Anda di halaman 1dari 66

PENGELOLAAN DAN

PEMANTAUAN
LINGKUNGAN DI
PT PERTAMINA EP
REGION JAWA FIELD
JATIBARANG

Latar Belakang
Kegiatan produksi minyak dan gas
bumi mempunyai potensi dampak
terhadap
lingkungan
udara,
perairan, biota, dan sosial yang
akan dilakukan studi AMDAL dan /
atau UKL, UPL. Dalam kegiatan
operasinya PT PERTAMINA EP
Region Jawa telah melakukan
pengelolaan
terhadap
sumbersumber yang berpotensi mencemai

Telah
dilaksanakan
kegiatan
pemantauan
lingkungan di lokasi PT PERTAMINA EP Region Jawa
Field Jatibarang Tahun 2009 Semester I. Maksud
kegiatan pemantauan lingkungan ini adalah
memberi
masukan
yang
berharga
untuk
memperbaiki sistem pengelolaan yang sudah
dijalankan
sehingga
dapat
diwujudkan
Pembangunan yang Berwawasan Lingkungan sesuai
dengan peraturan perundangan
lingkungan di
Indonesia.
Pelaporan
pemantauan
lingkungan
yang
dilaksanakan pada Semester I Tahun 2009 ini
mangacu pada KEPMENLH No. 45 Tahun 2005
tentang Pedoman Penyusunan Laporan Pelaksanaan
Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan
Rencana Pemantantauan Lingkungan (RPL).

Maksud Kerja
Praktek
Maksud dari pelaksanaan Kerja
Praktek ini adalah sebagai
syarat bagi kelulusan mata
kuliah Kerja Praktek di Jurusan
Teknik Lingkungan Kebumian
Fakultas
Teknologi
Mineral,
Universitas
Pembangunan
Nasional Veteran Yogyakarta.

Tujuan Kerja
Praktek

Memenuhi salah satu persyaratan Akademik


dalam menyelesaikan program Sarjana Strata 1
pada Program Studi Teknik Lingkungan
Kebumian, Fakultas Teknologi Mineral, Universitas
Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.
Mengetahui prinsip pengolahan limbah hasil
kegiatan pemboran yang dilakukan di PT
PERTAMINA REGION JAWA FIELD JATIBARANG.
Mengetahui fasilitas dan peralatan yang
dipergunakan dalam kegiatan eksplorasi,
produksi dan pengolahan limbah yang dilakukan
oleh PT PERTAMINA EP REGION JAWA FIELD
JATIBARANG.

Manfaat Kerja
Praktek
Mendapat pelajaran
tentang bagaimana cara
pengolahan air terproduksi yang berasal dari
berbagai stasiun pengumpul di field jatibarang
dan field subang.
Mendapat pelajaran tentang
rencana
pengelolaan lingkungan yang di terapkan di
PT.PERTAMINA EP REGION JAWA - FIELD
JATIBARANG.
Mendapat pengetahuan mengenai kegiatan
eksplorasi, produksi, pengelolaan lingkungan
secara langsung yang tidak di dapatkan di
lingkungan kampus.

Wilayah Kerja
PT PERTAMINA EP Region Jawa Field
Jatibarang
merupakan
pelaksana
kegiatan yang menangani kegiatan
eksplorasi dan produksi di wilayah
Jawa
Bagian
Barat
secara
administratif
meliputi
3
(tiga)
kabupaten yaitu Kabupaten Cirebon,
Kabupaten Indramayu dan Kabupaten
Majalengka.

WILAYAH KERJA
PT PERTAMINA EP REGION JAWA

SP KHT

I. KABUPATEN INDRAMAYU
1. SPU- A MUNDU
2. SPU- B MUNDU
3. SPU CEMARA
4. SP
GANTAR
5. SP TUGU BARAT I
6. SP TUGU BARAT II
7. SPG WALED UTARA
8. SP SINDANG
9. SP MELANDONG
10. SP KANDANG HAUR
TIMUR
11. TERMINAL BALONGAN
II. KABUPATEN
MAJALENGKA
12.

SP

RANDEGAN

Fasilitas Produksi
fasilitas produksi yang terdapat di field Jatibarang
Kabupaten Indramayu meliputi empat (4) stasiun
pengumpul utama, lima (5) stasiun pengumpul dan
1 terminal yaitu:
Stasiun Pengumpul Utama A Mundu
Stasiun Pengumpul Utama B Mundu
Stasiun Pengumpul Utama Randegan
Stasiun Pengumpul Utama Cemara
Stasiun Pengumpul Gantar
Stasiun Pengumpul Tugu Barat I
Stasiun Pengumpul Tugu Barat II
Stasiun Pengumpul Sindang
Stasiun Pengumpul Gas Waled Utara
Pusat Pengumpul Produksi atau Terminal Balongan

Tabel Rata-rata Penerimaan Minyak di


Terminal Balongan 2009
Minyak Gross
Minyak Nett
Field
(Barrels per
(BOPD)
day)
Melalui Pipa Trunk Line

No

Jatibarang

2
3

Air Cerat
(BWPD)

24.003

1.730

22.273

Cemara

6.665

3.054

3.611

X-Ray

22.208

2.193

20.015

52.876

6.977

45.899

17.903

15.403

2.500

Sub Total

Melalui Road Tank


1

CMS

PDT/PDM

13

13

SKD

49

36

13

Sub Total

17.968

15.452

2.516

Total Penerimaan

70.844

22.429

48.415

Komitmen Manajemen
PERTAMINA EP Area
Jatibarang:
Integrasi Aspek HSE dari Tahap Desain
sampai Pasca Operasi.
Taat Prosedur Kerja.
Utamakan Keselamatan Kerja.
Menerapkan Standar Good Oil Practices.
Operasi Yang Handal dan Ramah
Lingkungan.
Sertifikasi ISO & OHSAS Tahun 2010.
Minimalisasi Limbah dan Zero Discharge
2011.

PARADIGMA PENYUSUNAN
PROGRAM HSE REGION JAWA
HSE
HSEPERFOMANCE
PERFOMANCE
TARGET
TARGET
Zero
ZeroAccident
Accident
No
NoHarm
HarmTo
ToPeople
People
PROPER
PROPERLH
LHMinimal
MinimalBiru
Biru
Audit
AuditSMHSE
SMHSEBB
Safety
SafetyRating
RatingDupont
Dupont
dan
danHSE
HSEWorld
WorldClass
Class
Company
Company
Sertifikasi
SertifikasiSarfas
Sarfas
(SKPI,SKKP)
(SKPI,SKKP)
Sertifikasi
SertifikasiHSE
HSE
Management
Management(OHSAS
(OHSAS
18001:2007
dan
18001:2007 danISO
ISO
14001:2000)
14001:2000)

PERTAMINA EP

VISI,
VISI,MISI
MISIDAN
DAN
KEBIJAKAN
KEBIJAKANHSE
HSE
REGION
JAWA
REGION JAWA

U
K
O
T
I

PROGRAM HSE

COMPLIANCETERHADAP
TERHADAP
COMPLIANCE
PERATURAN
PERATURAN
PERUNDANGAN,
PERUNDANGAN,
STANDAR,STK
STK&&CODE
CODE
STANDAR,

ISSUEEKSTERNAL
EKSTERNAL
ISSUE
IssueLingkungan
Lingkungan
Issue
AspekSosial
Sosial
Aspek
OtonomiDaerah
Daerahdll
dll
Otonomi

PELAKSANAAN RKL dan RPL

PERTAMINA EP

Kegiatan pemantauan lingkungan yang dilakukan


PT Pertamina EP Region Jawa Field Jatibarang
dilaksanakan dan didokumentasikan dalam
Laporan Pemantauan Lingkungan yang terdiri
dari hasil pengambilan dan pengujian sampel,
analisis / pembahasan terhadap uji sampel, serta
upaya penanganan yang dapat dilakukan oleh
pihak PT Pertamina EP Region Jawa Field
Jatibarang. Yang mana kegiatan pemantauan
lingkungan ini disesuaikan dengan Keputusan
Menteri Negara Lingkungan Hidup No.45 Tahun
2005 Tentang Pedoman Penyusunan Laporan
Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan
(RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan
(RPL).

RONA LINGKUNGAN AWAL


Komponen Lingkungan Fisik
(1991)
kimia
Iklim

Kualitas Udara dan Kebisingan


Geologi dan Fisiografi
Kualitas Air

Keadaan Lingkungan Hayati


Plankton
Flora Darat
Fauna Darat dan Burung
Keadaan Sosial, Ekonomi, dan Budaya
Kependudukan
Kualitas Ekonomi dan Taraf Hidup Masyarakat
Keamanan dan Ketertiban Lingkungan
Tata Nilai dan Gaya Hidup
Interaksi Penduduk dengan Proyek dan Persepsi Masyarakat
Terhadap Pertamina
Penggunaan Lahan

RONA LINGKUNGAN
SEKARANG

Komponen Lingkungan Fisik Kimia


Iklim
Kualitas Udara dan Kebisingan
Kualitas Tanah
Kualitas Air
Keadaan Lingkungan Hayati
Plankton
Flora
Fauna
Keadaan Sosial, Ekonomi, dan Budaya
Kependudukan
Kualitas Ekonomi dan Taraf Hidup Masyarakat
Interaksi Penduduk dengan Proyek dan Persepsi Masyarakat
Terhadap Pertamina

PERTAMINA EP

TINJAUAN
PUSTAKA

KEGIATAN PRODUKSI MINYAK DI


LAPANGAN
Dalam
setiap kegiatan produksi,
selain dihasilkan suatu produk yang
mempunyai nilai tambah tinggi,
juga dihasilkan limbah, baik limbah
padat, cair maupun gas, termasuk
di dalamnya kegiatan industri
pertambangan dan kimia yang
mempunyai bahan baku dari bahan
galian tambang.

PERTAMINA EP

PT PERTAMINA (PERSERO)
DAERAH OPERASI HULU JAWA BAGIAN BARAT
TIPIKAL PROSES PRODUKSI MIGAS

Flare

Sumur Gaslift
Srubber

SP

Utilities/LPG Plant
Gas

Separator

SP

Cairan

Tangki
Timbun
Sumur

Terminal
Balongan
Minyak
Mentah
Gross

Minyak
Mentah
Tanker
Air Cerat
IPAL

Pompa
Air Cerat

Sumur Injeksi
(Water Disposal)

KANAL
LAUT

Sumber limbah minyak bumi pada


kegiatan
usaha minyak dan gas bumi atau
kegiatan lain diantaranya berasal dari
limbah hasil pengeboran berupa
limbah lumpur dan sumur bor (cutting)
melalui pipa, alat angkut, proses
pemindahan (transfer) minyak atau
dari ceceran minyak pada tanah
terkontaminasi (KepmenLH no 128
tahun 2003).

PERTAMINA EP

Minyak bumi termasuk B3.


Namun akan menjadi limbah
B3 jika adanya kontaminasi
dengan tanah akibat adanya
kebocoran pipa, korosi. Definisi
limbah berbahaya (Hazardouz)

Karakteristik limbah B3

Mudah menyala (flammable)


Sangat mudah menyala (highly flammable)
Sangat mudah sekali menyala (extremely flammable)
Pengoksidasi (oxidizing)
Mudah meledak (explosive)
Amat sangat beracun (extremely toxic), sangat
beracun (highly toxic), beracun (moderately toxic)
Berbahaya (harmful)
Korosif (corrosive)
Bersifat iritasi (irritant)
Berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the
environment)
Karsinogenik (carcinogenic)
Teratogenik (teratogenic)
Mutagenik (mutagenic)

Bahan Pencemar / Polusi


pada Produksi minyak dan
gas.

1. Air Terproduksi
Merupakan air yang telah dipisahkan
dari minyak, tetapi masih
mengandung minyak. Proses
penceratan dilakukan di oil catcher.
Air terproduksi masih mengandung
beberapa parameter kimia, seperti
amonia, COD, fenol, sulfida (H2S),
minyak dan lemak.

2. Oil Sludge
Limbah padat yang dihasilkan dari proses
penyimpanan minyak mentah disebut oil
sludge. Oksidasi proses yang terjadi akibat
kontak antara minyak, udara dan air
menimbulkan adanya sedimentasi pada
dasar tangki penyimpanan, endapan ini
adalah oil sludge.
Pada kegiatan produksi minyak dan gas bumi,
oil sludge bersumber dati tank cleaning,
wastepit, perbaikan pipa, tanah
terkontaminasi minyak, dan lain-lain,
Oil Sludge terdiri dari minyak (hydrocarbon),
air, abu, karat tangki, pasir, dan bahan
kimia lainnya. Kandungan dari hydrocarbon
antaralain benzene, toluene, ethylbenzhene,
xylenes, dan logam berat seperti timbal (Pb)
pada oil sludge merupakan limbah B3.

Ceceran Minyak

3. Konsentrasi SO2, CO, NO2, O3, HC,


Hg, Pb, dan Debu (partikulat)

Pada kegiatan produksi minyak


dan gas, emisi udara yang
dihasilkan berasal dari a.genset
b. Kompresor
c.Aktivitas mobil roadtank

4. Kebisingan
Kebisingan adalah semua suara yang
tidak dikehendaki yang bersumber
dari alat- alat proses produksi dan
atau alat-alat kerja yang pada
tingkat tertentu dapat menimbulkan
gangguan pendengaran, menurut
Surat Kep. Menteri Lingkungan Hidup
No. 48/11/1996 dengan
pertimbangan waktu pemajanan
selama 24 jam (BTK dalam kantor =
70 dB(A) ; Baku Tingkat Kebisingan
permukiman penduduk = 55 dB(A)).

KEWAJIBAN PELAKSANAAN PEMANTAUAN DAN


PENGELOLAAN LINGKUNGAN BAGI
PERUSAHAAN BIDANG MINYAK DAN GAS BUMI

Berdasarkan Peraturan Menteri Negara


Lingkungan Hidup No. 11 Tahun 2006
tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau
Kegiatan Yang Wajib dilengkapi dengan
AMDAL, untuk migas yang memiliki skala
5000 BOPD dan gas 30 MMSCFD wajib
dilengkapi dokumen AMDAL, sedangkan
untuk produksi minyaknya <5000 BOPD
dan gas <30 MMSCFD wajib melengkapi
dengan dokumen Upaya Pengelolaan
Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya
Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) .

ANALISIS SUMBER PENCEMAR DAN


BAHAN PENCEMAR KEGIATAN
EKSPLORASI PRODUKSI PT PERTAMINA
EP REGION JAWA FIELD JATIBARANG
1. Limbah Cair

a.Penceratan Tangki
Proses penceratan bertujuan untuk
memisahkan minyak dan air. Air yang
telah dipisahkan disebut air
terproduksi. Air terproduksi masih
mengandung beberapa parameter
kimia seperti fenol, ammonia, H2S,
minyak lemak, dan logam berat.
sehingga perlu dikelola agar tidak

Penerimaan jumlah air terproduksi di


Terminal Balongan pada juni 2009
sebesar 1.452.443 barrel dengan
rata-rata penerimaan setiap hari
sebesar 48.415 BWPD, debit
maksimunya mencapai 60.000 BWPD.
Air terproduksi tersebut dikirim dari
truk line maupun road tank dari
berbagai stasiun pengumpul.

PERTAMINA EP

b. Pembersihan tanki (tank


cleaning) dan pipa (pigging)
Air dari pembersihan tangki dan pipa
tentunya mengandung sisa minyak
dan air terproduksi. Air terproduksi
diperkirakann masih mengandung
fenol, ammonia, H2S, minyak, lemak,
dan logam berat.

PERTAMINA EP

c. Zat Aditif yang Digunakan


Dalam Pembersihan Tanki
Adapun jenis bahan aditif yang dipakai
juga turut menghasilkan bahan B3,
sehingga perlu memakai zat aditif
yang ramah lingkungan yang telah
disetujui oleh DITJEN MIGAS.

d. Pengoperasian Genset dan


Pengoperasian Pompa Minyak
Pengoperasian genset dan pompa minyak
akan menghasilkan ceceran minyak
pelumas. Jika terjadi limpasan akibat hujan,
maka berdampak terhadap perubahan
kualitas air akibat terjadinya peningkatan
kandungan minyak dan lemak. Namun
pengoperasian genset di Field Jatibarang
hanya digunakan pada saat listrik mati,
karena pada saat ini Field Jatibarang telah
menggunakan listrik PLN sebagai pasokan
lisrik untuk kegiatan produksi minyak.
PERTAMINA EP

PERTAMINA EP

e.Limbah cair
bahan kimia
mesin

sisa
dan

pemakaian
perawatan

Limbah cair ini sebagain besar


merupakan B3 dan berasal dari
bahan kimia kadaluarsa laboratorium
Teknik Reservoir Pertamina dan
pelumas bekas.

PERTAMINA EP

2. Limbah Padat
a. Tank Cleaning
Pembersihan Tanki menghasilkan endapan
sludge. Pembersihan tanki di setiap
terminal disesuaikan dengan kebutuhan,
dan tidak mempunyai waktu yang tetap.
Endapan sludge terdiri dari minyak
(hydrocarbon), air, abu, karat tangki,
pasir, dan bahan kimia lainnya. Zat kimia
yang terkandung dalam sludge minyak
umumnya terdiri dari benzene, toluene,
ethylbenzhene, xylenes, dan logam berat.

PERTAMINA EP

b. Ceceran Minyak Akibat Kebocoran


Pipa,
Aktivitas
Perawatan
Sumur
Minyak
atau
Kegiatan
Loading
&
Unloading
Limbah yang dihasilkan dari kegiatan di atas
adalah berupa tanah terkontaminasi minyak.
Tanah terkontaminasi tentunya harus
ditangani, sehingga cepat direcovery.
Terminal Balongan merupakan tempat
pengumpul tanah terkontaminasi minyak,
pada Februari 2009 menerima tanah
terkontaminasi sebesar 1653,2 m 3. Terminal
Balongan mampu menampung sebesar 1.929
m3 tanah terkontaminasi.

PERTAMINA EP

c. Limbah Padat Sisa Pemakaian


Bahan Kimia dan Perawatan Mesin
Sampah dari luar proses produksi
merupakan limbah B3, karena
terdapat sisa-sisa minyak, dan
parameter B3 yang lainnya.
Sampah dari luar hasil proses produksi
pada Januari 2003 sampai maret 2009
terhitung seperti drum bekas 1.14 ton,
filter bekas 0.0015 ton, majun 0.3328
ton, dan jerigen inhibitor 0.055 ton

PERTAMINA EP

3. LIMBAH GAS
a.Flare Stack

Gas yang tidak terpakai dibakar pada


flare. Parameter yang di ukur adalah
opasitas yaitu asap yang nampak
pada saat pembakaran. Semakin
hitam asap yang dihasilkan semakin
tinggi kandungan emisi pada gas
yang dibakar.

PERTAMINA EP

b. Penggunaan Genset dan Pompa


Minyak, Pompa air limbah,
Kompresor
Pompa minyak menggunakan bahan
bakar gas, sehingga menghasilkan NO 2
dan SO2. Untuk pompa air limbah
menggunakan bahan bakar solar yang
menghasilkan emisi NO2, SO2, dan
partikulat. Untuk kompresor
menggunakan bahan bakar gas, emisi
yang terukur meliputi emisi NO2.

4. Kebisingan

PERTAMINA EP

a. Penggunaan Engine Pompa, Engine


Kompressor, dan Genset
Penggunaan engine pompa, engine
kompresor, dan genset menghasilkan
kebisingan, Acuan mengenai bakumutu
kebisingan adalah Keputusan Menteri
Tenaga Kerja No. 51/1999 untuk
lingkungan di luar batas pagar
perusahaan/ tempat operasi, dan Surat
Keputusan Menteri Lingkungan Hidup
No. 48/11/ 1996 untuk lingkup di dalam
kantor dan pemukiman.

PERTAMINA EP

1. Limbah Cair

Pengelolaan Air Terproduksi


Proses pengolahan air terproduksi di Terminal
Balongan secara sederhana dapat diuraikan sebagai
berikut :
Oil Catcher
IPA
Tangki
Timbun

(masingmasing
tangki)

LAU
air cerat
T

minyak

IPAL di Terminal Balongan menggunakan prinsip


pengolahan secara fisika. IPAL terdiri dari 3 (tiga) bak
pengolahan dengan struktur bangunan beton, yaitu
bak pemisah dan lumpur, bak aerasi/ koagulasi, dan
bak water disposal.

Pengelolaan Limbah B3 Cair


Untuk pengelolaan Limbah B3 cair,
PT
Pertamina
EP
Region
Jawa
melakukan kerjasama pengelolaan
dengan pihak III yang sudah mendapat
ijin pengelolaan limbah B3 dari
Kemenntrian Lingkungan Hidup.
Pemantauan Air Terproduksi
Pengambilan sampel air terproduksi
di lakukan di outlet IPAL dan outlet
kanal menuju ke laut. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada tabel 5.1.

Diagram Alir
Pengolahan Air
Terproduksi

Tabel 5.1 Hasil Analisis Kualitas Air Terproduksi Semester I Tahun 2009
(Mengacu padaPeraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 04 Tahun 2007
tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha Dan/Atau Kegiatan Minyak dan Gas Serta
Panas Bumi, Lampiran I)
Outlet
Outlet
Baku
Metoda
No
Parameter
Satuan
IPAL
KANAL
Mutu
Standar
1.
Amoniak
mg/L
2,13
3,22
5
SNI
062.

(NH3)
COD

mg/L

183,44

167,24

200

2479-1991
SNI
066989.2-

3.

Fenol

mg/L

0,82

0,4

2004
SNI

06-

6989.214.

Minyak dan

5.

Lemak
Sulfida

6.

(H2S)
Suhu

mg/L
mg/L
o

2,55
0.48
31,0

1,35
0.2
23,7

25

2004
SNI

0,5

2502-1991
SM
4500-

40 oc

S2-F*
SNI

06-

06-

6989.237.

pH

7,20

8,51

6,0 9,0

2005
SNI

06-

6989.112004

Pemantauan Limbah B3 Cair


Pada pemantauan Limbah B3 Cair
dilakukan oleh pihak III karena
pengeloalaanya telah berkerjasama
dengan pihak III yang sudah mendapat
ijin pengelolaan limbah B3 dari
Kementrian Lingkungan Hidup.

2. Limbah Padat
Pengelolaan Oil
Terkontaminasi

Sludge

dan

Tanah

Oil sludge juga diperoleh dari bak pertama IPAL (bak


pengumpul minyak dan lumpur), pengurasan tangki,
maupun ceceran minyak atau oil spilled. Oil sludge
tersebut ditampung dalam sludge pond yang berfungsi
sebagai tempat penampungan sementara. Oil sludge
kemudian diolah di dalam Bak pengolahan sludge
dengan metode SOR yaitu menggunakan Steam.
Minyak yang diperoleh dari hasil pemanasan oil sludge
kemudian di vacuum ke dalam API separator untuk
dipisahkan antara air dan minyak. Minyak yang
diperoleh dikembalikan ke dalam tangki, sedangkan
airnya masuk ke IPAL.
Sementara tanah yang terkontaminasi akibat ceceran
oil sludge, setelah minyaknya diambil dan dipisahkan
dari air, maka akan masuk proses bioremidiasi.

Tabel 5.2 Neraca Oil Sludge dan Tanah Terkontaminasi pada Bak
Penyimpanan Sementara di Terminal Balongan
Sisa
Sebelumn
No

ya di

Tanggal
Masuk

Sludge

Sumber

Jumlah(To Penyimpa
n)

nan

Tanggal
Keluar

Jumlah
Recovery
(m3)

Pond (m )
3

Masuknya Limbah B3

1.903,15

1.653,80

1653,2

September
2008
Januari
2009
Februari
2009

Sisa di
Sludge
Pond
(m3)

Keluar Limbah B3 dari TPS

> 90 Hari

> 90 Hari

> 90 Hari

September
2008
Januari
2009
Februari
2009

249,35

1.653,80

21,6

1653,2

5,44

1626,76

Pengelolaan dan Pemantauan Limbah


Padat Sisa Pemakaian Bahan Kimia
dan Perawatan Mesin
Untuk pengelolaan dan pemantauan Limbah B3
padat, PT Pertamina EP Region Jawa melakukan
kerjasama pengelolaan dengan pihak III yang
sudah mendapat ijin pengelolaan limbah B3 dari
Kemenntrian Lingkungan Hidup.

Pemantauan Oil Sludge dan Tanah


Terkontaminasi
Pemantauan
oil
sludge
diakukan
dengan
pencatatan pada saat limbah yang masuk dan
keluar Terminal Balongan termasuk pemantauan
pada saat pengelolaan limbah oleh pihak III. Untuk
melihat sampai sejauh mana terjadi infiltrasi
limbah Oil sludge dan tanah terkontaminasi minyak
ke dalam air tanah, maka dilakukan pemantauan
terhadap air tanah setiap 6 bulan sekali dapat
dilihat pada pemantaun kualitas air tanah.

Lokasi sumur pantau

3. Kualitas Udara
Pengendalian Polusi Udara
Dalam pengendalian kualitas udara dilakukan
pengoptimalisasian kinerja mesin pompa dengan
melakukan perawatan mesin secara teratur, serta
membuat buffer zone di sekeliling Terminal Balongan.

Pemantauan Udara Ambien


Pemantauan kualitas udara ambien dilakukan di
dua titik yaitu di dalam tapak dan permukiman
penduduk. Hasil pemantauan udara ambien di
dalam tapak Terminal Balongan dan permukiman
penduduk menunjukkan bahwa kualitas udara
ambien memenuhi baku mutu. Konsentrasi
parameter-parameter tersebut cukup fluktuatif,
namun
selalu
memenuhi
baku
mutu.
Ini
menunjukkan bahwa kegiatan di Terminal Balongan
tidak menurunkan kualitas udara di sekitarnya.

Tabel 5.3 Hasil Analisis Kualitas Udara Ambien


Semester I Tahun 2009
Lokasi
No

Parameter

Satuan

Dalam

Permukiman

Tapak

Penduduk

Baku
Mutu*)

Fisik
1

Temperatur

28,90

28,00

Kec. Angin

m/dt

1,20

0,30

Arah angin

Timur

Barat Daya

Kelembaban (RH)

79,80

73,00

Tekanan

Kpa

101,00

101,06

Kimia
1

Nitrogen Dioksida (NO2)

g/Nm3

9,43

5,68

400

Sulfur Diokida (SO2)

g/Nm3

20,30

19,44

900

Karbon Monoksida (CO)

g/Nm3

384,40

366,70

30.000

Oksidan (O3)

g/Nm3

3,43

2,56

235

Hidrokarbon (HC)

g/Nm3

0,10

Tt

160

Debu

g/Nm3

38,41

73,14

230

Air Raksa (Hg)

g/Nm3

Tt

Tt

Timbal (Pb)

g/Nm3

0,05

0,10

Tabel 5.4 Hasil Analisis Kualitas Udara


Emisi Semester I Tahun 2009
No

Sumber Emisi

Genset

Bahan
Bakar

Solar

Parameter

Satuan

Hasil
Pengamat
an

NO2

mg/m3

229,60

1000*

SO2

mg/m3

103,90

800*

Partikel

mg/m3

39,65

350*

Opasitas

20,00

35*

Baku
Mutu

Pemantauan Udara Emisi


Terminal
Balongan
tidak
menggunakan genset untuk sumber
energi listrik, namun pada saat
pemantauan, salah satu dari 4 buah
genset dioperasikan untuk mengetahui
kinerja mesin genset tersebut. Genset
tersebut
berbahan
bakar
solar
sehingga parameter yang dipantau
pada tahun ini selain NO2 adalah SO2
dan partikulat.

Untuk pengujian kualitas emisi stasiun


pengumpul, di SPU-A Mundu dilakukan
pada pompa transfer minyak berbahan
bakar solar, kompresor berbahan bakar
gas, dan opasitas flare Stack. Tujuannya
adalah untuk mengetahui apakah emisi
yang dikeluarkan dari mesin/alat tersebut
memenuhi baku mutu. Parameter emisi
yang dianalisis adalah NO2, SO2 dan
partikulat pada pompa minyak yang
berbahan bakar solar, NO2 pada kompresor
yang
berbahan
bakar
gas,
serta
pengukuran secara visual opasitas gas di
flare stack.

Tabel 5.5 Hasil Analisa Kualitas Udara Emisi SPU A


Mundu
Tahun 2009 Semester I
No

Sumber Emisi

Komproser

Pompa

Pompa Air Limbah

Flare

Bahan

Parameter

Satuan

Hasil

Baku Mutu

Gas

NO2

mg/m3

129,15

400*

Solar

NO2

mg/m3

303,40

1000*

SO2

mg/m3

88,66

800*

Partikel

mg/m3

68,40

350*

Opaistas

15

35*

NO2

mg/m3

274,70

1000*

SO2

mg/m3

385,20

800*

Partikel

mg/m3

77,85

350*

Opasitas

10

35*

Opasitas

20

40**

Bakar

Solar

Kualitas Air Tanah


Agar kualitas tanah tetap terjaga, pengelolaan
yang dilakukan adalah dengan pengelolaan
terhadap air terproduksi (IPAL) dan menempatkan
limbah B3 dalam suatu tempat yang kedap air
misalnya beton.

Pemantauan Kualitas Air Tanah


Pengujian kualitas air tanah Terminal Balongan
dilakukan pada sumur pantau 1 dan sumur pantau
2 di dalam area Terminal Balongan, serta sumur
penduduk. Lokasi sampling air sumur penduduk
setiap tahunnya berada di Desa Balongan.
Berdasarkan hasil pengujian, dari sumur
penduduk ada beberapa parameter yang melebihi
baku mutu, yaitu Mn, dan Koliform total.

PT PERTAMINA EP

LINGKUNGAN HIDUP

REGION JAWA
UNIT-UNIT IPAL

Separator minyak
Aerator
Unit
Sedimentasi
Filter Karbon
Aktif

Outlet IPAL ke
Kanal

Di Sumur pantau 1 parameter warna,


besi (Fe), timbal (Pb) dan koliform Total
tidak memenuhi baku mutu, sedangkan
parameter yang tidak memenuhi baku
mutu di sumur pantau 2 yaitu warna, dan
Koliform Total.
Walaupun kualitas air sumur pantau 1
dan 2 sudah tidak memenuhi persyaratan
air bersih, tetapi hasil pemantauan tahun
2009 menunjukkan kualitas yang relative
lebih baik dibanding semester 1 dan
semester 2 2008.

Pemantauan kualitas air tanah

4. Tingkat kebisingan
Pengelolaan
Kebisingan

Terhadap

Untuk menghindari kebisingan yang terjadi akibat


dari pengoperasian pompa, kompresor dan genset
maka dilakukan, pengelolaan dengan membuat
rumah pompa/ genset, penghijauan di sekitar
lokasi, perawatan dan perbaikan secara kontinyu.

Pemantauan
Kebisingan

Tingkat

Potensi kebisingan di terminal Balongan berasal


dari penggunaan genset, namun genset hanya
berfungsi sebagai cadangan jika listrik PLN mati,
sedangkan pada Stasiun Pengumpul Utama (SPU A)
Mundu kebisingan dipengaruhi oleh penggunaan
kompresor, genset, dan pompa.

Pemantauan tingkat kebisingan dilakukan pada


dua tempat yang berbeda yaitu di dalam Terminal
Balongan dan pemukiman terdekat. Pemantauan
tingkat kebisingan ini bertujuan untuk mengetahui
seberapa besar pengaruh penggunaan genset,
pompa atau mesin lainnya terhadap lingkungan
sekitar. Hasil pengukuran di dalam kantor dan
pemukiman akan dibandingkan dengan Baku
Tingkat Kebisingan (BTK) menurut Surat Kep.
Menteri Lingkungan Hidup No. 48/11/1996 dengan
pertimbangan waktu pemajanan selama 24 jam
(BTK dalam kantor = 70 dB(A) ; Baku Tingkat
Kebisingan permukiman penduduk = 55 dB(A)).
Sedangkan untuk lingkungan di dalam batas pagar
Terminal Balongan akan dibandingkan dengan Nilai
Ambang Batas Kebisingan Ruang Kerja menurut Kep.
Menteri Tenaga Kerja No. 51/1999, Lampiran 2
dengan asumsi pemajanan selama 8 jam kerja. (NAB
= 85 dB(A)).

Tabel 5.7 Hasil Pengukuran Tingkat


Kebisingan Tahun 2009 Semester I
1.

Batas Barat Terminal

S : 06o 21 40,5
E : 108o 22 50,2

dB(A)

Tingkat
Kebisingan Ratarata
46,5

2.

Batas Utara Terminal

S : 06o 21 57,9
E : 108o 22 50,6

dB(A)

46,1

85*

3.

Batas Timur Terminal

S : 06o 21 59,2
E : 108o 23 07,8

dB(A)

47,3

85*

4.

Batas Selatan Terminal

S : 06o 21 46,2
E : 108o 23 17,8

dB(A)

47,1

85*

5.

Dalam Kantor

S : 06o 21 44,6
E : 108o 23 06,3

dB(A)

47,4

70

6.

2 m dari kompresor

S : 06o 21 44,4
E : 108o 23 06,0

dB(A)

53,7

85*

7.

Jalan Dekat tangki

S : 06o 21 49,0
E : 108o 23 01,8

dB(A)

46,6

70

8.

Jalan menuju penampungan


Oil Sludge dari IPAL

S : 06o 21 54,9
E : 108o 23 05,1

dB(A)

46,00

70

9.

Permukiman penduduk
sebelah Utara

S : 06o 21 35,2
E : 108o 23 07,0

dB(A)

46,8

70

10.

Permukiman Penduduk
sebelah Selatan

S : 06o 21 01,5
E : 108o 23 17,8

dB(A)

46,2

55

No.

Lokasi

Koordinat

Satuan

BTK/NAB
85*

Kesimpulan
PT Pertamina EP Region Jawa telah memiliki dokumen
AMDAL yang telah disetujui badan yang berwenang,
mengingat
sebagian
besar
kegiatan
yang
ada
menghasilkan dampak besar dan penting.
Dalam proses produksi yang dilakukan oleh PT Pertamina
EP Region Jawa terdapat sumber pencemar dan bahan
pencemar yang meliputi limbah padat, limbah cair dan
limbah gas.
Limbah padat yang di hasilkan berupa tank cleaning,
tanah terkontaminasi, dan sampah dari luar proses
produksi. Limbah cair yang di hasilkan berupa
pembersihan tanki dan pipa, zat aditif yang digunakan
dalam pembersihan tanki, pengoperasian genset dan
pengoperasian pompa minyak, dan sampah dari luar
proses produksi. Limbah gas yang di hasilkan berupa
flare stack, dan penggunaan genset dan pompa minyak,
pompa air limbah, kompresor.

Pengelolaan air terproduksi dilakukan pada Instalasi


Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang mana di lakukan
pengolahan secara fisika. Pada proses pengolahan
air terproduksi di IPAL Balongan bisa di katakan
telah efektif atau atau telah berjalan dengan cukup
baik dalam mengelola air limbah.
Kualitas air tanah di sumur pantau Terminal
Balongan dan sumur penduduk tidak memenuhi
standar baku mutu, hal ini kemungkinan diakibatkan
oleh adanya instrusi air laut dan sanitasi yang buruk
Tanah yang terkontaminasi ceceran minyak diolah
untuk diambil minyaknya, kemudian dibioremidiasi
Pengelolaan kualitas udara di Terminal Balongan dan
pemukiman penduduk cukup baik, hal ini dapat
dilihat pada parameter-parameter yang diukur
selalu memenuhi baku mutu.
Tingkat kebisingan yang ada di lingkungan Terminal
Balongan sampai saat ini berada di bawah standar
baku mutu, hal ini disebabkan karena penggunaan
genset yang tidak dipakai lagi.

Saran
Berdasarkan hasil observasi dan analisis yang telah
dilakukan
terhadap
kegiatan
Pengelolaan
dan
Pemantauan Lingkungan di PT PERTAMINA EP Region Jawa
Field Jatibarang, maka ada beberapa rekomendasi yang
diajukan demi mengatasi berbagai kekurangan dan
permasalah yang antara lain:
Untuk Pengolahan air terproduksi, hendaknya Instalasi
Pengolahan Air Limbah (IPAL) perlu di redesain agar
dapat menampung dan mengolah lebih banyak air
terproduksi yang cenderung meningkat setiap tahunnya.
IPAL seharusnya memiliki penutup, agar pada musim
hujan, tidak terjadi limpasan air terproduksi dari bak
penampung,
mengingat
air
terproduksi
masih
mengandung beberapa parameter kimia, diantaranya,
minyak dan lemak, Amonia, COD, Fenol, H 2S atau sulfida ,
yang mana akan mencemari lingkungan.

Tanah yang telah dibioremidiasi, agar secepatnya dilakukan


penanaman tanaman non konsumtif, yang fungsinya selain
sebagai penghijauan juga untuk mempercepat recovery tanah
yang telah terkontaminansi oil sludge.
Dari aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) , ditemukan
para pekerja dilokasi sludge pond yang tidak menggunakan
masker,
harus
dilakukan
sosialisasi
kembali
perlunya
menggunakan masker, agar meminimalisir bahaya yang
ditimbulkan pada pengolahan oil sludge.
Dengan membandingkan Laporan Pemantauan Lingkungan Tahun
2008 Semester I, buruknya kualitas air tanah pada sumur
penduduk di Desa Balongan disebabkan karena kondisi sanitasi
yang buruk, sehingga disarankan berkoordinasi dengan Kantor
Lingkungan Hidup setempat dalam menyusun program Community
Development yang berkaitan dengan perbaikan kondisi sanitasi
masyarakat. Namun pada Laporan Pemantauan Lingkungan Tahun
2009 Semester I, saran tersebut masih tetap ditulis, ini artinya
program Community Development tersebut masih belum
direalisasikan. Sehingga dianjurkan agar Community Development
segera direalisasikan, sehingga terdapat wujud kepedulian
peusahaan terhadap penduduk Desa Balongan, mengingat air
merupakan sumber kehidupan yang sangat penting.