Anda di halaman 1dari 10

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Reptilia berasal dari kata reptum yang berarti melata. Reptilia merupakan kelompok
hewan darat pertama yang sepanjang hidupnya bernafas dengan paru-paru. Ciri umum
kelas ini yang membedakan dengan Kelas yang lain adalah seluruh tubuhnya tertutup
oleh kulit kering atau sisik. Kulit ini menutupi seluruh permukaan tubuhnya dan pada
beberapa anggota ordo atau sub-ordo tertentu dapat mengelupas atau melakukan
pergantian kulit baik secara total maupun sebagian yaitu pada anggita sub ordo Ophidia
dan pengelupasan kulit sebagian pada anggota sub-ordo Lacertilia. Sedangkan pada
Ordo Chelonia dan Crocodilia sisiknya hampir tidak pernah mengalami pergantian atau
pengelupasan. Kulit pada reptil memiliki sedikit sekali kelenjar kulit (Zug, 1993).
Reptilia merupakan sekelompok vertebrata yang menyesuaikan diri ditempat
yang kering di tanah. Memiliki penandukan atau cornificatic kulit squama atau carapace
untuk menjaga banyak hilangnya cairan tubuh pada tempat kering atau panas. Nama
reptil diambil dari model cara hewan ini berjalan yaitu merayap (Goin and Goin, 1971).
Reptilia berkembang dari zaman Labyrinthodontia 50 juta tahun yang lalu
sesudah amphibi berkembang. Pada zaman itu kelompok reptil merupakan kelompok
yang paling banyak diantara vertebrata lainnya. Reptilia merupakan kelas pertama dari
Tetrapoda yang strukturnya lengkap, termasuk selaput embrio dan kulitnya yang tahan
terhadap kekeringan. Sepanjang zaman itu reptil ditemukan dengan bermacam-macam
genera mulai hewan kecil sampai yang besar, herbivora sampai karnivora, dan dari yang
lamban sampai yang lincah dalam bergerak (Bennet, 1999).
Reptilia juga menunjukkan kemajuan dibandingkan amphibia. Hal ini
ditunjukkan dengan mempunyai penutup tubuh yng kering dan dan berupa sisik yang
merupakan penyesuaian hidup menjauh air, Extremitas cocok untuk gerak cepat, adanya
kecendrungan ke arah pemisahan darah yang beroksigen dalam jantung, sempurnanya
proses penulangan, telur sesuai sekali untuk pertumbuhan dara, mempunyai membran dn
cangkang guna untuk melindungi embrio. Bentuk luar tubuh reptilia bermacam-macam

yaitu ada yang bulat pipih (kadal, buaya), umumnya tubuh dapat terbagi atas cephal,
cervix, truncus dan caudal (Kimball, 1983). Pada beberapa anggota ordo atau sub-ordo
tertentu kulit dapat mengelupas atau melakukan pergantian kulit baik secara total yaitu
pada anggota Sub-ordo Ophidia dan pengelupasan sebagian pada anggota Sub-ordo
Lacertilia. Sedangkan pada Ordo Chelonia dan Crocodilia sisiknya hampir tidak pernah
mengalami pergantian atau pengelupasan. Kulit pada reptil memiliki sedikit sekali
kelenjar kulit (Jasin, 1992).
Indonesia memiliki jenis-jenis amphibia dan reptilia yang beragam. Posisi
geografis Indonesia yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia merupakan
salah satu sebab beragamnya jenis ini. Reptilia ditemukan di semua pulau-pulau di
Indonesia mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Reptilia memiliki penyebaran
yang lebih beragam. reptil bersifat ektoterem dan poikilotherm yang berarti mereka
menggunakan sumber panas dari lingkungan untuk memperoleh energi. Beberapa
reptilia besar seperti buaya, penyu dan kadal besar bahkan mencapai tingkat
homeothermy, yaitu suhu mereka tidak terlalu berfluktuasi dengan lingkungan. Hal ini
disebabkan oleh adanya proses giganthothermy, dimana hewan yang sangat besar akan
mempertahankan suhu badan konstan dengan sedikit masukan dari lingkungan. Hewan
poikilotherm memiliki metabolisme rendah, oleh karena itu mereka mampu tidak makan
dalam waktu yang relatif lama. Sebagai contoh, beberapa jenis ular dapat makan hanya
satu bulan sekali. (Mistar, 2008).
Reptilia merupakan suatu kelompok yang beraneka ragam dengan banyak garis
keturunan yang sudah punah, saat ini diwakili oleh sekitar 7000 spesies, sebagian besar
kadal, ular, penyu atau kura-kura, dan buaya. Ini adalah pengelompokan tradisional dan
didasarkan pada keniripan semua tetrapoda tersebut (Campbell, 2003).
Distribusi species-species pada pulau-pulau di kepulauan Indonesia khususnya di
pulau Sumatera terdapat 127 species, dari 127 species tersebut didapatkan family dari
Typhlopidae sebanyak 4 species yang merupakan hewan endemic Sumatera (3,1 % dari
jumlah ular keseluruhan Sumatera); Anomochilidae sebanyak 1 species (0,8 %);
Cylndrophidae sebanyak 1 species (0,8 %); Xenopeltidae sebanyak 1 species (0,8 %);

Phytonidae sebanyak 2 species (1,6 %); Acrocordidae sebanyak 2 species (1,6%);


Colubridae sebanyak 99 species, 22 diantaranya merupakan hewan endemik Sumatera
(77,9 %); Elapidae sebanyak 8 species
(6,3 %) dan Viperidae sebanyak 9 species (7,19 %) (Mistar, 2003).
Walaupun kura-kura dikenal sebagai hewan yang lambat, penyu dapat berenang
dengan kecepatan 32 km/jam (Goin, Goin dan Zug, 1978). Kura-kura air tawar
cenderung bersifat omnivora, dan kura-kura darat merupakan herbivora (OShea dan
Halliday, 2001). Satwa Testudines dibedakan menurut habitatnya. Penyu hidup di laut
dan hanya naik ke pantai untuk bertelur. Kura-kura dan labi-labi terdiri dari jenis akuatik
dan semi-akuatik yang hidup pada daerah perairan tawar. Baning atau kura-kura darat
hidup sepenuhnya di darat. Testudinata tersebar di seluruh dunia di daerah tropis dan sub
tropis. Kurakura terdapat di semua wilayah perairan laut (Halliday dan Adler, 2000). Di
Indonesia terdapat sekitar 39 jenis kura-kura, yang terdiri dari enam jenis penyu, enam
jenis labi-labi, dua jenis baning atau kura-kura darat, dan 25 jenis kura-kura air tawar
(Iskandar, 2000).
Subordo serpentes dikenal dengan keunikannya yaitu merupakan Reptilia yang
seluruh anggotanya tidak berkaki (kaki mereduksi) dari ciri-ciri ini dapat diketahui
bahwa semua jenis ular termasuk dalam subordo ini. Ciri lain dari subordo ini adalah
seluruh anggoanya tidak memiliki kelopak mata. Sedangkan fungsi pelindung mata
digantikan oleh sisik yang transparan yang menutupinya. Berbeda dengan anggota Ordo
Squamata yang lain, pertemuan tulang rahang bawahnya dihubungkan dengan ligament
elastic (Brotowidjoyo, 1989).
Reptil terdiri dari empat ordo yaitu Testudinata, Rhynchochephalia atau Tuatara,
Squamata dan Crocodilia. Sub kelas dari Testudinata adalah pleurodira, cryptodira,
paracrytodira. Sub ordo dari Squamata adalah sauria (kadal) dan serpentes (ular). Sub
ordo dari Crocodilia adalah gavial, alligator, dan crocodilidae. Oleh karena itu, untuk
membuat suatu system klasifikasi diperlukan adanya pengamatan morfologi. Dari
pengamatan morfologis dapat diukur parameter morfologinya sehingga dapat dilakukan

pengindentifikasiannya dan berakhir dengan pembuatan kunci determinasi dari reptile


(Pope, 1956).
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dilakukan praktikum ini adalah untuk mengidentifikasi, mengenal, dan
mengetahui karakteristik morfologi kelas reptilia

II. TINJAUAN PUSTAKA


Reptilia adalah hewan darat atau terestrial. Ada reptilia-reptilia yang hidup di air,
misalnya penyu. Reptilia juga berdarah dingin atau poikiloterm. Reptilia merupakan
hewan buas yang merupakan pemangsa serangga (insektor), giginya runcing, alat gerak
reptilia berupa kaki yang mereduksi Alat tubuh yang tidak tumbuh atau menjadi
mengecil disebut rudimeter (Djuhanda, 1982).
Reptilia juga merupakan satwa ektotermal, yaitu mereka memerlukan sumber
panas eksternal untuk melakukan kegiatan metabolismenya. Karena itu reptil sering
dijumpai berjemur di daerah terbuka, khususnya pada pagi hari. Reptil akan berjemur

sampai mencapai suhu badan yang dibutuhkan (Halliday dan Adler, 2000). Reptil
memiliki berbagai perilaku pertahanan hidup. Ada beberapa jenis ular yang berpura-pura
mati jika merasa terancam. Beberapa jenis ular dan dua jenis kadal dari genus
Heloderma juga memiliki bisa untuk mempertahankan diri. Beberapa jenis kadal, seperti
Mabuya spp., melepaskan ekornya dalam perilaku yang disebut caudal autotomy
(OShea dan Halliday, 2001).
Habitat dari Kelas Reptilia ini bermacam-macam. Ada yang merupakan hewan
akuatik seperi penyu dan beberapa jenis ular, semi akuatik yaitu Ordo Crocodilia dan
beberapa anggota Ordo Chelonia, beberapa Sub-ordo Ophidia, terrestrial yaitu pada
kebanyakan Sub-kelas Lacertilia dan Ophidia, bebepapa anggota Ordo Testudinata, sub
terran pada sebagian kecil anggota Sub-kelas Ophidia, dan arboreal pada sebagian kecil
Sub-ordo Ophidia dan Lacertilia (Jasin, 1992).
Testudinata memiliki ciri yang spesifik yaitu tubuhnya dilindungi oleh bangunan
yang disebut cangkang atau tempurung. Dalam bahasa Indonesia, dikenal empat
kelompok hewan yang termasuk bangsa ini, yaitu penyu (sea turtle), labi-labi (Shoftshell
Turtle), Kura-kura air tawar (Fresh water Turtle atau Terrapine), kura-kura darat
(Tortoise). Tempurung kura-kura terdiri dari karapaks, yang berbentuk cembung di
bagian dorsal, dan plastron yang bentuknya relatif datar atau rata di bagian ventral. Pada
bagian karapaks terdapat tulang vertebra atau neural, tulang pleural, tulang suprapygal,
tulang pygal, tulang nuchal dan tulang peripheral. Pada bagian plastron terdapat tulang
epiplastron, tulang entoplastron, tulang hyoplastron, tulang mesoplastron, dan tulang
xiphiplastron. Anggota ordo ini tidak mempunyai gigi atau giginya mereduksi (Pough et.
al, 1998).
Ordo Sauria memiliki tubuh yang berbentuk silindris, mempunyai dua pasang
extremitas. Cingulum anterior (pectoral girdle) dan cingulum posterior (Pelvic girdle)
tumbuh dengan baik. Makanannya berupa insect atau invertebrata lainnya, namun ada
juga yang herbivora. Pada daerah tropis, jumlah spesies urang lebih 3500 spesies dan
salah satu contoh yang biasa ditemukan yaitu Mabuoya multifasciata (Weber, 1915).

Ordo Sauria termasuk didalamnya biawak, londok, tokek, dan cecak memiliki epidermis
menanduk dan tubuh berbentuk silindris, hemipenis ganda (Jasin, 1992).
Ordo Rhynchocephalia diketahui berdasarkan catatan fosil pada Era Triasik
Akhir yaitu antara 210-220 juta tahun yang lalu. Ordo Rhynchocephalia memiliki tipe
tengkorak diapsid. Morfologinya mirip dengan anggota lacertilia dan panjang
dewasanya mencapai 30 cm. Ordo Rhynchocephalia bereproduksi secara ovipar dengan
fertilisasi internal. Kelas Reptilia lainnya dan menetas dalam waktu 1 tahun (Goin,
1971)
Ordo Serpentes dikenal dengan keunikannya yaitu merupakan Reptilia yang
seluruh anggotanya tidak berkaki (kaki mereduksi) dari ciri-ciri ini dapat diketahui
bahwa semua jenis ular termasuk dalam ordo ini. Ciri lain dari ordo ini adalah seluruh
anggotanya tidak memiliki kelopak mata. Sedangkan fungsi pelindung mata digantikan
oleh sisik yang transparan yang menutupinya. Berbeda dengan anggota Ordo Squamata
yang lain, pertemuan tulang rahang bawahnya dihubungkan dengan ligament elastis
(Zug, 1993).
Keunikan lain yang dimiliki oleh subordo ini adalah seluruh organ tubuhnya
termodifikasi memanjang. Dengan paru-paru yang asimetris, paru-paru kiri umumnya
vestigial atau mereduksi. Memiliki organ perasa sentuhan (tactile organ) dan reseptor
yang disebut Organ Jacobson ada pula pada beberapa jenis yang dilengkapi dengan
Thermosensor (Yatim, 1985).
Ada 4 tipe gigi yang dimiliki Subordo Serpentes, yaitu Aglypha (tidak memiliki
gigi bisa), contohnya pada famili Pythonidae, dan Boidae. Proteroglypha (memiliki gigi
bisa yang terdapat di deretan gigi muka), contohnya pada famili Elapidae dan
Colubridae.Solenoglypha (memiliki gigi bisa yang bisa dilipat sedemikian rupa pada
saat tidak dibutuhkan), contohnya pada famili Viperidae.Ophistoglypha (memiliki gigi
bisanya yang terdapat di deretan gigi belakangnya), contohnya pada famili Hydrophiidae
(Djuhanda, 1983).

Sedangkan untuk bisa ular, terdapat 3 jenis bisa yaitu Haemotoxin merupakan
bisa yang menyerang sistem peredaran darah, contoh famili yang memiliki bisa tipe ini
adalah Colubridae dan Viperidae. Cardiotoxin merupakan bisa yang dapat menyerang
pembuluh darah dan jantung. Neurotoxin merupakan bisa yang menyerang syaraf, famili
Elapidae dan Hydrophiidae adalah contoh famili yang termasuk tipe berikut (Iskandar,
2000).
Sub ordo serpentes memiliki empat famili yaitu Elapidae, Colubridae, Viperidae,
dan Hydrophiidae. Elapidae merupakan famili yang anggotanya kebanyakan ular berbisa
yang banyak ditemukan di daerah tropis dan subtropik terdiri dari 61 genus dengan 231
spesies yang telah diketahui. Biasanya memiliki gigi bisa tipe Solenoglypha dan ketika
menutup gigi bisanya akan berada pada cekungan di dasar bucal. Bisa tipe neurotoxin,
dekat kekerabatannya dengan Famili Hydrophiidae. Famili ini dapat mencapai ukuran
6m (Ophiophagus hannah) dan biasanya ovipar namun ada pula yang ovovivipar
(Hemachatus) ( Bennet, 1999).
Famili Colubridae memiliki ciri yang dapat membedakan dengan famili yang
lain diantaranya sisik ventralnya sangat berkembang dengan baik, Ekor umumnya
silindris dan meruncing. Kebanyakan anggota famili Colubidae tidak berbisa atau
kalaupun berbisa tidak terlalu mematikan bagi manusia. Gigi bisanya tipe proteroglypha
dengan bisa haemotoxin, genusnya antara. lain: Homalopsis, Natrix, Ptyas, dan Elaphe
(Djuhanda, 1982).
Famili Viperidae memiliki gigi bisa solenoglypha dengan bisa jenis haemotoxin.
Famili ini kebanyakan merupakan ular yang hidup di gurun, di daerah tropis. Sisiknya
biasanya termodifikasi menjadi lapisan tanduk tebal dengan pergerakan menyamping.
Memiliki facial pit sebagai thermosensor. Subfamili yang ada di Indonesia adalah
Crotalinae yang terdiri dari 18 genus dan 151 spesies (Weber, 1915).
Ular merupakan salah satu reptil yang paling sukses berkembang di dunia. Ular
dapat ditemukan di gunung, hutan, gurun, dataran rendah, lahan pertanian, lingkungan
pemukiman, sampai ke lautan. Sebagaimana hewan berdarah dingin, ular semakin jarang

ditemukan di tempat-tempat yang dingin seperti puncak-puncak gunung dan daerah


padang salju atau kutub (Iskandar, 2000).
Ular memangsa berbagai jenis hewan aquatik seperti ikan, kodok, berudu. Ular
besar seperti sanca kembung atau Python reticulata dapat memangsa kambing, kijang,
rusa bahkan manusia. Ular sanca kembung atau Python reticulata membunuh
mangsanya dengan cara melilitnya hingga tak bernafas. Untuk mengidentifikasi ular
yang paling akurat adalah dengan melihat sisik di kepalanya. Cara lain adalah dengan
melihat bentuk morfologi tubuhnya dan motif pada sisiknya (Djuhanda, 1982).
Ordo terakhir yaitu Crocodylia atau loricata, merupakan Reptilia yang hidup
terbesar telah ada sejak zaman mesozoic dengan sedikit perubahan yang terjadi dari
jaman tersebut hingga sekarang, berkembang dari satu nenek moyang yang sama dengan
burung. Ordo Crocodylia mencakup hewan reptil yang berukuran paling besar di antara
reptil lain. Kulit mengandung sisik dari zat tanduk. Sisik pada bagian dorsal berlunas,
pada bagian lateral bulat dan pada bagian ventral berbentuk segi empat. Kepala
berbentuk piramida, dilengkapi dengan gigi-gigi runcing bertipe gigi tecodont. Mata
kecil terletak di bagian kepala yang menonjol ke dorsolateral. Lubang hidung terletak
pada sisi dorsal ujung moncong (Zug, 1993)
Pada anggota lacertilia, lidah berkembang baik dan dapat digunakan sebagai ciri
penting untuk identifikasi. Semua reptil memiliki gigi kecuali pada ordo Testudinata.
Beberapa jenis reptil memiliki alat pendengaran dan ada yang dilengkapi telinga luar
ataupun tidak. Pada beberapa jenis lainnya, alat pendengaran tidak berkembang. Mata
pada reptil ada yang berkelopak dan ada yang tidak memiliki kelopak. Kelopak mata
pada reptil ada yang dapat digerakkan dan ada yang tidak dapat digerakkan dan ada juga
yang berubah menjadi lapisan transparan (Zug, 1993).
Squamata adalah reptilias yang umumnya memiliki kulit bersisik yang terdiri
dari zat tanduk. Sisik ini mengalami pergantian secara periodik yang disebut molting.
Pada Subordo Ophidia, kulit/sisiknya terkelupas secara keseluruhan, sedangkan pada
Sub ordo Lacertilia, sisiknya terkelupas sebagian. Reptil yang termasuk golongan ini
adalah kadal dan ular. Kadal memiliki sisik yang licin dan berbentuk membulat,
tubuhnya kebanyakan berkaki empat, bertubuh kecil, dan memiliki ekor. Contoh hewan

kadal bertubuh kecil misalnya, kadal kebun (Mabuya multifasciata), cecak dinding
(Cosymbotus paltyurus) dan bunglon kebun (Bronchocela jubata), hingga kadal yang
bertubuh besar seperti biawak komodo (Varanus komodoensis) (Mistar, 2008).
Persebaran Squamata sangat luas, hampir terdapat di seluruh dunia kecuali Arktik,
Antartika, Irlandia, Selandia Baru, dan beberapa pulau di Oceania (Weber, 1915).
Dogania subplana hidup di alam seperti rawa-rawa, danau, sungai dan dapat pula
hidup di kolam yang suhu airnya berkisar 25-30

C. Hewan ini biasanya bersifat

nokturnal, di siang hari lebih banyak bersembunyi dalam lumpur. Habitat yang disukai
adalah perairan tergenang dengan dasar perairan lumpur berpasir , terdapat batu-batuan
dan tak terlalu dalam dan yang banyak dihuni oleh hewan air (molusca, ikan, crustacea
dan lain-lain) serta pada permukaan airnya terdapat tumbuh-tumbuhan air seperti enceng
gondok, salvinia, monochorida, teratai dan lain-lainnya karena dapat menjadi bahan
makanan di dalam air (Carr, 1977).
Gekko monarchus memangsa aneka serangga, cecak lainnya yang lebih kecil,
tikus kecil dan mungkin juga burung kecil. Seperti bangsa cecak lainnya, tokek aktif
berburu terutama di malam hari. Terkadang tokek turun pula ke tanah untuk mengejar
mangsanya. Di siang hari, tokek bersembunyi di lubang-lubang kayu, lubang batu, atau
di sela atap rumah (Bennet, 1999).

III. PROSEDUR KERJA


3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 18 Maret dan 25 Maret 2013 di
Laboratorium Pendidikan I, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Andalas.
3.2 Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah bak bedah, vernier caliper,
penggaris, alat tulis, pinset, sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah

Bingkaruang (Eutropis rudis), cecak rumah (Hemidactylus frenatus), Tokek (Gekko


monarchus), Labi-labi (Dogania subplana ) Kura-kura air tawar (Cyclemis dentata),
Fores

dragon

(Gonyochepalus

grandis),

Kalilaso

(Bronchocella

cristatella),

Dendrelaphis pictus, Boiga dendrophila, Ahaetulla prasina, Petyas fuscus, Naja


sumatrana, Tropidolaenus wagleri, Phyton reticulata, Xenopheltis unicolor.
3.3 Cara Kerja
Objek diletakkan pada bak bedah dengan posisi kepala disebelah kiri.Objek itu diamati
dan

digambar.

Kemudian

dilakukan

pengukuran

serta

perhitungan

terhadap

karakteristiknya, yaitu sebagai berikut : panjang badan (PB), panjang standar (PS),
panjang kepala (PK), panjang ekor ( PE ), lebar kepala (LK), tebal kepala (TK), panjang
kaki depan (PKD), panjang tower fet length, Floot, panjang kaki belakang (PKB),
panjang LFL belakang, Floot, lalu amati juga tipe-tipe umum dari reptil seperti : warna
pungungnya, punya carapase atau tidak, warna

perut, ada tidaknya plastron, ada

tidaknya humeral, ada tidaknya pectoral, ada tidaknya abdominal, ada tidaknya femural,
ada tidaknya anal dan karakter-karakter yang lain dianggap khas dan menonjol,
kemudian buat klasifikasinya secara lengkap dan setelah selesai mengamati data, catat
kedalam tabel yang disediakan.