Anda di halaman 1dari 8

Keraton Surakarta Hadiningrat

Narasumber : Pak Setiyadi (Abdi Dalem Keraton)


I.

Sekilas Sejarah Keraton Surakarta


Keraton Surakarta berdiri pada abad 17, tepatnya tanggal 17 Sura
1670 tahun Jawa atau 20 Februari 1745 masehi, terletak di desa Sala.
Pendirinya Raja Pakubuwana II (PB II). Setelah desa Sala jadi keraton
dirubah menjadi Surakarta Hardiningrat atau Nagari Surakarta Hadiningrat.
Beberapa waktu kemudian muncullah kata Solo, yang diucapkan orang-orang
Eropa (Inggris, Portugis, Belanda). Namun oleh pemerintah Indonesia
semuanya dinyatakan resmi, entah itu Sala, Surakarta, Solo.
Sekarang sudah menginjak raja yang ke 13. Yaitu semenjak wafatnya
Raja Pakubuwana 12 tahun 2004, sampai hari ini sudah di era jaman
Pakubuwana 13. Pendirinya PB 2 sekarang ini sudah PB 13.
Jadi, Keraton surakarta di jaman sekarang ini umurnya sudah

mencapai 270 tahun.


II. Dinasti / keturunan dari Keraton Solo
Keraton Surakarta diawali dari pertama kali perpecahan keraton
Majapahit tahun 1400 M, di bawah pemerintahan Prabu Hayam Wuruk yang
ke V atau Brawijaya V tahun 1400 M. Dengan bahasa candra sangkala sirna
ilang kertaning bumi, sirna artinya 0, ilang artinya 0, kertaning artinya 4,
bumi artinya 1, jadi tahun 1400M. Tahun 1400 M runtuh, akhirnya para
petinggi menyebar ke seluruh nusantara. Ada yang ke Kalimantan, Sulawesi,
Bali, Madura, dan Jawa. Majapahit sendiri berada di Trowulan. Setelah
Majapahit runtuh, terjadi pergolakan, yaitu dari agama Hindu ke Islam. Di
situ salah satu kerabat Raja, yang bernama Raden Patah, beliau memunculkan
Islam pertama, membujuk orang tua nya supaya mau ikut berpindah agama
menjadi Islam, namun orang tuanya tidak mau, maka terjadilah perang.
Akhirnya Majapahit hancur, diboyong ke desa Kadilangu, menjadi Keraton
Demak di bawah pemerintahan Raden Patah, di adalah putra Brawijaya V,
urutnya no 13, ibunya dari Cina.

Kemudian setelah dari Keraton Demak, terjadilah pergolakan lagi,


jaman dulu sudah ada pergolakan politik, akhirnya di situ yang bisa
menyelesaikan adalah Mas Karebet (Jaka Tingkir). Beliau memboyong ke
desa Pajang, di situ berdirilah Kasultanan Pajang yang menjadi penguasa
adalah Jaka Tingkir bergelar Sultan Hadiwijaya. Masih ada pergolakan lagi,
ada campur tangan Keraton Demak, karena seharusnya yang jadi Sultan
adalah kerabat Raja tapi malah orang lain. Bisa diselesaikan oleh Danang
Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan yang mana juga diangkat menjadi
putra Sultan Hadiwijaya. Beliau setelah bisa mengalahkan diberi hadiah yaitu
sebuah hutan yang gawat, keker, wingit, hutan larangan di daerah Mentaok,
alas Mentaok. Kemudian, hutan yang gawat, wingit, angker bisa ditaklukkan.
Beliau bertapa di Pantai Selatan, tepatnya di Pantai Parang Kusuma. Di situ
beliau bertapa bisa menguasai alamnya halus, dunia lain, bisa menaklukkan
ratunya, Kanjeng Ratu Kencana Sari atau Kanjeng Ratu Kidul. Akhirnya
terjadilah perjanjian nanti alas Mentaok bisa menjadi negara besar, asal suatu
hari nanti Kanjeng Ratu Kidul dan Danag Sutawijaya harus menjadi suami
istri, manusia dengan alamnya halus. Kemudian disanggupi, kalau begitu
nanti anak turun saya saja yang menjadi suamimu. Akhirnya, terjadilah suatu
perjanjian, hutan yang tadinya gawat, wingit menjadi negara besar, namanya
Keraton Pleret, dengan ibukotanya Kotagede. Rajanya Danang Sutawijaya
yang bergelar Panembahan Senopati.
Turun-temurun, sampai akhirnya terjadi pergolakan lagi karena ada
campur tangan dari orang-orang Eropa, termasuk Portugis, Inggris. Terus
diboyong ke Desa Wonokarta diganti namanya Kartasura, jadi namanya
Keraton Kartasura. Setelah dari Keraton Kartasura, yang menjadi Raja
terakhir PB II, terjadi perang lagi, kemudian mengungsi ke Ponorogo. Di situ
beliau selama dalam pengungsian diberi pisengsum dari bupati Ponorogo
namanya Maesa yang artinya kerbau bule diberi nama Kyai Slamet. Keraton
bisa dikuasai lagi namun dalam keadaan parah total. Karena sudah hancur,
raja memilih pindah. Yang diprediksi ada 3 tempat, desa Kadipolo, desa Sala,
desa Sanasewu. Atas petunjuk dari para penasehat spiritual desa Kadipolo

nanti menjadi negara besar tapi banyak penyakit. Desa Sanasewu, diramal
menjadi negara besar namun rakyatnya kembali ke agama Hindu. Desa Sala
walaupun rawa-rawa, menakutkan, diramal nanti bisa umur 200 tahun lebih,
tanahnya gemah ripah loh jinawi, ayem tenterem. Padahal di desa Sala ada
penguasanya namanya Ki Gede Sala atau Kyai Sala, beliau adalah abdi dalem
Keraton Kartasura. Terjadi suatu pendekatan, Kyai Sala dipanggil Raja,
dirayu. Kyai Sala mengijinkan namun dengan syarat. Pertama, memberikan
sewu ndas Landa, artinya seribu kepala Belanda, ini merupakan kiasan
artinya raja harus memberikan seribu koin emas yang ada gambarnya kepala
Belanda. Kedua, gamelan wiyaga lima, dengan mengadakan wilujengan
(syukuran) dengan karawitan selama 40 hari 40 malam. Yang ketiga, nanti
seandainya

Kyai

Sala

meninggal

dunia,

sekira-kiranya

Raja

mau

memakamkan di rumahnya sendiri, rumahnya Kyai Sala, padahal rumahnya


di situ, di desa Sala. Raja juga menyanggupi. Semua tadi setelah
dilaksanakan, rawa tadi ditimbun dengan tanah dari Kadipolo, Sanasewu dan
Sala. Akhirnya menjadi keras, kemudian didirikan bangunan. Mulai tahun
1472 dibangun, 1745 M sudah berdiri walaupun atapnya masih berupa alangalang. Kemudian diboyong dari Keraton Kartasura ke desa Sala, di situ raja
mesanggrah, diresmikan tanggal 20 Februari 1745, resmi desa Sala diganti
namanya Nagari Surakarta Hadiningrat atau Surakarta Hadiningrat sampai
sekarang.
Kesimpulannya, perjalanan sejarah dari Keraton Sala ini dari Keraton
Majapahit, Keraton Demak, Keraton Pajang, Keraton Pleret, Keraton
Kartasura kemudian Keraton Sala. Sudah mengalami dekade 6. Tahun 1400
M sampai sekarang sudah 270 tahun. Setiap raja selalu mengadakan renovasi,
raja terakhir yang melakukan renovasi secara besar-besaran adalah PB X,
yaitu pada abad 19 awal.
Sampai hari ini menjadi terkenal, bahkan seluruh dunia mengakui dan
semuanya ingin bersahabat. Terbukti dengan banyak orang luar negeri yang
belajar bahasa jawa di sini, belajar karawitan di sini, belajar menari di sini.
III. Beberapa Titik Tertentu yang Boleh Dikunjungi Pengunjung
1. Halaman

Halaman Keraton Surakarta terbentang luas, semuanya rindang


sekali ditanami beberapa pohon. Semua masuk ke sini terbatas
a. Pengunjung masuk ke sini waktunya hanya jam 9 sampai jam setengah
2, kalau hari Jumat libur, hari Sabtu dan Minggu sampai jam setengah
3
b. Masuk halaman Keraton Surakarta yang memakai sepatu boleh dipakai
kalau pakai sandal dilepas
c. Yang memakai topi dibuka, pakai kacamata hitam juga dibuka, yang
berjaket dikancingkan yang benar
d. Di tempat ini alangkah baiknya jangan menunjuk dengan jari telunjuk,
e.
f.
g.
h.
i.
j.

kalau mau menunjuk menggunakan jempol


Jangan meludah sembarangan
Jangan kencing sembarangan
Jangan memetik apapun walaupun hanya daun
Jangan potret sembarangan
Jangan duduk sembarangan tempat kecuali hujan atau ada yang sakit
Ditempat ini sebagai tata krama, menanamkan rasa subasita, sopan
santun
Menginjakkan kaki di dalam halaman Keraton Surakarta ini juga

gunanya untuk kesopanan dan untuk terapi, karena halaman ini pasirnya
diambil dari Pantai Selatan, tepatnya Pantai Parang Kusuma dan dari
Gunung Merapi.
Beberapa tanaman di halaman ini, namanya pohon sawo kecik.
Sawo kecik diambil dari nama Jawa sarwo becik yang artinya serba baik.
Contohnya, yang tadi pagi misalnya berangkat ke sini masih mempunyai
watak mudah marah, mudah emosi, sekarang hari ini mulai jangan mudah
marah, menjadi orang yang sabar.
Pembelajaran yang pertama menjadi orang yang sabar, menghadapi
masalahpun harus sabar, apalagi masih darah muda gampang bubar. Yang
kedua kok kebetulan sebelum berangkat ke sini masih mempunyai watak
kikir, pelit, semoga nanti pulang dari sini menjadi orang yang dermawan,
suka sedekah, suka memberi pada siapapun, namun di Keraton Surakarta
ada satu kata yaitu JAWA, Ja dan Wa, Ja singkatan dari prasaja artinya
bersikaplah sederhana, tidak memamerkan kekayaan, kehebatan orang tua,

kendaraan, kita bersahaja seperti Raja Surakarta. Yang kedua Wa, wa


singkatan dari walaka yang artinya bersikaplah jujur, tujuannya untuk
menyelamatkan diri sendiri dan keluarga
Di sini ada beberapa bangunan :
a. Pendapa Ageng Sasana Sewaka
Artinya meditasi, berdoa, merenung, memohon, mendekat kepada Tuhan
namun di sini simbolnya adalah raja. Yang digunakan satu tahun sekali raja
akan mengadakan upacara adat ulang tahun naik tahta raja. Setiap hari
Selasa Kliwon jam 1 siang ada para penari Keraton, jumlahnya sembilan,
masih perawan dantidak dalam keadaan nggarap sari (datang bulan).
Namun biasanya ada tamu yang melihat bahwa jumlahnya 10, yang ke 10
tadi adalah jelmaan Kanjeng Ratu Kidul. Maka di sini ada satu istilah ora
percaya kena neng aja maido artinya tidak percaya boleh tapi jangan
menyanggah
b. Patung
Ada filosofinya, patung itu dari Eropa, dari Roma Itali, sejak tahun 1983
sampai sekarang, semua bernuansa nasrani, walaupun Keraton Surakarta
Islam. Keraton Surakarta Islam kenapa patungnya nasrani ? raja-raja Solo
dulu itu melindungi agama apapun, entah itu Kristen, Budha, Hindu,
Katolik, Kong Hu Chu, Kejawen dilindungi semua. Raja langsung
membuatkan tempat ibadah di sekeliling Keraton Surakarta ini ada Masjid,
Gereja, Kelenteng, Pure, Kuil.
c. Menara Tinggi (Panggung Sangga Buwana)
Dibangun PB III tahun 1782 M, ketinggian 30 m, berlantai 5. Di atas
sendiri ada 1 ruangan dengan atapnya namanya tutup saji segi delapan
digunakan untuk :
1) Meditasi raja
2) Upacara rukyat, melihat bulan untuk menentukan besok pagi sudah
puasa belum
3) Untuk pengintaian musuh
4) Untuk pertemuan raja dengan Kanjeng Ratu Kidul
Digunakan sampai sekarang setiap hari Kamis pagi sebelum jam 12 siang.
d. Sasana Handrawina

Digunakan untuk tempat menerima tamu-tamu agung. Sasana artinya


tempat, drawina artinya perjamuan agung.
e. Koken
Berasal dari bahasa Belanda artinya dapur. Kalau dalam bahasa Keraton
disebut Bangsal Karya Barsana untuk memasak, untuk persiapan urusan
logistik.
f. Tiga Bangunan tanpa Dinding
Yang tengah namanya Bangsal Pradangga, tempat untuk menempatkan
gamelan ketika di sini ada upacara adat dibunyikan untuk menghormati
upacara. Di kanan kirinya kembar, namanya Bujana Lor dan Bujana Kidul.
Bujana Lor tempat untuk abdi dalem menghadiri upacara adat, duduknya
di situ, menunggunya di situ, semuanya berpakaian Jawa lengkap.
IV. Museum Keraton Surakarta Hadiningrat
Museum Keraton Surakarta diresmikan pada tanggal 23 Maret 1963
M, pada masa pemerintahan Raja PB XII. Pada waktu itu yang menjadi
Menpapostel (Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi) yang bernama
GPH Jati Kusuma, Gusti Pangeran Haryo Jati Kusuma, beliau adalah putra
PB X raja Surakarta. Keraton Surakarta sebagai simbol tempat yang tadi
untuk wisata terus museum Keraton Surakarta diresmikan diberi nama
museum Suaka Budaya. Yang menyimpan benda-benda bersejarah sejak dulu
sampai sekarang, minimal usianya sampai sekarang sudah 1 abad, 100 tahun.
Ada 12 kamar, peraturannya
1. Jangan menghina benda apapun walaupun tidak suka
2. Jangan menunjuk dengan jari telunjuk
3. Jangan berisik
4. Jangan sembarangan memotret
5. Jangan sembarangan memegang
Museum Keraton Surakarta dulunya adalah rumah kediaman raja PB
IX diberi nama rumah kadipaten anom atau ndalem kadipaten anom.
Sedangkan ruangan-ruangan tadi semuanya adalah tempat untuk barak para
prajurit.
Museum Keraton Surakarta

Ruangan pertama berada persis di samping pintu menuju halaman pasir.


Di dalam ruangan ini pengunjung dapat melihat koleksi lukisan beberapa raja
Keraton Kasunanan Surakarta. Selain itu terdapat juga lukisan permaisuri raja
besar Sinuhun Pakubuwono X.
Ruang pertama ini tersambung ke ruang kedua yang menampung bendabenda bersejarah yang terbuat dari perunggu dan juga batu seperti arca. Beberapa
alat-alat upacara agama juga dapat ditemukan di dalam ruangan yang juga
tersambung ke ruang ketiga yang berisi perlengkapan dan juga adegan pernikahan
Jawa.
Di ruang ketiga ini wisatawan akan disambut dengan patung kuda yang
lengkap dengan dandanan dan aksesoris yang berada di dalam ruang kaca. Kuda
seperti ini adalah kuda yang dinaiki oleh pengantin pria kerajaan.
Ruang selanjutnya yang juga tersambung dengan ruang ketiga berisi
adegan kesenian tradisional. Beberapa kesenian yang digambarkan disini seperti
adegan pertunjukan wayang kulit, wayang beber, klenengan, dan beberapa
kesenian daerah lainnya.
Ruang kelima masih berhubungan dengan ruang sebelumnya dimana di
ruang ini dapat ditemukan beberapa benda seni dan juga gambaran adegan
beberapa kesenian daerah. Selain kesenian, di ruang ini juga tampak beberapa
adegan upacara adat seperti selamatan atau adegan budaya seperti pandai besi.
Sementara itu, diruang keenam pengunjung dapat menemukan alat-alat
atau perlengkapan upacara adat hingga beberapa senjata tradisional dengan bentuk
dan rupa yang unik.
Bergeser ke ruangan yang terpisah di sebelah timur pengunjung
memasuki ruang ketujuh. Di dalam ruang ini beberapa kereta kerajaan yang
tampak masih terawat dapat ditemui.
Pada ruang kedelapan pengunjung akan menemukan dayung dengan
ukuran luar biasa besar yang dulunya merupakan bagian dari perahu di era raja
terdahulu. Di sebelah dayung besar berjajar beberapa patung kepala raksasa
sebagai hiasan perahu. Termasuk diantaranya adalah patung Rajamala yang
terkenal.
Dari ruangan ini pengunjung akan memasuki ruang terakhir yang
menyimpan koleksi senjata. Ruang Perang Diponegoro ini selain menyimpan
diorama Perang Diponegoro juga menyimpan beberapa koleksi senjata menarik

seperi pistol dan senjata laras panjang bergaya Eropa. Selain itu senjata seperti
tameng, keris, panah, hingga tombak dapat dijumpai.