Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang memegang peranan
penting dalam pendidikan. Matematika sebagai ilmu dasar segala bidang ilmu
pengetahuan adalah hal yang sangat penting untuk kita ketahui. Oleh sebab itu,
mulai dari usia pendidikan dini sampai perguruan tinggi selalu melibatkan
matematika pada mata pelajaran wajib. Matematika pada dasarnya memiliki objek
yang abstrak.
Peserta didik sekolah dasar yang berusia antara 7 tahun sampai 11 tahun
berada pada fase pemikiran konkret. Menurut Piaget (dalam Heruman, 2010: 1)
pada fase ini, peserta didik berada pada fase operasional konkret. Kemampuan
yang tampak pada fase ini adalah kemampuan dalam proses berpikir untuk
mengoperasikan kaidah-kaidah logika, meskipun masih terkait dengan objek yang
bersifat konkret.
Dari usia perkembangan kognitif, peserta didik sekolah dasar masih terikat
dengan objek konkret yang dapat ditangkap oleh panca indra. Dalam
pembelajaran matematika yang abstrak, peserta didik memerlukan alat bantu
berupa media, dan alat peraga yang dapat memperjelas apa yang akan
disampaikan oleh guru sehingga lebih cepat dipahami dan dimengerti oleh peserta
didik.
Dalam matematika, setiap konsep yang abstrak yang baru dipahami peserta
didik perlu segera diberi penguatan, agar mengendap dan bertahan lama dalam

memori peserta didik, sehingga akan melekat dalam pola pikir dan pola
tindakannya. Operasi penjumlahan dan pengurangan merupakan salah satu materi
yang sangat penting untuk dikuasai peserta didik karena berhubungan langsung
dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu hal yang menyebabkan permasalahan ini
adalah kegiatan pembelajaran yang kurang inovatif. Dibutuhkan lebih dari
kemampuan mengajar untuk membuat pembelajaran lebih bermakna bagi peserta
didik dan dengan pengetahuan tentang berbagai macam strategi pembelajaran,
guru dapat merencanakan pembelajaran sesuai dengan karakter materi yang akan
diajarkan dengan memanfaatkan media pembelajaran yang murah dan bisa
diperoleh dengan mudah.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Faridiah (2009), dalam
proses belajar mengajar guru di tingkat Sekolah Dasar sebaiknya menggunakan
alat peraga atau media yang menarik dan bervariasi supaya pembelajaran yang
berlangsung menyenangkan dan guru dapat mengkreasikan cara-cara yang mudah
dan cepat dipahami siswa dalam pembelajaran.
Untuk memudahkan peserta didik khususnya kelas V Sekolah Dasar yang
masih berpikir konkret dalam memahami konsep penjumlahan dan pengurangan
bilangan bulat dapat dipergunakan alat peraga. Berdasarkan pemaparan tersebut,
maka dalam makalah ini akan dibahas tentang alat peraga sebagai alat bantu
mengajar dalam mengatasi kesulitan peserta didik sekolah dasar pada materi
penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan sebelumnya, maka
penulis merumuskan masalah yaitu bagaimana pemanfaatan alat peraga dalam
mengatasi kesulitan peserta didik kelas V Sekolah Dasar pada materi penjumlahan
dan pengurangan bilangan bulat?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui pemanfaatan
alat peraga dalam mengatasi kesulitan peserta didik kelas V Sekolah Dasar pada
materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Karakteristik Peserta Didik dalam Pembelajaran di Tingkat Sekolah Dasar
Persoalan intern pembelajaran berkaitan dengan kondisi kepribadian peserta
didik, baik fisik maupun mental. Masalah-masalah belajar yang berkenaan dengan
dimensi peserta didik sebelum belajar pada umumnya berkenaan dengan minat,
kecakapan, dan pengalaman-pengalaman, termasuk motivasi. Bilamana peserta
didik memiliki minat yang tinggi untuk belajar, maka ia akan berupaya
mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan apa yang akan dipelajari secara
lebih baik. Namun bilamana peserta didik tidak memiliki minat untuk belajar,
maka peserta didik tersebut cenderung mengabaikan kesiapannya untuk belajar.
Hakikat motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada
peserta didik yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan perilaku.
Motivasi belajar adalah proses yang memberi semangat belajar, arah, dan
kegigihan perilaku. Artinya, perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh
energi, terarah, dan bertahan lama.
Indikator motivasi belajar menurut Hamzah B. Uno (dalam Agus Supriyono,
2012:163) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Adanya hasrat dan keinginan berhasil
2. Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar

3.
4.
5.
6.

Adanya harapan dan cita-cita masa depan


Adanya penghargaan dalam belajar
Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar
Adanya lingkungan belajar yang kondusif sehingga memungkinkan

peserta didik dapat belajar dengan baik.


Berdasarkan poin kelima diatas dapat dilihat bahwa salah satu yang dapat
menjadi motivasi bagi peserta didik dalam belajar adalah dengan adanya kegiatan
yang menarik selama proses pembelajaran berlangsung. Dengan keberadaan alat
peraga dalam pembelajaran peserta didik, khususnya kelas V Sekolah Dasar tentu
akan menambah minat dan motivasi mereka dalam belajar.
Seiring dengan masuknya peserta didik ke sekolah dasar, maka kemampuan
kognitifnya turut mengalami perkembangan yang pesat. Karena dengan masuk
sekolah, berarti dunia dan minat peserta didik bertambah luas, dan dengan
meluasnya minat, maka bertambah pula pengertian tentang manusia dan objekobjek yang sebelumnya kurang berarti bagi peserta didik. Dalam keadaan normal,
pikiran peserta didik usia sekolah berkembang secara berangsur-angsur. Kalau
pada masa sebelumnya, daya pikir peserta didik masih bersifat imajinatif dan
egosentris, maka pada usia sekolah dasar ini daya pikir peserta didik berkembang
ke arah berpikir konkret, rasional, dan objektif. Daya ingatnya menjadi sangat
kuat, sehingga peserta didik benar-benar berada dalam suatu stadium belajar.
Teori Belajar Konstruktivisme Jean Piaget (dalam Azhar, 2013) membagi
fase perkembangan manusia ke dalam empat perkembangan yaitu, periode sensori
(0-18/24 bulan), periode operasional (2-7 tahun), periode operasional konkret (711 tahun), operasional formal (lebih dari 11 tahun) untuk lebih jelasnya lihat tabel
berikut:
Tahapan

Usia/Tahun

Gambaran

Sensorimotor

Bayi bergerak dari tindakan refleks


instingtif

pada

permulaan
0-2

saat

pikiran

lahir

sampai

simbolis.

Bayi

membangun suatu pemahaman tentang


dunia

melalui

pengordinasian

pengalaman-pengalaman sensor dengan


tindakan fisik
Anak mulai merepresentasikan dunia

Operational

dengan kata-kata dan gambar-gambar.


Kata-kata dan gambar menunjukkan
2-7
adanya peningkatan pemikiran simbolis
dan

melampaui

hungan

informasi

sensor dan tindak fisik.


Pada saat ini anak dapat berpikir secara

Concerte operational
7-11

logis mengenai peristiwa-peristiwa yang


konkret
Anak remaja berpikir dengan cara yang

Formal operational
11-15

lebih absrtak dan logis. Pemikiran lebih

idealistik.
(sumber: Agus N Cahyo)
B. Bilangan Bulat
Bliangan bulat dapat digambarkan pada garis bilangan. Pada garis bilangangaris bilangan tersebut juga dicantumkan bilangan-bilangan yang diberi tanda
sesuai dengan letaknya dari bilangan nol. Bilangan bulat yang terletak di sebelah
kiri bilangan nol diberi tanda negatif (-) dan bilangan ini disebut bilangan bulat
negatif. Bilangan bulat yang berada di sebelah kanan bilangan nol diberi tanda

positif (+), tetapi kebanyakan tanda (+) ini tidak dituliskan, dan bilangan ini
disebut dengan bilangan positif. Bilangan nol itu sendiri disebut bilangan bukan
positif dan juga bukan negatif. Himpunan bilangan bulat negatif digabung dengan
himpunan bilangan cacah membentuk himpunan bilangan bulat dinyatakan
dengan B. Jadi, himpunan bilangan bulat:
B={ ,3,2,1, 0,1, 2,3 }
Letak bilangan bulat pada garis bilangan menyatakan nilai dari bilangan
bulat tersebut. Bilangan disusun secara naik dari kiri ke kanan, sehingga bilangan
yang terletak di sebelah kanan nilainya lebih besar dari bilangan sebelah kirinya.
Pada garis bilangan berlaku jika p terletak di sebelah kanan q maka

p>q . Jika

p terletak di sebelah kiri q, maka p<q .


Penjumlahan bilangan bulat dapat dilakukan dengan menggunakan alat
peraga yang berupa: potongan-potongan karton berbentuk setengah lingkaran dan
mobil garis bilangan.
C. Media Pembelajaran dan Alat Peraga
Kata media berasal dari bahasa latin, merupakan bentuk jamak dari kata
medium yang secara harfiah dapat diartikan sebagai perantara atau pengantar.
Proses balajar mengajar seringkali ditandai dengan adanya unsur tujuan, bahan,
metode dan alat, serta evaluasi. Keempat unsur tersebut saling berinteraksi dan
berinterelasi. Metode dan media merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan
dari unsur pembelajaran yang lain. Metode dan alat, yang dalam hal ini adalah
media pembelajaran berfungsi untuk menyampaikan materi pelajaran agar sampai
kepada tujuan.
Media pembelajaran adalah suatu alat yang dapat membantu peserta didik
supaya terjadi proses belajar. Dengan menggunakan media pembelajaran

diharapkan peserta didik diharapkan akan dapat memeroleh berbagai pengalaman


nyata, sehingga materi pelajaran yang disampaikan dapat diserap dengan mudah
dan lebih baik. Penggunaan media dalam pembelajaran didasarkan pada konsep
bahwa belajar dapat ditempuh melalui berbagai cara, antara lain: dengan
mengalami secara langsung (melakukan dan berbuat), dengan mengamati orang
lain, dan dengan membaca serta mendengar.
Secara sederhana menurut Nana Sudjana (2011:156), kehadiran media
dalam suatu kegiatan pembelajaran memiliki nilai-nilai praktis sebagai berikut:
1. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang
dimiliki peserta didik
2. Media yang disajikan dapat melampaui batasan ruang kelas
3. Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi antara peserta
didik dengan lingkungannya
4. Media dapat menghasilkan keseragaman pengamatan peserta didik
5. Secara potensial, media yang tepat dapat menanamkan konsep dasar
yang konkret, benar, dan berpijak pada realitas
6. Media dapat membangkitkan keinginan dan minat baru
7. Media mampu membangkitkan motivasi dan merangsang peserta
didik untuk belajar
8. Media mampu memberikan belajar secara integral dan menyeluruh
dari yang konkret ke yang abstrak, dari sederhana ke rumit.
Prinsip penggunaan media yaitu:
1. Media berfungsi sebagai alat belajar.
2. Hendaknya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
3. Hendaknya mengenal/mengusai dengan baik alat media yang
digunakan.
4. Jangan menggunakan media hanya sekedar sebagai selingan.
5. Tidak satu pun alat bantu yang baik untuk semua tujuan karena
tergantung dengan situasi dan kondisi.
Setiap media mempunyai karakteristik tertentu, baik dilihat dari segi
keampuhannya,

cara

pembuatannya,

maupun

cara

penggunaannya.

Memahami karakteristik berbagai media pengajaran merupakan kemampuan


dasar yang harus dimiliki oleh guru dalam kaitannya dengan keterampilan
pemilihan media pengajaran. Di samping itu, memberikan kemungkinan
kepada guru untuk menggunakan berbagai jenis media pengajaran secara
bervariasi. Sedangkan apabila kurang memahami karakteristik media
tersebut, guru akan dihadapkan kepada kesulitan dan cenderung bersikap
spekulatif.
Yang dimaksud alat peraga adalah media alat bantu pembelajaran, dan
segala macam benda yang digunakan untuk memperagakan materi
pelajaran. Alat peraga di sini mengandung pengertian bahwa segala sesuatu
yang masih bersifat abstrak, kemudian dikonkretkan dengan menggunakan
alat agar dapat dijangkau dengan pikiran yang sederhana dan dapat dilihat,
dipandang, dan dirasakan. Dengan demikian alat peraga lebih khusus dari
media dan teknologi pembelajaran karena berfungsi hanya untuk
memperagakan materi pelajaran yang bersifat abstrak. Menurut Simak
Yaumi dan Syafei (dalam Azhar, 2013:10) alat peraga ialah alat-alat yang
digunakan guru yang berfungsi membantu guru dalam proses mengajarnya
dan membantu peserta didik dalam proses belajarnya.
Manfaat alat peraga sebagai media pembelajaran dalam proses belajar
peserta didik, antara lain:
a. Pengajaran akan lebih menarik perhatian peserta didik sehingga dapat
menumbuhkan motivasi belajar
b. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih
dipahami oleh para peserta didik, dan memungkinkan peserta didik
menguasai tujuan pengajaran lebih baik
c. Metode mengajar akan lebih bervariasi

d. Peserta didik lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak


hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti
mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, dan lain-lain
Alat peraga sebagai suatu cara atau teknik untuk mengantarkan bahan
pelajaran sampai tujuan. Penggunaan alat peraga yang efektif dan efisien
dapat mengurangi verbalisme peserta didik dalam memahami suatu konsep
terutama konsep-konsep yang sulit untuk dipahami dalam proses
pembelajaran matematika.
Penggunaan alat peraga yang efektif dan efisien disamping untuk
menjelaskan pelajaran secara lebih konkret juga dapat mendorong peserta
didik belajar lebih baik dan menciptakan situasi yang menyenangkan
sehingga dapat menumbuhkan minat dan motivasi belajar pada diri peserta
didik, setidaknya ketakutan peserta didik yang beranggapan matematika
merupakan momok akan hilang justru mereka akan merasa senang
bermain sambil berhitung.
D. Penerapan Alat Peraga dalam Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat
a. Alat Peraga Ceker
Media ceker ini berbentuk setengah lingkaran, yang masing-masing
setengah lingkaran tersebut mewakili warna merah untuk bilangan positif
(+) dan warna putih untuk bilangan negatif (-). Melalui media ceker ini
dapat membantu peserta didik dalam melakukan penjumlahan bilangan
bulat.
Media ceker ini dapat berupa potongan karton setengah lingkaran
yang apabila sisi diameternya digabungkan akan membentuk satu
lingkaran penuh. Alat ini biasanya terdiri dari dua warna, satu warna untuk

menandakan bilangan positif (warna merah), sedangkan warna lainnya


untuk menandakan bilangan negatif (warna putih).

Setengah lingkaran warna merah (bilangan


Setengah positif)
lingkaran warna putih (bilangan negatif)

Dalam alat ini, bilangan Nol (Netral) diwakili oleh 2 (dua) buah

setengah lingkaran dengan warna berbeda yang dihimpitkan pada sisi


diameternya, sehingga membentuk lingkaran penuh dalam 2 (dua) warna.

Netral = Bernilai Nol

Dalam operasi hitung, proses penggabungan dalam konsep


himpunan dapat diartikan sebagai penjumlahan, sedangkan proses
pemisahan dapat diartikan sebagai pengurangan. Berarti jika kita
menggabungkan sejumlah setengah lingkaran kedalam kelompok setengah
lingkaran lain sama halnya dengan melakukan penjumlahan.
1. Prinsip Penjumlahan Bilangan Bulat dengan Menggunakan Alat Peraga
(setengah lingkaran)
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan
proses penjumlahan, yaitu:
a. Jika a > 0 dan b > 0 atau a < 0 dan b < 0, maka gabungkanlah
sejumlah setengah lingkaran ke dalam kelompok setengah
lingkaran lain yang warnanya sama.
Contoh 1:
3+ 2 = ?
Untuk menjalankan proses peragaan bentuk operasi ini,
yaitu proses kerja sebagai berikut:

10

1. Ambil 3 buah setengah lingkaran yang

bertanda positif ke dalam papan peragaan.


Hal ini menunjukkan bilangan positif 3.
2. Tambahkan 2 buah setengah lingkaran yang

bertanda positif kedalam papan peragaan. Hal


ini menunjukkan bilangan positif 2.
3. Dari langkah kedua, setelah digabungkan ke

dalam kelompok setengah lingkaran yang


sama maka terdapat 5 yang bertanda positif.
Hal ini menunjukkan positif 5.
Sehingga 2 + 3 = 5

Cont
Contoh 2:
(-2) + (-3) = ?
Untuk menjalankan proses peragaan bentuk operasi ini,
yaitu proses kerja sebagai berikut:
1. Ambil 2 buah setengah lingkaran yang

bertanda negatif ke dalam papan peragaan.


Hal ini menunjukkan bilangan negatif 2.
2. Tambahkan 3 buah setengah lingkaran yang

bertanda negatif ke dalam papan peragaan.


Hal ini menunjukkan bilangan negatif 3
3. Dari langkah kedua, setelah digabungkan ke

dalam ke lompok setengah lingkaran yang


sama maka terdapat 5 yang bertanda negatif.
Hal ini menunjukkan negatif 5.
Sehingga (-2) + (-3) = (-5)

11

b. Jika a > 0 dan b < 0 atau sebaliknya, maka gabungkanlah sejumlah


setengah lingkaran yang mewakili bilangan positif ke dalam
kelompok setengah lingkaran yang mewakili bilangan negatif.
Selanjutnya, lakukan proses penghimpitan di antara kedua
kelompok setengah lingkaran tersebut agar ada yang menjadi
lingkaran penuh. Tujuannya untuk mencari sebanyak-banyaknya
kelompok setengah lingkaran yang bernilai nol. Melalui proses ini
akan menyisakan setengah lingkaran dengan warna tertentu yang
tidak berpasangan. Setengah lingkaran yang tidak berpasangan
inilah yang merupakan hasil penjumlahannya.
Contoh 3:
2 + (-3) = ?
Untuk menjalankan proses peragaan bentuk operasi ini,
yaitu proses kerja sebagai berikut:
1. Ambil

2 buah setengah lingkaran yang

bertanda positif ke dalam papan peragaan. Hal


ini menunjukkan bilangan positif 2.
2. Tambahkan 3 buah setengah lingkaran yang

bertanda negatif ke dalam papan peragaan. Hal


ini menunjukkan bilangan negatif 3.
3. Lakukan pemetaan antara setengah lingkaran

yang bertanda positif dengan yang bertanda


nagatif dengan tujuan untuk mencari sebanyakbanyaknya bilangan yang bersifat netral.
4. Dari hasil pemetaan langkah ketiga di atas

terlihat ada dua pasang setengah lingkaran


yang membentuk lingkaran penuh (netral) jika
pasangan setengah lingkaran dikeluarkan maka
dalam papan peragaan terlihat ada 1 (satu)
buah

setengah lingkaran

yang berwarna

kuning (bernilai negatif 1). Peragaan ini


menunjukkan kepada kita bahwa 2 + (-3) = -1

12

2. Prinsip

Pengurangan Bilangan Bulat dengan Menggunakan Alat

Peraga (setengah lingkaran)


Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan
proses pengurangan, yaitu:
a. Jika a > 0 dan b > 0 tetapi a > b, maka pisahkan secara langsung
sejumlah b setengah lingkaran keluar dari kelompok setengah
lingkaran yang berjumlah a. Melalui proses ini akan menyisahkan
setengah lingkaran dengan warna tertentu yang tidak berpasangan.
Setengah lingkaran yang tidak berpasangan inilah yang merupakan
hasil pengurangan.
Contoh 4:
3 2 = ?
Untuk menjalankan proses peragaan bentuk operasi ini,
yaitu proses kerja sebagai berikut:
1. Ambil 3 buah

setengah lingkaran

yang

bertanda positif ke dalam papan peragaan


(untuk menunjukkan bilangan positif 3)
2. Pisahkan 2 buah buah setengah lingkaran

yang

bertanda

dipisahkan

dari

positif,
kelompok

selanjutnya
setengah

lingkaran lainnya.
3. Dari hasil pemisahan tersebut maka di

dalam papan peragaan sekarang terdapat 1


(satu) setengah lingkaran bertanda positif.
Hal ini menunjukkan. 3 2 = 1

13

b. Jika a > 0 dan b > 0 tetapi a < b, maka sebelum memisahkan


sejumlah b setengah lingkaran yang nilai bilangannya lebih besar
dari a, terlebih dahulu Anda harus menggabungkan sejumlah
setengah lingkaran yang bersifat netral ke dalam kelompok
setengah lingkaran a, dan banyaknya tergantung pada seberapa
kurangnya setengah lingkaran yang akan dipisahkan. Melalui
proses ini akan menyisahkan setengah lingkaran dengan warna
tertentu yang tidak berpasangan. Setengah lingkaran yang tidak
berpasangan inilah yang merupakan hasil pengurangan.

Contoh 5:
2 3 = ?
Untuk menjalankan proses peragaan bentuk operasi ini,
yaitu proses kerja sebagai berikut:

14

1. Ambil 2 buah

setengah lingkaran

yang

bertanda positif ke dalam papan peragaan


(untuk menunjukkan bilangan positif 2)
2. Karena operasi hitungnya berkenaan dengan

pengurangan, yaitu oleh bilangan positif 3,


maka seharusnya kita memisahkan dari
papan peragaan tersebut setengah lingkaran
yang bertanda positif sebanyak 3 buah.
Namun, untuk sementara pengambilan tidak

karena akan diambil


sebanyak 3 tetapi hanya
ada 2 buah

dapat dilakukan.
3. Agar pemisahan dapat dilakukan, maka kita

perlu

menambahkan

buah

setengah

lingkaran bertanda positif dan satu buah


setengah lingkaran

bertanda negatif dan

letaknya dihimpitkan ke dalam papan


peragaan.
4. Setelah melalui proses tersebut, dalam

papan peragaan terlihat ada 3 buah setengah


lingkaran yang bertanda positif dan 1 buah
setengah

lingkaran

bertanda

negatif.

Selanjutnya kita dapat memisahkan ke-3


buah

setengah lingkaran

yang bertanda

positif keluar dari papan peragaan.


5. Dari hasil pemisahan tersebut, di dalam

papan peragaan sekarang terdapat 1 (satu)


buah

setengah lingkaran yang bertanda

negatif. Hal ini menunjukkan. 2 3 = -1

15

c. jika a > 0 dan b < 0, maka sebelum memisahkan sejumlah b


setengah lingkaran yang bernilai negatif, terlebih dahulu Anda
harus menggabungkan sejumlah setengah lingkaran yang bersifat
netral

dan

banyaknya

tergantung

dari

besarnya

bilangan

pengurangnya (b). Melalui proses ini akan menyisahkan setengah


lingkaran dengan warna tertentu yang tidak berpasangan. Setengah
lingkaran yang tidak berpasangan inilah yang merupakan hasil
pengurangan.
Contoh 6:
2 (-1) = ?
Untuk menjalankan proses peragaan bentuk operasi ini,
yaitu proses kerja sebagai berikut:

16

1. Ambil 2 buah

setengah lingkaran

yang

bertanda positif ke dalam papan peragaan


(untuk menunjukkan bilangan positif 2)
2. Karena operasi hitungnya berkenaan dengan

pengurangan, yaitu oleh bilangan negatif 1,


maka seharusnya kita memisahkan dari
papan peragaan tersebut setengah lingkaran
yang bertanda negatif sebanyak 1 buah.
Namun, untuk sementara pengambilan tidak

karena akan diambil


sebanyak 1 negatif,
tetapi tidak terdapat
setengah lingkaran yang

dapat dilakukan.

bertanda negatif
3. Agar pemisahan dapat dilakukan, maka kita

perlu

menambahkan

buah

setengah

lingkaran bertanda positif dan satu buah


setengah lingkaran bertanda negatif dan
letaknya dihimpitkan ke dalam papan
peragaan.
4. Setelah melalui proses tersebut, dalam
papan peragaan terlihat ada 3 buah setengah
lingkaran yang bertanda positif dan 1 buah
setengah

lingkaran

bertanda

negatif.

Selanjutnya kita dapat memisahkan 1 buah


setengah lingkaran

yang bertanda negatif

keluar dari papan peragaan.


5. Dari hasil pemisahan tersebut, di dalam

papan peragaan sekarang terdapat 3(tiga)


buah

setengah lingkaran yang bertanda

positif. Hal ini menunjukkan. 2 (-1) = 3


d. Jika a < 0 dan b > 0, maka sebelum melakukan proses pemisahan
sejumlah b setengah lingkaran yang bernilai positif dari kumpulan
setengah lingkaran yang bernilai negatif, terlebih dahulu Anda

17

harus menggabungkan sejumlah setengah lingkaran yang bersifat


netral ke dalam kumpulan setengah lingkaran a, dan banyaknya
tergantung pada seberapa besarnya bilangan b. Melalui proses ini
akan menyisahkan setengah lingkaran dengan warna tertentu yang
tidak berpasangan. Setengah lingkaran yang tidak berpasangan
inilah yang merupakan hasil pengurangan.
Contoh 7:
(-2) 1 = ?
Untuk menjalankan proses peragaan bentuk operasi ini,
yaitu proses kerja sebagai berikut:

18

1. Ambil 2 buah

setengah lingkaran yang

bertanda negatif ke dalam papan peragaan


(untuk menunjukkan bilangan negatif 2)
2. Karena operasi hitungnya berkenaan dengan

pengurangan, yaitu oleh bilangan positif 1,


maka seharusnya kita memisahkan dari
papan peragaan tersebut setengah lingkaran karena akan diambil
yang bertanda positif sebanyak 1 buah. sebanyak 1 positif, tetapi
Namun, untuk sementara pengambilan tidak tidak terdapat setengah
lingkaran yang bertanda
dapat dilakukan.
positif
3. Agar pemisahan dapat dilakukan, maka kita

perlu

menambahkan

buah

setengah

lingkaran bertanda positif dan satu buah


setengah lingkaran bertanda negatif dan
letaknya dihimpitkan ke dalam papan
peragaan.
4. Setelah melalui proses tersebut, dalam

papan peragaan terlihat ada 3 buah setengah


lingkaran yang bertanda negatif dan 1 buah
setengah

lingkaran

bertanda

positif.

Selanjutnya kita dapat memisahkan 1 buah


setengah lingkaran

yang bertanda positif

keluar dari papan peragaan.


5. Dari hasil pemisahan tersebut, di dalam

papan peragaan sekarang terdapat 3(tiga)


buah

setengah lingkaran yang bertanda

negatif. Hal ini menunjukkan. (-2) 1 = (-3)


e. Jika a < 0 dan b < 0 tetapi a > b, maka sebelum melakukan proses
pemisahan sejumlah b setengah lingkaran yang bilangannya lebih
19

kecil dari a, terlebih dahulu Anda harus melakukan proses


penggabungan sejumlah setengah lingkaran yang bersifat netral ke
dalam kumpulan setengah lingkaran a, dan banyaknya tergantung
dari seberapa kurangnya setengah lingkaran yang akan dipisahkan.
Melalui proses ini akan menyisahkan setengah lingkaran dengan
warna tertentu yang tidak berpasangan. Setengah lingkaran yang
tidak berpasangan inilah yang merupakan hasil pengurangan.
Contoh 8:
(-1) (-2) = ?
Untuk menjalankan proses peragaan bentuk operasi ini,
yaitu proses kerja sebagai berikut:

20

1. Ambil 1 buah

setengah lingkaran yang

bertanda negatif ke dalam papan peragaan


(untuk menunjukkan bilangan negatif 1)
2. Karena operasi hitungnya berkenaan dengan

pengurangan, yaitu oleh bilangan negatif 2,


maka seharusnya kita memisahkan dari
papan peragaan tersebut setengah lingkaran
yang bertanda negatif

2 buah. Namun,

untuk sementara pengambilan tidak dapat


dilakukan.

karena akan diambil


sebanyak 2 negatif,
tetapi hanya terdapat 1
buah setengah lingkaran
yang bertanda negatif.

3. Agar pemisahan dapat dilakukan, maka kita

perlu

menambahkan

buah

setengah

lingkaran bertanda positif dan satu buah


setengah lingkaran bertanda negatif dan
letaknya dihimpitkan ke dalam papan
peragaan.
4. Setelah melalui proses tersebut, dalam

f.
f.

papan peragaan terlihat ada 2 buah setengah

f.

lingkaran yang bertanda negatif dan 1 buah


setengah lingkaran setengah lingkaran

f.

bertanda positif. Selanjutnya kita dapat


memisahkan 2 buah

f.

setengah lingkaran

f.

yang bertanda negatif keluar dari papan


peragaan.

f.

5. Dari hasil pemisahan tersebut, di dalam

papan peragaan sekarang terdapat 1(satu)

f.

buah

f.

setengah lingkaran

yang bertanda

positif. Hal ini menunjukkan. (-1) (-2) = 1

f.

Jika a < 0 dan b < 0 tetapi a < b, maka pisahkanlah secara langsung
sejumlah b setengah lingkaran keluar dari kelompok setengah lingkaran

21

yang berjumlah a. Melalui proses ini akan menyisahkan setengah


lingkaran dengan warna tertentu yang tidak berpasangan. Setengah
lingkaran yang tidak berpasangan inilah yang merupakan hasil
pengurangan.
Contoh 9:
(-2) (-1) = ?
Untuk menjalankan proses peragaan bentuk operasi ini,
yaitu proses kerja sebagai berikut:
1. Ambil 2 buah

setengah lingkaran

yang

bertanda negatif ke dalam papan peragaan


(untuk menunjukkan bilangan negatif 2)
2. Karena operasi hitungnya berkenaan dengan

pengurangan, yaitu oleh bilangan negatif 1,


maka pisahkan dari papan peragaan tersebut
setengah lingkaran yang bertanda negatif
sebanyak 1 buah.
3. Dari hasil pemisahan tersebut, di dalam
papan peragaan sekarang terdapat 1(satu)
buah

setengah lingkaran yang bertanda

negatif. Hal ini menunjukkan


(2) (1)=(1)

b. Alat Peraga Mobil Garis Bilangan

22

Alat peraga mobil garis bilangan adalah media alat peraga. Alat
peraga ini terbuat dari bahan sederhana seperti kayu, triplek, plastik , dan
karton.

Cara penggunaan mobil garis bilangan sebagai berikut:


Mobil diletakkan di titik 0 menghadap ke kanan
Apabila bilangan bulat positif, mobil bergerak maju. Jika bulat

negatif, mobil bergerak mundur


Jika dikurangi mobil harus berbalik arah
Ilustrasi penggunaan mobil garis bilangan adalah sebagai berikut:
1. Misalkan diberikan soal 3+2, maka mobil ditempatkan pada angka 0
menghadap ke kanan dan bergerak maju sejauh 3 kotak, sehingga
mobil berada di angka 3, kemudian mobil digerakkan maju sejauh 2
kotak, sehingga mobil akan berada di angka 5. Maka jawaban dari
soal 3+2 adalah 5.

2. Misalkan diberikan soal 3+(-2), maka mobil ditempatkan pada angka


0 menghadap ke kanan dan digerakkan maju sejauh 3 kotak, sehingga
mobil berada di angka 3, kemudian mobil bergerak mundur sejauh 2
kotak, sehingga mobil akan berada di angka 1. Maka jawaban dari
soal 3+(2) adalah 1.

23

3. Misalkan diberikan soal

3+ 2 , maka mobil ditempatkan pada

angka 0 menghadap ke kanan dan digerakkan mundur sejauh 3 kotak


sehingga mobil berada di angka

3 , kemudian mobil digerakkan

maju sejauh 2 kotak, sehingga mobil akan berada di angka -1.


Jawaban dari soal 3+ 2 adalah 1 .

4. Diberikan soal

3+(2) , maka mobil ditempatkan di angka 0

menghadap ke kanan dan digerakkan mundur sejauh 3 kotak, sehingga


mobil berada di angka

3 , kemudian mobil bergerak mundur

sejauh 2 kotak, sehingga mobil akan berada di angka -5. Maka


jawaban dari soal 3+(2) adalah -5.

24

5. Misalkan diberikan

32 , maka mobil ditempatkan di angka 0

menghadap ke kanan dan digerakkan maju sejauh 3 kotak, sehingga


mobil berada di angka 3, operasi pengurangan berarti posisi mobil
dibalik menghadap ke kiri kemudian mobil bergerak maju sejauh 2
kotak sehingga mobil berada di angka 1. Maka, jawaban dari soal
32

adalah 1.

6. Diberikan soal

3(2) , maka mobil ditempatkan pada angka 0

menghadap ke kanan, dan digerakkan maju sejauh 3 kotak sehingga


mobil berada di angka 3. Operasi pengurangan berarti posisi mobil
dibalik menghadap ke kiri, kemudian bergerak mundur sejauh 2 kotak,
sehingga mobil berada di angka 5. Maka, jawaban dari soal
3(2) adalah 5.

25

7. Diberikan soal

32 , maka mobil ditempatkan pada angka 0

menghadap ke kanan dan bergerak mundur sejauh 3 kotak. Operasi


pengurangan berarti posisi mobil dibalik menghadap ke kiri dan
bergerak maju sejauh 2 kotak, sehingga mobil berada di angka

5 .

Maka jawaban dari soal 32 adalah -5.

8. Diberikan soal

3(2) , maka mobil ditempatkan pada angka 0

menghadap ke kanan dan bergerak mundur sejauh 3 kotak. Operasi


pengurangan berarti posisi mobil dibalik menghadap ke kiri,
kemudian bergerak mundur sejauh 2 kotak, sehingga mobil berada di
angka -1. Maka jawaban dari soal 3(2) adalah -1.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa:


1. Pemikiran peserta didik sekolah dasar umumnya masih bersifat
konkret,

sehingga

perlu

adanya

alat

peraga

sebagai

media

pembelajaran yang dapat menunjang tercapainya tujuan pembelajaran.


2. Dalam penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat, dapat digunakan
dua jenis alat peraga, yaitu media ceker dan mobil garis bilangan.
B. Saran

26

Diharapkan kepada para pendidik agar dalam pemberian materi pelajaran di


tingkat sekolah dasar khususnya dalam pengajaran penjumlahan dan pengurangan
bilangan bulat agar menggunakan media pembelajaran, dalam hal ini alat peraga.
Hal ini dimaksudkan untuk lebih meningkatkan motivasi belajar peserta didik dan
mengoptimalkan keaktifan mereka dalam proses belajar mengajar.
DAFTAR PUSTAKA
Aunurrahman. 2011. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Arsyad, Azhar. 2013. Media Pembelajaran. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Cahyo, A. N. 2013. Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar Teraktual
dan Terpopuler. Jogjakarta: DIVA Press.
Daryanto. 2013. Strategi dan Tahapan Mengajar. Bandung: CV YRAMA
WIDYA.
Desmita. 2010. Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Djamarah, S.B., dan Zain, A. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Faridiah, H N. 2009. Meningkatkan Penguasaan Konsep Operasi Penjumlahan
dan Pengurangan Bilangan Bulat Melalui Bermain pada Siswa Kelas V MI
Miftahul Ulum 01 Wonorejo Kabupaten Pasuruan. Skripsi. Universitas
Negeri Malang
Heruman. 2010. Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Husdarta, JS. dan Saputra, YM. 2013. Belajar dan Pembelajaran. Bandung:
Alfabeta.
Sudjana, Nana. 2011. Teori Belajar untuk Pembelajaran. Bekasi: Binamitra.
Suprijono, Agus. 2012. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

27