Anda di halaman 1dari 10

BAHAN SGD LBM 2 BLOK 17

BAB I
PENDAHULUAN
Perawatan saluran akar merupakan prosedur perawatan gigi yang bermaksud
mempertahankan gigi dan kenyamanannya agar gigi yang sakit dapat diterima secara
biologik oleh jaringan sekitarnya, tanpa simtom, dapat berfungsi kembali dan tidak
ada yanda-tanda patologik. Gigi yang sakit bila dirawat dan direstorasi dengan baik
akan bertahan seperti gigi vital selama akarnya terletak pada jaringan sekitarnya yang
sehat (Bence, 1990).
Tidak semua perawatan saluran akar berhasil dengan baik. Pasien harus selalu
diberi tahu mengenai kemungkinan terjadinya kegagalan perawatan. Prognosisnya
sering berubah pada waktu sebelum, selama dan sesudah perawatan bergantung
kepada apa yang terjadi dan apa yang ditemukan selama atau setelah perawatan.
Prognosis memuaskan pada permulaan perawatan dapat berubah menjadi prognosis
yang
lebih
buruk
atau
tidak
memuaskan
pada
akhir
prosedur.
Dokter gigi harus memberikan pandangan umum bahwa hasil yang mungkin
terjadi adalah memuaskan, meragukan atau tidak memuaskan. Mereka akan tahu
bahwa segala sesuatunya mungkin tidak akan berjalan seperti yang diharapkan. Pasien
akan lebih menerima jika kegagalan terjadi.
Interprestasi keberhasilan atau kegagalan berbeda-beda pada setiap klinisi.
Kriteria keberhasilan bagi seorang dokter gigi mungkin berupa lamanya hasil
perawatan bertahan dan kriteria kegagalannya mungkin kalau pasien mengeluhkan
gejala sakit pada gigi yang telah dirawat. Walaupun sudah banyak publikasi hasil penelitian
mengenai
prognosis
yang
menganalisis
efek
berbagai
faktor
terhadap
keberhasilan dan kegagalan, namun banyak variabel yang menyulitkan interpterasi
hasilnya. Kesulitan ini misalnya meliputi bias dari pengamat yang memiliki kriteria
keberhasilan berbeda, bias dalam menginterprestasikan radigraf, berbagai tingkat
kesediaan pasien dalam pemanggilan kembali atau subjektivitas respons pasien
terhadap perawatan.
Kegagalan yang terjadi dapat disebabkan oleh kesalahan dalam mendiagnosa
penyakit pulpa ataupun karena kesalahan dalam teknik perawatan yang dilakukan.
Agar perawatan yang dilakukan tidak menemui kegagalan, maka diperlukan beberapa
pemeriksaan yang dapat menunjang diagnosa penyakit pulpa dan menuntun operator
dalam melakukan perawatan saluran akar (Ingle, 1 985; Walton & Torabinejab, 1996).
BAB II
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN DAN KEGAGALAN
PERAWATAN SALURAN AKAR
Seperti
halnya
seluruh
perawatan
gigi,
penggabungan
beberapa
faktor
mempengaruhi hasil suatu perawatan endodontik. Faktor-faktor yang mempengaruhi
keberhasilan dan kegagalan perawatan saluran akar adalah faktor patologi, faktor
penderita, faktor anatomi, faktor perawatan dan kecelakaan prosedur perawatan
(Ingle, 1985; Cohen & Burn, 1994; Walton & Torabinejab, 1996).
2.1 Faktor Patologis

Keberadaan lesi di jaringan pulpa dan lesi di periapikal mempengaruhi tingkat


keberhasilan perawatan saluran akar. Beberapa penelitian menunjukan bahwa tidak
mungkin menentukan secara klinis besarnya jaringan vital yang tersisa dalam saluran
akar dan derajat keterlibatan jaringan peripikal. Faktor patologi yang dapat
mempengaruhi hasil perawatan saluran akar adalah (Ingle, 1985; Walton &
Torabinejad, 1996) :
1. Keadaan patologis jaringan pulpa.
Beberapa peneliti melaporkan tidak ada perbedaan yang berarti dalam
keberhasilan atau kegagalan perawatan saluran akar yang melibatkan jaringan
pulpa vital dengan pulpa nekrosis. Peneliti lain menemukan bahwa kasus dengan
pulpa nekrosis memiliki prognosis yang lebih baik bila tidak terdapat lesi
periapikal.
2. Keadaan patologis periapikal
Adanya granuloma atau kista di periapikal dapat mempengaruhi hasil perawatan
saluran akar. Secara umum dipercaya bahwa kista apikalis menghasilkan
prognosis yang lebih buruk dibandingkan dengan lesi granulomatosa. Teori ini
belum dapat dibuktikan karena secara radiografis belum dapat dibedakan dengan
jelas ke dua lesi ini dan pemeriksaan histologi kista periapikal sulit dilakukan.
3. Keadaan periodontal
Kerusakan jaringan periodontal merupakan faktor yang dapat mempengaruhi
prognosis perawatan saluran akar. Bila ada hubungan antara rongga mulut dengan
daerah periapikal melalui suatu poket periodontal, akan mencegah terjadinya
proses penyembuhan jaringan lunak di periapikal. Toksin yang dihasilkan oleh
plak dentobakterial dapat menambah bertahannya reaksi inflamasi.
4. Resorpsi internal dan eksternal
Kesuksesan
perawatan
saluran
akar
bergantung
pada
kemampuan
menghentikan
perkembangan
resorpsi.
Resorpsi
internal
sebagian
besar
prognosisnya buruk karena sulit menentukan gambaran radiografis, apakah
resorpsi internal telah menyebabkan perforasi. Bermacam-macam cara pengisian
saluran akar yang teresorpsi agar mendapatkan pengisian yang hermetis.
2.2 Faktor Penderita
faktor penderita yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan suatu
perawatan saluran akar adalah sebagai berikut (Ingle, 1985; Cohen & Burns, 1994;
Walton &Torabinejad, 1996) :
1. Motivasi Penderita
Pasien yang merasa kurang penting memelihara kesehatan mulut dan
melalaikannya, mempunyai risiko perawatan yang buruk. Ketidaksenangan yang
mungkin timbul selama perawatan akan menyebabkan mereka memilih untuk
diekstraksi (Sommer, 1961).
2. Usia Penderita
Usia penderita tidak merupakan faktor yang berarti bagi kemungkinan
keberhasilan atau kegagalan perawatan saluran akar. Pasien yang lebih tua usianya
mengalami penyembuhan yang sama cepatnya dengan pasien yang muda. Tetapi
penting diketahui bahwa perawatan lebih sulit dilakukan pada orang tua karena
giginya telah banyak mengalami kalsifikasi. Hali ini mengakibatkan prognosis
yang buruk, tingkat perawatan bergantung pada kasusnya (Ingle, 1985).

3. Keadaan kesehatan umum


Pasien yang memiliki kesehatan umum buruk secara umum memiliki risiko
yang buruk terhadap perawatan saluran akar, ketahanan terhadap infeksi di bawah
normal. Oleh karena itu keadaan penyakit sistemik, misalnya penyakit jantung,
diabetes atau hepatitis, dapat menjelaskan kegagalan perawatan saluran akar di
luar kontrol ahli endodontis (Sommer, dkk, 1961; Cohen & Burns, 1994).
2.3 Faktor Perawatan
Faktor perawatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan suatu perawatan
saluran akar bergantung kepada :
1. Perbedaan operator
Dalam perawatan saluran akar dibutuhkan pengetahuan dan aplikasi ilmu
biologi serta pelatihan, kecakapan dan kemampuan dalam manipulasi dan menggunakan
instrumen-instrumen
yang
dirancang
khusus.
Prosedur-prosedur
khusus dalam perawatan saluran akar digunakan untuk memperoleh keberhasilan
perawatan. Menjadi kewajiban bagi dokter gigi untuk menganalisa pengetahuan
serta kemampuan dalam merawat gigi secara benar dan efektif (Healey, 1960;
Walton &Torabinejad, 1996).
2. Teknik-teknik perawatan
Banyak teknik instrumentasi dan pengisian saluran akar yang tersedia bagi
dokter gigi, namun keuntungan klinis secara individual dari masing-masing
ukuran keberhasilan secara umum belum dapat ditetapkan. Suatu penelitian
menunjukan bahwa teknik yang menghasilkan penutupan apikal yang buruk, akan
menghasilkan prognosis yang buruk pula (Walton & Torabinejad, 1996).
3. Perluasan preparasi atau pengisian saluran akar.
Belum ada penetapan panjang kerja dan tingkat pengisian saluran akar yang
ideal dan pasti. Tingkat yang disarankan ialah 0,5 mm, 1 mm atau 1-2 mm lebih
pendek dari akar radiografis dan disesuaikan dengan usia penderita. Tingkat
keberhasilan yang rendah biasanya berhubungan dengan pengisian yang berlebih,
mungkin disebabkan iritasi oleh bahan-bahan dan penutupan apikal yang buruk.
Dengan tetap melakukan pengisian saluran akar yang lebih pendek dari apeks
radiografis, akan mengurangi kemungkinan kerusakan jaringan periapikal yang
lebih jauh (Walton & Torabinejad, 1996).
2.4 Faktor Anatomi Gigi
Faktor anatomi gigi dapat mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan suatu perawatan
saluran akar dengan mempertimbangkan :
1. Bentuk saluran akar
Adanya pengbengkokan, penyumbatan,saluran akar yang sempit, atau bentuk
abnormal lainnya akan berpengaruh terhadap derajat kesulitan perawatan saluran
akar yang dilakukan yang memberi efek langsung terhadap prognosis (Walton &
Torabinejad, 1996).
2. Kelompok gigi
Ada yang berpendapat bahwa perawatan saluran akar pada gigi tunggal
mempunyai hasil yang lebih baik dari pada yang berakar jamak. Hal ini
disebabkan karena ada hubungannya dengan interpretasi dan visualisasi daerah
apikal pada gambaran radiografi. Tulang kortikal gigi-gigi anterior lebih tipis
dibandingkan dengan gigi-gigi posterior sehingga lesi resorpsi pada apeks gigi
anterior terlihat lebih jelas.

Selain itu, superimposisi struktur radioopak daerah periapikal untuk gigi-gigi


anterior terjadi lebih sedikit, sehingga interpretasi radiografinya mudah dilakukan.
Radiografi standar lebih mudah didapat pada gigi anterior, sehingga perubahan
periapikal lebih mudah diobservasi dibandingkan dengan gambaran radiologi gigi
posterior (Walton & Torabinejad, 1989).
3. Saluran lateral atau saluran tambahan
Hubungan pulpa dengan ligamen periodontal tidak terbatas melalui bagian
apikal saja, tetapi juga melalui saluran tambahan yang dapat ditemukan pada
setiap permukaan akar. Sebagian besar ditemukan pada setengah apikal akar dan
daerah percabangan akar gigi molar yang umumnya berjalan langsung dari saluran
akar ke ligamen periodontal (Ingle, 1985).
Preparasi dan pengisian saluran akar tanpa memperhitungkan adanya saluran
tambahan, sering menimbulkan rasa sakit yang hebat sesudah perawatan dan
menjurus ke arah kegagalan perawatan akhir (Guttman, 1988).
2.5 Kecelakaan Prosedural
Kecelakaan pada perawatan saluran akar dapat memberi pengaruh pada hasil
akhir perawatan saluran akar, misalnya :
1. Terbentuknya ledge (birai) atau perforasi lateral.
Birai adalah suatu daerah artifikasi yang tidak beraturan pada permukaan
dinding saluran akar yang merintangi penempatan instrumen untuk mencapai
ujung saluran (Guttman, et all, 1992). Birai terbentuk karena penggunaan
instrumen yang terlalu besar, tidak sesuai dengan urutan; penempatan instrumen
yang kurang dari panjang kerja atau penggunaan instrumen yang lurus serta tidak
fleksibel di dalam saluran akar yang bengkok (Grossman, 1988, Weine, 1996).
Birai dan ferforasi lateral dapat memberikan pengaruh yang merugikan pada
prognosis selama kejadian ini menghalangi pembersihan, pembentukan dan
pengisian saluran akar yang memadai (Walton & Torabinejad, 1966).
2. Instrumen patah
Patahnya instrumen yang terjadi pada waktu melakukan perawatan saluran
akar akan mempengaruhi prognosis keberhasilan dan kegagalan perawatan.
Prognosisnya bergantung pada seberapa banyak saluran sebelah apikal patahan
yang masih belum dibersihkan dan belum diobturasi serta seberapa banyak
patahannya. Prognosis yang baik jika patahan instrumen yang besar dan terjadi
ditahap akhir preparasi serta mendekati panjang kerja. Prognosis yang lebih buruk
jika saluran akar belum dibersihkan dan patahannya terjadi dekat apeks atau diluar
foramen apikalis pada tahap awal preparasi (Grossman, 1988; Walton &
Torabinejad, 1996).
3. Fraktur akar vertikal
Fraktur akar vertikal dapat disebabkan oleh kekuatan kondensasi aplikasi yang
berlebihan pada waktu mengisi saluran akar atau pada waktu penempatan pasak.
Adanya fraktur akar vertikal memiliki prognosis yang buruk terhadap hasil
perawatan karena menyebabkan iritasi terhadap ligamen periodontal (Walton
&Torabinejad, 1996).

BAB III

MACAM-MACAM PENYEBAB TERJADINYA KEGAGALAN PERAWATAN SALURAN


AKAR
Secara umum penyebab kegagalan dapat didaftar secara kasar dari yang
frekuensinya paling sering sampai ke yang paling jarang, yaitu kesalahan dalam
diagnosis dan rencana perawatan; kebocoran tambalan di mahkota; kurangnya
pengetahuan anatomi pulpa; debridement yang tidak memadai; kesalahan selama
perawatan; kesalahan dalam obturasi; proteksi tambalan yang tidak cukup; dan fraktur
akar vertikal.
Berbagai prosedur yang terkait dengan perawatan saluran akar dibagi menjadi
tiga tahap yaitu tahap praperawatan, selama perawatan dan pasca perawatan.
Mengingat kegagalan perawatan saluran akar terkait dengan tiap-tiap tahap tersebut,
maka penyebab kegagalannya pun diklasifikasi sesuai dengan tahap-tahap itu (Cohen
1994; Walton & Torabinejad, 1996).
3.1 Faktor Kegagalan Tahap Praperawatan
Kegagalan perawatan saluran akar pada tahap praperawatan sering disebabkan oleh :
Diagnosis yang keliru
Kesalahan dalam perencanaan perawatan
Seleksi kasus yang buruk
Merawat gigi dengan prognosis yang buruk
Diagnosis yang tidak tepat, biasanya berasal dari kurangnya atau salahnya
interpretasi informasi, baik informasi klinis maupun radiografis. Radiograf merupakan
alat bantu utama dalam penilaian konfigurasi anatomik sistem saluran akar perawatan.
Tidak teridentifikasinya penyimpangan berbagai sistem saluran akar pada
radigraf sering menjadi penyebab kegagalan perawatan saluran akar. Fraktur dentin
akar atau didiagnosis keliru. Inflamasi kronis yang timbul akan menyebabkan defek
periodontal,
defek
ini
sering
baru
terlihat
di
kemudian
hari.
Dalam
mendiagnosis
suatu
penyakit
sangat
diperlukan
ketelitian
dan
pemahaman dokter gigi akan gejala-gejala suatu penyakit. Karena keterbatasan
pengetahuan, peralatan ataupun karena kelalaian dokter gigi, tidak jarang terjadi
kesalahan
dalam
mendiagnosis
penyakit
yang
dapat
mengakibatkan
timbulnya
masalah dalam proses penyembuhan.
Seleksi kasus menentukan apakah perawatan dapat dilakukan atau tidak.
Sebagian
rencana
perawatan
adalah
mengidentifikasi
kasus-kasus
mana
yang
cenderung akan mengalami kegagalan walaupun baiknya perawatan yang dilakukan.
Sejumlah kegagalan yang disebabkan oleh seleksi kasus yang buruk akan
menimbulkan kekliruan dalam menilai kerjasama pasien serta kesukaran yang
mungkin timbul selama perawatan (Cohen, 1994; Ingle, 1985, Grossman, 1988,
Walton & Torabinejad, 1996).
3.2 Faktor Kegagalan Selama Perawatan
Banyak kegagalan perawatan saluran akar yang disebabkan oleh kesalahan kesalahan
dalam
prosedur
perawatan,
kesalahan
dapat
terjadi
pada
saat
pembukaan
kamar pulpa, saat melakukan preparasi saluran akar dan saat pengisian saluran akar.
3.2.1 Kesalahan Pembukaan Kamar Pulpa
Tujuan utama pembukaan kamar pulpa adalah untuk mendapatkan jalan
langsung ke foramen apikal tanpa adanya hambatan serta untuk memudahkan

1.

2.

penglihatan pada semua orofis saluran akar. Pembukaan kamar pulpa untuk setiap gigi
mempunyai desain yang berbeda, suatu pembukaan yang dilakukan dengan baik akan
menghilangkan kesulitan-kesulitan teknis yang dijumpai dalam perawatan saluran
akar
(Grossman,
1988;
Cohen,
1994;
Walton
&
Torabinejad,
1996).
Kesalahan-kesalahan yang dapat terjadi selama melakukan pembukaan kamar pulpa adalah :
Perforasi Permukaan akar
Perforasi dapat terjadi ke arah proksimal atau labial. Perforasi disebabkan
karena preparasi pembukaan dilakukan dengan sudut yang tidak mengarah ke
kamar pulpa. Hal ini terjadi karena waktu melakukan preparasi akses, ditemui
kesulitan menemukan lokasi kamar pulpa walaupun dari gambaran foto Rontgen
jelas.
Perusakan dasar kamar pulpa
Bor yang memotong dasar kamar pulpa dapat menyebabkan terjadinya perforasi
pada furkasi. Selai itu, pemakaian bor fisur yang berujung datar akan
membuat dasar kamar pulpa menadi datar sehingga merusak bentuk corong alamiah orifis
yang
akan
menyulitkan
pemasukan
instrumen,
paper
point
serta
bahan pengisian ke dalam saluran akar.
Preparasi saluran melalui tanduk pulpa
Preparasi yang terlalu dangkal akan menyebabkan saluran akar dicapai melalui
tanduk pulpa, selain itu akan menyulitkan pembersihan kamar pulpa dan saluran
akar dengan baik.
Membuat pembukaan proksimal
Pembukaan
yang
dilakukan
melalui
karies
yang
ada
proksimal
akan
menyebabkan instrumen yang dipakai untuk saluran akar harus dibengkokkan,
akibatnya preparasi saluran akar tidak tepat dan instrumen dapat patah dalam
saluran akar.
Membuat pembukaan yang terlalu kecil
Pembukaan yang terlalu kecil akan mengakibatkan terperangkapnya jaringan
pulpa terutama yang berada dibawah tanduk pulpa, juga akan menyulitkan
pencarian orifis sehingga saluran akar tidak dapat ditemukan.
Preparasi
pembukaan
melebar
ke
arah
dasar
kamar
pulpa
Pada preparasi yang melebar ke arah dasar kamar pulpa akan mengakibatkan
melemahnya kemampuan menerima daya kunyah sehingga dapat melepaskan
tambalan sementara dan akhirnya terjadi kebocoran.
3.2.2 Kesalahan Selama Preparasi Saluran Akar
Tahap preparasi saluran akar mencakup proses pembersihan (cleaning) dan
pembentukan (shaping). Pada tahap ini dapat terjadi kegagalan perawatan saluran akar
yang disebabkan oleh :
Instrumentasi berlebih (over instrumentasi)
Instrumen menembus ke luar melalui foramen apikal sehingga dapat
menyebabakan terjadinya inflamasi periapikal. Instrumentasi yang melewati
konstriksi apikal dapat mentransfer mikroorganisme dan mendorong bubuk dentin
dari saluran akar ke jaringan periapikal sehingga dapat memperburuk hasil
perawatan (Grossman, 1988; Walton & Torabinejad, 1996).
Instrumentasi kurang (underinstrumentasi)

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Instrumen tidak mencapai panjang kerja yang benar sehingga pembersihan


saluran akar tidak sempurna, masih meninggalkan jaringan nekrotik di dalam
saluran akar (Grossman, 1988; Walton & Torabinejad, 1996).
Preparasi berlebihan
Yang dimaksud dengan preparasi berlebihan adalah pengambilan jaringan gigi
yang berlebih dalam arah mesio-distal dan buko-lingual. Hal ini dapat terjadi
dibagian koronal atau pertengahan saluran sehingga melemahkan akar dan dapat
menyebabkan fraktur akarselama berlangsungnya kondensasi (Gutmann et all,
1992).
Preparasi yang kurang
Preparasi yang kurang adalah kegagalan dalam pengambilan jaringan pulpa,
kikiran dentin dan mikroorganisme dari sistem saluran akar. Saluran dibentuk
sempurna sehingga pengisian kurang hermetis (Gutmann et all, 1992).
Terbentuknya birai (ledge) dan perforasi
Terbentuknya
birai
atau
perforasi
laterala
dapat
menghalangi
proses
pembersihan, pembentukan dan pengisian saluran akar yang sempurna. Adanya
birai atau perforasi lateral akan meninggalkan bahan iritasi dan atau akan menambah
buruk
keadaan
pada
ligamen
perodontal
sehingga
prognosisnya
menjadi buruk (Gossman, 1988; Cohen, 1994, Walton & Torabinejad, 1996).
Instrumen patah dalam saluran akar
Instrumen patah dalam saluran menyebabkan kesulitan tahap perawatan
saluran akar selanjutnya. Prognosisnya buruk bila saluran akar disebelah apikal
patahan yang belum dibersihkan masih panjang atau fragmen patahan keluar dari
foramen apikal (Grossman, 1988; Weine, 1996).
Kesalahan pada waktu irigasi saluran akar
Bila bahan irigasi yang dipakai bersifat toksik, dapat menyebabkan iritasi pada
jaringan periapikal. Cara penyemprotan bahan irigasi terlalu keras atau
memasukkan jarumnya terlalu dalam dapat mendorong bubuk dentin dan
mikroorganisme keluar dari foramen apikal, sehingga dapat mengiritasi jaringan
periapikal.
Kesalahan
dalam
sterilisasi
saluran
akar
Mikroorganisme masih tersisa di dalam tubuli dentin, saluran lateral atau
ramifikasi saluran akar karena obat-obat disinfeksi yang digunakan kurang efektif,
sehingga dapat menyebabkan terjadinya reinfeksi (Ingle, 1985; Weine, 1996).
3.2.3

Kesalahan Saat Pengisian Saluran Akar


Kegagalan perawatan saluran akar dapat disebabkan karena kesalahankesalahan yang terjadi
saat
pengisian
saluran
akar,
yaitu
(Ingle,
1985;
Cohen,
1994;
Walton & Torabinejad, 1996: Weine, 1996) :
1. Pengisian yang tidak sempurna
Pengisian yang berlebih (overfilling), pengisian yang kurang (underfilling) atu
pengisian yang tidak hermetis, dapat memicu terjadinya inflamasi jaringan
periapikal, saluran akar dapat terkontaminasi bakteri dari periapikal sehingga
terjadi reinfeksi.
2. Pengisian saluran akar dilakukan pada saat yang tidak tepat.
Pengisian saluran akar dilakukan pada keadaan belum steril, masih terdapat
eksudat yang persisten atau masih terdapat sisa jaringan yang terinfeksi.

3. Pengisian
saluran
akar
dilakukan
pada
keadaan
tidak
steril.
Keadaan rongga mulut maupun alat-alat yang digunakan pada waktu
dilakukan pengisian saluran akar, tidak steril.
3.3 Faktor Penyebab Kegagalan Pasca Perawatan
Kejadian pasca perawatan dapat menyebabkan kegagalan perawatan secara langsung atau
tidak langsung, misalnya (Ingle, 1985; Walton & Torabinejad, 1996).
1. Restorasi yang kurang baik atau desain restorasi yang buruk.
Restorasi yang baik akan melindungi sisa gigi dan mencegah kebocoran dari
rongga mulut kedalam sistem saluran akar. Restorasi pasca perawatan saluran akar
yang kurang baik akan menyebabkan terbukanya semen dan menyebabkan
terkontaminasinya kamar pulpa dan saluran akar oleh saliva dan bakteri, sehingga
mengakibatkan kegagalan perawatan saluran akar.
2. Trauma dan fraktur
Kesalahan
preparasi
padawaktu
pembuatan
pasak
dapat
menyebabkan
kegagalan perawatan. Pengambilan dentin saluran akar yang terlalu banyak akan
melemahkan akar gigi, sehingga dapat menyebabkan terjadinya fraktur vertikal.
3. Terkenanya jaringan periodontal
Kegagalan bisa disebabkan karena non endodontik, walaupun perawatan
saluran akar dilakukan dengan baik. Hal ini dapat disebabkan karena efek merusak
dari perawatan ortodontik atau penyakit periodontium.
BAB IV
TANDA - TANDA KEGAGALAN PERAWATAN SALURAN AKAR
Di
samping
kurangnya
konsensus
mengenai
kriteria
untuk
menilai
keberhasilan atau kegagalan, rentang waktu yang diperlukan bagi tindak lanjut pasca
perawatan yang memadai juga masih kontroversial. Periode yang dianjurkan berkisar
6 bulan sampai 4 tahun. Keberhasilan yang nyata dalam kurun waktu satu tahun
bukan keberhasilan yang langgeng karena kegagalan mungkin terjadi setiap saat.
Penentuan berhasil atau tidaknya suatu perawatan diambil dari pemeriksaan
klinis dan radigrafis dan histologis (mikroskopis). Hanya temuan klinis dan
radiografis yang dapat dievaluasi dengan mudah oleh dokter gigi, pemeriksaan
histologis pada umumnya digunakan sebagai alat penelitian (Walton & Torabinejad,
1996; Mardewi, 2003).
4.1. Tanda-tanda Kegagalan secara Klinis
Kegagalan perawatan saluran akar yang dilihat secara klinis yang lazim dinilai
adalah tanda gejala klinis, yaitu : (Walton & Torabinejad, 1996; Mardewi, 2003) :
1.
Rasa nyeri baik secara spontan maupun bila kena rangsang.
2.
Perkusi dan tekanan terasa peka.
3.
Palpasi mukosa sekitar gigi terasa peka.
4.
Pembengkakan pada mukosa sekitar gigi dan nyeri bila ditekan.
5.
Adanya fistula pada daerah apikal.
4.2 Tanda-tanda Kegagalan secara Radiografis
Kemungkinan kesalahan dalam interprestasi radiografis adalah faktor penting
yang dapat merumitkan keadaan. Konsistensi dalam jenis film dan waktu
pengambilan, angulasi tabung sinar dan film, kondisi penilaian radiograf yang sama
merupakan hal-hal yang penting untuk diperhatikan. Biasa perorangan juga akan
mempengaruhi interpretasi radiografis. Perubahan radiologis cenderung bervariasi

menurut orang yang memeriksanya sehingga pendapat yang dihasilkan pun berbeda.
Tanda-tanda kegagalan perawatan saluran akar secara radiografis adalah adanya
(Walton & Torabinejad, 1996; Mardewi, 2003) :
1. Perluasan daerah radiolusen di dalam ruang pulpa (internal resorption).
2. Pelebaran jaringan periodontium.
3. Perluasan gambaran radiolusen di daerah periapikal.
4.3 Tanda-tanda Kegagalan secara Histologis (Mikroskopis)
Karena kurangnya penelitian histologis yang terkendali dengan baik, ada
ketidakpastian mengenai derajat korelasi antara temuan histologis dengan gambaran
radiologisnya.
Pemeriksaan
histologis
rutin
jaringan
periapikal
pasien
jarang
dilakukan. Tanda-tanda kegagalan secara histologis adalah (Walton & Torabinejad,
1996; Mardewi, 2003) :
1. Adanya sel-sel radang akut dan kronik di dalam jaringan pulpa dan periapikal.
2. Ada mikro abses.
3. Jaringan pulpa mengalami degeneratif sampai nekrotik.
Di dalam washington Study yang dipublikasikan oleh Ingle dan Beverige
(1976) dalam Tarigan (1994) dianalisa secara statistik sebab-sebab yang dapat
mengakibatkan terjadinya kegagalan perawatan saluran akar dua tahun setelah selesainya
perawatan. Dari 1229 kasus yang dirawat endodontik, ditemukan 91,5 %
berhasil tanpa keluhan dan yang mengalami kegagalan adalah 8,5 %. Sebab-sebab
terjadinya kegagalan tersebut dapat dikatagorikan dalam tiga hal, yaitu (Tarigan,
1994) :
1.Iritasi apikal oleh cairan jaringan yang terinfeksi pada saluran akar yang diisi tidak hermetis adalah
63,46 %.
2.Kesalahan-kesalahan
selama
dilakukan
perawatan,
misalnya
perforasi,
pengisian
yang berlebih, instrumen patah, adalah 14,42 %.
3.Kesalahan pada waktu diagnosis, 22,12 %.
Dari keterangan ini dapat disimpulkan bahwa perawatan saluran akar yang
tidak sempurna dan pengisian saluran akar yang salah hampir meliputi dua pertiga
penyebab kegagalan perawatan saluran akar yang dilakukan (Ingle, 1985; Tarigan,
1994).
BAB V
KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat ditarik dari tulisan diatas adalah :
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan suatu perawatan
saluran akar adalah faktor patologi, faktor penderita, faktor perawatan, faktor
anatomi gigi dan faktor kecelakaan prosedural.
2. Macam-macam penyebab terjadinya kegagalan suatu perawatan saluran akar
adalah kesalahan yang terjadi pada tahap praperawatan, kesalahan selama
perawatan dan kegagalan pascaperawatan.
3. Tanda-tanda kegagalan perawatan saluran akar yang mudah ditentukan oleh
dokter gigi adalah dengan cara pemeriksaan klinis dan radiologis, cara histologis
jarang dilakukan.
4. Kegagalan perawatan saluran akar sebagian besar disebabkan oleh faktor
kesalahan selama perawatan dan pengisian saluran akar yang tidak sempurna.

DAFTAR PUSTAKA

Bence, R. 1990. Buku Pedoman Endodontik Klinik, terjemahan Sundoro. Jakarta : Penerbit
Universitas Indonesia.
Cohen, S. and Burns, R.C. 1994. Pathway ofthe pulp. 6 th ed. St. Louis : Mosby.
Guttman, J.L. 1992. Problem Solving in Endodontics, Prevention, identification and
management. 2 nd ed., St louis : mosby Year Book.
Grossman, L.I., Oliet, S. and Del Rio, C.E., 1988. Endodontics Practice. 11 th ed.
Philadelphia : Lea & febiger.
Ingle, J.L. & Bakland, L.K. 1985. Endodontics. 3 rd ed. Philadelphia : Lea & Febiger.
Mardewi, S. K.S.A. 2003. Endodontologi, Kumpulan naskah. Cetakan I. Jakarta :
Hafizh.
Tarigan, R. 1994. Perawatan Pulpa Gigi (endodonti). Cetakan I, Jakarta : Widya
Medika.
Walton, R. and Torabinejad, M., 1996. Principles and Practice of Endodontics. 2 nd
ed. Philadelphia : W.B. Saunders Co.
Weine, F.S. 1996. Endodontics Theraphy. 5 th ed. St. Louis : Mosby Year Book. Inc.