010).
Dengan demikian, maka hipotesis dapat dirumuskan adalah, melalui penerapan
model pembelajaran kooperatif dengan tipe STAD hasil belajar siswa pada mata
pelajaran TIK siswa kelas XI semester 2 tahun pelajaran 2010/2011 MAN 1 Bandung
dapat meningkat.
F. TUJUAN PTK
Tujuan dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini adalah :
1. Guru dapat menerapkan strategi pembelajaran kooperatif tipe STAD sehingga
mampu meningkatkan kualitas pembelajaran TIK
2. Melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD, siswa mampu
meningkatkan hasil belajar dalam mata pelajaran TIK siswa kelas XI semester 2

tahun pelajaran 2010/2011 MAN 1 Bandung


G. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat yang diperoleh dari PTK antara lain :
1. Proses belajar mengajar TIK tidak lagi bersifat konvensional.
2. Strategi pembelajaran yang lebih tepat, bersifat variatif, sehingga membuat anak
didik nyaman saat pembelajaran berlangsung.
3. Menumbuhkan keaktifan siswa dalam mengerjakan tugas mandiri maupun
kelompok.
4. Menanamkan keberanian siswa mengungkapkan ide, pendapat, pertanyaan, dan
saran meningkat.
5. Meningkatnya kualitas pembelajaran TIK.
6. Meningkatknya hasil belajar siswa dalam mata pelajaran TIK.
H. KAJIAN TEORI
1. Model pembelajaran kooperatif
Falsafah yang mendasari model pembelajaran Cooperative Learning group adalah
falsafah homo homini socius yang menekankan bahwa manusia sebagai mahluk
sosial yang saling bekerja sama dan saling membutuhkan antara satu dengan yang
lain. Struktur tujuan kooperatif terjadi jika siswa dapat mencapai tujuan mereka
hanya jika siswa lain dengan siapa mereka bekerja sama mencapai tujuan tersebut.
Tiap-tiap individu ikut andil menyumbang pencapaian itu. Siswa yakin bahwa tujuan
mereka akan tercapai jika dan hanya jika siswa lainnya juga mencapai tujuan
tersebut. Pola pencapai tujuan dalam pembelajaran kooperatif ini dapat
digambarkan seperti dua orang yang memikul balok. Balok akan dapat dipikul
bersama-sama jika dan hanya jika kedua orang tersebut berhasil memikulnya.
Demikian pula halnya dengan tujuan yang akan dicapai oleh suatu kelompok siswa
tertentu. Tujuan kelompok akan tercapai apabila semua anggota kelompok
mencapai tujuannya secara bersama-sama. Unsur-unsur dasar pembelajaran
kooperatif yaitu sebagai berikut: (a) Siswa dalam kelompoknya harus merasakan
bahwa mereka sehidup semati; (b) Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu
di dalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri; (c) Siswa harus melihat bahwa
semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama; (d) Siswa harus
membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya; (e)
Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan penghargaan yang juga akan
dikenakan untuk semua anggota kelompok; (f) Siswa berbagi kepemimpinan dan
mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses
belajarnya; (g) Siswa akan diminta mempertangungjawabkan secara individu materi
yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan pembelajaran yang
mengutamakan adanya kerjasama antarsiswa dalam kelompok untuk mencapai
tujuan pembelajaran (Yeni Susuilowati, 2006). Roger dan David Johnson dalam (Yeni
Susilowati. 2006), menjelaskan ada lima unsur pembelajaran kooperatif
(pembelajaran gotong royong) yang harus diterapkan, yaitu :
a. Saling ketergantungan positif
Keberhasilan kelompok sangat tergantung pada usaha setiap anggotanya.
b. Tanggung jawab perseorangan
Setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik.
c. Tatap muka
Setiap kelompok harus diberi kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi.

d. Komunikasi antar anggota


Suatu kelompok tergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling
mendengarkan dan kemampuan mereka mengutarakan pendapat.
e. Evaluasi proses kelompok
Setiap kelompok harus melakukan evaluasi hasil kerja sama mereka agar
selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.
Adapun model pembelajaran kooperatif ada 4 macam yaitu :
a. STAD (Student teams Achievement Division)
Dalam STAD siswa ditempatkan dalam tim-tim belajar beranggotakan empat sampai
lima siswa yang heterogen. Adanya penghargaan kelompok dari hasil penilaian.
b. TGT (Teams Games Tournament)
Siswa memainkan permainan dengan tim lain untuk memperoleh skor tambahan
bagi timnya.
c. JIGSAW
Siswa dikelompokkan ke dalam tim beranggotakan enam orang yang mempelajari
materi yang dibagi menjadi beberapa subbab kemudian anggota dari tim yang
berbeda bertemu dalam kelompok ahli.
d. Group Investigation
Teknik pembelajaran kooperatif dimana para siswa bekerja dalam kelompok kecil
untuk menangani berbagai macam proyek kelas. Dalam metode ini point tidak
diberikan.
2. Pembelajaran STAD
STAD (Student Team Achievement Division) dikembangkan oleh Slavin di Universitas
John Hopkin Amerika Serikat dan merupakan model pembelajaran kooperatif yang
paling sederhana (Ibrahim dkk, 2000:20).
Inti dari model STAD antara lain guru menyampaikan suatu materi, kemudian para
siswa bergabung dalam kelompoknya yang terdiri atas empat sampai lima orang
untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh guru. Setelah selesai mereka
menyerahkan pekerjaannya secara tunggal untuk setiap kelompok kepada guru.
Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah sebagai berikut :
a. Para siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing
terdiri atas 4 atau 5 anggota kelompok. Tiap kelompok mempunyai anggota yang
heterogen, baik jenis kelamin, ras, etnik, maupun kemampuannya (prestasinya).
b. Guru menyampaikan materi pelajaran
c. Guru memberikan tugas kepada kelompok dengan menggunakan lembar kerja
akademik, dan kemudian di dalam kelompok saling membantu untuk menguasai
materi pelajaraan yang telah diberikan melalui tanya jawab atau diskusi antar
sesama anggota kelompok.
d. Guru memberikan pertanyaan atau kuis kepada seluruh siswa. Pada saat
menjawab pertanyaan atau kuis dari guru, siswa tidak boleh saling membantu.
e. Setiap akhir pembelajaran guru memberikan evaluasi untuk mengetahui
penguasaan siswa terhadap bahan akademik yang telah dipelajari.
f. Tiap siswa dan tiap kelompok diberi skor atas penguasaannya terhadap materi
pelajaran, dan kepada siswa secara individual atau kelompok yang meraih prestasi
tinggi atau memperoleh skor sempurna diberi penghargaan.
Untuk memudahkan penerapannya, guru perlu membaca tugastugas yang harus
dikerjakan tim, antara lain:
a. Meminta anggota tim bekerja sama mengatur meja dan kursi, serta memberikan
siswa kesempatan sekitar 10 menit untuk memilih nama tim mereka atau
ditentukan menurut kesesuaian.

b. Membagikan lembar kerja siswa (LKS).


c. Menganjurkan kepada siswa pada tiap-tiap tim bekerja berpasangan (dua atau
tiga pasangan dalam satu kelompok).
d. Memberikan penekanan kepada siswa bahwa LKS itu untuk belajar, bukan untuk
sekedar diisi dan dikumpulkan. Karena itu penting bagi siswa diberi lembar kunci
jawaban LKS untuk mengecek pekerjaan mereka pada saat mereka belajar. e.
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling menjelaskan jawaban mereka,
tidak hanya mencocokkan jawaban mereka dengan lembar kunci jawaban tersebut.
e. Apabila siswa memiliki pertanyaan, mintalah mereka mengajukan pertanyaan itu
kepada teman atau satu timnya sebelum menanyakan kepada guru.
3. Hasil Belajar
a. Arti Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima
pengalaman belajar. Hasil belajar ini menurut Bloom diklasifikasikan menjadi 3
ranah yaitu kognitif, afektif dan psikomotor (Sudjana, 2001:22).
Ketiga ranah tersebut menjadi obyek penilaian hasil belajar. Di antara ketiga ranah
itu, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru karena berkaitan
dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pelajaran. Hasil belajar
dapat dilihat dari hasil nilai ulangan harian (formatif), nilai ulangan tengah semester
(subsumatif), dan nilai ulangan semester (sumatif). Dalam penelitian tindakan kelas
ini, yang dimaksud hasil belajar siswa adalah hasil nilai harian yang diperoleh siswa
dalam mata pelajaran TIK. Ulangan harian dilakukan setiap selesai proses
pembelajaran dalam satuan bahasan atau kompetensi tertentu. Ulangan harian ini
terdiri dari seperangkat soal yang harus dijawab para peserta didik, dan tugas-tugas
terstruktur yang berkaitan dengan konsep yang sedang dibahas. Ulangan harian
minimal dilakukan tiga kali dalam setiap semester. Tujuan ulangan harian untuk
memperbaiki modul dan program pembelajaran serta sebagai bahan pertimbangan
dalam memberikan nilai bagi para peserta didik.
Pencapaian hasil belajar yang optimal dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
a. Kesiapan belajar
Kesiapan belajar merupakan kondisi awal suatu kegiatan belajar baik kesiapan fisik
maupun psikologis.
b. Motivasi
Motivasi merupakan motif yang sudah menjadi aktif saat orang melakukan suatu
aktivitas. Motif adalah kekuatan yang terdapat dalam diri seseorang yang
mendorong orang tersebut melakukan kegiatan tertentu untuk mencapai tujuan.
c. Keaktifan siswa
Yang melakukan belajar adalah siswa sehingga siswa harus aktif dan tidak boleh
pasif. Dengan bantuan guru siswa harus mampu mencari, menemukan, dan
menggunakan pengetahuan yang dimilikinya.
d. Mengalami sendiri
Siswa hendaknya tidak hanya tahu secara teoritis, tetapi juga secara praktis
sehingga akan diperoleh pemahaman yang mendalam.
e. Pengulangan
Agar materi semakin mudah diingat perlu diadakan latihan yang berarti siswa
mengulang materi yang dipelajari.
f. Balikan dan Penguatan
Balikan merupakan masukan yang sangat penting bagi siswa maupun guru.
Penguatan adalah tindakan yang menyenangkan dari guru terhadap siswa yang
telah berhasil untuk melakukan sesuatu perbuatan belajar (Darsono, 2000 : 26).

Faktor faktor yang mempengaruhi hasil belajar tersebut antara lain :


a. Faktor dalam, yaitu faktor-faktor yang berasal dari siswa yang sedang belajar,
antara lain :
1) Faktor Fisiologis, meliputi: kondisi fisiologis dan panca indera Faktor fisiologis
berhubungan dengan pertumbuhan fisik anak. Setiap anak mengalami
pertumbuhan fisik yang tidak sama dan bervariasi. Beberapa faktor yang
mempengaruhi perbedaan pertumbuhan ini adalah faktor keturunan, kesehatan,
dan gizi makanan. Anak yang selalu sehat dengan makanan yang cukup bergizi
akan menunjukkan pertumbuhan yang lebih cepat dan lebih baik. Dengan
pertumbuhan fisik yang baik dan sehat diharapkan anak akan lebih mudah
menerima pelajaran (Hariyadi, 1998:20). Implementasinya dalam pembelajaran,
perlu diperhatikan sarana dan prasarana yang ada jangan mengganggu kesehatan,
serta diciptakan pembelajaran yang mengajak siswa aktif sehingga fisiknya juga
terlatih. Pembelajaran kooperatif STAD merupakan pembelajaran berkelompok yang
heterogen. Faktor fisiologis dalam pembelajaran STAD ini adalah jenis kelamin.
Setiap tim atau kelompok terdiri dari campuran siswa putra dan putri. Hal ini
bertujuan agar terjadi interaksi antara siswa putra dan putri. Pembelajaran STAD
juga mengajak siswa untuk aktif sehingga dapat melatih fisik siswa.
2) Faktor Psikologis, meliputi: minat, kecerdasan, bakat, motivasi dan kemampuan
kognitif. Faktor psikologis sangat mempengaruhi kondisi siswa dalam proses
pembelajaran. Siswa yang memiliki minat dan motivasi belajar yang tinggi
cenderung lebih memperhatikan pelajaran daripada siswa yang minat dan
motivasinya kurang. Demikian halnya dengan kecerdasan dan bakat. Siswa yang
lebih cerdas dan lebih berbakat akan mempunyai hasil belajar serta kemampuan
kognitif yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang kurang cerdas dan kurang
berbakat (Winkel, 1986:30-31). Dalam pembelajaran STAD siswa dikelompokkan
berdasarkan tingkat kecerdasan dan kemampuan kognitifnya. Setiap tim terdiri dari
siswa yang pandai, sedang dan kurang karena STAD lebih menekankan pada
kegiatan belajar kelompok, dimana siswa secara aktif berdiskusi, kerja sama dan
saling membantu.
b. Faktor luar, yaitu faktor-faktor yang berasal dari luar diri siswa, antara lain :
1) Faktor Lingkungan, terdiri dari lingkungan alami dan sosial budaya Lingkungan di
mana siswa berada atau tinggal sangat mempengaruhi proses belajar siswa.
Lingkungan ini terdiri dari keluarga dan masyarakat, dengan segala kondisinya
seperti kondisi ekonomi, sosial budaya dan lingkungan alam. Sebagai contoh,
keluarga yang kondisi ekonominya kurang dapat menghambat anak untuk
mendapatkan pendidikan yang lebih baik dan juga dapat mempengaruhi kondisi
psikis anak dalam belajar misalnya rasa minder.
2) Faktor Instrumental, meliputi: kurikulum, program, sarana dan fasilitas serta
guru.
Faktor instrumental juga sangat mempengaruhi dalam penyelenggaraan
pembelajaran. Apabila sarana dan fasilitas belajar memadai maka proses
pembelajaran akan berjalan dengan lancar. Kurikulum berfungsi sebagai patokan
atau pedoman dalam kegiatan pembelajaran. Oleh sebab itu, kurikulum hendaknya
disusun dengan baik, sesuai dengan perkembangan dan kemajuan yang terjadi saat
ini. Guna mencapai pembelajaran yang efektif, kena sasaran, dan berkualitas, guru
dituntut untuk lebih kreatif dan profesional.
b. Kawasan Hasil Belajar
a. Kawasan Kognitif (pemahaman)
Tujuan kognitif berorientasi kepada kemampuan berfikir, mencakup kemampuan

intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan


memecahkan masalah yang menuntutkan siswa untuk menghubungkan dan
menggabungkan gagasan, metode, atau prosedur yang sebelumnya dipelajari untuk
memecahkan masalah tersebut. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kawasan
kognitif adalah subtaksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental yang
sering berawal dari tingkat pengetahuan sampai ketingkat yang paling tinggi.
Taksonomi di sini diartikan sebagai salah satu metode klasifikasi tujuan instruksional
secara berjenjang dan progresif ke tingkat yang lebih tinggi.
Kawasan kognitif terdiri dari enam tingkatan dengan aspek belajar yang berbedabeda. Keenam tingkat tersebut adalah :
1) Tingkat pengetahuan (knowledge)
Tingkat ini menuntut siswa untuk mampu mengingat (recall) informasi yang telah
diterima sebelumnya, seperti misalnya: fakta, rumus, strategi pemecahan masalah,
dan sebagainya.
2) Tingkat pemahaman (comprehension)
Kategori pemahaman dihubungkan dengan kemampuan untuk menjelaskan
pengetahuan, informasi yang telah diketahui dengan kata-kata sendiri.
3) Tingkat penerapan (aplication)
Penerapan merupakan kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan
informasi yang telah dipelajari ke dalam situasi yang baru, serta memecahkan
berbagai masalah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari.
4) Tingkat analisis (analysis)
Analisis merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi, memisahkan dan
membedakan komponen-komponen atau elemen suatu fakta, konsep, pendapat,
asumsi, hipotesa atau kesimpulan, dan memeriksa setiap komponen tersebut untuk
melihat ada tidaknya kontradiksi.
5) Tingkat sintesis (synthesis)
Sintesis di sini diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam mengaitkan dan
menyatukan berbagai elemen dan unsur pengetahuan yang ada sehingga terbentuk
pola baru yang lebih menyeluruh.
6) Evaluasi
Evaluasi ini dilaksanakan untuk menentukan sejauh mana siswa telah mencapai
tujuan pengajaran dan seberapa efektif program pengajaran yang di laksanakan.
b. Kawasan Afektif (sikap dan perilaku)
Kawasan afektif merupakan tujuan yang berhubungan dengan perasaan, emosi,
sistem nilai, dan sikap hati (attitude) yang menunjukkan penerimaan atau
penolakan terhadap sesuatu. Pengukuran hasil belajar afektif jauh lebih sukar
dibandingkan dengan hasil belajar kognitif karena menyangkut kawasan sikap dan
apresiasi. Kawasan afektif terdiri dari lima tingkat secara berurutan yaitu :
1) Tingkat menerima (receiving)
Menerima di sini adalah diartikan sebagai proses pembentukan sikap dan perilaku
dengan cara membangkitkan kesadaran tentang adanya stimulus tertentu yang
mengandung estetika.
2) Tingkat tanggapan (responding)
Tanggapan diartikan sebagai perilaku baru dari sasaran didik siswa sebagai
menifestasi dari pendapatnya yang timbul karena adanya perangsang pada saat ia
belajar.
3) Tingkat menilai
Menilai dapat diartikan sebagai kemauan untuk menerima suatu objek atau
kenyataan setelah seseorang itu sadar bahwa objek tersebut mempunyai nilai atau

kekuatan, dengan cara menyatakan dalam bentuk sikap atau perilaku positif atau
negatif.
4) Tingkat organisasi
Organisasi dapat diartikan sebagai proses konseptualisasi nilai-nilai dan menyusun
hubungan antar nilai-nilai tersebut, kemudian memilih nilai-nilai yang terbaik untuk
diterapkan.
5) Tingkat karakterisasi (characterization)
Karakterisasi adalah sikap dan perbuatan yang secara konsisten dilakukan oleh
seseorang selaras dengan nilai-nilai yang dapat diterimanya, sehingga sikap dan
perbuatan itu seolah-olah telah menjadi ciri-ciri perilakunya.
c. Kawasan Psikomotor (psychomotor domain)
Kawasan psikomotor adalah kawasan yang berorientasi kepada ketrampilan motorik
yang berhubungan dengan anggota tubuh, atau tindakan (action) yang memerlukan
koordinasi antara syaraf dan otot. Kawasan psikomotor terdiri dari dari empat
kelompok yang urutannya tidak bertingkat seperti kawasan kognitif dan afektif.
Kelompok-kelompok tersebut adalah sebagai berikut :
1) Gerakan seluruh badan
Gerakan seluruh badan adalah perilaku seseorang dalam suatu kegiatan yang
memerlukan gerakan fisik secara menyeluruh, misalnya siswa sedang berolah raga.
2) Gerakan yang terkoordinasi
Gerakan yang terkoordinasi adalah gerakan yang dihasilkan dari perpaduan antara
fungsi salah satu atau lebih indera manusia dengan salah satu anggota badan.
Misal, siswa sedang menulis.
3) Komunikasi nonverbal
Komunikasi nonverbal adalah hal-hal yang berkenaan dengan komunikasi yang
menggunakan simbol-simbol atau isyarat, misalnya : isyarat, dengan tangan,
anggukan kepala, ekspresi wajah, dan lain-lain.
4) Kebolehan dalam berbicara Kebolehan dalam berbicara dalam hal-hal yang
berhubungan dengan koordinasi gerakan tangan atau anggota badan lainnya
dengan ekspresi muka dan kemampuan berbicara. (Yamin, 2005 : 27-39)