Anda di halaman 1dari 5

Laporan kasus

Pasien pria dengan ras India berumur 60 tahun belum menikah melaporkan ke
Department of Oral Diagnosis Medicine and Radiology dengan keluhan terjadi
perdarahan pada bibir sejak 15 hari. Pasien juga mengeluhkan bahwa terjadi demam,
nyeri, turun berat badan, hilang nafsu makan, lemas dan beberapa lesi erythematous yang
gatal pada tangan, lengan, punggung dan dada sejak 15 hari yang lalu. Pasien memiliki
riwayat penyakit kulit yang hampir sama 2 tahun lalu, yang hilang setelah dirawat. Pasien
juga melaporkan bahwa dia melakukan hubungan seksual tanpa pengaman dengan
beberapa pekerja seksual komersil.
Pada pemeriksaan umum, keadaan pasien lemah, cachexic, kekurangan gizi, badan pasien
kurus, dengan postur yang normal. Pada pemeriksaan ekstraoral, menunujukan lesi
eksoriasi terlihat pada kedua tngan, lengan bwah, dahi, dada, dan lesi besar yang sudah
sembuh dengan luka region punggung bawah (Gambar1).
Pada pemeriksaan intral oral, terdapat lesi erythematous yang banyak, dengan ulserasi
yang ringan pada bibir bawah dan lapisan hemorrhagic pada sebelah kanan bibir bawah.
Lesi hemorrhagic pada palatum keras dan dengan pigmentasi melanin pada permukaan
dorsal lidah dan mukosa bukal juga ditemukan (Gambar2). Berdasarkan gambar,
mendapatkan diganosis banding yaitu pemphigus, erythema multiforme, benign mucous
membrane pemphigoid, HIV dan sifilis.
Pasien dirujuk untuk pemeriksaan darah lengkap, elektroforesis protein, tes antibody
antinulir, tes VDRL (Venereal Disease Research Laboratory), ELISA (enzyme-linked

immunosorbent assay) untuk HIV dan antigen HBsAg untuk Hepatitis B, biopsy dengan
direct immunofluorescence (DIF). Hasil seluruh tes normal; DIF negatif dimana limfosit
dan plasmosit dengan pembengkakan endotel terlihat; VDRL terlihat reaktif dengan
angka titer yang tinggi yaitu 1:64 dan spiroseta terlihat pada mikroskop lapangan gelap.
Lalu berdasarkan riwayat pribadi, manifestasi klinis, tes VDRL yang positif dan biopsi
dari daerah lesi, dinyatakan bahwa diagnosa finalnya adalah sifilis sekunder. Pemeriksaan
yang lebih spesifik seperti Treponema Pallidum Hemagglutination Assay (TPHA) dan
Treponema Pallidum Particle-Agglutination Test (TPPA) tidak dilakukan karena tidak
tersedianya fasilitas dan keterbatasan finansial.

Pasien diobati dengan 2.4 MU benzathine penicillin setiap minggu selama 1 bulan. Pasien
juga diberikan betametason 4mg IM estiap minggu selama 2 minggu untuk mencegah
reaksi Jarisch-Herxheimer. Seluruh lesi sembuh setelah 1 bulan diobati, dan tanpa
rekurensi setelah 3 bulan control. Tes VDRL dilakukan lagi dan titer berkurang menjadi
1:32. Pasien dianjurkan untuk control secara regular selama 3 bulan.

Gambar 1. Eksoriasi lesi pada lengan bawah

Gambar 2. Lesi erythematous yang banyak dengan dengan


ulserasi yang ringan pada bibir bawah dan lapisan hemorrhagic
pada sebelah kanan bibir bawah.

Bab 3

Penularan syphilis disebabkan oleh Treponema pallidum. Dari beberapa dekade


lalu kenaikan yang signifikan pada prevalensi penularan syphilis di dunia. Syphilis paling
banyak diteukan di Eropa Timur dan peningkatan pada jumlah kecil di Eropa Barat dan
US. Perubahan epidemologi penyakit sifilis

menunjukan terjadi kegagalan metode

kontrasepsi, seringnya berganti pasangan seks, pergaulan bebas seksual, kurangnya


pengetahuan. Di Eropa Timur peningkatan frekuensi sifilis di dominasi oleh heterosexual,
sedangkan di UK dan US, wabah terjadi pada heterosexual dan pada homoseksual.
PRIMARY SYPHILIS
Pada mulut, jarang ditemukan tanda sifilis primer karena adanya respon imun, lesi
oral pada sifilis primer biasanya tidak terdeteksi oleh pasien atau oleh dokter, dengan kata
lain jarang terjadi, lesi pada sifilis primer biasanya sulit membedakan dengan penyakit
mucocutaneous yang telah ada sebelumnya. Sifilis primer akibat dari kontak orogenital

atau oroanal dengan lesi yang menular. Berciuman mungkin dapat menularkan tetapi
jarang terjadi.
Manifestasi sifilis primer dalam mulut biasanya terjadi lesi ulseratif pada bibir, dan
kadang di lidah, pada faring dan tonsil juga biasanya terjadi. Uleserasi biasanya terlihat
dalam, merah ke ungungan, dengan dasar bewarna coklat dan juga dengan batas tidak
jelas. Ulserasi dari sifilis primer biasanya sulit dibedakan dengan solitaru ulserative
disorders. Lesi ulseratif yang paling jelas adalah adanya squamous cell carcinoma dan
limfoma non-Hodgkins

SECONDARY SYPHILIS